Monday, 18 August 2014

Long Distance Marriage



Chapter 8

Ali menatap kesampingnya. Tak ada lagi Prilly disana, tak ada lagi istrinya yang sangat ia cintai itu. beberapa jam lalu tepatnya malam tadi, baru saja ia mengantarkannya untuk kembali ke Singapura. Semuanya memang berat, namun bagaimana lagi? Ia juga harus tour keliling kota, tidak memungkinkan untuk membawa Prilly, lagipula sesuai kesepakatan awal. Istrinya itu harus segera menyelesaikan pendidikannya. Ia akan dengan sabar menunggunya.
“Baru juga beberapa jam yang lalu kamu pergi. Aku udah kangen banget sama kamu yaang.”
Ali menghela nafas, hari sudah pagi. Matahari sudah mulai terlihat malu-malu diperaduan.
“Biasanya pagi-pagi gini kamu lagi heboh didapur.”

“Ay... cepetan makan... ini udah mau siang. Katanya mau pergi.”
“Iya yaang...”
“Jangan lupa ini bekalnya, itu baju ganti kamu, dan jangan lupa jaket.”
“Iya yaang...”
“Dijalannya jangan ngebut-ngebut, kalo capek istirahat, pokoknya jangan sampe kamu kecapean.”
“Iya yaang...”
Prilly mendengus kesal, ia berbalik ke arah Ali yang sedang menyantap sarapannya.
“Iya iya aja kamu... didengerin gak?.”
“Iya yaang...”
“Aliiiiiiiiiii.........”
“Iya yaang aku dengerin.”
“Apa coba?.”
“Hm... apa ya? coba ulang dong...”
“Aliiiiiiiiiiiiiiiiiiii................. jadi dari tadi gak didengerin?.”


Ali terkekeh membayangkannya. Namun, ia kembali menghela nafas panjang. Kemudian ia beralih kearah pintu yang terbuka.
“Ali bangun. cepetan sholat.”
“Iya Ma... Ali udah bangun kok dari tadi.”
Riani mendekati Ali. Ia mengacak-acak rambut puteranya begitu gemas.
“Kenapa kamu? kangen sama Prilly ya?.”
Ali menarik ujung bibirnya, tersenyum kecil.
“Kamu yang sabar aja.”
“Iya Ma... Ali juga udah mutusin buat nyusul Prilly kesana.”
“Kapan?.”
“Selesai tour.”
Riani mengerutkan keningnya.
“Lama banget. Tour kamu kan 2 bulan. Ih... emang tahan gitu lama-lama?.”
“Ya... jadwalnya mau Ali cepetin. Orang Ali di tiap kota seminggu, jadi kelamaan. Ali mau buat itu jadwal tour Ali jadi 2 minggu aja pokoknya. Bodo amat tiap hari Ali kudu pindah-pindah kota. Yang penting Ali bisa cepet-cepet nyelesain tour Ali.”
“Kamu harus jaga kesehatan juga. Inget kata Prilly.”
Ali mengangguk kemudian tersenyum pada Riani. Ia menghela nafas panjang.
“Yaudah Ali mau mandi dulu deh. Pagi ini Ali harus ke Bandung.”
Riani tersenyum.
“Yaudah sana mandi. Jangan lupa sarapan ya.”
Ali mengangguk. Setelah melihat anggukan Ali, Riani beranjak keluar dari kamar puteranya itu. Ali kembali menghela nafas panjang. Ia meraih ponselnya. Apa Prilly belum bangun ya? mungkin kecapean dia. Ia mengetikan sesuatu diponselnya. Setelah itu ia berlalu menuju kamar mandinya untuk membersihkan dirinya.

***

Prilly membuka matanya perlahan, perjalanannya benar-benar melelahkan. Ia terlelap tidur dengan nyenyak  hingga terbangunkan oleh suara ponselnya. Ia tersenyum begitu melihat bahwa pesannya itu dari suaminya tercinta.

Yaang... kamu belum bangun?
Aku kangen banget sama kamu... :(

Iya, aku baru bangun.
Capek banget soalnya..
Aku juga :(

Prilly mendudukan dirinya, sambil sesekali merapihkan rambutnya yang sudah tak beraturan itu. kenapa ya setelah ketemu Ali semuanya terasa beda? Padahal dulu aku baik-baik aja bangun tidur cuma sendiri. Tapi kenapa sekarang aku kayak kehilangan dia?
Prilly menghela nafas panjang kemudian turun dari pembaringan.

***

Ali sudah berada dalam mobil yang siap membawanya ke kota pertama tujuan tournya. Sudah satu jam dari pesan terakhir dari Prilly namun sampai sekarang belum ada pesan darinya lagi. Apakah dia baik-baik saja?.
Ali mendengus kesal. Apa dia tidak tau ia sedang malarindu? Sangat merindukannya? Tapi kenapa sudah satujam pesannya tidak juga dibalas? Apakah tidur lagi? Atau gimana? Apa dia gak peduli lagi?. Ali menggelengkan kepalanya. Ia putuskan untuk mendial nomor Prilly.

“Hallo... assalamualaikum.”
“Kamu darimana sih? Aku sms dari tadi gak dijawab.”
“Jawab dulu kek salamnya.”
“Waalaikumsalam. Kamu darimana? Kenapa sms aku gak dibales?.”
“Baru selesai mandi. Cepetkan aku mandi?.”
“Cepet apanya? Satu jam cepet?.”
“Ya... biasanyakan lebih lama dari itu.”
Ali menghela nafas panjang.
“Aku kangen banget sama kamu yaang.”
“Baru beberapa jam juga gak ketemunya. Masa udah kangen?.”
“Yaang... aku serius... aku kangen kamu. jadi kamu gak kangen aku gitu?.”
“Enggak.”
“Ih kok gitu sih yaang? Apa jangan-jangan kamu punya simpenan disana?.”
“Aku gak kangen, karena aku rindu kamu sayang...”
Ali tersenyum tipis.
“Beneran yaang? Jangan-jangan becanda.”
“Aku rindu banget sama kamu. pas bangun gak ada yang aku omelin.”
“Kok gitu sih yaang? Ih.”
“Terus maunya apa?.”
“Tau ah... kamu gitu.”
“Aku rindu semuanya tentang kamu... aku rindu becandaan kamu, aku rindu senyum kamu, aku rindu dijahilin kamu. aku rindu semuanya... aku rindu kamu... sangat.”
Ali tersenyum tipis.
“Aku lebih rindu yaang... pas bangun gak ada kamu, gak ada yang nyiapin semuanya buat aku, gak ada yang anterin aku sampe gerbang, gak ada yang manjain aku lagi.”
Prilly terdengar terkekeh kecil, membuat Ali juga tersenyum.
“Ay...”
“Hm.”
“I love you...”
Ali tersenyum. Ia menarik nafas panjang, menetralkan kebahagiaan dalam hatinya yang begitu membuncah.
“I love you too yaang...”
“Ay... aku panggil kamu Honey yaa...”
“Apa sih yang enggak buat kamu? terserah kamu aja mau manggil apapun juga.”

***

Prilly tidur terlentang, sesekali ia tersenyum dan terkekeh saat mandengarkan Ali diujung telpon.
“Oke. Mulai sekarang aku panggil kamu Honey!.”
“Iya sayaang... oiya, kamu udah sarapan?.”
“Belum nih. Akukan udah bilang aku baru selesai mandi.”
“Yaudah masak gih, makan dulu. Aku juga ngantuk banget nih mau tidur sebentar.”
“Iya. Kamu jangan macem-macem ya...”
“Enggak yaang... aku gak bakalan macem-macem kok. Dihati sama pikiran aku cuma ada nama kamu Prilly sayaang.”
Prilly terkekeh.
“Makasih Honey. Oiya Honey, entar jangan nelpon ya soalnya bakalan ada temen aku. Nanti aku sms kalo gak ada dia. Kamu fokus aja manggungnya.”
“Kok gitu sih?.” Tanya Ali kesal “Jangan-jangan cowok?.”
“Ya ampun Honey bukan. Dia cewek kok. Masalahnya itu dia ngefans banget sama Aliando. Dia itu suka rebut-rebut hape kalo aku lagi otak-atik hp.”
“Terus?.”
“Honey!!! Dihape aku itu banyak foto kamu! yang ada nanti aku diledekin dia lagi, atau mungkin lebih parahnya entar dia curiga lagi sama aku. fotonyakan kebanyakan pas kita dirumah.”

***

Ali menarik ujung bibirnya. Istrinya itu begitu lucu, apalagi saat suaranya terdengar sedang gemas padanya itu. benar-benar membuatnya dilanda malarindu stadium akhir.
“Haha.... iya sayaang... asal kamu gak bohong aja.”
“Mana berani aku bohong sama kamu.”
“Yaudah kamu masak sana. Jangan sampe telat makan, jangan terlalu kecapean juga kalo kamu mau lanjutin skripsinya.”
“Iya Honey... kamu juga jangan terlalu capek ya... jangan lupa sarapan, makan siang dan makan malemnya juga. Bye Honey...”
“Bye sayaang. I love you.”
“I love you too.”
Ali menghela nafas panjang begitu Prilly mengakhiri panggilannya. Banyak sekali yang baru saja ia alami semenjak menjalin hubungan dengan Prilly. Banyak hal baru yang ia rasakan, yang entah kenapa mampu membuat dirinya menjadi tak karuan, menjadi begitu membuncah. Rindu yang membuncah, sayang yang melimpah. Benar-benar luar biasa.

***

Dihadapan Prilly kini berserakan buku, kacamatanya bertengger begitu cantik diatas hidungnya. Sesekali ia membaca bukunya dan sesekali ia mengetikan di laptopnya.
“Prilly Latuconsina...”
“Nyelonong masuk aja loe.” Ucap Prilly pada sahabatnya, Agni.
Agni duduk dihadapan Prilly sambil meriah toples berisi cemilan milik Prilly.
“Prilly... abis ngapain aja loe selain ngintilin Aliando di Indonesia hm?.”
Prilly mendelik sekilas kearah Agni.
“Dih. Siapa yang ngintilin dia? Gak level!!!.”
“Ya Tuhankuuu... loe gak usah bohong deh.”
Prilly melirik takut ke arah Agni yang sibuk dengan cemilannya, ia tak boleh membuat sahabatnya itu curiga. Enggak.
“Ya gue cuma beberapa kali aja dateng keacara dia. Abisnya gue penasaran sama cowok yang loe puja itu.”
“Alibi loe. Bilang aja loe juga suka.”
“Kagak!!!.” Jawab Prilly cepat.
“Iya deh gue percaya. Oiya skripsi loe udah selesai?.”
“Belum nih. Gue sih pengennya sebulan ini selesai deh. Gue mau cepet-cepet balik lagi ke Indonesia. Gue udah gak betah disini.”
“Sama, gue juga. Tapi kayaknya gue sidang tahun depan deh Prill, gue ada job nih.”
Prilly mengerutkan keningnya.
“Apa? Tumben loe mau kerja.”
“Ya... lumayan aja. Jadi model Video clip Al Ghazali, ya katanya sih kemungkinan juga gue pemotretan gitulah sama dia. Gue juga ditawarin maen beberapa sinetron gitu. Gue juga agak pusing sama masalah gue.”
“HAH?! SERIUS loe?!. Kok bisa sih? Dia milihnya sambil merem kali ya? masalah apa loe? Tumben loe punya masalah.”
Agni melemparkan bolpoin kearah Prilly.
“Sialan loe! Enggak lah! Loe tau sendirikan? Seorang Agni? Ya dia tau dong kualitas orang Indonesia asli kayak gimana? Baru aja gue putus dan loe gak usah tanya-tanya lagi.”
Prilly mencibirnya.
“Oke. Lagipula gak penting tuh. Kapan loe shootingnya? Gue ikut ke kapan-kapan.”
“Ogah!.”
“Dih. Jahat loe!!! Oke kalo gitu. Gue gak akan pernah mau nganterin loe kemana-mana kalo di Indonesia. Gue gak bakalan ngenterin loe ketemu ALIANDO puas?!.”
“Idih... kok ngancem sih?.”
“Yaiyalah. Gue? Gini-gini punya akses official buat ketemu Aliando. Emangnya elo? Katanya fans tapi kagak punya hak begituan. Wle...”
“Ih... tuhkan tuhkan? Loe mah gitu aahh... loe bilang ngefans sama dia aja susah banget sih? Kok bisa sih loe kayak gitu?.”
Yaiyalah. Gue ceweknya! Gue istrinya... ucap Prilly dalam hati. Ia tersenyum geli pada Agni.
“Apa sih yang enggak bisa Bokap gue lakuin buat ketemu artis di Indonesia?.”
“Ihhh... Oke oke. Gue ajak loe. Asal loe ketemuin gue sama Aliando. Oke? Deal?.”
Prilly nampak menimang-nimang.
“Gimana ya? hmmm...”
“Prilly....”
Prilly tertawa kecil.
“Oke Agni... tenang aja keles loekan sahabat gue. Oiya, tapi loe jangan ilfeel ya begitu ketemu sama dia.”
Agni mendekatkan diri pada Prilly.
“Emang kenapa?.”
“Dia... jelek.”
“Prillyyyyyyyyyyy....... emang kapan sih loe bilang Aliando cakep?.”
Prilly tertawa puas begitu melihat wajah kesal sahabatnya itu. sorry Ni, gue masih bingung... gimana caranya jujur sama loe. Prilly menarik nafas panjang kemudian menghembuskannya perlahan. Semoga semuanya akan baik-baik aja.

***

“Gimana bisa banyak wartawan kayak gini sih? Emangnya gue ngelakuin apa coba?.”
Ali mendengus kesal begitu melihat wartawan yang bersiap meliput dan mewawancarainya. Ia menengok kearah managernya.
“Gue capek banget. Gue mau istirahat dulu.”
“Tapi Li. Mereka pasti bakalan nunggu. Loe gak diwawancara sekarang nanti dan besok mereka masih akan tetap datengin loe.”
Ali menghela nafas panjang.
“Oke. Kita keluar sekarang.”
Ali membuka pintu mobilnya dan langsung disambut blitz-blitz dari kamera para wartawan.
“Aliando bagaimana tanggapan anda dengan berita bahwa ternyata anda tinggal bersama seorang wanita diapartemen anda?.”
“Siapakah wanita yang beberapa hari lalu selalu bersama anda?.”
“Siapakah wanita itu? apakah dia wanita yang begitu spesial?.”
Ali mengerutkan keningnya.
“Lho... saya saja baru tau ini dari kalian. Memangnya siapa yang memberitakan hal tersebut?.”
“Foto gadis yang selalu bersama anda itu tersebar didunia maya. Dia terpergok keluar dari mobil pribari anda dan keluar dari apartemen yang anda huni. Siapakah dia?.”
“Mungkin Mama saya. Sudah ya... saya lelah sekali hari ini. saya harus istirahat kerena malam nanti saya ada konser. Terimakasih semuanya...” ucap Ali sambil tersenyum, ia membelah lautan para wartawan untuk memasuki tempat peristirahatannya.
Gue harus lebih hati-hati. Untung sekarang Prilly udah kembali. Ali menghela nafas lega. Ia tak bisa membayangkan jika ada yang menyakiti Prilly. Gak! gak akan pernah dia biarkan ada yang menyakiti belahan jiwanya itu.

***

Malam harinya Prilly hanya bisa berguling kekanan dan kekiri di atas tempat tidurnya. Ia meraih ponselnya yang tak kunjung ada berita dari suaminya itu. ia jadi ingat perkataan Agni.

“Prilly... berita di Indonesia tentang Aliando makin kacau aja sih? Masa dia dibilang tinggal satu atap sama cewek. Kan gak mungkin.”
Prilly mengerutkan keningnya saat mendengar hal tersebut. Agni terlihat merengut kesal.
“Kata siapa loe? Gak usah langsung judge gitulah. Belum tentu bener juga.”
“Iya sih. Eh... kok loe tumben berpikir positive tentang Aliando? Biasanyakan loe ledekin gue?.”
“Ya sekali-sekali aja. Kenapa? Gak boleh?.” Prilly melirik ke arah Agni yang masih merengut.
“Tapi Prill... masa iya sih Aliando kayak gitu? Aaaaaaa....... gue pasti keccewa banget sama dia.”
“Alay loe.”
“Gue gak alay Prilly. Coba loe bayangin kalo idola loe ketahuan nyimpen cewek diapartemennya? Padahal dia selalu tegas dia gak punya cewek, dia mau fokus karier.”
“Oh.”
“Gue juga fotonya, walaupun gak jelas. tapi gue bakalan dapetin foto asli tuh cewek!!!.”
“HAH?! Buat apa?.”
Agni mengerutkan keningnya, kemudian mendengus. “Kalo gue udah dapet tuh foto, gue bakalan sebarin pokoknya! pasti tuh cewek bakal jadi bahan bully deh entar.”

Prilly menggeleng-gelengkan kepalanya dengan cepat. Gak! Enggaaaaaaaaakkkk... Dulu gue yang bully Aliando, masa sekarang gue yang dibully? Gak! gak. gue gak mau.
Ponsel Prilly berdering. Ia langsung menerima panggilan itu dengan panik.”
“Honey....”
“Hey... kenapa sayang? Kok panik gitu?.”
“Ada gosip apa disana? Aku ngeri banget dengerin cerita Agni.”
“Ngeri gimana sayang? Udah ah gak usah dipikirin.”
“Gosip apa honey? Pas aku baca artikel ada yang bilang kamu tinggal sama cewek. Itu gosipnya sekarang? Atau apa? Terus siapa cewek itu? kamu bawa cewek mana lagi selama aku tinggalin?.”
Ali terkekeh.
“Yaang... kita berpisah belum 24 jam lho... gak mungkinlah aku bawa cewek lain. ya cewek itu kamu yaang... aku juga gak tau mereka tau darimana, tapi ada yang kirim ke aku beberapa foto kamu, untung fotonya gak jelas.”
Prilly menghela nafas panjang. Syukur deh kalo gitu...
“Syukur ya kalo gitu. Tapi benerkan kamu gak macem-macem?.”
“Enggak sayangku...”
“Honey...”
“Hm...”
“Aku takut.”
“Takut apa yaang?.”
“Takut dibully.”
Ali menghela nafas sambil tertawa kecil.
“Jangan takut. Ada aku. lagipula aku yakin kalo mereka sayang sama aku pasti gak bakalan bully orang yang aku sayang. Aku juga sekarang dibully masih baik-baik ajakan?.”
“Apa? Kamu dibully? Ih awas aja ya yang ngebully kamu.”
“Kamu jugakan suka...”
“Ih Ali... pokoknya gak boleh ada yang bully kamu. yang boleh bully kamu itu cuma aku. gak boleh orang lain. awas aja pokoknya!!!.” Ucap Prilly sambil bangkit kemudian ia meraih laptopnya.
“Yaang...”
“Apa Honey?.”
“Kamu lagi apa?.”
Prilly mendengus kesal saat melihat TL nya memang sangatlah heboh terutama oleh mention-mentionan Agni dan teman-temannya yang sesama penggemar Aliando. Agni juga terlihat sedang marah-marah di akunnya, memarahi yang membully  Aliando.
“Aku lagi update status.”
“Update apa?.”
“Liat aja.”

***

Ali mengerutkan keningnya. Kenapa Prilly terdengar kesal seperti itu? ia menghela nafas panjang lalu meraih laptopnya.
“Kamu jangan marah-marah ya sayang?.”
Prilly terdengar mendengus kesal.
“Aku bete aja honey. Aku gak suka ada yang hina kamu. mereka juga secara tidak langsung hina akulah.”
Ali menghela nafas panjang.
“Jangan terpancing yaang... mereka kan gak tau kalo yang mereka bully itu kamu. jangan buat orang curiga.”

Prilly Latuconsina @LtcPril
idih katanya fans, tapi denger gosip murahan aja langsung ngejudge.

Ali tersenyum kecil, ia mengklik username Prilly, melihat beberapa mention Prilly disana. Ia membentangkan balasan-balasan paling atass milik Prilly.

Prilly Latuconsina  @LtcPrill
ya gue lah gila lu RT @AgniTA: Tumben omongan loe bener, ini loe kan? @LtcPril

Agnita Tamada Ariani @AgniTA
@LtcPril syukurlah kalo loe udah mau tobat gak bully Aliando lagi.

Prilly Latuconsina  @LtcPrill
@AgniTA kata siapa gue gak mau bully lagi? Gue cuma gak suka aja liat orang lain bully.

Agnita Tamada Ariani @AgniTA
@LtcPril Terus maksud loe cuma loe yang boleh bully Aliando?

Prilly Latuconsina  @LtcPrill
@AgniTA Yeah!!! Pinter loe.

Agnita Tamada Ariani @AgniTA
@LtcPril Iya deh HATERS yang OFFICIAL FANS Aliando

Prilly Latuconsina  @LtcPrill
@AgniTA sialan loe!!! Awas aja ya kalo gara-gara loe gue jadi banyak mention!!!

Agnita Tamada Ariani @AgniTA
@LtcPril bodo. Bye... nikmatin serangannya. Gue OFF. :P

Prilly Latuconsina  @LtcPrill
@AgniTA HEH Agni!!! Nyebelin loe ya...

Ali terkekeh kecil melihat mentionan Prilly. Ia dapat membayangkan wajah menggemaskan istrinya yang sedag kesal itu.
“Yaang... udah sih, ngapain kamu twitteran terus? Aku mention nih.”
“Ih honey jangaan... ini aku udah banyak yang mention. Aku ditanyain, kok bisa dapet official fans kamu. nyebelin ih.”
“Udah yaang jangan ditanggepin kenapa? Bawa santai aja.”

***

Prilly menghela nafas panjang.
“Tapi honey. Mereka nyolot banget ih... kenapa mereka gak daftar aja. Malah nyolot gak jelas.”
“Udah honey...”
Prilly menghela nafas panjang kemudian membiarkan laptopnya, ia menyandarkan diri kekepala tempat tidur.
“Iya Honey.”
“Honey... kamu lagi apa?.”
“Lagi update status.”
“Jangan tag aku.”
“Enggak kok yaang.”
“Kamu update apa?.”
“Ada...”
Prilly mengrutkan keningnya.
“Ada apa?.”
“Liat aja yaang.”
Prilly dengan cepat mendudukan dirinya, kemudian tengkurap dihadapan laptopnya.
“Awas aja ya kamu kalo macem-macem.”
“Enggak yaang...”

Aliando Syarief @Aliando
Jgn permasalahin itu lagi. Jgn berkata seperti itu. Aku menyayanginya dan aku juga sakit hati bila dia sakit.

“Honeeeyyyyyy... secara tidak langsung kamu ngaku kalo kamu emang tinggal sama dia, kamu tinggal sama cewek.”
Ali terkekeh kecil.
“Gapapa yaang. Kata kamukan biarin mereka semua berspekulasi tentang kita.”
Prilly menghela nafas. kenapa ya ia menyesal pernah mengatakan itu? Ini sama saja dengan perlahan-lahan menghancurkan karier Ali. Apa yang harus ia lakukan?

***

Bersambung.

Jangan lewatkan artikel ini :)
Yuk kalo ada komentar biar cepet ditanggapin komentar di twitter aja, atau kalo mau nanya tentang cerita-cerita aku tinggal ask aja di ask.fm ya :)
Tapi komen disini juga gapapa kok. :)
Yuk yang mau temenan follow Twitter dan ask.fm aku : @SopiahNenden
Makasih buat semuanya yang udah ask aku di ask.fm, asal kalian tau itu semua bikin aku semakin semangat. :) terimakasih yang sebesar-besarnya atas respon positif kalian. :)

Terimakasih sebelumnya. :)

2 comments: