Wednesday, 6 August 2014

Long Distance Marriage



Chapter 4

Prilly terjaga karena merasakan sesuatu bergerak di area perutnya. Ditambah lagi ada yang berhembus di bagian belakang kepalanya. Ia sedikit bergerak, namun sesuatu diperutnya itu semakin mengencang. Prilly menundukan kepalanya, ternyata ada tangan asing diperutnya, yang semakin kencang memeluknya. Setelah melihatnya, dengan cepat ia berbalik.
“AAAAAAAAAAAAAAAAAAAA....................”
Secara refleks Prilly mendorong orang yang tidur disampingnya, Ali.
“AAAAAAAAAAAAAAAAAA............. NGAPAIN LOE DISINI?! AAAAAAAAAAAAAAAAAAA............... MAMAAAAAAAAAAAAAAAAA...............”

Ali panik mendengar teriakan Prilly. Dengan segera ia menarik tangan Prilly hingga dia terlentang dibawahnya kemudian membungkam mulut cantiknya itu.
“Diem... ngapain kamu teriak-teriak? Aku Ali.”
Prilly terus menggertak, kedua tangannya dicengkram begitu kuat oleh tangan kiri Ali, sementara tangan kanan Ali membungkam mulut Prilly. Ali terdiam... ia menatap Prilly yang berada dibawah kuasanya. Ali menggelengkan kepalanya perlahan, mengintruksikan agar Prilly diam.
“Stt...”
Dada Prilly naik turun karena panik, nafasnya tersengal-sengal. Ia memejamkan matanya sejenak menenangkan pikirannya. ini pasti gak ada yang beres, kenapa dia ada disini? Mana Ali?
“Oke... aku lepasin sekarang. Kamu jangan teriak lagi. Entar aku disangka ngapa-ngapain kamu lagi sama Mama. Diem ya... aku lepasin nih.”
Prilly mengangguk perlahan.
Ali mulai mengurai cengkeraman ditangan Prilly dan melepaskan bungkamannya juga. Ia menegakkan tubuhnya sambil menatap Prilly.
Prilly juga mendudukan dirinya, ia mundur teratur dari atas pembaringan. Nafasnya masih memburu akibat shock.
“AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA.......... MAMAAAAAAAAAAAAAA........”
“Ehhh...”
Ali menarik tangan Prilly yang akan berlari meninggalkannya. Ia menghempaskan Prilly keatas pembaringan kembali hingga kini Prilly kembali berada dibawah kuasanya. Nafas Ali memburu, ia mengatur nafasnya perlahan dengan mata tak lepas dari Prilly yang masih saja memberontak.
“Aliando, Prilly kalian kena... Ops.”
Ali dan Prilly berbalik kearah pintu bersamaan, secara refleks Ali melepaskan Prilly kemudian duduk.
“Mama...” ucap Ali dan Prilly bersamaan.
Prilly menatap Ali penuh tanya. Namun, kemudian ia beralih pada Riani yang sedang terkekeh geli menatapnya.
“Maaf ya Mama ganggu. Lain kali kunci kamarnya ya... oiya jangan lupa sholat udah mau siang tuh. Nanti jangan lupa sarapan. Dah... Mama tinggal ya.”
Riani mengedipkan matanya menggoda ke arah Ali dan Prilly. Sementara Prilly tersenyum malu dan Ali tak bersuara juga tak berekspresi.
Prilly menarik nafas panjang, ia menghadap ke arah Ali, menatapnya dengan kesal.
“Loe! Aliando!. Ali mana? Ali? Ngapain loe disini?! Pergi!!! Bukan mukhrim!!!.”
Ali terkekeh keli. Ia menatap Prilly dengan intens.
“Ini aku yaang... Ali. Muhammad Ali Syarief.”
“Gak! loe itu Aliando... Syarief...” Prilly menatap Ali ragu.
“Yeah... Aku Aliando Syarief. Tapi nama KTP aku Muhammad Ali Syarief. Dibuku nikah kita juga Muhammad Ali Syarief.” Ucap Ali dengan tatapan menggoda ke arah Prilly.
Prilly menghela nafas malas. Hhh... apa ini? apakah ini keberuntungan atau petaka? Kenapa gue harus ketemu sama orang yang selama ini gak diharapkan? Kenapa enggak yang kerenan dikit kek.
Ali terkekeh lagi. Ia menatap Prilly begitu dalam sambil menarik nafas panjang. Kemudian tangannya terulur menjangkau kepala Prilly mengelusnya perlahan.
“Udah jangan dipikirin. Sholat yuk.”
Prilly terdiam begitu menatap Ali yang tersenyum dihadapannya, pandangannya terus mengikuti Ali hingga dia menghilang dibalik pintu kamar mandi. Ia menghela nafas kembali kemudian merapihkan tempat tidurnya.

***

Prilly menatap Ali yang baru saja mengucapkan salam terakhir dipenghujung sholatnya. Ia menghela nafas kemudian beralih menatap pantulan dirinya di cermin.
“Gak sholat yaang?.”
“Gak.”
“Kenapa?.”
Prilly mendengus kesal. Ia berbalik menatap Ali dengan tatapan jengkel.
“Menurut kamu?.”
Ali mengerutkan keningnya, ia nampak berpikir sambil merapihkan alat sholatnya.
“Ohh... iya aku ngerti.”
Ali berjalan ke arah Prilly yang masih merapihkan rambutnya. Ia mendekatkan wajahnya ketelinga Prilly.
“Pantesan sensitif banget.”
Prilly melirik tajam, kali ini ia kesal dengan Ali. Sementara Ali membalas tatapan Prilly sambil tersenyum jenaka. Setelah lama bertatapan, Prilly beranjak dari kamar itu. masih belum terima jika suaminya itu ternyata Aliando yang tidak ia sukai.

***

Prilly mendekati Riani yang sedang mempersiapkan sarapan didapur. Ia tersenyum kaku pada mertuanya itu.
“Ali udah turun juga Ly?.”
Prilly tersenyum tanpa minat.
“Udah Ma.”
Riani menghela nafas panjang. Ia menatap kearah Prilly.
“Kamu kenapa sayang? Kok kayaknya bete gitu sih? Ada masalah sama Ali?.”
Masalah banget MA! Kenapa Ali aku harus ALIANDOOO? Prilly menghela nafas panjang. Ia tersenyum tipis.
“Enggak Ma.”
“Dia lagi dateng bulan Ma... makanya sensi gitu.” Sahut Ali yang baru saja datang dengan segelas air putih ditangannya.
“Iyakan yaang? Udah dong cemberutnya.”
Prilly tersenyum ke arah Ali dan Riani.
“Iya Ma...” ia beralih pada Ali. “Udah sana kamu pergi aja.”
Ali melihat kearah jam dinding kemudian menghela nafas malas.
“Oke. EH iya... Sarapannya bungkus aja ya. Sejam lagi aku berangkat. Sekarang aku mau prepare dulu.”
Prilly mengerutkan keningnya.
“Kemana?.”
Ali terkekeh.
“Acara musik yaang... Aku di segmen satu kok. Setelah itu aku langsung pulang.”
Prilly memutar bola matanya. Gak pulang juga gak masalah!. Batin Prilly.
“Yaudah, nanti di bungkusin sama Mama. Kamu mandi sana.”
“Iya Ma... ini juga baru mau mandi.”
Prilly menghela nafas panjang setelah Ali berlalu, ia melirik kearah Riani.
“Ma... Ali sibuk ya?.”
“Gitulah. Apalagi beberapa hari kedepan dia ada tour keliling Indonesia gitu.”
“Oh.”
Riani menatap Prilly, ia menghadapkan Prilly kearahnya. Prilly mengerutkan keningnya, merasa aneh.
“Kamu kenapa? Keberatan ya sama jadwal Ali?.”
“Ah? Enggak Ma... enggak.” Malah syukur kalo dia sibuk! Lanjut Prilly membatin. Ia tersenyum kecil pada Riani meyakinkan ibu mertuanya itu bahwa dirinya baik-baik saja, kemudian melanjutkan pekerjaannya.

***

Ali merapihkan pakaiannya sekali lagi. Setelah ia rasa puas, ia segera mnyambar jaket hitamnya, kemudian meraih jaket biru yang berada tak jauh darinya. Ia tersenyum pada Orangtuanya dan Prilly yang sedang melakukan sarapan.
“Yaang ikut yuk.”
Prilly menatap Ali sejenak.
“Ke?.”
Ali menghela nafas gemas.
“Acara sayang. Setelah itu kita jalan.”
“Gak mau. Entar gimana kalo ada fans yang liat? Enggak! Aku takut.”
“Iya Li. Kasian juga Illy nya. Biarin aja nemenin Mama dulu dirumah sementara, kaliankan sebentar lagi pindah kerumah baru kalian. Ya Li?.”
Ali mendesah kecewa. Bagaimana lagi? Ia tidak bisa melawan Mamanya jika wajah Mamanya sudah berbinar-binar memohon seperti itu.
“Yaudah deh. Ini jaketnya aku bawa ya... oiya sarapan buat aku mana?.”
Prilly berdiri sambil meraih sebuah kotak makanan yang berada dimeja.
“Biar aku anter sampe depan.” Ucap Prilly begitu datar.
Ali menarik ujung bibirnya sedikit.
“Yuk...” Ali meraih tangan Prilly, menggandengnya hingga ia sampai didepan mobil yang telah siap membawanya pergi, meninggalkan barbienya sementara waktu.
“Kalo ada apa-apa kabari aku ya yaang.”
Prilly mengangguk. Ia memberikan kotak makanan ditangannya pada Ali.
“Jangan lupa sarapan.”
Ali tersenyum sambil menerima kotak itu.
“Makasih yaang. Kamu juga ya.”
Prilly mengangguk lagi.
Ali menatap Prilly cukup lama, membiarkan pikirannya membingkai wajah cantik istrinya itu. ia menarik nafas panjang. Dengan cepat ia mengecup puncak kepala Prilly setelah itu memasuki mobilnya.
Prilly terdiam. Untuk pertama kalinya. Ia dicium seorang laki-laki. Ia mengerjabkan matanya kemudian menatap Ali yang ternyata sedang tersenyum kearahnya.
“Aku pergi dulu yaang.”
Prilly lagi-lagi hanya mengangguk.
“Take care.”
Sekali lagi, Ali tersenyum pada Prilly sebelum menutup kaca jendelanya. Sepertinya ini akan menjadi hari terberat baginya. Karena untuk pertama kalinya, ia akan ditunggu seseorang dirumah, menantinya pulang.

***

Ali terus mengulum senyumannya, ia menarik nafas panjang, menahan kebahagiaannya yang begitu meluap didalam dada. Ia menatap kearah jalan raya. Untuk pertama kalinya aku bahagia seperti ini. Ali mengalihkan lagi pandangannya kearah lain, meraih jaket biru milik Prilly yang sengaja ia bawa. Hhh... seenggaknya, disini ada wangi parfume kamu... biar aku gak terlalu kehilangan kamu. Ali terkekeh kecil. jadi gini rasanya orang jatuh cinta?

***
Prilly menekuk wajahnya, untuk pertama kalinya ia merasa bosan yang sangat amat bosan. Sementara tangannya terus saja memindah-mindahkan channel televisi yang sedang ia lihat. Kenapa sih semuanya Aliando Aliando dan Aliando. Kayak artis Indonesia cuma dia aja. Yang keren kek, Adipati Dolken ke, Kevin Julio, atau siapa gitu.
“Illy... kamu masih aja bete gitu sayang...”
Prilly tersenyum kearah Riani sekilas, namun kemudian ia kembali menekuk wajahnya.
“Illy cuma bosen aja Ma... pengen jalan tapi susah hubungin Ali nya. Takutnya gak diijinin. Nonton TV isinya Aliando semua. Illy gak suka... eh.”
Prilly melirik takut ke arah Riani. Sementara Riani mengerutkan keningnya heran. Bukannya Ali sama Aliando orang yang sama?
“Kamu mau ijin sama Ali seolah kamu baik-baik aja sama Ali. Tapi kok kamu bilangnya gak suka sama Aliando? Kok gitu sih? Atau kamu emang dasarnya gak suka sama Ali?.”
“Eh Ma... jangan salah faham. Enggak bukan gitu. Illy suka kok sama Ali, cuma kurang suka saat dia harus jadi Aliando aja.”
Riani menghela nafas, ia mengelus puncak kepala Prilly.
“Yaudahlah terserah kamu aja ya... yang penting jangan sampe merubah hubungan kalian. Oiya, Mama mau arisan dirumah sebelah, kamu mau ikut? Atau gimana?.”
“Enggak ah Ma. Takutnya Ali gak ngijinin, gak suka Illy keluar rumah, Illy mendingan dirumah aja selagi Ali belum bales sms Illy ngijinin keluar rumah, lagipula kayaknya bentar lagi juga Ali pulang sesuai janjinya. Gapapa kok Illy ditinggal sendiri Ma.”
Riani lagi-lagi tersenyum.
“Mama gak nyangka, walaupun kamu gak suka sama Aliando tapi kamu tetep mau patuh sama dia. Mama seneng punya menantu kayak kamu. Mama aja jarang ijin-ijin gitu sama Papa.”
Prilly menunduk malu, ia membalas senyuman Riani.
“Kata Mama. Illy harus ijin dulu sama suami Illy kalo mau kemana-mana, Illy gak boleh pergi kalo gak dapet ijin. Gitu Ma.”
Riani menghela nafas panjang, ia mengambil ponselnya dari dalam tas. Ia tersenyum pada Prilly sejenak.
“Kalo gitu, mulai sekarang Mama juga bakalan Ijin sama Papa. Makasih ya sayang udah ingetin Mama.”
Prilly tersenyum senang, ia mengangguk kecil kemudian memeluk Riani sesaat.
“Pa... Hallo assalamu’alaikum. Maaf Mama ganggu.”
“Waalaikumsalam. Ada apa Ma?.”
“Mama mau keluar rumah. Papa ngijinin gak?.”
“Kok tumben sih? Ya kalo mau keluar ya tinggal keluar aja Ma. Kenapa ijin dulu?.”
Riani melirik ke arah Prilly.
“Mama baru aja belajar sama Prilly. Yaudah kalo diijinin, Mama pergi ya. nanti kalo udah mau pulang kasih tau Mama ya...”
“Iya Mama sayaang... yaudah Papa mau meeting ya...”
“Iya Pa. Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam.”

Prilly menatap Riani yang sudah mengakhiri panggilan dengan Fandi. Ia tersenyum kecil pada Riani.
“Mama gak usah kayak gitu kalo gak biasa, entar Papa malah aneh Ma.”
Riani terkekeh.
“Iya, kayaknya Papa aneh denger Mama ijin. Tapi gapapa, belajar jadi istri yang sempurna itu gak salahkan?.”
Prilly terkekeh sambil mengangguk antusias.
“Yaudah, Mama pergi ya... kalo ada apa-apa telpon aja Mama. Bye sayang... assalamualaikum.”
“Iya Ma. Waalaikumsalam.”
Prilly masih tersenyum, menatap kepergian Riani. Ia menghela nafas panjang, kemudian beranjak menuju kamar Ali yang sekarang kamarnya juga.

***

Ali kini telah berada di perjalanan pulang, hari ini benar-benar hari keberuntungan. Jadwalnya tidak sepadat biasanya.
“Tapi inget Li. Jadwal loe besok padet.”
“Iya. Gue inget.”
Ali mendengus kesal. Kenapa sih jadwalnya padat terus? Salah gue juga sih yang dulu sembarangan deal deal deal. Ia menghela nafas panjang kemudian meraih ponselnya.

Aku bosen dirumah.
Boleh jalan-jalan?

Li? Gak boleh?

Ali tersenyum kecil, ternyata ia memang lelaki yang paling beruntung. Ternyata setelah pertemuan yang tidak bisa dibilang sukses, gadisnya itu tidak berubah.

Aku lagi on the way pulang.
Nanti kita jalan.

Setelah mengirimkan pesan tersebut tak ada balasan lagi dari Prilly. Ia beberapa kali melihat ponselnya kemudian menghela nafas panjang. Mungkin Prilly pergi sama Mama... gapapa deh.
***

Ali memasuki kediamannya yang begitu sepi, ia berjalan ke arah belakang rumahnya yang ternyata tidak ada tanda-tanda kehidupan. Ia beralih ke arah dapur kemudian mengambil segelas air untuk dibawa kekamarnya. Ia merogoh ponselnya yang berada disaku celana.
Aku udah sampe rumah yaang...

Setelah pesan itu terkirim ia menaiki tangga menuju kamarnya, lebih baik istirahat daripada bosan dirumah sendirian.
Ali membuka pintu kamarnya, ia melihat Prilly yang tidur tertelungkup dengan laptop nyang masih menyala dihadapannya. Ia tersenyum kecil, ternyata perkiraannya salah. Prilly nya berbeda dengan orang lain yang belum diijinkanpun akan pergi, tapi dia malah tidur. Ali menggelengkan kepalanya sambil mendekat ke arah Prilly. Ia mengerutkan keningnya, melihat line chatting Prilly di laptop. Ia menyimpan gelasnya kemudian meraih laptop itu, membacanya dengan teliti.

Agni?

Yoo... udah nyampe Jakarta loe?
Kok baru kabarin gue sih. Sms gue napa.

Udahlah, dari kemaren keles.
Ogah!

Napa loe?
Guekan cuma pengen smsans sama loe.

Dih! Ogah!
Ujung-ujungnya loe pasti ngomongin cowok sok kecakepan itu.

Prilly! Aliando emang cakep keles.

Kata siapa? Emang loe pernah liat aslinya?

Kagak sih. Jadi loe udah liat aslinya?

Iya. Kenapa?
Sering keles gue ketemu dia. Kenapa? Ngiri loe?

Apaan sih loe? Jelas ngiri lah.
Katanya loe gak suka sama dia. Ngapain loe sering-sering ketemu?

Terserah gue!

Yaudah. Pokoknya loe harus foto bareng dia baru gue percaya.

Ogah!

Berarti boongkan loe?

Iya gue boong. Ngapain juga gue ketemu cowok sok kecakepan kayak Aliando pujaan hati loe itu? loe jugakan udah cap gue hatersnya dia. :P

Yang bener napa Pril. Loe beneran ketemu kagak sih sama dia?

Menurut loe?

Kagak!

Yaudah.

Jadi kesimpulannya?
Prilly!
Woy!
Ih kemana sih loe?
Prilly jadi loe beneran ketemu Aliando?
Prillyyyyyyyyyy........
Pokoknya gue minta foto dia!

Ali menatap ragu kearah Prilly yang masih terlelap dalam tidurnya. Jadi ini alasan kenapa tadi pagi istrinya itu berteriak shock? Ternyata Prilly tidak menyukai Aliando, tidak menyukai dirinya. Ali menghela nafas panjang, ia menyimpan kembali laptop milik Prilly itu kemudian beranjak.
“Eh... Li. Udah pulang?.”
Ali berbalik ke arah Prilly kemudian tersenyum.
“Iya. Maaf ya jadi keganggu tidurnya sama aku. udah lanjutin aja lagi.”
Prilly mengerutkan keningnya, ia menurunkan kakinya dari atas tempat tidur.
“Kamu kenapa kok lesu gitu? Capek?.”
Ali menarik nafas panjang. Apa ini harus dibahas sekarang? Ali menatap Prilly ragu. Sementara Prilly menatap Ali dengan penuh tanya.
“Kenapa? Aku aneh ya?.” Prilly menatap dirinya sendiri, merapihkan pakaian dan rambutnya yang mungkin ada yang salah dimata Ali.
“Jadi... ternyata kamu gak suka sama aku? kamu ternyata Ali’s haters?.”
Prilly menatap Ali begitu kaget dengan penuturan lelaki dihadapannya itu. bagaimana mungkin dia menyimpulkan seperti itu? Kenapa dia menyimpulkan seperti ini? Prilly mendekati Ali, menatap mata Ali yang menatapnya penuh kekecewaan. Apa yang harus ia lakukan sekarang?

***

Bersambung.

Yuk kalo ada komentar biar cepet ditanggapin komentar di twitter aja, atau kalo mau nanya tentang cerita-cerita aku tinggal ask aja di ask.fm ya :)
Tapi komen disini juga gapapa kok. :)
Yuk yang mau temenan follow Twitter dan ask.fm aku : @SopiahNenden
Makasih buat semuanya yang udah ask aku di ask.fm, asal kalian tau itu semua bikin aku semakin semangat. :) terimakasih yang sebesar-besarnya atas respon positif kalian. :)

Terimakasih sebelumnya. :)

No comments:

Post a Comment