Friday, 1 August 2014

Long Distance Marriage



Chapter 1

Prilly menarik nafas panjang. Ia melirik kearah Reina yang duduk sambil merangkulnya dengan sebuah ponsel yang berada ditangan.
“Saudara Muhammad Ali Syarief... saya nikahkan dan kawinkan anda dengan puteri saya Prilly Latuconsina Binti Fadli Ibrahim dengan maskawin seperangkat alat solat dan uang senilai 31.072.014 rupiah dibayar tunai.”
“Saya terima nikah dan kawinnya Prilly Latuconsina Binti Fadli Ibrahim dengan maskawin tersebut tunai.”
“Bagaimana sah?.”
“SAH.”
“Alhamdulillah...”

Prilly melirik Reina yang berkaca-kaca, kemudian ia memeluk Mamanya itu penuh haru. Akhirnya... ia menikah juga.
“Ma...”
“Selamat sayang... Mama bahagia semuanya udah sah.”
Prilly tersenyum. Walaupun ia belum tahu suaminya itu seperti apa, namun melihat Ibunya menangis karena bahagia membuatnya sangat bahagia. Bahkan teramat bahagia karena bisa membahagiakan orangtuanya ini.
“Tapi maaf ya Ma... Illy belum bisa pulang. Illy masih mau nuntasin dulu kuliah Illy. Maaf juga buat suami Illy. Illy masih belum bisa ketemu sama dia. Illy mau fokus dulu rampungin skripsi Illy.”
“Iya sayang. Jadi kamu belum mau liat suami kamu yang ganteng itu?.”
“Enggak ah Ma. Takut Illy malah pengen pulang. Haha...”
Reina memeluk Prilly, mengecup puncak kepala puterinya itu dengan sayang. Kemarin, setelah Prilly menerima perjodohan itu, ternyata dari pihak laki-laki langsung melamar, mendatangi Fadli, Papa Prilly. Mereka juga yang meminta menikah dengan begitu cepat walau tanpa ada mempelai istri disampingnya. Jadilah begini, Prilly hanya bisa mendengarkan suaminya mengucapkan Ijab qabul dari telepon. Yang penting sah saja bukan?
“Ma... jadi nama suami Illy itu Muhammad Ali Syarief?.”
Reina mengangguk. Ia mengelus rambut Prilly.
“Iya sayang. Kenapa? Kamu kenal?.”
Prilly menggelengkan kepalanya.
“Sepertinya enggak Ma. Ma... kayak gimana sih dia?.”
Reina mengerutkan keningnya.
“Ya kamu liat gih album foto dia kalo mau tau. Kok malah tanya Mama sih? Atau cari di om google.”
“Enggak ah... ayolah Ma ceritain aja. Illy belum mau liat album itu.”
Reina terkekeh kecil kemudian menatap puteri semata wayangnya itu.
“Dia insyaallah soleh sayang, dia sayang banget sama keluarga, dia baik, bonusnya ganteng banget.”
Sebelum Prilly menanggapi ucapan Reina, ponselnya tiba-tiba berdering. Sebuah pesan masuk.
Assalamu’alaikum...
Prilly... ini aku. Ali.
Prilly melirik Reina. Ia memberikan ponselnya pada Mamanya itu.
“Ma... ini Ali.”
“Kok Mama sih? Ya kamu balesin aja. Seenggaknya kamu menjalin komunikasi sama dia sesekali gak ganggukan?.”
Prilly tersenyum tipis lalu mengangguk. Ia menghela nafas kemudian mengetikan sesuatu didalam ponselnya.
Prilly menghela nafas panjang, gimana aku perhatian sama dia kalo aku belum liat dia kayak gimana. Tapi... aku takut malah ganggu konsentrasi aku kalo liat dia sekarang. Nanggung banget ini skripsinya. Prilly melirik Reina kemudian tersenyum tipis. Mungkin saatnya nanti, aku akan pulang untuk melihat dia.

***

Ali tersenyum pada Riani dan Fandi, kedua orangtuanya. Kedua orantuanya terlihat begitu bahagia. Tapi ia pastikan, dirinyalah yang lebih bahagia dari siapapun.
“Makasih Ma... Pa...”
Fandi memeluk jagoannya itu sekilas.
“Papa lebih seneng, kamu samperin mertua kamu gih.”
Ali mengangguk. Kemudian ia beranjak mendekati Fadli yang berdiri memandangi foto Prilly yang dipajang diruang tamu, begitu besar. Istrinya...
“Pa...”
Fadli menengok. Ia tersenyum lalu merangkul Ali.
“Akhirnya Papa punya jagoan yang bisa jagain Barbie cantiknya Papa.”
Ali terkekeh.
“Amin... do’ain aja ya Pa... biar Barbienya bisa bahagia sama Ali. Ali akan usahain buat bahagiain Prilly. Sebisa Ali... sekuat tenaga Ali.”
Fadli menepuk pundak Ali, ia merogoh saku celananya mengambil sesuatu.
“Papa percaya. Oiya... ini nomor ponsel Prilly, dan oiya sebaiknya kamu rahasiain dulu hubungan kamu didepan publik sampai Prilly pulang. Papa takutnya dia belum siap kalo suaminya ternyata superstar kayak kamu.”
Ali menghela nafas panjang. Padahal, rencananya setelah ini ia akan jumpa pers. Mengumumkan pernikahannya ini. tapi apa daya? Benar juga apa kata mertuanya itu. beberapa saat kemudian ia tersenyum sambil memandangi kartu nama yang diberikan Fadli. Ia menyimpan nomor tersebut dalam ponselnya.
“My Barbie...”
Ali kembali tersenyum sambil mengetikan sebuah pesan dalam ponselnya. Kemudian ia mendekati kedua orangtuanya.
“Kamu menginap saja disini Li. Temenin Papa... kasian dia sendiri.”
“Iya Ma... Mama sama Papa hati-hati ya pulangnya.”
“Iya. Fadli kita pulang ya... salam buat Reina dan menantuku juga.” Ucap Riani.
“Iya. Hati-hati dijalannya.”
Ali dan Fadli melambaikan tangannya kearah Riani dan Fandi yang meninggalkan kediaman itu dengan mobil mewahnya.
Ponsel Ali berdering. Pesan balasan untuknya masuk.
Wa’alaikumsalam.
Iya... salam kenal ya. :)
“Masuk Li.” Ajak Fadli.
Ali mengangguk sambil melirik sekilas namun kembali fokus pada ponselnya.

Aku nginap dirumah kamu.
Boleh aku pinjem kamar kamu?

Silahkan...
Mungkin berdebu juga, aku udah lama gak pulang.

Gapapa :)
Kamu lagi apa?
Belum istirahat? Disana udah malem jugakan?

Belum. Iya. Masih speechless. :D
Kamu sendiri? Kok gak istirahat sih?

Aku baru nganterin Mama sama Papa didepan.
Ini aku juga baru mau tidur.
Kamu tidur gih.

Iya, kalo gitu aku tidur ya...
Bye.

Oke. Bye...
Good night Prilly...

Night too Ali...


“Ali? Kamu kenapa? Kok senyu-senyum gitu sih?.”
Ali terkekeh pada Fadli, lalu duduk disamping mertuanya itu.
“Gapapa Pa. Ternyata Prilly perhatian banget Pa.”
Fadli terkekeh. Ia menyeruput kopinya sejenak.
“Iya. Dia emang gitu. Besok ada kerjaan gak?.”
“Ada Pa... Papa belum mau tidur? Papa juga besok kerjakan?.”
“Papa mau telpon Mama dulu. Kamu aja yang tidur sana dikamar Prilly.”
Ali mengangguk kemudian berdiri.
“Kalo gitu Ali tidur duluan ya Pa... Papa jangan malem-malem tidurnya.”
Ali beranjak meninggalkan Fadli setelah Papa mertuanya itu mengangguk kecil. ia tersenyum begitu memasuki kamar Prilly yang didominasi warna biru, ada beberapa foto tergantung didinding ada juga yang diatas nakas. Ada beberapa boneka marrie cat dan doraemon di atas tempat tidurnya dan beberapa di sebuah rak kecil disamping tempat tidurnya.
Ali berjalan menuju meja rias, diatasnya ada beberapa parfum. Ia tersenyum kecil, kemudian ia berjalan lalu merebahkan diri di pembaringan. Sepertinya malam ini aku akan tidur nyenyak. Ali menarik nafas panjang sambil tersenyum. Good night Prilly... mimpiin aku ya...

***

Ali keluar dari kamar mandi dengan tubuh yang sudah segar. Pagi ini ia harus manggung dan dilanjutkan shooting iklan dan FTV barunya. Ia mengambil ponsel yang tidak ada tanda-tanda kehidupannya. Udah siang. Kok Prilly gak sms ya? Ali menghela nafas.

Pagi Prilly...
Belum bangun ya? atau udah pergi?

Lama tak ada balasan, hingga ia memutuskan untuk keluar dari kamar untuk sarapan bersama mertuanya.
“Pagi Pa... belum berangkat ya?.”
“Li... pagi. Belum nih, Bidadari Papa pasti ngomel kalo gak sarapan. Duduk Li, sarapan dulu.”
Ali terkekeh kecil. ia duduk di kursi yang berada di sebelah Fadli. Ia mengambil beberapa makanan yang terhidang.
“Prilly juga bawel banget kalo Papa gak sarapan. Dia bahkan lebih bawel daripada Mamanya. Hati-hati aja ya kamu.”
“Masa sih Pa Prilly bawel?.”
“Banget Ali. Nanti juga kerasa sendiri.”
“Ih kok gitu Pa?.”
“Gapapa. Itu tandanya dia sayang kalo bawel. Kalo cuek, justru dia gak peduli.”
Ali mengangguk-anggukan kepalanya mengerti.
“Jadi, kalo Prilly bawel tandanya sayang?.” Guman Ali pada dirinya sendiri. Ia tersenyum kecil, kemudian menghela nafas panjang.

***

Prilly merogoh saku celananya, kemudian membongkar isi tasnya. Ia melirik ke arah Agni yang merupakan sahabatnya.
“Loe liat HP gue gak?.”
Agni mengangkat bahunya acuh.
“Enggak tuh. Dari pas gue jemput juga loe gak ngeluarin HP.”
Prilly menghembuskan nafasnya lesu. Ia lupa kalau statusnya sekarang berbeda. bukan gadis lajang lagi yang bisa seenaknya pergi kemanapun ia mau. Gimana kalo Ali sms? Mana gak pamit lagi. Duhh...
“Ly? Kenapa sih loe? Aneh gitu? Mau sms Mama loe? Udah ini pake HP gue aja. Biasanya juga nebengkan?.”
“Enggak bukan, ini bukan masalah mau sms Mama. Ini lebih penting, sekarang.”
Agni mengerutkan keningnya. Ia menatap Prilly curiga.
“Apa? Kok liatin guenya gitu banget sih?.”
“Apa yang lebih penting dari Mama loe? Loe kan udah bilang kalo orangtua loe yang terpenting, terutama Mama loe. Tapi sekarang? Ayo ngaku!.”
“Ah? Enggak. Bukan apa-apa. Tapikan semua kepentingan gue disana. Gimana kalo dosen tiba-tiba telpon gue suruh bimbingan dadakan? Kan gak lucu.”
Agni menatap Prilly curiga.
“Bukannya sekarang loe bernagkat ngampus mau bimbingan?.”
“Ya... yaiya. Tapi gimana kalo dibatalin bimbingannya? Kan buat apa gue berangkat? Ya gak? mendingan liat acara musik. Katanya idola loe siapa itu Aliando? Ada ngelive kan hari ini? mendingan kita streaming di apartemen gue.”
Prilly memalingkan wajahnya kearah lain sambil membuang nafasnya. Ia bingung memberi alasan apa lagi pada sahabatnya itu. karena selama ini ia tahu, kalau sahabatnya yang satu ini itu sangat peka.
“Tumben loe ngurusin idola gue? Udah mulai suka loe?.”
“Hah?! Apa? Gue suka dia? Enggak keless... ih.”
Prilly lagi-lagi hanya bisa menghembuskan nafas lega. Cara seperti itu selalu berhasil mengalihkan perhatian Agni, dan buktinya sekarang dia sibuk dengan ponselnya untuk streaming. Gue belum bisa cerita Ni, maaf... Prilly menghela nafas lalu menatap keluar dari kaca mobil umum itu.

***

Tengah malam Ali pulang. Ia memutuskan pulang kerumahnya, mengingat ini sudah tengah malam, takut mengganggu Papa mertuanya beristirahat. Setelah mencharge ponsel dan menghidupkannya, ia merebahkan tubuhnya keatas pembaringan. Prilly kemana ya? kok seharian dia gak hubungin? Apa dia baik?.
Ponsel Ali beberapa kali bergetar. Ia meraih ponselnya dan ternyata ada beberapa pesan masuk.

Ali... maaf tadi aku gak pamit.
Aku abis bimbingan dikampus.

Li? Maaf...
Tadi hp aku ketinggalan.

Ali?

Udah makan belum?
Jangan lupa makan ya...

Kamu lagi kerja atau apa?

Li? Marah?

Udah malem... hp kamu malah mati.
Kamu kerja atau apa?
Kalo kerja, kerja apa sampe larut gini?

Belum pulang juga?

Ali tersenyum membaca beberapa pesan yang masuk dari Prilly. Seharian ini ia memang begitu sibuk, hingga lupa membuka ponselnya. Selama perjalanan pindah-pindah tempat juga ia malah tidur. Ali menghela nafas.

Aku baru aja nyampe rumah.
Aku gak marah kok. :)

Ali menyimpan ponselnya kembali setelah pesan itu terkirim, ia tidak berharap pesannya dibalas, karena memang sudah sangat larut malam. Tapi ternyata ponselnya kembali bergetar.

Syukur kalo gitu.
Udah makan?

Udah tadi. Kamu?
Kok belum tidur?

Aku juga udah.
Nunggu kamu.

:)
Makasih ya... lain kali gak usah ditunggu.
Aku pulangnya gak tentu.

Emangnya kamu kerja apa?
Gapapa kok. Lagipula aku lagi ngerjain tugas juga.

Ada. Yang penting halal buat hidupin kamu. :)
Nanti juga kamu tau.
Yaudah, tapi kalo gak lagi ngerjain tugas tidur aja ya?

Iya...

Iya doang?

Terus?
Aku nanya juga kamu jawabnya gitu.

Ya kan kata Papa biarin kamu sendiri yang tau.

Papa siapa?

Papa kamu.
Udah ah... kamu tidur gih.
Disana pasti lebih malem.

Oh.
Tugas aku masih banyak.
Kamu aja yang tidur gih, kamu pasti capekkan?

Gak ah kalo kamu gak tidur.
Aku temenin ya...

Kalo smsan terus, kapan aku ngerjain tugasnya?

Besok aja lagi yaaang...

Gak bisa, harus selesai sekarang :(
Kok yaaang sih?

Aku telpon aja kalo gitu. Mau?
Gak mau ya aku panggil gitu?

Gak usah. Mahal.
Ya terserah kamu aja sih.

Kalo gitu tidur sekarang!

Ali mengerutkan keningnya. Ia melirik jam dinding. Hampir 20 menit tidak ada balasan dari Prilly. Apa dia udah tidur? Ali mengambil ponselnya kembali.

Yaaang? Udah tidur?

Aku gak suka dibentak Li.

Emang kapan aku bentak kamu sayang?
Ketemu aja belum pernah.

Liat aja sms sebelumnya.
Udah ah, aku capek.

Ali menghela nafas. apa karena tanda seru?

Maaf yaang... jangan marah ya.
Yaudah tidur gih.
Good night sayang...
Have a nice dream. :) :*

You too...

Ali menghela nafas panjang untuk kesekian kalinya. Sepertinya Prilly benar-benar marah padanya. Ini awal... semoga aku bisa ngertiin kamu Prilly... aku sayang kamu... aku gak bakalan sia-siain kesempatan ini. aku akan berusaha memahami kamu... selamat tidur sayang...

***

Bersambung.

5 comments: