Friday, 21 June 2013

Love Yeah #4

Mata Agni memanas, dadanya berubah menjadi begitu sesak. Ia sangat terpukul, ia tidak bisa menerima semuanya meskipun ia harus bisa. Ia memegang dada sebelah kirinya, terasa begitu sakit melihat kenyataan kekasihnya akan segera pergi meninggalkannya. Disini, sendiri!

Gabriel menepikan mobilnya di jalanan yang cukup sepi. Ia tidak bisa meneruskan perjalanannya, ia begitu bingung, bimbang, kalut. Ia tidak bisa fokus pada jalanan yang licin akibat hujan yang begitu lebat. Ia membukasabuk pengamannya, lalu memiringkan posisinya, menghadapkan diri pada kekasihnya yang mulai terisak.
Gabriel menghela nafas panjang, ia meraih bahu Agni.

Agni menatap Gabriel dengan air mata yang terus mengalir dari matanya, ia menundukan kepalanya sejenak.

“G.Gab...” Agni menarik nafas begitu dalam, “Aku...” ia menengadahkan matanya, mencoba air mata itu agar tidak turun lagi. Lalu menatap kekasihnya yang hanya menatap dalam diam. “Aku gak bisa. Aku ikut!”

Gabriel tersenyum getir, ia menarik Agni dalam pelukannya. Andai bisa, itu akan mempermudah hubungannya dengan gadis ini. Gabriel menganggukan kepalanya.

“Iya sayang, aku yang akan meminta ijin sama Papa kamu.”

Agni mengeratkan pelukannya, tubuhnya kembali bergetar, semakin bergetar. Isakannya semakin menjadi dalam dekapan kekasihnya itu, ia senang mendengarnya. Tapi, apa Papa bakalan ngijinin? Tuhan... jika Gabriel jodohku, tolong mudahkan hubungan kami. Amin...

***

Gabriel menatap Irshad dengan dalam, ia memohon pada Irshad yang terlihat begitu bingung.

“Oom, saya akan menjamin kehidupan Agni disana, saya gak akan melakukan apapun yang bukan hak saya, saya berjanji Oom akan menjaga Agni dengan sekuat saya.”

Irshad berdehem, ia menatap Gabriel tidak tega. Tambah tidak tega lagi menatap puterinya yang sudah menangis memohon padanya. Apa yang harus ia lakukan?.

“Begini Gabriel, bukannya Oom tidak percaya dengan ucapanmu. Tapi... banyak hal yang menjadi alasan Oom tidak akan mengijinkan Agni pergi.”
“Papa. Agni... mau ikut Pa.”

Irshad mengurai pelukan Agni pada lengan kanannya, ia menghela nafas panjang. Ia tidak boleh luluh dengan sikap Agni.

“Maaf Agni, tetap tidak bisa.”
“Papa jahat!”

Agni segera pergi meninggalkan kedua lelaki itu, ia berlari begitu cepat.

BLAM.

Gabriel mendongakkan kepalanya begitu mendengar bantingan pintu yang begitu keras. Ia menghela nafas panjang. Apakah kisah cintanya akan berakhir sampai disini?

“Kamu tidak mau mengetahui alasannya Gabriel?”

Gabriel terdiam. Alasan? Apakah alasan itu akan membuat hatinya lega? Atau... sebaliknya?

“Kalau Oom berkenan menceritakannya, saya akan dengan senang hati mendengarkannya.”

Irshad menghela nafas, kenapa begitu sulit? Apalagi mengingat pemuda di hadapannya ini adalah kekasih puteri kesayangannya.

“Agni sudah di jodohkan.”

Sebuah kilatan petir menyambar hati Gabriel begitu mendengar ucapan Irshad itu. Bagaimana mungkin? Kenapa Irshad baru menceritakannya sekarang? Kenapa tidak sejak dulu? Sebelum mereka merajut kasih.

“Tadinya Oom pikir, sahabat Oom tidak akan kembali ke Indonesia bersama puteranya. Tapi, beberapa jam yang lalu Oom bertemu dengan sahabat Oom itu. Oom minta maaf Gabriel, Oom gak ada maksud buat memberi harapan palsu untukmu.”

Hati Gabriel mencelos, ada ruang begitu luas di dalam dirinya yang menjadi kosong begitu saja. Kenapa ini semua menjadi begitu rumit? Gabriel mengacak rambutnya frustasi.

“Oom tidak akan menjodohkan Agni jika kamu kembali sebelum acara pernikahannya. Silahkan kamu membatalkan pernikahan Agni kalau kamu bisa datang sebelum ikrar suci itu di ucapkan. Itupun, jika Agni masih mencintaimu.”

Jika Agni masih mencintaimu? Apa bisa?
Tubuh Gabriel terasa terguncang begitu mendengarnya. Apa bisa Agni menjaga hatinya? Bukannya Gabriel meragukan, tapi mengingat kondisi Agni yang masih labil, kondisi Agni yang masih bisa pindah ke lain hati. Membuatnya di buru rasa takut yang sangat besar.

***

Agni merapihkan pakaiannya, ia menata rambut yang sengaja ia geraikan. Hari ini, meski ia tidak bisa ikut dengan Gabriel, ia harus mengantar kekasihnya itu. Untuk perpisahan yang akan bertemu kembali.

Agni meraih ponselnya mengetikkan sesuatu di sana.

Aku tunggu kamu di apartemen kamu. Sekarang.

Setelah itu Agni segera menyambar kunci mobil dan tas tangannya. Ia segera berlalu dari kediamannya tanpa menghiraukan para pembantu yang mengejarnya, memberitahukan sarapan sudah siap.

Dalah waktu lima menit ia telah sampai di apartemen milik Gabriel. Ia menunggu kekasihnya itu dengan duduk di sofa yang berwarna merah. Ia mengelus-elus permukaan sofa itu. Disini mereka bersatu, dan disini juga mereka harus berpisah. Meskipun aku gak tau kita akan bertemu lagi atau tidak Gab. Aku cuma takut, begitu kamu pulang kamu sudah memiliki keluarga sendiri. Memiliki anak yang begitu lucu. Aku ingat, umur kita berbeda jauh Gab. Kemungkinan kamu segera menikah itu akan ada. Agni menghela nafas panjang mengingatnya. Semoga Tuhan memberiku kekuatan.

“Agni...”

Agni segera berbalik begitu mendengar suara lembut yang akan sangat ia rindukan itu. Ia segera berdiri lalu memeluk Gabriel. Jangan nangis Agni, jangan! Loe kuat! Loe gak cengeng! Agni menguatkan dirinya sendiri dengan ucapan dalam hatinya.

“Selamat tinggal Gab. Aku akan berusaha menjaga hatiku.”

Gabriel tertegun. Apa benar? Ia membalas pelukan Agni dengan erat. Ia tidak ingin melewatkan momen ini. kalau ada robot yang benar-benar seperti doraemon, ia akan membelinya berapapun harganya. Ia akan menghentikan waktu disini, hingga ia tak bisa terpisahkan lagi dengan kekasihnya ini. Tapi... Oom Irshad... dia terlihat begitu menginginkan perjodohan Agni dengan putera sahabatnya itu. Tuhan... apa yang harus aku lakukan?

“Jangan menungguku, sayang. Please... kamu move on. Ya?”

Agni seketika mendorong tubuh Gabriel dengan kasar. Ia menatap tajam lelaki itu. Apa yang ada dalm pikirannya? Kenapa dengan semudah itu ia mengatakannya?

“Apa maumu? Aku udah bilang! Aku akan menjaga hatiku untukmu. Tapi kenapa? Kenapa kamu malah minta aku move on? Kenapa?! Apa ini akhir dari hubungan kita Gabriel?!”

Gabriel menggeleng, ia mendekati Agni lagi, meraih kedua tangan mungil gadis itu lalu mengecupnya.

“Perpisahan bukan akhir dari segalanya Agni... aku akan tetap mencintaimu.”

Gabriel mengakhiri ucapannya dengan sebuah kecupan di bibir Agni, cukup lama. Agni menahan leher Gabriel saat pemuda itu hendak menarik kepalanya. Ia tidak ingin ini segera berakhir, ia akan sangat merindukan kekasihnya ini. aku akan merindukanmu, Gabriel. Kamu selamanya ada di hatiku...

Aku mencintaimu Agni. Semoga aku pulang sebelum acara itu benar-benar terjadi.
Gabriel menarik wajahnya, ia mengurai pelukan Agni di lehernya kemudian mengecup kening, kedua mata, hidung, pipi, hidung serta dagu secara berurutan.

“Setengah jam lagi aku berangkat. Kamu mau mengantarku?”

Agni melepaskan genggaman tangan Gabriel. Ia menggelengkan kepalanya lemah. Ia tak akan pernah sanggup melihatnya. Lebih baik ia tidak melihatnya sama sekali, jika melihatnya hanya akan membuat terluka. Ia tidak akan pernah sanggup untuk tidak menahan kekasihnya itu.

“Pergilah. Aku lebih baik disini.” Agni tersenyum pada Gabriel, ia memeluk kekasihnya itu lagi. “Aku akan sangat merindukanmu... Gabrielku.”

Gabriel mengeratkan pelukannya, ia mengecup puncak kepala Agni begitu lama.

“Aku juga, aku akan sangat merindukanmu... Agniku.”

Agni melepaskan pelukannya dengan cepat. Ia tersenyum pada Gabriel dengan tangan kanan yang melambai.

“Dah... I love you sayang.”

Gabriel tersenyum miris saat melihat senyuman Agni yang menurutnya begitu cantik, begitu manis. Ia mengelus pipi kiri Agni.

“I love you too sayang. Aku berangkat.”

Dengan ragu Gabriel mulai melangkah meninggalkan apartemennya. Saat ia berada di ambang pintu sekali lagi ia menengok ke arah Agni. Tersenyum pada kekasihnya yang masih menatapnya dengan tersenyum. Setelah itu, dengan cepat ia meninggalkan tempat itu. Lebih lama di tempat itu hanya akan membuatnya semakin enggan untuk pergi. Membuatnya semakin berat.

Agni terduduk saat melihat Gabriel benar-benar pergi. Tubuhnya bergetar dan terdengar isakan begitu kuat. Bagaimana mungkin ia bisa melepas begitu saja seseorang yang memenuhi hatinya itu? Seseorang yang begitu ia cintai. Ya Tuhan...

***

Hari-hari Agni lalui dengan hampa, hatinya begitu kosong. Hanya ada candaan yang menurut Agni tidak lucu dari teman-temannya, Ify, Rio dan Cakka.
Agni menatap mereka dengan malas, ia tidak ingin di ganggu.

“Melupakan seseorang itu tidak semudah membalik telapak tangan.”

Agni bergumam saat menanggapi ocehan temannya, memaksanya untuk segera mencari pengganti kekasihnya. Beberapa kali sahabatnya menghimbau agar ia bisa kembali menjadi Agni mereka yang dulu, tapi ia tidak sekalipun menghiraukannya.

Minggu pertama di tinggalkan Gabriel tanpa kabar apapun membuatnya rindu. Semua yang ia lakukan sia-sia. Mengirim E-mail dan segala macam berntuk komunikasi ia sudah coba, tapi hasilnya? Nihil. Tidak ada satupun yang Gabriel balas. Kenapa dia? Apa dia memiliki kekasih baru? Emudah itukah ia melupakannya?
Agni berjalan gontai memasuki apartemen milik Gabriel. Matanya menelusuri seluruh penjuru ruangan itu, masih terasa ada kehangatan dalam hatinya. Ia merasa Gabriel berada di dekatnya saat berada di ruangan itu.

Agni mendudukan dirinya di sofa, ia mengeluarkan sebuah kertas dan amplop. Menuliskan sesuatu di kertas itu.

Dear Gabrielku.

Gab. Seminggu tanpa kamu aku sangat merasa kesepian, semua orang begitu menginginkan aku segera melupakanmu tanpa mengerti betapa sayangnya aku sama kamu.
Aku kangen kamu, cepet pulang sayang.
Miss you so much. :*

Yang selalu merindukanmu.
Agni.

Agni menghela nafas begitu panjang, ia segera melipat kertas itu dan memasukannya dalam sebuah amplop. Kemudian ia simpan amplop itu di atas meja.
Untuk ke sekian kalinya Agni mengedarkan pandangannya, ia sangat merindukan kekasihnya itu. Sangat rindu.

***

Tak berbeda jauh dengan minggu itu, pasca satu bulan  Agni di tinggalkan Gabriel, ia kembali ke tempat itu. Kembali menuliskan surat untuk kekasihnya.

Dear Gabrielku. :)

Sayang, tanpa terasa kita sudah satu bulan berpisah. Aku semakin merindukanmu.
Sayang, kamu tau gak? Selalu aja sepertia ada yang sengaja menabrakku akhir-akhir ini. bukan hanya akhir-akhir ini sih, tapi beberapa minggu kebelakang juga dia suka gitu. Tapi anehnya beberapa hari ini intensitas aku bertabrakan sama dia itu semakin sering. Apa dia sengaja ya? atau aku nya aja yang ceroboh kurang memperhatikan jalanan?
Aku kesel banget sama dia. Coba aja ada kamu. :(
Aku bersikap jutek dan cuek sama semua lelaki boleh gak sih Gab? Demi menjaga hati aku. :D

Udah dulu ya Gab. Udah sore aku harus pulang.
Cepet datang ya sayang... miss you, love you forever. :*

Yang selalu mencintaimu.
Agni.

***

Beberapa bulan, dia selalu melakukan itu hingga kini tanpa terasa sudah memasuki bulan ke delapan. Agni menghela nafas panjang. Ini anniversary pertama jadian mereka. ternyata ia lebih banyak menikmati kesendirian daripada kebersamaan dengan Gabriel. Hanya empat bulan pacaran yang Agni rasakan.

Ify menghela nafas saat melihat Agni yang melamun, ia hampir setiap saat melihat sahabatnya ini melamun seperti itu. Ia khawatir dengan kesehatan sahabatnya itu.

“Ag.”

Agni menoleh lambat pada Ify saat gadis itu mengguncangkan bahunya pelan. Ia tersenyum hambar pada Ify, menandakan betapa tida ada rasanya hidup dirinya tanpa di dampingi oleh Gabriel.

“Agni...”

Cakka dan Rio kompak memanggil nama Agni saat kedua pemuda itu memasuki kelasnya. Agni terkekeh geli melihat keduanya saling berpandangan. Ia menatap keduanya bergantian.

“Ada apa?”

Rio tersenyum melihat Agni yang kini menaggapinya kembali. Ia lega melihat perubahan Agni yang mulai membaik. Setidaknya pada dirinya.

“Basket yuk.”

Agni mengangguk semangat, lalu berdiri. Sementara Ify menatapnya tidak percaya, tapi terlihat senyuman kecil di bibir indahnya. Syukurlah.

Agni, Cakka dan Rio terus bermain basket bersama di lapangan hingga tanpa terasa waktu sudah sore.
Agni mendudukan dirinya di pinggir lapangan, menyenangkan sekali bermain basket. Ia tersenyum pada Cakka dan Rio yang berada di kanan dan kirinya.

“Thanks ya, gue seneng banget hari ini.”

Cakka terkekeh, ia mengacak-acak rambut Agni dengan gemas. Sementara Rio hanya tertawa ringan saja sambil melirik Agni.

“Gue seneng loe berubah lagi Ni.”
“Berubah apaan Kka? Biasa aja lagi. Emang gue power ranger yang bisa berubah? Haha...”

Cakka dan Rio mengikuti Agni tertawa. Ini pertama kalinya gadis itu tersenyum semenjak beberapa bulan yang lalu. Dari sudut lain, seseorang memperhatikannya juga dengan senyuman yang mengembang.

***

Malam itu, hari dimana anniversary pertama hubungan Agni dan Gabriel. Agni kembali ke apartemen Gabriel untuk merayakannya meski hanya... sendiri. Ia menata makanan yang sengaja ia buat di meja makan apartemen itu, di setiap sudut di hiasi lilin besar yang meneranginya karena lampu ruangan itu sengaja ia padamkan.

“Gabriel... apa kamu inget ini hari ini tepat satu tahun kita jadian? Aku seneng banget, sejauh ini aku bisa menjaga hati aku cuma buat kamu. Apa kamu juga begitu?”

Agni merasakan matanya memanas, ia tersenyum kelu dalam keremangan tanpa berniat menghapus air matanya.

“Gabriel... happy anniversary sayang, semoga kita akan menjadi kita selamanya. Amin.”

Agni menyantap makanan yang ia makan dengan air mata yang terus saja keluar. Anniversary yang indah untuk setiap pasangan ternyata tidak berlaku untuknya. Ia terus berusaha menenangkan hatinya dengan menghela nafas panjang dan mengusap air matanya dengan lembut.
Setelah selesai, ia kembali keruangan tamu kemudian menuliskan sesuatu disana.

Dear Gabriel sayang. :*

Happy anniversary. :)
Aku bahagia, kita ternyata sudah menjalin hubungan hingga satu tahun Gab. Aku tidak menyangka ini semua. :)
Andai kamu ada disini Gab. Aku akan sangat merasa bahagia.
Aku tidak akan banyak meminta, aku hanya ingin kita selamaya kita. Tidak akan menjadi lain. :)

Cepat pulang sayang. Aku semakin merindukanmu :’*

Yang akan selalu menunggumu.
Agni.

***

Gabriel menatap layar laptopnya dengan rasa sesak di dada. Ia sangat merasa bersalah dengan sikapnya sekarang ini. selama ini, ia selalu membaca pesan elektronik Agni. Tapi ia enggan membacanya, ia takut, takut jika ia kembali, Agni telah menjadi milik orang lain. untuk itu, dari sekarang. Ia sedang berlatih mencoba tak menghiraukan Agni.

“Jangan bohong sama hati loe sendiri Yel, gue tau loe kangen sama dia.”

Gabriel menoleh ke arah seorang gadis yang selalu menemaninya, Shilla. Gadis itu tersenyum begitu menguatkannya, dia meremas bahu Gabriel dengan lembut, mencoba menyalurkan energi positif untuknya.

“Gue gak bisa Shil, gue gak mau memberi harapan palsu. Sementara gue sendiri tau dia udah di jodohin.”
“Di jodohinkan? Belum tentu Agni akan menerimanya.” Shilla menepuk pundak Gabriel lagi. “Berpikir bijaklah Yel. Gue yakin loe tau apa yang terbaik.”

Gabriel mengangguk kemudian ia pergi meninggalkan laptopnya yang masih terbuka. Ia harus pergi, mencari ketenangan untuk menghadapi Agni. Mencari bagaimana cara mengambil kebijakan.

Sementara Shilla menatap layar monitor dengan miris. Secara naluri, ia bisa merasakan bagaimana rasanya menjadi Agni. Ia juga pasti akan melakukan hal yang sama, terus meminta kepastian kabar.
Shilla perlahan membaca pesan tersebut.

Aku semakin kangen kamu sayang... apalagi ini anniversary kita. Kamu ingat?
Aku begitu bahagia bisa menjalin hubungan denganmu, karena itu adalah sesuatu yang paling indah dalam kehidupan aku. :)
Aku sebenarnya ingin tau bagaimana kabarmu. Tapi aku bosan menanyakannya, kamu tidak pernah menjawabnya sedikitpun. Hmm :(

Aku hanya berpesan, jaga kesehatanmu sayang. Jaga pola makan kamu ya? Jangan males makan terus lho. :)

Aku ngantuk nih sekarang, udah malem banget. Seharian ini aku capek banget.
Aku tunggu balasannya sayang :*

I love you sayang :*
Selamanya GabNi :’)

Gabriel, ternyata loe lelaki paling tega yang pernah gue temui. Jadi selama ini loe bener-bener gak balas e-mail dia? Apa harus gue bunuh loe biar loe ngerti gimana perasaan cewek?
Shilla menghentakkan kakinya bersamaan dengan menutup laptop dengan  kasar. Ia melangkah lebar untuk mencari keberadaan Gabriel. Gue bunuh loe Yel!

***

Di tahun yang memasuki tahun kedua hubungannya dengan Gabriel, Agni semakin jarang menemui apartemen Gabriel. Ia lebih sering bersama teman-temannya, bermain basket bersama Rio, shoping bersama Ify, atau bermain di diskotik bersama Cakka. Kegiatan itu ternyata mampu melupakannya pada bebannya itu. Mampu melupakan rasa sakit hatinya.

Sampai ia sadar pada tahun kedua anniversary hubungan mereka. tahun kedua ini Agni datang dengan perlengkapan sama seperti tahun sebelumnya. Ia juga menuliskan surat kembali.

Dear Gabriel :*

Boleh jujur gak? Aku bosen gini terus.
Tapi aku seneng, sampai tahun kedua ini aku masih bisa jaga hati aku buat kamu Gab. :)
Apa kamu melakukan hal yang sama?
Hanya itu yang akan aku tanyakan. :)

Happy anniversary sayang. Semoga kamu cepat kembali dan datang untukku. :)

Yang selalu merindukan, mencintai dan menunggumu.
Agni :*

Agni menghela nafas panjang. Untunglah, sekarang ia tak lagi meneteskan air mata. Ia telah berjanji menjadi sosok yang lebih kuat. Kuat untuk dirinya sendiri. Ia menumpukan surat itu pada surat-surat yang lainnya. Ia tersenyum begitu miris melihatnya, sebelum akhirnya ia pergi meninggalkan tempat itu.

***

Bersambung...
Gimana? Ngefeel gak?
Jangan lupa tinggalkan jejak ya :D


Terimakasih udah rela baca :)

No comments:

Post a Comment