Sunday, 21 April 2013

Mengapa? II


Agni menggembungkan pipinya, ia kesal sekali dengan kakaknya, Rio. Bagaimana tidak? Ia di tinggal sendiri di cafe dan Rio malah pergi dengan alasan ingin mengantar pacarnya. Di tambah Papanya, Gabriel. Malah mencuekannya karena meeting yang ‘katanya’ penting. Ia sempat merutuk, “emang lebih penting pekerjaan ya daripada anak sendiri?”

Dari arah lain tanpa sengaja Cakka melihat  Agni yang duduk sendiri di dalam cafe. Ia tersenyum miring, kemudian berjalan memasuki cafe itu.
“Mas, coklat hangat satu di meja sana ya”tunjuk Cakka pada meja Agni, setelah itu ia menghampiri meja Agni, duduk di hadapan Agni tanpa permisi.

Agni mengerutkan dahinya, menatap Cakka dengan aneh. Sejak kapan dia ada di sana? Dan darimana dia tau kalau Agni ada di sana? Atau cuma kebetulan?
“ngapain disini?”tanyanya.

Cakka berdecak, mendelik ke arah Agni. Dia itu gadis pinter, tapi kenapa masih nanya ngapain? Atau jangan-jangan karena dia kelewat pinter jadi lemot?
“hangout lah, emang loe pikir disini gue mau ngapain coba?”Cakka memasang wajah dinginnya.

Agni mengangguk-anggukan kepalanya mengerti, kemudian mengedarkan pandangannya ke arah pintu. Berharap Rio cepat datang.

“mas ini pesanannya, silahkan di nikmati...”ucap seorang pelayan, yang kemudian berlalu kembali.

Agni melihat minuman Cakka, sangat menggiurkan. Ia lirik ke arah gelasnya yang hanya menyisakan sedikit minuman yang sama. Tunggu dulu, Agni nampak berfikir. Minuman yang sama?
“loe? Suka coklat hangat?”Agni bertanya tak percaya, ternyata cowok dingin ini suka minuman hangat juga.

Cakka mendelik, ia paling gak suka kalau ia di ganggu pada saat menyesap aroma coklat itu.
“iya, masalah?”ia kembali menyesap minumannya, ternyata gadis ini benar-benar lemot. Kalau gak suka ngapain pesen coba? Hhh...

Agni mencibir, “loe tuh nyebelin ya? gue nanya baik-baik jawabnya ketus gitu!”ia menatap tajam ke arah Cakka.

Cakka menyimpan gelasnya ke atas menja, ia balas tatapan Agni dengan intens.
“nyebelin ya?”ujar Cakka, ia menjulurkan tangan kanannya ke pipi Agni.

‘ya tuhan kenapa deg-degan?’ Agni membatin, saat keduanya saling bertatapan. Ia mengakui kalau tatapannya itu tajam tapi nyaman, sayu  tapi tegas, di tambah jarinya yang hangat dan lembut mengelus pipi kirinya, cukup membuat hatinya maraton dan ia yakin kalau wajahnya sekarang merona. Menyadari itu ia segera menghindari tatapan Cakka melihat ke arah lain.

Cakka terkekeh, ia menarik tangannya kembali. Ternyata kalau gadis ini berwajah merona tambah cantik, dan... menggemaskan.

“maaf ya lama”kata seseorang yang baru datang, Rio. Ia duduk di kursi di samping Agni.

Agni tersenyum, ia mengangguk pasti. “banget”rengeknya manja. Ia memukul lengan Rio pelan.
Sementara Cakka mendengus kesal, ia meminum coklatnya dengan bernafsu.

Rio melirik ke arah Cakka dengan ekor matanya “siapa dia?”tanyanya pada Agni.
“kenalin dia Cakka, temen sekelas aku. Kebetulan tadi dia mampir ke sini juga”jelas Agni.
Rio mengangguk, “pulang yuk”ia berdiri menarik tangan Agni.

Agni mengangguk, “pulang duluan ya Kka”pamit Agni, setelah itu ia berlalu ke kasir untuk membayar minumannya kemudian beranjak dari cafe itu.

‘shit, sialan tuh cowok!’umpat Cakka sepeninggal Agni.

***

Agni dan Rio memasuki kediamannya dengan rutinitas biasa mereka saling meledek dan saling menggoda.
Seorang gadis keluar dari kamar Gabriel yang dari arah belakang di ikuti Gabriel.
“Papa... kak Sivia? Kalian...”Agni menggantungkan kata-katanya, ia kaget melihat gadis mantan kekasih kakaknya ada di rumahnya, dan lebih parahnya gadis itu keluar dari kamar Papanya secara bersamaan. Apa yang mereka lakukan?

Gabriel menatik lembut Sivia mendekati kedua buah hatinya, ia tersenyum pada Agni dan Rio yang masih terperangah tak percaya dengan yang mereka lihat.
“ini calon Mama kamu, kalian kenal sama Sivia?”ucap Gabriel dengan tenang karena memang tak mengetahui kalau Sivia ini adalah mantan kekasih putranya.

Agni terlihat menganga, saking kagetnya. “Pa? Kak Sivia sahabat baik Agni, mana mungkin Agni bisa menganggap kak Sivia sebagai Mama”ucap Agni agak berteriak tak terima. Sementara Rio terlihat menatap Gabriel dan Sivia dengan tatapan dingin, “umur kalian terlalu jauh Pa, Rio gak setuju”ucap Rio kemudian berlalu pergi. Dalam hatinya ia sangat sakit hati, jujur saja Sivia adalah gadis yang sangat ia cintai dan kalau boleh jujur sampai sekarang ia masih menyimpan rasa itu ya... walau telah memiliki Angel.

Rio memasuki kamarnya,ia menarik koper dari atas lemari kemudian mengelurkan pakaian-pakaiannya lalu memasukannya kedalam koper.
“kak Rio...”ucap Agni, ia mendekati Rio duduk di tepi ranjang memandangi Rio dengan tatapan bingungnya.
“kakak mau kemana? Kakak mau tinggalin Agni?”tanya lirih Agni, matanya mulai berkaca-kaca.

Rio menghela nafas panjang, ia duduk di samping Agni mengelus puncak kepala adiknya itu “sebenernya kakak mau pertukaran Mahasiswa ke Jepang sama Kak Angel, sebenernya berangkatnya besok”ia menghela nafas kembali “tapi, melihat ini kakak memutuskan buat tinggal di apartemen dulu satu malam ini, kakak gak setuju sama keputusan Papa”gumannya ia masih mengelus kepala Agni.

Air mata Agni mulai mengalir, “pertukaran Mahasiswa? Kak... itu pasti lama”ucap Agni lirih. Rio menarik Agni dalam pelukannya, “jangan tinggalin Agni, Agni juga gak setuju kak sama keputusan Papa, kak Sivia itu terlalu muda buat Papa”Agni terus merancau dengan suara yang parau dalam pelukan Rio.

Rio menegakkan tubuh Agni, ia menghapus air mata Agni dengan ibu jarinya, “jangan nangis, ini akan memberatkan kakak”gumannya, Rio memejamkan matanya sebentar mencari kekuatan  “kamu bisa ikut ke apartemen buat malam ini”

Agni menatap Rio, menghapus air matanya kasar. Ia mengangguk pasti setelah itu keluar dari kamar Rio untuk sekedar membawa beberapa baju ganti dan buku pelajaran buat besok.

***

Gabriel terus membujuk Sivia yang merasa bersalah pada Agni dan Rio. Sampai ia meminta membatalkan semuanya.
“gak Vi, mereka cuma menggertak. Aku tau sifat mereka”guman Gabriel, ia meraih jamari kedua tangan Sivia.
“percayalah, mereka akan berubah fikiran”ia mengecup lembut permukaan tangan Sivia

Tanpa mereka sadari Rio dan Agni berdiri di ujung tangga yang menghadap ke ruang tamu, jelas sekali Papa mereka seperti seorang pemuda yang baru pubertas, baru merasakan jatuh cinta.
“ayo”ajak Rio, mereka masing-masing membawa tas karena koper Rio telah di turunkan secara sembunyi-senbunyi oleh tukang kebun mereka.

Gabriel emnjauhkan diri dari Sivia begitu menyadari putra dan putrinya menuruni tangga,
“mau kemana?”tanya Gabriel yang tidak mendapatkan respon apapun, keduanya malah berlalu begitu saja dan menghilang di balik pintu.

Rio dan Agni memasuki mobilnya, “kita menginap di apartemen Angel, Papa pasti nyusul ke apartemen kakak kalo kita kesana”guman Rio sambil memfokuskan diri pada jalan.

Wajah Agni menegang, ingin sekali ia menolak “kak...”
“gak akan terjadi apapun Ags, tenang aja”ucap Rio yang menyadari kekhawatiran adiknya.
“tapi...”ucap Agni ragu
Rio menoleh ke arah Agni sekilas, “fans kak Angel gak bakalan ganggu kamu lagi kok”ia mengulurkan tangannya untuk mengelus rambut Agni.

Agni menghela nafas panjang, pikirannya kembali pada beberapa bulan yang lalu saat ia menerima teroran dari fans nya Angel karena mereka mendapatinya jalan-jalan dengan Rio yang menurut mereka  begitu mesra, dan mereka tak terima dengan itu. Agni sempat heran pada fans nya Angel, kebanyakan fans itu kan menentang kalo idolanya memiliki hubungan yang namanya pacaran tapi fans nya Angel itu sebaliknya, mereka mendukung sekali hubungan Angel dengan Rio.

“udah sampe”ucap Rio yang membukakan pintunya dari luar, ia ke asikan melamun sampai-sampai tak menyadari telah sampai di tujuan.
“ayo kita harus segera masuk dari pintu belakang”ajak Rio mengandeng Agni ke pintu belakang, menghindari wartawan yang ingin mewawancara Angel mengenai keberangkatannya ke Jepang.

***

Cakka berjalan dengan santai di sebuah koridor  yang terlihat sepi, ia sedikit bersembunyi saat mendengar seseorang mendekat.
“kamu bisa pake mobil buat besok berangkat sekolah”ucap seorang pemuda pada gadis yang berjalan beriringan dengan pemuda itu.

‘Agni? Ngapain disini?’ batin Cakka, begitu ia akan mengikuti Agni ponselnya tiba-tiba berdering dan memaksanya segera pergi.

Agni terlihat menengok ke arah  tikungan koridor begitu mendengar deringan sebuah ponsel, ia melihat seorang laki-laki yang menjauh tergesa dari sana. Ia menaikan satu alisnya ‘aneh’

***

Gabriel berulang kali menghubungi Agni dan Rio namun tak ada satupun dari mereka yang mengangkat telponnya, tadi ia menyusul ke apartemen Rio tapi tak ada disana. Ia tak menyangka kalau kedua anaknya itu akan melakukan hal ini padahal yang ia rasa kedua anaknya itu penurut dan selalu mendukung apa katanya.
“apa aku terlalu egois Vi?”tanya Gabriel pada Sivia yang masih berada di kediaman Gabriel, ia khawatir dengan Rio dan Agni.

Sivia menghela nafas panjang, “mendingan kita batalin aja Mas, aku gak mau kalo kita tanpa restu gini”imbuh Sivia, berkali-kali ia menghela nafas panjang penuh beban.

Gabriel menatap Sivia dengan tatapan lembut, ia menggelang pelan “gak, aku bakalan tetep nikahin kamu”
“tapi Mas, Rio sama Agni...”Sivia menatap Gabriel penuh kekhawatiran, ia benar-benar panik dengan menghilangnya Rio dan Agni.
Gabriel mengelus rambut Sivia, “sebentar lagi mereka pasti kembali, tenang saja”guman Gabriel.

***

Agni dengan was-was keluar dari apartemen Angel, “jangan ngendap-ngendap gitu, kayak maling aja”guman Angel, ia keluar dari kamar apartemennya.

Agni berbalik dan tersenyum malu, “hehe... parno kak”akunya, ia menegakkan tubuhnya. Terlihat Rio keluar dari kamar yang berbeda dengan badan yang terlihat lebih fresh. Apartemen Angel memang terbilang sangat mewah karena memiliki dua kamar, ruang tamu yang luas dan beberapa ruangan lain.
“oiya berangkat sama siapa? Mau berangkat sendiri atau gimana?”tanya Rio pada Agni yang masih berdiri di ambang pintu.

“kalo gak sendiri biar kakak panggilin adek kakak biar bareng sama kamu”ujar Angel, ia mengambil minuman untuk bertiga.
Rio mengerutkan keningnya, “sejak kapan punya adek?”tanya Rio pada Angel, karena setaunya Angel itu anak tunggal.
“anak kakak Mama aku Io'”ia duduk di samping Rio dan tersenyum geli melihat ekspresi Rio.

Agni mengerutkan keningnya dalam hati ia mengakui ke cocokan kakaknya dengan gadis itu tapi kemudian tersadar diapa adik yang di maksud Angel?
“emang siapa adek kakak? Cowok?”tanya Agni.

Bersamaan dengan itu seseorang memasuki apartemen Angel tanpa permisi.
“kak..”orang itu menautkan keningnya, “Agni? Ngapain disini?”tanya orang itu, Cakka.

Agni memutar bola matanya, kenapa sih dimana ada dirinya mahkluk dingin ini juga ada?
“loe yang ngapain?”tanya balik Agni, heran melihat kehadiran Cakka.

Cakka mengangkat sebelah alisnya, “loe yang ngapain, ini apartemen kakak gue”jawabnya santai.

Dalam hati Agni kaget, namun ia berusaha tidak terlihat kaget, “oh”

“kayaknya kalian saling kenal, berangkat bareng aja gih”kata Angel, ia mengedipkan matanya pada Agni. Agni melirik Cakka dengan ragu tapi pemuda itu terlihat santai dan menyetujuinya dengan santai.
“yaudah kak, aku berangkat dulu”pamit Agni, kemudian beranjak mengikuti Cakka yang keluar terlebih dahulu.

***

Agni mengerutkan keningnya begitu keluar dari mobil milik Cakka, ia heran dengan pandangan orang-orang terhadapnya. Tapi kemudian ia tersadar sedang dengan siapa ia sekarang.

“loe apa-apaan sih, nih ya... Mami gue emang luluh sama loe tapi gak buat gue! Denger itu ya”ucap seseorang yang mencak-mencak tak jauh dari mobil Cakka.

Agni mengedarkan pandangannya, ternyata Ify yang berjalan dengan Ray mendekatinya terus saja mengutuk-ngutuk pemuda tampan itu karena kayaknya memaksa gadis itu untuk berangkat bersama.
“masih pagi udah rame Fy, sabar kek”guman Agni

Ify memutar bola matanya kesal, “gimana mau sabar? Subuh-subuh udah ada tamu gak di undang nangkring di rumah, ikut sarapan, maksa minta bareng sekolah lagi”rutuk Ify tanpa jeda, sementara Agni terkikik geli melihat ekspresinya.

“udah ah yuk masuk kelas dulu”Agni menarik Ify memasuki kelasnya, karena bel sudah terdengar sementara Cakka dan Ray telah pergi duluan.

Next...
Kasih ide, ide buntu... haha
Yang mau di tag komen tiap part nya ya?
Kritik dan saran aku tunggu lho... :)

1 comment: