Chapter 4
Prilly terjaga karena merasakan
sesuatu bergerak di area perutnya. Ditambah lagi ada yang berhembus di bagian
belakang kepalanya. Ia sedikit bergerak, namun sesuatu diperutnya itu semakin
mengencang. Prilly menundukan kepalanya, ternyata ada tangan asing diperutnya,
yang semakin kencang memeluknya. Setelah melihatnya, dengan cepat ia berbalik.
“AAAAAAAAAAAAAAAAAAAA....................”
Secara refleks Prilly mendorong
orang yang tidur disampingnya, Ali.
“AAAAAAAAAAAAAAAAAA.............
NGAPAIN LOE DISINI?! AAAAAAAAAAAAAAAAAAA...............
MAMAAAAAAAAAAAAAAAAA...............”
Ali panik mendengar teriakan
Prilly. Dengan segera ia menarik tangan Prilly hingga dia terlentang dibawahnya
kemudian membungkam mulut cantiknya itu.
“Diem... ngapain kamu
teriak-teriak? Aku Ali.”
Prilly terus menggertak, kedua
tangannya dicengkram begitu kuat oleh tangan kiri Ali, sementara tangan kanan
Ali membungkam mulut Prilly. Ali terdiam... ia menatap Prilly yang berada
dibawah kuasanya. Ali menggelengkan kepalanya perlahan, mengintruksikan agar
Prilly diam.
“Stt...”
Dada Prilly naik turun karena
panik, nafasnya tersengal-sengal. Ia memejamkan matanya sejenak menenangkan
pikirannya. ini pasti gak ada yang beres,
kenapa dia ada disini? Mana Ali?
“Oke... aku lepasin sekarang. Kamu
jangan teriak lagi. Entar aku disangka ngapa-ngapain kamu lagi sama Mama. Diem
ya... aku lepasin nih.”
Prilly mengangguk perlahan.
Ali mulai mengurai cengkeraman
ditangan Prilly dan melepaskan bungkamannya juga. Ia menegakkan tubuhnya sambil
menatap Prilly.
Prilly juga mendudukan dirinya, ia
mundur teratur dari atas pembaringan. Nafasnya masih memburu akibat shock.
“AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA..........
MAMAAAAAAAAAAAAAA........”
“Ehhh...”
Ali menarik tangan Prilly yang akan
berlari meninggalkannya. Ia menghempaskan Prilly keatas pembaringan kembali hingga
kini Prilly kembali berada dibawah kuasanya. Nafas Ali memburu, ia mengatur
nafasnya perlahan dengan mata tak lepas dari Prilly yang masih saja
memberontak.
“Aliando, Prilly kalian kena...
Ops.”
Ali dan Prilly berbalik kearah
pintu bersamaan, secara refleks Ali melepaskan Prilly kemudian duduk.
“Mama...” ucap Ali dan Prilly
bersamaan.
Prilly menatap Ali penuh tanya.
Namun, kemudian ia beralih pada Riani yang sedang terkekeh geli menatapnya.
“Maaf ya Mama ganggu. Lain kali
kunci kamarnya ya... oiya jangan lupa sholat udah mau siang tuh. Nanti jangan
lupa sarapan. Dah... Mama tinggal ya.”
Riani mengedipkan matanya menggoda
ke arah Ali dan Prilly. Sementara Prilly tersenyum malu dan Ali tak bersuara
juga tak berekspresi.
Prilly menarik nafas panjang, ia
menghadap ke arah Ali, menatapnya dengan kesal.
“Loe! Aliando!. Ali mana? Ali?
Ngapain loe disini?! Pergi!!! Bukan mukhrim!!!.”
Ali terkekeh keli. Ia menatap
Prilly dengan intens.
“Ini aku yaang... Ali. Muhammad Ali
Syarief.”
“Gak! loe itu Aliando...
Syarief...” Prilly menatap Ali ragu.
“Yeah... Aku Aliando Syarief. Tapi
nama KTP aku Muhammad Ali Syarief. Dibuku nikah kita juga Muhammad Ali
Syarief.” Ucap Ali dengan tatapan menggoda ke arah Prilly.
Prilly menghela nafas malas. Hhh... apa ini? apakah ini keberuntungan
atau petaka? Kenapa gue harus ketemu sama orang yang selama ini gak diharapkan?
Kenapa enggak yang kerenan dikit kek.
Ali terkekeh lagi. Ia menatap
Prilly begitu dalam sambil menarik nafas panjang. Kemudian tangannya terulur
menjangkau kepala Prilly mengelusnya perlahan.
“Udah jangan dipikirin. Sholat
yuk.”
Prilly terdiam begitu menatap Ali
yang tersenyum dihadapannya, pandangannya terus mengikuti Ali hingga dia
menghilang dibalik pintu kamar mandi. Ia menghela nafas kembali kemudian
merapihkan tempat tidurnya.
***
Prilly menatap Ali yang baru saja
mengucapkan salam terakhir dipenghujung sholatnya. Ia menghela nafas kemudian
beralih menatap pantulan dirinya di cermin.
“Gak sholat yaang?.”
“Gak.”
“Kenapa?.”
Prilly mendengus kesal. Ia berbalik
menatap Ali dengan tatapan jengkel.
“Menurut kamu?.”
Ali mengerutkan keningnya, ia
nampak berpikir sambil merapihkan alat sholatnya.
“Ohh... iya aku ngerti.”
Ali berjalan ke arah Prilly yang
masih merapihkan rambutnya. Ia mendekatkan wajahnya ketelinga Prilly.
“Pantesan sensitif banget.”
Prilly melirik tajam, kali ini ia
kesal dengan Ali. Sementara Ali membalas tatapan Prilly sambil tersenyum jenaka.
Setelah lama bertatapan, Prilly beranjak dari kamar itu. masih belum terima
jika suaminya itu ternyata Aliando yang tidak ia sukai.
***
Prilly mendekati Riani yang sedang
mempersiapkan sarapan didapur. Ia tersenyum kaku pada mertuanya itu.
“Ali udah turun juga Ly?.”
Prilly tersenyum tanpa minat.
“Udah Ma.”
Riani menghela nafas panjang. Ia
menatap kearah Prilly.
“Kamu kenapa sayang? Kok kayaknya
bete gitu sih? Ada masalah sama Ali?.”
Masalah
banget MA! Kenapa Ali aku harus ALIANDOOO?
Prilly menghela nafas panjang. Ia tersenyum tipis.
“Enggak Ma.”
“Dia lagi dateng bulan Ma...
makanya sensi gitu.” Sahut Ali yang baru saja datang dengan segelas air putih
ditangannya.
“Iyakan yaang? Udah dong
cemberutnya.”
Prilly tersenyum ke arah Ali dan
Riani.
“Iya Ma...” ia beralih pada Ali.
“Udah sana kamu pergi aja.”
Ali melihat kearah jam dinding
kemudian menghela nafas malas.
“Oke. EH iya... Sarapannya bungkus
aja ya. Sejam lagi aku berangkat. Sekarang aku mau prepare dulu.”
Prilly mengerutkan keningnya.
“Kemana?.”
Ali terkekeh.
“Acara musik yaang... Aku di segmen
satu kok. Setelah itu aku langsung pulang.”
Prilly memutar bola matanya. Gak pulang juga gak masalah!. Batin
Prilly.
“Yaudah, nanti di bungkusin sama
Mama. Kamu mandi sana.”
“Iya Ma... ini juga baru mau
mandi.”
Prilly menghela nafas panjang setelah
Ali berlalu, ia melirik kearah Riani.
“Ma... Ali sibuk ya?.”
“Gitulah. Apalagi beberapa hari
kedepan dia ada tour keliling Indonesia gitu.”
“Oh.”
Riani menatap Prilly, ia
menghadapkan Prilly kearahnya. Prilly mengerutkan keningnya, merasa aneh.
“Kamu kenapa? Keberatan ya sama
jadwal Ali?.”
“Ah? Enggak Ma... enggak.” Malah syukur kalo dia sibuk! Lanjut
Prilly membatin. Ia tersenyum kecil pada Riani meyakinkan ibu mertuanya itu
bahwa dirinya baik-baik saja, kemudian melanjutkan pekerjaannya.
***
Ali merapihkan pakaiannya sekali
lagi. Setelah ia rasa puas, ia segera mnyambar jaket hitamnya, kemudian meraih
jaket biru yang berada tak jauh darinya. Ia tersenyum pada Orangtuanya dan
Prilly yang sedang melakukan sarapan.
“Yaang ikut yuk.”
Prilly menatap Ali sejenak.
“Ke?.”
Ali menghela nafas gemas.
“Acara sayang. Setelah itu kita
jalan.”
“Gak mau. Entar gimana kalo ada
fans yang liat? Enggak! Aku takut.”
“Iya Li. Kasian juga Illy nya.
Biarin aja nemenin Mama dulu dirumah sementara, kaliankan sebentar lagi pindah
kerumah baru kalian. Ya Li?.”
Ali mendesah kecewa. Bagaimana
lagi? Ia tidak bisa melawan Mamanya jika wajah Mamanya sudah berbinar-binar
memohon seperti itu.
“Yaudah deh. Ini jaketnya aku bawa
ya... oiya sarapan buat aku mana?.”
Prilly berdiri sambil meraih sebuah
kotak makanan yang berada dimeja.
“Biar aku anter sampe depan.” Ucap
Prilly begitu datar.
Ali menarik ujung bibirnya sedikit.
“Yuk...” Ali meraih tangan Prilly,
menggandengnya hingga ia sampai didepan mobil yang telah siap membawanya pergi,
meninggalkan barbienya sementara waktu.
“Kalo ada apa-apa kabari aku ya
yaang.”
Prilly mengangguk. Ia memberikan
kotak makanan ditangannya pada Ali.
“Jangan lupa sarapan.”
Ali tersenyum sambil menerima kotak
itu.
“Makasih yaang. Kamu juga ya.”
Prilly mengangguk lagi.
Ali menatap Prilly cukup lama, membiarkan
pikirannya membingkai wajah cantik istrinya itu. ia menarik nafas panjang.
Dengan cepat ia mengecup puncak kepala Prilly setelah itu memasuki mobilnya.
Prilly terdiam. Untuk pertama
kalinya. Ia dicium seorang laki-laki. Ia mengerjabkan matanya kemudian menatap
Ali yang ternyata sedang tersenyum kearahnya.
“Aku pergi dulu yaang.”
Prilly lagi-lagi hanya mengangguk.
“Take care.”
Sekali lagi, Ali tersenyum pada
Prilly sebelum menutup kaca jendelanya. Sepertinya ini akan menjadi hari
terberat baginya. Karena untuk pertama kalinya, ia akan ditunggu seseorang
dirumah, menantinya pulang.
***
Ali terus mengulum senyumannya, ia
menarik nafas panjang, menahan kebahagiaannya yang begitu meluap didalam dada.
Ia menatap kearah jalan raya. Untuk
pertama kalinya aku bahagia seperti ini. Ali mengalihkan lagi pandangannya
kearah lain, meraih jaket biru milik Prilly yang sengaja ia bawa. Hhh... seenggaknya, disini ada wangi parfume
kamu... biar aku gak terlalu kehilangan kamu. Ali terkekeh kecil. jadi gini rasanya orang jatuh cinta?
***
Prilly menekuk wajahnya, untuk
pertama kalinya ia merasa bosan yang sangat amat bosan. Sementara tangannya
terus saja memindah-mindahkan channel televisi yang sedang ia lihat. Kenapa sih semuanya Aliando Aliando dan
Aliando. Kayak artis Indonesia cuma dia aja. Yang keren kek, Adipati Dolken ke,
Kevin Julio, atau siapa gitu.
“Illy... kamu masih aja bete gitu
sayang...”
Prilly tersenyum kearah Riani
sekilas, namun kemudian ia kembali menekuk wajahnya.
“Illy cuma bosen aja Ma... pengen
jalan tapi susah hubungin Ali nya. Takutnya gak diijinin. Nonton TV isinya
Aliando semua. Illy gak suka... eh.”
Prilly melirik takut ke arah Riani.
Sementara Riani mengerutkan keningnya heran. Bukannya Ali sama Aliando orang
yang sama?
“Kamu mau ijin sama Ali seolah kamu
baik-baik aja sama Ali. Tapi kok kamu bilangnya gak suka sama Aliando? Kok gitu
sih? Atau kamu emang dasarnya gak suka sama Ali?.”
“Eh Ma... jangan salah faham.
Enggak bukan gitu. Illy suka kok sama Ali, cuma kurang suka saat dia harus jadi
Aliando aja.”
Riani menghela nafas, ia mengelus
puncak kepala Prilly.
“Yaudahlah terserah kamu aja ya...
yang penting jangan sampe merubah hubungan kalian. Oiya, Mama mau arisan
dirumah sebelah, kamu mau ikut? Atau gimana?.”
“Enggak ah Ma. Takutnya Ali gak
ngijinin, gak suka Illy keluar rumah, Illy mendingan dirumah aja selagi Ali
belum bales sms Illy ngijinin keluar rumah, lagipula kayaknya bentar lagi juga
Ali pulang sesuai janjinya. Gapapa kok Illy ditinggal sendiri Ma.”
Riani lagi-lagi tersenyum.
“Mama gak nyangka, walaupun kamu
gak suka sama Aliando tapi kamu tetep mau patuh sama dia. Mama seneng punya
menantu kayak kamu. Mama aja jarang ijin-ijin gitu sama Papa.”
Prilly menunduk malu, ia membalas
senyuman Riani.
“Kata Mama. Illy harus ijin dulu
sama suami Illy kalo mau kemana-mana, Illy gak boleh pergi kalo gak dapet ijin.
Gitu Ma.”
Riani menghela nafas panjang, ia
mengambil ponselnya dari dalam tas. Ia tersenyum pada Prilly sejenak.
“Kalo gitu, mulai sekarang Mama
juga bakalan Ijin sama Papa. Makasih ya sayang udah ingetin Mama.”
Prilly tersenyum senang, ia
mengangguk kecil kemudian memeluk Riani sesaat.
“Pa... Hallo assalamu’alaikum. Maaf
Mama ganggu.”
“Waalaikumsalam.
Ada apa Ma?.”
“Mama mau keluar rumah. Papa
ngijinin gak?.”
“Kok
tumben sih? Ya kalo mau keluar ya tinggal keluar aja Ma. Kenapa ijin dulu?.”
Riani melirik ke arah Prilly.
“Mama baru aja belajar sama Prilly.
Yaudah kalo diijinin, Mama pergi ya. nanti kalo udah mau pulang kasih tau Mama
ya...”
“Iya
Mama sayaang... yaudah Papa mau meeting ya...”
“Iya Pa. Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam.”
Prilly menatap Riani yang sudah
mengakhiri panggilan dengan Fandi. Ia tersenyum kecil pada Riani.
“Mama gak usah kayak gitu kalo gak
biasa, entar Papa malah aneh Ma.”
Riani terkekeh.
“Iya, kayaknya Papa aneh denger
Mama ijin. Tapi gapapa, belajar jadi istri yang sempurna itu gak salahkan?.”
Prilly terkekeh sambil mengangguk
antusias.
“Yaudah, Mama pergi ya... kalo ada
apa-apa telpon aja Mama. Bye sayang... assalamualaikum.”
“Iya Ma. Waalaikumsalam.”
Prilly masih tersenyum, menatap
kepergian Riani. Ia menghela nafas panjang, kemudian beranjak menuju kamar Ali
yang sekarang kamarnya juga.
***
Ali kini telah berada di perjalanan
pulang, hari ini benar-benar hari keberuntungan. Jadwalnya tidak sepadat
biasanya.
“Tapi inget Li. Jadwal loe besok
padet.”
“Iya. Gue inget.”
Ali mendengus kesal. Kenapa sih jadwalnya padat terus? Salah gue
juga sih yang dulu sembarangan deal deal deal. Ia menghela nafas panjang
kemudian meraih ponselnya.
Aku bosen
dirumah.
Boleh
jalan-jalan?
Li? Gak boleh?
Ali tersenyum kecil, ternyata ia
memang lelaki yang paling beruntung. Ternyata setelah pertemuan yang tidak bisa
dibilang sukses, gadisnya itu tidak berubah.
Aku lagi on the way pulang.
Nanti kita jalan.
Setelah mengirimkan pesan tersebut
tak ada balasan lagi dari Prilly. Ia beberapa kali melihat ponselnya kemudian menghela
nafas panjang. Mungkin Prilly pergi sama
Mama... gapapa deh.
***
Ali memasuki kediamannya yang
begitu sepi, ia berjalan ke arah belakang rumahnya yang ternyata tidak ada
tanda-tanda kehidupan. Ia beralih ke arah dapur kemudian mengambil segelas air
untuk dibawa kekamarnya. Ia merogoh ponselnya yang berada disaku celana.
Aku udah sampe rumah yaang...
Setelah pesan itu terkirim ia
menaiki tangga menuju kamarnya, lebih baik istirahat daripada bosan dirumah
sendirian.
Ali membuka pintu kamarnya, ia melihat
Prilly yang tidur tertelungkup dengan laptop nyang masih menyala dihadapannya.
Ia tersenyum kecil, ternyata perkiraannya salah. Prilly nya berbeda dengan
orang lain yang belum diijinkanpun akan pergi, tapi dia malah tidur. Ali
menggelengkan kepalanya sambil mendekat ke arah Prilly. Ia mengerutkan
keningnya, melihat line chatting Prilly di laptop. Ia menyimpan gelasnya
kemudian meraih laptop itu, membacanya dengan teliti.
Agni?
Yoo... udah nyampe Jakarta loe?
Kok baru kabarin gue sih. Sms gue
napa.
Udahlah, dari kemaren keles.
Ogah!
Napa loe?
Guekan cuma pengen smsans sama loe.
Dih! Ogah!
Ujung-ujungnya loe pasti ngomongin cowok sok
kecakepan itu.
Prilly! Aliando emang cakep keles.
Kata siapa? Emang loe pernah liat aslinya?
Kagak sih. Jadi loe udah liat
aslinya?
Iya. Kenapa?
Sering keles gue ketemu dia. Kenapa? Ngiri loe?
Apaan sih loe? Jelas ngiri lah.
Katanya loe gak suka sama dia.
Ngapain loe sering-sering ketemu?
Terserah gue!
Yaudah. Pokoknya loe harus foto
bareng dia baru gue percaya.
Ogah!
Berarti boongkan loe?
Iya gue boong. Ngapain juga gue ketemu cowok sok
kecakepan kayak Aliando pujaan hati loe itu? loe jugakan udah cap gue hatersnya
dia. :P
Yang bener napa Pril. Loe beneran
ketemu kagak sih sama dia?
Menurut loe?
Kagak!
Yaudah.
Jadi kesimpulannya?
Prilly!
Woy!
Ih kemana sih loe?
Prilly jadi loe beneran ketemu
Aliando?
Prillyyyyyyyyyy........
Pokoknya gue minta foto dia!
Ali menatap ragu kearah Prilly yang
masih terlelap dalam tidurnya. Jadi ini alasan kenapa tadi pagi istrinya itu
berteriak shock? Ternyata Prilly tidak menyukai Aliando, tidak menyukai
dirinya. Ali menghela nafas panjang, ia menyimpan kembali laptop milik Prilly
itu kemudian beranjak.
“Eh... Li. Udah pulang?.”
Ali berbalik ke arah Prilly
kemudian tersenyum.
“Iya. Maaf ya jadi keganggu
tidurnya sama aku. udah lanjutin aja lagi.”
Prilly mengerutkan keningnya, ia
menurunkan kakinya dari atas tempat tidur.
“Kamu kenapa kok lesu gitu? Capek?.”
Ali menarik nafas panjang. Apa ini harus dibahas sekarang? Ali
menatap Prilly ragu. Sementara Prilly menatap Ali dengan penuh tanya.
“Kenapa? Aku aneh ya?.” Prilly
menatap dirinya sendiri, merapihkan pakaian dan rambutnya yang mungkin ada yang
salah dimata Ali.
“Jadi... ternyata kamu gak suka
sama aku? kamu ternyata Ali’s haters?.”
Prilly menatap Ali begitu kaget
dengan penuturan lelaki dihadapannya itu. bagaimana mungkin dia menyimpulkan
seperti itu? Kenapa dia menyimpulkan seperti ini? Prilly mendekati Ali, menatap
mata Ali yang menatapnya penuh kekecewaan. Apa yang harus ia lakukan sekarang?
***
Bersambung.
Yuk kalo ada komentar biar cepet
ditanggapin komentar di twitter aja, atau kalo mau nanya tentang cerita-cerita
aku tinggal ask aja di ask.fm ya :)
Tapi komen disini juga gapapa kok.
:)
Yuk yang mau temenan follow Twitter
dan ask.fm aku : @SopiahNenden
Makasih buat semuanya yang udah ask
aku di ask.fm, asal kalian tau itu semua bikin aku semakin semangat. :)
terimakasih yang sebesar-besarnya atas respon positif kalian. :)
Terimakasih sebelumnya. :)
No comments:
Post a Comment