Thursday, 18 April 2013

Cowok itu... #13


Beberapa kali Agni menarik nafas dengan berat, sesekali ia lirik ke arah koridor kelas namun entah kenapa ia rasa begitu berat buat melangkah, ia masih terbayang dengan kejadian beberapa jam yang lalu, yang entah itu terbaik atau bukan.

Tok tok tok

Agni mengalihkan pandangannya pada jendela mobilnya, kemudian ia tersenyum begitu melihat orang yang mengetuk kaca mobilnya.
“Kka”ia keluar dari mobil itu.

Cakka tersenyum begitu manis, “selemat pagi sayang?”sapanya, ia menyampirkan rambut Agni yang menghalangi mata gadis itu. Seketika pandangannya tertuju pada leher bagian dalam, ia mengulurkan tangannya memegang sesuatu yang nampak merah.
“ini kenapa? Si Alvin lagi?”ucap Cakka, terlihat sekali rahangnya mengeras dan giginya bergerutuk. Kesal, marah bercampur jadi satu.

Agni menurunkan tangan Cakka, ia membenarkan letak rambutnya kembali.
“bukan”ia berjalan melewati Cakka, namun Cakka menrik sikutnya.
“sakit Kka”ringis Agni.

Cakka menatap tajam ke arah Agni, sementara Agni berkonsentrasi memberontak Cakka karena kesakitan di cengkram seperti itu.
“jadi siapa? Rio?”desis Cakka dengan tajam.

“Kka, lepasin Agni!”bentak Cindai, baru saja ia turun dari motornya Bagas dan langsung menghampiri Agni yang tengah kesakitan di cengkram oleh Cakka.
“CAKKAA!!!”bentak Cindai lagi, ia menatap tajam ke arah Cakka.

Cakka membalas tatapan Cindai, “apa sih urusan loe hah?”bentak Cakka, “argh”Cakka meringis kesakitan karena begitu Cindai di bentak ia lengsung mengambil persendian Cakka untuk dia pelintir. Otomatis tangan Agni terlepas, kemudian ia memegangi sikutnya yang ngilu.
“lepas”gertak Cakka

Bagas menepuk pundak Cindai.
“lepasin Nda”

Cindai berdecak, kemudian mendorong Cakka sekuatnya.
“urus tuh temen kamu!”kata Cindai dengan penuh penekanan. Setelah itu ia menarik Agni agar meninggalkan dua pemuda itu.

***

Rafli masih berada di samping ranjang Marsha, gadisnya itu belum sepenuhnya membaik jadi masih harus di rawat. Ia saling bertatapan dengan Marsha yang terus menyunggingkan senyuman kebahagiaannya.
“aku seneng banget Papa kamu gak jadi maksa kamu pindah”guman Marsha

Rafli menghela nafas panjang, “aku juga, aku gak mau jauh-jauh dari kamu”ia meremas lembut tangan Marsha. Jujur, ia memang paling tidak bisa untuk romantis. Tapi dari lubuk hati yang paling dalam ia benar-benar menyayangi gadis itu, tak ingin kehilangan.

“aku mau pulang, gak enak di rumah sakit terus”kata Marsha, ia mencoba untuk duduk. Rafli berdiri untuk membantunya. Kemudian ia duduk di ranjang, saling berhadapan dengan Marsha.

“kan belum sembuh Sha”ia mengulurkan tangannya, mengelus pipi Marsha yang terlihat tidak begitu tembem.

Marsha merengut, “kok gitu? Kan aku udah gapapa Raf”ia cemberut, menggembungkan pipinya kesal.
“kalo gak boleh pulang, aku mau jalan-jalan ya?”pinta Marsha dengan mata yang berbinar.

Rafli terkekeh, ia mengangguk kemudian mengambil kursi roda untuk di gunakan Marsha.
“yuk”ia memapah Marsha hingga duduk di kursi.

Clek

Seorang suster memasuki kamar Marsha.
“selamat siang Marsha... lho mau kemana?”suster itu yang dari awal merawatnya menatap Marsha dengan aneh.

Marsha tersenyum, “mau jalan-jalan sus”

“periksa dulu ya? terus sarapan dan makan obat”kata suster itu, ia mendekati Marsha berjongkok di dekat Marsha.

Rafli tersenyum, “biar di luar aja sus sarapannya, kayaknya Marsha bosen di kamar terus”kata Rafli

Suster itu menatap Rafli, ia tersenyum “yaudah, sekarang periksa dulu”

***

Ify menatap khawatir pada Agni yang hari ini duduk di sebelahnya, mereka memang tidak mempunyai tempat khusus harus duduk sama siapa, tapi terserah masing-masing aja mau duduk dimana. Agni   terlihat lesu sekali, tidak seperti biasanya. Gadis itu lebih pendiam dan penampilannya lebih kusut dari biasanya. Ia memegang bahu Agni.
“kenapa?”bisik Ify, karena saat ini memang pelajaran sedang berlangsung.

Agni menoleh ke arah Ify dengan lemas, ia tersenyum hambar “gapapa kok”ia memalingkan lagi wajahnya ke arah papan tulis karena dalam benaknya tersimpan rasa bersalah yang amat dalam pada Ify, sahabatnya. ‘apa sebaiknya harus jujur dan menceritakan itu semua?’ Agni  menggeleng pelan, merasa belum tepat untuk di bicarakan. Pikirannya kembali pada perdebatan dengan tunangannya malam tadi.

Agni mendorong kuat tubuh Rio, kemudian menjauh dari pemuda itu.
“apa-apaan sih Io'?”ia mendesis tajam begitu merasakan lehernya perih.
Rio mengangkat alisnya, “bukannya kamu juga suka?” Rio merendahkan suaranya, gak mau ada yang mengetahui kejadian ini.
Agni mendelik, “maksud kamu? Denger ya Io' aku menghormati kamu, menghargai kamu itu karena kamu tunangan aku, gak lebih! Aku biarin kamu cium aku, itu karena kamu tunangan aku! Tapi untuk yang barusan”Agni menggeleng lemah, ia menghela nafas panjang “kamu keterlaluan!”ia hendak beranjak dari kamar itu, namun begitu di ambang pintu ia berbalik lagi menghadap Rio  “Satu hal yang harus kamu tau, aku gak ada perasaan apapun sama kamu dan aku harap kamu juga gitu!” Agni menghembuskan nafas berat “aku cuma mencintai Cakka”Agni beranjak, kali ini benar-benar berlalu dari kamar itu.

Agni merasakan seseorang menepuk pundaknya, ia berbalik dengan lambat.
“ehh... Kka”ia gelapan “sejak kapan kamu disini?”tanya Agni, ia mengedarkan pandangannya. Ternyata ia cukup lama juga melamun sampai guru yang tadi mengajar keluarpun ia tak menyadarinya.

Cakka tersenyum, kemudian membelai rambut Agni dengan sayang “maaf ya, tadi aku kasar”ia menatap Agni dengan intens, matanya mengisyaratkan kalau ia benar-benar menyesalinya.

Agni membalas senyuman itu, “gapapa kok” kini  keduanya bertatapan cukup lama, hingga hanya hening yang ada di antara mereka.

Cakka berdeham, “kamu kenapa? Aku perhatiin kok kamu ngelamun terus sih?”ia mengubah pisisi duduknya menjadi menyamping, tidak menatap Agni lagi.

Agni menggeleng lemah, “gapapa kok, cuma pusing aja”ia memegang keningnya yang terasa berdenyut.

Cakka menatap Agni lagi, tatapannya kini terlihat sangat khawatir “ke UKS yuk”ajak Cakka, namun Agni menggeleng, menolak ajakan itu. Cakka mengulurkan kedua tangannya, memijat tengkuk dan kening Agni perlahan.
“udah enakan?”tanya Cakka setelah beberapa menit.

Agni tersenyum, mengangguk pasti “udah gak berat kok, makasih ya”

“oiya, entar malem ke rumah aku yuk, kebetulan Papa mau dateng buat makan malam di rumah dan suruh aku bawa pasangan”ajak Cakka, ia bercerita dengan penuh antusias.

Agni mengerutkan dahi, “semuanya?”

Cakka mengangguk pasti, “iya, mau ya... please...”ia menyatukan telapak tangannya, memohon.

Agni terkekeh, “iya sayang aku mau kok, apa sih yang enggak buat kamu?”ia mencubit hidung Cakka dengan gemas hingga terlihat merah di ujungnya.

Cakka cemberut, “sakit tau ihh”ia mengusap-usap pelan hidungnya, pura-pura marah.

Agni mengerlingkan matanya, “ngambek? Yaudah gak jadi deh”ia mengambil bukunya, berpura-pura mengabaikan Cakka yang sedang marah manja.

Cakka melirik Agni dengan takut, “Agni... marah beneran ya... Agni... maaf deh”ia menguncang-guncang lengan Agni yang terlihat sibuk membaca, “sayaang... maaf”

Agni melirik Cakka dengan malas sekali, “apa sih?”ia mencoba seketus mungkin, dalam hati ia benar-benar ingin tertawa melihat ekspresi Cakka yang sedang manja ini.

“maaf dong ihh... kan aku cuma boongan tadi marahnya”aku Cakka

Akhirnya tawa Agni lepas melihat wajah Cakka yang begitu memelas, begitu lucu baginya. Sementara Cakka melirik Agni dengan tajam, ternyata ia di kerjain juga! Heuh!

***

Bagas dan Cindai menyantap makanannya dalam diam, entah kenapa hari ini teman-temen mereka pada pisah-pisah. Bagas terlihat menghentikan pergerakannya, ia menatap Cindai.
“Nda”panggil Bagas

Cindai menatap Bagas, ia sedikit cemberut “jangan panggil gitu ahh gak enak di dengernya”kritik Cindai.
“Adinda? Kenapa sih? Kok gak boleh?”tanya Bagas memastikan.

Cindai memutar bola matanya, “cukup di SMS aja ya gas kalo panggilan gitu”gumannya, ia menyantap makanannya lagi. Terlalu bete kalau harus berdebat di saat makan, merusak napsu makan!

Bagas menghela nafas, kayaknya ia harus mengalah. “oiya, aku gak nyangka lho Cakka tadi gak ngelawan”ucap Bagas sambil menyuap lagi makanannya.

Cindai meraih jus nya, ia menatap Bagas sekilas “kenapa emangnya?”ia menatap Bagas karena makanannya telah habis.

“gitu-gitu dia juga pernah ikutan karate”Bagas mengaduk-aduk jusnya.

Cindai mengangguk-anggukan kepalanya, setelah itu ia mengambil tissu dari  saku atasnya. Mengulurkan tangannya pada ujung bibir Bagas, menghapus bercak saus di tepi bibirnya.
“belepotan”guman Cindai sambil membersihkan ujung bibir yang lainnya.

Bagas tersenyum, ia meraih lengan Cindai. “makasih”ucapnya pelan, ia menggenggam erat jemari lentik itu, seakan tak mau kehilangan momen itu.

Cindai menarik tangannya dengan lembut, gak enak juga di liatin orang-orang.
“minggu depan aku ada pertandingan”ia menyeruput minumannya.

Bagas mendelik, “gak boleh!”tegasnya

Cindai menatap Bagas dengan tajam, “kenapa? Atas dasar apa kamu ngelarang aku?”tanya Cindai tak terima.

“sekali aku bilang gak! ya GAK!!!”tegas Bagas lagi, dengan penekanan kata namun dengan nada yang tidak begitu keras.

Cindai berdiri, ia sedikit menggebrak meja “terserah!”ucapnya penuh emosi, ia berlalu meninggalkan Bagas. Sementara Bagas tak berniat menahan Cindai, lebih baik berfikir masing-masing dulu daripada berbicara dengan emosi.

***

Di tempat lain, tepatnya lapangan basket.
Rio dan Ify sedang bertanding lagi terlihat keringat bercucuran dari pelipis membasahi pakaian putih mereka maisng-masing. Karena hari ini memang tidak ada pelajaran olah raga jadilah mereka bermain basket dengan pakaian itu.
“aku liat Agni murung terus, kira-kira kenapa ya Io'?”tanya Ify di sela-sela merebut bola Rio,dan dapat. Ia mendriblenya, dan masuk!

Rio menatap Ify, mengajak gadis itu duduk di bangku yang teduh.
“udahlah Fy, gak usah pikirin orang lain”jawab Rio dengan santai, ia meneguk air mineralnya setelah itu ia berikan pada Ify.

“ya tapi aneh aja Io', kayaknya dia ada masalah deh”guman Ify, ia memutar posisi menghadap Rio.
“menurut kamu kenapa?”tanya Ify, agak mendesak.

Rio menghela nafas, ia membelai rambut Ify “ya... mana aku tau Fy, tanyanya sama Cakka gih yang jelas-jelas cowoknya”ia membuka dasi yang melilit lehernya, gerah. Kemudian bersandar di bangku itu.

“iya juga ya...”Ify melihat ke arah lain sambil mengangguk-anggukan kepala. Tanpa Ify sadari Rio mengurut dahinya sendiri, pusing sekali. Apa Agni gitu gara-gara dirinya?

“ehh iya Io' kita nengokin Marsha yuk”ajak Ify, ia memutar posisinya lagi menghadap Rio. “mau ya... Rafli juga disana kok”ia menarik-narik ujung baju Rio.

Rio terkekeh, “iya sayang, oke. Ajak yang lain juga biar rame”usul Rio yang mendapat anggukan dari Ify.

***

Ify membereskan alat tulis kedalam tasnya, “negok Marsha yuk”ajak Ify pada Cindai dan Agni.

“gue gak bisa, ada latihan tambahan... gue nitip salam aja sama Marsha, kalo udah sempet gue janji deh nengokin dia”kata Cindai yang sama-sama masih membereskan alat tulisnya.

Agni menghadap Ify, ia menyelempangkan tasnya “gue gak bisa, ada acara sama Cakka... kalo gak penting-penting amat gue bakalan ikut, tapi ini penting banget”

Ify menatap Agni curiga, “emang mau ngapain? Sekarang jadi pentingan cowok loe ya daripada sahabat loe sendiri?”Ify sedikit mengintimidasi Agni.

Agni berdecak, ia menarik rambutnya kebelakang “nih, gue mau ngilangin ini... entar malem gue di ajak party di rumahnya Cakka”ia menunjukan lehernya pada Ify, memang susah kalau bicara sama Ify harus jelas alasan dan buktinya.

Ify menutup mulutnya, “ya ampun Ni, ganas juga ya Cakka... sumpah deh ya gue gak nyangka”guman Ify, “untung Rio gak gitu”

DEG

Agni tersenyum hambar kalau ia berani ia bakalan bilang kalau ‘ini perbuatan Rio Fy! Bukan Cakka!’ tapi ia masih menghargai Ify sebagai kekasih Rio yang hanya tau Rio yang baik-baiknya saja, ia merapihkan rambut dan pakaiannya.
“syukur deh, gue duluan ya... bye”pamit Agni.

***

Rafli mendorong kursi roda Marsha menuju kamarnya, seharian keliling-keliling membuatnya lelah juga.
“aku mau belajar jalan lagi ah Raf, aku rasa aku udah mulai kuat kok”kata Marsha, ia sedikit menengok kebelakang.

Rafli mengelus puncak kepala Marsha, “iya sayang, sekarang kamu makan siang dulu”ia membukakan pintu kamar Marsha, kemudian mendorongnya kembali memasuki ruangan serba putih abu itu.

“lho Fy, Io', udah lama disini?”tanya Marsha karena mendapati dua sahabatnya ada di kamar rawat Marsha.

Rio dan Ify tersenyum, “baru kok, loe gimana udah baikan sekarang?”tanya Ify, ia membantu Rafli memapah Marsha ke tempat tidur.

“Marsha mendudukan dirinya, lalu mengangguk pasti “besok juga pulang”
“syukur deh kalo gitu”kata Ify
“eh iya, yang lain mana?”tanya Marsha yang baru menyadari ketidak hadiran beberapa temannya.
“pada sibuk masing-masing, tapi mereka janji kok mau nengok loe kalo sempet”jelas Ify

Rafli dan Rio berdehem berbarengan, “di cuekin kita Raf”sindir Rio
“iya nih, yaudah ngantin yuk laper gue”ajak Rafli
“boleh juga, gue juga laper”kata Rio menyetujuinya.

Sementara Ify dan Marsha malah cekikikan sendiri melihat tingkah kedua pemuda itu yang kini beranjak keluar.
“ehh iya Sha, loe kan bisa baca pikiran orang... loe bisa baca pikiran Agni gak? Rio? Atau Cakka? Gue rasa gue curiga sama mereka”kata Ify dengan lirih, ia duduk di kursi di sebelah kanan ranjang Marsha.

Marsha menghela nafas, “Agni sekarang udah bisa ngeblok pikirannya buat gue akses, tapi kalau Cakka sama Rio kayaknya gue bisa”

Ify tersenyum senang, “kapan loe bisanya Sha? Gue butuh secepatnya ... gue udha gak tahan sama sikap mereka”wajah Ify berubah jadi sendu

Marsha menepuk pundak Ify, “gue tau apa yang loe rasain, tapi...”ia menghela nafas “jangan terlalu loe pikirin, gimana kalo kecurigaan loe itu salah? Loe jugakan yang rugi?”saran Marsha

Ify mengangguk mengerti, “thanks ya Sha”ia memeluk perut Marsha beberapa saat.

***

Bagas menatap Cindai yang masih berlatih di lapangan, hatinya benar-benar berkecamuk,  bingung. Di satu sisi ia memang mengerti kalau dunia karate itu ia dapatkan sebelum mereka saling mengenal, tapi di sisi lain ia benar-benar khawatir dengan kekasihnya itu, karena dalam suatu pertandingan ia yakin pasti ada yang cedera, mau cedera ringan, atau berat. Dan itu yang ia takutkan.
“Cindai”ia menarik Cindai yang berjalan ke pinggir lapangan, menarik menjauh dari keramaian.

Cindai tak melawan ia menuruti apa kemauan Bagas. Mereka berhenti di sebuah lorong yang sepi.

Bagas terlihat menghela nafas panjang, “jangan ya... please”

Cindai menghentakkan kakinya kesal, “kamu kenapa sih jadi gini? Ini dunia aku dari dulu”

“aku ngerti, tapi aku cuma khawatir! Aku khawatir sama keselamatan kamu”ucap Bagas dengan nada yang tinggi.

“apa sih yang kamu khawatirin? Aku bertanding pake pelindung, aku selalu aman! Gak usah parno gitu lah”balas Cindai dengan nada yang sama.

“please... aku khawatir”

“terserah, aku gak bakalan mundur! Aku bakalan tetep berangkat atas persetujuan atau tidak!”ia beranjak, namun tangannya di tahan tapi dengan ccepat Cindai bisa melepaskan diri juga dari kekaihnya itu.

“Cindai, aku cuma gak mau kamu kenapa-napa”teriak Bagas, terlihat Cindai menghentikan langkahnya sejenak, namun berlalu kembali. “argh”teriak Bagas frustasi.

***

Agni memasuki kediamannya, beberapa jam duduk di salon membuatnya bosen juga.
“Agni pulang”seru Agni, namun ke adaan rumah nampak sepi “pada kemana sih?”gumannya

“Pa, Papa”panggil Agni, jam lima pasti Papanya udah pulang.

“darimana kamu? Puas maennya? Sampe lupa waktu! Sampe hape di matiin”ucap tegas seseorang, Rio.

Agni mendengus, ia mengambil ponselnya di tas, yaiyalah hapenya mati orang dari pagi juga low.
Ia berjalan melewati Rio yang duduk di ruang tamu, namun sebelum menaiki tangga ia berhenti sebentar “Papa kemana lagi?”

“Batam”jawab Rio dengan singkat dan tegas.

Setelah mendapatkan jawaban itu ia segera ke kamarnya bersiap-siap karena Cakka satujam lagi akan menjemputnya.

Satu jam berlalu, Agni turun dengan gaun selutut berwarna soft ungu dan Agni bisa melihat Rio masih di tempat semula, ‘gak pegel apa?’ batin Agni.

“mau kemana? Baru dateng udah mau keluyuran lagi?”tanya Rio, kini ia berjalan ke arah Agni. Mereka kini berhadapan.
“cantik! Ganti baju sana”perintah Rio

Agni mendelik, “kok kamu jadi gini sih?”

“gue bilang ganti! Atau gaun loe gue sobek!”ancam Rio

PLAK

Agni mendaratkan satu tamparan di pipi kiri Rio, “kenapa sih loe Jadi posesif gini? Loe sadar gak sih apa yang loe omongin? Sadar Io', kita tunangan cuma terpaksa! TER-PAK-SA”
Agni mengatur nafasnya, ia menatap Rio yang menatapnya dengan tenang, seolah ia benar dan tak mersa bersalah sedikitpun.
“masuk ke kamar”Rio menarik Agni, memaksanya menaiki tangga yang menjadi akses ke kamarnya.

“MARIO!”bentak Agni

Rio berhenti berjalan, ia menatap Agni tajam.
“ini balasannya karena loe udah nyakitin gue!”desis Rio

Agni meringis karena di tarik lagi, ia sedikit memberontak namun lama kelamaan ia menjadi diam.
“Io'”panggil lirih Agni.

Rio menatap Agni dengan tatapan khawatir, karena ia baru pertama kali mendengar suara Agni yang seperti itu.
“aku  rasa aku  udah gak sanggup ada dalam posisi ini, aku  sadar aku gak bisa gini terus”ucap Agni

Rio menatap Agni tak mengerti, “maksud kamu apa?”

“kita udahan aja Io' sampe sini aja, aku udah gak kuat”ia melepaskan tangannya dari genggaman Rio yang mengendur, ia lepaskan cincin itu dari jari manisnya.

“ini”Agni meraih tangan Rio, membuka lalu meletakkan cincin itu di telapak tangan Rio yang terasa begitu dingin. Ia tutupkan kembali telapak tangan itu.
“aku gak tau seberapa kecewanya Papa sama aku, tapi jujur Io' aku udah gak bisa... maaf”ucap Agni dengan lirih, setelah itu ia berlalu dari hadapan Rio yang masih mematung di ujung tangga ter atas.


To Be Continue...

Yang mau di tag just komen di setiap part nya. :)
Kritik dan saran masih saya tampung ke inbox atau ke kronologi ya...

Terimakasih :)

1 comment: