Sunday, 21 April 2013

Cowok itu... #14


Langkah  Agni terhenti, tubuhnya  menegang  tak sanggup lagi melangkah, beberapa kali mata bonekanya mengerjap lambat takjub, kaget sekaligus tak percaya dengan apa yang ia lihat sekarang.
Agni melirik Cakka sekilas, sementara  telunjuknya  terarah pada seseorang  yang  sedang  duduk bersama orang  tua Cakka.
“ba..bagaimana ada... ada Alvin?”tanya lirih Agni, ia menatap Cakka yang meremas  tangannya lembut. Tanpa menjawab Cakka menarik Agni mendekati keluarganya. ‘siapa dia? Pacar baru Alvin?’ batin Agni melihat seorang gadis yang bergelayut begitu manja di lengan kanan Alvin.

Cakka tersenyum pada Mama dan Papanya, Sivia dan Sion.
“Ma, Pa, ini Agni”ucap Cakka memperkenalkan.

Agni tersenyum, kemudian menjabat tangan Sivia dan Sion satu persatu.
“Agni”

Cakka melirik Alvin dengan sinis.
“KAK, kenalin ini Agni, pacar gue”kata Cakka dengan penuh penekanan.

Alvin tersenyum miring, mengulurkan tangannya pada Agni.
“saya rasa kita pernah kenalan”jawab Agni  dengan memberikan sebuah senyuman namun tanpa sempat membalas uluran tangan itu.

Sion terkekeh, “gak usah sok gak kenal Alvin, jelas-jelas dia mantan kekasihmu”ujar Sion.

Sivia mengerutkan keningnya, “kenapa gak pernah cerita vin?” ia melirik Agni, “duduk sayang, jangan sungkan-sungkan”ucapnya pada Agni yang di angguki oleh Agni.

Alvin berdecak, “kapan Alvin mau cerita kalo Mama sibuk terus?”ia mengalihkan pandangannya pada Agni, “kenalin ini Keke”

Gadis itu mengulurkan tangannya pada Agni, “Keke, Pacarnya Alvin”ia tersenyum tidak begitu ramah terhadap Agni yang membalas uluran tangannya.

“kak Agni”panggil Difa yang baru keluar dari kamarnya, “Novi gak di ajak kak?”tanyanya

Agni tersenyum, kemudian mengacak-acak rambut Difa yang telah duduk di sampingnya, “tadi katanya banyak tugas jadi gak bisa ikut kesini”jelas Agni, ia sedikit terkikik geli melihat ekspresi Difa.

Difa menggembungkan pipinya, “yah... kirain ikutan, kalo gini Difa gak ada temen kan?”gumannya kesal.

Sivia terkekeh melihat putra bungsunya merengut, begitu lucu jika cemberut seperti itu.
“udah, makan dulu yuk... nanti di lanjut lagi”ajak Sivia

***

Rio membanting pintu kamarnya dengan sekuat tenaga  sehingga terdengar dentuman begitu keras membahana di kediaman itu, kemudian menguncinya rapat-rapat.

Tok tok tok

“Rio, kenapa sayang?”tanya Zevana khawatir melihat reaksi putranya.
“Rio, buka sayang... ada apa? Cerita sama Mama, Rio...”Zevana terus berusaha membuka pintu yang terkunci rapat.

“Rio gapapa Ma, cuma pengen sendiri aja”ucap Rio lirih tanpa berniat membuka pintu.

Zevana menghela nafas, “yaudah, kalo ada apa-apa bilang aja sama Mama ya” beberapa kali ia menghela nafas sampai akhirnya memutuskan untuk meninggalkan Rio.

Sementara di dalam kamarnya  Rio duduk menyandarkan diri pada pintu, entah kenapa ia merasa sangat frustasi kalau mengingat Agni mengembalikan cincin pertunangan mereka.
“argh”erang Rio, ia mengacak-acak rambutnya, membuka jaketnya kemudian melemparkan kasar.
Ponsel Rio berdering, Rio merogoh sakunya.
“Cindai?”gumannya.

“hn”

“Ify mulai curiga sama loe dan Agni, tadi Marsha nelpon gue!”

Rio mengerutkan keningnya “maksudnya?”

“gak usah pura-pura bego deh, ya dia mulai curiga kalo kalian itu punya hubungan”

“gue gak ngerti”bantah Rio dengan nada yang cukup keras.

“gue tau loe sama Agni tunangan! Dan Ify mulai curiga. Waktu gue mau hubungin Agni hape nya gak aktif. Loe bilang ini sama Agni juga”

Rio mendesah putus asa, “gue sama Agni udahan”

“WHAT? Becandakan loe?”

“emang ini hal lucu buat gue jadiin guyonan hm?”

“ya enggak sih, tapi masa iya sih? Emang kalian ada masalah apa sampe udahan?”

“tanya aja sama temen loe”Rio mematikan sambungan telponnya sepihak, ia membenamkan kepalanya pada kaki yang ia tekuk, bingung bagaimana cara menjelaskan ini pada kedua orang tuanya.

***

Alvin berjalan mendekati  Agni begitu melihat Cakka meninggalkan Agni dan beranjak entah kemana. Sementara Keke telah meninggalkan kediamannya sejak beberapa menit yang lalu.
“ternyata kamu emang selalu gak jauh-jauh dari hidup aku ya?” ia duduk di samping Agni, duduk di atas bangku yang ada di halaman belakang rumah Cakka.

Agni melirik Alvin dengan ekor matanya, tak berniat menatap pemuda itu lebih lama. Ia tersenyum masam, “kita udah berakhir Vin, gak usah ngungkit-ngungkit lagi”guman Agni dengan nada yang ia buat sedatar mungkin.

Alvin menaikan sebelah alisnya, “emang aku bahas itu ya? enggak kan? Mungkin kamu yang mau membahasnya ya?”ia tersenyum miring.

“bagi gue masalalu itu masa lalu, gak akan pernah ada yang ter ulang”guman Agni, ia memfokuskan dirinya pada pandangan di depannya, menguatkan diri agar tidak menoleh pada mantan kekasihnya itu.

Alvin terkekeh, “kayaknya kenangan kita masih kamu ingat ya? saat kita bersama itu... ahh kita sungguh bahagia Ni, kamu ingatkan? Waktu kita liburan ke Jepang? Bunga sakuranya mekar dan kamu...”

“STOP!”bentak Agni, ia berdiri sambil menunjuk Alvin. Nafasnya terengah, menampakkan dirinya yang sedang sangat emosi.

“Agni”Cakka berlari mendekati Agni, panik mendengar teriakan Agni. Ia melirik ke arah orang yang duduk di dekat Agni, Alvin.
Cakka menatap Agni, “kenapa sayang?”tanyanya

Agni menggeleng, ia mendekati Cakka. Menarik pemuda itu keluar rumah.
“aku mau pulang”guman Agni yang mendapat persetujuan dari Cakka.

***

Rio bercermin, menatap pantulan dirinya yang terlihat lebih baik dari hari-hari yang lalu. Kemudian ia melirik sebuah cincin yang tergeletak begitu saja di meja belajarnya, ia meraih cincin itu. Dalam hatinya ia bertekad untuk segera mengembalikan cincin ini, apapun resikonya.
“Rio”Zevana memasuki kamar Rio.

Rio segera memasuka cincin itu pada saku belakang celananya, ia tersenyum gugup. “ehh... Ma” Rio berdehem, “ada apa?”tanyanya

Zevana duduk di tepi ranjang Rio, “beberapa hari ini Mama gak liat Agni kesini Io'? kalian lagi ada masalah?”tanyanya

Rio menghela nafas dalam, ia tersenyum manis pada Mamanya “gak ada, Agni kan sibuk Ma, satu bulan lagikan mau Ujian Semester”ucap Rio, ia meraih tasnya.
“Rio berangkat dulu ya, Daa”pamit Rio setelah sebelumnya mengecup pipi Mamanya sebentar.

‘maafin Rio Ma’ teriak batin Rio.

***

Agni dan Marsha duduk di bangku yang sama, telah beberapa hari Marsha masuk sekolah lagi dan telah pulih dari kelumpuhan dadakannya.
“loe lagi ada masalah?”tanya Marsha pada Agni yang terlihat memikirkan sesuatu.

Agni menoleh sebentar, “bokap gue belum pulang-pulang juga dari Batam, padahal gue butuh support buat Ujian Semester nanti”dustanya. Ya... Agni memang berdusta, karena bukan itulah yang sebenarnya ia fikirkan.

Marsha menatap Agni ragu, namun lagi-lagi fikiran Agni tak pernah tertembus olehnya. Ia sedikit berdecak. “kalo ada apa-apa loe cerita lagi ya”guman Marsha

Agni menoleh lagi, kemudian mengangguk pasti “thanks ya”ia tersenyum pada Marsha.

Marsha membalas senyuman itu.
“ehh iya Cindai gak masuk ya hari ini?”tanya Marsha

Agni menaikan bahunya, “mungkin, katanya sih entar siang mau berangkat ke Banyumas buat pertandingan”

Marsha mengangguk mengerti, tak lama terlihat seorang guru memasuki kelas itu pertanda pelajaran akan segera di mulai.

***

Saat istirahat tiba Bagas terdiam sendiri di bawah pohon yang berada di taman belakang sekolahnya.
Memikirkan Cindai yang benar-benar nekat berangkat, dan lebih parahnya lagi sejak dua hari terakhir ini ponselnya mati, gak ada satupun yang bisa di hubungi olehnya.
‘aku tau aku keterlaluan, tapi seenggaknya kamu aktifin hape kamu, kabarin aku’ batin Bagas.

Bagas  terus berkutat dengan fikirannya, sampai ia merasa seseorang duduk di sampingnya.
“ternyata tuan muda Bagas bisa galau juga”ucap orang itu.

Bagas masih tak bergeming, ia masih sibuk dengan fikirannya. Orang itu menyenggol lengan Bagas.
“kenapa sih? Cerita dong”katanya.

Bagas tersadar dari lamunannya, ia menoleh matanya berbinar. Kemudian memeluk orang itu yang ternyata seorang gadis.
“kangen, kemana aja sih? Tega banget”guman Bagas.

Tanpa ia sadari seseorang dari arah berlainan memperhatikan mereka, mengabadikan momen itu dengan ponselnya, setelah itu  ia perlahan berjalan mendekati Bagas yang sedang bersama dengan seorang gadis.
“Bagas”panggilnya.

Bagas berbalik dengan cepat, “Chels...”desisnya

Chelsea menggeleng pelan, “tadinya aku  bermaksud baik ngasih tau sesuatu tentang Cindai, tapi...”ia menggelengkan kepalanya lagi masih tidak percaya dengan apa yang ia lihat. “aku rasa... kamu gak perlu tau dan secepatnya kamu harus tinggalin Cindai!”ucap Chelsea, setelah itu berlari sekuat tenaga karena ia tau bahwa Bagas mengejarnya.

Bagas meraih sikut Chelsea, menariknya agar tak berlali kembali, “Chels... jangan kayak anak kecil gini deh, Cindai kenapa? Ada apa?”tanyanya panik, ia menatap tajam pada Chelsea.

Chelsea meringis pelan ke sakitan, “lepas... sakit”erangnya tertahan sambil meronta.

Bukannya melepaskan, Bagas malah mengeratkan cengkramannya, “bilang ada apa sama Cindai?!”ucap Bagas agak membentak.

Chelsea tertegun, ini pertama kalinya ia di bentak dan itu benar-benar membuat ngilu pada hatinya. Perlahan air matanya meluncur, rontaannya pun melemah.
Bagas kaget, “Chels? Maaf”ia baru sadar kalau gadis ini memang tidak boleh di bentak ataupun di paksa, kalu ada yang melakukan itu pasti akan terjadi sesuatu.

Begitu merasakan Bagas tak mencengkramnya lagi dengan cepat ia berlari ke arah parkiran, ia harus segera memberi tau pada Cindai kalau kekasihnya itu tidak baik, berani bermain di belakang sepupunya itu.

Gadis tadi berjalan ke arah Bagas dengan tatapan bingung, “siapa dia? Cindai siapa?”tanyanya

Bagas menghela nafas panjang, ia melirik gadis itu. “sepupu Cindai,  tunangan gue”ucapnya lirih kemudian berlalu.

***

Cakka dan Agni sedang berada di kantin berhadapan dengan Rio dan Ify, keempatnya terlihat biasa saja. Walau Cakka belum mengetahui rampungnya hubungan Agni dan Rio tapi ia terlihat biasa saja –mengingat yang di ketahui  Cakka bahwa  Rio dan Agni masih memiliki hubungan-


Agni terkekeh melihat Cakka yang menggembungkan pipinya karena tadi Agni sempat menggodanya.
“lagian emang bener kok gantengan Difa daripada kamu, apalagi kakak kamu tuh... ganteng deh, sayangnya cuma mantan aku... coba kalo masih pacaran”guman Agni, sambil berlaga seperti orang yang berkhayal. Namun beberapa detik kemudian terkekeh lagi karena melihat ekspresi Cakka.

Oke cukup! Candaan  Agni sudah keterlaluan sampai-sampai Alvin di bawa-bawa.
“gak ada yang lucu!”desis Cakka, sakit hati sekaligus cemburu.

Agni meneguk ludah sukar, ia melirik Cakka yang ada di sampingnya dengan takut.
“keterlaluan ya? maaf deh Kka”kata Agni dengan tulus.

Cakka tak bergeming, bukan tak mempedulikan tapi ingin melihat sejauhmana Agni akan membujuknya agar tak cemberut lagi.

Agni menarik ujung baju Cakka dengan manja, “maafin dong”pinta Agni. Cakka tetap tak bergeming, Agni yang menyadari itupun menjadi cuek dan masa bodo yang penting ia telah berusaha meminta maaf. Bukan begitu?

Ify dan Rio berpandangan melihat Agni dan Cakka saling diam, aneh juga kalau dua anak ini malah saling cuek-cuekan.
“kenapa sih pada diem?”tanya Ify

Agni mengangkat bahu malas kemudian menunjuk Cakka dengan dagunya.
“dia ngebetein gak bisa di ajak becanda”imbuhnya.

Cakka memutar bola matanya, “apa? Gak bisa di ajak becanda?  Kalo becandaan sampe ngerembet ke mantan apa itu masih becanda? Emang enak Ni di gituin? Enggak!”ucap Cakka dengan wajah yang datar dan sangat dingin.

Agni meringis, “maaf ya... janji deh gak gini-gini lagi”ia menatap Cakka dengan tatapan memohon.

Cakka mengangguk dan tersenyum, ia meraih rambut Agni lalu mengelusnya sayang.
“iya aku maafin”ujar Cakka.

Pikiran Rio kacau, beberapa hari ini pemikirannya emang sedang banyak terganggu, dari mulai gara-gara pelajaran, Agni, orang tuanya dan... Ify. Ia bingung bagaimana cara memberitahu keluarganya kalau mereka telah berpisah, bingung dengan perasaannya terhadap Agni, dan juga bingung tentang hubungannya dengan Ify. Ia mengurut pelipisnya pelan.

Ify sedikit curi-curi pandang ke arah Rio yang terlihat begitu gelisah, selalu menghela nafas dengan berat, kemudian memijat pelipisnya sendiri. Ia memegang pundak Rio.
“kenapa Io'?”tanya Ify, ia mengelus kepala Rio dengan lembut. Berharap sakit di kepalanya cepat reda.

Rio tersenyum ke arah Ify, ia turunkan tangan Ify dari kepalanya, kemudian menggenggam tangan itu begitu lembut. “cuma pusing aja sedikit”ucap Rio agak parau.

Ify membelalakan matanya, jangan-jangan Rio sakit. Terlihat dari suaranya yang serak dan terus memijat keningnya.
“ke UKS yuk”ajak Ify namun Rio malah menggeleng, menolaknya dengan lembut.
“kita ke kelas aja kalo gitu”usul Ify  yang kedua yang kali ini di angguki oleh Rio.

“kita duluan ya?”pamit Ify, ia sedikit menggandeng Rio yang nampak agak terhuyun.

Cakka menatap kepergian Rio dan Ify sementara Agni sibuk dengan ponselnya.
“kamu gak khawatir sama Rio?”tanya Cakka berhati-hati.

Agni tersenyum hambar, “kan dia udah punya Ify Kka”jawabnya dengan simple.

Cakka tersenyum, ia mengelus rambut Agni. Ia kagum dengan gadis ini yang menurutnya begitu tegar.

Dalam hati sebenarnya Agni ingin menceritakan tentang hubungannya dengan Rio yang kandas, tapi entah kenapa hatinya yang lain menyuruhnya untuk bungkam, tidak menceritakan apapun dahulu.

Ponsel Cakka nampak bergetar, ia merogoh sakunya kemudian mengotak-atik ponsel itu. Seketika pandangannya menjadi berseri melihat isi pesan itu, pesan yang membahagiakan.

Agni menautkan keningnya, merengut curiga,  “girang amat”desis Agni, sementara seperti yang tidak terpengaruh oleh desisan Agni, Cakka malah asyik terus mengurusi ponselnya yang menjadi rajin kedatangan pesan.

***

Rafli dan Marsha berada di ruangan kesenian, hampir  tidak pernah mereka memasuki ruang kesenian ini di saat bukan jam pelajaran kesenian.
Rafli menatap Marsha yang begitu ahli memainkan piano, di dalam rumahnya memang ada sebuah grand piano putih tapi jujur saja ia memang tidak bisa memainkannya.
“hebat kamu”ujar Rafli dengan senyuman khasnya.

Marsha menoleh kemudian membalas senyuman itu dengan tulus, “kamu bisa gak?”Marsha menghentikan permainannya.

Rafli memamerkan deretan giginya, “gak bisa”

Marsha terkekeh, “kirain bisa, padahal cowok yang bisa main piano itu romantis lho Raf, kayak Bagas”ia membayangkan saat dimana Bagas dan Cindai berada di atas panggung memainkan grand piano itu.

Rafli mengacak-acak rambut Marsha, “iya deh, entar aku belajar”
“ehh... aku ke toilet dulu ya Sha, kamu tunggu disini”kata Rafli, setelah itu ia beranjak.

Tak lama, Rafli keluar dari kamar mandi. Namun pada saat berada di belokan antara toilet dan koridor utama ia bertabrakan dengan seorang gadis.

“Rafli”ucap gadis itu, ia tersenyum begitu ramah.

Marsha menunggu Rafli dengan gusar pasalnya beberapa menit lagi bel masuk akan berbunyi. Instingnya memberi kode agar ia beranjak ke toilet mencari keberadaan Rafli yang sebenarnya.
“Rafli dimana sih?”gumannya
Ia terus berjalan di koridir itu hingga ia melihat orang yang ia cari sedang asik berbincang saling bercanda dengan seorang gadis. Yang sama sekali ia tak kenali. Hatinya terasa bergejolak, matanya perih, perih sekali di dalam dada dan matanya.

“Marsha”panggil Rafli begitu menyadari kehadiran Marsha.

Marsha segera  berbalik berjalan dengan cepat, mencoba menghindari kekasihnya itu.

***

Ify yang terakhir keluar dari kelas itu, tadi Rio nampaknya terburu-buru pergi jadi tak sempat keluar bersama. Ia melirik ke arah bangku Rio sekilas, namun beberapa detik kemudian ia melihat ke arah bangku Rio lagi, ia melihat sebuah benda yang begitu menarik perhatiannya tergeletak di bawah kursi yang tadi di duduki Rio.
“cincin?”gumannya.

Sementara di parkiran Rio sedang kebingungan mencari cincinnya yang entah jatuh dimana. Ia mencari di dalam mobilnya, hasilnya nihil.
“kacau kacau kacau kalo sampe ilang”rutuk Rio.
Ia menyandarkan diri di mobilnya, memejamkan mata, semoga dengan seperti itu ia dapat mengingat kemana aja dia tadi.

“Io'”seseorang menepuk pundak Rio, ia tersenyum begitu melihat Rio membuka matanya.
“kamu kehilangan sesuatu ya?”tanya Ify dengan senyuman yang masih merekah.

Rio mengangguk lemas.

Ify mengacungkan jemarinya dan terlihat ada sebuah cincin yang ia pakai di jadi tengahnya.

“cincin aku”ia meraih tangan Ify mengambil cincin itu tanpa permisi.

Ify merengut, “ihh cuma nyobain sebentar kok”gumannya

Rio menghela nafas, “maaf Fy, tapi ini penting”ucap Rio meminta pengertian.
“oiya kok kamu tau ini cincin aku? Padahal kan aku udah gak pernah pake cincin gini lagi”guman Rio

Ify berdecak, ia gemas juga dengan kekasihnya ini, “Io'... didalemnyakan ada nama kamu”ucap Ify

Rio tertegun, benar juga. Inikan cincin yang dulu di pakai Agni jadi pasti ada nama dia lah. Tapu sudahlah yang penting udah ada.
“mau pulang bareng?”ajak Rio

Ify menggeleng, “aku bawa mobil Io', kapan-kapan deh ya”

Rio mengangguk, “kalo gitu aku duluan ya”pamit Rio yang di setujui oleh Ify.

***

Agni merebahkan badannya ke pembaringan, pikirannya melayang pada saat istirahat tadi dimana Rio terlihat begitu lesu tak bertenaga. Ia kira setelah beberapa hari ia tak akan memikiran pertunangan itu lagi, tapi ternyata dugaannya salah. Ehh... tapi tunggu dulu, Rio seperti itu gak berarti Rio sedang memikirkan itukan?
Agni menggelengkan kepalanya pelan, mencoba menjauhkan pikirannya dari hal itu.
Ponselnya berdering tanda sebuah pesan masuk.

Aku tunggu kamu di taman kompleks sekarang, please kamu dateng ada hal penting yang mau aku omongin.

Agni menghela nafas, ia membangunkan dirinya. Menatap pantulannya di cermin. ‘Hot pants? Yaudahlah males ngeganti’ gumannya, setelah membenarkan letak rambutnya ia kemudian beranjak dari kamarnya.

Rio berdiri begitu melihat Agni mendekatinya.
“duduk dulu Ni”ia mempersilahkan Agni duduk

Agni tersenyum canggung, “mau bicara apa?”

Rio berdeham, ia beberapa kali menghela nafas panjang “Ni, sebelumnya aku minta maaf aku kasar sama kamu waktu itu, aku baru sadar kalo aku belum bisa kehilangan kamu, please kamu jangan dulu tinggalin aku ya? kamu taukan bentar lagi Ujian Semester? Aku gak bisa fokus kesana Ni, aku kefikiran kamu terus”ia menghela nafas panjang “dan... aku gak bisa ngecewain Mama Ni, Mama sayang sama kamu dan Mama juga nanyain kamu terus”ia menunduk.

Agni memagang pundak Rio, ia juga ikut menghela nafas “aku juga sebenernya bingung Io'  kalo Papa sampe tau, aku harus bilang apa? Aku juga gak mau ngecewain Papa”

Rio menatap Agni, “jadi gimana? Kita balikan?” Rio mengeluarkan cincin yang sempat menjadi milik Agni itu.

Sementara disudut lain, seorang gadis tengah memperhatikan mereka dengan dahi yang berkerut dan pandangan mata yang bertanya-tanya.
“Rio sama siapa?”guman gadis itu.


To Be Continue...
Siapa gadis itu?

1 comment: