Chapter 3
Ali berjalan kesana kemari tak
tenang, sesekali ia mendial nomor ponsel Prilly. Namun, mati tak ada jawaban
sekalipun. Ia menghela nafas lelah. Prilly
kamu kemana sih? Jangan buat aku khawatir gini dong...
“Prilly kamu kemana sih? Gak
biasanya ngilang kayak gini. Aktifin Prilly aktifin... jangan buat aku gila
kyak gini.”
Ali kembali melihat ponselnya
kemudian mendial nomor yang sama lagi. Sayangnya, masih mati. Tak ada jawaban
yang ia harapkan.
“Ali... saatnya wawancara.”
Ali menghembuskan nafasnya kesal
kemudian tersenyum, setelah itu berlalu dari ruangannya.
***
Prilly menarik nafas panjang,
akhirnya ia pulang. Ia tersenyum saat memandangi daratan dari ketinggian
pesawat yang ia tumpangi. Tadi, dengan susah payah ia menjelaskan prihal
kepulangannya pada Agni.
“Prilly!
Loe gak usah ngeles ya... gue tau loe ada sesuatu yang disembunyiin.”
“Ya
ampun... gak ada Agni. Apa coba yang gue sembunyiin?.”
Agni
mencengkeram kedua lengan Prilly.
“Jangan-jangan
loe ya yang nikah sama Aliando? Ah GOD! Jangan deh yaa... loe kan gak suka
banget sama dia.”
Prilly
menepis tangan Agni.
“Idih.
Kagak! Ngaco amat tuh mulut. Udah ah! Sono loe pulang. Gue banyak urusan aja
kenapa gue mau balik. Lagian bimbingannya bisa online ginikan?.”
“Oke
oke. Kalo gitu. Kapan loe balik kesini?.”
“Kapan-kapan.”
“Prillyyyyyy....
gua serius.”
“Tau
ah. Mungkin sebulan, dua bulan atau gak balik lagi gue. Daripada ketemu temen
serempong elo.”
“Ih
loe mah gitu amat ama gue...”
“Udah
ah... bye doll eyes... gue balik ya... loe jangan pacaran mulu kalo kuliah.
Keluar-keluar.”
Prilly terkekeh kecil. sepertinya
ia akan merindukan sahabatnya itu. ia menghela nafas kemudian beralih melihat
ke arah luar. Aku gak sabar pengen ketemu
kamu Ali... eh... ya ampun... gue
lupa kasih tau Ali kalo mau pulang... ah parah. Ihh gara-gara Agni nih...
ngerecokin mulu dia.
***
Ali tersenyum begitu santai. Ia menatap
ke arah presenter sebuah acara talk show. Hari ini, setelah gosip pernikahan
Aliando muncul kepermukaan, ia langsung di undang untuk mengisi acara tersebut.
“Jadi bagaimana dengan gosip yang
mengatakan bahwa anda ternyata diam-diam sudah menikah?.”
“Ya... namanya juga gosip. Bawa
santai aja. Toh nantinya kebenaran akan muncul juga.”
“Jadi apakah anda sudah benar-benar
menikah atau belum?.”
Ali terkekeh kecil.
“Maunya apa?.”
“Penonton, kata Ali maunya apa?.”
“ENGGAK...”
Ali tersenyum masam. Ia menghela
nafas panjang.
“Tapi, sumber ini dari orang
terpercaya lho. Apakah menurut anda sebuah pernikahan itu aib sehingga harus
ditutupi?.”
“Wah? Siapa? Pernikahan aib? Enggak
lah. Bukannya itu kabar baik? Kalo pun saya menikah memangnya kenapa? Toh itu
berarti pilihan saya.”
“Berarti anda membenarkan kalau
anda telah menikah?.”
Ali terkekeh renyah. Ia menatap ke
arah penonton sekilas. Maafin aku
Prilly...
“Enggak.”
“Oke... tapi bagaimana dengan
cincin yang akhir-akhir ini anda kenakan? Banyak fans anda yang menanyakan
prihal cincin itu. kita lihat gambarnya...”
Ali mengerutkan keningnya. Ia
menatap ke arah layar yang kemudian menampilkan fotonya yang sedang berpangku
tangan, secara kasat mata memang tidak begitu terlihat adanya cincin itu. namun
difoto lain sangat jelas, ia mengenakan cincin dijari manis tangan kanannya.
“Bagaimana tanggapan anda mengenai
pertanyaan para penggemar anda ini?.”
“Ya gimana ya... itu cincin, ya
cuma cincin aja. Itu pemberian dari Mama.”
“Benar seperti itu? tapi kenapa
harus dijari manis tangan kanan yang justru semakin memperkuat rumor pernikahan
kamu?.”
Ali terkekeh. Ia harus tetap tenang
dan tenang.
“Sekarang gini deh. Kalo ya... ini
kalo. Kalo saya udah nikah, istrinya mana? Apakah kalian semua pernah melihat
saya bersama seorang wanita selain Mama saya? Enggak kan? Saya juga dari dulu
udah menegaskan kalau saya gak punya pacar. Dan ya...”
“Tapi tidak punya pacara bukan
menjadi alasan untuk tidak menikah lho. Bisa saja dijodohkan?.”
“Kalo saya sudah menikah, saya
pasti bawa istri saya kesini, kemanapun. Jadi bisa disimpulkan bukan?.”
Tanpa disadari banyak mata, Ali
menghembuskan nafas lega. Ia melirik ke arah Riani yang duduk tak jauh darinya
dengan wajah yang cukup panik. Apalagi jika mengingat fans Ali yang begitu
fanatik. Ia tidak mau Ali mengakui pernikahannya karena takut menantunya akan
terkena imbas dari ini.
***
“Prilly? Kamu pulang?.”
Prilly tersenyum pada kedua
orangtuanya yang sedang berkumpul disore itu. Ia menyalami Mama dan Papa nya
bergantian.
“Illy rasa, Illy bisa selesain
skripsi Illy disini Ma.”
Reina tersenyum, ia meraih Prilly
dalam pelukannya.
“Ali tau?.”
Prilly menarik nafas lelah. Ia
duduk diantara Mama dan Papanya.
“Justru itu Ma, Pa. Illy lupa
ngasih tau. Hp Prilly juga mati nih. Belum beli kartu buat disini. Nanti deh
Illy kasih taunya. Sekarang Illy mau istirahat dulu ya... bye Ma, bye Pa...”
Prilly berjalan menaiki tangga
rumahnya menuju kamar miliknya. Sesekali ia mereganggakan lehernya yang terasa
begitu kaku. Ia menarik nafas panjang.
“Ma... pinjem hp Mama aja
sementara.”
Reina tersenyum sambil mengangguk
kecil. Prilly tersenyum kemudian mengambil ponsel itu.
***
Prilly mengetikan nomor ponsel Ali
yang ternyata sudah disimpan oleh Mamanya. Ia terkekeh kecil.
“My super boy? Mama... Mama...”
Prilly menggeleng-gelengkan
kepalanya sejenak. Kemudian mendial nomor tersebut. Prilly tersenyum sambil
menarik nafas, entah kenapa ia begitu gugup. Padahal biasanya biasa saja.
“Hallo
assalamualaikum Ma? Ada apa? Maaf ini hp Ali low... tut tut tut...”
Prilly mengerutkan keningnya, ia
menatap ponselnya. Ternyata sambungannya mati. Prilly menghela nafas kecewa.
Lalu mendial nomor itu kembali.
“Maaf
nomor yang anda tuju sedang tidak aktif...”
Prilly mendesah kecewa. Ia
menyimpan ponsel Reina di meja rias. Setelah itu ia merebahkan tubuhnya
dipembaringan. Hhh... mati ya? padahalkan
gue pengen dengerin suara dia. Gue takut dia marah gue pulang tapi gak kabarin
dia. Duuhhh... Prilly menarik nafas panjang lalu menghembuskannya. Prilly loe harus positif thinking. Ali gak
mungkin marah sama loe. Iya bener... Ali gak bakalan marah. Oke sebaiknya gue
istirahat aja dulu. Entar kerumah Ali. Ya... mendingan gitu.
Prilly tersenyum sambil menyamankan
tubuhnya, ia menghirup dalam-dalam bantalnya. Sepertinya ini wangi parfume Ali... Prilly tersenyum bahagia.
Setidaknya ini dapat mengobati rasa penasarannya terhadap rupa suaminya
tersebut. Pafrume nya aja menenangkan
gini... hh...
***
Ali mendekat kearah managernya
dengan panik. Baru saja, ibu mertuanya menelpon. Sepertinya ada yang penting.
Kalau tidak ada yang penting buat apa menelpon?
“Mama mana?.”
“Baru aja pulang. Katanya Papa loe
udah mau pulang.”
Ali mendengus kesal.
“Pinjem hp sebentar.”
Ali meraih ponsel dari managernya
tersebut saat sang manager memberikan benda itu padanya. Tanpa basa-basi ia
langsung mengetikan nomor ponsel Ibu mertuanya itu dan langsung mendialnya.
“Tuuuttt....
tuuttt...”
Tak ada jawaban, Ali menghela nafas
panjang lalu memberikan ponselnya itu kembali pada sang pemilik.
“Schedule nya masih padat? Gue
pulang jam berapa malem ini?.”
“Masih. Sekitar jam 10. Acara nanti
malam dimulai jam 7 tapi loe manggungnya di segmen 1 dan 4 jadi bisa langsung
pulang di jam 10 nya.”
Ali mendengus kesal. Tapi Mama ada apa ya? perasaan gue jadi gak
enak gini... hhh... mana Prilly gak ada kabar. Prilly kamu kemana sih? Buat aku
khawatir aja deh. Ali menghela nafas panjang, menenagkan pikirannya.
Bagaimanapun juga, ia seorang public figure yang harus bisa menjaga emosinya.
Apapun dan bagaimanapun keadaannya ia harus tetap profesional.
***
Prilly menarik nafas panjang,
sambil memandangi bangunan rumah megah dihadapannya. Ia menghembuskannya
pelan-pelan, menutupi kegugupannya. Tadi, ia memutuskan untuk pergi kekediaman
mertuanya sendirian karena Mama dan Papa nya tiba-tiba ada undangan penting
dari kantornya.
Prilly semakin gugup, untuk
kesekian kalinya Prilly menarik nafas panjang, lalu menekan bel yang berada
disamping pintu pagar. Tak lama berselang, seorang satpam rumah itu mendekat.
“Anda siapa? Ada perlu dengan
siapa?.”
“Saya Prilly... bilang aja sama
Mama dan Papa Prilly datang.”
Setelah satpam itu meninggalkannya
cukup lama akhirnya gerbangpun trebuka.
“Awas ya kamu biarin menantuku
didepan gerbang kayak gitu lagi! Mana udah malem! Saya pecat juga kamu ya...”
Seorang wanita yang masih terlihat
muda sedang memarahi satpam tadi. Prilly mendekat kearah mereka.
“Saya cuma jaga-jaga nyonya...
takutnya ada yang pura-pura jadi temen den Ali lagi.”
“Sudahlah, kembali ketempat kamu.”
Prilly menghela nafas panjang.
Kemudian tersenyum pada wanita dihadapannya ini. ia yakin ini Mama dari Ali.
Mengingat tadi dia menyebutkan bahwa yang datang itu menantunya.
“Ma...”
“Ya ampun Prilly sayaaang...
akhirnya kamu dateng juga. Akhirnya Mama bisa liat kamu. masuk yuk.”
Riani merangkul Prilly dan
menggiringnya memasuki rumah.
“Kamu cantik sekali. Pantas saja
Ali langsung setuju waktu liat foto kamu.”
“Terimakasih Ma... Ali juga pasti
gantengkan? Mama nya juga cantik.”
Riani tertawa kecil.
“Jadi kamu belum liat foto Ali?.”
Prilly tersenyum malu dan
menggeleng pelan.
“Belum Ma... Illy mau liat yang
aslinya aja.”
“Ada-ada aja kamu. oiya... tapi Ali
kok gak cerita ya kamu mau pulang? Bahkan dia mungkin pulang larut lagi malem
ini.”
“Aku lupa ngasih tau Ma... tadi pas
udah nyampe mau aku telpon eh handphone Ali mati.”
“Yaudah gapapa. Kamu udah makan
malem? Atau mau langsung istirahat aja? Wajah kamu keliatan masih capek gitu.”
Prilly tersenyum.
“Udah makan Ma tadi dirumah. mmm...
Papa mana Ma?.”
“Oiya Mama lupa. Papa ada di
ruangannya. Yuk kita kesana.”
Prilly mengangguk. Ia menghela
nafas panjang. Alhamdulillah... mertua
itu gak seburuk yang orang biacarakan. Aku beruntung punya mertua yang baik
kayak gini. Makasih ya Allah...
“Kamu tau sayang? Semenjak Ali
nikah sama kamu, dia banyak berubah lho... dia keliatan lebih ceria dan lebih
manja... dia juga sekarang rajin sarapan, biasanya berangkat sebelum beragkat
dia cuma minum aja.”
“Ih masa gitu Ma? Udah. Nanti Illy
bilangin sama Ali. Bair jaga pola makannya.”
“Iya harus sayang. Oiya katanya
kamu juga pinter masak ya? wahh... Mama beruntung banget punya menantu kayak
kamu, udah cantik, ramah, pinter masak lagi. Kok bisa ya Ali pilihnya yang
paket komplit kayak kamu? padahal kaliankan gak pernah ketemu.”
“Anak sih gimana Papanya yaa...
sama-sama pinter milih.”
Riani dan Prilly menengok ke arah
sumber suara. tak jauh dari mereka, Fandi duduk dengan beberapa file
ditangannya.
“Mana sih menantu Papa? Sini dong
kok malah bengong?.”
“Papa! Sama menantu sendiri aja
masih genit!.”
“Ih siapa yang genit. Mama aja tuh
yang cemburuan. Masa sama menantu sendiri cemburu sih?. Sini sayang?.”
“Enggak!.”
Prilly terkekeh melihat tingkah
kedua mertuanya itu. ia menuntun Riani mendekat ke arah Fandi. Kemudian ia
duduk di sebelah Riani yang bersebelahan dengan Fandi.
“Gini gapapakan Ma? Mama deket
Papa, Illy deket Mama... ciee... jangan cemberut dong Ma...”
“Iya nih. Mama masih aja cemburu.
Malu tuh sama menantu.”
“Biarin. Mama kan sayang banget
sama Papa.”
“Papa juga sayang kok.”
Fandi mengecup kening Riani sesaat.
Prilly menutup matanya.
“Ops. Illy gak liat. Yaudah kamar
Ali dimana Ma? Biar Illy istirahat aja. Daripada jadi kambing congek liatin
Mama sama Papa terus.”
Riani terkekeh kecil. ia mengelus
rambut Prilly dengan sayang.
“Tuh, yang disana.”
Prilly mengikuti arah telunjuk
Riani. Setelah melihat sebuah pintu di ujung. Ia mengangguk pelan.
“Disana ya Ma?.”
“Iya. Kalo ada apa-apa bilang sama
Mama aja ya. jangan sungkan lagi.”
“Iya Ma... ini juga gak sungkan
kan?.”
Riani dan Prilly terkekeh kecil.
“Yaudah Ma, Pa Illy istirahat dulu.
Kalian lanjutin aja berduaannya.”
Prilly mengedipkan matanya dengan
genit, menggoda ke arah Riani dan Fandi Setelah mendapatkan anggukan dari Riani
dan Fandi. Ia beranjak menuju kamar yang telah ditunjukan oleh Riani.
***
Ali mengehela nafas panjang lalu
melihat arlojinya.
“Jam sepuluh tepat.” Gumannya.
Baru saja Ali menyelesaikan jadwal
padatnya dihari ini. ia merenggangkan tubuhnya begitu sampai didalam mobilnya.
Ia mendengus kesal saat melihat ponselnya mati. Entah kenapa hari itu juga
powerbank yang biasa ia bawa malah tertinggal dikamarnya. Benar-bener hari yang
paling menyebalkan.
Ali menarik nafas dalam. aku kangen banget sama kamu Prilly... sehari
aja kamu gak ada kabar kok buat aku gak karuan kayak gini ya? hhh... padahal
dulu aku baik-baik aja sebelum kenal kamu... aku kangen banget sama kamu yaang...
***
Prilly memiringkan dirinya
dipembaringan. Ia melirik jam weker yang tersimpan diatas nakas. Ia menghela
nafas panjang. Kenapa Ali belum pulang
juga? Udah jam setengah sebelas gini. Ia menghela nafas panjang lagi, kemudian ia menarik selimut hingga
mencapai lehernya. Dimanapun kamu
sekarang, hati-hati Ay... Setelah beberapa kali menguap akhirnya ia terlelap.
***
Sepanjang perjalanan Ali terlelap
tidur. Hingga tanpa ia sadari ia telah mencapai kediamannya. Ali mendesah
lelah.
“Udah sampe?.”
“Sudah.”
Ali keluar dari mobilnya dengan
mata yang sudah tidak bisa diajak berkompromi lagi. Ditangannya pun ia hanya
membawa ponselnya saja. Ia merenggangkan lehernya yang terasa begitu kaku. Ia memasuki
rumahnya tanpa bersuara karena lampu rumahnya sebagian telah padam pertanda
orang-orang dirumah telah tidur. dengan perlahan ia menaiki satu persatu anak
tangga untuk mencapai kamarnya.
“Tumben gelap? Hh...”
Dengan susah payah Ali membuka
sepatu dan jam tangannya. Setelah itu ia merebahkan dirinya diatas pembaringan.
Ia menarik selimutnya, kemudian terlelap.
***
Prilly terjaga karena merasakan
sesuatu bergerak di area perutnya. Ditambah lagi ada yang berhembus di bagian
belakang kepalanya. Ia sedikit bergerak, namun sesuatu diperutnya itu semakin
mengencang. Prilly menundukan kepalanya, ternyata ada tangan asing diperutnya,
yang semakin kencang memeluknya. Setelah melihatnya, dengan cepat ia berbalik.
“AAAAAAAAAAAAAAAAAAAA....................”
***
Bersambung.
Yuk kalo ada komentar biar cepet
ditanggapin komentar di twitter aja, atau kalo mau nanya tentang cerita-cerita
aku tinggal ask aja di ask.fm ya :)
Tapi komen disini juga gapapa kok.
:)
Yuk yang mau temenan follow Twitter
dan ask.fm aku : @SopiahNenden
Terimakasih sebelumnya. :)
cepet dilanjutin yach dah kemall nich
ReplyDelete