Thursday, 25 June 2015

Here, for You



Here, for You

Author             : Nenden S. Sopiah
Title                 : Here, for You
Genre              : Romance
Cast                 : Song Ji Hyo, Kang Gary (MondayCouple)










***

“Gary Oppa...”

“Hmm...”

“Oppa...”

Gary tersenyum kecil tanpa mengalihkan pandangan sedikitpun padaku yang sedang merajuk padanya. Sedari tadi dia hanya bergumam dan bergumam saja, tanpa melirik sedikitpun kearahku.

“Ini hari senin.” Guman Gary.

“Hm, apa yang Oppa katakan?.” Tanyaku sambil menatapnya. Namun aku segera berpaling untuk meraih ponselku yang nampak berdering.

“Ji Hyo-ah! Dimana kau? Apa kau bersama Kang Gary?.” Jae Suk Oppa menelponku.

“Iya Oppa, kami sedang dalam perjalanan.”

“Kalian jangan malah berkencan, sebentar lagi kita akan mulai.”

“Iya Oppa. Kau menganggu sekali, lagi pula kita baru berangkat Oppa.”

“YA! Ji Hyo-ah.”

“Ya Oppa.”

“Song Joong Ki datang.”

“Huh?.” Aku menatap kearah Gary sekilas, dia nampak kaget dengan teriakanku tadi.
“Oppa jangan berbohong padaku, Oppa bilang Song Joong Ki? Dia datang?.” Ucapku agak berbisik, tidak enak pada Gary.

“Kau tidak tau? Yaaa... pantas saja kau telat. Dia datang lagi untuk menggantikan satu orang dari kita.”

“Apa? Oppa apa yang Oppa katakan? Jangan terus-terusan berbohong padaku Oppa!.”

“Aku tidak berbohong! Kang Gary...”

“Sudah dulu Oppa kami sebentar lagi sampai.”

“Oh... oke.”

“Gary Oppa...” aku menatap Gary, dia hanya menatap lurus kedepan. Dia begitu fokus saat mengendarai mobil. Aku sangat terkesan saat dia tenang seperti itu.

“Kenapa?.”

“Oppa tau Song Joong Ki kembali?.” Tanyaku menyelidik, karena dia sepertinya tidak kaget pada saat tadi aku menyebutkan namanya. Biasanya dia akan bereaksi dengan berlebihan jika mendengar nama Song Joong Ki. Kenapa dia?

“Hm.” Gary mengangguk kecil.

“Kata Jae Suk Oppa dia datang menggantikan seseorang, siapa?.”

Gary tidak menjawab. Sepertinya dia tau, tapi kenapa dia tidak mengatakannya padaku? Kenapa sepertinya hanya aku yang tidak mengetahui salah satu member yang akan digantikan?

***

“Ji Hyo Noona!.”

Joong Ki menyambutku begitu aku dan Gary tiba. Sudah cukup lama kami tidak berjumpa, karena dia beberapa bulan ini sibuk dengan film dan dramanya.

“Ya! Joong Ki-ah.”

“Ji Hyo Noona, bagaimana kabarmu?.”

“Baik, kau sendiri? kata Jae Suk Oppa kau datang untuk menggantikan seseorang. Siapa?.”

Joong Ki diam, dia terlihat melirik para member lain. aku tidak mengerti, kenapa mereka semua bersikap seperti itu, kenapa seolah hanya aku yang tidak tau apapun. Aku melirik Jong Kook Oppa yang tidak biasanya diam, Kwang Soo juga seperti itu. apa aku yang akan keluar? Tapi kenapa?

“Ayo bersiap,  race akan segera dimulai.” Ucap salah satu PD.

***

Tidak ada bintang tamu, race kali ini hanya kami para member dan ditambah Joong Ki. Aku merasa janggal, ada yang aneh. Sepanjang race entah kenapa aku merasa tidak nyaman, aku tidak bisa tertawa seperti biasanya. Hiburan dari Oppa-Oppa seakan tidak mempan lagi membuatku tertawa. Ini seperti saat Joong Ki memutuskan untuk berhenti dan tidak bersama kami lagi.

“Ji Hyo...”

Aku tersenyum pada Gary, dia duduk disampingku dengan membawa sebotol air mineral.

“Terimakasih Oppa...”

“Jika ini adalah pertemuan terakhir kita, apa yang kau rasakan?.”

Deg!
Kenapa Gary mengatakan itu. apakah dia yang akan pergi?
“Huh?.”

Gary tersenyum, dia membelai rambutku sekilas kemudian beranjak mendekati Jong Kook Oppa. Kenapa dia mengatakan hal itu? apakah Gary yang akan digantikan? Oh! Jangan...

***

“Apa kau berbohong Oppa?.” Tanyaku hampir mendesah putus asa. Aku menatapnya dari ujung barisan tak percaya. Oppa...

“Tidak, aku memang akan meninggalkan kalian sementara. Aku harus pergi. Suatu saat jika ada kesempatan lagi untuk berada disini, aku akan kembali.” Ucap Gary, dia tak menatapku. Dia hanya melihat kearah kamera. Bukan mengucapkan kata berpisah denganku tapi dengan mereka semua. Para penggemarnya.

“Gary Oppa...” gumanku pelan. Bahuku dirangkul Suk Jin Oppa. Dia memang sangat mengerti aku. aku menatap Suk Jin Oppa. Kenapa dia tega tidak mengatakan ini padaku dari tadi?

“Gary sendiri yang memintanya.” Bisik Suk Jin Oppa.

***

“Apa ini alasan Oppa hari ini menjemputku?.” Tanyaku begitu berada dalam satu mobil dengan Gary.

“Ini hari spesial kita. Senin.”

“Kenapa Oppa tidak mengatakannya sejak tadi?.” Tanyaku marah padanya.

“Apa kau akan kehilangan aku? apa kau keberatan aku pergi? Ji Hyo-ah aku cemas, jika mengingat kau tidak akan pernah merasa kehilanganku.” Dia menutup kedua matanya, menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi.

“Apa yang Oppa katakan?.” Aku menarik jaketnya hingga dia menegakkan tubuhnya menghadapku. “Kenapa Oppa berpikir seperti itu? Tentu saja aku kehilangan kau Oppa...”

“Ji Hyo-ah...”

Aku menerjang tubuhnya, memeluknya erat untuk menangis menumpahkan segala kekesalanku padanya, kekecewaanku padanya. Kenapa setalah aku merasakan nyaman padanya dia malah pergi begitu saja? Aku merasakan Gary juga memelukku dengan erat, mencium puncak kepalaku beberapa kali kemudian membenamkan kepalanya disela rambutku.

“Aku menyukaimu dari sejak lama, Ji Hyo.”

“Oppa...” aku semakin mengeratkan pelukanku pada Gary. “Jangan pergi.”

“Ini tidak akan lama.”

“Tidak. Jangan pergi, sampai kapanpun.”

“Ji Hyo-ah...” Gary mengurai pelukanku dari tubuhnya. Ia menatapku dengan lebut. Sangat menenangkan.

“Oppa...”

“Tunggu aku, sebentar saja.” Setelah mengatakan itu, dia menciumku tepat di bibir. Untuk pertama kalinya, dia melakukannya...

Setelah cukup lama dia melepaskannya kemudian mencium kening dan kedua pipiku. Dia merengkuh pipiku dengan kedua tangannya.

“Tunggu aku, sebentar. Ini tidak akan lama.”

“Oppa... aku akan menunggumu.”

Gary tersenyum, dia mengelus kedua pipiku kemudian meraihku dalam pelukannya.
“Tunggu aku, ditempat dimana biasanya aku berada.”

***

Aku membuka mataku yang tersa begitu berat. Sisi tempat tidurku kosong, padahal aku ingat semalam Gary menemaniku disini. Apa sekarang dia sudah benar-benar pergi?
Kulihat ada secarik kertas diatas nakas.

Song Ji Hyo

Aku sangat menyukaimu, aku mencintaimu. Aku tidak tau perasaanmu saat ini padaku, tapi aku berharap dengan kepergiaku, kau bisa menyadari sebuah perasaan padaku, aku harap kau bisa membalas perasaanku ini. datanglah ke tempatku sesukau. Aku berikan kunci apartemenku, datanglah kesana. Aku mohon...
Ji Hyo. Aku akan segera kembali hanya untukmu...

Kang Gary

Aku segera bergegas mandi dan berpakaian, kemudian dengan cepat menyambar kunci mobilku. Semoga kau masih disana Oppa. Tunggu aku, sebentar saja.

***

“Oppa!.”

Kosong! Tak ada siapapun disini. Gary telah pergi. Namun, ada sesuatu diatas meja. Seikat bunga mawar merah dan sebuah kotak kristal. Aku membukanya, sebuah kalung yang begitu indah. KG sebagai bandul dari kalung itu. ada juga sebuah surat.

Song Ji Hyo

Setelah kau mendapatkan surat ini, aku mungkin telah pergi. Ji Hyo aku tak hentinya mengatakan aku mencintai kau. sekarang, ini ada sebuah kalung untukmu, hanya untukmu. Aku harap kau memakainya, dan saat aku bertemu denganmu lagi nanti kau memakainya. Itu akan sangat membahagiakan untukku.

Ji Hyo. Jaga diri baik-baik... jaga kesehatan. Aku akan segera kembali hanya untukmu. Selalu hanya untukmu.

Yang mencintaimu
Kang Gary.

“Oppa...” apa aku sekarang merasakan kehilangan dia? Aku meluruh, duduk dilantai dengan kepala menunduk dimeja. Tubuhku bergetar hebat.
“Jangan pergi Oppa....”

***

Setelah kepergian Gary kemarin, setiap ada kesempatan aku pasti selalu memeriksa ponselku. Kenapa Gary tidak juga menghubungiku? Apa dia tidak menerima pesan suaraku? Aku menatap nanar ponselku yang kini menampilkan foto Gary. Dari dulu memang selalu foto dia, tanpa diketahui siapapun.

“Gary Oppa... kenapa kau tega sekali padaku? Kenapa kau sama sekali tidak menghubungiku Oppa?.”

Aku kembali mendial nomornya, aku harap kali ini aktif dan bisa mendengar suaranya. Namun lagi-lagi tersambung dengan pesan suara.

“Gary Oppa... hubungi aku sesekali. Apa Oppa ingin benar-benar meninggalkanku?.”

Aku kembali menyimpan ponselku dimeja, menatap benda itu. aku hanya bisa berharap Gary menghubungiku walau sekedar pesan singkat atau telpon mengatakan hallo. Gary Oppa...

***

Sudah 6 bulan semenjak kepergian Gary, tak pernah ada pesan, tak ada telepon. Dan  aku selalu berada ditempat ini, menunggumu. Tidak, bukan hanya tempat ini, tapi dua tempat yang selalu aku kunjungi. Disini, dicafe miliknya dan di apartemennya. Gary Oppa... apa kau ingat aku?

Aku menempelkan struk pembayaran makanan dicafenya ini diruangan kerjanya. Semuanya telah tersusun, membentuk sebuah kalimat pendek yang hampir sempurna.

“Oppa aku merindukanmu.” Gumanku.

“Oppa, ini hari Senin. Oppa mengatakan ini hari spesial kita. Kenapa Oppa tidak kunjung datang?.”

Ponselku bergetar. Panggilan masuk dari Jae Suk Oppa.
“Ya Oppa...”

“Aku didepan ke cafe milik Gary, menjemputmu.”

“Aku segera keluar Oppa.”

“Baik, aku tunggu.”

Aku segera menghampiri Jae Suk Oppa yang telah benar-benar ada di depan cafe. Selama bekerja aku memang selalu berusaha profesional, aku berusaha menutupi kesedihanku walau terkadang member lain menatapku iba. Mereka pun sekarang lebih sering merangkulku, seakan menguatkan aku. mengatakan, kau bisa. Kau kuat Ji Hyo.

Pada saat Gary menonton, mungkin dia akan menyangka aku tidak merasa kehilangannya sedikitpun, mungkin dia akan lega dengan melihatku atau bahkan kecewa? Yang jelas, yang perlu kau tau. Aku kehilanganmu Gary. Aku merindukanmu.

***

“Hyung! Berhenti menjadi pengecut! Datanglah...”

Kenapa dengan Joong Ki? Tidak biasanya dia marah-marah. Aku melihatnya sedang berbincang dengan seseorang melalui ponselnya.

“Gary Hyung...”

Gary? Dia menghubungi Joong Ki? Kenapa dia tidak menghubungiku? Aku merapatkan tubuhku ke dinding, agar Joong Ki tidak melihatku mendengarkan percakapannya.

“Hyung! Ji Hyo Noona tidak sebaik dilayar kaca. Ji Hyo Noona sering melamun, dia lebih sering diam. Apa kau tega membuatnya seperti ini Hyung? Apa kau berbohong tentang kau yang mencintainya?.”

“Hyung! Apa kau masih mencintai Ji Hyo Noona? Atau kepergianmu ini karena mendapatkan yang lain?.”

Deg!
Jantungku berdetak begitu cepat. Benar apa kata Joong Ki, bisa saja disana dia telah bersama wanita lain dan aku menunggunya tanpa tau dia akan kembali untukku atau tidak. Oppa... kau mengatakan akan kembali hanya untukku, apa itu benar?

***

“Ji Hyo-ah... kau merindukanku?.”

Aku mengerjap beberapa kali, diharapanku berdiri Gary disana.

“Oppa...” aku mencoba menggapainya, tapi dia mundur menjauh.

“Ji Hyo-ah... tunggu aku sebentar lagi.” Ucapnya, setelah itu Gary menghilang dari pandangan.

“Oppa...”

Aku terduduk dengan tangan terulur. Tubuhku di penuhi keringat dingin, aku memimpikan Gary. Dia bukan datang, dia malah menjauh dan pergi dariku. Aku mengamati sekeliling kamar ini, kamar Gary. Sepulang shooting aku memang pulang kesini. Entah kenapa mendengar percakapan Joong Ki kemarin membuat pikiranku terus melayang pada Gary.

“Oppa...” desahku, aku menekan dadaku yang terasa begitu sesak dan kosong secara bersamaan. Ada apa denganku? Apa aku benar-benar menyukainya?.

Ya! kau menyukainya Song Ji Hyo, Kau menyukai Kang Gary sejak lama. Dewi dalam diriku menjawab. Benarkah aku menyukainya?

Ya! dari dulu, apa kau tidak menyadarinya? Dia menjawab lagi dan memang benar, sepertinya aku memang menyukai Gary Oppa, sejak lama.

“Aku merindukanmu Oppa... datanglah...”

***

Sore ini setelah aku menyelesaikan rutinitasku aku kembali berkunjung ke cafe milik Gary, aku duduk di sofa yang cukup panjang dalam ruang kerjanya. Pemandangan disini benar-benar indah.

“Gary Oppa, bagaimana kabarmu disana? Apa kau merindukanku juga?.”

Kutumpukan daguku pada tangan yang berada di sandaran kursi. Aku menatap ruangan ini dalam diam. Bayangan saat kebersamaanku dengannya kembali berkelebat dipikiranku.

“Ini aku siapkan ini dengan spesial untukmu sebelum kita pergi.” Gary membawakanku semangkuk ice cream kesukaanku. Akupun menerimanya dengan senang hati. Kemudian kami duduk berhadapan, dia di kursi kerjanya sementara aku dihadapannya.

“Ji Hyo-ah...”

“Iya Oppa?.”

“Apa kau mencintaiku?.”

Aku tak bisa menahan tawaku untuk tidak meledak. Aku tertawa didepannya begitupun dengan dia.

“Oppa jangan becanda! Kita hanya teman Oppa.”

Aku tersenyum miris jika mengingat itu, sepertinya aku merasakan hal yang bukan hanya sekedar perasaan teman saja sekarang. Bodohnya aku baru menyadari perasaanku sekarang, setelah kepergiannya yang entah akan kembali atau tidak. aku menghela nafas panjang kemudian menatap rangkaian struk yang telah selesai aku susun menjadi sebuah kata-kata. Aku mencintaimu Oppa... semoga aku tidak terlambat.

***

Samar-samar aku melihat Gary dihadapanku, dia membelai rambutku dengan bibir yang tersenyum begitu menawan padaku.

“Oppa...”

Belaian pada rambutku itu begitu nyata, dia membelainya dengan begitu lembut. Jika ini mimpi lagi, aku ingin tidur lebih lama.

“Jangan pergi lagi Oppa...”

“Tidak akan.”

Aku mendengar bisikan itu, aku hanya tersenyum dalam mimpiku. Setidaknya, biarkanlah aku bahagia bertemu dengannya dalam mimpiku.

“Aku merindukanmu Oppa...”

***

Aku terbangun dari tidurku, hari sudah menjelang malam. Aku tertidur di ruang kerja Gary lagi. Tanpa aku sadari aku hanya bisa tersenyum mengingat mimpiku itu.

Aku menghela nafas kemudian aku memutuskan untuk keluar dan memesan makanan untukku. Aku lapar sekali.

“Tolong bawakan aku makanan seperti biasa.” Ucapku pada seorang waiters

Setelah memesan aku kembali keruangan Gary. Menikmati pemandangan malam dari ruangan ini. tak lama pesananku datang.

“Ini pesanan anda.”

Beberapa makanan dan semangkuk ice cream tersedia dihadapanku. Aku menikmati perlahan makananku. Semua makanan ini benar-benar enak, enak sekali. Aku hampir ketagihan dengan makanan disini, apalagi jika Gary yang membuatkannya untukku. Hmm... ini benar-benar berbeda dari biasanya, ini seperti masakan hasil dari tangan Gary. Apa aku begitu merindukannya? Hingga masakan chef disini saja terasa seperti buatan Gary? Aku hanya bisa tertawa kecil mengingatnya.

Aku meraih ice cream itu dan menikmatinya dengan pandangan yang tak lepas dari kerlap-kerlip lampu kota dihadapanku.

“Oppa, sebenarnya kau ada disebelah mana kota ini?.”

Aku mengerutkan keningku saat merasakan sesuatu yang keras dalam mulutku. Apa ini? kenapa dalam ice cream ada benda yang begitu keras?

Aku mengeluarkannya dari dalam mulutku. Mataku terbelalak. Sebuah cincin dalam genggamanku. Apakah arti dari semua ini? aku melihat didalam cincin itu ada sebuah kata, Marry Me?

Aku berjalan cepat menuju dapur cafe ini, aku harus menanyakan tentang hal ini. apakah ada yang akan melamar pasangannya dengan memasukan cincin ini dan ice cream ini malah diberikan padaku?

“Chef...”

Koki disini memang seorang pria, dia berbalik. Nafasku tercekat, siapakah yang berada dihadapanku ini? apakah ini hanya halusinasi ataukah kenyataan?

“Ji Hyo...”

“Gary Oppa...”


***

Tamat.

Jumat, 19 Juni 2015

Copyright© 2015 by Nenden S. Sopiah

2 comments: