Thursday, 7 August 2014

Long Distance Marriage




Chapter 5

Ali dan Prilly duduk berhadapan di atas sofa yang berada dikamar Ali. Ali menatap ke arah lain, sementara Prilly tak henti-hentinya menghela nafas dan sesekali menatap Ali takut.
“Ya... jujur aku emang gak suka sama Aliando.”
Ali tersenyum masam, untuk pertama kalinya ia mendengar orang yang mengatakan tidak menyukainya secara langsung, tapi bukan itu yang membuat hatinya perih. Satu-satunya yang membuat ia perih adalah ia harus menghadapi kenyataan bahwa yang menjadi hatersnya itu adalah istrinya sendiri.

“Yaudah. Gak masalah.”
Setelah mengatakan itu Ali berlalu begitu saja tanpa memperhatikan Prilly yang telah menitikan air matanya. Ia kira Ali akan menanyakan apa alasannya. Ia kira setelah ia jujur akan baik-baik saja. Ia kira semuanya tidak akan seperti ini. ia kira...
“Ali...”
Prilly berlari mengejar Ali, ia menuruni tiap anak tangga dengan berlari secepat mungkin. Saat ia tiba di tangga terakhir suara deruan sebuah mobil terdengar meninggalkan kediaman itu.
“ALIIIIIIIII.............”
“ALI! Dengerin dulu penjelasan aku Ali...”
Namun semuanya sia-sia. Kini Ali telah pergi meninggalkan rumah itu entah kemana. Prilly melihat kesana kemari, mencari sesuatu, tapi nihil. Meskipun ia pergi, ia akan mencari Ali kemana? Air mata Prilly kembali menetes. Ia tidak bisa menerima kemarahan Ali yang seperti itu, tanpa menetahui alasannya. Tidak!. dari dalam lubuk hatinya yang terdalampun ia merasa sangat bersalah. Prilly menyeka kasar air matanya kemudian kembali berlari kekamarnya.

***

Prilly mendial nomor Ali untuk kesekian kalinya dengan kaki dan tangan yang terus bergetar hebat ketakutan, air matanyapun terus saja menetes. Ia menyeka air matanya.
“Ali Please angkat dong. Maafin aku...”
Namun lagi-lagi tak ada satupun panggilan yang dijawabnya. Prilly menghembuskan nafasnya putus asa. Ia mengurut keningnya sesaat kemudian ia mendial nomor Reina.
“Hallo sayang... assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam Ma... Ma...”
“Sayang kamu kenapa? Kamu nangis?.”
“Ma... Ali marah sama Illy Ma...”
“Kok bisa sayang? Kamu buat masalah apa sama dia?.”
“Ma... aku ketauan chating sama Agni. Ali baca semuanya, Ali nyangka Illy benci dia Ma... Ma... Illy harus gimana sekarang?.”
“Kamu ada-ada aja sih.”
“Ma... Illy takut Ma...”
“Stt... udah sayang jangan nangis ya...”
“Tapi Ma... Ali gimana?.”
“Kamu tinggal minta maaf sama dia sayang, kamu jelasin semuanya aja.”
“Ali pergi Ma... Illy gak tau Ali sekarang dimana.”
“Kamu udah telpon dia?.”
“Udah. Gak diangkat Ma. Illy sms juga gak dibalas.”
“Yaudah Mama kesana ya...”
“Enggak Ma... Illy gak enak sama Mama Riani.”
Reina menghela nafas panjang.
“Yaudah. Sekarang kamu tenang... kamu tanya sama Mama Riani, Ali suka pergi kemana. Yaa...”
Prilly menarik nafas panjang, ia menyeka air matanya sambil menghembuskan nafasnya, ia mengulangnya beberapa kali hingga ia tenang.
“Kalo udah tenang, sekarang kamu lebih baik coba hubungi Ali lagi atau telpon Mama.”
“Iya Ma... yaudah ya Ma... Illy mau cari Ali dulu. Assalamualaikum Ma...”
“Yang tenang ya sayang. Waalaikumsalam.”
“Iya Ma. Bye.”
“Bye.”
Prilly kembali mengurut keningnya yang ia rasa mulai pening. Entah mengapa air matanyapun terus saja mengalir, getaran dari dalam hati mendorong air matanya terus saja keluar tanpa komando. Apakah dilubuk hatinya yang paling dalam diam-diam Ali berarti baginya? Sekali lagi Prilly mengurut keningnya, ia meraih segelas air yang berada dinakasnya.

PRANG!

Air mata Prilly kembali mengalir, ia menarik nafas panjang kemudian merapihkan serpihan dari gelas itu dengan sesekali menyeka air matanya.
“Aw...”
Prilly meringis kesakitan, ia mendesah lirih kemudian bangkit. Tangan kirinya yang tidak terluka membuka laci-laci di kamar itu mencari kotak P3K. Air mata itu tanpa komando terus saja keluar dengan dua alasan. Perih ditangan dan perih dihati. Kini untuk pertama kalinya, ia merasa sendiri tanpa ada orang lain yang mempedulikannya. Prilly meraih ponselnya, kemudian mendial nomor Ali. Prilly tersenyum saat panggilannya diangkat.
“Ali...”
“Jangan hubungi aku dulu sampai aku pulang.”
Setelah mengatakan itu panggilannya ditutup. Prilly mendesah lelah. Apa yang harus ia lakukan sekarang? Prilly menarik nafas panjang kemudian menyeka air matanya. Kuat Prilly! Loe harus kuat! Loe baik-baik aja sebelum kenal Ali! Ya... gue baik-baik aja meskipun tanpa dia!

***

“Prilly...”
Riani berlari ke arah Prilly yang duduk lesu di atas tempat tidurnya, tangannya masih berdarah karena dibersihkan dengan alakadarnya saja. Ia duduk disamping Prilly sambil membuka kotak obat miliknya kemudian meraih tangan kanan Prilly.
“Kok bisa kayak gini sih? Kamu kenapa?.”
“Gapapa Ma... Illy cuma lagi gak fokus aja.”
Riani membersihkan luka Prilly dengan alkohol dan kemudian meneteskan obat antiseptik pada jari itu. Prilly meringis kesakitan.
“Udah.” Ucap riani setelah memberikan plester dijari Prilly.
Prilly menghela nafas panjang. Ia mengibas-ngibaskan tangannya menahan rasa sakit. Ia menghela nafas panjang.
“Ali mana? Kenapa dia belum pulang juga?.”
Prilly mengangkat wajahnya, riani terlihat meraih ponsel untuk menghubungi seseorang. Prilly menghela nafas panjang sambil merapihkan rambutnya. Ia lelah untuk menangis. Ia memang bingung, ia belum tau Ali dan bagaimana Ali. Jadi salahkah jika ia menangis karena kebingungan seperti ini?

***

Ali memasuki sebuah apartemen miliknya yang terbilang begitu mewah, ia membantingkan dirinya keatas sofa kemudian mendesah lelah. Emosinya yang tidak stabil membuatnya begitu lelah, bukan fisiknya yang lelah, tapi hatinya terasa begitu lelah, tidak siap menerima kenyataan.

“Ya... jujur aku emang gak suka sama Aliando.”

Ali menarik rambutnya kebelakang kemudian memukul sofa yang didudukinya dengan keras. Kenapa sih harus Prilly? Kenapa harus dia? Setelah sekian lama gue nunggu kenapa harus menerima kenyataan Prilly gak suka gue? Bahkan haters! Kenapa gue gak siap dibenci dia padahal kemaren-kemaren gue biasa aja. Kenapa?!
Ali merogoh ponsel disakunya. Dari tadi ponselnya terus saja berdering pertanda panggilan masuk. 26 panggilan tak terjawab semuanya dari Prilly. Ia menghela nafas. sebenernya apa sih yang dia pikirin? Katanya benci tapi kenapa masih aja nelpon? Apa dia peduli sama gue?
Ponsel Ali kembali berdering. Ia melirik ke arah ponselnya itu. My Barbie’s calling... Ali menarik nafas panjang menguatkan hatinya kemudian menjawab panggilan tersebut.
“Ali...”
Prilly? Ali memejamkan matanya sejenak.
“Jangan hubungi aku dulu sampai aku pulang.”
Setelah mengatakan itu Ali mengakhiri panggilannya kemudian menyimpan ponselnya kembali diatas meja. Ia menyandarkan punggungnya disandaran kursi dengan mata terpejam sesekali ia menarik nafas dan menghembuskannya dengan tenang sesekali pula ia menghela nafas lelah. Entah kenapa mendengar suara lirih Prilly membuatnya tidak tenang, ia merasa Prilly tidak baik-baik saja. Apa Prilly tadi nangis?
Ali meraih ponselnya, ia mencari kontak nomor Prilly. Kemudian ia mendialnya namun belum tersambungpun ia langsung mematikannya kembali. Gak! belum saatnya ia biacara, ia takut salah jika berbicara sekarang. Ia harus menenangkan pikirannya terlebih dahulu.
“Maafin aku Prill... mungkin kamu akan menilai aku gak dewasa... tapi, hal ini baru buat aku dan aku belum siap. Aku harap kamu mengerti.”
Ponsel Ali kembali berdering setelah sekian lama sunyi. Ali mengerutkan keningnya saat melihat nama si pemanggil.
“Ya Ma?.”
“Kamu masih dimana sih? Katanya kamu mau pulang gimana sih? Prilly nungguin kamu dirumah dari tadi. Kamu tau? Kamu dimana sekarang?! Pulang!!!.”
Ali menghela nafas panjang. Untuk pertama kalinya Riani marah padanya.
“Ali! Dengerin Mama gak sih kamu? dimana kamu sekarang?!.”
“Apartemen.”
“APA?! Kamu pergi keapartemen kemu sendiri dan ninggalin Prilly disini?! Kamu itu gimana sih? Tega-teganya biarin Prilly sendiri. Pokoknya Mama gak mau tau kamu pulang sekarang!.”
“Minta tolong sama supir aja anterin Prilly kesini Ma.”
“Ali? Kamu lagi ada masalah sama Prilly?.” Tanya Riani dengan suara melemah
“Kok nanyanya gitu Ma? Enggak.”
“Nada bicara kamu gak kayak biasanya.”
“Enggak Ma. Udah ya Ma Ali capek. Bye Mama.”
“Heh Ali...”
Ali menyimpan kembali ponselnya di meja. Ternyata Prilly gak bilang kalo kita lagi ada masalah sama Mama. Sebaiknya gue selesain semua masalah ini disini, Mama gak usah tau. Ali menghela nafas lalu menyamankan posisinya, setelah itu ia terlelap.

***

Prilly menghela nafas beberapa kali. Saat ini, ia berdiri didepan pintu apartemen milik Ali. Tangannya terangkat, ragu untuk menekan bel itu. ia menghela nafas kembali. Kemudian ia memberanikan diri menekan belnya.
Lama sekali tidak ada tanda-tanda pintu itu akan terbuka. Apa bel nya rusak ya?. pikir Prilly. saat ia akan mengetuk pintu bersamaan dengan itu pula pintunya terbuka. Ali berdiri disana dengan rambut yang acak-acakan dan wajah yang masih ditekuk.
“Masuk.”
Prilly melirik kekanan dan kekirinya kemudian memasuki apartemen itu. Prilly dipersilahkan duduk bersama Ali yang kini duduk diatass sofa itu. ia menatap Ali sekilas lalu dengan ragu ia mendudukan dirinya tepat disamping Ali.
Sekian lama keduanya hanya diam dan diam, yang terdengar diruangan itu hanya suara jam dan helaan nafas dari Prilly, hingga Prilly buka suara.
“Apartemen kamu berantakan, biar aku beresin ya.” ucap Prilly.
“Gak. duduk.” Ucap Ali saat melihat Prilly hendak berdiri meninggalkan sofanya.
Prilly menghela nafas kemudian duduk kembali. Ia melirik sekilas kearah Ali kemudian menundukan kepalanya. Kembali hening tercipta diantara keduanya. Prilly bungkam, begitu juga Ali. Keduanya sama-sama bingung memulai.
Ali menghela nafas panjang, ia melirik kearah Prilly. Gadisnya, kini bermata sembab dan saat ia melihat jari tangannya ternyata ada sebuah plester disana. Kenapa dia? Saat Ali hendak buka suara ternyata Prilly lebih dulu berucap.
“Buat apa kita kayak gini terus Li? Apa sebegitu sakit hatinya kamu sama aku?.”
Prilly melirik kearah Ali lalu menatapnya dalam. matanya begitu sendu seakan penuh kesedihan.
Ali tersenyum masam, apa yang baru saja ia dengar? Gak salah? Apakah gadis dihadapannya ini belum pernah mengatakan ada yang membencinya tepat dihadapannya sendiri hingga dengan mudah dia mengatakan itu? salah jika sekarang Ali bertambah kecewa?
Ali berdiri hendak meninggalkan Prilly. Namun dengan cepat Prilly meraih tangan Ali kemudian menatap Ali berani, ia harus berani jika semua masalah ini ingin cepat selesai. Ia tak bisa mendapati suaminya marah padanya lebih lama lagi, karena bagaimanapun juga ia tidak akan pernah baik-baik aja jika Ali seperti itu. begitulah kodrat seorang istri.
“Oke kalo kamu mau tetep diemin aku. tapi seenggaknya kamu dengerin dulu penjelasan aku. bukan  kabur-kaburan kayak gini.”
Prilly menarik nafas panjang, ia melepaskan tangan Ali kemudian menundukan kepalanya. Ia bingung harus berbuat apa, ia tak pernah sekalipun menghadapi seorang lelaki kecuali Fadli, Ayahnya. Selain itu tidak ada lagi lelaki disisinya. Prilly menarik nafas panjang.
“Aku emang gak suka Aliando Syarief, tapi aku suka Muhammad Ali Syarief yang meskipun belum ketemu, belum kenal sama istrinya udah perhatian, udah nunjukin rasa sayangnya...” ucap Prilly begitu lirih.
Ali memgerutkan keningnya. Ia menghadap ke arah Prilly dengan tatapan penuh tanya kemudian berjongkok dihadapan Prilly.
“Maksud kamu?.”
Prilly menatap Ali, ia tersenyum pada suaminya itu. seenggaknya, kini dia mulai mau mendengarkan penjelasannya.
“Saat kamu bersamaku, jadilah Ali-ku. Bukan Aliando yang memiliki banyak penggemar. Tapi saat kamu menjadi Aliando, aku harap kamu jangan bawa-bawa aku. karena aku cuma milik Ali. Bukan Aliando.”
Prilly menghela nafas panjang menahan air mata yang bersiap meluncur dari mata indahnya.
“Yang aku gak suka emang Aliando tapi bukan berarti aku gak suka Ali. Bukan berarti aku benci Ali”
Senyum Ali perlahan merekah. Kemudian dengan cepat ia menarik Prilly dalam pelukannya.
“Iya yaang... sekarang aku ngerti. Makasih... makasih kamu udah nerima aku walaupun kamu tau Ali dan Aliando itu orang yang sama.”
Prilly membalas pelukan Ali kemudian tersenyum penuh kebahagiaan, ia mengeratkan pelukannya, tanpa terasa air mata itu kembali meluncur dipermukaan pipinya, air mata kebahagiaan. Semoga dengan cara seperti ini jalan terbaik. Karena bener apa kata Ali bagaimanapun juga mau Ali ataupun Aliando tetap orang yang sama. tapi seenggaknya jika seperti ini akan lebih baik.
“Kamu bisa ikutin aku kemanapun. saat aku menjadi Ali, kamu milik aku, dan saat aku menjadi Aliando kamu hatersku. Haters paling aku sayang.” Ucap Ali yang diiringi kekehan kecil darinya dan Prilly.

***

Ali menggenggam tangan kanan Prilly, memeluk tangan itu didadanya. Ali melirik Prilly yang tidur terlentang disamping kirinya. Senyum gadisnya itu tak pernah luntur dari paras cantiknya, iapun ikut tersenyum senang.
“Yaang...”
Prilly menoleh ke arah Ali, ia tresenyum padanya.
“Kenapa?.”
“Maafin aku.”
Prilly terkekeh kecil, ia mengelus pipi Ali dengan tangan kirinya.
“Gapapa Ay. Kamu dari tadi minta maaf terus ih. Aku risih tau dengernya.”
“Yaudah maaf.”
“Ih itu Maaf lagi.”
Ali dan Prilly terkekeh.
“Udah ah. Tidur yaang udah malem. Besok aku berangkat pagi, jadwal aku besok padat.”
Prilly mendengus. Ia memutar bola matanya kesal.
“Iya deh yang artis.”
“Ops... sorry!.”
Ali terkekeh melihat Prilly yang kini menekuk kembali wajahnya, beginilah jika Ali sudah membahas tentang apapun yang ada sangkut pautnya sama kerjaannya, tepatnya sangkut paut dirinya sebagai Aliando.
“Udah dong yaang... jangan ngambek. Tidur yukk.”
“Ali apaan sih kamu? Geliiiiiiiiiiii...........”

***

Bersambung.

Yuk kalo ada komentar biar cepet ditanggapin komentar di twitter aja, atau kalo mau nanya tentang cerita-cerita aku tinggal ask aja di ask.fm ya :)
Tapi komen disini juga gapapa kok. :)
Yuk yang mau temenan follow Twitter dan ask.fm aku : @SopiahNenden
Makasih buat semuanya yang udah ask aku di ask.fm, asal kalian tau itu semua bikin aku semakin semangat. :) terimakasih yang sebesar-besarnya atas respon positif kalian. :)

Terimakasih sebelumnya. :)



No comments:

Post a Comment