Agni
menggembungkan pipinya, ia kesal sekali dengan kakaknya, Rio. Bagaimana tidak?
Ia di tinggal sendiri di cafe dan Rio malah pergi dengan alasan ingin mengantar
pacarnya. Di tambah Papanya, Gabriel. Malah mencuekannya karena meeting yang
‘katanya’ penting. Ia sempat merutuk, “emang
lebih penting pekerjaan ya daripada anak sendiri?”
Dari arah
lain tanpa sengaja Cakka melihat Agni
yang duduk sendiri di dalam cafe. Ia tersenyum miring, kemudian berjalan
memasuki cafe itu.
“Mas, coklat
hangat satu di meja sana ya”tunjuk Cakka pada meja Agni, setelah itu ia
menghampiri meja Agni, duduk di hadapan Agni tanpa permisi.
Agni
mengerutkan dahinya, menatap Cakka dengan aneh. Sejak kapan dia ada di sana?
Dan darimana dia tau kalau Agni ada di sana? Atau cuma kebetulan?
“ngapain
disini?”tanyanya.
Cakka
berdecak, mendelik ke arah Agni. Dia itu gadis pinter, tapi kenapa masih nanya
ngapain? Atau jangan-jangan karena dia kelewat pinter jadi lemot?
“hangout
lah, emang loe pikir disini gue mau ngapain coba?”Cakka memasang wajah
dinginnya.
Agni
mengangguk-anggukan kepalanya mengerti, kemudian mengedarkan pandangannya ke
arah pintu. Berharap Rio cepat datang.
“mas ini
pesanannya, silahkan di nikmati...”ucap seorang pelayan, yang kemudian berlalu
kembali.
Agni melihat
minuman Cakka, sangat menggiurkan. Ia lirik ke arah gelasnya yang hanya
menyisakan sedikit minuman yang sama. Tunggu dulu, Agni nampak berfikir.
Minuman yang sama?
“loe? Suka
coklat hangat?”Agni bertanya tak percaya, ternyata cowok dingin ini suka
minuman hangat juga.
Cakka
mendelik, ia paling gak suka kalau ia di ganggu pada saat menyesap aroma coklat
itu.
“iya,
masalah?”ia kembali menyesap minumannya, ternyata gadis ini benar-benar lemot.
Kalau gak suka ngapain pesen coba? Hhh...
Agni
mencibir, “loe tuh nyebelin ya? gue nanya baik-baik jawabnya ketus gitu!”ia
menatap tajam ke arah Cakka.
Cakka
menyimpan gelasnya ke atas menja, ia balas tatapan Agni dengan intens.
“nyebelin
ya?”ujar Cakka, ia menjulurkan tangan kanannya ke pipi Agni.
‘ya tuhan kenapa deg-degan?’ Agni
membatin, saat keduanya saling bertatapan. Ia mengakui kalau tatapannya itu
tajam tapi nyaman, sayu tapi tegas, di
tambah jarinya yang hangat dan lembut mengelus pipi kirinya, cukup membuat
hatinya maraton dan ia yakin kalau wajahnya sekarang merona. Menyadari itu ia
segera menghindari tatapan Cakka melihat ke arah lain.
Cakka
terkekeh, ia menarik tangannya kembali. Ternyata kalau gadis ini berwajah
merona tambah cantik, dan... menggemaskan.
“maaf ya
lama”kata seseorang yang baru datang, Rio. Ia duduk di kursi di samping Agni.
Agni
tersenyum, ia mengangguk pasti. “banget”rengeknya manja. Ia memukul lengan Rio
pelan.
Sementara
Cakka mendengus kesal, ia meminum coklatnya dengan bernafsu.
Rio melirik
ke arah Cakka dengan ekor matanya “siapa dia?”tanyanya pada Agni.
“kenalin dia
Cakka, temen sekelas aku. Kebetulan tadi dia mampir ke sini juga”jelas Agni.
Rio
mengangguk, “pulang yuk”ia berdiri menarik tangan Agni.
Agni
mengangguk, “pulang duluan ya Kka”pamit Agni, setelah itu ia berlalu ke kasir
untuk membayar minumannya kemudian beranjak dari cafe itu.
‘shit, sialan tuh cowok!’umpat Cakka
sepeninggal Agni.
***
Agni dan Rio
memasuki kediamannya dengan rutinitas biasa mereka saling meledek dan saling
menggoda.
Seorang
gadis keluar dari kamar Gabriel yang dari arah belakang di ikuti Gabriel.
“Papa... kak
Sivia? Kalian...”Agni menggantungkan kata-katanya, ia kaget melihat gadis
mantan kekasih kakaknya ada di rumahnya, dan lebih parahnya gadis itu keluar
dari kamar Papanya secara bersamaan. Apa yang mereka lakukan?
Gabriel
menatik lembut Sivia mendekati kedua buah hatinya, ia tersenyum pada Agni dan
Rio yang masih terperangah tak percaya dengan yang mereka lihat.
“ini calon
Mama kamu, kalian kenal sama Sivia?”ucap Gabriel dengan tenang karena memang
tak mengetahui kalau Sivia ini adalah mantan kekasih putranya.
Agni
terlihat menganga, saking kagetnya. “Pa? Kak Sivia sahabat baik Agni, mana
mungkin Agni bisa menganggap kak Sivia sebagai Mama”ucap Agni agak berteriak
tak terima. Sementara Rio terlihat menatap Gabriel dan Sivia dengan tatapan
dingin, “umur kalian terlalu jauh Pa, Rio gak setuju”ucap Rio kemudian berlalu
pergi. Dalam hatinya ia sangat sakit hati, jujur saja Sivia adalah gadis yang
sangat ia cintai dan kalau boleh jujur sampai sekarang ia masih menyimpan rasa
itu ya... walau telah memiliki Angel.
Rio memasuki
kamarnya,ia menarik koper dari atas lemari kemudian mengelurkan
pakaian-pakaiannya lalu memasukannya kedalam koper.
“kak
Rio...”ucap Agni, ia mendekati Rio duduk di tepi ranjang memandangi Rio dengan
tatapan bingungnya.
“kakak mau
kemana? Kakak mau tinggalin Agni?”tanya lirih Agni, matanya mulai berkaca-kaca.
Rio menghela
nafas panjang, ia duduk di samping Agni mengelus puncak kepala adiknya itu
“sebenernya kakak mau pertukaran Mahasiswa ke Jepang sama Kak Angel, sebenernya
berangkatnya besok”ia menghela nafas kembali “tapi, melihat ini kakak
memutuskan buat tinggal di apartemen dulu satu malam ini, kakak gak setuju sama
keputusan Papa”gumannya ia masih mengelus kepala Agni.
Air mata
Agni mulai mengalir, “pertukaran Mahasiswa? Kak... itu pasti lama”ucap Agni
lirih. Rio menarik Agni dalam pelukannya, “jangan tinggalin Agni, Agni juga gak
setuju kak sama keputusan Papa, kak Sivia itu terlalu muda buat Papa”Agni terus
merancau dengan suara yang parau dalam pelukan Rio.
Rio
menegakkan tubuh Agni, ia menghapus air mata Agni dengan ibu jarinya, “jangan
nangis, ini akan memberatkan kakak”gumannya, Rio memejamkan matanya sebentar
mencari kekuatan “kamu bisa ikut ke
apartemen buat malam ini”
Agni menatap
Rio, menghapus air matanya kasar. Ia mengangguk pasti setelah itu keluar dari
kamar Rio untuk sekedar membawa beberapa baju ganti dan buku pelajaran buat
besok.
***
Gabriel
terus membujuk Sivia yang merasa bersalah pada Agni dan Rio. Sampai ia meminta
membatalkan semuanya.
“gak Vi,
mereka cuma menggertak. Aku tau sifat mereka”guman Gabriel, ia meraih jamari
kedua tangan Sivia.
“percayalah,
mereka akan berubah fikiran”ia mengecup lembut permukaan tangan Sivia
Tanpa mereka
sadari Rio dan Agni berdiri di ujung tangga yang menghadap ke ruang tamu, jelas
sekali Papa mereka seperti seorang pemuda yang baru pubertas, baru merasakan
jatuh cinta.
“ayo”ajak
Rio, mereka masing-masing membawa tas karena koper Rio telah di turunkan secara
sembunyi-senbunyi oleh tukang kebun mereka.
Gabriel
emnjauhkan diri dari Sivia begitu menyadari putra dan putrinya menuruni tangga,
“mau
kemana?”tanya Gabriel yang tidak mendapatkan respon apapun, keduanya malah
berlalu begitu saja dan menghilang di balik pintu.
Rio dan Agni
memasuki mobilnya, “kita menginap di apartemen Angel, Papa pasti nyusul ke
apartemen kakak kalo kita kesana”guman Rio sambil memfokuskan diri pada jalan.
Wajah Agni
menegang, ingin sekali ia menolak “kak...”
“gak akan
terjadi apapun Ags, tenang aja”ucap Rio yang menyadari kekhawatiran adiknya.
“tapi...”ucap
Agni ragu
Rio menoleh
ke arah Agni sekilas, “fans kak Angel gak bakalan ganggu kamu lagi kok”ia
mengulurkan tangannya untuk mengelus rambut Agni.
Agni
menghela nafas panjang, pikirannya kembali pada beberapa bulan yang lalu saat
ia menerima teroran dari fans nya Angel karena mereka mendapatinya jalan-jalan
dengan Rio yang menurut mereka begitu
mesra, dan mereka tak terima dengan itu. Agni sempat heran pada fans nya Angel,
kebanyakan fans itu kan menentang kalo idolanya memiliki hubungan yang namanya
pacaran tapi fans nya Angel itu sebaliknya, mereka mendukung sekali hubungan
Angel dengan Rio.
“udah
sampe”ucap Rio yang membukakan pintunya dari luar, ia ke asikan melamun
sampai-sampai tak menyadari telah sampai di tujuan.
“ayo kita
harus segera masuk dari pintu belakang”ajak Rio mengandeng Agni ke pintu
belakang, menghindari wartawan yang ingin mewawancara Angel mengenai
keberangkatannya ke Jepang.
***
Cakka
berjalan dengan santai di sebuah koridor
yang terlihat sepi, ia sedikit bersembunyi saat mendengar seseorang
mendekat.
“kamu bisa
pake mobil buat besok berangkat sekolah”ucap seorang pemuda pada gadis yang
berjalan beriringan dengan pemuda itu.
‘Agni? Ngapain disini?’ batin Cakka, begitu
ia akan mengikuti Agni ponselnya tiba-tiba berdering dan memaksanya segera
pergi.
Agni
terlihat menengok ke arah tikungan
koridor begitu mendengar deringan sebuah ponsel, ia melihat seorang laki-laki
yang menjauh tergesa dari sana. Ia menaikan satu alisnya ‘aneh’
***
Gabriel
berulang kali menghubungi Agni dan Rio namun tak ada satupun dari mereka yang
mengangkat telponnya, tadi ia menyusul ke apartemen Rio tapi tak ada disana. Ia
tak menyangka kalau kedua anaknya itu akan melakukan hal ini padahal yang ia
rasa kedua anaknya itu penurut dan selalu mendukung apa katanya.
“apa aku
terlalu egois Vi?”tanya Gabriel pada Sivia yang masih berada di kediaman
Gabriel, ia khawatir dengan Rio dan Agni.
Sivia
menghela nafas panjang, “mendingan kita batalin aja Mas, aku gak mau kalo kita
tanpa restu gini”imbuh Sivia, berkali-kali ia menghela nafas panjang penuh
beban.
Gabriel
menatap Sivia dengan tatapan lembut, ia menggelang pelan “gak, aku bakalan
tetep nikahin kamu”
“tapi Mas,
Rio sama Agni...”Sivia menatap Gabriel penuh kekhawatiran, ia benar-benar panik
dengan menghilangnya Rio dan Agni.
Gabriel
mengelus rambut Sivia, “sebentar lagi mereka pasti kembali, tenang saja”guman
Gabriel.
***
Agni dengan
was-was keluar dari apartemen Angel, “jangan ngendap-ngendap gitu, kayak maling
aja”guman Angel, ia keluar dari kamar apartemennya.
Agni
berbalik dan tersenyum malu, “hehe... parno kak”akunya, ia menegakkan tubuhnya.
Terlihat Rio keluar dari kamar yang berbeda dengan badan yang terlihat lebih
fresh. Apartemen Angel memang terbilang sangat mewah karena memiliki dua kamar,
ruang tamu yang luas dan beberapa ruangan lain.
“oiya
berangkat sama siapa? Mau berangkat sendiri atau gimana?”tanya Rio pada Agni
yang masih berdiri di ambang pintu.
“kalo gak
sendiri biar kakak panggilin adek kakak biar bareng sama kamu”ujar Angel, ia
mengambil minuman untuk bertiga.
Rio
mengerutkan keningnya, “sejak kapan punya adek?”tanya Rio pada Angel, karena
setaunya Angel itu anak tunggal.
“anak kakak
Mama aku Io'”ia duduk di samping Rio dan tersenyum geli melihat ekspresi Rio.
Agni
mengerutkan keningnya dalam hati ia mengakui ke cocokan kakaknya dengan gadis
itu tapi kemudian tersadar diapa adik yang di maksud Angel?
“emang siapa
adek kakak? Cowok?”tanya Agni.
Bersamaan
dengan itu seseorang memasuki apartemen Angel tanpa permisi.
“kak..”orang
itu menautkan keningnya, “Agni? Ngapain disini?”tanya orang itu, Cakka.
Agni memutar
bola matanya, kenapa sih dimana ada dirinya mahkluk dingin ini juga ada?
“loe yang
ngapain?”tanya balik Agni, heran melihat kehadiran Cakka.
Cakka
mengangkat sebelah alisnya, “loe yang ngapain, ini apartemen kakak gue”jawabnya
santai.
Dalam hati
Agni kaget, namun ia berusaha tidak terlihat kaget, “oh”
“kayaknya
kalian saling kenal, berangkat bareng aja gih”kata Angel, ia mengedipkan
matanya pada Agni. Agni melirik Cakka dengan ragu tapi pemuda itu terlihat
santai dan menyetujuinya dengan santai.
“yaudah kak,
aku berangkat dulu”pamit Agni, kemudian beranjak mengikuti Cakka yang keluar
terlebih dahulu.
***
Agni mengerutkan
keningnya begitu keluar dari mobil milik Cakka, ia heran dengan pandangan
orang-orang terhadapnya. Tapi kemudian ia tersadar sedang dengan siapa ia
sekarang.
“loe
apa-apaan sih, nih ya... Mami gue emang luluh sama loe tapi gak buat gue!
Denger itu ya”ucap seseorang yang mencak-mencak tak jauh dari mobil Cakka.
Agni
mengedarkan pandangannya, ternyata Ify yang berjalan dengan Ray mendekatinya
terus saja mengutuk-ngutuk pemuda tampan itu karena kayaknya memaksa gadis itu
untuk berangkat bersama.
“masih pagi
udah rame Fy, sabar kek”guman Agni
Ify memutar
bola matanya kesal, “gimana mau sabar? Subuh-subuh udah ada tamu gak di undang
nangkring di rumah, ikut sarapan, maksa minta bareng sekolah lagi”rutuk Ify
tanpa jeda, sementara Agni terkikik geli melihat ekspresinya.
“udah ah yuk
masuk kelas dulu”Agni menarik Ify memasuki kelasnya, karena bel sudah terdengar
sementara Cakka dan Ray telah pergi duluan.
Next...
Kasih ide,
ide buntu... haha
Yang mau di
tag komen tiap part nya ya?
Kritik dan
saran aku tunggu lho... :)
lanjutin :)
ReplyDelete