Mata Agni memanas, dadanya berubah menjadi begitu sesak. Ia
sangat terpukul, ia tidak bisa menerima semuanya meskipun ia harus bisa. Ia
memegang dada sebelah kirinya, terasa begitu sakit melihat kenyataan kekasihnya
akan segera pergi meninggalkannya. Disini, sendiri!
Gabriel menepikan mobilnya di jalanan yang cukup sepi. Ia
tidak bisa meneruskan perjalanannya, ia begitu bingung, bimbang, kalut. Ia
tidak bisa fokus pada jalanan yang licin akibat hujan yang begitu lebat. Ia
membukasabuk pengamannya, lalu memiringkan posisinya, menghadapkan diri pada
kekasihnya yang mulai terisak.
Gabriel menghela nafas panjang, ia meraih bahu Agni.
Agni menatap Gabriel dengan air mata yang terus mengalir
dari matanya, ia menundukan kepalanya sejenak.
“G.Gab...” Agni menarik nafas
begitu dalam, “Aku...” ia menengadahkan matanya, mencoba air mata itu agar
tidak turun lagi. Lalu menatap kekasihnya yang hanya menatap dalam diam. “Aku
gak bisa. Aku ikut!”
Gabriel tersenyum getir, ia menarik Agni dalam pelukannya.
Andai bisa, itu akan mempermudah hubungannya dengan gadis ini. Gabriel
menganggukan kepalanya.
“Iya sayang, aku yang akan
meminta ijin sama Papa kamu.”
Agni mengeratkan pelukannya, tubuhnya kembali bergetar,
semakin bergetar. Isakannya semakin menjadi dalam dekapan kekasihnya itu, ia
senang mendengarnya. Tapi, apa Papa
bakalan ngijinin? Tuhan... jika Gabriel jodohku, tolong mudahkan hubungan kami.
Amin...
***
Gabriel menatap Irshad dengan dalam, ia memohon pada Irshad
yang terlihat begitu bingung.
“Oom, saya akan menjamin
kehidupan Agni disana, saya gak akan melakukan apapun yang bukan hak saya, saya
berjanji Oom akan menjaga Agni dengan sekuat saya.”
Irshad berdehem, ia menatap Gabriel tidak tega. Tambah tidak
tega lagi menatap puterinya yang sudah menangis memohon padanya. Apa yang harus
ia lakukan?.
“Begini Gabriel, bukannya Oom
tidak percaya dengan ucapanmu. Tapi... banyak hal yang menjadi alasan Oom tidak
akan mengijinkan Agni pergi.”
“Papa. Agni... mau ikut Pa.”
Irshad mengurai pelukan Agni pada lengan kanannya, ia
menghela nafas panjang. Ia tidak boleh luluh dengan sikap Agni.
“Maaf Agni, tetap tidak bisa.”
“Papa jahat!”
Agni segera pergi meninggalkan kedua lelaki itu, ia berlari
begitu cepat.
BLAM.
Gabriel mendongakkan kepalanya begitu mendengar bantingan
pintu yang begitu keras. Ia menghela nafas panjang. Apakah kisah cintanya akan
berakhir sampai disini?
“Kamu tidak mau mengetahui
alasannya Gabriel?”
Gabriel terdiam. Alasan? Apakah alasan itu akan membuat
hatinya lega? Atau... sebaliknya?
“Kalau Oom berkenan
menceritakannya, saya akan dengan senang hati mendengarkannya.”
Irshad menghela nafas, kenapa begitu sulit? Apalagi
mengingat pemuda di hadapannya ini adalah kekasih puteri kesayangannya.
“Agni sudah di jodohkan.”
Sebuah kilatan petir menyambar hati Gabriel begitu mendengar
ucapan Irshad itu. Bagaimana mungkin? Kenapa Irshad baru menceritakannya
sekarang? Kenapa tidak sejak dulu? Sebelum mereka merajut kasih.
“Tadinya Oom pikir, sahabat Oom
tidak akan kembali ke Indonesia bersama puteranya. Tapi, beberapa jam yang lalu
Oom bertemu dengan sahabat Oom itu. Oom minta maaf Gabriel, Oom gak ada maksud
buat memberi harapan palsu untukmu.”
Hati Gabriel mencelos, ada ruang begitu luas di dalam
dirinya yang menjadi kosong begitu saja. Kenapa ini semua menjadi begitu rumit?
Gabriel mengacak rambutnya frustasi.
“Oom tidak akan menjodohkan Agni
jika kamu kembali sebelum acara pernikahannya. Silahkan kamu membatalkan
pernikahan Agni kalau kamu bisa datang sebelum ikrar suci itu di ucapkan.
Itupun, jika Agni masih mencintaimu.”
Jika Agni masih
mencintaimu? Apa bisa?
Tubuh Gabriel terasa terguncang begitu mendengarnya. Apa
bisa Agni menjaga hatinya? Bukannya Gabriel meragukan, tapi mengingat kondisi
Agni yang masih labil, kondisi Agni yang masih bisa pindah ke lain hati.
Membuatnya di buru rasa takut yang sangat besar.
***
Agni merapihkan pakaiannya, ia menata rambut yang sengaja ia
geraikan. Hari ini, meski ia tidak bisa ikut dengan Gabriel, ia harus mengantar
kekasihnya itu. Untuk perpisahan yang akan bertemu kembali.
Agni meraih ponselnya mengetikkan sesuatu di sana.
Aku tunggu kamu di apartemen kamu. Sekarang.
Setelah itu Agni segera menyambar kunci mobil dan tas
tangannya. Ia segera berlalu dari kediamannya tanpa menghiraukan para pembantu
yang mengejarnya, memberitahukan sarapan sudah siap.
Dalah waktu lima menit ia telah sampai di apartemen milik
Gabriel. Ia menunggu kekasihnya itu dengan duduk di sofa yang berwarna merah.
Ia mengelus-elus permukaan sofa itu. Disini mereka bersatu, dan disini juga
mereka harus berpisah. Meskipun aku gak
tau kita akan bertemu lagi atau tidak Gab. Aku cuma takut, begitu kamu pulang
kamu sudah memiliki keluarga sendiri. Memiliki anak yang begitu lucu. Aku
ingat, umur kita berbeda jauh Gab. Kemungkinan kamu segera menikah itu akan
ada. Agni menghela nafas panjang mengingatnya. Semoga Tuhan memberiku kekuatan.
“Agni...”
Agni segera berbalik begitu mendengar suara lembut yang akan
sangat ia rindukan itu. Ia segera berdiri lalu memeluk Gabriel. Jangan nangis Agni, jangan! Loe kuat! Loe
gak cengeng! Agni menguatkan dirinya sendiri dengan ucapan dalam hatinya.
“Selamat tinggal Gab. Aku akan
berusaha menjaga hatiku.”
Gabriel tertegun. Apa benar? Ia membalas pelukan Agni dengan
erat. Ia tidak ingin melewatkan momen ini. kalau ada robot yang benar-benar
seperti doraemon, ia akan membelinya berapapun harganya. Ia akan menghentikan
waktu disini, hingga ia tak bisa terpisahkan lagi dengan kekasihnya ini.
Tapi... Oom Irshad... dia terlihat begitu
menginginkan perjodohan Agni dengan putera sahabatnya itu. Tuhan... apa yang
harus aku lakukan?
“Jangan menungguku, sayang.
Please... kamu move on. Ya?”
Agni seketika mendorong tubuh Gabriel dengan kasar. Ia
menatap tajam lelaki itu. Apa yang ada dalm pikirannya? Kenapa dengan semudah
itu ia mengatakannya?
“Apa maumu? Aku udah bilang! Aku
akan menjaga hatiku untukmu. Tapi kenapa? Kenapa kamu malah minta aku move on?
Kenapa?! Apa ini akhir dari hubungan kita Gabriel?!”
Gabriel menggeleng, ia mendekati Agni lagi, meraih kedua
tangan mungil gadis itu lalu mengecupnya.
“Perpisahan bukan akhir dari
segalanya Agni... aku akan tetap mencintaimu.”
Gabriel mengakhiri ucapannya dengan sebuah kecupan di bibir
Agni, cukup lama. Agni menahan leher Gabriel saat pemuda itu hendak menarik
kepalanya. Ia tidak ingin ini segera berakhir, ia akan sangat merindukan
kekasihnya ini. aku akan merindukanmu,
Gabriel. Kamu selamanya ada di hatiku...
Aku mencintaimu Agni.
Semoga aku pulang sebelum acara itu benar-benar terjadi.
Gabriel menarik wajahnya, ia mengurai pelukan Agni di
lehernya kemudian mengecup kening, kedua mata, hidung, pipi, hidung serta dagu
secara berurutan.
“Setengah jam lagi aku berangkat.
Kamu mau mengantarku?”
Agni melepaskan genggaman tangan Gabriel. Ia menggelengkan
kepalanya lemah. Ia tak akan pernah sanggup melihatnya. Lebih baik ia tidak
melihatnya sama sekali, jika melihatnya hanya akan membuat terluka. Ia tidak
akan pernah sanggup untuk tidak menahan kekasihnya itu.
“Pergilah. Aku lebih baik
disini.” Agni tersenyum pada Gabriel, ia memeluk kekasihnya itu lagi. “Aku akan
sangat merindukanmu... Gabrielku.”
Gabriel mengeratkan pelukannya, ia mengecup puncak kepala
Agni begitu lama.
“Aku juga, aku akan sangat
merindukanmu... Agniku.”
Agni melepaskan pelukannya dengan cepat. Ia tersenyum pada
Gabriel dengan tangan kanan yang melambai.
“Dah... I love you sayang.”
Gabriel tersenyum miris saat melihat senyuman Agni yang
menurutnya begitu cantik, begitu manis. Ia mengelus pipi kiri Agni.
“I love you too sayang. Aku
berangkat.”
Dengan ragu Gabriel mulai melangkah meninggalkan
apartemennya. Saat ia berada di ambang pintu sekali lagi ia menengok ke arah
Agni. Tersenyum pada kekasihnya yang masih menatapnya dengan tersenyum. Setelah
itu, dengan cepat ia meninggalkan tempat itu. Lebih lama di tempat itu hanya
akan membuatnya semakin enggan untuk pergi. Membuatnya semakin berat.
Agni terduduk saat melihat Gabriel benar-benar pergi.
Tubuhnya bergetar dan terdengar isakan begitu kuat. Bagaimana mungkin ia bisa
melepas begitu saja seseorang yang memenuhi hatinya itu? Seseorang yang begitu
ia cintai. Ya Tuhan...
***
Hari-hari Agni lalui dengan hampa, hatinya begitu kosong. Hanya
ada candaan yang menurut Agni tidak lucu dari teman-temannya, Ify, Rio dan Cakka.
Agni menatap mereka dengan malas, ia tidak ingin di ganggu.
“Melupakan seseorang itu tidak
semudah membalik telapak tangan.”
Agni bergumam saat menanggapi ocehan temannya, memaksanya
untuk segera mencari pengganti kekasihnya. Beberapa kali sahabatnya menghimbau
agar ia bisa kembali menjadi Agni mereka yang dulu, tapi ia tidak sekalipun
menghiraukannya.
Minggu pertama di tinggalkan Gabriel tanpa kabar apapun
membuatnya rindu. Semua yang ia lakukan sia-sia. Mengirim E-mail dan segala
macam berntuk komunikasi ia sudah coba, tapi hasilnya? Nihil. Tidak ada satupun
yang Gabriel balas. Kenapa dia? Apa dia memiliki kekasih baru? Emudah itukah ia
melupakannya?
Agni berjalan gontai memasuki apartemen milik Gabriel. Matanya
menelusuri seluruh penjuru ruangan itu, masih terasa ada kehangatan dalam
hatinya. Ia merasa Gabriel berada di dekatnya saat berada di ruangan itu.
Agni mendudukan dirinya di sofa, ia mengeluarkan sebuah
kertas dan amplop. Menuliskan sesuatu di kertas itu.
Dear Gabrielku.
Gab. Seminggu tanpa kamu aku sangat
merasa kesepian, semua orang begitu menginginkan aku segera melupakanmu tanpa
mengerti betapa sayangnya aku sama kamu.
Aku kangen kamu, cepet pulang
sayang.
Miss you so much. :*
Yang selalu merindukanmu.
Agni.
Agni menghela nafas begitu panjang, ia segera melipat kertas
itu dan memasukannya dalam sebuah amplop. Kemudian ia simpan amplop itu di atas
meja.
Untuk ke sekian kalinya Agni mengedarkan pandangannya, ia
sangat merindukan kekasihnya itu. Sangat rindu.
***
Tak berbeda jauh dengan minggu itu, pasca satu bulan Agni di tinggalkan Gabriel, ia kembali ke
tempat itu. Kembali menuliskan surat untuk kekasihnya.
Dear Gabrielku. :)
Sayang, tanpa terasa kita sudah satu
bulan berpisah. Aku semakin merindukanmu.
Sayang, kamu tau gak? Selalu aja
sepertia ada yang sengaja menabrakku akhir-akhir ini. bukan hanya akhir-akhir
ini sih, tapi beberapa minggu kebelakang juga dia suka gitu. Tapi anehnya
beberapa hari ini intensitas aku bertabrakan sama dia itu semakin sering. Apa dia
sengaja ya? atau aku nya aja yang ceroboh kurang memperhatikan jalanan?
Aku kesel banget sama dia. Coba aja
ada kamu. :(
Aku bersikap jutek dan cuek sama
semua lelaki boleh gak sih Gab? Demi menjaga hati aku. :D
Udah dulu ya Gab. Udah sore aku
harus pulang.
Cepet datang ya sayang... miss you,
love you forever. :*
Yang selalu mencintaimu.
Agni.
***
Beberapa bulan, dia selalu melakukan itu hingga kini tanpa
terasa sudah memasuki bulan ke delapan. Agni menghela nafas panjang. Ini anniversary
pertama jadian mereka. ternyata ia lebih banyak menikmati kesendirian daripada
kebersamaan dengan Gabriel. Hanya empat bulan pacaran yang Agni rasakan.
Ify menghela nafas saat melihat Agni yang melamun, ia hampir
setiap saat melihat sahabatnya ini melamun seperti itu. Ia khawatir dengan
kesehatan sahabatnya itu.
“Ag.”
Agni menoleh lambat pada Ify saat gadis itu mengguncangkan
bahunya pelan. Ia tersenyum hambar pada Ify, menandakan betapa tida ada rasanya
hidup dirinya tanpa di dampingi oleh Gabriel.
“Agni...”
Cakka dan Rio kompak memanggil nama Agni saat kedua pemuda
itu memasuki kelasnya. Agni terkekeh geli melihat keduanya saling berpandangan.
Ia menatap keduanya bergantian.
“Ada apa?”
Rio tersenyum melihat Agni yang kini menaggapinya kembali. Ia
lega melihat perubahan Agni yang mulai membaik. Setidaknya pada dirinya.
“Basket yuk.”
Agni mengangguk semangat, lalu berdiri. Sementara Ify menatapnya
tidak percaya, tapi terlihat senyuman kecil di bibir indahnya. Syukurlah.
Agni, Cakka dan Rio terus bermain basket bersama di lapangan
hingga tanpa terasa waktu sudah sore.
Agni mendudukan dirinya di pinggir lapangan, menyenangkan
sekali bermain basket. Ia tersenyum pada Cakka dan Rio yang berada di kanan dan
kirinya.
“Thanks ya, gue seneng banget
hari ini.”
Cakka terkekeh, ia mengacak-acak rambut Agni dengan gemas. Sementara
Rio hanya tertawa ringan saja sambil melirik Agni.
“Gue seneng loe berubah lagi Ni.”
“Berubah apaan Kka? Biasa aja
lagi. Emang gue power ranger yang bisa berubah? Haha...”
Cakka dan Rio mengikuti Agni tertawa. Ini pertama kalinya
gadis itu tersenyum semenjak beberapa bulan yang lalu. Dari sudut lain,
seseorang memperhatikannya juga dengan senyuman yang mengembang.
***
Malam itu, hari dimana anniversary pertama hubungan Agni dan
Gabriel. Agni kembali ke apartemen Gabriel untuk merayakannya meski hanya...
sendiri. Ia menata makanan yang sengaja ia buat di meja makan apartemen itu, di
setiap sudut di hiasi lilin besar yang meneranginya karena lampu ruangan itu
sengaja ia padamkan.
“Gabriel... apa kamu inget ini
hari ini tepat satu tahun kita jadian? Aku seneng banget, sejauh ini aku bisa
menjaga hati aku cuma buat kamu. Apa kamu juga begitu?”
Agni merasakan matanya memanas, ia tersenyum kelu dalam
keremangan tanpa berniat menghapus air matanya.
“Gabriel... happy anniversary
sayang, semoga kita akan menjadi kita selamanya. Amin.”
Agni menyantap makanan yang ia makan dengan air mata yang
terus saja keluar. Anniversary yang indah untuk setiap pasangan ternyata tidak
berlaku untuknya. Ia terus berusaha menenangkan hatinya dengan menghela nafas
panjang dan mengusap air matanya dengan lembut.
Setelah selesai, ia kembali keruangan tamu kemudian
menuliskan sesuatu disana.
Dear Gabriel sayang. :*
Happy anniversary. :)
Aku bahagia, kita ternyata sudah
menjalin hubungan hingga satu tahun Gab. Aku tidak menyangka ini semua. :)
Andai kamu ada disini Gab. Aku akan
sangat merasa bahagia.
Aku tidak akan banyak meminta, aku
hanya ingin kita selamaya kita. Tidak akan menjadi lain. :)
Cepat pulang sayang. Aku semakin
merindukanmu :’*
Yang akan selalu menunggumu.
Agni.
***
Gabriel menatap layar laptopnya dengan rasa sesak di dada. Ia
sangat merasa bersalah dengan sikapnya sekarang ini. selama ini, ia selalu
membaca pesan elektronik Agni. Tapi ia enggan membacanya, ia takut, takut jika
ia kembali, Agni telah menjadi milik orang lain. untuk itu, dari sekarang. Ia sedang
berlatih mencoba tak menghiraukan Agni.
“Jangan bohong sama hati loe
sendiri Yel, gue tau loe kangen sama dia.”
Gabriel menoleh ke arah seorang gadis yang selalu
menemaninya, Shilla. Gadis itu tersenyum begitu menguatkannya, dia meremas bahu
Gabriel dengan lembut, mencoba menyalurkan energi positif untuknya.
“Gue gak bisa Shil, gue gak mau
memberi harapan palsu. Sementara gue sendiri tau dia udah di jodohin.”
“Di jodohinkan? Belum tentu Agni akan
menerimanya.” Shilla menepuk pundak Gabriel lagi. “Berpikir bijaklah Yel. Gue yakin
loe tau apa yang terbaik.”
Gabriel mengangguk kemudian ia pergi meninggalkan laptopnya
yang masih terbuka. Ia harus pergi, mencari ketenangan untuk menghadapi Agni. Mencari
bagaimana cara mengambil kebijakan.
Sementara Shilla menatap layar monitor dengan miris. Secara naluri,
ia bisa merasakan bagaimana rasanya menjadi Agni. Ia juga pasti akan melakukan
hal yang sama, terus meminta kepastian kabar.
Shilla perlahan membaca pesan tersebut.
Aku semakin kangen kamu sayang...
apalagi ini anniversary kita. Kamu ingat?
Aku begitu bahagia bisa menjalin
hubungan denganmu, karena itu adalah sesuatu yang paling indah dalam kehidupan
aku. :)
Aku sebenarnya ingin tau bagaimana
kabarmu. Tapi aku bosan menanyakannya, kamu tidak pernah menjawabnya
sedikitpun. Hmm :(
Aku hanya berpesan, jaga kesehatanmu
sayang. Jaga pola makan kamu ya? Jangan males makan terus lho. :)
Aku ngantuk nih sekarang, udah malem
banget. Seharian ini aku capek banget.
Aku tunggu balasannya sayang :*
I love you sayang :*
Selamanya GabNi :’)
Gabriel, ternyata loe
lelaki paling tega yang pernah gue temui. Jadi selama ini loe bener-bener gak
balas e-mail dia? Apa harus gue bunuh loe biar loe ngerti gimana perasaan
cewek?
Shilla menghentakkan kakinya bersamaan dengan menutup laptop
dengan kasar. Ia melangkah lebar untuk
mencari keberadaan Gabriel. Gue bunuh loe
Yel!
***
Di tahun yang memasuki tahun kedua hubungannya dengan Gabriel,
Agni semakin jarang menemui apartemen Gabriel. Ia lebih sering bersama
teman-temannya, bermain basket bersama Rio, shoping bersama Ify, atau bermain
di diskotik bersama Cakka. Kegiatan itu ternyata mampu melupakannya pada
bebannya itu. Mampu melupakan rasa sakit hatinya.
Sampai ia sadar pada tahun kedua anniversary hubungan
mereka. tahun kedua ini Agni datang dengan perlengkapan sama seperti tahun
sebelumnya. Ia juga menuliskan surat kembali.
Dear Gabriel :*
Boleh jujur gak? Aku bosen gini
terus.
Tapi aku seneng, sampai tahun kedua
ini aku masih bisa jaga hati aku buat kamu Gab. :)
Apa kamu melakukan hal yang sama?
Hanya itu yang akan aku tanyakan. :)
Happy anniversary sayang. Semoga kamu
cepat kembali dan datang untukku. :)
Yang selalu merindukan, mencintai
dan menunggumu.
Agni :*
Agni menghela nafas panjang. Untunglah, sekarang ia tak lagi
meneteskan air mata. Ia telah berjanji menjadi sosok yang lebih kuat. Kuat untuk
dirinya sendiri. Ia menumpukan surat itu pada surat-surat yang lainnya. Ia tersenyum
begitu miris melihatnya, sebelum akhirnya ia pergi meninggalkan tempat itu.
***
Bersambung...
Gimana? Ngefeel gak?
Jangan lupa tinggalkan jejak ya :D
Terimakasih udah rela
baca :)
No comments:
Post a Comment