Tuesday, 25 June 2013

Love Yeah #5

Gabriel terus memandangi kalender yang di halangkan Shilla tepat di hadapannya. Gadis itu begitu menggebu-gebu agar ia melihat kalender itu. Padahal gak ada yang spesial.

“Apa maksudnya?”

Shilla memutar bola matanya kesal, ia melempar kalender itu ke tempat sampah dengan kesal. Apa semua cowok gak peka gini? Kalo iya mendingan gue gak suka deh sama cowok! Menyebalkan.

Gabriel menatap Shilla yang tidak berkata apapun, dia kembali duduk di meja kerjanya dan memfokuskan diri pada laptopnya. Gabriel menghela nafas panjang, ia tau apa maksud gadis itu, ia mengerti. hanya saja, ia terlalu bingung harus bagaimana. Ia tidak bisa begitu saja meninggalkan pekerjaannya disini, tapi di sisi lain tiga minggu  lagi Gabriel kelulusan dan tidak menutup kemungkinan kekasihnya itu akan segera di jodohkan. Gabriel memejamkan matanya dalam. Tuhan... apakah jalan yang terbaik untukku?

“Atur pertemuan gue sama Papa, skype disini lancarkan?”

Gabriel mengangguk tanpa menatap atasannya itu. Ia terlanjur kesal dengannya, padahal ia telah bermaksud baik. Tapi kenapa tidak ada timbal baliknya. Kalau gue jadi Gabriel, gue gak bakalan tunggu cowok kayak Gabriel. Gue yakin masih banyak cowok peka yang bisa gue pacarin. Ia mendengus kesal mengingatnya.

“Kalau seandainya waktu loe pulang ternyata Agni udah married loe mau ngapain?”

Gabriel terkekeh, ia berjalan mendekati Shilla yang berbicara dengan tidak sekalipun memandangnya. Ia berdiri, menyandarkan diri di meja tepat di samping Shilla.

“Masih ada loe ini kan? Gue juga tau loe jomblo dan mana ada cowok yang mau sama cewek galak kayak loe.”

Shilla membulatkan matanya, ia menatap Gabriel dengan garang meskipun pemuda itu menatapnya dengan menggoda.

“Terus kenapa loe mau sama gue kalo Agni udah married? Sama aja loe memuji gue walaupun kenyataannya ngejek. Tuh Pak Sion udah setuju.”

Shilla memberikan laptopnya pada Gabriel, kemudian ia beranjak pergi sementara Gabriel berbicara dengan sang ayahanda.

“Pa...”
“Ya Yel, ada apa? Untung Papa gak lagi meeting.”

Gabriel tersenyum tipis, ia menatap Papa nya dengan pandangan teduh.

“Yel, kenapa? Ada masalah?”
“Gabriel harus pulang Pa. Boleh?”

Gabriel menatap Sion dengan tatapan memohon, ia sudah tidak kuat berjauhan lebih lama lagi dengan kekasihnya yang entah masih menjadi kekasihnya atau tidak.

“Ada apa? Agni lagi? Dia baik-baik saja Gabriel, sampai saat ini tidak ada kabar menyebutkan dia akan segera menikah atau telah menikah.”
“Bukan cuma itu Pa, Gabriel harus pulang secepatnya. Sebelum semuanya terlambat.”

Sion menghela nafas panjang, ia tidak tega melihat puteranya itu. Ia sangat menyayanginya.

“Baiklah, untuk sementara waktu biar Papa suruh Sepupu kamu gantiin kamu. Kapan kamu mau pulang?”

Gabriel tersenyum, ia menghela nafas begitu lega mendengar penuturan Papanya.

“Pa... liat artikel ini. eh Gabriel... miss you sayang.”

Gabriel tersenyum pada Mama nya yang mungkin nyelonong masuk ke dalam ruangan Papa-nya itu.

“Gabriel kamu harus liat ini.”

Zahra memperlihatkan sebuah artikel dimana di dalamnya terpampang sebuah foto. Agni dan seorang lelaki yang berpose saling membelakangi dengan baju kerjanya dan terpampang jelas. ‘Muda dan Sukses’.

“Apa itu Ma?”
“Ini lho, Agni jadi asistennya Alvin Pratipta dan mengerjakan separuh pekerjaan Boss nya itu dengan sukses. Dan di sebutkan bahwa Alvin sukses karena Agni dan begitupun sebaliknya karena Agni menyebutkan ‘Kami saling melengkapi satu sama lain, ada semacam timbal balik di antara kami’. Tapi begitu ada pertanyaan mengenai hubungan mereka, mereka cuma tersenyum dan bilang ‘Kita lihat saja kedepannya seperti apa.’ Kamu harus cepat-cepat pulang Gabriel. Mama mau kamu cepat melamar Agni sebelum keduluan sama dia.”

Gabriel terdiam, hatinya bergemuruh. Ada sesuatu yang begitu mengganjal di hatinya, sesuatu yang sangat tidak enak dan tidak pada tempatnya. Sepertinya, ia merasa... akan kehilangan Agni.

“Yel? Jangan bilang kamu udah punya pacar lagi?”

Gabriel terkekeh, ia menatap Mamanya itu.

“Enggak Ma, besok Gabriel pulang kok dan akan segera melamar Agni.”

Zahra tersenyum begitu bahagia mendengar penuturan puteranya begitu juga dengan Sion yang sedari tadi hanya menyimak di samping istrinya itu.

“Yaudah Ma, Pa, Gabriel pamit dulu ya. mau packing.”
“Iya, hati-hati ya sayang.”
“Oke Ma. Dah...”

Gabriel mematikan sambungan dengan kedua orang tuanya itu. Kemudian ia mengalihkan pandangan pada Shilla yang sedang berdiri di menghadap jendela, di tangannya ada secangkir kopi yang terlihat masih mengepul.

“Loe biasain gak minum kopi dong Shil, kasian lambung loe.”

Shilla tersenyum masam. Ia menyesap kopinya itu kemudian berbalik.

“Terus harusnya apa? Cappuccino itu enak Yel. Loe coba deh, jitu banget buat nenangin otak. Apalagi saat suntuk.”

Karena cinta. Lanjut Shilla dalam hati. Ia berjalan ke arah Gabriel menyimpan kopi itu tepat di depannya.

“Gue boleh minta libur selama kita pulang? Loe boleh hubungin kapan aja loe butuh, tapi gue minta keringanan.”
“Oke, gak masalah.”

Gabriel beranjak dari meja Shilla menuju mejanya, ia segera mengambil seluruh barang-barang yang ada di meja kerjanya itu untuk di bawa pulang.

***

Indonesia. I miss you.
Gabriel tersenyum begitu menginjakkan kembali kakinya ke tanah tempat kelahirannya. Ia begitu lega, akhirnya setalah hampir tiga tahun ia pergi ia kembali lagi ke negara ini.

“Loe di jemput Shil?”

Shilla menganggukan kepalanya, lalu melirik jam yang terpasang begitu besar di bandara tersebut.
Ia mengedarkan pandangannya. Saat ia melihat seseorang yang ia kenal, ia segera melambaikan tangannya. Shilla berbalik ke arah Gabriel.

“Gue duluan ya. good luck, semoga loe di terima sama Agni.”

Gabriel mengangguk dan menggumamkan kata ‘amin’. Setelah melihat kepergian Shilla, ia segera menyetop taksi menuju apartemennya yang sangat ia rindukan.

Apa Agni masih sering kesana?
Gabriel menghela nafas. Masihkah ia pantas mengharapkannya? Sementara selama ini ia mengabaikannya, seolah tidak membutuhkannya.

“Ini Pak ongkosnya, terimakasih.”

Gabriel segera keluar dari taksi itu kemudian berjalan memasuki loby apartemennya.

Duk.

Ia bersenggolan kecil dengan seseorang saat mereka hendak memasuki lift yang sama.

“Maaf.”

Gabriel tersenyum menanggapinya, ia terkekeh kecil saat melihat orang itu terlihat berkata dengan kesal pada ponselnya.

“Iya sayang, iya. Aku segera kesana. Iya... aku cuma bawa yang... aku cuma bawa yang ketinggalan sayang jangan nuduh-nuduh gitu. Aku cuma sebentar masa kamu mau ikut? Udah ya... lima menit sayang, bye.”

Pemuda itu tersenyum pada Gabriel, Gabriel membalas senyumannya. Ia mengerutkan keningnya, sepertinya ia kenal dengan pemuda itu. Seperti pernah melihat, tapi dimana?.

“Pacar ya?”

Pemuda itu menggelengkan kepalanya sambil terkekeh.

“Saya tidak pernah tau yang namanya berpacaran. Itu istri saya.”

Gabriel mengangguk-anggukan kepalanya mengerti, secara sepintas sepertinya pemuda itu berumur jauh di bawahnya. Tapi kenapa sudah punya istri? Aku yang kelewat stuck di Agni atau dia yang kelewat beruntung sih? Gabriel menghela nafas panjang.

Ting.

Keduanya berjalan bersamaan. Kemudian saling melirik satu sama lain dan terkekeh.

“Saya yang mengikuti anda atau anda yang mengikuti saya?”

Gabriel semakin terkekeh mendengarkannya.

“Ini apartemen saya.”
“Dan yang sebelahnya apartemen saya.”
“Wah kebetulan sekali ya?”

Gabriel tersenyum menanggapinya.

“Oke... saya duluan ya... eng..”
“Alvin.”

Pemuda itu menyebutkan namanya sesaat sebelum memasuki apartemennya.

“Ya Alvin, sampai berjumpa di lain kesempatan.”

Gabriel memasuki apartemennya, Alvin. Alvin. Alvin. Sepertinya aku gak asing sama nama dan wajahnya. Gabriel melepaskan sepatunya sambil berpikir. Ah iya, Alvin Pradipta.

Gabriel berjalan memasuki apartemennya yang sepertinya sangat bersih. Apa benar Agni masih sering datang kesana? Atau, Mama atau Papanya mengutus cleaning servis untuk membersihkan ruangan itu?

Gabriel menghela nafas panjang, ia langsung berjalan ke arah dapur. Tidak ada apapun disana, kecuali kenangan manis itu. Saat dulu, ia menyatakan cinta pada Agni. Agni... apa kamu masih inget kenangan kita? Aku sangat merindukanmu sekarang.

Gabriel berjalan ke arah ruang tengah dengan gontai. Kini, Agni begitu mendominasi otaknya. Mendominasi di setiap relung pikiran dan dadanya. Ia menaikan sebelah alisnya begitu melihat tumpukan kertas di atas meja. Gabriel meraihnya, membaca satu-persatu isinya. Sesekali ia tersenyum miris, dan sesekali ia bergumam kata ‘maaf’. Tak dapat di pungkiri bahwa dalam dadanya membuncah rasa bersalah yang sangat besar.

Gabriel menutup kedua matanya begitu selesai membaca selurus surat yang berada di atas meja. Ia menyandarkan punggungnya kesandaran kursi. Tangannya meraba sesuatu, seperti kertas juga tapi ada di atas kursi. Ia membuka matanya lalu membuka kertas tanpa amplop itu.

Dear Gab.

Tiga tahun Gab. Waktu yang tidak singkat.

Langkah kakiku ini, tanpa sengaja membawaku memasuki tempat ini. memasuki sebuah tempat yang tidak biasa untukku.

Disini, memori otakku kembali berputar kemasa lalu, dimana aku berada di sampingmu.
Disini kita memulai kisah cinta kita, menggantungkan kisah cinta kita. Dan disini juga, aku akan mengakhiri kisah cinta kita. Maaf Gab. Aku gak bisa terus nunggu... aku terlalu lelah untuk selalu menoleh kebelakang. Hidup itu harus selalu melihat kedepan. Aku gak tau ini tepat atau enggak. Tapi... aku rasa aku mulai bosan menunggu, bahkan sangat bosan jika aku harus mengungkapkannya.

Maaf... Gab.
Aku gak bisa melanjutkan hubungan kita pada tahap yang lebih serius lagi.

Yang tak bisa lagi menunggumu.
Kanz Agnida Hayman.

Gabriel tertegun begitu membacannya, ia meremas kertas itu dengan kesal. Rahangnya mengeras. Bodoh loe Gabriel. Loe udah ngelepas Agni gara-gara ulah loe sendiri.

***

Beberapa hari Gabriel terus merenung, ia memutuskan untuk pulang ke rumahnya. Namun tidak menceritakan apapun pada kedua orang tuanya itu. Gabriel beralasan sedang memikirkan bagaimana meminta Agni untuk menjadi istrinya pada kedua orang tuanya itu. Jadilah dia di ijinkan hanya berdiam diri di rumah.

“Yel, Praha Group meminta pimpinannya untuk menemuinya besok pagi.”

Gabriel menatap Papa-nya yang baru saja pulang kantor sore itu. Ia mengerutkan keningnya, kenapa harus laporan dulu? Yang punya kantor kan Papa.

“Kan kantor itu punya Papa.”
“Lho kan dari dulu kamu pemilik sah nya. Papa cuma memfasilitasi.”

Sion duduk di samping puteranya yang kini mendudukan dirinya.

“Gak bisa sama Papa aja ya?”
“Enggak Yel, kan mereka meminta kamu. Perusahaan itu emang ribet, gak menerima kaki tangan. Bahkan asistenpun jarang yang di terima. Mereka cuma mau bertemu pemimpinnya.”

Gabriel mendengus kesal.

“Yaudah, jam berapa Pa?”
“Jam masuk kantor di restaurant Diamond.”

***

Disinilah Gabriel sekarang. Di tempat yang di tunjuk Papanya. Menunggu kliennya yang ternyata memiliki jam karet. Ia menghembuskan nafas berat. Ia tidak bisa menunggu lebih lama. Ia terlalu bosan jika harus menunggu seperti ini.

Gabriel melirik arlojinya. Ini sudah hampir setengah jam ia menunggu.

“Permisi Pak, maaf saya terlambat.”

Gabriel berdecak kemudian memutar tubuhnya. Ia menaikan sebelah alisnya. Sepertinya ia mengenali gadis di hadapannya ini. apalagi suaranya yang mengingatkan dia pada seseorang. Tapi apa mungkin dia... Agni?.

“Pak... Maaf...”Gabriel membulatkan matanya begitu melihat Agni berdiri dihadapannya dengan mata yang membulay indah.  “G.Gab? Gab..riel?”

Gabriel segera menarik Agni dalam pelukannya. Ia begitu merindukan gadis itu, ia tak bisa menahan lebih lama lagi betapa rindunya ia padanya.

“Agni... aku gak percaya bisa ketemu kamu disini, aku...”

Agni diam. Gabriel tidak menerima respon apapun dari gadis itu. Apa yang di katakan dalam surat itu sebuah kebenaran? Apakah benar gadis itu akan benar-benar melupakannya, melupakan segala kenangannya?

“Maaf Pak, tolong lepaskan.”
“Agni...”

Agni menatap Gabriel dengan dingin. Tak dapat ia pungkiri ia sangat merindukan pemuda di hadapannya ini, pemuda yang begitu ia rindukan sekarang ada di hadapannya. Logika dan hatinya seketika berperang. Dalam hatinya ia menentang keras-keras keberadaan Gabriel, tapi logikanya berkata lain, ia menginginkan Gabriel.

“Agni...”

Agni menghela nafas panjang, ia tersenyum getir. Matanya mulai buram karena tertutup air mata yang akan segera tumpah.

“Gab...”

Agni segera memeluk Gabriel setelah menyimpan berkas yang berada di tangannya ke atar sebuah kursi. Ia tidak kuat lagi menahan sesuatu yang meluap-luap dalam dadanya, meminta untuk terlampiaskan sekarang juga.

Gabriel tersenyum seraya membalas pelukan Agni dengan erat. Gadisnya itu... telah berubah, gadis yang sekarang terlihat sangat dewasa di matanya dan sepertinya siap untuk ia jadikan seorang... istri.

Agni melepaskan pelukannya lalu duduk di kursi kosong tepat di hadapan Gabriel. Ia mengusap sisa air mata yang masih terus turun.

Gabriel terkekeh melihatnya, ia mengulurkan tangannya pada pipi Agni. Menghapus aliran sungai itu.

“Maaf Agni... aku gak ngabarin kamu sedikitpun. Tapi aku ngelakuin itu bukan tanpa alasan.”
“Apa?”

Agni berkata dengan suara yang terdengar begitu parau. Agni menghembuskan nafas, Ia berusaha menetralkan perasaannya.

Gabriel menghela nafas panjang, ia menggenggam tangan Agni dengan erat lalu melihat ke arah jari tangan Agni yang belum terselip satupun cincin.

“Syukurlah... aku gak terlambat. Aku pergi tanpa menghubungi kamu karena waktu itu Papa kamu bilang kalo kamu mau di jodohin.”
“HAH?!”

Agni menatap Gabriel tidak percaya, ia tidak berkedip untuk beberapa saat. Kemudian ia mengusap wajahnya frustasi.

“Tapi untungnya kamu belum mengikat hubungan kalian. Aku akan menagih janji Papamu yang membolehkan aku menikahimu sebelum kamu menikah sama pemuda yang di jodohkan sama kamu.”
“APA?! Papa... bilang gitu?”

Gabriel mengangguk dengan senyuman yang tak lepas dari bibirnya. Ia menarik tangan Agni, lalu mengecupnya pelan.

“Kamu mau jadi istri aku Agni?”

Deg!
Istri?
Bagaimana perasaan kalian jika di lamar oleh kekasih kalian seperti ini? jawabannya, pasti akan sangat bahagia. Tapi, kasus berbeda menimpa Agni.

Agni menggelengkan kepalanya pelan, bersamaan dengan air mata yang kembali meluncur dari kedua matanya.

“Aku gak bisa Gab. Aku... sudah menikah.”
“APA?! Menikah?”

Gabriel tertawa lepas mendengarkannya, ia merasa sangat lucu dengan ucapan Agni. Bagaimana mungkin orang yang tidak menikah tidak memakai cincin pernikahannya? Apa Agni hanya bergurau agar ia mundur?

“Kamu lucu Agni... mana mungkin ada orang yang udah nikah gak pake cincin? Aneh!.”

Agni tersenyum kaku. Benar, ia memang tidak memakai cincin pernikahannya. Tapi, apalah arti sebuah cincin jika ikrar suci sudah di lafalkan? Bukankah sah nya sebuah pernikahan hanya dengan ikrar suci itu? Bukan dengan cincin.

“Aku emang udah nikah Gab.”

Gabriel menenangkan dirinya untuk tidak tertawa, ia tersenyum pada gadis itu kemudian berpindah tempat duduk menjadi di samping Agni.

“Dan aku... akan merebutmu kembali untukku... Agni.”

Ponsel Agni berdering sebelum Gabriel berhasil mengecup alat ucapnya. Agni segera menjauhkan diri dari Gabriel.

“Iya Pa ada apa?”

Agni melirik Gabriel yang menatapnya penuh tanya.

“Papa ada di rumah kamu, cepetan pulang. Alvin juga lagi on the way pulang.”
“Iya, Agni segera pulang.”
“Yasudah. Hati-hati.”
“Iya Pa.”

Agni melirik arlojinya, kemudian merapihkan berkas yang tidak sempat di buka itu. Ia harus segera pergi dari tempat itu, jika tidak mau masalah ini semakin di perdalam.

“Mau kemana?”
“Pulang, Papa udah nunggu di rumah.”

Gabriel mengerutkan dahinya.

“Lalu? Tunggu dulu sebentar Agni, kita belum sempat membicarakan bisnis kita.”
“Kalo gak cepet-cepet pulang, Papa keburu pulang.”
“Agni... kamu ngomong apa sih? Gak nyambung tau. Kamu sama Papa kamukan tinggal satu rumah, kenapa kamu keliatannya buru-buru gitu?”

Agni menghela nafas panjang. Ternyata pemuda di hadapannya ini masih belum percaya ia telah menikah. Ia memberikan sebuah dokumen pada Gabriel.

“Pelajari ini, kalau anda setuju silahkan hubungi sekertaris saya, disana telah tercantum nomor dan nama sekertaris saya.”
“Agni...”

Gabriel meraih tangan Agni yang hendak beranjak itu. Ia menatap gadis itu dengan memelas.

“Aku gak ngerti. Kamu ini kenapa?”
“Lepas Gab. Aku buru-buru. Kalau kamu mau, kamu bisa atur pertemuan kita beberapa hari kedepan lagi. Aku masih banyak kerjaan.”
“Aku anter kamu pulang.”

Agni mengurai cekalan tangan Gabriel, ia tersenyum pada pemuda itu.

“Gak usah, aku bawa mobil sendiri. Permisi.”

Gabriel menghela nafas begitu Agni menghilang di balik pintu. Kenapa gadis itu terlihat begitu aneh? Apa benar ia telah menikah?
Gabriel menggelengkan kepalanya. Dia memang aneh, tapi anehnya itu karena lebih terlihat dewasa, berkarisma, dan cantik. Ya... Agni memang semakin cantik dengan aura positif  yang begitu kuat keluar dari dalam dirinya.

***


Bersambung.

No comments:

Post a Comment