Chapter 7
Prilly! Loe gila!!!
Kok bisa sih seorang Aliando keluar
dari sarangnya cuma buat ngetwit gak jelas kayak gitu?
Loe pake pelet apa hah?!
Sialan loe! Siapa juga yang mau dimention sama dia?
Notif gue liat nih, setiap semenit sekali 99++. Puas
loe?!
Lagian elo pake upload foto
shooting VC Aliando.
Mana twitnya gitu.
Loe sebenernya kenapa sih? Aneh
loe!!!
Denger ya Prilly walaupun gue gak
disana tapi gue tau.
Pembuatan VC itu tertutup untuk
siapapun termasuk wartawan.
Tapi kenapa loe bisa masuk?.
Prilly menghela nafas panjang, ia
memutar otak mencari alasan yang logis. Ia melirik ke arah Ali yang terus saja
menertawakannya yang pusing gara-gara kelakuan gak jelas orang tersebut.
Yaiyalah gue bisa.
Orang gue kebetulan ada acara disana.
Pas gue liat eh ada dia yaudah gue fotoin.puas loe?
Itu jugakan buat loe.
Tapi twitnya gak gitu-gitu juga
keles.
Terus gimana Agni?
Gue harus bilang sitampan dan menawan Aliando
Syarief shooting VC.
Gitu? Ih OGAH!!!
Ya gitu sekali-kali biar dia gak
buat twit heboh gitu.
Eh eh eh... tuh dia buat twit lagi.
Melihat isi chat Agni, Prilly
segera masuk ke akun twitternya.
HEH @LtcPril LOOK betapa baiknya
idola gue -> @Aliando: udah jgn di perpanjang, lagipula buat apa trus bhs
haters
Prilly memutar bola matanya kesal,
ia mengalihkan pandangannya pada Ali yang duduk diatas sofa, sementara dirinya
duduk di atas tempat tidur.
“Kamu apaan sih? Gak usah ikutan
twit-twit bisa gak sih?.”
“Lho... itukan Aliando yaang...
bukan Ali.”
“Sama aja.”
“Oh jadi sama aja? Jadi benci sama
Aliando benci Ali juga? Oke gapapa.”
“Ih Ali! Jangan pergi... kamu
kenapa sih? Akukan lagi bete!!!.”
Ali menarik ujung bibirnya,
membentuk sebuah senyuman. Kemudian ia berjalan ke arah Prilly kemudian duduk
disampingnya. Ia mengacak-acak rambut Prilly dengan lembut kemudian memeluknya
dari belakang.
“Udah... gak usah dipikirin terus.
Lagian mereka gak akan pernah tau kamu kan?.”
Prilly hanya diam sambil memandangi
layar laptopnya. Rencana kembali menggarap skripsi gagal karena Agni malah
mengajaknya chating dan beginilah hasilnya. Ia malah bad mood untuk melanjutkan
tulisannya.
“Yaang... aku gak mau gini terus.
Aku mau semua orang tau kalo kamu istri aku. aku gak mau dimata orang lelaki
lajang terus. Tapi disisi lain aku takut kamu kenapa-kenapa, aku takutnya
ada fans yang fanatik dan malah sakitin
kamu.”
Prilly bebalik menghadap ke arah
Ali. Ia tersenyum manis.
“Aku gak mau merusak karier kamu
Li, aku gak mau kayak gitu. Biarin aja orang diluar sana berspekulasi tentang kamu,
kalaupun nanti ada yang liat aku sama kamu,biarin aja mereka semua berspekulasi
sendiri.”
Ali merangkupkan kedua tangannya
diwajah Prilly, membuat gadisnya itu menatapnya juga. Tak bisa meengelak lagi.
“Aku sayang kamu... aku gak pernah
masalah tentang apapun. Kalau mereka semua sayang sama aku karena karier aku
pasti mereka dukung apapun keputusan aku, aku yakin kalau emang rezeki aku
disana pasti aku masih akan bagus dikarier. Semuanya terserah yang diatas
yaang... semuanya udah ada yang ngatur.”
“Aku juga lakuin itu karena aku
sayang kamu... aku gak mau semuanya hancur gara-gara...”
“St...”
Prilly diam, begitupun dengan Ali.
Keduanya hanya berpandangan begitu dalam, begitu intens, saling mengirimkan
kasih sayang. Ali mendekatkan diri pada Prilly sementara Prilly hanya diam.
Tangan Ali berpindah memeluk leher Prilly. Semakin dekat hingga...
“Prilly... Ali... kalian udah
pulangkan? Ini Mama bawain makanan buat kalian...”
Ali dan Prilly mundur,
merenggangkan jarak. Keduanya bertatapan sesaat kemudian dengan kompak beranjak
dari kamar itu.
***
Riani membereskan matakanan yang ia
bawa ke atas meja makan. Sementara Fandi duduk saja menatap istrinya itu dengan
sesekali menghela nafas panjang. Sebenarnya ia gemas sekali dengan istrinya
itu, hampir tengah malam seperti ini memaksanya untuk mengantar ke apartemen
Ali mengantarkan makanan.
“Ma... Pa... ngapain kalian jam
segini kesini?.” Tanya Ali kesal.
“Ali kok gitu banget sih sama Mama?
Papa! Anak kamu tuh!.”
“Ya lagian salah Mama, namu kok gak
kira-kira ini, tengah malam gini, Ali sama Prilly mungkin baru aja mau
istirahat. Ya pantes aja Ali marah.”
“Ih kok Papa malah belain Ali
sih?.”
“Ma kayak gak pernah muda aja deh.
Liat tuh menantu Mama cemberut terus. Bete kita gangguin. Mama kok gak ngerti
banget ya? ih... penganten baru Maa
penganten baru.”
Prilly mengerutkan keningnya sambil
menatap Fandi yang tersenyum menggoda kearahnya.
“Ih Papa... Illy gak bete kok.”
“Kenapa sih kesini? Alikan... ih
Mamaaaaaa....... Papa mendingan bawa pulang Mama ya Paaa...”
“Ali kok gitu sih sama Mama... Illy
suami kamu galak banget sih sama Mamaaa...”
“Emang Mama gak mau punya cucu?
Saban hari Ali sama Illy digangguin terus.”
Ali lirik Prilly dengan tatapan
menggoda. Sementara Prilly hanya mengulum senyumannya, malu.
“Ya mau... tapi ini makan dulu ya
kalian... pasti kalian belum makankan?.”
“Udah Ma... disinikan sekarang ada
Illy. Ali udah gak sendiri Ma...”
“Terus ini gimana?.”
“Gapapa Ma, biar Illy makan. Lagian
Illy masih laper kok.”
“Kamu juga makan Li. Yaudah Papa
bawa Mama pulang sekarang ya? maaf ya gangguin kalian. Dadahhhh kalian
berdua... semangat ya...”
Ali terkekeh melihat kedua
orangtuanya itu sementara Prilly hanya mengerutkan keningnya.
“Semangat apaan?.”
Ali melirik ke arah Prilly. Ia
mengerutkan keningnya. Masa istrinya itu tidak mengerti.
“Kamu gak ngerti yaang semangat
apa?.”
Prilly hanya menggeleng, sementara
mulutnya sedang asik menyantap makanan yang tadi dibawakan Ibu mertuanya.
“Emang apa?.”
Ali mendekatkan diri, membisikan
sesuatu ditelinga Prilly.
“Uhuk....”
“Eh... yaang ini minum yaang
minum.”
Prilly meraih gelas dari tangan Ali
kemudian meminumnya. Setelah itu ia menatap tajam kearah Ali sambil memukul
lengan Ali perlahan.
“Ngebet banget ya kamu... aku belum
skripsiiiiiiiiii.....”
***
Prilly menguncir rambutnya kemudian
meraih jaket dan topi milik Ali. Ia mengenakan jaket dan topi itu untuk
menutupi rambutnya. Ia berputer didepan cermin kembali.
“Li... ada kacamata item?.”
“Banyak. Cari aja. Lagian kamu mau
ngapain pake baju, topi sama kacamata aku?. mau kemana?.”
“Aku kan mau ikut kamu. kata kamu
aku harus ikut.”
Ali terkekeh pelan.
“Ya tapi pake dress aja sayaang.
Ngapain kamu tampil kayak gitu?.”
“Nyamar Ay... udah ah, aku tetep
cantik kok. Yuk berangkat sekarang?.”
“Makanan udah?.”
“Siap Boss... semuanya udah ada
didepan tinggal dibawa.”
Ali terkekeh. Beginilah enaknya
jika sudah memiliki pendamping. Segala sesuatu keperluannya telah ada yang
menyiapkan.
“Makasih sayang. Yuk berangkat.”
Prilly mengangguk kemudian
mengenakan kacamata hitamnya yang mirip dengan yang Ali kenakan saat itu.
***
Ali melirik Prilly yang terus saja
menatap kearah luar jendela dimana ratusan penggemarnya mengelilingi mobil yang
sekarang mereka tumpangi.
“Yaang ayo keluar. Kamu mau dimobil
aja?.”
Prilly menengok ke arah Ali.
“Kamu aja duluan, nanti aku nyusul.
Gila aja aku keluar sekarang. Takut kali Ay...”
Ali mengangguk mengerti.
“Yaudah aku tunggu ya didalem kamu
langsung ke backstage aja.”
Setelah mengatakan itu Ali keluar
dari dalam mobil dan langsung dikerumuni oleh para penggemarnya.
“Non belum mau keluar? Ini sudah
cukup aman.”
Prilly menghela nafas, ia meraih
tasnya kemudian keluar setelah berpamitan pada sopirnya.
***
Prilly memasuki backstage, disudut Ali
sedang ditangani oleh makeup artis, ia menghela nafas panjang kemudian duduk
disalah satu kursi bersama manager Ali.
“Ternyata Ali berani ya bawa loe
kesini?.”
Prilly mengedikan bahunya. Ia tersenyum masam sambil menatap Ali yang
belum menyadari keberadaannya.
“Malah dia minta kita gak kayak
gini lagi. Gue gak ngerti sama pikiran dia. Gue sih mikirin karier dia walau
jujur aja gue gak suka profesi dia ini. tapi ya gue juga hargain perjuangan dia
selama ini yang susah payah pengen diposisi sekarang ini, tentu gue gak mau
dong karier dia buruk gara-gara gue.”
“Loe rela gak diakuin kayak gini
cuma gara-gara karier dia?.”
Prilly tersenyum kecil kemudian
tersenyum ke arah Ali yang menatapnya melalui cermin didepannya itu.
“Bagi gue gak masalah, toh pada
dasarnya dia sayang gue dan gue juga kayak gitu. Gue percaya sama dia. Gue gak
mau egois.”
“Keren. Semoga hubungan kalian
langgeng ya... sebagai manager Ali gue cuma bisa do’ain yang terbaik aja.”
“Oke. Makasih ya... oiya kalo Ali nanyain
gue ada di bangku penonton ya... gue gak enak ada disini.”
Setelah mendapatkan anggukan dari
manager Ali, Prilly segera berlalu menuju bangku penonton. Ia agak risih berada
di backstage mengingat ada beberapa wartawan infotaiment yang sepertinya akan
meliput suami tercintanya itu.
***
Prilly menatap ke arah Ali yang
baru saja memasuki panggung. Ia mulai memrekam penampilan Ali diatas panggung
dan sesekali menjepret dengan kamera milik Ali yang sengaja ia bawa. Entah kenapa
ia senang sekali mencari kekurangan Ali, bukan untuk meledeknya tapi untuk
mengoreksi setiap penampilan suaminya itu agar bisa lebih baik lagi.
“AAAAAAAAAAAA..........
ALIANDOOOOOOOOOO....”
“Ya ampun cakep banget sih...”
Prilly menengok kebelakangnya. Ia memutar
bola matanya kesal sambil menggosok-gosokan tangan ditelinganya. Saat ia
kembali menatap ke arah panggung Ali sedang tersenyum padanya sambil
melambaikan tangannya. Prilly memutar bola matanya kesal. Ganjen banget sih!!!
“Senyuman Ali kok beda banget ya
dari biasanya? Jadi lebih wow. Dengerin ya... LEBIH WOW!!!.”
Prilly mendengus kesal. Sabar Prilly sabar...
“Ya ampuunnn... gue rela deh jadi
istrinya... cakep banget tau gak? loe bayangin deh entar anaknya pasti cakep
kayak dia...”
Oke. Yang ini keterlaluan. Prilly kembali
mendengus kesal kemudian beranjak dengan perasaan yang begitu dongkolnya. Ia tak
tahan lagi. Apa yang harus ia lakukan sekarang?.
***
Ali keluar dari kamar mandi dengan
tubuh yang telah segar, ia tersenyum kecil saat melihat Prilly yang masih
sholat. Setelah melihat istrinya itu mengucapkan salam ia mendekatinya dan
duduk disampingnya.
“Kamu kok gak nungguin aku sih? Kitakan
bisa berjemaah?.”
Prilly tersenyum agak memaksakan,
ia meraih tangan Ali kemudian menciumnya tanda hormat.
“Maaf Ay... akukan mau masak abis
ini. kamu mandinya lama banget. Nanti aku keburu ngantuk.”
“Yaang...”
Ali memengelus pipi Prilly degan
sayang.
“Kamu kenapa yaang? Semenjak kamu
pulang dari acara-acara aku, kamu kok jadi kayak gini? Apa ada yang salah?.”
Prilly menghela nafas panjang. Ia menatap
Ali kemudian memeluknya erat. Ia membenamkan kepalanya dilekukan leher Ali. Ia sudah
tidak tahan lagi.
“Yaang? Kamu kenapa?.”
Prilly menghela nafas panjang, ia
menatap Ali ragu.
“Aku...”
“Kenapa yaang?.”
“Sebaiknya aku kembali ke
Singapura.”
“Yaang? Kenapa?.”
Prilly tersenyum ia menatap Ali dengan
tangan yang masih berada di leher Ali. Ia enggan melepaskannya saat ini, ia
ingin memandangi suaminya itu sepuas mungkin sebelum ia benar-benar pergi.
“Aku perlu banyak waktu bisa nerima
kamu, lagipula kalau aku disini skripsiku gak rampung-rampung. Sebaiknya aku
pergi lagi. Kamu juga minggu ini tour luar kotakan? Aku gak mungkin ikut kamu
terus.”
“Tapi yaang...”
“Biar aku rampungin dulu skripsi ya
yaang? Biar aku lebih tenang... yaa...”
Ali menatap Prilly dengan tatapan
sendu. Apa yang harus ia lakukan sekarang? Mengijinkan ataukah mencegahnya?.
Ali tersenyum tipis pada Prilly kemudian menarik Prilly kembali
dalam pelukannya. Hatinya berkata lain, bukan itu alasan Prilly ingin pergi
darinya. Bukan karena skripsi, tapi hal lain.
“Aku sayang kamu yaang... aku gak
mau jauh dari kamu...”
***
Bersambung.
Yuk kalo ada komentar biar cepet
ditanggapin komentar di twitter aja, atau kalo mau nanya tentang cerita-cerita
aku tinggal ask aja di ask.fm ya :)
Tapi komen disini juga gapapa kok.
:)
Yuk yang mau temenan follow Twitter
dan ask.fm aku : @SopiahNenden
Makasih buat semuanya yang udah ask
aku di ask.fm, asal kalian tau itu semua bikin aku semakin semangat. :)
terimakasih yang sebesar-besarnya atas respon positif kalian. :)
Terimakasih sebelumnya. :)
bgus ceritanya, lanjutin dong,hehe
ReplyDelete