Chapter 6
Prilly terjaga dari tidurnya, ia
melirik kearah kanannya tapi ternyata telah kosong. Kemudian ia meraih ponsel
yang ia letakkan dinakas.
“Jam 2, Ali kemana?.”
Prilly mendudukan dirinya sambil
sesekali mengerjapkan matanya. Saat matanya mulai fokus, ia dapat melihat Ali
yang sedang bersujud menghadap kiblat dengan penuh ke khusuan. Bibir Prilly
terangkat membentuk sebuah senyuman. Subhanallah...
Ali... jarang banget cowok kayak kamu rajin solat malamnya. Aku beruntung punya
kamu Li.... tanpa terasa air matanya menetes haru menyaksikan suaminya yang
kini mengucapkan salam terakhir pada sholatnya. Prilly menyeka air matanya saat
Ali berbalik, ia tersenyum kemudian mengangkat tangannya untuk berdo’a. Prilly
menarik nafas panjang. Ia merasa satu-satunya gadis yang beruntung, karena bisa
mendapatkan lelaki seperti suaminya itu.
“Kamu kok udah bangun yaang?.”
“Ya kamu kok gak bangunin aku
sih?.”
Ali terkekeh, ia mendekati Prilly.
Setelah menyimpan alat sholatnya ia kembali merebahkan tubuhnya ditempat tidur.
“Yaa kan kata kamu, kamu gak
sholat. Buat apa dibangunin?.”
Prilly merengut kesal. Ia menghadap
ke arah Ali yang mulai memejamkan matanya lagi.
“Kok gitu sih? Kan gapapa
dibangunin.”
Ali tak menjawab perkataan Prilly.
“Ali ihh... malah tidur.”
Ali kembali terjaga, ia membuka
matanya kemudian tidur miring menghadap Prilly.
“Kenapa yaang? Kamu gak ngantuk
apa? Aku ngantuk banget ini.”
“Yaudah sih tidur aja.”
Setelah mengucapkan itu dengan
kesal Prilly kemudian beranjak dari tempat tidurnya. Sementara Ali hanya
terkekeh sambil menatap kepergian Prilly.
“Yaang... kamu mau kemana? Kamu
marah?.”
“Yaang...”
Ali menghela nafas panjang, lalu ia
bangkit dari pembaringan untuk mengikuti Prilly yang keluar dari kamar mereka.
“Yaang...”
Prilly tak mengindahkan perkataan
Ali, ia terus saja berjalan ke arah kulkas. Tapi kemudian menutupnya kembali.
“Yaang jangan marah dong.”
“Siapa yang marah?.”
“Jadi kamu gak marah?.”
“Enggak.”
“Kok cemberut gitu?.”
“Aliii kamu ngegemesin banget sih. Udah
tau aku lagi sensi masih aja tanya-tanya. Aku laper.”
Ali terkekeh. Kemudian merangkul
pinggang Prilly, membawanya duduk dimeja makan.
“Udah kamu diem aja disini.”
Prilly berbalik kearah Ali dengan
mata yang berbinar.
“Dimasakin?.”
Ali tersenyum.
“Ya enggaklah. Mana bisa aku masak?
Aku pesenin aja.”
“Enggak. Aku gak suka fastfood.”
Prilly kembali cemberut. Sementara
Ali hanya bisa menghela nafas panjang.
“Terus gimana yaang? Aku harus
masak?.”
“Mau masak gimana kulkas kosong
gitu. Ditempatin gak sih ini apartemen? Masa cuma ada air putih doang di
kulkas?.”
“Maaf sayang. Namanya juga
bujangan. Makannya kan suka dianterin sama Mama.”
Prilly mendengus kemudian ia
berpikir. Mau sampain pagipun ia tidak akan pernah bisa tidur lagi karena
perutnya begitu keroncongan. Sesaat kemudian ia tersenyum jahil ke arah Ali
yang terlihat mengantuk.
“Kenapa yaang? Hm?.”
“Aku mau makan di warung masakan
padang, yuk.”
“Pesen aja ya...”
“Gak mau, aku mau makan disana.”
“Yaang aku ngantuk.”
“Yaudah aku berangkat sendiri.”
“Eh... oke oke. Aku anter. Kita
berangkat sekarang. Tapi kamu di jaket dulu ya.”
Prilly tersenyum begitu senang. Ia
kemudian memeluk Ali sambil tersenyum begitu lebar dan sesekali terkekeh saat
melihat Ali yang menguap.
“Makasih sayang...”
Setelah mengatakan itu, Prilly
mencubit pipi Ali kemudian berlari ke arah kamarnya, mengambil jaket miliknya
dan milik Ali.
***
“Aku gak kebayang deh kalo kamu
ngidam yaang.”
Ali berucap sambil menatap Prilly
yang sedang menikmati makanannya, setelah mereka berjalan kaki cukup jauh untuk
mencari warung masakan padang, akhirnya mereka menemukan satu warung yang baru
saja mau buka dini hari itu.
“Emang kenapa sih? Kamu keberatan
aku minta anter kesini.”
“Ya gak lagi ngidam aja pengennya
yang aneh-aneh, gimana kalo ngidam coba? Aku sih gak keberatan sayang, apapun
yang kamu mau bakalan aku kasih asalkan jangan dini hari kayak gini. Kamu aneh
deh, untung ini udah ada yang mau buka.”
“Makanya belanja, penuhin kulkas
biar aku masak sendiri. Pokoknya entar pagi-pagi anterin aku belanja ya? ini
buat kamu juga.”
“Yaang... aku kan kerja.”
Kunyahan Prilly melemah begitu
mendengar kata kerja. Setelah itu ia meneguk air hangat yang tersedia kemudian
berdiri.
“Yaang jangan marah dong. Kalo aku
gak kerja aku kasih kamu makan apa?.”
“Gak marah kok. Yaudah kalo mau
kerja tinggal kerja aja, aku bisa pergi sendiri.”
“Jangan yaang... biar aku anter.”
Prilly berbalik kearah Ali.
“Kapan? Jam berapa?.”
Ali berpikir sejenak, kemudian
menghela nafas panjang. Benar juga apa kata Prilly, hari ini dan beberapa hari
kedepan ia memang sibuk dengan serentetan jadwalnya. Ali menghela nafas
kemudian menatap Prilly yang sedang membayar makanannya. Setelah itu keduanya
berpamitan pada pemulik warung kemudian berlalu.
***
“Maaf ya yaang...”
Prilly berbalik ke arah Ali
kemudian tersenyum. Ia meraih tangan Ali kemudian memeluknya. Sambil berjalan
ia menyandarkan kepalanya pada bahu Ali.
“Gapapa. Aku emang harus terbiasa.
Tapi enak ya... jalan-jalan jam segini gak ada yang kenal kamu.”
Ali terkekeh kecil. ia melepaskan
tangannya yang dipeluk Prilly kemudian merangkul pinggang gadisnya itu agar
lebih mendekat padanya.
“Lagipula siapa yang mau
jalan-jalan jam segini? Emangnya orang lain seaneh kamu mau jalan-jalan jam
segini?.”
Prilly memeluk pinggang Ali, namun pandangannya
tetap tertuju pada jalan yang mereka tapaki.
“Kalo aku gak aneh gini. Kapan dong
aku jalan-jalan sama suamiku secara bebas kayak gini?.”
Ali tersenyum kecil. tangannya
meraih kepala Prilly mengelusnya sebentar.
“Iya yaang... maaf ya... aku memiliki
banyak kekurangan. Aku gak bisa kayak orang lain. aku gak sebebas orang lain.
maaf ya...”
Prilly mengangguk perlahan. Ia tak
ingin banyak meminta, ia tak pernah mau muluk-muluk dalam melakukan apapun,
dengan seperti inipun sudah cukup baginya. Yang penting orang yang berada
disampingnya ini ada buatnya, memperhatikannya dan menyayanginya.
***
Ali menatap Prilly yang begitu
cekatan memasakan sarapan untuk sarapannya dan untuk bekalnya. Tadi, begitu
mereka sampai di apartemen mereka memutuskan untuk langsung pulang. Karena
bagaimanapun juga hidup di sebuah apartemen tanpa makanan itu membuat ribet.
“Nanti aku mau belanja ya Ay? Aku
juga mungkin mau beli beberapa buku. Nanti aku pulangnya langsung ke apartemen
jadi kamu kesana aja. Oiya... mungkin kalo sempet nanti aku ketempat kamu.”
ucap Prilly tanpa menoleh ke arah Ali yang duduk tak jauh darinya.
“Eh iya... pokoknya kamu jangan
lupa makan, minum yang banyak juga dan kalo capek istirahat. Pokoknya aku gak
mau kalo kamu sampe sakit... terus...”
Perkataan Prilly terhenti oleh
tangan Ali yang kini melingkar diperutnya. Ia menoleh ke arah Ali sekilas.
“Aku lagi masak...”
“St... kamu bawel banget sih. Aw.”
Prilly menyikut kesal perut Ali.
Kemudian ia menggembungkan pipinya kesal sementara tangannya masih sibuk dengan
beberapa sayuran yang sedang ia potong.
“Akukan cuma khawatir, aku gak mau
sampe kamu sakit, aku gak mau kamu laper, aku gak mau nantinya kamu...”
“St...”
Ali menggelengkan kepalanya
perlahan, ia menyandarkan kepalanya dibahu Prilly dengan manja.
“Iya yaang aku ngerti. Aku pasti
inget kata-kata kamu.”
Ali menarik nafas, menghirup aroma
rambut Prilly yang begitu memabukan baginya.
“Pokoknya aku gak mau tau kamu
jangan telat makan.”
Ali terkekeh kecil mendengar ocehan
Prilly lagi.
“Iya yaang... ternyata bener ya apa
kata Papa.”
Prilly menatap tajam ke arah Ali,
sementara Ali melepaskan pelukannya tapi tetap berdiri didekat Prilly.
“Apa kata Papa?.”
“Kamu sangat bawel.”
Prilly mendengus kesal.
“Ih! Yaudah sih kalo gak mau
dipeduliin, males juga peduliin kamu.”
“Kata siapa aku gak mau kamu
peduliin? Malah aku seneng kamu bawel kayak gitu.”
Prilly mengerutkan keningnya.
“Kok seneng sih?.”
“Karena kalo kamu bawel tandanya
kamu sayang sama aku.”
Prilly mengulum senyumannya. Ia mencubit
pipi Ali gemas.
“Kata siapa?.”
“Yaa... kalo misalkan kamu gak
bawel berarti gak peduli, kalo gak peduli berarti gak sayang. Karena kamu bawel
berarti kamu peduli dan kamu sayang sama aku.”
Prilly terkekeh kecil.
“Pasti kata Papa. Ayo ngaku kamu.”
“Haha... iya sih. Tapi bener lho
kamu sayangkan sama aku?.”
Prilly menatap mata Ali begitu
dalam.
“Kalo aku gak sayang sama kamu, aku
gak mungkin mau ada disini, gak mungkin mau bela-belain nangis kayak kemaren. Gak
mungkin Li... aku sayang kamu Ali... dari kata-katamu... aku sayang sama kamu
mulai dari kata pertama kamu menyapa aku.”
Ali tersenyum tipis. Ia meraih
kedua pipi Prilly dengan telapak tangannya. Ia mendekatkan wajahnya pada Prilly,
menyatukan kening dan hidung mereka menjadi tak ada batasan kembali.
“Aku lebih sayang sama kamu, aku
lebih lama sayang sama kamu... aku jatuh cinta sama kamu dan sayang sama kamu
lebih dari rasa sayang kamu sama aku. dan aku lebih sayang lagi sama kamu
karena kamu benar-benar berusaha menjadi yang terbaik buat aku. aku semakin
sayang sama kamu. semakin cinta sama kamu.”
Prilly tersenyum kecil.
“Terimakasih... untuk pertama
kalinya ada yang mengatakan itu sama aku.”
“Dan untuk pertama kalinya juga aku
mengatakan itu.”
“KHMM... Pa... kok tiba-tiba
tenggorokan Mama serak gini ya? dikulkas ada air gak Pa?.”
Ali dan Prilly sontak menjauh
kemudian menengok kearah pintu masuk daput. Riani dan Fandi disana, menatap
keduanya dengan tatapan menggoda.
“Li disini bahaya bisa ada yang
liat, apalagi pintunya gak ditutup. Lain kali dikamar aja. Yakan Ma?.”
“Iya Pa. Mana Mama udah liat dua
kali lagi. Dasar anak muda jaman sekarang.”
“Ih Papa apaan sih? Orang Ali gak
ngapa-ngapain kok. Ali cuma lagi nemenin Illy masak. Yakan yaang?.”
Prilly yang masih menunduk karena
malu mengangguk kecil, enggan mengangkat wajahnya.
“Wah masa? Jadi enak nih Papa,
mulai saat ini gak bakalan kamu gangguin lagi.”
“Emang kapan Ali gangguin ih?.”
“Apa? Mau ngeles kamu? setiap kamu
gak ada job kan malemnya kamu selalu pengen tidur sama Mama, memohon dengan
beribu alasan. Udalah jangan ngeles... biar istri kamu tau tuh kelakuan suami
manjanya.”
“Papa! Kayak Papa gak manja aja deh
sama Nenek.”
Riani terkekeh kecil melihat suami
dan anaknya yang selalu perang mulut itu.
“Udah ah. Kalian ini, masih pagi
udah berantem. Sana kalian pergi, Mama mau nemenin menantu cantik Mama masak.”
“Mama aja sanaa... daritadi Illy kan
masaknya sama Ali.”
“Enggak ah. Entar bukannya masakannya
rapih, tapi malah gosong kalo sama kamu. kamukan pasti cuma gangguin aja. Sana-sana...”
Ali merengut kesal. Ia mendekatkan
diri pada Prilly kemudian berbisik.
“Yaudah yaang aku mandi dulu ya...
Aku sayang kamu...”
Setelah mengatakan itu Ali berlalu.
Sementara Prilly hanya bisa mengulum senyumannya. Sesekali ia melirik Riani
yang juga ikut tersenyum mendengarkannya.
***
Prilly berjalan disebuah toko buku,
mencari beberapa buku sumber yang dapat menunjang skripsinya.
“Mbak... Majalah yang saya pesan yang
covernya Aliando udah dateng belum Mbak? Duh masa belum dateng?.”
“Sudah ada Mbak disebelah sana.”
Prilly mengerutkan keningnya. Majalah apa sih? Ih apaan kerennya sih dia? Apa
kerennya Aliando? Prilly mendengus kesal. Ia meraih satu majalah tapi
kemudian kembali menyimpannya.
“Aw.”
Prilly meringis kesakitan saat
tanpa sengaja terdorong oleh beberapa garis yang berlari ke arah majalan itu. Prilly
mencibirnya dengan kesal. Ia berbalik ke arah rak itu namun majalah yang tadi
ia lihat kini telah raib.
Ponsel Prilly berdering.
“Hallo assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam...
lagi dimana yaang masih nyari buku?.”
“Iya nih. Kamu sekarang dimana? Udah
makan?.”
“Dijalan
pindah lokasi yaang. Aku mau buat Video Clip sekarang. Kamu jadi kesini gak?.”
“Gak tau.”
“Jangan
gitu dong yaang. Kalo kamu mau dateng nanti aku larang ada yang ngeliput kalo
enggak ya aku biarin aja kayak biasanya.”
“Yaudah aku kesana.”
“Gitu
dong. Oke sayang aku tunggu ya...”
“Heem. Assalamualaikum sampai
ketemu nanti.”
“Waalaikumsalam
yaang... hati-hati ya.”
“Iya.”
Daripada
laki gue diekspose dan diliatin cewek lain mendingan gue kesana, liatin dia
biar gak diliput siapapun. Hhh!
Setelah mengatakan hal itu ia
segera menuju kasir untuk melakukan pembayaran atas buku yang ia beli tadi.
***
Prilly keluar dari mobil Ali yang
sengaja menjemputnya kerumah dengan menggunakan kacamata hitam. Ia dengan cepat
berjalan masuk ke arah gedung itu. bagaimanapun juga ia harus berhati-hati jika
berurusan dengan yang namanya Aliando.
Begitu ia memasuki ruangan itu ia
disuguhi dengan adegan Ali yang sedang bermesraan dengan seorang model cantik. Ia
mendengus kesal. Apa bagusnya coba adegan
kayak gitu? Dih... berasa sensasional ya loe!
Prilly mengeluarkan ponselnya
kemudian membidikan kameranya ke arah Ali, setelah itu ia sign in ke akun
twitternya. Bodo amat deh diserang Agni atau
apapun.
Cowok
kayak gini ganteng @.Aliando? Berasa pantes aja pake jambul. Cakepan juga laki
gue kemana-mana!
Setelah mengetikan itu ia mengklik
twit pertanda mengupload foto dan twit itu bersamaan..
“Prilly?.”
Prilly tak menanggapi sapaan Ali,
ia hanya mengangkat wajahnya dan menatap wajah Ali aneh. Ia membuka kaca
matanya agar dapat menatap Ali lebih jelas. Prilly mengulurkan tangannya ke
arah kepala Ali kemudian mengacak-acak jambul kebangsaan Aliando itu.
“Aku gak suka liat jambul kamu.”
Ali terkekeh kemudian merangkul
pundak Prilly dan membawa gadisnya itu keruangan khusus untuknya.
Ali dan Prilly duduk berdampingan
pada sebuah sofa.
“Kamu udah makan yaang?.”
“Udah.”
“Buku yang kamu cari gimana? Ada?.”
“Ada.”
“Tadi abis belanja apa aja yaang?.”
“Banyak.”
“Yaang...”
“Ya.”
“Yaang...”
“Iya.”
“Yaang liat aku ih, kenapa liatin
hp terus sih?.”
Ali meraih ponsel Prilly. Ternyata banyak
notifikasi dari twitter istrinya itu.
“Kamu posting apa?.”
“Liat aja sendiri.”
Ali membaca beberapa mention yang
masuk untuk Prilly.
Alah gak suah bandingin laki loe
sama Aliando deh. Kayak laki loe lebih cakep aja! @LtcPril
Laki loe lebih cakep dari Aliando? Gak
mimpi loe? @LtcPril
Mau gue beliin kaca mata loe biar
mata loe gak burem? @LtcPril
Loe haters tapi hebat ya bisa
ikutin Aliando. Haters atau fans Aliando yg gak kesampean jadi pacarnya hah?!
@LtcPril
Liat nih cowok baik-baik pake kaca
mata yg gede sekalian biar bisa liat kadar kegantengannya kayak gimana @Aliando
<- @LtcPril
“Fans fanatik kamu tuh.” Ucap Prilly.
Ali tersenyum tipis. Ia meraih Prilly
dalam pelukannya. Sementara dirinya bersandar pada sandaran kursi sambil
memejamkan matanya sejenak.
“Aku capek yaang...”
“Tidur.”
“Yaang jangan cuek kek. Ih kamu
maah gitu.”
Prilly mengangkat wajahnya menatap Ali
begitu dekat, ia mencium sekilas pipi Ali.
“Aku lagi bete aja. Kamu lama
banget sih pulangnya. Aku gak biasa ditempat banyak orang kayak diluar sana.”
Ali tersenyum sekilas, ia meraih
ponselnya kemudian masuk ke akun twitternya.
“Liat nih yaang aku twit apa? Siap-siap
ya kamu banyak notif.”
Ali tertawa jahil pada Prilly sambil
memperlihatkan ponselnya pada istrinya itu.
Haters
yang paling saya sayang <3 --> @LtcPril
Prilly membulatkan matanya kaget.
“Ali! Jangaaaaaaaaaaaaaaaaaannnnnnnnnn.......”
“Ops... udah terkirim sayaang...”
***
Bersambung.
Yuk kalo ada komentar biar cepet
ditanggapin komentar di twitter aja, atau kalo mau nanya tentang cerita-cerita
aku tinggal ask aja di ask.fm ya :)
Tapi komen disini juga gapapa kok.
:)
Yuk yang mau temenan follow Twitter
dan ask.fm aku : @SopiahNenden
Makasih buat semuanya yang udah ask
aku di ask.fm, asal kalian tau itu semua bikin aku semakin semangat. :)
terimakasih yang sebesar-besarnya atas respon positif kalian. :)
Terimakasih sebelumnya. :)
haha ini favorite lucu romantis semuanya dapet hihi semuanya dapet :D
ReplyDelete