Monday, 4 August 2014

Long Distance Marriage



Chapter 3

Ali berjalan kesana kemari tak tenang, sesekali ia mendial nomor ponsel Prilly. Namun, mati tak ada jawaban sekalipun. Ia menghela nafas lelah. Prilly kamu kemana sih? Jangan buat aku khawatir gini dong...
“Prilly kamu kemana sih? Gak biasanya ngilang kayak gini. Aktifin Prilly aktifin... jangan buat aku gila kyak gini.”
Ali kembali melihat ponselnya kemudian mendial nomor yang sama lagi. Sayangnya, masih mati. Tak ada jawaban yang ia harapkan.
“Ali... saatnya wawancara.”
Ali menghembuskan nafasnya kesal kemudian tersenyum, setelah itu berlalu dari ruangannya.


***

Prilly menarik nafas panjang, akhirnya ia pulang. Ia tersenyum saat memandangi daratan dari ketinggian pesawat yang ia tumpangi. Tadi, dengan susah payah ia menjelaskan prihal kepulangannya pada Agni.

“Prilly! Loe gak usah ngeles ya... gue tau loe ada sesuatu yang disembunyiin.”
“Ya ampun... gak ada Agni. Apa coba yang gue sembunyiin?.”
Agni mencengkeram kedua lengan Prilly.
“Jangan-jangan loe ya yang nikah sama Aliando? Ah GOD! Jangan deh yaa... loe kan gak suka banget sama dia.”
Prilly menepis tangan Agni.
“Idih. Kagak! Ngaco amat tuh mulut. Udah ah! Sono loe pulang. Gue banyak urusan aja kenapa gue mau balik. Lagian bimbingannya bisa online ginikan?.”
“Oke oke. Kalo gitu. Kapan loe balik kesini?.”
“Kapan-kapan.”
“Prillyyyyyy.... gua serius.”
“Tau ah. Mungkin sebulan, dua bulan atau gak balik lagi gue. Daripada ketemu temen serempong elo.”
“Ih loe mah gitu amat ama gue...”
“Udah ah... bye doll eyes... gue balik ya... loe jangan pacaran mulu kalo kuliah. Keluar-keluar.”

Prilly terkekeh kecil. sepertinya ia akan merindukan sahabatnya itu. ia menghela nafas kemudian beralih melihat ke arah luar. Aku gak sabar pengen ketemu kamu Ali... eh... ya ampun... gue lupa kasih tau Ali kalo mau pulang... ah parah. Ihh gara-gara Agni nih... ngerecokin mulu dia.

***

Ali tersenyum begitu santai. Ia menatap ke arah presenter sebuah acara talk show. Hari ini, setelah gosip pernikahan Aliando muncul kepermukaan, ia langsung di undang untuk mengisi acara tersebut.
“Jadi bagaimana dengan gosip yang mengatakan bahwa anda ternyata diam-diam sudah menikah?.”
“Ya... namanya juga gosip. Bawa santai aja. Toh nantinya kebenaran akan muncul juga.”
“Jadi apakah anda sudah benar-benar menikah atau belum?.”
Ali terkekeh kecil.
“Maunya apa?.”
“Penonton, kata Ali maunya apa?.”
“ENGGAK...”
Ali tersenyum masam. Ia menghela nafas panjang.
“Tapi, sumber ini dari orang terpercaya lho. Apakah menurut anda sebuah pernikahan itu aib sehingga harus ditutupi?.”
“Wah? Siapa? Pernikahan aib? Enggak lah. Bukannya itu kabar baik? Kalo pun saya menikah memangnya kenapa? Toh itu berarti pilihan saya.”
“Berarti anda membenarkan kalau anda telah menikah?.”
Ali terkekeh renyah. Ia menatap ke arah penonton sekilas. Maafin aku Prilly...
“Enggak.”
“Oke... tapi bagaimana dengan cincin yang akhir-akhir ini anda kenakan? Banyak fans anda yang menanyakan prihal cincin itu. kita lihat gambarnya...”
Ali mengerutkan keningnya. Ia menatap ke arah layar yang kemudian menampilkan fotonya yang sedang berpangku tangan, secara kasat mata memang tidak begitu terlihat adanya cincin itu. namun difoto lain sangat jelas, ia mengenakan cincin dijari manis tangan kanannya.
“Bagaimana tanggapan anda mengenai pertanyaan para penggemar anda ini?.”
“Ya gimana ya... itu cincin, ya cuma cincin aja. Itu pemberian dari Mama.”
“Benar seperti itu? tapi kenapa harus dijari manis tangan kanan yang justru semakin memperkuat rumor pernikahan kamu?.”
Ali terkekeh. Ia harus tetap tenang dan tenang.
“Sekarang gini deh. Kalo ya... ini kalo. Kalo saya udah nikah, istrinya mana? Apakah kalian semua pernah melihat saya bersama seorang wanita selain Mama saya? Enggak kan? Saya juga dari dulu udah menegaskan kalau saya gak punya pacar. Dan ya...”
“Tapi tidak punya pacara bukan menjadi alasan untuk tidak menikah lho. Bisa saja dijodohkan?.”
“Kalo saya sudah menikah, saya pasti bawa istri saya kesini, kemanapun. Jadi bisa disimpulkan bukan?.”
Tanpa disadari banyak mata, Ali menghembuskan nafas lega. Ia melirik ke arah Riani yang duduk tak jauh darinya dengan wajah yang cukup panik. Apalagi jika mengingat fans Ali yang begitu fanatik. Ia tidak mau Ali mengakui pernikahannya karena takut menantunya akan terkena imbas dari ini.

***

“Prilly? Kamu pulang?.”
Prilly tersenyum pada kedua orangtuanya yang sedang berkumpul disore itu. Ia menyalami Mama dan Papa nya bergantian.
“Illy rasa, Illy bisa selesain skripsi Illy disini Ma.”
Reina tersenyum, ia meraih Prilly dalam pelukannya.
“Ali tau?.”
Prilly menarik nafas lelah. Ia duduk diantara Mama dan Papanya.
“Justru itu Ma, Pa. Illy lupa ngasih tau. Hp Prilly juga mati nih. Belum beli kartu buat disini. Nanti deh Illy kasih taunya. Sekarang Illy mau istirahat dulu ya... bye Ma, bye Pa...”
Prilly berjalan menaiki tangga rumahnya menuju kamar miliknya. Sesekali ia mereganggakan lehernya yang terasa begitu kaku. Ia menarik nafas panjang.
“Ma... pinjem hp Mama aja sementara.”
Reina tersenyum sambil mengangguk kecil. Prilly tersenyum kemudian mengambil ponsel itu.

***

Prilly mengetikan nomor ponsel Ali yang ternyata sudah disimpan oleh Mamanya. Ia terkekeh kecil.
“My super boy? Mama... Mama...”
Prilly menggeleng-gelengkan kepalanya sejenak. Kemudian mendial nomor tersebut. Prilly tersenyum sambil menarik nafas, entah kenapa ia begitu gugup. Padahal biasanya biasa saja.
“Hallo assalamualaikum Ma? Ada apa? Maaf ini hp Ali low... tut tut tut...”
Prilly mengerutkan keningnya, ia menatap ponselnya. Ternyata sambungannya mati. Prilly menghela nafas kecewa. Lalu mendial nomor itu kembali.
“Maaf nomor yang anda tuju sedang tidak aktif...”
Prilly mendesah kecewa. Ia menyimpan ponsel Reina di meja rias. Setelah itu ia merebahkan tubuhnya dipembaringan. Hhh... mati ya? padahalkan gue pengen dengerin suara dia. Gue takut dia marah gue pulang tapi gak kabarin dia. Duuhhh... Prilly menarik nafas panjang lalu menghembuskannya. Prilly loe harus positif thinking. Ali gak mungkin marah sama loe. Iya bener... Ali gak bakalan marah. Oke sebaiknya gue istirahat aja dulu. Entar kerumah Ali. Ya... mendingan gitu.
Prilly tersenyum sambil menyamankan tubuhnya, ia menghirup dalam-dalam bantalnya. Sepertinya ini wangi parfume Ali... Prilly tersenyum bahagia. Setidaknya ini dapat mengobati rasa penasarannya terhadap rupa suaminya tersebut. Pafrume nya aja menenangkan gini... hh...

***

Ali mendekat kearah managernya dengan panik. Baru saja, ibu mertuanya menelpon. Sepertinya ada yang penting. Kalau tidak ada yang penting buat apa menelpon?
“Mama mana?.”
“Baru aja pulang. Katanya Papa loe udah mau pulang.”
Ali mendengus kesal.
“Pinjem hp sebentar.”
Ali meraih ponsel dari managernya tersebut saat sang manager memberikan benda itu padanya. Tanpa basa-basi ia langsung mengetikan nomor ponsel Ibu mertuanya itu dan langsung mendialnya.
“Tuuuttt.... tuuttt...”
Tak ada jawaban, Ali menghela nafas panjang lalu memberikan ponselnya itu kembali pada sang pemilik.
“Schedule nya masih padat? Gue pulang jam berapa malem ini?.”
“Masih. Sekitar jam 10. Acara nanti malam dimulai jam 7 tapi loe manggungnya di segmen 1 dan 4 jadi bisa langsung pulang di jam 10 nya.”
Ali mendengus kesal. Tapi Mama ada apa ya? perasaan gue jadi gak enak gini... hhh... mana Prilly gak ada kabar. Prilly kamu kemana sih? Buat aku khawatir aja deh. Ali menghela nafas panjang, menenagkan pikirannya. Bagaimanapun juga, ia seorang public figure yang harus bisa menjaga emosinya. Apapun dan bagaimanapun keadaannya ia harus tetap profesional.

***

Prilly menarik nafas panjang, sambil memandangi bangunan rumah megah dihadapannya. Ia menghembuskannya pelan-pelan, menutupi kegugupannya. Tadi, ia memutuskan untuk pergi kekediaman mertuanya sendirian karena Mama dan Papa nya tiba-tiba ada undangan penting dari kantornya.
Prilly semakin gugup, untuk kesekian kalinya Prilly menarik nafas panjang, lalu menekan bel yang berada disamping pintu pagar. Tak lama berselang, seorang satpam rumah itu mendekat.
“Anda siapa? Ada perlu dengan siapa?.”
“Saya Prilly... bilang aja sama Mama dan Papa Prilly datang.”
Setelah satpam itu meninggalkannya cukup lama akhirnya gerbangpun trebuka.
“Awas ya kamu biarin menantuku didepan gerbang kayak gitu lagi! Mana udah malem! Saya pecat juga kamu ya...”
Seorang wanita yang masih terlihat muda sedang memarahi satpam tadi. Prilly mendekat kearah mereka.
“Saya cuma jaga-jaga nyonya... takutnya ada yang pura-pura jadi temen den Ali lagi.”
“Sudahlah, kembali ketempat kamu.”
Prilly menghela nafas panjang. Kemudian tersenyum pada wanita dihadapannya ini. ia yakin ini Mama dari Ali. Mengingat tadi dia menyebutkan bahwa yang datang itu menantunya.
“Ma...”
“Ya ampun Prilly sayaaang... akhirnya kamu dateng juga. Akhirnya Mama bisa liat kamu. masuk yuk.”
Riani merangkul Prilly dan menggiringnya memasuki rumah.
“Kamu cantik sekali. Pantas saja Ali langsung setuju waktu liat foto kamu.”
“Terimakasih Ma... Ali juga pasti gantengkan? Mama nya juga cantik.”
Riani tertawa kecil.
“Jadi kamu belum liat foto Ali?.”
Prilly tersenyum malu dan menggeleng pelan.
“Belum Ma... Illy mau liat yang aslinya aja.”
“Ada-ada aja kamu. oiya... tapi Ali kok gak cerita ya kamu mau pulang? Bahkan dia mungkin pulang larut lagi malem ini.”
“Aku lupa ngasih tau Ma... tadi pas udah nyampe mau aku telpon eh handphone Ali mati.”
“Yaudah gapapa. Kamu udah makan malem? Atau mau langsung istirahat aja? Wajah kamu keliatan masih capek gitu.”
Prilly tersenyum.
“Udah makan Ma tadi dirumah. mmm... Papa mana Ma?.”
“Oiya Mama lupa. Papa ada di ruangannya. Yuk kita kesana.”
Prilly mengangguk. Ia menghela nafas panjang. Alhamdulillah... mertua itu gak seburuk yang orang biacarakan. Aku beruntung punya mertua yang baik kayak gini. Makasih ya Allah...
“Kamu tau sayang? Semenjak Ali nikah sama kamu, dia banyak berubah lho... dia keliatan lebih ceria dan lebih manja... dia juga sekarang rajin sarapan, biasanya berangkat sebelum beragkat dia cuma minum aja.”
“Ih masa gitu Ma? Udah. Nanti Illy bilangin sama Ali. Bair jaga pola makannya.”
“Iya harus sayang. Oiya katanya kamu juga pinter masak ya? wahh... Mama beruntung banget punya menantu kayak kamu, udah cantik, ramah, pinter masak lagi. Kok bisa ya Ali pilihnya yang paket komplit kayak kamu? padahal kaliankan gak pernah ketemu.”
“Anak sih gimana Papanya yaa... sama-sama pinter milih.”
Riani dan Prilly menengok ke arah sumber suara. tak jauh dari mereka, Fandi duduk dengan beberapa file ditangannya.
“Mana sih menantu Papa? Sini dong kok malah bengong?.”
“Papa! Sama menantu sendiri aja masih genit!.”
“Ih siapa yang genit. Mama aja tuh yang cemburuan. Masa sama menantu sendiri cemburu sih?. Sini sayang?.”
“Enggak!.”
Prilly terkekeh melihat tingkah kedua mertuanya itu. ia menuntun Riani mendekat ke arah Fandi. Kemudian ia duduk di sebelah Riani yang bersebelahan dengan Fandi.
“Gini gapapakan Ma? Mama deket Papa, Illy deket Mama... ciee... jangan cemberut dong Ma...”
“Iya nih. Mama masih aja cemburu. Malu tuh sama menantu.”
“Biarin. Mama kan sayang banget sama Papa.”
“Papa juga sayang kok.”
Fandi mengecup kening Riani sesaat.
Prilly menutup matanya.
“Ops. Illy gak liat. Yaudah kamar Ali dimana Ma? Biar Illy istirahat aja. Daripada jadi kambing congek liatin Mama sama Papa terus.”
Riani terkekeh kecil. ia mengelus rambut Prilly dengan sayang.
“Tuh, yang disana.”
Prilly mengikuti arah telunjuk Riani. Setelah melihat sebuah pintu di ujung. Ia mengangguk pelan.
“Disana ya Ma?.”
“Iya. Kalo ada apa-apa bilang sama Mama aja ya. jangan sungkan lagi.”
“Iya Ma... ini juga gak sungkan kan?.”
Riani dan Prilly terkekeh kecil.
“Yaudah Ma, Pa Illy istirahat dulu. Kalian lanjutin aja berduaannya.”
Prilly mengedipkan matanya dengan genit, menggoda ke arah Riani dan Fandi Setelah mendapatkan anggukan dari Riani dan Fandi. Ia beranjak menuju kamar yang telah ditunjukan oleh Riani.

***

Ali mengehela nafas panjang lalu melihat arlojinya.
“Jam sepuluh tepat.” Gumannya.
Baru saja Ali menyelesaikan jadwal padatnya dihari ini. ia merenggangkan tubuhnya begitu sampai didalam mobilnya. Ia mendengus kesal saat melihat ponselnya mati. Entah kenapa hari itu juga powerbank yang biasa ia bawa malah tertinggal dikamarnya. Benar-bener hari yang paling menyebalkan.
Ali menarik nafas dalam. aku kangen banget sama kamu Prilly... sehari aja kamu gak ada kabar kok buat aku gak karuan kayak gini ya? hhh... padahal dulu aku baik-baik aja sebelum kenal kamu... aku kangen banget sama kamu yaang...

***

Prilly memiringkan dirinya dipembaringan. Ia melirik jam weker yang tersimpan diatas nakas. Ia menghela nafas panjang. Kenapa Ali belum pulang juga? Udah jam setengah sebelas gini. Ia menghela nafas panjang  lagi, kemudian ia menarik selimut hingga mencapai lehernya. Dimanapun kamu sekarang, hati-hati Ay... Setelah beberapa kali menguap akhirnya ia terlelap.

***

Sepanjang perjalanan Ali terlelap tidur. Hingga tanpa ia sadari ia telah mencapai kediamannya. Ali mendesah lelah.
“Udah sampe?.”
“Sudah.”
Ali keluar dari mobilnya dengan mata yang sudah tidak bisa diajak berkompromi lagi. Ditangannya pun ia hanya membawa ponselnya saja. Ia merenggangkan lehernya yang terasa begitu kaku. Ia memasuki rumahnya tanpa bersuara karena lampu rumahnya sebagian telah padam pertanda orang-orang dirumah telah tidur. dengan perlahan ia menaiki satu persatu anak tangga untuk mencapai kamarnya.
“Tumben gelap? Hh...”
Dengan susah payah Ali membuka sepatu dan jam tangannya. Setelah itu ia merebahkan dirinya diatas pembaringan. Ia menarik selimutnya, kemudian terlelap.

***

Prilly terjaga karena merasakan sesuatu bergerak di area perutnya. Ditambah lagi ada yang berhembus di bagian belakang kepalanya. Ia sedikit bergerak, namun sesuatu diperutnya itu semakin mengencang. Prilly menundukan kepalanya, ternyata ada tangan asing diperutnya, yang semakin kencang memeluknya. Setelah melihatnya, dengan cepat ia berbalik.
“AAAAAAAAAAAAAAAAAAAA....................”

***

Bersambung.

Yuk kalo ada komentar biar cepet ditanggapin komentar di twitter aja, atau kalo mau nanya tentang cerita-cerita aku tinggal ask aja di ask.fm ya :)
Tapi komen disini juga gapapa kok. :)
Yuk yang mau temenan follow Twitter dan ask.fm aku : @SopiahNenden

Terimakasih sebelumnya. :)

1 comment: