Alvin mengelus kedua pipi Agni yang terlihat begitu bingung.
Ia tersenyum tipis pada wanita itu.
“Gak usah di pikirin. Cepat
bangun dan mandi.”
Alvin berlalu setelah mengucapkan itu dengan begitu datar
dan dingin. Ada sedikit kekecewaan melihat reaksi Agni. Apa benar wanita itu
menyesal? Tapi, apa keinginannya sekarang? Aku
gak mungkin biarin kamu keluar malam, itu terlalu berbahaya. Maaf Agni, bukan
maksud aku benci sama temen-temen kamu. Tapi ini semua aku lakuin demi kebaikan
kamu juga. Alvin menghela nafas panjang begitu menutup pintu kamar mandi.
Apa yang harus ia lakukan sekarang?
***
Agni merapihkan make up dan pakaian yang baru saja ia kenakan.
Terlihat aneh, tapi lucu juga. Ia memakai pakaian formal khas kantoran dengan
stiletto membingkai kaki jenjangnya. Ia tersenyum tipis membayangkan reaksi
Alvin. Semoga kamu suka Al, dan aku
bakalan buktiin kalo aku gak nyesel nikah sama kamu.
Agni berjalan menuruni tangga, ia tersenyum pada Alvin yang
menatapnya begitu intens. Terlihat sekali kekaguman dari mata yang selalu
terlihat dingin itu. Agni menundukkan kepalanya, ia merasa malu karena Alvin
tak kunjung berkedip saat menatapnya.
“Al...”
Agni berucap begitu berhadapan dengan suaminya itu. Ia
tersenyum begitu tulus dengan tangan yang sibuk merapihkan dasi dan jas Alvin.
Alvin tersenyum tipis, ia raih dagu Agni agar istrinya itu
menatapnya. Ia tersenyum kembali, begitupun juga Agni. Terlihat sekali gurat ke
gugupan dari wajah wanita itu.
Alvin mendekatkan dirinya pada Agni, mengecup pelan sesuatu
yang begitu menggoda itu.
“Aku suka, rasanya seperti...
anggur.”
Agni menepuk dada Alvin dengan manja saat lelaki itu
berbisik begitu mesra. Jujur, ia memang merasa agak aneh menggunakan make up,
meski sederhana.
“Kita sarapan dulu.”
Agni melangkah dengan cepat saat Alvin terus saja
menatapnya, ia begitu salah tingkah dengan prilaku Alvin yang menurutnya begitu
aneh dan berlebihan.
Alvin terkekeh kecil melihat ada rona merah di wajah Agni.
Ia heran sendiri, ini bukan pertama kalinya ia menggoda istrinya itu. Tapi
kenapa istrinya itu masih saja memperlihatkan wajah yang bersemu merah? Alvin
menggeleng-gelengkan kepalanya pelan. Tak ia pungkiri, ia begitu bahagia
sekarang. Tidak lagi menerima penolakan dari Agni.
***
Alvin berjalan berdampingan dengan Agni saat memasuki loby.
Ia menggenggam tangan Agni begitu erat, seakan takut Agni akan meninggalkannya.
Dengan kaku Agni membalas sapaan dan senyuman seluruh karyawan Alvin yang
sebentar lagi akan menjadi karyawannya juga.
“Gak usah kaku sayang... kan ada
aku.”
Alvin berbisik begitu mesra tepat di telinga Agni, ia
merangkul pinggang Agni agar merapat ke arahnya saat memasuki lift. Agni
menepuk dada Alvin dengan pelan, ia terkekeh kecil menanggapi godaan suaminya
itu.
Para karyawan yang melihat kejadian itu menatap mereka
dengan tatapan iri, berharap bisa seperti itu. Membayangkan andai mereka yang
menjadi pendamping Bossnya saat itu.
***
Agni dan Alvin saling berpadangan saat melihat Debo yang
sedang terlihat berkutat dengan laptopnya tapi pandangannya kosong, begitu
datar dan dingin. Seperti sedang memikirkan sesuatu yang begitu berat.
“Ada masalah?”
Debo mendongak dengan lamban, menatap Alvin yang sedang
berdiri menghadapnya. Ia tersenyum miring pada Alvin kemudian kembali pada
laptopnya.
Alvin menghela nafas, sahabatnya yang satu ini memang sangat
tertutup padanya, walau ia selalu mencoba meyakinkannya tidak akan membocorkan rahasia
apapun tentang dia. Tapi... ternyata dia sangat keras kepala, dan lebih memilih
memendam semuanya.
Agni menatap kedua lelaki itu bergantian. Ia tidak mengerti
dengan sikap lelaki, ia memang kurang peka dengan urusan lelaki. Terlalu rumit
dan banyak maunya.
“Di meja loe udah ada laporan
dari keuangan dan bagian pemasaran. Gue udah cek dan gak ada masalah, tinggal
loe liat aja lagi.”
Alvin mengangguk begitu mendengar penuturan sekertarisnya
itu. Ia yakin dia sedang ada masalah, karena terlihat sekali dari nada
bicaranya yang cenderung datar itu. Alvin menghela nafas lalu mengambil dokumen
yang di tunjuk Debo. Ia menarik Agni untuk duduk di sampingnya, di sofa yang
panjang.
Debo menutup laptopnya, kemudian berdiri.
“Gue balik dulu ke ruangan gue, nanti
siang ada meeting dan nanti sore ada pertemuan di cafe depan sama nyonya Bozzy.”
Alvin mengangguk-anggukan kepalanya, sekertarisnya itu
sangat bawel melebihi wanita, padahal jelas sekali dia itu lelaki.
Debo terlihat berbalik lagi saat di ambang pintu.
“Oh iya, tapi ada yang waktunya
bersamaan. Gue rasa batalin aja pertemuan yang di luar. Beberapa klien yang
datang kesini lebih penting.”
“Jangan dulu, kita liat aja
nanti. Satu jam sebelum pertemuan itu gue bakalan konfirmasi.”
Debo mengangguk.
“Oke.” Ia membuka pintu tapi
kemudian berbalik lagi.
“Apa lagi?”
Debo tersenyum nakal, menggoda Alvin yang sedang duduk
bersama Agni.
“Kayaknya gue harus ingetin
sesuatu.”
Alvin menatap Debo dengan kesal. Bawel banget loe! Umpat Alvin dengan tatapan yang menantang Debo.
“Apa lagi sih?”
Debo berdehem, memasang wajah seriusnya.
“Ini kantor, sebaiknya kalian
tahan dulu untuk tidak beradegan mesum. Disini ada CCTV.”
Agni mendongak, apa semua pikiran lelaki itu sama? Semuanya
membahas yang begituan. Lagian, siapa juga yang mau beradegan tak senonoh di
tempat ini, kayak gak ada tempat lain aja.
Agni melirik ke arah Alvin yang terkekeh. Ia mengerutkan
dahinya.
“Udah gue matiin, dan... ruangan
ini kedap suara lagi.”
Alvin tertawa begitu lepas dengan kerlingan nakalnya. Agni
membulatkan matanya, apa coba maksud dari menjadikan ruangan ini kedap suara?
Agni memutar bola matanya kesal saat melihat Debo juga malah menanggapi
seringaian nakal Alvin. Radius 1 meter aman nih.
Begitu di tinggalkan Debo, Alvin merapatkan diri pada Agni
yang sedang memegang dokumen laporan keuangan bulan ini. ia mengerutkan
keningnya saat melihat Agni yang malah menjauh. Ia mendekati Agni lagi, tapi
Agni menjauh lagi. Alvin mengerutkan dahinya melihat itu.
“Kenapa sih? Aku mau liat dokumen
itu.”
“Eh...”
Agni terlihat kaget, ia baru menyadari hal itu. Ia
menundukan kepalanya malu, ia yakin wajahnya sekarang merona merah. Bego Agni! Bego bego bego... disaat seperti
ini loe malah mikir yang enggak-enggak. Bego malukan loe sekarang...
Alvin mengerutkan keningnya saat Agni menundukan kepalanya.
Ia heran, kenapa Agni malah menunduk seperti itu?
Alvin meraih dagu Agni, ia tersenyum begitu tulus padanya.
“Sini, deket aku. Aku kasih tau
semuanya, biar saat aku pergi kamu bisa sendiri.”
Agni mengangguk, ia mendekatkan diri pada Alvin. Alvin
sesekali menjelaskan dan Agni sesekali bertanya pada Alvin. Keduanya larut
dalam kesibukan, hingga tak menghiraukan apapun lagi.
***
Ify masih bergelung dengan selimut tebal, seorang pemuda
menghampirinya, duduk di ujung tempat tidur dekat kakinya.
“Fy, udah siang.”
Ify menggeliatkan badannya, mulutnya bergumam malas kemudian
kembali menarik selimut itu hingga menutupi kepalanya. Tapi, beberapa saat
kemudian ia mengerjabkan matanya, mengembalikan nyawanya menjadi utuh. Kenapa disini rasanya maskulin banget?
Parfumnya juga.
Ia mendudukan dirinya, mengucek matanya yang terasa begitu
rabun. Kok ada cowok sih di kamar gue?
Ify mengucek-ngucek lagi matanya.
“R.Rio...”
Pemuda itu menengok ke arah Ify, dia tersenyum tipis
kemudian berdiri.
“Rio... kok gue ada disini? Gue
dimana?”
Ify duduk sempurna, dia menatap ke arah Rio dengan tatapan
penuh tanya. Ia mengedarkan pandangannya, ini memang bukan kamarnya, bukan di
rumahnya, tapi dimana? Ia kembali menatap Rio yang mulai berjalan ke arahnya.
“Ini rumah gue.”
“Kenapa loe bawa gue kesini? Loe
gak takut di tanyain orang tua loe? Hah?!”
Ify menatap tajam ke arah Rio yang kini duduk kembali di
sampingnya. Pemuda itu terlihat dingin dan datar. Kenapa gue ngerasa ini bukan Rio?
“Ini rumah gue Fy, gak ada orang
tua. Yang ada cuma gue dan pengurus rumah. Semalem loe mabuk, gue gak mungkin
bawa loe pulang ke rumah loe dengan ke adaan seperti itu.”
Rio melirik Ify yang sepertinya sedang berpikir. Kemudian ia
mengalihkan pandangannya ke arah lain.
“Loe biasa mabuk? Gak nyangka
banget gue.”
“E.Enggak Yo, sumpah. Gue gak pernah
mabuk.” Ify memegangi kepalanya yang terasa pening. “Gue rasa semalem salah
ngambil minuman, biasanya gue cuma ngambil air mineral yang emang sengaja ada
buat gue dan Agni.”
Rio menghela nafas panjang. Ia berdiri dan berjalan ke arah
pintu.
“Yo...”
Rio berhenti melangkah, ia diam di tempat tanpa menoleh
sedikitpun.
“Loe marah?”
Hening sejenak. Ify dan Rio terdiam, sibuk dengan
pikiran-pikirannya masing-masing.
“Marah? Apa hak gue marah karena
loe mabuk? Itu urusan loe. Sebagai sahabat, gue cuma mau bantuin loe.”
Ify menghela nafas panjang begitu Rio keluar dari kamar itu.
Entah lega atau apa, yang pasti ada sesuatu yang mengganjal dalam hatinya. Rio peduli sama gue? Apa itu artinya dia
sayang sama gue? Ify menggelengkan kepalanya. Enggak, gak mungkin. Walaupun iya, gue yakin itu cuma pelampiasan
gara-gara dia jauh dan gak bisa dapetin Agni.
***
Agni duduk di samping Alvin saat di ruang meeting, entah
kenapa ia merasa wanita-wanita yang ada di ruangan itu menatap Alvin dengan
begitu intens, seakan mereka ingin memakan Alvin saat itu juga. Agni
menghembuskan nafas, menenangkan diri. Ia tak boleh berpikiran buruk terlebih
dahulu melihatnya.
“Selamat siang semuanya,
sebelumnya perkenalkan ini Kanz Agnida. Istri sekaligus asisten saya sejak saat
ini, apapun yang akan kalian bicarakan saat saya tidak ada di tempat silahkan
bicarakan dengannya.”
Agni tersenyum pada semuanya, ada beberapa yang tersenyum
kecut seakan menilai, ada juga yang terlihat mencibir. Agni menanggapinya hanya
dengan senyuman dan senyuman. Tak ada gunanya jugakan ia menanggapi?
Meeting berjalan dengan alot, ada beberapa kali perdebatan
yang berbuntut panjang. Ada juga yang bisa cepat di selesaikan.
Alvin melihat arlojinya. Ia berbaik ke arah Debo.
“Batalkan pertemuan itu.”
“Al...”
Alvin berbalik ke arah Agni yang menyela ucapannya, ia
tersenyum pada istrinya itu.
“Kenapa sayang?”
Agni tersenyum ke arah Alvin, ia meraih satu tangan suaminya
itu.
“Biar aku yang menemui dia, kamu
lanjutin meeting aja sama Debo. Akukan asisten kamu.”
Alvin tersenyum, ia menganggukkan kepalanya kemudian
berdiri. Setelah berpamitan pada anggota meeting, ia mengantarkan Agni keluar
ruangan.
“Hati-hati ya sayang. Dia bawel.”
Alvin mengakhiri ucapannya dengan sebuah kecupan di dahi. Ia
mengelus kedua pipi Agni kemudian menarik wajah itu untuk mendekat.
“Ekhm... Al... ini kantor lho.”
Alvin terkekeh kecil kemudian mengecup ujung bibir Agni.
“Kalo ada apa-apa kasih tau aku.”
Agni merapihkan dasi Alvin lalu mengecup pipi Alvin dengan
lembut. Ia tersenyum menenangkan.
“Tenang aja Al. Jangan berubah
jadi bawel gitu ah.”
Alvin mengangguk.
“Yaudah, bye Al...”
Alvin membalas lambaian tangan Agni, ia tersenyum begitu
melihat Agni telah memasuki lift. Ia menghela nafas panjang, ada sesuatu yang
ia rasa membebani dadanya yang membuat nafasnya tercekat, terasa sesak. Oh God, jagalah dia... jagalah segalanya
untukku.
Setelah itu, Alvin kemudian memasuki ruangannya kembali.
***
Ify menuruni tangga rumah itu, ia rasa begitu luas. Hanya
ada beberapa barang yang masih di tutupi kain pelindungnya. Sepertinya rumah
itu baru.
“Non, makan siang dulu.”
Ify mengangguk. Kemudian mengikuti perempuan paruh baya itu.
“Rio kemana Bi?”
“Den Rio pulang Non, tadi nyonya
besar sudah menelpon. Tadi kaya Den Rio, katanya Non bisa pulang bawa mobilnya
Den Rio soalnya mobil Non masih di tempat semalam dan sekarang mau di ambil
sama Den Rio.”
“Iya, makasih ya Bi.”
“Baik Non. Silahkan di nikmati,
Bibi mau ke belakang dulu.”
Ify mengangguk-anggukan kepalanya, ia begitu menikmati
tinggal di rumah ini. begitu nyaman dan rapih. Barang-barang di letakkan begitu
apik di sana-sini. Beruntung banget nih
yang jadi istrinya Rio nanti, seleranya bagus.
Ponsel Ify berdering.
Sorry Fy gue kudu pulang, mobil loe sekaranga ada di rumah gue. Gue
bawa kuncinya dari tas loe. Sorry ya sorry banget, gue gak minta ijin sama loe.
Ify tersenyum. Perhatian
juga dia. Ia menghela nafas. Sayangnya...
gue udah jatuh cinta setengah mati sama Debo. Coba loe dateng dalam kehidupan
gue duluan dan loe gak suka sama sahabat gue sendiri. Pasti gue suka sama loe.
***
Agni merengut kesal begitu Alvin menjemputnya di cafe. Ia
membenamkan wajahnya di dada Alvin begitu ia memasuki mobil.
Alvin mengelus puncak kepala Agni dengan lembut, bibirnya
tersenyum.
“Kenapa sayang?”
Agni menarik dirinya untuk duduk sempurna, ia menatap Alvin
dengan cemberut.
“Ternyata beneran bawel Al...
BETEEEE...”
Alvin terkekeh, ia mengacak-acak poni Agni dengan gemas.
“Apakan aku bilang? Tapi gimana?
Kamu bisa tenangkan?”
Agni mengangguk.
“Bagus, itu artinya kamu siap
jadi pengusaha yang sebenarnya.”
Ucapan itu seperti sihir bagi Agni. Karena terbukti dengan
beberapa hari saja ia sudah muncul di beberapa surat kabar karena kesuksesannya
itu. Agni juga senang melihat itu, itu artinya pengorbananya selama ini tidak
sia-sia.
“Hai Mrs. Busy.”
Alvin memeluk Agni yang sedang berada di antara buku-buku di
atas raknya. Ia bosan melihat Agni yang terlalu sibuk dan serius itu.
“Ini rumah sayang, jangan sibuk
gitu. Aku juga butuh kamu.”
Agni terkekeh, ia menyimpan kembali bukunya kemudian
berbalik.
“Ini kan mau kamu?”
Alvin menggeleng, ia membenamkan kepalanya di lekukan leher
Agni.
“Oh iya, minggu depan pengumuman
kelulusan.”
“Aku mau ke Bandung lusa sayang,
aku harus cek yang disana.”
Agni menarik Alvin agar menatapnya. Ia merengut kesal.
“Kan bisa bulan depan.”
“Gak bisa sayang... akukan cek
nya enam bulan sekali.”
Agni merengut, ia melipat kedua tangannya di dada.
“Jadi kamu gak pernah ada saat
pembagian rapot?”
“Iya, kenapa emangnya? Gara-gara
setiap penghargaan aku gak pernah hadir ya?”
Agni melongos.
“Bukan.”
Alvin menaikan satu alisnya, kenapa lagi dia?
“Lalu?”
Agni menghentakkan kakinya kesal. Ia memunggungi Alvin,
kembali meraih buku-bukunya.
“Pantesan kamu gak kenal aku.
akukan selalu jadi peringkat kedua setelahmu.”
“Oh.”
Agni membelalakan matanya. Oh? Cuma Oh? Ia berbalik pada Alvin dan memukuli suaminya itu
dengan kesal, ia butuh sesuatu. Kenapa Alvin gak peka sih?
“Ih... kenapa sayang... sakit
tau.”
“Kamu ngebetein.”
Alvin terkekeh melihatnya, ia meraih kedua tangan Agni yang
memukulinya.
“Jadi kamu yang pernah ngalahin
aku? aku sampe di marahin sama Papa.”
“Hah?! Di marahin? Padahal cuma
sekali aku ngalahin kamu.”
Alvin tersenyum masam. Ia berjalan ke arah jendela. Pemandangan
sore hari dari rumahnya itu sangatlah indah.
“Besok ada pertemuan sama pemilik
Fahd Company, kamu mau gak nemuin dia? Kebetulan aku gak bisa. Kalo kamu gak
mau juga gapapa sih biar di batalin aja.”
Agni tersenyum tipis, ia senang dengan cara meminta
persetujuan Alvin. Dia tidak memaksakannya harus bekerja. Alvin tidak pernah
menuntutnya untuk bekerja kalau ia tidak mau. Betapa beruntungnya ia memiliki
suami seperti Alvin. Suami pengertian dan sangat perhatian. Thanks God, Engkau menciptakan dia untuk
mendampingiku.
***
Alvin menatap Agni yang sedang memakai stiletto nya. Ia
tersenyum tipis melihatnya kesulitan. Kemudian Alvin berdiri dan berjongkok di
hadapan Agni, meraih kaki istrinya itu.
“Al... jangan.”
Alvin tersenyum kemudian menggelengkan kepalanya.
“Diam.”
Agni menurut saja saat Alvin merapihkan sepatunya. Lelaki
itu begitu telaten membenarkan stilettonya, ia tersenyum sambil mengelus rambut
Alvin yang sudah menggunakan gel itu.
Alvin mendongakkan kepalanya setelah merapihkan stiletto
Agni, ia membalas senyuman istrinya itu. Beberapa saat kemudian, ia merasakan
sapuan lembut di bibirnya dari Agni. Alvin tersenyum lagi saat Agni menjauhkan
diri darinya.
“Makasih ya Al...”
Alvin mengangguk lalu berdiri dan menggandeng Agni untuk
berdiri juga. Ia menatap istrinya yang ia rasa semakin cantik itu. Wajah Agni
terlihat berbeda, ada sebuah cahaya lain keluar dari wajahnya, ia rasa, akan
sangat berat meninggalkan Agni.
“Aku bakalan gak sanggup
jauh-jauh dari kamu.”
Agni terkekeh, ia menepuk dada Alvin. Kemudian menggamit
lengan suaminya itu di lengan kanan sementara lengan kirinya tergantung sebuah
tas berwarna abu-abu.
“Aku gak bisa anter Ni, gapapa?
Maaf banget ya... aku harus buru-buru ada klien yang udah nunggu, dan
restaurant tempat kamu itu jauh dari kantor. Maaf ya... tapi inget, aku tunggu
kamu di rumah jam makan siang, aku harus packing.”
“Kamu kok bawel?” Agni terkekeh,
“Iya, gapapa aku kan bisa nyetir sendiri. Aku juga udah siapin baju mana aja
yang harus kamu bawa.”
“Makasih sayang. Pemilik Fahd
Company katanya sulit di ajak negosiasi dan keras kepala. Pintar-pintar cari
strategi ya.”
“Kamu bilang gitu hampir setiap
aku mau pergi sayang. Jangan khawatir.”
Alvin mengangguk pelan. Ia mengelus rambut Agni dengan
lembut.
“Good luck sayang.”
Alvin megecup puncak kepala Agni cukup lama, ia sayang
sekali pada wanita itu. Selalu dan selamanya.
“Aku berangkat.”
Agni memasuki mobilnya kemudian menjalankan mobil itu
setelah mendapatkan lambaian dan kecupan jauh dari Alvin. Ia begitu bahagia.
Sangat bahagia.
Alvin menghela nafas panjang, entah kenapa kali ini ia
melepas Agni begitu berat. Oke Alvin. Gak
usah panik, dulu loe panik gini gak terjadi apa-apa jugakan? So? Tenang. Agni
cuma buat gue dan selamanya milik gue!
***
Agni memasuki sebuah restaurant yang telah di tunjukan
Alvin, ia mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru.
“Maaf Mbak, ada yang bisa saya
bantu?”
Agni tersenyum pada seorang waiters yang berjaga di depan
restaurant itu.
“Saya ada janji dengan pimpinan
Fahd Company, apakah sudah datang?”
“Oh, anda dari Praha Group? Mari
saya antar.”
Agni mengikuti waiters itu menuju sebuah meja yang berada di
taman, tepat di belakang restaurant itu.
“Meja yang itu Mbak, saya permisi
pamit dulu”
“Oh, iya. Makasih ya.”
“Sama-sama.”
Agni mengamati orang yang di tunjuk waiters itu dari
belakang, terlihat duduk gelisah dengan sesekali melihat arlojinya. Sepertinya bener
apa kata Alvin. Terlihat sekali dari gaya nya bahwa dia itu keras kepala.
Agni menghela nafas panjang, sebelum akhirnya ia berjalan
mendekati orang itu.
“Permisi Pak, maaf saya
terlambat.”
Agni menundukan kepalanya sebentar tanda hormat, pada lelaki
yang belum berbalik itu.
Agni heran sendiri, kenapa dia tak kunjung berbalik? Ya Tuhan... jangan sampe dia beneran marah
gara-gara gue telat.
“Pak... Maaf...” Agni membulatkan
matanya, “G.Gab? Gab..riel?”
Lelaki itu, Gabriel Alexander Fahd. Dia tak memberikan
reaksi yang berbeda, ia menatap tak percaya pada seorang wanita yang berada di
hadapannya ini. wanita yang selama ini ia dambakan dan idamkan.
Gabriel segera berdiri kemudian memeluk Agni dengan erat.
“Agni... aku gak percaya bisa
ketemu kamu disini, aku...”
Agni tidak merespon pelukan Gabriel, ia masih linglung. Tapi,
begitu ia mengingat kejadian dulu rahangnya seketika mengeras. Ia masih sakit
hati dengan apa yang Gabriel perbuat padanya. Mencampakkannya begitu saja
dengan jangka waktu yang tidak sebentar. Apa ia bisa memaafkannya?
“Maaf Pak, tolong lepaskan.”
“Agni...”
Gabriel menatap Agni dengan memelas, ia begitu tidak percaya
dengan responnya. Sebegitu salahkah dia?
***
Bersambung.
Gilaa ni cerita, seru habis. agni sm rio cocok bgt, agni sm cakka klop bgt, trus agni sma alvin keren hbs.. trus donk jgn lama-lama udh gak sabar ni. dpt ide dr mna sieh ?
ReplyDeletehehe idenya sih ide gak jelas aja. tiba-tiba aja ada gitu. :D
ReplyDeletemakasih ya udah mau baca :)