Here, for You
Author : Nenden S. Sopiah
Title : Here, for You
Genre : Romance
Cast : Song Ji Hyo, Kang Gary (MondayCouple)
***
“Gary Oppa...”
“Hmm...”
“Oppa...”
Gary tersenyum
kecil tanpa mengalihkan pandangan sedikitpun padaku yang sedang merajuk
padanya. Sedari tadi dia hanya bergumam dan bergumam saja, tanpa melirik
sedikitpun kearahku.
“Ini hari
senin.” Guman Gary.
“Hm, apa yang
Oppa katakan?.” Tanyaku sambil menatapnya. Namun aku segera berpaling untuk
meraih ponselku yang nampak berdering.
“Ji Hyo-ah! Dimana kau? Apa kau bersama Kang Gary?.” Jae Suk Oppa menelponku.
“Iya Oppa, kami
sedang dalam perjalanan.”
“Kalian jangan malah berkencan, sebentar lagi kita
akan mulai.”
“Iya Oppa. Kau
menganggu sekali, lagi pula kita baru berangkat Oppa.”
“YA! Ji Hyo-ah.”
“Ya Oppa.”
“Song Joong Ki datang.”
“Huh?.” Aku
menatap kearah Gary sekilas, dia nampak kaget dengan teriakanku tadi.
“Oppa jangan berbohong
padaku, Oppa bilang Song Joong Ki? Dia datang?.” Ucapku agak berbisik, tidak
enak pada Gary.
“Kau tidak tau? Yaaa... pantas saja kau telat. Dia
datang lagi untuk menggantikan satu orang dari kita.”
“Apa? Oppa apa
yang Oppa katakan? Jangan terus-terusan berbohong padaku Oppa!.”
“Aku tidak berbohong! Kang Gary...”
“Sudah dulu Oppa
kami sebentar lagi sampai.”
“Oh... oke.”
“Gary Oppa...”
aku menatap Gary, dia hanya menatap lurus kedepan. Dia begitu fokus saat
mengendarai mobil. Aku sangat terkesan saat dia tenang seperti itu.
“Kenapa?.”
“Oppa tau Song
Joong Ki kembali?.” Tanyaku menyelidik, karena dia sepertinya tidak kaget pada
saat tadi aku menyebutkan namanya. Biasanya dia akan bereaksi dengan berlebihan
jika mendengar nama Song Joong Ki. Kenapa dia?
“Hm.” Gary
mengangguk kecil.
“Kata Jae Suk
Oppa dia datang menggantikan seseorang, siapa?.”
Gary tidak
menjawab. Sepertinya dia tau, tapi kenapa dia tidak mengatakannya padaku?
Kenapa sepertinya hanya aku yang tidak mengetahui salah satu member yang akan
digantikan?
***
“Ji Hyo Noona!.”
Joong Ki
menyambutku begitu aku dan Gary tiba. Sudah cukup lama kami tidak berjumpa,
karena dia beberapa bulan ini sibuk dengan film dan dramanya.
“Ya! Joong Ki-ah.”
“Ji Hyo Noona,
bagaimana kabarmu?.”
“Baik, kau
sendiri? kata Jae Suk Oppa kau datang untuk menggantikan seseorang. Siapa?.”
Joong Ki diam,
dia terlihat melirik para member lain. aku tidak mengerti, kenapa mereka semua
bersikap seperti itu, kenapa seolah hanya aku yang tidak tau apapun. Aku
melirik Jong Kook Oppa yang tidak biasanya diam, Kwang Soo juga seperti itu.
apa aku yang akan keluar? Tapi kenapa?
“Ayo
bersiap, race akan segera dimulai.” Ucap
salah satu PD.
***
Tidak ada
bintang tamu, race kali ini hanya kami para member dan ditambah Joong Ki. Aku
merasa janggal, ada yang aneh. Sepanjang race entah kenapa aku merasa tidak
nyaman, aku tidak bisa tertawa seperti biasanya. Hiburan dari Oppa-Oppa seakan
tidak mempan lagi membuatku tertawa. Ini seperti saat Joong Ki memutuskan untuk
berhenti dan tidak bersama kami lagi.
“Ji Hyo...”
Aku tersenyum
pada Gary, dia duduk disampingku dengan membawa sebotol air mineral.
“Terimakasih Oppa...”
“Jika ini adalah
pertemuan terakhir kita, apa yang kau rasakan?.”
Deg!
Kenapa Gary
mengatakan itu. apakah dia yang akan pergi?
“Huh?.”
Gary tersenyum,
dia membelai rambutku sekilas kemudian beranjak mendekati Jong Kook Oppa.
Kenapa dia mengatakan hal itu? apakah Gary yang akan digantikan? Oh! Jangan...
***
“Apa kau
berbohong Oppa?.” Tanyaku hampir mendesah putus asa. Aku menatapnya dari ujung
barisan tak percaya. Oppa...
“Tidak, aku
memang akan meninggalkan kalian sementara. Aku harus pergi. Suatu saat jika ada
kesempatan lagi untuk berada disini, aku akan kembali.” Ucap Gary, dia tak
menatapku. Dia hanya melihat kearah kamera. Bukan mengucapkan kata berpisah
denganku tapi dengan mereka semua. Para penggemarnya.
“Gary Oppa...”
gumanku pelan. Bahuku dirangkul Suk Jin Oppa. Dia memang sangat mengerti aku.
aku menatap Suk Jin Oppa. Kenapa dia tega tidak mengatakan ini padaku dari
tadi?
“Gary sendiri
yang memintanya.” Bisik Suk Jin Oppa.
***
“Apa ini alasan
Oppa hari ini menjemputku?.” Tanyaku begitu berada dalam satu mobil dengan
Gary.
“Ini hari
spesial kita. Senin.”
“Kenapa Oppa
tidak mengatakannya sejak tadi?.” Tanyaku marah padanya.
“Apa kau akan
kehilangan aku? apa kau keberatan aku pergi? Ji Hyo-ah aku cemas, jika
mengingat kau tidak akan pernah merasa kehilanganku.” Dia menutup kedua
matanya, menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi.
“Apa yang Oppa
katakan?.” Aku menarik jaketnya hingga dia menegakkan tubuhnya menghadapku.
“Kenapa Oppa berpikir seperti itu? Tentu saja aku kehilangan kau Oppa...”
“Ji Hyo-ah...”
Aku menerjang
tubuhnya, memeluknya erat untuk menangis menumpahkan segala kekesalanku
padanya, kekecewaanku padanya. Kenapa setalah aku merasakan nyaman padanya dia
malah pergi begitu saja? Aku merasakan Gary juga memelukku dengan erat, mencium
puncak kepalaku beberapa kali kemudian membenamkan kepalanya disela rambutku.
“Aku menyukaimu
dari sejak lama, Ji Hyo.”
“Oppa...” aku
semakin mengeratkan pelukanku pada Gary. “Jangan pergi.”
“Ini tidak akan
lama.”
“Tidak. Jangan
pergi, sampai kapanpun.”
“Ji Hyo-ah...”
Gary mengurai pelukanku dari tubuhnya. Ia menatapku dengan lebut. Sangat
menenangkan.
“Oppa...”
“Tunggu aku, sebentar
saja.” Setelah mengatakan itu, dia menciumku tepat di bibir. Untuk pertama
kalinya, dia melakukannya...
Setelah cukup
lama dia melepaskannya kemudian mencium kening dan kedua pipiku. Dia merengkuh
pipiku dengan kedua tangannya.
“Tunggu aku,
sebentar. Ini tidak akan lama.”
“Oppa... aku
akan menunggumu.”
Gary tersenyum,
dia mengelus kedua pipiku kemudian meraihku dalam pelukannya.
“Tunggu aku,
ditempat dimana biasanya aku berada.”
***
Aku membuka
mataku yang tersa begitu berat. Sisi tempat tidurku kosong, padahal aku ingat
semalam Gary menemaniku disini. Apa sekarang dia sudah benar-benar pergi?
Kulihat ada
secarik kertas diatas nakas.
Song Ji Hyo
Aku sangat menyukaimu, aku mencintaimu. Aku tidak
tau perasaanmu saat ini padaku, tapi aku berharap dengan kepergiaku, kau bisa
menyadari sebuah perasaan padaku, aku harap kau bisa membalas perasaanku ini.
datanglah ke tempatku sesukau. Aku berikan kunci apartemenku, datanglah kesana.
Aku mohon...
Ji Hyo. Aku akan segera kembali hanya untukmu...
Kang Gary
Aku segera
bergegas mandi dan berpakaian, kemudian dengan cepat menyambar kunci mobilku.
Semoga kau masih disana Oppa. Tunggu aku, sebentar saja.
***
“Oppa!.”
Kosong! Tak ada
siapapun disini. Gary telah pergi. Namun, ada sesuatu diatas meja. Seikat bunga
mawar merah dan sebuah kotak kristal. Aku membukanya, sebuah kalung yang begitu
indah. KG sebagai bandul dari kalung itu. ada juga sebuah surat.
Song Ji Hyo
Setelah kau mendapatkan surat ini, aku mungkin telah
pergi. Ji Hyo aku tak hentinya mengatakan aku mencintai kau. sekarang, ini ada
sebuah kalung untukmu, hanya untukmu. Aku harap kau memakainya, dan saat aku
bertemu denganmu lagi nanti kau memakainya. Itu akan sangat membahagiakan
untukku.
Ji Hyo. Jaga diri baik-baik... jaga kesehatan. Aku
akan segera kembali hanya untukmu. Selalu hanya untukmu.
Yang mencintaimu
Kang Gary.
“Oppa...” apa
aku sekarang merasakan kehilangan dia? Aku meluruh, duduk dilantai dengan
kepala menunduk dimeja. Tubuhku bergetar hebat.
“Jangan pergi
Oppa....”
***
Setelah
kepergian Gary kemarin, setiap ada kesempatan aku pasti selalu memeriksa
ponselku. Kenapa Gary tidak juga menghubungiku? Apa dia tidak menerima pesan
suaraku? Aku menatap nanar ponselku yang kini menampilkan foto Gary. Dari dulu
memang selalu foto dia, tanpa diketahui siapapun.
“Gary Oppa...
kenapa kau tega sekali padaku? Kenapa kau sama sekali tidak menghubungiku
Oppa?.”
Aku kembali mendial
nomornya, aku harap kali ini aktif dan bisa mendengar suaranya. Namun lagi-lagi
tersambung dengan pesan suara.
“Gary Oppa...
hubungi aku sesekali. Apa Oppa ingin benar-benar meninggalkanku?.”
Aku kembali
menyimpan ponselku dimeja, menatap benda itu. aku hanya bisa berharap Gary
menghubungiku walau sekedar pesan singkat atau telpon mengatakan hallo. Gary
Oppa...
***
Sudah 6 bulan
semenjak kepergian Gary, tak pernah ada pesan, tak ada telepon. Dan aku selalu berada ditempat ini, menunggumu.
Tidak, bukan hanya tempat ini, tapi dua tempat yang selalu aku kunjungi.
Disini, dicafe miliknya dan di apartemennya. Gary Oppa... apa kau ingat aku?
Aku menempelkan
struk pembayaran makanan dicafenya ini diruangan kerjanya. Semuanya telah
tersusun, membentuk sebuah kalimat pendek yang hampir sempurna.
“Oppa aku
merindukanmu.” Gumanku.
“Oppa, ini hari
Senin. Oppa mengatakan ini hari spesial kita. Kenapa Oppa tidak kunjung
datang?.”
Ponselku
bergetar. Panggilan masuk dari Jae Suk Oppa.
“Ya Oppa...”
“Aku didepan ke cafe milik Gary, menjemputmu.”
“Aku segera
keluar Oppa.”
“Baik, aku tunggu.”
Aku segera
menghampiri Jae Suk Oppa yang telah benar-benar ada di depan cafe. Selama
bekerja aku memang selalu berusaha profesional, aku berusaha menutupi kesedihanku
walau terkadang member lain menatapku iba. Mereka pun sekarang lebih sering
merangkulku, seakan menguatkan aku. mengatakan, kau bisa. Kau kuat Ji Hyo.
Pada saat Gary
menonton, mungkin dia akan menyangka aku tidak merasa kehilangannya sedikitpun,
mungkin dia akan lega dengan melihatku atau bahkan kecewa? Yang jelas, yang
perlu kau tau. Aku kehilanganmu Gary. Aku merindukanmu.
***
“Hyung! Berhenti
menjadi pengecut! Datanglah...”
Kenapa dengan
Joong Ki? Tidak biasanya dia marah-marah. Aku melihatnya sedang berbincang
dengan seseorang melalui ponselnya.
“Gary Hyung...”
Gary? Dia
menghubungi Joong Ki? Kenapa dia tidak menghubungiku? Aku merapatkan tubuhku ke
dinding, agar Joong Ki tidak melihatku mendengarkan percakapannya.
“Hyung! Ji Hyo
Noona tidak sebaik dilayar kaca. Ji Hyo Noona sering melamun, dia lebih sering
diam. Apa kau tega membuatnya seperti ini Hyung? Apa kau berbohong tentang kau
yang mencintainya?.”
“Hyung! Apa kau
masih mencintai Ji Hyo Noona? Atau kepergianmu ini karena mendapatkan yang
lain?.”
Deg!
Jantungku
berdetak begitu cepat. Benar apa kata Joong Ki, bisa saja disana dia telah
bersama wanita lain dan aku menunggunya tanpa tau dia akan kembali untukku atau
tidak. Oppa... kau mengatakan akan kembali hanya untukku, apa itu benar?
***
“Ji Hyo-ah...
kau merindukanku?.”
Aku mengerjap
beberapa kali, diharapanku berdiri Gary disana.
“Oppa...” aku
mencoba menggapainya, tapi dia mundur menjauh.
“Ji Hyo-ah...
tunggu aku sebentar lagi.” Ucapnya, setelah itu Gary menghilang dari pandangan.
“Oppa...”
Aku terduduk
dengan tangan terulur. Tubuhku di penuhi keringat dingin, aku memimpikan Gary.
Dia bukan datang, dia malah menjauh dan pergi dariku. Aku mengamati sekeliling
kamar ini, kamar Gary. Sepulang shooting aku memang pulang kesini. Entah kenapa
mendengar percakapan Joong Ki kemarin membuat pikiranku terus melayang pada
Gary.
“Oppa...”
desahku, aku menekan dadaku yang terasa begitu sesak dan kosong secara
bersamaan. Ada apa denganku? Apa aku benar-benar menyukainya?.
Ya! kau menyukainya Song Ji Hyo, Kau menyukai Kang
Gary sejak lama. Dewi dalam
diriku menjawab. Benarkah aku menyukainya?
Ya! dari dulu, apa kau tidak menyadarinya? Dia menjawab lagi dan memang benar, sepertinya aku
memang menyukai Gary Oppa, sejak lama.
“Aku
merindukanmu Oppa... datanglah...”
***
Sore ini setelah
aku menyelesaikan rutinitasku aku kembali berkunjung ke cafe milik Gary, aku
duduk di sofa yang cukup panjang dalam ruang kerjanya. Pemandangan disini
benar-benar indah.
“Gary Oppa,
bagaimana kabarmu disana? Apa kau merindukanku juga?.”
Kutumpukan
daguku pada tangan yang berada di sandaran kursi. Aku menatap ruangan ini dalam
diam. Bayangan saat kebersamaanku dengannya kembali berkelebat dipikiranku.
“Ini aku siapkan ini dengan spesial untukmu sebelum
kita pergi.” Gary membawakanku semangkuk ice cream kesukaanku. Akupun
menerimanya dengan senang hati. Kemudian kami duduk berhadapan, dia di kursi
kerjanya sementara aku dihadapannya.
“Ji Hyo-ah...”
“Iya Oppa?.”
“Apa kau mencintaiku?.”
Aku tak bisa menahan tawaku untuk tidak meledak. Aku
tertawa didepannya begitupun dengan dia.
“Oppa jangan becanda! Kita hanya teman Oppa.”
Aku tersenyum
miris jika mengingat itu, sepertinya aku merasakan hal yang bukan hanya sekedar
perasaan teman saja sekarang. Bodohnya aku baru menyadari perasaanku sekarang,
setelah kepergiannya yang entah akan kembali atau tidak. aku menghela nafas
panjang kemudian menatap rangkaian struk yang telah selesai aku susun menjadi
sebuah kata-kata. Aku mencintaimu Oppa... semoga aku tidak terlambat.
***
Samar-samar aku
melihat Gary dihadapanku, dia membelai rambutku dengan bibir yang tersenyum
begitu menawan padaku.
“Oppa...”
Belaian pada
rambutku itu begitu nyata, dia membelainya dengan begitu lembut. Jika ini mimpi
lagi, aku ingin tidur lebih lama.
“Jangan pergi
lagi Oppa...”
“Tidak akan.”
Aku mendengar
bisikan itu, aku hanya tersenyum dalam mimpiku. Setidaknya, biarkanlah aku
bahagia bertemu dengannya dalam mimpiku.
“Aku
merindukanmu Oppa...”
***
Aku terbangun
dari tidurku, hari sudah menjelang malam. Aku tertidur di ruang kerja Gary
lagi. Tanpa aku sadari aku hanya bisa tersenyum mengingat mimpiku itu.
Aku menghela
nafas kemudian aku memutuskan untuk keluar dan memesan makanan untukku. Aku
lapar sekali.
“Tolong bawakan
aku makanan seperti biasa.” Ucapku pada seorang waiters
Setelah memesan
aku kembali keruangan Gary. Menikmati pemandangan malam dari ruangan ini. tak
lama pesananku datang.
“Ini pesanan
anda.”
Beberapa makanan
dan semangkuk ice cream tersedia dihadapanku. Aku menikmati perlahan makananku.
Semua makanan ini benar-benar enak, enak sekali. Aku hampir ketagihan dengan
makanan disini, apalagi jika Gary yang membuatkannya untukku. Hmm... ini
benar-benar berbeda dari biasanya, ini seperti masakan hasil dari tangan Gary.
Apa aku begitu merindukannya? Hingga masakan chef disini saja terasa seperti
buatan Gary? Aku hanya bisa tertawa kecil mengingatnya.
Aku meraih ice
cream itu dan menikmatinya dengan pandangan yang tak lepas dari kerlap-kerlip
lampu kota dihadapanku.
“Oppa,
sebenarnya kau ada disebelah mana kota ini?.”
Aku mengerutkan
keningku saat merasakan sesuatu yang keras dalam mulutku. Apa ini? kenapa dalam
ice cream ada benda yang begitu keras?
Aku
mengeluarkannya dari dalam mulutku. Mataku terbelalak. Sebuah cincin dalam
genggamanku. Apakah arti dari semua ini? aku melihat didalam cincin itu ada
sebuah kata, Marry Me?
Aku berjalan cepat
menuju dapur cafe ini, aku harus menanyakan tentang hal ini. apakah ada yang
akan melamar pasangannya dengan memasukan cincin ini dan ice cream ini malah
diberikan padaku?
“Chef...”
Koki disini
memang seorang pria, dia berbalik. Nafasku tercekat, siapakah yang berada
dihadapanku ini? apakah ini hanya halusinasi ataukah kenyataan?
“Ji Hyo...”
“Gary Oppa...”
***
Tamat.
Jumat, 19 Juni
2015
Copyright© 2015
by Nenden S. Sopiah


Terbaiiikkkkkk
ReplyDeleteTerbaiiikkkkkk
ReplyDelete