Beberapa
kali Agni menarik nafas dengan berat, sesekali ia lirik ke arah koridor kelas
namun entah kenapa ia rasa begitu berat buat melangkah, ia masih terbayang
dengan kejadian beberapa jam yang lalu, yang entah itu terbaik atau bukan.
Tok tok tok
Agni
mengalihkan pandangannya pada jendela mobilnya, kemudian ia tersenyum begitu
melihat orang yang mengetuk kaca mobilnya.
“Kka”ia
keluar dari mobil itu.
Cakka
tersenyum begitu manis, “selemat pagi sayang?”sapanya, ia menyampirkan rambut
Agni yang menghalangi mata gadis itu. Seketika pandangannya tertuju pada leher
bagian dalam, ia mengulurkan tangannya memegang sesuatu yang nampak merah.
“ini kenapa?
Si Alvin lagi?”ucap Cakka, terlihat sekali rahangnya mengeras dan giginya
bergerutuk. Kesal, marah bercampur jadi satu.
Agni
menurunkan tangan Cakka, ia membenarkan letak rambutnya kembali.
“bukan”ia
berjalan melewati Cakka, namun Cakka menrik sikutnya.
“sakit
Kka”ringis Agni.
Cakka
menatap tajam ke arah Agni, sementara Agni berkonsentrasi memberontak Cakka
karena kesakitan di cengkram seperti itu.
“jadi siapa?
Rio?”desis Cakka dengan tajam.
“Kka,
lepasin Agni!”bentak Cindai, baru saja ia turun dari motornya Bagas dan
langsung menghampiri Agni yang tengah kesakitan di cengkram oleh Cakka.
“CAKKAA!!!”bentak
Cindai lagi, ia menatap tajam ke arah Cakka.
Cakka
membalas tatapan Cindai, “apa sih urusan loe hah?”bentak Cakka, “argh”Cakka
meringis kesakitan karena begitu Cindai di bentak ia lengsung mengambil
persendian Cakka untuk dia pelintir. Otomatis tangan Agni terlepas, kemudian ia
memegangi sikutnya yang ngilu.
“lepas”gertak
Cakka
Bagas
menepuk pundak Cindai.
“lepasin Nda”
Cindai
berdecak, kemudian mendorong Cakka sekuatnya.
“urus tuh
temen kamu!”kata Cindai dengan penuh penekanan. Setelah itu ia menarik Agni
agar meninggalkan dua pemuda itu.
***
Rafli masih
berada di samping ranjang Marsha, gadisnya itu belum sepenuhnya membaik jadi
masih harus di rawat. Ia saling bertatapan dengan Marsha yang terus
menyunggingkan senyuman kebahagiaannya.
“aku seneng
banget Papa kamu gak jadi maksa kamu pindah”guman Marsha
Rafli
menghela nafas panjang, “aku juga, aku gak mau jauh-jauh dari kamu”ia meremas
lembut tangan Marsha. Jujur, ia memang paling tidak bisa untuk romantis. Tapi
dari lubuk hati yang paling dalam ia benar-benar menyayangi gadis itu, tak
ingin kehilangan.
“aku mau
pulang, gak enak di rumah sakit terus”kata Marsha, ia mencoba untuk duduk.
Rafli berdiri untuk membantunya. Kemudian ia duduk di ranjang, saling
berhadapan dengan Marsha.
“kan belum
sembuh Sha”ia mengulurkan tangannya, mengelus pipi Marsha yang terlihat tidak
begitu tembem.
Marsha
merengut, “kok gitu? Kan aku udah gapapa Raf”ia cemberut, menggembungkan
pipinya kesal.
“kalo gak
boleh pulang, aku mau jalan-jalan ya?”pinta Marsha dengan mata yang berbinar.
Rafli
terkekeh, ia mengangguk kemudian mengambil kursi roda untuk di gunakan Marsha.
“yuk”ia
memapah Marsha hingga duduk di kursi.
Clek
Seorang
suster memasuki kamar Marsha.
“selamat
siang Marsha... lho mau kemana?”suster itu yang dari awal merawatnya menatap
Marsha dengan aneh.
Marsha
tersenyum, “mau jalan-jalan sus”
“periksa
dulu ya? terus sarapan dan makan obat”kata suster itu, ia mendekati Marsha
berjongkok di dekat Marsha.
Rafli
tersenyum, “biar di luar aja sus sarapannya, kayaknya Marsha bosen di kamar
terus”kata Rafli
Suster itu
menatap Rafli, ia tersenyum “yaudah, sekarang periksa dulu”
***
Ify menatap
khawatir pada Agni yang hari ini duduk di sebelahnya, mereka memang tidak
mempunyai tempat khusus harus duduk sama siapa, tapi terserah masing-masing aja
mau duduk dimana. Agni terlihat lesu
sekali, tidak seperti biasanya. Gadis itu lebih pendiam dan penampilannya lebih
kusut dari biasanya. Ia memegang bahu Agni.
“kenapa?”bisik
Ify, karena saat ini memang pelajaran sedang berlangsung.
Agni menoleh
ke arah Ify dengan lemas, ia tersenyum hambar “gapapa kok”ia memalingkan lagi
wajahnya ke arah papan tulis karena dalam benaknya tersimpan rasa bersalah yang
amat dalam pada Ify, sahabatnya. ‘apa
sebaiknya harus jujur dan menceritakan itu semua?’ Agni menggeleng pelan, merasa belum tepat untuk di
bicarakan. Pikirannya kembali pada perdebatan dengan tunangannya malam tadi.
Agni mendorong kuat tubuh Rio, kemudian
menjauh dari pemuda itu.
“apa-apaan sih Io'?”ia mendesis tajam begitu
merasakan lehernya perih.
Rio mengangkat alisnya, “bukannya kamu juga
suka?” Rio merendahkan suaranya, gak mau ada yang mengetahui kejadian ini.
Agni mendelik, “maksud kamu? Denger ya Io'
aku menghormati kamu, menghargai kamu itu karena kamu tunangan aku, gak lebih!
Aku biarin kamu cium aku, itu karena kamu tunangan aku! Tapi untuk yang
barusan”Agni menggeleng lemah, ia menghela nafas panjang “kamu keterlaluan!”ia
hendak beranjak dari kamar itu, namun begitu di ambang pintu ia berbalik lagi
menghadap Rio “Satu hal yang harus kamu
tau, aku gak ada perasaan apapun sama kamu dan aku harap kamu juga gitu!” Agni
menghembuskan nafas berat “aku cuma mencintai Cakka”Agni beranjak, kali ini
benar-benar berlalu dari kamar itu.
Agni
merasakan seseorang menepuk pundaknya, ia berbalik dengan lambat.
“ehh...
Kka”ia gelapan “sejak kapan kamu disini?”tanya Agni, ia mengedarkan
pandangannya. Ternyata ia cukup lama juga melamun sampai guru yang tadi
mengajar keluarpun ia tak menyadarinya.
Cakka
tersenyum, kemudian membelai rambut Agni dengan sayang “maaf ya, tadi aku
kasar”ia menatap Agni dengan intens, matanya mengisyaratkan kalau ia
benar-benar menyesalinya.
Agni
membalas senyuman itu, “gapapa kok” kini
keduanya bertatapan cukup lama, hingga hanya hening yang ada di antara
mereka.
Cakka
berdeham, “kamu kenapa? Aku perhatiin kok kamu ngelamun terus sih?”ia mengubah
pisisi duduknya menjadi menyamping, tidak menatap Agni lagi.
Agni
menggeleng lemah, “gapapa kok, cuma pusing aja”ia memegang keningnya yang
terasa berdenyut.
Cakka
menatap Agni lagi, tatapannya kini terlihat sangat khawatir “ke UKS yuk”ajak
Cakka, namun Agni menggeleng, menolak ajakan itu. Cakka mengulurkan kedua
tangannya, memijat tengkuk dan kening Agni perlahan.
“udah
enakan?”tanya Cakka setelah beberapa menit.
Agni
tersenyum, mengangguk pasti “udah gak berat kok, makasih ya”
“oiya, entar
malem ke rumah aku yuk, kebetulan Papa mau dateng buat makan malam di rumah dan
suruh aku bawa pasangan”ajak Cakka, ia bercerita dengan penuh antusias.
Agni mengerutkan
dahi, “semuanya?”
Cakka
mengangguk pasti, “iya, mau ya... please...”ia menyatukan telapak tangannya,
memohon.
Agni
terkekeh, “iya sayang aku mau kok, apa sih yang enggak buat kamu?”ia mencubit
hidung Cakka dengan gemas hingga terlihat merah di ujungnya.
Cakka
cemberut, “sakit tau ihh”ia mengusap-usap pelan hidungnya, pura-pura marah.
Agni
mengerlingkan matanya, “ngambek? Yaudah gak jadi deh”ia mengambil bukunya,
berpura-pura mengabaikan Cakka yang sedang marah manja.
Cakka
melirik Agni dengan takut, “Agni... marah beneran ya... Agni... maaf deh”ia
menguncang-guncang lengan Agni yang terlihat sibuk membaca, “sayaang... maaf”
Agni melirik
Cakka dengan malas sekali, “apa sih?”ia mencoba seketus mungkin, dalam hati ia
benar-benar ingin tertawa melihat ekspresi Cakka yang sedang manja ini.
“maaf dong
ihh... kan aku cuma boongan tadi marahnya”aku Cakka
Akhirnya
tawa Agni lepas melihat wajah Cakka yang begitu memelas, begitu lucu baginya.
Sementara Cakka melirik Agni dengan tajam, ternyata ia di kerjain juga! Heuh!
***
Bagas dan
Cindai menyantap makanannya dalam diam, entah kenapa hari ini teman-temen
mereka pada pisah-pisah. Bagas terlihat menghentikan pergerakannya, ia menatap
Cindai.
“Nda”panggil
Bagas
Cindai
menatap Bagas, ia sedikit cemberut “jangan panggil gitu ahh gak enak di
dengernya”kritik Cindai.
“Adinda?
Kenapa sih? Kok gak boleh?”tanya Bagas memastikan.
Cindai
memutar bola matanya, “cukup di SMS aja ya gas kalo panggilan gitu”gumannya, ia
menyantap makanannya lagi. Terlalu bete kalau harus berdebat di saat makan,
merusak napsu makan!
Bagas
menghela nafas, kayaknya ia harus mengalah. “oiya, aku gak nyangka lho Cakka
tadi gak ngelawan”ucap Bagas sambil menyuap lagi makanannya.
Cindai
meraih jus nya, ia menatap Bagas sekilas “kenapa emangnya?”ia menatap Bagas
karena makanannya telah habis.
“gitu-gitu
dia juga pernah ikutan karate”Bagas mengaduk-aduk jusnya.
Cindai
mengangguk-anggukan kepalanya, setelah itu ia mengambil tissu dari saku atasnya. Mengulurkan tangannya pada
ujung bibir Bagas, menghapus bercak saus di tepi bibirnya.
“belepotan”guman
Cindai sambil membersihkan ujung bibir yang lainnya.
Bagas
tersenyum, ia meraih lengan Cindai. “makasih”ucapnya pelan, ia menggenggam erat
jemari lentik itu, seakan tak mau kehilangan momen itu.
Cindai
menarik tangannya dengan lembut, gak enak juga di liatin orang-orang.
“minggu
depan aku ada pertandingan”ia menyeruput minumannya.
Bagas
mendelik, “gak boleh!”tegasnya
Cindai
menatap Bagas dengan tajam, “kenapa? Atas dasar apa kamu ngelarang aku?”tanya
Cindai tak terima.
“sekali aku
bilang gak! ya GAK!!!”tegas Bagas lagi, dengan penekanan kata namun dengan nada
yang tidak begitu keras.
Cindai
berdiri, ia sedikit menggebrak meja “terserah!”ucapnya penuh emosi, ia berlalu
meninggalkan Bagas. Sementara Bagas tak berniat menahan Cindai, lebih baik
berfikir masing-masing dulu daripada berbicara dengan emosi.
***
Di tempat
lain, tepatnya lapangan basket.
Rio dan Ify
sedang bertanding lagi terlihat keringat bercucuran dari pelipis membasahi
pakaian putih mereka maisng-masing. Karena hari ini memang tidak ada pelajaran
olah raga jadilah mereka bermain basket dengan pakaian itu.
“aku liat
Agni murung terus, kira-kira kenapa ya Io'?”tanya Ify di sela-sela merebut bola
Rio,dan dapat. Ia mendriblenya, dan masuk!
Rio menatap
Ify, mengajak gadis itu duduk di bangku yang teduh.
“udahlah Fy,
gak usah pikirin orang lain”jawab Rio dengan santai, ia meneguk air mineralnya
setelah itu ia berikan pada Ify.
“ya tapi
aneh aja Io', kayaknya dia ada masalah deh”guman Ify, ia memutar posisi
menghadap Rio.
“menurut
kamu kenapa?”tanya Ify, agak mendesak.
Rio menghela
nafas, ia membelai rambut Ify “ya... mana aku tau Fy, tanyanya sama Cakka gih
yang jelas-jelas cowoknya”ia membuka dasi yang melilit lehernya, gerah. Kemudian
bersandar di bangku itu.
“iya juga
ya...”Ify melihat ke arah lain sambil mengangguk-anggukan kepala. Tanpa Ify
sadari Rio mengurut dahinya sendiri, pusing sekali. Apa Agni gitu gara-gara
dirinya?
“ehh iya Io'
kita nengokin Marsha yuk”ajak Ify, ia memutar posisinya lagi menghadap Rio.
“mau ya... Rafli juga disana kok”ia menarik-narik ujung baju Rio.
Rio
terkekeh, “iya sayang, oke. Ajak yang lain juga biar rame”usul Rio yang
mendapat anggukan dari Ify.
***
Ify
membereskan alat tulis kedalam tasnya, “negok Marsha yuk”ajak Ify pada Cindai
dan Agni.
“gue gak
bisa, ada latihan tambahan... gue nitip salam aja sama Marsha, kalo udah sempet
gue janji deh nengokin dia”kata Cindai yang sama-sama masih membereskan alat
tulisnya.
Agni
menghadap Ify, ia menyelempangkan tasnya “gue gak bisa, ada acara sama Cakka...
kalo gak penting-penting amat gue bakalan ikut, tapi ini penting banget”
Ify menatap
Agni curiga, “emang mau ngapain? Sekarang jadi pentingan cowok loe ya daripada
sahabat loe sendiri?”Ify sedikit mengintimidasi Agni.
Agni
berdecak, ia menarik rambutnya kebelakang “nih, gue mau ngilangin ini... entar
malem gue di ajak party di rumahnya Cakka”ia menunjukan lehernya pada Ify,
memang susah kalau bicara sama Ify harus jelas alasan dan buktinya.
Ify menutup
mulutnya, “ya ampun Ni, ganas juga ya Cakka... sumpah deh ya gue gak
nyangka”guman Ify, “untung Rio gak gitu”
DEG
Agni
tersenyum hambar kalau ia berani ia bakalan bilang kalau ‘ini perbuatan Rio Fy!
Bukan Cakka!’ tapi ia masih menghargai Ify sebagai kekasih Rio yang hanya tau
Rio yang baik-baiknya saja, ia merapihkan rambut dan pakaiannya.
“syukur deh,
gue duluan ya... bye”pamit Agni.
***
Rafli
mendorong kursi roda Marsha menuju kamarnya, seharian keliling-keliling
membuatnya lelah juga.
“aku mau belajar
jalan lagi ah Raf, aku rasa aku udah mulai kuat kok”kata Marsha, ia sedikit
menengok kebelakang.
Rafli
mengelus puncak kepala Marsha, “iya sayang, sekarang kamu makan siang dulu”ia
membukakan pintu kamar Marsha, kemudian mendorongnya kembali memasuki ruangan
serba putih abu itu.
“lho Fy,
Io', udah lama disini?”tanya Marsha karena mendapati dua sahabatnya ada di
kamar rawat Marsha.
Rio dan Ify
tersenyum, “baru kok, loe gimana udah baikan sekarang?”tanya Ify, ia membantu
Rafli memapah Marsha ke tempat tidur.
“Marsha
mendudukan dirinya, lalu mengangguk pasti “besok juga pulang”
“syukur deh
kalo gitu”kata Ify
“eh iya,
yang lain mana?”tanya Marsha yang baru menyadari ketidak hadiran beberapa
temannya.
“pada sibuk
masing-masing, tapi mereka janji kok mau nengok loe kalo sempet”jelas Ify
Rafli dan
Rio berdehem berbarengan, “di cuekin kita Raf”sindir Rio
“iya nih,
yaudah ngantin yuk laper gue”ajak Rafli
“boleh juga,
gue juga laper”kata Rio menyetujuinya.
Sementara
Ify dan Marsha malah cekikikan sendiri melihat tingkah kedua pemuda itu yang
kini beranjak keluar.
“ehh iya
Sha, loe kan bisa baca pikiran orang... loe bisa baca pikiran Agni gak? Rio?
Atau Cakka? Gue rasa gue curiga sama mereka”kata Ify dengan lirih, ia duduk di
kursi di sebelah kanan ranjang Marsha.
Marsha
menghela nafas, “Agni sekarang udah bisa ngeblok pikirannya buat gue akses,
tapi kalau Cakka sama Rio kayaknya gue bisa”
Ify
tersenyum senang, “kapan loe bisanya Sha? Gue butuh secepatnya ... gue udha gak
tahan sama sikap mereka”wajah Ify berubah jadi sendu
Marsha
menepuk pundak Ify, “gue tau apa yang loe rasain, tapi...”ia menghela nafas
“jangan terlalu loe pikirin, gimana kalo kecurigaan loe itu salah? Loe jugakan
yang rugi?”saran Marsha
Ify
mengangguk mengerti, “thanks ya Sha”ia memeluk perut Marsha beberapa saat.
***
Bagas
menatap Cindai yang masih berlatih di lapangan, hatinya benar-benar
berkecamuk, bingung. Di satu sisi ia
memang mengerti kalau dunia karate itu ia dapatkan sebelum mereka saling
mengenal, tapi di sisi lain ia benar-benar khawatir dengan kekasihnya itu,
karena dalam suatu pertandingan ia yakin pasti ada yang cedera, mau cedera
ringan, atau berat. Dan itu yang ia takutkan.
“Cindai”ia
menarik Cindai yang berjalan ke pinggir lapangan, menarik menjauh dari
keramaian.
Cindai tak
melawan ia menuruti apa kemauan Bagas. Mereka berhenti di sebuah lorong yang
sepi.
Bagas
terlihat menghela nafas panjang, “jangan ya... please”
Cindai
menghentakkan kakinya kesal, “kamu kenapa sih jadi gini? Ini dunia aku dari
dulu”
“aku ngerti,
tapi aku cuma khawatir! Aku khawatir sama keselamatan kamu”ucap Bagas dengan
nada yang tinggi.
“apa sih
yang kamu khawatirin? Aku bertanding pake pelindung, aku selalu aman! Gak usah
parno gitu lah”balas Cindai dengan nada yang sama.
“please...
aku khawatir”
“terserah,
aku gak bakalan mundur! Aku bakalan tetep berangkat atas persetujuan atau
tidak!”ia beranjak, namun tangannya di tahan tapi dengan ccepat Cindai bisa
melepaskan diri juga dari kekaihnya itu.
“Cindai, aku
cuma gak mau kamu kenapa-napa”teriak Bagas, terlihat Cindai menghentikan
langkahnya sejenak, namun berlalu kembali. “argh”teriak Bagas frustasi.
***
Agni
memasuki kediamannya, beberapa jam duduk di salon membuatnya bosen juga.
“Agni
pulang”seru Agni, namun ke adaan rumah nampak sepi “pada kemana sih?”gumannya
“Pa,
Papa”panggil Agni, jam lima pasti Papanya udah pulang.
“darimana
kamu? Puas maennya? Sampe lupa waktu! Sampe hape di matiin”ucap tegas
seseorang, Rio.
Agni
mendengus, ia mengambil ponselnya di tas, yaiyalah hapenya mati orang dari pagi
juga low.
Ia berjalan
melewati Rio yang duduk di ruang tamu, namun sebelum menaiki tangga ia berhenti
sebentar “Papa kemana lagi?”
“Batam”jawab
Rio dengan singkat dan tegas.
Setelah
mendapatkan jawaban itu ia segera ke kamarnya bersiap-siap karena Cakka satujam
lagi akan menjemputnya.
Satu jam
berlalu, Agni turun dengan gaun selutut berwarna soft ungu dan Agni bisa
melihat Rio masih di tempat semula, ‘gak
pegel apa?’ batin Agni.
“mau kemana?
Baru dateng udah mau keluyuran lagi?”tanya Rio, kini ia berjalan ke arah Agni.
Mereka kini berhadapan.
“cantik!
Ganti baju sana”perintah Rio
Agni
mendelik, “kok kamu jadi gini sih?”
“gue bilang
ganti! Atau gaun loe gue sobek!”ancam Rio
PLAK
Agni
mendaratkan satu tamparan di pipi kiri Rio, “kenapa sih loe Jadi posesif gini?
Loe sadar gak sih apa yang loe omongin? Sadar Io', kita tunangan cuma terpaksa!
TER-PAK-SA”
Agni mengatur
nafasnya, ia menatap Rio yang menatapnya dengan tenang, seolah ia benar dan tak
mersa bersalah sedikitpun.
“masuk ke
kamar”Rio menarik Agni, memaksanya menaiki tangga yang menjadi akses ke
kamarnya.
“MARIO!”bentak
Agni
Rio berhenti
berjalan, ia menatap Agni tajam.
“ini
balasannya karena loe udah nyakitin gue!”desis Rio
Agni meringis
karena di tarik lagi, ia sedikit memberontak namun lama kelamaan ia menjadi
diam.
“Io'”panggil
lirih Agni.
Rio menatap Agni
dengan tatapan khawatir, karena ia baru pertama kali mendengar suara Agni yang
seperti itu.
“aku rasa aku udah gak sanggup ada dalam posisi ini, aku sadar aku gak bisa gini terus”ucap Agni
Rio menatap Agni
tak mengerti, “maksud kamu apa?”
“kita udahan
aja Io' sampe sini aja, aku udah gak kuat”ia melepaskan tangannya dari
genggaman Rio yang mengendur, ia lepaskan cincin itu dari jari manisnya.
“ini”Agni meraih
tangan Rio, membuka lalu meletakkan cincin itu di telapak tangan Rio yang
terasa begitu dingin. Ia tutupkan kembali telapak tangan itu.
“aku gak tau
seberapa kecewanya Papa sama aku, tapi jujur Io' aku udah gak bisa... maaf”ucap
Agni dengan lirih, setelah itu ia berlalu dari hadapan Rio yang masih mematung
di ujung tangga ter atas.
To Be
Continue...
Yang mau di
tag just komen di setiap part nya. :)
Kritik dan
saran masih saya tampung ke inbox atau ke kronologi ya...
Terimakasih :)
keren :)
ReplyDelete