Chapter 5
Ali dan Prilly duduk berhadapan di
atas sofa yang berada dikamar Ali. Ali menatap ke arah lain, sementara Prilly
tak henti-hentinya menghela nafas dan sesekali menatap Ali takut.
“Ya... jujur aku emang gak suka
sama Aliando.”
Ali tersenyum masam, untuk pertama
kalinya ia mendengar orang yang mengatakan tidak menyukainya secara langsung,
tapi bukan itu yang membuat hatinya perih. Satu-satunya yang membuat ia perih
adalah ia harus menghadapi kenyataan bahwa yang menjadi hatersnya itu adalah
istrinya sendiri.
“Yaudah. Gak masalah.”
Setelah mengatakan itu Ali berlalu
begitu saja tanpa memperhatikan Prilly yang telah menitikan air matanya. Ia
kira Ali akan menanyakan apa alasannya. Ia kira setelah ia jujur akan baik-baik
saja. Ia kira semuanya tidak akan seperti ini. ia kira...
“Ali...”
Prilly berlari mengejar Ali, ia
menuruni tiap anak tangga dengan berlari secepat mungkin. Saat ia tiba di
tangga terakhir suara deruan sebuah mobil terdengar meninggalkan kediaman itu.
“ALIIIIIIIII.............”
“ALI! Dengerin dulu penjelasan aku
Ali...”
Namun semuanya sia-sia. Kini Ali
telah pergi meninggalkan rumah itu entah kemana. Prilly melihat kesana kemari,
mencari sesuatu, tapi nihil. Meskipun ia pergi, ia akan mencari Ali kemana? Air
mata Prilly kembali menetes. Ia tidak bisa menerima kemarahan Ali yang seperti
itu, tanpa menetahui alasannya. Tidak!. dari dalam lubuk hatinya yang
terdalampun ia merasa sangat bersalah. Prilly menyeka kasar air matanya
kemudian kembali berlari kekamarnya.
***
Prilly mendial nomor Ali untuk
kesekian kalinya dengan kaki dan tangan yang terus bergetar hebat ketakutan,
air matanyapun terus saja menetes. Ia menyeka air matanya.
“Ali Please angkat dong. Maafin
aku...”
Namun lagi-lagi tak ada satupun
panggilan yang dijawabnya. Prilly menghembuskan nafasnya putus asa. Ia mengurut
keningnya sesaat kemudian ia mendial nomor Reina.
“Hallo
sayang... assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam Ma... Ma...”
“Sayang
kamu kenapa? Kamu nangis?.”
“Ma... Ali marah sama Illy Ma...”
“Kok
bisa sayang? Kamu buat masalah apa sama dia?.”
“Ma... aku ketauan chating sama
Agni. Ali baca semuanya, Ali nyangka Illy benci dia Ma... Ma... Illy harus
gimana sekarang?.”
“Kamu
ada-ada aja sih.”
“Ma... Illy takut Ma...”
“Stt...
udah sayang jangan nangis ya...”
“Tapi Ma... Ali gimana?.”
“Kamu
tinggal minta maaf sama dia sayang, kamu jelasin semuanya aja.”
“Ali pergi Ma... Illy gak tau Ali
sekarang dimana.”
“Kamu
udah telpon dia?.”
“Udah. Gak diangkat Ma. Illy sms
juga gak dibalas.”
“Yaudah
Mama kesana ya...”
“Enggak Ma... Illy gak enak sama
Mama Riani.”
Reina menghela nafas panjang.
“Yaudah.
Sekarang kamu tenang... kamu tanya sama Mama Riani, Ali suka pergi kemana.
Yaa...”
Prilly menarik nafas panjang, ia
menyeka air matanya sambil menghembuskan nafasnya, ia mengulangnya beberapa
kali hingga ia tenang.
“Kalo
udah tenang, sekarang kamu lebih baik coba hubungi Ali lagi atau telpon Mama.”
“Iya Ma... yaudah ya Ma... Illy mau
cari Ali dulu. Assalamualaikum Ma...”
“Yang
tenang ya sayang. Waalaikumsalam.”
“Iya Ma. Bye.”
“Bye.”
Prilly kembali mengurut keningnya
yang ia rasa mulai pening. Entah mengapa air matanyapun terus saja mengalir,
getaran dari dalam hati mendorong air matanya terus saja keluar tanpa komando.
Apakah dilubuk hatinya yang paling dalam diam-diam Ali berarti baginya? Sekali lagi
Prilly mengurut keningnya, ia meraih segelas air yang berada dinakasnya.
PRANG!
Air mata Prilly kembali mengalir,
ia menarik nafas panjang kemudian merapihkan serpihan dari gelas itu dengan
sesekali menyeka air matanya.
“Aw...”
Prilly meringis kesakitan, ia
mendesah lirih kemudian bangkit. Tangan kirinya yang tidak terluka membuka
laci-laci di kamar itu mencari kotak P3K. Air mata itu tanpa komando terus saja
keluar dengan dua alasan. Perih ditangan dan perih dihati. Kini untuk pertama
kalinya, ia merasa sendiri tanpa ada orang lain yang mempedulikannya. Prilly meraih
ponselnya, kemudian mendial nomor Ali. Prilly tersenyum saat panggilannya
diangkat.
“Ali...”
“Jangan
hubungi aku dulu sampai aku pulang.”
Setelah mengatakan itu panggilannya
ditutup. Prilly mendesah lelah. Apa yang harus ia lakukan sekarang? Prilly menarik
nafas panjang kemudian menyeka air matanya. Kuat
Prilly! Loe harus kuat! Loe baik-baik aja sebelum kenal Ali! Ya... gue
baik-baik aja meskipun tanpa dia!
***
“Prilly...”
Riani berlari ke arah Prilly yang
duduk lesu di atas tempat tidurnya, tangannya masih berdarah karena dibersihkan
dengan alakadarnya saja. Ia duduk disamping Prilly sambil membuka kotak obat
miliknya kemudian meraih tangan kanan Prilly.
“Kok bisa kayak gini sih? Kamu kenapa?.”
“Gapapa Ma... Illy cuma lagi gak
fokus aja.”
Riani membersihkan luka Prilly dengan
alkohol dan kemudian meneteskan obat antiseptik pada jari itu. Prilly meringis
kesakitan.
“Udah.” Ucap riani setelah
memberikan plester dijari Prilly.
Prilly menghela nafas panjang. Ia mengibas-ngibaskan
tangannya menahan rasa sakit. Ia menghela nafas panjang.
“Ali mana? Kenapa dia belum pulang
juga?.”
Prilly mengangkat wajahnya, riani
terlihat meraih ponsel untuk menghubungi seseorang. Prilly menghela nafas
panjang sambil merapihkan rambutnya. Ia lelah untuk menangis. Ia memang
bingung, ia belum tau Ali dan bagaimana Ali. Jadi salahkah jika ia menangis
karena kebingungan seperti ini?
***
Ali memasuki sebuah apartemen
miliknya yang terbilang begitu mewah, ia membantingkan dirinya keatas sofa
kemudian mendesah lelah. Emosinya yang tidak stabil membuatnya begitu lelah,
bukan fisiknya yang lelah, tapi hatinya terasa begitu lelah, tidak siap
menerima kenyataan.
“Ya...
jujur aku emang gak suka sama Aliando.”
Ali menarik rambutnya kebelakang
kemudian memukul sofa yang didudukinya dengan keras. Kenapa sih harus Prilly? Kenapa harus dia? Setelah sekian lama gue
nunggu kenapa harus menerima kenyataan Prilly gak suka gue? Bahkan haters! Kenapa
gue gak siap dibenci dia padahal kemaren-kemaren gue biasa aja. Kenapa?!
Ali merogoh ponsel disakunya. Dari tadi
ponselnya terus saja berdering pertanda panggilan masuk. 26 panggilan tak terjawab semuanya dari Prilly. Ia menghela nafas. sebenernya apa sih yang dia pikirin? Katanya
benci tapi kenapa masih aja nelpon? Apa dia peduli sama gue?
Ponsel Ali kembali berdering. Ia melirik
ke arah ponselnya itu. My Barbie’s
calling... Ali menarik nafas panjang menguatkan hatinya kemudian menjawab
panggilan tersebut.
“Ali...”
Prilly? Ali memejamkan matanya sejenak.
“Jangan hubungi aku dulu sampai aku
pulang.”
Setelah mengatakan itu Ali mengakhiri
panggilannya kemudian menyimpan ponselnya kembali diatas meja. Ia menyandarkan
punggungnya disandaran kursi dengan mata terpejam sesekali ia menarik nafas dan
menghembuskannya dengan tenang sesekali pula ia menghela nafas lelah. Entah kenapa
mendengar suara lirih Prilly membuatnya tidak tenang, ia merasa Prilly tidak
baik-baik saja. Apa Prilly tadi nangis?
Ali meraih ponselnya, ia mencari
kontak nomor Prilly. Kemudian ia mendialnya namun belum tersambungpun ia
langsung mematikannya kembali. Gak! belum
saatnya ia biacara, ia takut salah jika berbicara sekarang. Ia harus
menenangkan pikirannya terlebih dahulu.
“Maafin aku Prill... mungkin kamu
akan menilai aku gak dewasa... tapi, hal ini baru buat aku dan aku belum siap. Aku
harap kamu mengerti.”
Ponsel Ali kembali berdering
setelah sekian lama sunyi. Ali mengerutkan keningnya saat melihat nama si
pemanggil.
“Ya Ma?.”
“Kamu
masih dimana sih? Katanya kamu mau pulang gimana sih? Prilly nungguin kamu
dirumah dari tadi. Kamu tau? Kamu dimana sekarang?! Pulang!!!.”
Ali menghela nafas panjang. Untuk pertama
kalinya Riani marah padanya.
“Ali!
Dengerin Mama gak sih kamu? dimana kamu sekarang?!.”
“Apartemen.”
“APA?!
Kamu pergi keapartemen kemu sendiri dan ninggalin Prilly disini?! Kamu itu
gimana sih? Tega-teganya biarin Prilly sendiri. Pokoknya Mama gak mau tau kamu
pulang sekarang!.”
“Minta tolong sama supir aja
anterin Prilly kesini Ma.”
“Ali?
Kamu lagi ada masalah sama Prilly?.” Tanya
Riani dengan suara melemah
“Kok nanyanya gitu Ma? Enggak.”
“Nada
bicara kamu gak kayak biasanya.”
“Enggak Ma. Udah ya Ma Ali capek. Bye
Mama.”
“Heh
Ali...”
Ali menyimpan kembali ponselnya di
meja. Ternyata Prilly gak bilang kalo
kita lagi ada masalah sama Mama. Sebaiknya gue selesain semua masalah ini
disini, Mama gak usah tau. Ali menghela nafas lalu menyamankan posisinya,
setelah itu ia terlelap.
***
Prilly menghela nafas beberapa
kali. Saat ini, ia berdiri didepan pintu apartemen milik Ali. Tangannya terangkat,
ragu untuk menekan bel itu. ia menghela nafas kembali. Kemudian ia memberanikan
diri menekan belnya.
Lama sekali tidak ada tanda-tanda
pintu itu akan terbuka. Apa bel nya rusak
ya?. pikir Prilly. saat ia akan mengetuk pintu bersamaan dengan itu pula
pintunya terbuka. Ali berdiri disana dengan rambut yang acak-acakan dan wajah
yang masih ditekuk.
“Masuk.”
Prilly melirik kekanan dan
kekirinya kemudian memasuki apartemen itu. Prilly dipersilahkan duduk bersama Ali
yang kini duduk diatass sofa itu. ia menatap Ali sekilas lalu dengan ragu ia
mendudukan dirinya tepat disamping Ali.
Sekian lama keduanya hanya diam dan
diam, yang terdengar diruangan itu hanya suara jam dan helaan nafas dari Prilly,
hingga Prilly buka suara.
“Apartemen kamu berantakan, biar
aku beresin ya.” ucap Prilly.
“Gak. duduk.” Ucap Ali saat melihat
Prilly hendak berdiri meninggalkan sofanya.
Prilly menghela nafas kemudian
duduk kembali. Ia melirik sekilas kearah Ali kemudian menundukan kepalanya. Kembali
hening tercipta diantara keduanya. Prilly bungkam, begitu juga Ali. Keduanya sama-sama
bingung memulai.
Ali menghela nafas panjang, ia
melirik kearah Prilly. Gadisnya, kini bermata sembab dan saat ia melihat jari
tangannya ternyata ada sebuah plester disana. Kenapa dia? Saat Ali hendak buka suara ternyata Prilly lebih dulu
berucap.
“Buat apa kita kayak gini terus Li?
Apa sebegitu sakit hatinya kamu sama aku?.”
Prilly melirik kearah Ali lalu
menatapnya dalam. matanya begitu sendu seakan penuh kesedihan.
Ali tersenyum masam, apa yang baru
saja ia dengar? Gak salah? Apakah gadis dihadapannya ini belum pernah
mengatakan ada yang membencinya tepat dihadapannya sendiri hingga dengan mudah
dia mengatakan itu? salah jika sekarang Ali bertambah kecewa?
Ali berdiri hendak meninggalkan
Prilly. Namun dengan cepat Prilly meraih tangan Ali kemudian menatap Ali berani,
ia harus berani jika semua masalah ini ingin cepat selesai. Ia tak bisa
mendapati suaminya marah padanya lebih lama lagi, karena bagaimanapun juga ia
tidak akan pernah baik-baik aja jika Ali seperti itu. begitulah kodrat seorang
istri.
“Oke kalo kamu mau tetep diemin
aku. tapi seenggaknya kamu dengerin dulu penjelasan aku. bukan kabur-kaburan kayak gini.”
Prilly menarik nafas panjang, ia
melepaskan tangan Ali kemudian menundukan kepalanya. Ia bingung harus berbuat
apa, ia tak pernah sekalipun menghadapi seorang lelaki kecuali Fadli, Ayahnya. Selain
itu tidak ada lagi lelaki disisinya. Prilly menarik nafas panjang.
“Aku emang gak suka Aliando Syarief,
tapi aku suka Muhammad Ali Syarief yang meskipun belum ketemu, belum kenal sama
istrinya udah perhatian, udah nunjukin rasa sayangnya...” ucap Prilly begitu
lirih.
Ali memgerutkan keningnya. Ia
menghadap ke arah Prilly dengan tatapan penuh tanya kemudian berjongkok
dihadapan Prilly.
“Maksud kamu?.”
Prilly menatap Ali, ia tersenyum
pada suaminya itu. seenggaknya, kini dia mulai mau mendengarkan penjelasannya.
“Saat kamu bersamaku, jadilah
Ali-ku. Bukan Aliando yang memiliki banyak penggemar. Tapi saat kamu menjadi
Aliando, aku harap kamu jangan bawa-bawa aku. karena aku cuma milik Ali. Bukan
Aliando.”
Prilly menghela nafas panjang
menahan air mata yang bersiap meluncur dari mata indahnya.
“Yang aku gak suka emang Aliando tapi
bukan berarti aku gak suka Ali. Bukan berarti aku benci Ali”
Senyum Ali perlahan merekah. Kemudian
dengan cepat ia menarik Prilly dalam pelukannya.
“Iya yaang... sekarang aku ngerti. Makasih...
makasih kamu udah nerima aku walaupun kamu tau Ali dan Aliando itu orang yang
sama.”
Prilly membalas pelukan Ali
kemudian tersenyum penuh kebahagiaan, ia mengeratkan pelukannya, tanpa terasa
air mata itu kembali meluncur dipermukaan pipinya, air mata kebahagiaan. Semoga dengan cara seperti ini jalan
terbaik. Karena bener apa kata Ali bagaimanapun juga mau Ali ataupun Aliando
tetap orang yang sama. tapi seenggaknya jika seperti ini akan lebih baik.
“Kamu bisa ikutin aku kemanapun.
saat aku menjadi Ali, kamu milik aku, dan saat aku menjadi Aliando kamu
hatersku. Haters paling aku sayang.” Ucap Ali yang diiringi kekehan kecil
darinya dan Prilly.
***
Ali menggenggam tangan kanan Prilly,
memeluk tangan itu didadanya. Ali melirik Prilly yang tidur terlentang
disamping kirinya. Senyum gadisnya itu tak pernah luntur dari paras cantiknya,
iapun ikut tersenyum senang.
“Yaang...”
Prilly menoleh ke arah Ali, ia
tresenyum padanya.
“Kenapa?.”
“Maafin aku.”
Prilly terkekeh kecil, ia mengelus
pipi Ali dengan tangan kirinya.
“Gapapa Ay. Kamu dari tadi minta
maaf terus ih. Aku risih tau dengernya.”
“Yaudah maaf.”
“Ih itu Maaf lagi.”
Ali dan Prilly terkekeh.
“Udah ah. Tidur yaang udah malem. Besok
aku berangkat pagi, jadwal aku besok padat.”
Prilly mendengus. Ia memutar bola
matanya kesal.
“Iya deh yang artis.”
“Ops... sorry!.”
Ali terkekeh melihat Prilly yang
kini menekuk kembali wajahnya, beginilah jika Ali sudah membahas tentang apapun
yang ada sangkut pautnya sama kerjaannya, tepatnya sangkut paut dirinya sebagai
Aliando.
“Udah dong yaang... jangan ngambek.
Tidur yukk.”
“Ali apaan sih kamu? Geliiiiiiiiiiii...........”
***
Bersambung.
Yuk kalo ada komentar biar cepet
ditanggapin komentar di twitter aja, atau kalo mau nanya tentang cerita-cerita
aku tinggal ask aja di ask.fm ya :)
Tapi komen disini juga gapapa kok.
:)
Yuk yang mau temenan follow Twitter
dan ask.fm aku : @SopiahNenden
Makasih buat semuanya yang udah ask
aku di ask.fm, asal kalian tau itu semua bikin aku semakin semangat. :)
terimakasih yang sebesar-besarnya atas respon positif kalian. :)
Terimakasih sebelumnya. :)
No comments:
Post a Comment