Sunday, 23 June 2013

Business Arrangement #8

Alvin mengelus kedua pipi Agni yang terlihat begitu bingung. Ia tersenyum tipis pada wanita itu.

“Gak usah di pikirin. Cepat bangun dan mandi.”

Alvin berlalu setelah mengucapkan itu dengan begitu datar dan dingin. Ada sedikit kekecewaan melihat reaksi Agni. Apa benar wanita itu menyesal? Tapi, apa keinginannya sekarang? Aku gak mungkin biarin kamu keluar malam, itu terlalu berbahaya. Maaf Agni, bukan maksud aku benci sama temen-temen kamu. Tapi ini semua aku lakuin demi kebaikan kamu juga. Alvin menghela nafas panjang begitu menutup pintu kamar mandi. Apa yang harus ia lakukan sekarang?

***

Agni merapihkan make up dan pakaian yang baru saja ia kenakan. Terlihat aneh, tapi lucu juga. Ia memakai pakaian formal khas kantoran dengan stiletto membingkai kaki jenjangnya. Ia tersenyum tipis membayangkan reaksi Alvin. Semoga kamu suka Al, dan aku bakalan buktiin kalo aku gak nyesel nikah sama kamu.

Agni berjalan menuruni tangga, ia tersenyum pada Alvin yang menatapnya begitu intens. Terlihat sekali kekaguman dari mata yang selalu terlihat dingin itu. Agni menundukkan kepalanya, ia merasa malu karena Alvin tak kunjung berkedip saat menatapnya.

“Al...”

Agni berucap begitu berhadapan dengan suaminya itu. Ia tersenyum begitu tulus dengan tangan yang sibuk merapihkan dasi dan jas Alvin.

Alvin tersenyum tipis, ia raih dagu Agni agar istrinya itu menatapnya. Ia tersenyum kembali, begitupun juga Agni. Terlihat sekali gurat ke gugupan dari wajah wanita itu.
Alvin mendekatkan dirinya pada Agni, mengecup pelan sesuatu yang begitu menggoda itu.

“Aku suka, rasanya seperti... anggur.”

Agni menepuk dada Alvin dengan manja saat lelaki itu berbisik begitu mesra. Jujur, ia memang merasa agak aneh menggunakan make up, meski sederhana.

“Kita sarapan dulu.”

Agni melangkah dengan cepat saat Alvin terus saja menatapnya, ia begitu salah tingkah dengan prilaku Alvin yang menurutnya begitu aneh dan berlebihan.

Alvin terkekeh kecil melihat ada rona merah di wajah Agni. Ia heran sendiri, ini bukan pertama kalinya ia menggoda istrinya itu. Tapi kenapa istrinya itu masih saja memperlihatkan wajah yang bersemu merah? Alvin menggeleng-gelengkan kepalanya pelan. Tak ia pungkiri, ia begitu bahagia sekarang. Tidak lagi menerima penolakan dari Agni.

***

Alvin berjalan berdampingan dengan Agni saat memasuki loby. Ia menggenggam tangan Agni begitu erat, seakan takut Agni akan meninggalkannya. Dengan kaku Agni membalas sapaan dan senyuman seluruh karyawan Alvin yang sebentar lagi akan menjadi karyawannya juga.

“Gak usah kaku sayang... kan ada aku.”

Alvin berbisik begitu mesra tepat di telinga Agni, ia merangkul pinggang Agni agar merapat ke arahnya saat memasuki lift. Agni menepuk dada Alvin dengan pelan, ia terkekeh kecil menanggapi godaan suaminya itu.

Para karyawan yang melihat kejadian itu menatap mereka dengan tatapan iri, berharap bisa seperti itu. Membayangkan andai mereka yang menjadi pendamping Bossnya saat itu.

***

Agni dan Alvin saling berpadangan saat melihat Debo yang sedang terlihat berkutat dengan laptopnya tapi pandangannya kosong, begitu datar dan dingin. Seperti sedang memikirkan sesuatu yang begitu berat.

“Ada masalah?”

Debo mendongak dengan lamban, menatap Alvin yang sedang berdiri menghadapnya. Ia tersenyum miring pada Alvin kemudian kembali pada laptopnya.

Alvin menghela nafas, sahabatnya yang satu ini memang sangat tertutup padanya, walau ia selalu mencoba meyakinkannya tidak akan membocorkan rahasia apapun tentang dia. Tapi... ternyata dia sangat keras kepala, dan lebih memilih memendam semuanya.

Agni menatap kedua lelaki itu bergantian. Ia tidak mengerti dengan sikap lelaki, ia memang kurang peka dengan urusan lelaki. Terlalu rumit dan banyak maunya.

“Di meja loe udah ada laporan dari keuangan dan bagian pemasaran. Gue udah cek dan gak ada masalah, tinggal loe liat aja lagi.”

Alvin mengangguk begitu mendengar penuturan sekertarisnya itu. Ia yakin dia sedang ada masalah, karena terlihat sekali dari nada bicaranya yang cenderung datar itu. Alvin menghela nafas lalu mengambil dokumen yang di tunjuk Debo. Ia menarik Agni untuk duduk di sampingnya, di sofa yang panjang.

Debo menutup laptopnya, kemudian berdiri.

“Gue balik dulu ke ruangan gue, nanti siang ada meeting dan nanti sore ada pertemuan di cafe depan sama nyonya Bozzy.”

Alvin mengangguk-anggukan kepalanya, sekertarisnya itu sangat bawel melebihi wanita, padahal jelas sekali dia itu lelaki.
Debo terlihat berbalik lagi saat di ambang pintu.

“Oh iya, tapi ada yang waktunya bersamaan. Gue rasa batalin aja pertemuan yang di luar. Beberapa klien yang datang kesini lebih penting.”
“Jangan dulu, kita liat aja nanti. Satu jam sebelum pertemuan itu gue bakalan konfirmasi.”

Debo mengangguk.

“Oke.” Ia membuka pintu tapi kemudian berbalik lagi.
“Apa lagi?”

Debo tersenyum nakal, menggoda Alvin yang sedang duduk bersama Agni.

“Kayaknya gue harus ingetin sesuatu.”

Alvin menatap Debo dengan kesal. Bawel banget loe! Umpat Alvin dengan tatapan yang menantang Debo.

“Apa lagi sih?”

Debo berdehem, memasang wajah seriusnya.

“Ini kantor, sebaiknya kalian tahan dulu untuk tidak beradegan mesum. Disini ada CCTV.”

Agni mendongak, apa semua pikiran lelaki itu sama? Semuanya membahas yang begituan. Lagian, siapa juga yang mau beradegan tak senonoh di tempat ini, kayak gak ada tempat lain aja.

Agni melirik ke arah Alvin yang terkekeh. Ia mengerutkan dahinya.

“Udah gue matiin, dan... ruangan ini kedap suara lagi.”

Alvin tertawa begitu lepas dengan kerlingan nakalnya. Agni membulatkan matanya, apa coba maksud dari menjadikan ruangan ini kedap suara? Agni memutar bola matanya kesal saat melihat Debo juga malah menanggapi seringaian nakal Alvin. Radius 1 meter aman nih.

Begitu di tinggalkan Debo, Alvin merapatkan diri pada Agni yang sedang memegang dokumen laporan keuangan bulan ini. ia mengerutkan keningnya saat melihat Agni yang malah menjauh. Ia mendekati Agni lagi, tapi Agni menjauh lagi. Alvin mengerutkan dahinya melihat itu.

“Kenapa sih? Aku mau liat dokumen itu.”
“Eh...”

Agni terlihat kaget, ia baru menyadari hal itu. Ia menundukan kepalanya malu, ia yakin wajahnya sekarang merona merah. Bego Agni! Bego bego bego... disaat seperti ini loe malah mikir yang enggak-enggak. Bego malukan loe sekarang...

Alvin mengerutkan keningnya saat Agni menundukan kepalanya. Ia heran, kenapa Agni malah menunduk seperti itu?
Alvin meraih dagu Agni, ia tersenyum begitu tulus padanya.

“Sini, deket aku. Aku kasih tau semuanya, biar saat aku pergi kamu bisa sendiri.”

Agni mengangguk, ia mendekatkan diri pada Alvin. Alvin sesekali menjelaskan dan Agni sesekali bertanya pada Alvin. Keduanya larut dalam kesibukan, hingga tak menghiraukan apapun lagi.

***

Ify masih bergelung dengan selimut tebal, seorang pemuda menghampirinya, duduk di ujung tempat tidur dekat kakinya.

“Fy, udah siang.”

Ify menggeliatkan badannya, mulutnya bergumam malas kemudian kembali menarik selimut itu hingga menutupi kepalanya. Tapi, beberapa saat kemudian ia mengerjabkan matanya, mengembalikan nyawanya menjadi utuh. Kenapa disini rasanya maskulin banget? Parfumnya juga.
Ia mendudukan dirinya, mengucek matanya yang terasa begitu rabun. Kok ada cowok sih di kamar gue? Ify mengucek-ngucek lagi matanya.

“R.Rio...”

Pemuda itu menengok ke arah Ify, dia tersenyum tipis kemudian berdiri.

“Rio... kok gue ada disini? Gue dimana?”

Ify duduk sempurna, dia menatap ke arah Rio dengan tatapan penuh tanya. Ia mengedarkan pandangannya, ini memang bukan kamarnya, bukan di rumahnya, tapi dimana? Ia kembali menatap Rio yang mulai berjalan ke arahnya.

“Ini rumah gue.”
“Kenapa loe bawa gue kesini? Loe gak takut di tanyain orang tua loe? Hah?!”

Ify menatap tajam ke arah Rio yang kini duduk kembali di sampingnya. Pemuda itu terlihat dingin dan datar. Kenapa gue ngerasa ini bukan Rio?

“Ini rumah gue Fy, gak ada orang tua. Yang ada cuma gue dan pengurus rumah. Semalem loe mabuk, gue gak mungkin bawa loe pulang ke rumah loe dengan ke adaan seperti itu.”

Rio melirik Ify yang sepertinya sedang berpikir. Kemudian ia mengalihkan pandangannya ke arah lain.

“Loe biasa mabuk? Gak nyangka banget gue.”
“E.Enggak Yo, sumpah. Gue gak pernah mabuk.” Ify memegangi kepalanya yang terasa pening. “Gue rasa semalem salah ngambil minuman, biasanya gue cuma ngambil air mineral yang emang sengaja ada buat gue dan Agni.”

Rio menghela nafas panjang. Ia berdiri dan berjalan ke arah pintu.

“Yo...”

Rio berhenti melangkah, ia diam di tempat tanpa menoleh sedikitpun.

“Loe marah?”

Hening sejenak. Ify dan Rio terdiam, sibuk dengan pikiran-pikirannya masing-masing.

“Marah? Apa hak gue marah karena loe mabuk? Itu urusan loe. Sebagai sahabat, gue cuma mau bantuin loe.”

Ify menghela nafas panjang begitu Rio keluar dari kamar itu. Entah lega atau apa, yang pasti ada sesuatu yang mengganjal dalam hatinya. Rio peduli sama gue? Apa itu artinya dia sayang sama gue? Ify menggelengkan kepalanya. Enggak, gak mungkin. Walaupun iya, gue yakin itu cuma pelampiasan gara-gara dia jauh dan gak bisa dapetin Agni.

***

Agni duduk di samping Alvin saat di ruang meeting, entah kenapa ia merasa wanita-wanita yang ada di ruangan itu menatap Alvin dengan begitu intens, seakan mereka ingin memakan Alvin saat itu juga. Agni menghembuskan nafas, menenangkan diri. Ia tak boleh berpikiran buruk terlebih dahulu melihatnya.

“Selamat siang semuanya, sebelumnya perkenalkan ini Kanz Agnida. Istri sekaligus asisten saya sejak saat ini, apapun yang akan kalian bicarakan saat saya tidak ada di tempat silahkan bicarakan dengannya.”

Agni tersenyum pada semuanya, ada beberapa yang tersenyum kecut seakan menilai, ada juga yang terlihat mencibir. Agni menanggapinya hanya dengan senyuman dan senyuman. Tak ada gunanya jugakan ia menanggapi?

Meeting berjalan dengan alot, ada beberapa kali perdebatan yang berbuntut panjang. Ada juga yang bisa cepat di selesaikan.

Alvin melihat arlojinya. Ia berbaik ke arah Debo.

“Batalkan pertemuan itu.”
“Al...”

Alvin berbalik ke arah Agni yang menyela ucapannya, ia tersenyum pada istrinya itu.

“Kenapa sayang?”

Agni tersenyum ke arah Alvin, ia meraih satu tangan suaminya itu.

“Biar aku yang menemui dia, kamu lanjutin meeting aja sama Debo. Akukan asisten kamu.”

Alvin tersenyum, ia menganggukkan kepalanya kemudian berdiri. Setelah berpamitan pada anggota meeting, ia mengantarkan Agni keluar ruangan.

“Hati-hati ya sayang. Dia  bawel.”

Alvin mengakhiri ucapannya dengan sebuah kecupan di dahi. Ia mengelus kedua pipi Agni kemudian menarik wajah itu untuk mendekat.

“Ekhm... Al... ini kantor lho.”

Alvin terkekeh kecil kemudian mengecup ujung bibir Agni.

“Kalo ada apa-apa kasih tau aku.”

Agni merapihkan dasi Alvin lalu mengecup pipi Alvin dengan lembut. Ia tersenyum menenangkan.

“Tenang aja Al. Jangan berubah jadi bawel gitu ah.”

Alvin mengangguk.

“Yaudah, bye Al...”

Alvin membalas lambaian tangan Agni, ia tersenyum begitu melihat Agni telah memasuki lift. Ia menghela nafas panjang, ada sesuatu yang ia rasa membebani dadanya yang membuat nafasnya tercekat, terasa sesak. Oh God, jagalah dia... jagalah segalanya untukku.
Setelah itu, Alvin kemudian memasuki ruangannya kembali.

***

Ify menuruni tangga rumah itu, ia rasa begitu luas. Hanya ada beberapa barang yang masih di tutupi kain pelindungnya. Sepertinya rumah itu baru.

“Non, makan siang dulu.”

Ify mengangguk. Kemudian mengikuti perempuan paruh baya itu.

“Rio kemana Bi?”
“Den Rio pulang Non, tadi nyonya besar sudah menelpon. Tadi kaya Den Rio, katanya Non bisa pulang bawa mobilnya Den Rio soalnya mobil Non masih di tempat semalam dan sekarang mau di ambil sama Den Rio.”
“Iya, makasih ya Bi.”
“Baik Non. Silahkan di nikmati, Bibi mau ke belakang dulu.”

Ify mengangguk-anggukan kepalanya, ia begitu menikmati tinggal di rumah ini. begitu nyaman dan rapih. Barang-barang di letakkan begitu apik di sana-sini. Beruntung banget nih yang jadi istrinya Rio nanti, seleranya bagus.
Ponsel Ify berdering.

Sorry Fy gue kudu pulang, mobil loe sekaranga ada di rumah gue. Gue bawa kuncinya dari tas loe. Sorry ya sorry banget, gue gak minta ijin sama loe.

Ify tersenyum. Perhatian juga dia. Ia menghela nafas. Sayangnya... gue udah jatuh cinta setengah mati sama Debo. Coba loe dateng dalam kehidupan gue duluan dan loe gak suka sama sahabat gue sendiri. Pasti gue suka sama loe.

***

Agni merengut kesal begitu Alvin menjemputnya di cafe. Ia membenamkan wajahnya di dada Alvin begitu ia memasuki mobil.

Alvin mengelus puncak kepala Agni dengan lembut, bibirnya tersenyum.

“Kenapa sayang?”

Agni menarik dirinya untuk duduk sempurna, ia menatap Alvin dengan cemberut.

“Ternyata beneran bawel Al... BETEEEE...”

Alvin terkekeh, ia mengacak-acak poni Agni dengan gemas.

“Apakan aku bilang? Tapi gimana? Kamu bisa tenangkan?”

Agni mengangguk.

“Bagus, itu artinya kamu siap jadi pengusaha yang sebenarnya.”

Ucapan itu seperti sihir bagi Agni. Karena terbukti dengan beberapa hari saja ia sudah muncul di beberapa surat kabar karena kesuksesannya itu. Agni juga senang melihat itu, itu artinya pengorbananya selama ini tidak sia-sia.

“Hai Mrs. Busy.”

Alvin memeluk Agni yang sedang berada di antara buku-buku di atas raknya. Ia bosan melihat Agni yang terlalu sibuk dan serius itu.

“Ini rumah sayang, jangan sibuk gitu. Aku juga butuh kamu.”

Agni terkekeh, ia menyimpan kembali bukunya kemudian berbalik.

“Ini kan mau kamu?”

Alvin menggeleng, ia membenamkan kepalanya di lekukan leher Agni.

“Oh iya, minggu depan pengumuman kelulusan.”
“Aku mau ke Bandung lusa sayang, aku harus cek yang disana.”

Agni menarik Alvin agar menatapnya. Ia merengut kesal.

“Kan bisa bulan depan.”
“Gak bisa sayang... akukan cek nya enam bulan sekali.”

Agni merengut, ia melipat kedua tangannya di dada.

“Jadi kamu gak pernah ada saat pembagian rapot?”
“Iya, kenapa emangnya? Gara-gara setiap penghargaan aku gak pernah hadir ya?”

Agni melongos.

“Bukan.”

Alvin menaikan satu alisnya, kenapa lagi dia?

“Lalu?”

Agni menghentakkan kakinya kesal. Ia memunggungi Alvin, kembali meraih buku-bukunya.

“Pantesan kamu gak kenal aku. akukan selalu jadi peringkat kedua setelahmu.”
“Oh.”

Agni membelalakan matanya. Oh? Cuma Oh? Ia berbalik pada Alvin dan memukuli suaminya itu dengan kesal, ia butuh sesuatu. Kenapa Alvin gak peka sih?

“Ih... kenapa sayang... sakit tau.”
“Kamu ngebetein.”

Alvin terkekeh melihatnya, ia meraih kedua tangan Agni yang memukulinya.

“Jadi kamu yang pernah ngalahin aku? aku sampe di marahin sama Papa.”
“Hah?! Di marahin? Padahal cuma sekali aku ngalahin kamu.”

Alvin tersenyum masam. Ia berjalan ke arah jendela. Pemandangan sore hari dari rumahnya itu sangatlah indah.

“Besok ada pertemuan sama pemilik Fahd Company, kamu mau gak nemuin dia? Kebetulan aku gak bisa. Kalo kamu gak mau juga gapapa sih biar di batalin aja.”

Agni tersenyum tipis, ia senang dengan cara meminta persetujuan Alvin. Dia tidak memaksakannya harus bekerja. Alvin tidak pernah menuntutnya untuk bekerja kalau ia tidak mau. Betapa beruntungnya ia memiliki suami seperti Alvin. Suami pengertian dan sangat perhatian. Thanks God, Engkau menciptakan dia untuk mendampingiku.

***

Alvin menatap Agni yang sedang memakai stiletto nya. Ia tersenyum tipis melihatnya kesulitan. Kemudian Alvin berdiri dan berjongkok di hadapan Agni, meraih kaki istrinya itu.

“Al... jangan.”

Alvin tersenyum kemudian menggelengkan kepalanya.

“Diam.”

Agni menurut saja saat Alvin merapihkan sepatunya. Lelaki itu begitu telaten membenarkan stilettonya, ia tersenyum sambil mengelus rambut Alvin yang sudah menggunakan gel itu.

Alvin mendongakkan kepalanya setelah merapihkan stiletto Agni, ia membalas senyuman istrinya itu. Beberapa saat kemudian, ia merasakan sapuan lembut di bibirnya dari Agni. Alvin tersenyum lagi saat Agni menjauhkan diri darinya.

“Makasih ya Al...”

Alvin mengangguk lalu berdiri dan menggandeng Agni untuk berdiri juga. Ia menatap istrinya yang ia rasa semakin cantik itu. Wajah Agni terlihat berbeda, ada sebuah cahaya lain keluar dari wajahnya, ia rasa, akan sangat berat meninggalkan Agni.

“Aku bakalan gak sanggup jauh-jauh dari kamu.”

Agni terkekeh, ia menepuk dada Alvin. Kemudian menggamit lengan suaminya itu di lengan kanan sementara lengan kirinya tergantung sebuah tas berwarna abu-abu.

“Aku gak bisa anter Ni, gapapa? Maaf banget ya... aku harus buru-buru ada klien yang udah nunggu, dan restaurant tempat kamu itu jauh dari kantor. Maaf ya... tapi inget, aku tunggu kamu di rumah jam makan siang, aku harus packing.”
“Kamu kok bawel?” Agni terkekeh, “Iya, gapapa aku kan bisa nyetir sendiri. Aku juga udah siapin baju mana aja yang harus kamu bawa.”
“Makasih sayang. Pemilik Fahd Company katanya sulit di ajak negosiasi dan keras kepala. Pintar-pintar cari strategi ya.”
“Kamu bilang gitu hampir setiap aku mau pergi sayang. Jangan khawatir.”

Alvin mengangguk pelan. Ia mengelus rambut Agni dengan lembut.

“Good luck sayang.”

Alvin megecup puncak kepala Agni cukup lama, ia sayang sekali pada wanita itu. Selalu dan selamanya.

“Aku berangkat.”

Agni memasuki mobilnya kemudian menjalankan mobil itu setelah mendapatkan lambaian dan kecupan jauh dari Alvin. Ia begitu bahagia. Sangat bahagia.

Alvin menghela nafas panjang, entah kenapa kali ini ia melepas Agni begitu berat. Oke Alvin. Gak usah panik, dulu loe panik gini gak terjadi apa-apa jugakan? So? Tenang. Agni cuma buat gue dan selamanya milik gue!

***

Agni memasuki sebuah restaurant yang telah di tunjukan Alvin, ia mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru.

“Maaf Mbak, ada yang bisa saya bantu?”

Agni tersenyum pada seorang waiters yang berjaga di depan restaurant itu.

“Saya ada janji dengan pimpinan Fahd Company, apakah sudah datang?”
“Oh, anda dari Praha Group? Mari saya antar.”

Agni mengikuti waiters itu menuju sebuah meja yang berada di taman, tepat di belakang restaurant itu.

“Meja yang itu Mbak, saya permisi pamit dulu”
“Oh, iya. Makasih ya.”
“Sama-sama.”

Agni mengamati orang yang di tunjuk waiters itu dari belakang, terlihat duduk gelisah dengan sesekali melihat arlojinya. Sepertinya bener apa kata Alvin. Terlihat sekali dari gaya nya bahwa dia itu keras kepala.

Agni menghela nafas panjang, sebelum akhirnya ia berjalan mendekati orang itu.

“Permisi Pak, maaf saya terlambat.”

Agni menundukan kepalanya sebentar tanda hormat, pada lelaki yang belum berbalik itu.
Agni heran sendiri, kenapa dia tak kunjung berbalik? Ya Tuhan... jangan sampe dia beneran marah gara-gara gue telat.

“Pak... Maaf...” Agni membulatkan matanya, “G.Gab? Gab..riel?”

Lelaki itu, Gabriel Alexander Fahd. Dia tak memberikan reaksi yang berbeda, ia menatap tak percaya pada seorang wanita yang berada di hadapannya ini. wanita yang selama ini ia dambakan dan idamkan.
Gabriel segera berdiri kemudian memeluk Agni dengan erat.

“Agni... aku gak percaya bisa ketemu kamu disini, aku...”

Agni tidak merespon pelukan Gabriel, ia masih linglung. Tapi, begitu ia mengingat kejadian dulu rahangnya seketika mengeras. Ia masih sakit hati dengan apa yang Gabriel perbuat padanya. Mencampakkannya begitu saja dengan jangka waktu yang tidak sebentar. Apa ia bisa memaafkannya?

“Maaf Pak, tolong lepaskan.”
“Agni...”

Gabriel menatap Agni dengan memelas, ia begitu tidak percaya dengan responnya. Sebegitu salahkah dia?

***


Bersambung.

2 comments:

  1. Gilaa ni cerita, seru habis. agni sm rio cocok bgt, agni sm cakka klop bgt, trus agni sma alvin keren hbs.. trus donk jgn lama-lama udh gak sabar ni. dpt ide dr mna sieh ?

    ReplyDelete
  2. hehe idenya sih ide gak jelas aja. tiba-tiba aja ada gitu. :D

    makasih ya udah mau baca :)

    ReplyDelete