Gabriel terus memandangi kalender yang di halangkan Shilla
tepat di hadapannya. Gadis itu begitu menggebu-gebu agar ia melihat kalender
itu. Padahal gak ada yang spesial.
“Apa maksudnya?”
Shilla memutar bola matanya kesal, ia melempar kalender itu
ke tempat sampah dengan kesal. Apa semua cowok gak peka gini? Kalo iya
mendingan gue gak suka deh sama cowok! Menyebalkan.
Gabriel menatap Shilla yang tidak berkata apapun, dia
kembali duduk di meja kerjanya dan memfokuskan diri pada laptopnya. Gabriel
menghela nafas panjang, ia tau apa maksud gadis itu, ia mengerti. hanya saja,
ia terlalu bingung harus bagaimana. Ia tidak bisa begitu saja meninggalkan
pekerjaannya disini, tapi di sisi lain tiga minggu lagi Gabriel kelulusan dan tidak menutup kemungkinan
kekasihnya itu akan segera di jodohkan. Gabriel memejamkan matanya dalam. Tuhan... apakah jalan yang terbaik untukku?
“Atur pertemuan gue sama Papa,
skype disini lancarkan?”
Gabriel mengangguk tanpa menatap atasannya itu. Ia terlanjur
kesal dengannya, padahal ia telah bermaksud baik. Tapi kenapa tidak ada timbal
baliknya. Kalau gue jadi Gabriel, gue gak
bakalan tunggu cowok kayak Gabriel. Gue yakin masih banyak cowok peka yang bisa
gue pacarin. Ia mendengus kesal mengingatnya.
“Kalau seandainya waktu loe
pulang ternyata Agni udah married loe mau ngapain?”
Gabriel terkekeh, ia berjalan mendekati Shilla yang
berbicara dengan tidak sekalipun memandangnya. Ia berdiri, menyandarkan diri di
meja tepat di samping Shilla.
“Masih ada loe ini kan? Gue juga
tau loe jomblo dan mana ada cowok yang mau sama cewek galak kayak loe.”
Shilla membulatkan matanya, ia menatap Gabriel dengan garang
meskipun pemuda itu menatapnya dengan menggoda.
“Terus kenapa loe mau sama gue
kalo Agni udah married? Sama aja loe memuji gue walaupun kenyataannya ngejek.
Tuh Pak Sion udah setuju.”
Shilla memberikan laptopnya pada Gabriel, kemudian ia
beranjak pergi sementara Gabriel berbicara dengan sang ayahanda.
“Pa...”
“Ya Yel, ada apa? Untung Papa gak
lagi meeting.”
Gabriel tersenyum tipis, ia menatap Papa nya dengan
pandangan teduh.
“Yel, kenapa? Ada masalah?”
“Gabriel harus pulang Pa. Boleh?”
Gabriel menatap Sion dengan tatapan memohon, ia sudah tidak
kuat berjauhan lebih lama lagi dengan kekasihnya yang entah masih menjadi kekasihnya
atau tidak.
“Ada apa? Agni lagi? Dia
baik-baik saja Gabriel, sampai saat ini tidak ada kabar menyebutkan dia akan
segera menikah atau telah menikah.”
“Bukan cuma itu Pa, Gabriel harus
pulang secepatnya. Sebelum semuanya terlambat.”
Sion menghela nafas panjang, ia tidak tega melihat puteranya
itu. Ia sangat menyayanginya.
“Baiklah, untuk sementara waktu
biar Papa suruh Sepupu kamu gantiin kamu. Kapan kamu mau pulang?”
Gabriel tersenyum, ia menghela nafas begitu lega mendengar
penuturan Papanya.
“Pa... liat artikel ini. eh
Gabriel... miss you sayang.”
Gabriel tersenyum pada Mama nya yang mungkin nyelonong masuk
ke dalam ruangan Papa-nya itu.
“Gabriel kamu harus liat ini.”
Zahra memperlihatkan sebuah artikel dimana di dalamnya
terpampang sebuah foto. Agni dan seorang lelaki yang berpose saling
membelakangi dengan baju kerjanya dan terpampang jelas. ‘Muda dan Sukses’.
“Apa itu Ma?”
“Ini lho, Agni jadi asistennya
Alvin Pratipta dan mengerjakan separuh pekerjaan Boss nya itu dengan sukses.
Dan di sebutkan bahwa Alvin sukses karena Agni dan begitupun sebaliknya karena
Agni menyebutkan ‘Kami saling melengkapi
satu sama lain, ada semacam timbal balik di antara kami’. Tapi begitu ada
pertanyaan mengenai hubungan mereka, mereka cuma tersenyum dan bilang ‘Kita lihat saja kedepannya seperti apa.’
Kamu harus cepat-cepat pulang Gabriel. Mama mau kamu cepat melamar Agni sebelum
keduluan sama dia.”
Gabriel terdiam, hatinya bergemuruh. Ada sesuatu yang begitu
mengganjal di hatinya, sesuatu yang sangat tidak enak dan tidak pada tempatnya.
Sepertinya, ia merasa... akan kehilangan Agni.
“Yel? Jangan bilang kamu udah
punya pacar lagi?”
Gabriel terkekeh, ia menatap Mamanya itu.
“Enggak Ma, besok Gabriel pulang
kok dan akan segera melamar Agni.”
Zahra tersenyum begitu bahagia mendengar penuturan puteranya
begitu juga dengan Sion yang sedari tadi hanya menyimak di samping istrinya
itu.
“Yaudah Ma, Pa, Gabriel pamit
dulu ya. mau packing.”
“Iya, hati-hati ya sayang.”
“Oke Ma. Dah...”
Gabriel mematikan sambungan dengan kedua orang tuanya itu.
Kemudian ia mengalihkan pandangan pada Shilla yang sedang berdiri di menghadap
jendela, di tangannya ada secangkir kopi yang terlihat masih mengepul.
“Loe biasain gak minum kopi dong
Shil, kasian lambung loe.”
Shilla tersenyum masam. Ia menyesap kopinya itu kemudian
berbalik.
“Terus harusnya apa? Cappuccino
itu enak Yel. Loe coba deh, jitu banget buat nenangin otak. Apalagi saat
suntuk.”
Karena cinta.
Lanjut Shilla dalam hati. Ia berjalan ke arah Gabriel menyimpan kopi itu tepat
di depannya.
“Gue boleh minta libur selama
kita pulang? Loe boleh hubungin kapan aja loe butuh, tapi gue minta
keringanan.”
“Oke, gak masalah.”
Gabriel beranjak dari meja Shilla menuju mejanya, ia segera
mengambil seluruh barang-barang yang ada di meja kerjanya itu untuk di bawa
pulang.
***
Indonesia. I miss you.
Gabriel tersenyum begitu menginjakkan kembali kakinya ke
tanah tempat kelahirannya. Ia begitu lega, akhirnya setalah hampir tiga tahun
ia pergi ia kembali lagi ke negara ini.
“Loe di jemput Shil?”
Shilla menganggukan kepalanya, lalu melirik jam yang
terpasang begitu besar di bandara tersebut.
Ia mengedarkan pandangannya. Saat ia melihat seseorang yang
ia kenal, ia segera melambaikan tangannya. Shilla berbalik ke arah Gabriel.
“Gue duluan ya. good luck, semoga
loe di terima sama Agni.”
Gabriel mengangguk dan menggumamkan kata ‘amin’. Setelah
melihat kepergian Shilla, ia segera menyetop taksi menuju apartemennya yang
sangat ia rindukan.
Apa Agni masih sering
kesana?
Gabriel menghela nafas. Masihkah ia pantas mengharapkannya?
Sementara selama ini ia mengabaikannya, seolah tidak membutuhkannya.
“Ini Pak ongkosnya, terimakasih.”
Gabriel segera keluar dari taksi itu kemudian berjalan
memasuki loby apartemennya.
Duk.
Ia bersenggolan kecil dengan seseorang saat mereka hendak
memasuki lift yang sama.
“Maaf.”
Gabriel tersenyum menanggapinya, ia terkekeh kecil saat
melihat orang itu terlihat berkata dengan kesal pada ponselnya.
“Iya sayang, iya. Aku segera
kesana. Iya... aku cuma bawa yang... aku cuma bawa yang ketinggalan sayang
jangan nuduh-nuduh gitu. Aku cuma sebentar masa kamu mau ikut? Udah ya... lima
menit sayang, bye.”
Pemuda itu tersenyum pada Gabriel, Gabriel membalas
senyumannya. Ia mengerutkan keningnya, sepertinya ia kenal dengan pemuda itu.
Seperti pernah melihat, tapi dimana?.
“Pacar ya?”
Pemuda itu menggelengkan kepalanya sambil terkekeh.
“Saya tidak pernah tau yang
namanya berpacaran. Itu istri saya.”
Gabriel mengangguk-anggukan kepalanya mengerti, secara
sepintas sepertinya pemuda itu berumur jauh di bawahnya. Tapi kenapa sudah
punya istri? Aku yang kelewat stuck di
Agni atau dia yang kelewat beruntung sih? Gabriel menghela nafas panjang.
Ting.
Keduanya berjalan bersamaan. Kemudian saling melirik satu
sama lain dan terkekeh.
“Saya yang mengikuti anda atau
anda yang mengikuti saya?”
Gabriel semakin terkekeh mendengarkannya.
“Ini apartemen saya.”
“Dan yang sebelahnya apartemen
saya.”
“Wah kebetulan sekali ya?”
Gabriel tersenyum menanggapinya.
“Oke... saya duluan ya... eng..”
“Alvin.”
Pemuda itu menyebutkan namanya sesaat sebelum memasuki
apartemennya.
“Ya Alvin, sampai berjumpa di
lain kesempatan.”
Gabriel memasuki apartemennya, Alvin. Alvin. Alvin. Sepertinya aku gak asing sama nama dan
wajahnya. Gabriel melepaskan sepatunya sambil berpikir. Ah iya, Alvin Pradipta.
Gabriel berjalan memasuki apartemennya yang sepertinya
sangat bersih. Apa benar Agni masih sering datang kesana? Atau, Mama atau
Papanya mengutus cleaning servis untuk membersihkan ruangan itu?
Gabriel menghela nafas panjang, ia langsung berjalan ke arah
dapur. Tidak ada apapun disana, kecuali kenangan manis itu. Saat dulu, ia
menyatakan cinta pada Agni. Agni... apa
kamu masih inget kenangan kita? Aku sangat merindukanmu sekarang.
Gabriel berjalan ke arah ruang tengah dengan gontai. Kini,
Agni begitu mendominasi otaknya. Mendominasi di setiap relung pikiran dan
dadanya. Ia menaikan sebelah alisnya begitu melihat tumpukan kertas di atas
meja. Gabriel meraihnya, membaca satu-persatu isinya. Sesekali ia tersenyum
miris, dan sesekali ia bergumam kata ‘maaf’. Tak dapat di pungkiri bahwa dalam
dadanya membuncah rasa bersalah yang sangat besar.
Gabriel menutup kedua matanya begitu selesai membaca selurus
surat yang berada di atas meja. Ia menyandarkan punggungnya kesandaran kursi.
Tangannya meraba sesuatu, seperti kertas juga tapi ada di atas kursi. Ia
membuka matanya lalu membuka kertas tanpa amplop itu.
Dear Gab.
Tiga tahun Gab. Waktu yang tidak
singkat.
Langkah kakiku ini, tanpa sengaja
membawaku memasuki tempat ini. memasuki sebuah tempat yang tidak biasa untukku.
Disini, memori otakku kembali
berputar kemasa lalu, dimana aku berada di sampingmu.
Disini kita memulai kisah cinta
kita, menggantungkan kisah cinta kita. Dan disini juga, aku akan mengakhiri kisah
cinta kita. Maaf Gab. Aku gak bisa terus nunggu... aku terlalu lelah untuk
selalu menoleh kebelakang. Hidup itu harus selalu melihat kedepan. Aku gak tau
ini tepat atau enggak. Tapi... aku rasa aku mulai bosan menunggu, bahkan sangat
bosan jika aku harus mengungkapkannya.
Maaf... Gab.
Aku gak bisa melanjutkan hubungan
kita pada tahap yang lebih serius lagi.
Yang tak bisa lagi menunggumu.
Kanz Agnida Hayman.
Gabriel tertegun begitu membacannya, ia meremas kertas itu
dengan kesal. Rahangnya mengeras. Bodoh
loe Gabriel. Loe udah ngelepas Agni gara-gara ulah loe sendiri.
***
Beberapa hari Gabriel terus merenung, ia memutuskan untuk
pulang ke rumahnya. Namun tidak menceritakan apapun pada kedua orang tuanya
itu. Gabriel beralasan sedang memikirkan bagaimana meminta Agni untuk menjadi
istrinya pada kedua orang tuanya itu. Jadilah dia di ijinkan hanya berdiam diri
di rumah.
“Yel, Praha Group meminta
pimpinannya untuk menemuinya besok pagi.”
Gabriel menatap Papa-nya yang baru saja pulang kantor sore
itu. Ia mengerutkan keningnya, kenapa harus laporan dulu? Yang punya kantor kan
Papa.
“Kan kantor itu punya Papa.”
“Lho kan dari dulu kamu pemilik
sah nya. Papa cuma memfasilitasi.”
Sion duduk di samping puteranya yang kini mendudukan
dirinya.
“Gak bisa sama Papa aja ya?”
“Enggak Yel, kan mereka meminta
kamu. Perusahaan itu emang ribet, gak menerima kaki tangan. Bahkan asistenpun
jarang yang di terima. Mereka cuma mau bertemu pemimpinnya.”
Gabriel mendengus kesal.
“Yaudah, jam berapa Pa?”
“Jam masuk kantor di restaurant
Diamond.”
***
Disinilah Gabriel sekarang. Di tempat yang di tunjuk
Papanya. Menunggu kliennya yang ternyata memiliki jam karet. Ia menghembuskan
nafas berat. Ia tidak bisa menunggu lebih lama. Ia terlalu bosan jika harus
menunggu seperti ini.
Gabriel melirik arlojinya. Ini sudah hampir setengah jam ia
menunggu.
“Permisi Pak, maaf saya
terlambat.”
Gabriel berdecak kemudian memutar tubuhnya. Ia menaikan
sebelah alisnya. Sepertinya ia mengenali gadis di hadapannya ini. apalagi
suaranya yang mengingatkan dia pada seseorang. Tapi apa mungkin dia... Agni?.
“Pak... Maaf...”Gabriel
membulatkan matanya begitu melihat Agni berdiri dihadapannya dengan mata yang
membulay indah. “G.Gab? Gab..riel?”
Gabriel segera menarik Agni dalam pelukannya. Ia begitu
merindukan gadis itu, ia tak bisa menahan lebih lama lagi betapa rindunya ia
padanya.
“Agni... aku gak percaya bisa
ketemu kamu disini, aku...”
Agni diam. Gabriel tidak menerima respon apapun dari gadis
itu. Apa yang di katakan dalam surat itu sebuah kebenaran? Apakah benar gadis
itu akan benar-benar melupakannya, melupakan segala kenangannya?
“Maaf Pak, tolong lepaskan.”
“Agni...”
Agni menatap Gabriel dengan dingin. Tak dapat ia pungkiri ia
sangat merindukan pemuda di hadapannya ini, pemuda yang begitu ia rindukan
sekarang ada di hadapannya. Logika dan hatinya seketika berperang. Dalam
hatinya ia menentang keras-keras keberadaan Gabriel, tapi logikanya berkata
lain, ia menginginkan Gabriel.
“Agni...”
Agni menghela nafas panjang, ia tersenyum getir. Matanya
mulai buram karena tertutup air mata yang akan segera tumpah.
“Gab...”
Agni segera memeluk Gabriel setelah menyimpan berkas yang
berada di tangannya ke atar sebuah kursi. Ia tidak kuat lagi menahan sesuatu
yang meluap-luap dalam dadanya, meminta untuk terlampiaskan sekarang juga.
Gabriel tersenyum seraya membalas pelukan Agni dengan erat.
Gadisnya itu... telah berubah, gadis yang sekarang terlihat sangat dewasa di
matanya dan sepertinya siap untuk ia jadikan seorang... istri.
Agni melepaskan pelukannya lalu duduk di kursi kosong tepat
di hadapan Gabriel. Ia mengusap sisa air mata yang masih terus turun.
Gabriel terkekeh melihatnya, ia mengulurkan tangannya pada
pipi Agni. Menghapus aliran sungai itu.
“Maaf Agni... aku gak ngabarin
kamu sedikitpun. Tapi aku ngelakuin itu bukan tanpa alasan.”
“Apa?”
Agni berkata dengan suara yang terdengar begitu parau. Agni
menghembuskan nafas, Ia berusaha menetralkan perasaannya.
Gabriel menghela nafas panjang, ia menggenggam tangan Agni
dengan erat lalu melihat ke arah jari tangan Agni yang belum terselip satupun
cincin.
“Syukurlah... aku gak terlambat.
Aku pergi tanpa menghubungi kamu karena waktu itu Papa kamu bilang kalo kamu
mau di jodohin.”
“HAH?!”
Agni menatap Gabriel tidak percaya, ia tidak berkedip untuk
beberapa saat. Kemudian ia mengusap wajahnya frustasi.
“Tapi untungnya kamu belum
mengikat hubungan kalian. Aku akan menagih janji Papamu yang membolehkan aku
menikahimu sebelum kamu menikah sama pemuda yang di jodohkan sama kamu.”
“APA?! Papa... bilang gitu?”
Gabriel mengangguk dengan senyuman yang tak lepas dari
bibirnya. Ia menarik tangan Agni, lalu mengecupnya pelan.
“Kamu mau jadi istri aku Agni?”
Deg!
Istri?
Bagaimana perasaan kalian jika di lamar oleh kekasih kalian
seperti ini? jawabannya, pasti akan sangat bahagia. Tapi, kasus berbeda menimpa
Agni.
Agni menggelengkan kepalanya pelan, bersamaan dengan air
mata yang kembali meluncur dari kedua matanya.
“Aku gak bisa Gab. Aku... sudah
menikah.”
“APA?! Menikah?”
Gabriel tertawa lepas mendengarkannya, ia merasa sangat lucu
dengan ucapan Agni. Bagaimana mungkin orang yang tidak menikah tidak memakai
cincin pernikahannya? Apa Agni hanya bergurau agar ia mundur?
“Kamu lucu Agni... mana mungkin
ada orang yang udah nikah gak pake cincin? Aneh!.”
Agni tersenyum kaku. Benar, ia memang tidak memakai cincin
pernikahannya. Tapi, apalah arti sebuah cincin jika ikrar suci sudah di
lafalkan? Bukankah sah nya sebuah pernikahan hanya dengan ikrar suci itu? Bukan
dengan cincin.
“Aku emang udah nikah Gab.”
Gabriel menenangkan dirinya untuk tidak tertawa, ia
tersenyum pada gadis itu kemudian berpindah tempat duduk menjadi di samping
Agni.
“Dan aku... akan merebutmu
kembali untukku... Agni.”
Ponsel Agni berdering sebelum Gabriel berhasil mengecup alat
ucapnya. Agni segera menjauhkan diri dari Gabriel.
“Iya Pa ada apa?”
Agni melirik Gabriel yang menatapnya penuh tanya.
“Papa ada di rumah kamu, cepetan pulang. Alvin juga lagi on the way
pulang.”
“Iya, Agni segera pulang.”
“Yasudah. Hati-hati.”
“Iya Pa.”
Agni melirik arlojinya, kemudian merapihkan berkas yang
tidak sempat di buka itu. Ia harus segera pergi dari tempat itu, jika tidak mau
masalah ini semakin di perdalam.
“Mau kemana?”
“Pulang, Papa udah nunggu di
rumah.”
Gabriel mengerutkan dahinya.
“Lalu? Tunggu dulu sebentar Agni,
kita belum sempat membicarakan bisnis kita.”
“Kalo gak cepet-cepet pulang,
Papa keburu pulang.”
“Agni... kamu ngomong apa sih? Gak
nyambung tau. Kamu sama Papa kamukan tinggal satu rumah, kenapa kamu
keliatannya buru-buru gitu?”
Agni menghela nafas panjang. Ternyata pemuda di hadapannya
ini masih belum percaya ia telah menikah. Ia memberikan sebuah dokumen pada Gabriel.
“Pelajari ini, kalau anda setuju
silahkan hubungi sekertaris saya, disana telah tercantum nomor dan nama
sekertaris saya.”
“Agni...”
Gabriel meraih tangan Agni yang hendak beranjak itu. Ia menatap
gadis itu dengan memelas.
“Aku gak ngerti. Kamu ini kenapa?”
“Lepas Gab. Aku buru-buru. Kalau kamu
mau, kamu bisa atur pertemuan kita beberapa hari kedepan lagi. Aku masih banyak
kerjaan.”
“Aku anter kamu pulang.”
Agni mengurai cekalan tangan Gabriel, ia tersenyum pada
pemuda itu.
“Gak usah, aku bawa mobil
sendiri. Permisi.”
Gabriel menghela nafas begitu Agni menghilang di balik
pintu. Kenapa gadis itu terlihat begitu aneh? Apa benar ia telah menikah?
Gabriel menggelengkan kepalanya. Dia memang aneh, tapi
anehnya itu karena lebih terlihat dewasa, berkarisma, dan cantik. Ya... Agni memang
semakin cantik dengan aura positif yang
begitu kuat keluar dari dalam dirinya.
***
Bersambung.
No comments:
Post a Comment