Wednesday, 13 August 2014

Long Distance Marriage



Chapter 7

Prilly! Loe gila!!!
Kok bisa sih seorang Aliando keluar dari sarangnya cuma buat ngetwit gak jelas kayak gitu?
Loe pake pelet apa hah?!

Sialan loe! Siapa juga yang mau dimention sama dia?
Notif gue liat nih, setiap semenit sekali 99++. Puas loe?!

Lagian elo pake upload foto shooting VC Aliando.
Mana twitnya gitu.
Loe sebenernya kenapa sih? Aneh loe!!!
Denger ya Prilly walaupun gue gak disana tapi gue tau.
Pembuatan VC itu tertutup untuk siapapun termasuk wartawan.
Tapi kenapa loe bisa masuk?.


Prilly menghela nafas panjang, ia memutar otak mencari alasan yang logis. Ia melirik ke arah Ali yang terus saja menertawakannya yang pusing gara-gara kelakuan gak jelas orang tersebut.

Yaiyalah gue bisa.
Orang gue kebetulan ada acara disana.
Pas gue liat eh ada dia yaudah gue fotoin.puas loe?
Itu jugakan buat loe.

Tapi twitnya gak gitu-gitu juga keles.

Terus gimana Agni?
Gue harus bilang sitampan dan menawan Aliando Syarief shooting VC.
Gitu? Ih OGAH!!!

Ya gitu sekali-kali biar dia gak buat twit heboh gitu.
Eh eh eh... tuh dia buat twit lagi.


Melihat isi chat Agni, Prilly segera masuk ke akun twitternya.

HEH @LtcPril LOOK betapa baiknya idola gue -> @Aliando: udah jgn di perpanjang, lagipula buat apa trus bhs haters

Prilly memutar bola matanya kesal, ia mengalihkan pandangannya pada Ali yang duduk diatas sofa, sementara dirinya duduk di atas tempat tidur.
“Kamu apaan sih? Gak usah ikutan twit-twit bisa gak sih?.”
“Lho... itukan Aliando yaang... bukan Ali.”
“Sama aja.”
“Oh jadi sama aja? Jadi benci sama Aliando benci Ali juga? Oke gapapa.”
“Ih Ali! Jangan pergi... kamu kenapa sih? Akukan lagi bete!!!.”
Ali menarik ujung bibirnya, membentuk sebuah senyuman. Kemudian ia berjalan ke arah Prilly kemudian duduk disampingnya. Ia mengacak-acak rambut Prilly dengan lembut kemudian memeluknya dari belakang.
“Udah... gak usah dipikirin terus. Lagian mereka gak akan pernah tau kamu kan?.”
Prilly hanya diam sambil memandangi layar laptopnya. Rencana kembali menggarap skripsi gagal karena Agni malah mengajaknya chating dan beginilah hasilnya. Ia malah bad mood untuk melanjutkan tulisannya.
“Yaang... aku gak mau gini terus. Aku mau semua orang tau kalo kamu istri aku. aku gak mau dimata orang lelaki lajang terus. Tapi disisi lain aku takut kamu kenapa-kenapa, aku takutnya ada  fans yang fanatik dan malah sakitin kamu.”
Prilly bebalik menghadap ke arah Ali. Ia tersenyum manis.
“Aku gak mau merusak karier kamu Li, aku gak mau kayak gitu. Biarin aja orang diluar sana berspekulasi tentang kamu, kalaupun nanti ada yang liat aku sama kamu,biarin aja mereka semua berspekulasi sendiri.”
Ali merangkupkan kedua tangannya diwajah Prilly, membuat gadisnya itu menatapnya juga. Tak bisa meengelak lagi.
“Aku sayang kamu... aku gak pernah masalah tentang apapun. Kalau mereka semua sayang sama aku karena karier aku pasti mereka dukung apapun keputusan aku, aku yakin kalau emang rezeki aku disana pasti aku masih akan bagus dikarier. Semuanya terserah yang diatas yaang... semuanya udah ada yang ngatur.”
“Aku juga lakuin itu karena aku sayang kamu... aku gak mau semuanya hancur gara-gara...”
“St...”
Prilly diam, begitupun dengan Ali. Keduanya hanya berpandangan begitu dalam, begitu intens, saling mengirimkan kasih sayang. Ali mendekatkan diri pada Prilly sementara Prilly hanya diam. Tangan Ali berpindah memeluk leher Prilly. Semakin dekat hingga...

“Prilly... Ali... kalian udah pulangkan? Ini Mama bawain makanan buat kalian...”

Ali dan Prilly mundur, merenggangkan jarak. Keduanya bertatapan sesaat kemudian dengan kompak beranjak dari kamar itu.

***

Riani membereskan matakanan yang ia bawa ke atas meja makan. Sementara Fandi duduk saja menatap istrinya itu dengan sesekali menghela nafas panjang. Sebenarnya ia gemas sekali dengan istrinya itu, hampir tengah malam seperti ini memaksanya untuk mengantar ke apartemen Ali mengantarkan makanan.

“Ma... Pa... ngapain kalian jam segini kesini?.” Tanya Ali kesal.
“Ali kok gitu banget sih sama Mama? Papa! Anak kamu tuh!.”
“Ya lagian salah Mama, namu kok gak kira-kira ini, tengah malam gini, Ali sama Prilly mungkin baru aja mau istirahat. Ya pantes aja Ali marah.”
“Ih kok Papa malah belain Ali sih?.”
“Ma kayak gak pernah muda aja deh. Liat tuh menantu Mama cemberut terus. Bete kita gangguin. Mama kok gak ngerti banget ya? ih... penganten  baru Maa penganten baru.”
Prilly mengerutkan keningnya sambil menatap Fandi yang tersenyum menggoda kearahnya.
“Ih Papa... Illy gak bete kok.”
“Kenapa sih kesini? Alikan... ih Mamaaaaaa....... Papa mendingan bawa pulang Mama ya Paaa...”
“Ali kok gitu sih sama Mama... Illy suami kamu galak banget sih sama Mamaaa...”
“Emang Mama gak mau punya cucu? Saban hari Ali sama Illy digangguin terus.”
Ali lirik Prilly dengan tatapan menggoda. Sementara Prilly hanya mengulum senyumannya, malu.
“Ya mau... tapi ini makan dulu ya kalian... pasti kalian belum makankan?.”
“Udah Ma... disinikan sekarang ada Illy. Ali udah gak sendiri Ma...”
“Terus ini gimana?.”
“Gapapa Ma, biar Illy makan. Lagian Illy masih laper kok.”
“Kamu juga makan Li. Yaudah Papa bawa Mama pulang sekarang ya? maaf ya gangguin kalian. Dadahhhh kalian berdua... semangat ya...”
Ali terkekeh melihat kedua orangtuanya itu sementara Prilly hanya mengerutkan keningnya.
“Semangat apaan?.”
Ali melirik ke arah Prilly. Ia mengerutkan keningnya. Masa istrinya itu tidak mengerti.
“Kamu gak ngerti yaang semangat apa?.”
Prilly hanya menggeleng, sementara mulutnya sedang asik menyantap makanan yang tadi dibawakan Ibu mertuanya.
“Emang apa?.”
Ali mendekatkan diri, membisikan sesuatu ditelinga Prilly.
“Uhuk....”
“Eh... yaang ini minum yaang minum.”
Prilly meraih gelas dari tangan Ali kemudian meminumnya. Setelah itu ia menatap tajam kearah Ali sambil memukul lengan Ali perlahan.
“Ngebet banget ya kamu... aku belum skripsiiiiiiiiii.....”

***

Prilly menguncir rambutnya kemudian meraih jaket dan topi milik Ali. Ia mengenakan jaket dan topi itu untuk menutupi rambutnya. Ia berputer didepan cermin kembali.
“Li... ada kacamata item?.”
“Banyak. Cari aja. Lagian kamu mau ngapain pake baju, topi sama kacamata aku?. mau kemana?.”
“Aku kan mau ikut kamu. kata kamu aku harus ikut.”
Ali terkekeh pelan.
“Ya tapi pake dress aja sayaang. Ngapain kamu tampil kayak gitu?.”
“Nyamar Ay... udah ah, aku tetep cantik kok. Yuk berangkat sekarang?.”
“Makanan udah?.”
“Siap Boss... semuanya udah ada didepan tinggal dibawa.”
Ali terkekeh. Beginilah enaknya jika sudah memiliki pendamping. Segala sesuatu keperluannya telah ada yang menyiapkan.
“Makasih sayang. Yuk berangkat.”
Prilly mengangguk kemudian mengenakan kacamata hitamnya yang mirip dengan yang Ali kenakan saat itu.

***

Ali melirik Prilly yang terus saja menatap kearah luar jendela dimana ratusan penggemarnya mengelilingi mobil yang sekarang mereka tumpangi.
“Yaang ayo keluar. Kamu mau dimobil aja?.”
Prilly menengok ke arah Ali.
“Kamu aja duluan, nanti aku nyusul. Gila aja aku keluar sekarang. Takut kali Ay...”
Ali mengangguk mengerti.
“Yaudah aku tunggu ya didalem kamu langsung ke backstage aja.”
Setelah mengatakan itu Ali keluar dari dalam mobil dan langsung dikerumuni oleh para penggemarnya.
“Non belum mau keluar? Ini sudah cukup aman.”
Prilly menghela nafas, ia meraih tasnya kemudian keluar setelah berpamitan pada sopirnya.

***

Prilly memasuki backstage, disudut Ali sedang ditangani oleh makeup artis, ia menghela nafas panjang kemudian duduk disalah satu kursi bersama manager Ali.
“Ternyata Ali berani ya bawa loe kesini?.”
Prilly mengedikan bahunya.  Ia tersenyum masam sambil menatap Ali yang belum menyadari keberadaannya.
“Malah dia minta kita gak kayak gini lagi. Gue gak ngerti sama pikiran dia. Gue sih mikirin karier dia walau jujur aja gue gak suka profesi dia ini. tapi ya gue juga hargain perjuangan dia selama ini yang susah payah pengen diposisi sekarang ini, tentu gue gak mau dong karier dia buruk gara-gara gue.”
“Loe rela gak diakuin kayak gini cuma gara-gara karier dia?.”
Prilly tersenyum kecil kemudian tersenyum ke arah Ali yang menatapnya melalui cermin didepannya itu.
“Bagi gue gak masalah, toh pada dasarnya dia sayang gue dan gue juga kayak gitu. Gue percaya sama dia. Gue gak mau egois.”
“Keren. Semoga hubungan kalian langgeng ya... sebagai manager Ali gue cuma bisa do’ain yang terbaik aja.”
“Oke. Makasih ya... oiya kalo Ali nanyain gue ada di bangku penonton ya... gue gak enak ada disini.”
Setelah mendapatkan anggukan dari manager Ali, Prilly segera berlalu menuju bangku penonton. Ia agak risih berada di backstage mengingat ada beberapa wartawan infotaiment yang sepertinya akan meliput suami tercintanya itu.

***

Prilly menatap ke arah Ali yang baru saja memasuki panggung. Ia mulai memrekam penampilan Ali diatas panggung dan sesekali menjepret dengan kamera milik Ali yang sengaja ia bawa. Entah kenapa ia senang sekali mencari kekurangan Ali, bukan untuk meledeknya tapi untuk mengoreksi setiap penampilan suaminya itu agar bisa lebih baik lagi.

“AAAAAAAAAAAA.......... ALIANDOOOOOOOOOO....”
“Ya ampun cakep banget sih...”

Prilly menengok kebelakangnya. Ia memutar bola matanya kesal sambil menggosok-gosokan tangan ditelinganya. Saat ia kembali menatap ke arah panggung Ali sedang tersenyum padanya sambil melambaikan tangannya. Prilly memutar bola matanya kesal. Ganjen banget sih!!!

“Senyuman Ali kok beda banget ya dari biasanya? Jadi lebih wow. Dengerin ya... LEBIH WOW!!!.”

Prilly mendengus kesal. Sabar Prilly sabar...

“Ya ampuunnn... gue rela deh jadi istrinya... cakep banget tau gak? loe bayangin deh entar anaknya pasti cakep kayak dia...”

Oke. Yang ini keterlaluan. Prilly kembali mendengus kesal kemudian beranjak dengan perasaan yang begitu dongkolnya. Ia tak tahan lagi. Apa yang harus ia lakukan sekarang?.

***

Ali keluar dari kamar mandi dengan tubuh yang telah segar, ia tersenyum kecil saat melihat Prilly yang masih sholat. Setelah melihat istrinya itu mengucapkan salam ia mendekatinya dan duduk disampingnya.
“Kamu kok gak nungguin aku sih? Kitakan bisa berjemaah?.”
Prilly tersenyum agak memaksakan, ia meraih tangan Ali kemudian menciumnya tanda hormat.
“Maaf Ay... akukan mau masak abis ini. kamu mandinya lama banget. Nanti aku keburu ngantuk.”
“Yaang...”
Ali memengelus pipi Prilly degan sayang.
“Kamu kenapa yaang? Semenjak kamu pulang dari acara-acara aku, kamu kok jadi kayak gini? Apa ada yang salah?.”
Prilly menghela nafas panjang. Ia menatap Ali kemudian memeluknya erat. Ia membenamkan kepalanya dilekukan leher Ali. Ia sudah tidak tahan lagi.
“Yaang? Kamu kenapa?.”
Prilly menghela nafas panjang, ia menatap Ali ragu.
“Aku...”
“Kenapa yaang?.”
“Sebaiknya aku kembali ke Singapura.”
“Yaang? Kenapa?.”
Prilly tersenyum ia menatap Ali dengan tangan yang masih berada di leher Ali. Ia enggan melepaskannya saat ini, ia ingin memandangi suaminya itu sepuas mungkin sebelum ia benar-benar pergi.
“Aku perlu banyak waktu bisa nerima kamu, lagipula kalau aku disini skripsiku gak rampung-rampung. Sebaiknya aku pergi lagi. Kamu juga minggu ini tour luar kotakan? Aku gak mungkin ikut kamu terus.”
“Tapi yaang...”
“Biar aku rampungin dulu skripsi ya yaang? Biar aku lebih tenang... yaa...”
Ali menatap Prilly dengan tatapan sendu. Apa yang harus ia lakukan sekarang? Mengijinkan ataukah mencegahnya?.
Ali tersenyum  tipis pada Prilly kemudian menarik Prilly kembali dalam pelukannya. Hatinya berkata lain, bukan itu alasan Prilly ingin pergi darinya. Bukan karena skripsi, tapi hal lain.
“Aku sayang kamu yaang... aku gak mau jauh dari kamu...”

***

Bersambung.

Yuk kalo ada komentar biar cepet ditanggapin komentar di twitter aja, atau kalo mau nanya tentang cerita-cerita aku tinggal ask aja di ask.fm ya :)
Tapi komen disini juga gapapa kok. :)
Yuk yang mau temenan follow Twitter dan ask.fm aku : @SopiahNenden
Makasih buat semuanya yang udah ask aku di ask.fm, asal kalian tau itu semua bikin aku semakin semangat. :) terimakasih yang sebesar-besarnya atas respon positif kalian. :)

Terimakasih sebelumnya. :)

1 comment: