Chapter 8
Ali menatap kesampingnya. Tak ada
lagi Prilly disana, tak ada lagi istrinya yang sangat ia cintai itu. beberapa
jam lalu tepatnya malam tadi, baru saja ia mengantarkannya untuk kembali ke
Singapura. Semuanya memang berat, namun bagaimana lagi? Ia juga harus tour
keliling kota, tidak memungkinkan untuk membawa Prilly, lagipula sesuai
kesepakatan awal. Istrinya itu harus segera menyelesaikan pendidikannya. Ia
akan dengan sabar menunggunya.
“Baru juga beberapa jam yang lalu
kamu pergi. Aku udah kangen banget sama kamu yaang.”
Ali menghela nafas, hari sudah
pagi. Matahari sudah mulai terlihat malu-malu diperaduan.
“Biasanya pagi-pagi gini kamu lagi
heboh didapur.”
“Ay...
cepetan makan... ini udah mau siang. Katanya mau pergi.”
“Iya
yaang...”
“Jangan
lupa ini bekalnya, itu baju ganti kamu, dan jangan lupa jaket.”
“Iya
yaang...”
“Dijalannya
jangan ngebut-ngebut, kalo capek istirahat, pokoknya jangan sampe kamu
kecapean.”
“Iya
yaang...”
Prilly
mendengus kesal, ia berbalik ke arah Ali yang sedang menyantap sarapannya.
“Iya
iya aja kamu... didengerin gak?.”
“Iya
yaang...”
“Aliiiiiiiiiii.........”
“Iya
yaang aku dengerin.”
“Apa
coba?.”
“Hm...
apa ya? coba ulang dong...”
“Aliiiiiiiiiiiiiiiiiiii.................
jadi dari tadi gak didengerin?.”
Ali terkekeh membayangkannya.
Namun, ia kembali menghela nafas panjang. Kemudian ia beralih kearah pintu yang
terbuka.
“Ali bangun. cepetan sholat.”
“Iya Ma... Ali udah bangun kok dari
tadi.”
Riani mendekati Ali. Ia mengacak-acak
rambut puteranya begitu gemas.
“Kenapa kamu? kangen sama Prilly
ya?.”
Ali menarik ujung bibirnya,
tersenyum kecil.
“Kamu yang sabar aja.”
“Iya Ma... Ali juga udah mutusin
buat nyusul Prilly kesana.”
“Kapan?.”
“Selesai tour.”
Riani mengerutkan keningnya.
“Lama banget. Tour kamu kan 2
bulan. Ih... emang tahan gitu lama-lama?.”
“Ya... jadwalnya mau Ali cepetin.
Orang Ali di tiap kota seminggu, jadi kelamaan. Ali mau buat itu jadwal tour
Ali jadi 2 minggu aja pokoknya. Bodo amat tiap hari Ali kudu pindah-pindah
kota. Yang penting Ali bisa cepet-cepet nyelesain tour Ali.”
“Kamu harus jaga kesehatan juga.
Inget kata Prilly.”
Ali mengangguk kemudian tersenyum
pada Riani. Ia menghela nafas panjang.
“Yaudah Ali mau mandi dulu deh.
Pagi ini Ali harus ke Bandung.”
Riani tersenyum.
“Yaudah sana mandi. Jangan lupa
sarapan ya.”
Ali mengangguk. Setelah melihat
anggukan Ali, Riani beranjak keluar dari kamar puteranya itu. Ali kembali
menghela nafas panjang. Ia meraih ponselnya. Apa Prilly belum bangun ya? mungkin kecapean dia. Ia mengetikan
sesuatu diponselnya. Setelah itu ia berlalu menuju kamar mandinya untuk
membersihkan dirinya.
***
Prilly membuka matanya perlahan,
perjalanannya benar-benar melelahkan. Ia terlelap tidur dengan nyenyak hingga terbangunkan oleh suara ponselnya. Ia
tersenyum begitu melihat bahwa pesannya itu dari suaminya tercinta.
Yaang... kamu
belum bangun?
Aku kangen
banget sama kamu... :(
Iya, aku baru bangun.
Capek banget soalnya..
Aku juga :(
Prilly mendudukan dirinya, sambil
sesekali merapihkan rambutnya yang sudah tak beraturan itu. kenapa ya setelah ketemu Ali semuanya terasa
beda? Padahal dulu aku baik-baik aja bangun tidur cuma sendiri. Tapi kenapa
sekarang aku kayak kehilangan dia?
Prilly menghela nafas panjang
kemudian turun dari pembaringan.
***
Ali sudah berada dalam mobil yang
siap membawanya ke kota pertama tujuan tournya. Sudah satu jam dari pesan
terakhir dari Prilly namun sampai sekarang belum ada pesan darinya lagi. Apakah
dia baik-baik saja?.
Ali mendengus kesal. Apa dia tidak
tau ia sedang malarindu? Sangat merindukannya? Tapi kenapa sudah satujam
pesannya tidak juga dibalas? Apakah tidur lagi? Atau gimana? Apa dia gak peduli
lagi?. Ali menggelengkan kepalanya. Ia putuskan untuk mendial nomor Prilly.
“Hallo...
assalamualaikum.”
“Kamu darimana sih? Aku sms dari
tadi gak dijawab.”
“Jawab
dulu kek salamnya.”
“Waalaikumsalam. Kamu darimana?
Kenapa sms aku gak dibales?.”
“Baru
selesai mandi. Cepetkan aku mandi?.”
“Cepet apanya? Satu jam cepet?.”
“Ya...
biasanyakan lebih lama dari itu.”
Ali menghela nafas panjang.
“Aku kangen banget sama kamu
yaang.”
“Baru
beberapa jam juga gak ketemunya. Masa udah kangen?.”
“Yaang... aku serius... aku kangen
kamu. jadi kamu gak kangen aku gitu?.”
“Enggak.”
“Ih kok gitu sih yaang? Apa
jangan-jangan kamu punya simpenan disana?.”
“Aku
gak kangen, karena aku rindu kamu sayang...”
Ali tersenyum tipis.
“Beneran yaang? Jangan-jangan
becanda.”
“Aku
rindu banget sama kamu. pas bangun gak ada yang aku omelin.”
“Kok gitu sih yaang? Ih.”
“Terus
maunya apa?.”
“Tau ah... kamu gitu.”
“Aku
rindu semuanya tentang kamu... aku rindu becandaan kamu, aku rindu senyum kamu,
aku rindu dijahilin kamu. aku rindu semuanya... aku rindu kamu... sangat.”
Ali tersenyum tipis.
“Aku lebih rindu yaang... pas
bangun gak ada kamu, gak ada yang nyiapin semuanya buat aku, gak ada yang
anterin aku sampe gerbang, gak ada yang manjain aku lagi.”
Prilly terdengar terkekeh kecil,
membuat Ali juga tersenyum.
“Ay...”
“Hm.”
“I
love you...”
Ali tersenyum. Ia menarik nafas
panjang, menetralkan kebahagiaan dalam hatinya yang begitu membuncah.
“I love you too yaang...”
“Ay...
aku panggil kamu Honey yaa...”
“Apa sih yang enggak buat kamu?
terserah kamu aja mau manggil apapun juga.”
***
Prilly tidur terlentang, sesekali
ia tersenyum dan terkekeh saat mandengarkan Ali diujung telpon.
“Oke. Mulai sekarang aku panggil
kamu Honey!.”
“Iya
sayaang... oiya, kamu udah sarapan?.”
“Belum nih. Akukan udah bilang aku
baru selesai mandi.”
“Yaudah
masak gih, makan dulu. Aku juga ngantuk banget nih mau tidur sebentar.”
“Iya. Kamu jangan macem-macem
ya...”
“Enggak
yaang... aku gak bakalan macem-macem kok. Dihati sama pikiran aku cuma ada nama
kamu Prilly sayaang.”
Prilly terkekeh.
“Makasih Honey. Oiya Honey, entar
jangan nelpon ya soalnya bakalan ada temen aku. Nanti aku sms kalo gak ada dia.
Kamu fokus aja manggungnya.”
“Kok
gitu sih?.” Tanya Ali kesal “Jangan-jangan cowok?.”
“Ya ampun Honey bukan. Dia cewek
kok. Masalahnya itu dia ngefans banget sama Aliando. Dia itu suka rebut-rebut
hape kalo aku lagi otak-atik hp.”
“Terus?.”
“Honey!!! Dihape aku itu banyak
foto kamu! yang ada nanti aku diledekin dia lagi, atau mungkin lebih parahnya
entar dia curiga lagi sama aku. fotonyakan kebanyakan pas kita dirumah.”
***
Ali menarik ujung bibirnya.
Istrinya itu begitu lucu, apalagi saat suaranya terdengar sedang gemas padanya
itu. benar-benar membuatnya dilanda malarindu stadium akhir.
“Haha.... iya sayaang... asal kamu
gak bohong aja.”
“Mana
berani aku bohong sama kamu.”
“Yaudah kamu masak sana. Jangan
sampe telat makan, jangan terlalu kecapean juga kalo kamu mau lanjutin
skripsinya.”
“Iya
Honey... kamu juga jangan terlalu capek ya... jangan lupa sarapan, makan siang
dan makan malemnya juga. Bye Honey...”
“Bye sayaang. I love you.”
“I
love you too.”
Ali menghela nafas panjang begitu
Prilly mengakhiri panggilannya. Banyak sekali yang baru saja ia alami semenjak
menjalin hubungan dengan Prilly. Banyak hal baru yang ia rasakan, yang entah kenapa
mampu membuat dirinya menjadi tak karuan, menjadi begitu membuncah. Rindu yang
membuncah, sayang yang melimpah. Benar-benar luar biasa.
***
Dihadapan Prilly kini berserakan
buku, kacamatanya bertengger begitu cantik diatas hidungnya. Sesekali ia membaca
bukunya dan sesekali ia mengetikan di laptopnya.
“Prilly Latuconsina...”
“Nyelonong masuk aja loe.” Ucap
Prilly pada sahabatnya, Agni.
Agni duduk dihadapan Prilly sambil
meriah toples berisi cemilan milik Prilly.
“Prilly... abis ngapain aja loe
selain ngintilin Aliando di Indonesia hm?.”
Prilly mendelik sekilas kearah
Agni.
“Dih. Siapa yang ngintilin dia? Gak
level!!!.”
“Ya Tuhankuuu... loe gak usah
bohong deh.”
Prilly melirik takut ke arah Agni
yang sibuk dengan cemilannya, ia tak boleh membuat sahabatnya itu curiga.
Enggak.
“Ya gue cuma beberapa kali aja
dateng keacara dia. Abisnya gue penasaran sama cowok yang loe puja itu.”
“Alibi loe. Bilang aja loe juga suka.”
“Kagak!!!.” Jawab Prilly cepat.
“Iya deh gue percaya. Oiya skripsi
loe udah selesai?.”
“Belum nih. Gue sih pengennya
sebulan ini selesai deh. Gue mau cepet-cepet balik lagi ke Indonesia. Gue udah
gak betah disini.”
“Sama, gue juga. Tapi kayaknya gue
sidang tahun depan deh Prill, gue ada job nih.”
Prilly mengerutkan keningnya.
“Apa? Tumben loe mau kerja.”
“Ya... lumayan aja. Jadi model
Video clip Al Ghazali, ya katanya sih kemungkinan juga gue pemotretan gitulah
sama dia. Gue juga ditawarin maen beberapa sinetron gitu. Gue juga agak pusing
sama masalah gue.”
“HAH?! SERIUS loe?!. Kok bisa sih?
Dia milihnya sambil merem kali ya? masalah apa loe? Tumben loe punya masalah.”
Agni melemparkan bolpoin kearah
Prilly.
“Sialan loe! Enggak lah! Loe tau
sendirikan? Seorang Agni? Ya dia tau dong kualitas orang Indonesia asli kayak
gimana? Baru aja gue putus dan loe gak usah tanya-tanya lagi.”
Prilly mencibirnya.
“Oke. Lagipula gak penting tuh. Kapan
loe shootingnya? Gue ikut ke kapan-kapan.”
“Ogah!.”
“Dih. Jahat loe!!! Oke kalo gitu.
Gue gak akan pernah mau nganterin loe kemana-mana kalo di Indonesia. Gue gak
bakalan ngenterin loe ketemu ALIANDO puas?!.”
“Idih... kok ngancem sih?.”
“Yaiyalah. Gue? Gini-gini punya
akses official buat ketemu Aliando. Emangnya elo? Katanya fans tapi kagak punya
hak begituan. Wle...”
“Ih... tuhkan tuhkan? Loe mah gitu
aahh... loe bilang ngefans sama dia aja susah banget sih? Kok bisa sih loe
kayak gitu?.”
Yaiyalah.
Gue ceweknya! Gue istrinya...
ucap Prilly dalam hati. Ia tersenyum geli pada Agni.
“Apa sih yang enggak bisa Bokap gue
lakuin buat ketemu artis di Indonesia?.”
“Ihhh... Oke oke. Gue ajak loe.
Asal loe ketemuin gue sama Aliando. Oke? Deal?.”
Prilly nampak menimang-nimang.
“Gimana ya? hmmm...”
“Prilly....”
Prilly tertawa kecil.
“Oke Agni... tenang aja keles
loekan sahabat gue. Oiya, tapi loe jangan ilfeel ya begitu ketemu sama dia.”
Agni mendekatkan diri pada Prilly.
“Emang kenapa?.”
“Dia... jelek.”
“Prillyyyyyyyyyyy....... emang
kapan sih loe bilang Aliando cakep?.”
Prilly tertawa puas begitu melihat
wajah kesal sahabatnya itu. sorry Ni, gue
masih bingung... gimana caranya jujur sama loe. Prilly menarik nafas
panjang kemudian menghembuskannya perlahan. Semoga
semuanya akan baik-baik aja.
***
“Gimana bisa banyak wartawan kayak
gini sih? Emangnya gue ngelakuin apa coba?.”
Ali mendengus kesal begitu melihat
wartawan yang bersiap meliput dan mewawancarainya. Ia menengok kearah
managernya.
“Gue capek banget. Gue mau
istirahat dulu.”
“Tapi Li. Mereka pasti bakalan
nunggu. Loe gak diwawancara sekarang nanti dan besok mereka masih akan tetap
datengin loe.”
Ali menghela nafas panjang.
“Oke. Kita keluar sekarang.”
Ali membuka pintu mobilnya dan
langsung disambut blitz-blitz dari kamera para wartawan.
“Aliando bagaimana tanggapan anda
dengan berita bahwa ternyata anda tinggal bersama seorang wanita diapartemen
anda?.”
“Siapakah wanita yang beberapa hari
lalu selalu bersama anda?.”
“Siapakah wanita itu? apakah dia
wanita yang begitu spesial?.”
Ali mengerutkan keningnya.
“Lho... saya saja baru tau ini dari
kalian. Memangnya siapa yang memberitakan hal tersebut?.”
“Foto gadis yang selalu bersama
anda itu tersebar didunia maya. Dia terpergok keluar dari mobil pribari anda
dan keluar dari apartemen yang anda huni. Siapakah dia?.”
“Mungkin Mama saya. Sudah ya...
saya lelah sekali hari ini. saya harus istirahat kerena malam nanti saya ada
konser. Terimakasih semuanya...” ucap Ali sambil tersenyum, ia membelah lautan
para wartawan untuk memasuki tempat peristirahatannya.
Gue
harus lebih hati-hati. Untung sekarang Prilly udah kembali. Ali menghela nafas lega. Ia tak bisa membayangkan
jika ada yang menyakiti Prilly. Gak! gak akan pernah dia biarkan ada yang
menyakiti belahan jiwanya itu.
***
Malam harinya Prilly hanya bisa
berguling kekanan dan kekiri di atas tempat tidurnya. Ia meraih ponselnya yang
tak kunjung ada berita dari suaminya itu. ia jadi ingat perkataan Agni.
“Prilly...
berita di Indonesia tentang Aliando makin kacau aja sih? Masa dia dibilang
tinggal satu atap sama cewek. Kan gak mungkin.”
Prilly
mengerutkan keningnya saat mendengar hal tersebut. Agni terlihat merengut
kesal.
“Kata
siapa loe? Gak usah langsung judge gitulah. Belum tentu bener juga.”
“Iya
sih. Eh... kok loe tumben berpikir positive tentang Aliando? Biasanyakan loe ledekin
gue?.”
“Ya
sekali-sekali aja. Kenapa? Gak boleh?.” Prilly melirik ke arah Agni yang masih
merengut.
“Tapi
Prill... masa iya sih Aliando kayak gitu? Aaaaaaa....... gue pasti keccewa
banget sama dia.”
“Alay
loe.”
“Gue
gak alay Prilly. Coba loe bayangin kalo idola loe ketahuan nyimpen cewek
diapartemennya? Padahal dia selalu tegas dia gak punya cewek, dia mau fokus
karier.”
“Oh.”
“Gue
juga fotonya, walaupun gak jelas. tapi gue bakalan dapetin foto asli tuh
cewek!!!.”
“HAH?!
Buat apa?.”
Agni
mengerutkan keningnya, kemudian mendengus. “Kalo gue udah dapet tuh foto, gue
bakalan sebarin pokoknya! pasti tuh cewek bakal jadi bahan bully deh entar.”
Prilly menggeleng-gelengkan
kepalanya dengan cepat. Gak!
Enggaaaaaaaaakkkk... Dulu gue yang bully Aliando, masa sekarang gue yang
dibully? Gak! gak. gue gak mau.
Ponsel Prilly berdering. Ia
langsung menerima panggilan itu dengan panik.”
“Honey....”
“Hey...
kenapa sayang? Kok panik gitu?.”
“Ada gosip apa disana? Aku ngeri
banget dengerin cerita Agni.”
“Ngeri
gimana sayang? Udah ah gak usah dipikirin.”
“Gosip apa honey? Pas aku baca
artikel ada yang bilang kamu tinggal sama cewek. Itu gosipnya sekarang? Atau
apa? Terus siapa cewek itu? kamu bawa cewek mana lagi selama aku tinggalin?.”
Ali terkekeh.
“Yaang...
kita berpisah belum 24 jam lho... gak mungkinlah aku bawa cewek lain. ya cewek
itu kamu yaang... aku juga gak tau mereka tau darimana, tapi ada yang kirim ke
aku beberapa foto kamu, untung fotonya gak jelas.”
Prilly menghela nafas panjang. Syukur deh kalo gitu...
“Syukur ya kalo gitu. Tapi benerkan
kamu gak macem-macem?.”
“Enggak
sayangku...”
“Honey...”
“Hm...”
“Aku takut.”
“Takut
apa yaang?.”
“Takut dibully.”
Ali menghela nafas sambil tertawa
kecil.
“Jangan
takut. Ada aku. lagipula aku yakin kalo mereka sayang sama aku pasti gak
bakalan bully orang yang aku sayang. Aku juga sekarang dibully masih baik-baik
ajakan?.”
“Apa? Kamu dibully? Ih awas aja ya
yang ngebully kamu.”
“Kamu
jugakan suka...”
“Ih Ali... pokoknya gak boleh ada
yang bully kamu. yang boleh bully kamu itu cuma aku. gak boleh orang lain. awas
aja pokoknya!!!.” Ucap Prilly sambil bangkit kemudian ia meraih laptopnya.
“Yaang...”
“Apa Honey?.”
“Kamu
lagi apa?.”
Prilly mendengus kesal saat melihat
TL nya memang sangatlah heboh terutama oleh mention-mentionan Agni dan
teman-temannya yang sesama penggemar Aliando. Agni juga terlihat sedang
marah-marah di akunnya, memarahi yang membully
Aliando.
“Aku lagi update status.”
“Update
apa?.”
“Liat aja.”
***
Ali mengerutkan keningnya. Kenapa
Prilly terdengar kesal seperti itu? ia menghela nafas panjang lalu meraih
laptopnya.
“Kamu jangan marah-marah ya
sayang?.”
Prilly terdengar mendengus kesal.
“Aku
bete aja honey. Aku gak suka ada yang hina kamu. mereka juga secara tidak
langsung hina akulah.”
Ali menghela nafas panjang.
“Jangan terpancing yaang... mereka
kan gak tau kalo yang mereka bully itu kamu. jangan buat orang curiga.”
Prilly Latuconsina @LtcPril
idih katanya fans, tapi denger
gosip murahan aja langsung ngejudge.
Ali tersenyum kecil, ia mengklik
username Prilly, melihat beberapa mention Prilly disana. Ia membentangkan
balasan-balasan paling atass milik Prilly.
Prilly Latuconsina @LtcPrill
ya gue lah gila lu RT @AgniTA:
Tumben omongan loe bener, ini loe kan? @LtcPril
Agnita Tamada Ariani @AgniTA
@LtcPril syukurlah kalo loe udah
mau tobat gak bully Aliando lagi.
Prilly Latuconsina @LtcPrill
@AgniTA kata siapa gue gak mau
bully lagi? Gue cuma gak suka aja liat orang lain bully.
Agnita Tamada Ariani @AgniTA
@LtcPril Terus maksud loe cuma loe
yang boleh bully Aliando?
Prilly Latuconsina @LtcPrill
@AgniTA Yeah!!! Pinter loe.
Agnita Tamada Ariani @AgniTA
@LtcPril Iya deh HATERS yang
OFFICIAL FANS Aliando
Prilly Latuconsina @LtcPrill
@AgniTA sialan loe!!! Awas aja ya
kalo gara-gara loe gue jadi banyak mention!!!
Agnita Tamada Ariani @AgniTA
@LtcPril bodo. Bye... nikmatin
serangannya. Gue OFF. :P
Prilly Latuconsina @LtcPrill
@AgniTA HEH Agni!!! Nyebelin loe
ya...
Ali terkekeh kecil melihat
mentionan Prilly. Ia dapat membayangkan wajah menggemaskan istrinya yang sedag
kesal itu.
“Yaang... udah sih, ngapain kamu
twitteran terus? Aku mention nih.”
“Ih
honey jangaan... ini aku udah banyak yang mention. Aku ditanyain, kok bisa
dapet official fans kamu. nyebelin ih.”
“Udah yaang jangan ditanggepin
kenapa? Bawa santai aja.”
***
Prilly menghela nafas panjang.
“Tapi honey. Mereka nyolot banget
ih... kenapa mereka gak daftar aja. Malah nyolot gak jelas.”
“Udah
honey...”
Prilly menghela nafas panjang
kemudian membiarkan laptopnya, ia menyandarkan diri kekepala tempat tidur.
“Iya Honey.”
“Honey... kamu lagi apa?.”
“Lagi
update status.”
“Jangan tag aku.”
“Enggak
kok yaang.”
“Kamu update apa?.”
“Ada...”
Prilly mengrutkan keningnya.
“Ada apa?.”
“Liat
aja yaang.”
Prilly dengan cepat mendudukan dirinya,
kemudian tengkurap dihadapan laptopnya.
“Awas aja ya kamu kalo
macem-macem.”
“Enggak
yaang...”
Aliando Syarief @Aliando
Jgn permasalahin itu lagi. Jgn
berkata seperti itu. Aku menyayanginya dan aku juga sakit hati bila dia sakit.
“Honeeeyyyyyy... secara tidak
langsung kamu ngaku kalo kamu emang tinggal sama dia, kamu tinggal sama cewek.”
Ali terkekeh kecil.
“Gapapa
yaang. Kata kamukan biarin mereka semua berspekulasi tentang kita.”
Prilly menghela nafas. kenapa ya ia
menyesal pernah mengatakan itu? Ini sama saja dengan perlahan-lahan
menghancurkan karier Ali. Apa yang harus ia lakukan?
***
Bersambung.
Jangan lewatkan artikel ini :)
Yuk kalo ada komentar biar cepet
ditanggapin komentar di twitter aja, atau kalo mau nanya tentang cerita-cerita
aku tinggal ask aja di ask.fm ya :)
Tapi komen disini juga gapapa kok.
:)
Yuk yang mau temenan follow Twitter
dan ask.fm aku : @SopiahNenden
Makasih buat semuanya yang udah ask
aku di ask.fm, asal kalian tau itu semua bikin aku semakin semangat. :)
terimakasih yang sebesar-besarnya atas respon positif kalian. :)
Terimakasih sebelumnya. :)

akhirnya di posting juga LDM 8nya hehe ;;)
ReplyDeleteKalau bisa di next,ceritanya seru...
ReplyDelete