Chapter 1
Prilly menarik nafas panjang. Ia
melirik kearah Reina yang duduk sambil merangkulnya dengan sebuah ponsel yang
berada ditangan.
“Saudara
Muhammad Ali Syarief... saya nikahkan dan kawinkan anda dengan puteri saya
Prilly Latuconsina Binti Fadli Ibrahim dengan maskawin seperangkat alat solat
dan uang senilai 31.072.014 rupiah dibayar tunai.”
“Saya
terima nikah dan kawinnya Prilly Latuconsina Binti Fadli Ibrahim dengan
maskawin tersebut tunai.”
“Bagaimana
sah?.”
“SAH.”
“Alhamdulillah...”
Prilly melirik Reina yang
berkaca-kaca, kemudian ia memeluk Mamanya itu penuh haru. Akhirnya... ia
menikah juga.
“Ma...”
“Selamat sayang... Mama bahagia
semuanya udah sah.”
Prilly tersenyum. Walaupun ia belum
tahu suaminya itu seperti apa, namun melihat Ibunya menangis karena bahagia
membuatnya sangat bahagia. Bahkan teramat bahagia karena bisa membahagiakan
orangtuanya ini.
“Tapi maaf ya Ma... Illy belum bisa
pulang. Illy masih mau nuntasin dulu kuliah Illy. Maaf juga buat suami Illy.
Illy masih belum bisa ketemu sama dia. Illy mau fokus dulu rampungin skripsi
Illy.”
“Iya sayang. Jadi kamu belum mau
liat suami kamu yang ganteng itu?.”
“Enggak ah Ma. Takut Illy malah
pengen pulang. Haha...”
Reina memeluk Prilly, mengecup
puncak kepala puterinya itu dengan sayang. Kemarin, setelah Prilly menerima
perjodohan itu, ternyata dari pihak laki-laki langsung melamar, mendatangi
Fadli, Papa Prilly. Mereka juga yang meminta menikah dengan begitu cepat walau
tanpa ada mempelai istri disampingnya. Jadilah begini, Prilly hanya bisa
mendengarkan suaminya mengucapkan Ijab qabul dari telepon. Yang penting sah
saja bukan?
“Ma... jadi nama suami Illy itu
Muhammad Ali Syarief?.”
Reina mengangguk. Ia mengelus
rambut Prilly.
“Iya sayang. Kenapa? Kamu kenal?.”
Prilly menggelengkan kepalanya.
“Sepertinya enggak Ma. Ma... kayak
gimana sih dia?.”
Reina mengerutkan keningnya.
“Ya kamu liat gih album foto dia
kalo mau tau. Kok malah tanya Mama sih? Atau cari di om google.”
“Enggak ah... ayolah Ma ceritain
aja. Illy belum mau liat album itu.”
Reina terkekeh kecil kemudian
menatap puteri semata wayangnya itu.
“Dia insyaallah soleh sayang, dia
sayang banget sama keluarga, dia baik, bonusnya ganteng banget.”
Sebelum Prilly menanggapi ucapan
Reina, ponselnya tiba-tiba berdering. Sebuah pesan masuk.
Assalamu’alaikum...
Prilly... ini
aku. Ali.
Prilly melirik Reina. Ia memberikan
ponselnya pada Mamanya itu.
“Ma... ini Ali.”
“Kok Mama sih? Ya kamu balesin aja.
Seenggaknya kamu menjalin komunikasi sama dia sesekali gak ganggukan?.”
Prilly tersenyum tipis lalu
mengangguk. Ia menghela nafas kemudian mengetikan sesuatu didalam ponselnya.
Prilly menghela nafas panjang, gimana aku perhatian sama dia kalo aku belum
liat dia kayak gimana. Tapi... aku takut malah ganggu konsentrasi aku kalo liat
dia sekarang. Nanggung banget ini skripsinya. Prilly melirik Reina kemudian
tersenyum tipis. Mungkin saatnya nanti,
aku akan pulang untuk melihat dia.
***
Ali tersenyum pada Riani dan Fandi,
kedua orangtuanya. Kedua orantuanya terlihat begitu bahagia. Tapi ia pastikan,
dirinyalah yang lebih bahagia dari siapapun.
“Makasih Ma... Pa...”
Fandi memeluk jagoannya itu
sekilas.
“Papa lebih seneng, kamu samperin
mertua kamu gih.”
Ali mengangguk. Kemudian ia
beranjak mendekati Fadli yang berdiri memandangi foto Prilly yang dipajang
diruang tamu, begitu besar. Istrinya...
“Pa...”
Fadli menengok. Ia tersenyum lalu
merangkul Ali.
“Akhirnya Papa punya jagoan yang
bisa jagain Barbie cantiknya Papa.”
Ali terkekeh.
“Amin... do’ain aja ya Pa... biar
Barbienya bisa bahagia sama Ali. Ali akan usahain buat bahagiain Prilly. Sebisa
Ali... sekuat tenaga Ali.”
Fadli menepuk pundak Ali, ia
merogoh saku celananya mengambil sesuatu.
“Papa percaya. Oiya... ini nomor
ponsel Prilly, dan oiya sebaiknya kamu rahasiain dulu hubungan kamu didepan
publik sampai Prilly pulang. Papa takutnya dia belum siap kalo suaminya
ternyata superstar kayak kamu.”
Ali menghela nafas panjang.
Padahal, rencananya setelah ini ia akan jumpa pers. Mengumumkan pernikahannya
ini. tapi apa daya? Benar juga apa kata mertuanya itu. beberapa saat kemudian
ia tersenyum sambil memandangi kartu nama yang diberikan Fadli. Ia menyimpan
nomor tersebut dalam ponselnya.
“My Barbie...”
Ali kembali tersenyum sambil
mengetikan sebuah pesan dalam ponselnya. Kemudian ia mendekati kedua
orangtuanya.
“Kamu menginap saja disini Li.
Temenin Papa... kasian dia sendiri.”
“Iya Ma... Mama sama Papa hati-hati
ya pulangnya.”
“Iya. Fadli kita pulang ya... salam
buat Reina dan menantuku juga.” Ucap Riani.
“Iya. Hati-hati dijalannya.”
Ali dan Fadli melambaikan tangannya
kearah Riani dan Fandi yang meninggalkan kediaman itu dengan mobil mewahnya.
Ponsel Ali berdering. Pesan balasan
untuknya masuk.
Wa’alaikumsalam.
Iya... salam
kenal ya. :)
“Masuk Li.” Ajak Fadli.
Ali mengangguk sambil melirik sekilas
namun kembali fokus pada ponselnya.
Aku nginap dirumah kamu.
Boleh aku pinjem kamar kamu?
Silahkan...
Mungkin berdebu
juga, aku udah lama gak pulang.
Gapapa :)
Kamu lagi apa?
Belum istirahat? Disana udah malem
jugakan?
Belum. Iya.
Masih speechless. :D
Kamu sendiri?
Kok gak istirahat sih?
Aku baru nganterin Mama sama Papa
didepan.
Ini aku juga baru mau tidur.
Kamu tidur gih.
Iya, kalo gitu
aku tidur ya...
Bye.
Oke. Bye...
Good night Prilly...
Night too Ali...
“Ali? Kamu kenapa? Kok senyu-senyum
gitu sih?.”
Ali terkekeh pada Fadli, lalu duduk
disamping mertuanya itu.
“Gapapa Pa. Ternyata Prilly
perhatian banget Pa.”
Fadli terkekeh. Ia menyeruput
kopinya sejenak.
“Iya. Dia emang gitu. Besok ada
kerjaan gak?.”
“Ada Pa... Papa belum mau tidur?
Papa juga besok kerjakan?.”
“Papa mau telpon Mama dulu. Kamu
aja yang tidur sana dikamar Prilly.”
Ali mengangguk kemudian berdiri.
“Kalo gitu Ali tidur duluan ya
Pa... Papa jangan malem-malem tidurnya.”
Ali beranjak meninggalkan Fadli
setelah Papa mertuanya itu mengangguk kecil. ia tersenyum begitu memasuki kamar
Prilly yang didominasi warna biru, ada beberapa foto tergantung didinding ada
juga yang diatas nakas. Ada beberapa boneka marrie
cat dan doraemon di atas tempat
tidurnya dan beberapa di sebuah rak kecil disamping tempat tidurnya.
Ali berjalan menuju meja rias,
diatasnya ada beberapa parfum. Ia tersenyum kecil, kemudian ia berjalan lalu
merebahkan diri di pembaringan. Sepertinya
malam ini aku akan tidur nyenyak. Ali menarik nafas panjang sambil
tersenyum. Good night Prilly... mimpiin
aku ya...
***
Ali keluar dari kamar mandi dengan
tubuh yang sudah segar. Pagi ini ia harus manggung dan dilanjutkan shooting
iklan dan FTV barunya. Ia mengambil ponsel yang tidak ada tanda-tanda
kehidupannya. Udah siang. Kok Prilly gak
sms ya? Ali menghela nafas.
Pagi Prilly...
Belum bangun ya? atau udah pergi?
Lama tak ada balasan, hingga ia
memutuskan untuk keluar dari kamar untuk sarapan bersama mertuanya.
“Pagi Pa... belum berangkat ya?.”
“Li... pagi. Belum nih, Bidadari
Papa pasti ngomel kalo gak sarapan. Duduk Li, sarapan dulu.”
Ali terkekeh kecil. ia duduk di
kursi yang berada di sebelah Fadli. Ia mengambil beberapa makanan yang
terhidang.
“Prilly juga bawel banget kalo Papa
gak sarapan. Dia bahkan lebih bawel daripada Mamanya. Hati-hati aja ya kamu.”
“Masa sih Pa Prilly bawel?.”
“Banget Ali. Nanti juga kerasa
sendiri.”
“Ih kok gitu Pa?.”
“Gapapa. Itu tandanya dia sayang
kalo bawel. Kalo cuek, justru dia gak peduli.”
Ali mengangguk-anggukan kepalanya
mengerti.
“Jadi, kalo Prilly bawel tandanya
sayang?.” Guman Ali pada dirinya sendiri. Ia tersenyum kecil, kemudian menghela
nafas panjang.
***
Prilly merogoh saku celananya,
kemudian membongkar isi tasnya. Ia melirik ke arah Agni yang merupakan
sahabatnya.
“Loe liat HP gue gak?.”
Agni mengangkat bahunya acuh.
“Enggak tuh. Dari pas gue jemput
juga loe gak ngeluarin HP.”
Prilly menghembuskan nafasnya lesu.
Ia lupa kalau statusnya sekarang berbeda. bukan gadis lajang lagi yang bisa
seenaknya pergi kemanapun ia mau. Gimana
kalo Ali sms? Mana gak pamit lagi. Duhh...
“Ly? Kenapa sih loe? Aneh gitu? Mau
sms Mama loe? Udah ini pake HP gue aja. Biasanya juga nebengkan?.”
“Enggak bukan, ini bukan masalah
mau sms Mama. Ini lebih penting, sekarang.”
Agni mengerutkan keningnya. Ia
menatap Prilly curiga.
“Apa? Kok liatin guenya gitu banget
sih?.”
“Apa yang lebih penting dari Mama
loe? Loe kan udah bilang kalo orangtua loe yang terpenting, terutama Mama loe.
Tapi sekarang? Ayo ngaku!.”
“Ah? Enggak. Bukan apa-apa. Tapikan
semua kepentingan gue disana. Gimana kalo dosen tiba-tiba telpon gue suruh
bimbingan dadakan? Kan gak lucu.”
Agni menatap Prilly curiga.
“Bukannya sekarang loe bernagkat
ngampus mau bimbingan?.”
“Ya... yaiya. Tapi gimana kalo
dibatalin bimbingannya? Kan buat apa gue berangkat? Ya gak? mendingan liat
acara musik. Katanya idola loe siapa itu Aliando? Ada ngelive kan hari ini?
mendingan kita streaming di apartemen gue.”
Prilly memalingkan wajahnya kearah
lain sambil membuang nafasnya. Ia bingung memberi alasan apa lagi pada sahabatnya
itu. karena selama ini ia tahu, kalau sahabatnya yang satu ini itu sangat peka.
“Tumben loe ngurusin idola gue?
Udah mulai suka loe?.”
“Hah?! Apa? Gue suka dia? Enggak
keless... ih.”
Prilly lagi-lagi hanya bisa
menghembuskan nafas lega. Cara seperti itu selalu berhasil mengalihkan
perhatian Agni, dan buktinya sekarang dia sibuk dengan ponselnya untuk
streaming. Gue belum bisa cerita Ni,
maaf... Prilly menghela nafas lalu menatap keluar dari kaca mobil umum itu.
***
Tengah malam Ali pulang. Ia memutuskan
pulang kerumahnya, mengingat ini sudah tengah malam, takut mengganggu Papa
mertuanya beristirahat. Setelah mencharge ponsel dan menghidupkannya, ia
merebahkan tubuhnya keatas pembaringan. Prilly
kemana ya? kok seharian dia gak hubungin? Apa dia baik?.
Ponsel Ali beberapa kali bergetar.
Ia meraih ponselnya dan ternyata ada beberapa pesan masuk.
Ali... maaf tadi
aku gak pamit.
Aku abis
bimbingan dikampus.
Li? Maaf...
Tadi hp aku
ketinggalan.
Ali?
Udah makan
belum?
Jangan lupa
makan ya...
Kamu lagi kerja
atau apa?
Li? Marah?
Udah malem... hp
kamu malah mati.
Kamu kerja atau
apa?
Kalo kerja,
kerja apa sampe larut gini?
Belum pulang
juga?
Ali tersenyum membaca beberapa
pesan yang masuk dari Prilly. Seharian ini ia memang begitu sibuk, hingga lupa
membuka ponselnya. Selama perjalanan pindah-pindah tempat juga ia malah tidur.
Ali menghela nafas.
Aku baru aja nyampe rumah.
Aku gak marah kok. :)
Ali menyimpan ponselnya kembali
setelah pesan itu terkirim, ia tidak berharap pesannya dibalas, karena memang
sudah sangat larut malam. Tapi ternyata ponselnya kembali bergetar.
Syukur kalo
gitu.
Udah makan?
Udah tadi. Kamu?
Kok belum tidur?
Aku juga udah.
Nunggu kamu.
:)
Makasih ya... lain kali gak usah
ditunggu.
Aku pulangnya gak tentu.
Emangnya kamu
kerja apa?
Gapapa kok.
Lagipula aku lagi ngerjain tugas juga.
Ada. Yang penting halal buat
hidupin kamu. :)
Nanti juga kamu tau.
Yaudah, tapi kalo gak lagi ngerjain
tugas tidur aja ya?
Iya...
Iya doang?
Terus?
Aku nanya juga
kamu jawabnya gitu.
Ya kan kata Papa biarin kamu
sendiri yang tau.
Papa siapa?
Papa kamu.
Udah ah... kamu tidur gih.
Disana pasti lebih malem.
Oh.
Tugas aku masih
banyak.
Kamu aja yang
tidur gih, kamu pasti capekkan?
Gak ah kalo kamu gak tidur.
Aku temenin ya...
Kalo smsan
terus, kapan aku ngerjain tugasnya?
Besok aja lagi yaaang...
Gak bisa, harus
selesai sekarang :(
Kok yaaang sih?
Aku telpon aja kalo gitu. Mau?
Gak mau ya aku panggil gitu?
Gak usah. Mahal.
Ya terserah kamu
aja sih.
Kalo gitu tidur sekarang!
Ali mengerutkan keningnya. Ia
melirik jam dinding. Hampir 20 menit tidak ada balasan dari Prilly. Apa dia
udah tidur? Ali mengambil ponselnya kembali.
Yaaang? Udah tidur?
Aku gak suka
dibentak Li.
Emang kapan aku bentak kamu sayang?
Ketemu aja belum pernah.
Liat aja sms
sebelumnya.
Udah ah, aku
capek.
Ali menghela nafas. apa karena
tanda seru?
Maaf yaang... jangan marah ya.
Yaudah tidur gih.
Good night sayang...
Have a nice dream. :) :*
You too...
Ali menghela nafas panjang untuk
kesekian kalinya. Sepertinya Prilly benar-benar marah padanya. Ini awal... semoga aku bisa ngertiin kamu Prilly...
aku sayang kamu... aku gak bakalan sia-siain kesempatan ini. aku akan berusaha
memahami kamu... selamat tidur sayang...
***
Bersambung.
lanjutiiin
ReplyDeleteKeren...lnjut
ReplyDeleteso sweet banget :* Huha
ReplyDeleteharus siapin banyak oksigen nih buat bca cerbung kmu :)
bagus banget
ReplyDeletenyari chapter 2 nya gimana ?
Ka kenapa ga dipublish di wattpad aja?
ReplyDelete