Ify dan Rio
berjalan berdampingan menuju parkiran, keduanya berniat untuk jalan-jalan tapi
keduanya juga membawa kendaraan.
“yaudahlah
yang penting disananya kita berduakan?”ujar Rio
Ify
tersenyum, ia menarik tangan Rio manja “yaudah aku duluan kamu ikutin ya?”
Rio
tersenyum, ia duduk di motornya memakai jaket lalu helm facefullnya.
Ify dengan
mobilnya mulai melaju meninggalkan parkiran, sementara Rio mengikuti gadisnya
itu dari belakang.
Namun
berbeda dengan pasangan Cakka dan Agni, keduanya malah tidak membawa kendaraan.
Agni yang dari rumahnya membawa mobil malah menyimpan mobilnya di kediaman Rio
dan berangkat bersama Rio.
“untung deh
kamu gak bawa mobil”guman Cakka
Agni menatap
Cakka dengan pandangan penuh tanya, “kok untung?”
Cakka
mengangguk, senyumnya merekah “kita jalan-jalan dulu yuk sama temen aku”
Agni menatap
curiga “siapa? Cewek?”
Cakka
mengangguk semangat, “iya namanya Kay, itu dia”Cakka menunjuk sebuah mobil yang
berhenti di depan gerbang.
“yuk”Cakka
menarik tangan Agni
Agni tetap
diam di tempat, “kamu aja gih, aku gak mau”
“kok gitu?
Pokoknya harus ikut!”Cakka menarik paksa tangan Agni hingga sampai di depan
seorang gadis menggunakan topi yang menurut Agni memang cantik dan... dewasa.
“siapa
Kka?”tanya Kay sambil menunjuk Agni
Cakka
tersenyum, “Agni, cewek gue”
Kay
membulatkan bibirnya, “yaudah Kka loe di depan ya gue sama Agni di
belakang”kebetulan ada Seorang sopir yang membawa mobil itu.
“oiya
kenalin gue Kay”kay mengulurkan tangannya
Agni
tersenyum membalas jabatan tangan itu, “Agni”
“Cakka
sekarang nakal gak? masih jelalatan gak sih kalo liat cewek cakep?”tanya Kay
sambil melirik Cakka dengan jail
Agni
terkekeh, “ya gitu deh kak, emang gitu dari dulunya ya?”
“iya”jawab
Kay
“ihh dari
dulu apa? Enggak kok! Jangan ngada-ngada”ucap Cakka
“cie yang
kesindir nyaut”goda Agni
Cakka diam,
ia hanya bergumam kecil di depan gak mau lagi menanggapi omongan cewek-cewek
yang bawel itu.
***
Bagas duduk
di bangku dekat lapangan dimana Cindai sedang latihan, entah kenapa gadis itu
jadi latihan di hari ini padahal biasanya dia latihan cuma satu kali dalam satu
minggu.
Sebuah pesan
masuk pada ponsel Bagas.
Hai
gas, ternyata sekarang kamu udah gak sendiri ya?
Ternyata
aku gak begitu berarti sampai kamu bisa dapet lagi pengganti secepat ini.
Aku
gak percaya kamu lakuin ini, aku bener-bener kecewa. Tapi, walau begitu apa
yang bisa aku lakuin selain diam? Melihat kenyataan yang bener-bener membuat
aku jatuh.
Aku
kira dengan aku datang ke sini, aku bakalan lebih baik. Ternyata malah
sebaliknya...
Tanpa Bagas
sadari Cindai mengamatinya yang sedang sibuk membaca pesan itu.
‘kayaknya dia emang bener-bener lebih
berarti’
Dayat
menepuk pundak Cindai, “kenapa? Kok gak fokus gitu?”
Cindai
menatap Dayat, tersenyum simpul “gapapa, yaudah lanjutin”
Bagas
melihat Cindai yang sedang berhadapan dengan Dayat, bukan berhadapan biasa
mungkin lebih tepat di katakan bertarung saling mukul-memukul, terlihat sekali
Cindai bermain dengan emosi yang tidak terkontrol karena permainannya parah,
gak ada satupun pukulannya yang tepat sasaran.
“argh”ringis
Cindai karena kelengahannya ia mendapatkan pukulan yang cukup keras ke ulu
hatinya.
Bagas
berlari ke arah Cindai, gadisnya itu nampak kesakitan.
“kasar
banget sih sama cewek?”ucap Bagas kesal, ia meraih pundak Cindai “gapapa?”
Cindai
menyempurnakan posisi berdirinya, “apa sih? Lebay banget”ia menyingkirkan Bagas
agak kasar “mulai lagi kak”Cindai sudah bersiap-siap namun dengan tiba-tiba
Bagas menarik Cindai dengan paksa.
“aw,
sakit”ringis Bagas karena tangannya di pelintir ke belakang oleh Cindai
Bagas
menatap Cindai yang ada di belakangnya, keduanya beradu pandangan dengan tak
bersahabat.
“dengarlah
sayangku tiada yang lain saat ini
engkaulah
yang ada di hati
engkaulah
yang ada di hati
Duhai
kekasihku hanyalah dirimu yang kumau
tiada
yang lain di hati
selamanya
hanya dirimu”
(bukan
rayuan-Bagas version)
Cindai
merenggangkan pegangannya. Merasakan itu Bagas melepaskan tangannya dari
Cindai, ia menghadap Cindai, menatap intens kekasihnya itu.
“maaf”ujar
Bagas
Cindai
mengalihkan pandangannya, ia merapihkan poni yang sedikit turun ke keningnya.
“gimana sih
rasanya kalo cewek kamu sendiri di peluk orang lain? Gak ngindar lagi”gumanya
pelan
Bagas meraih
lengan Cindai, “apa hukumannya belum cukup? Dari kemaren aku di cuekin terus”
Cindai
melepaskan lengan Bagas dengan lembut, ia berlalu tanpa berkata sepatah
katapun.
***
Marsha
membanting dirinya ke tempat tidur menelungkupkan badannya, entah kenapa ia
merasa benar-benar kehilangan semangat hidup. Separuh ruang di hatinya
benar-benar kosong.
Marsha
merasakan seseorang mengelus rambutnya, “maaf sayang, gara-gara Mama kamu sama
Rafli jadi begini”guman Gita.
“sudahlah,
jangan menyalahkan diri sendiri”Irshad duduk di samping Gita.
Marsha
menggeliat, ia berbalik menatap orang tuanya.
“apa salah
Marsha Ma, Pa? Sampe Papanya Rafli marah banget sama Marsha?”Marsha membenamkan
kepalanya di dada Gita.
Gita
mengelus puncak kepala Marsha mencoba menyalurkan energi pada putrinya.
“ini salah
Mama Sha, maafin Mama sayang... Mama gak tau kalo Rafli itu anaknya Deva”
Marsha
mengangkat wajahnya, “Deva siapa Ma?”
Irshad
menghela nafas, “gak usah di bahas. Gita biarkan Marsha istirahat dulu”ia
beranjak dari kamar putrinya itu.
Gita
tersenyum pada Marsha yang menahannya, Gita menggeleng ia melepaskan genggaman
Marsha, “kamu istirahat dulu ya, nanti Papamu pasti akan cerita”
Akhirnya
Marsha mengangguk mengerti. Gita pun beranjak dari kamar Marsha.
***
Rafli diam
di ambang jendela, menatap keluar. Sementara Oik sibuk merapihkan pakaiannya
kedalam sebuah koper. Ya... besok ia akan ke Aussie dan kepindahannya akan di
urus Deva.
“Ma,
sebenernya ada apa sih sampe Rafli harus di pisahin sama Marsha? Apa salah
Rafli Ma?”guman Rafli tanpa mengalihkan pandangannya. Ia menghela nafas
panjang, “padahal tante Gita baik banget sama Rafli. apalagi Om Irshad,
pengertian banget sama Rafli”lanjutnya
Oik
menghentikan pergerakkan tangannya, ia palingkan perhatiannya pada Rafli.
“tadi, siapa
kamu bilang?”tanya Oik
“tante Gita
sama Om Irshad”guman Rafli tanpa semangat.
Oik
membereskan pakaian Rafli kembali, “Papa kamu gak akan pernah bisa kamu ada
hubungan dengan anak dari mereka”
Mendengar
nada dingin dari Mamanya Rafli menatap dengan tatapan aneh pada Mamanya itu,
benar-benar tidak seperti biasanya.
“ada masalah
apa sama mereka?”tanya Rafli, ia mendekati Oik.
Oik bungkam,
tak sepatah katapun terlontar dari mulutnya.
***
Deva menatap
kosong layar komputernya, pikirannya melayang pada beberapa tahun yang lalu
dimana ia harus merasakan sakitnya hati karena sebuah perasaan yang di sebut
CINTA.
“Pak Deva
ada tamu”ucap sekertaris Deva yang tiba-tiba memasuki ruangan itu.
Deva
mengerjabkan matanya, “siapa?”tanyanya
“Irshad”seseoang
masuk tanpa permisi, karena ia sadar gak akan pernah ada persetujuan jika ia
tau siapa yang datang.
“kalau
begitu saya permisi Pak”sekertaris itu keluar dari ruangan.
Deva menatap
dingin orang yang ada di hadapannya, Irshad.
“ada urusan
apa kamu kesini?”tanya Deva, ia berdiri dengan melipat kedua tangannya di dada.
Irshad
menghela nafas, “ini tentang Rafli dan... Marsha”
Deva
tersenyum sinis, “mereka gak akan pernah di biarkan bersatu!”
“jangan
jadiin masalalu sebagai pelampiasan Dev, loe juga harus mikirin gimana kacaunya
anak loe”guman Irshad
Deva membalas tatapan Irshad yang memang sedari tadi menatapnya,
“denger ya! anak gue cowok! Dan anak gue gak selemah seperti yang loe bayangin”
“tapi anak
gue... dia lemah, dia butuh anak loe!”Irshad beberapa kali menghela nafas
mencoba tidak ikut emosi dalam pembicaraan ini.
Deva tertawa mengejek, “emang masalah buat gue? Denger ya! ini juga
gara-gara loe yang udah rebut Gita dari gue”desis Deva.
“gue gak
rebut dia”sanggah Irshad dengan nada yang mulai tinggi.
Deva menatap
seolah menantang, “terus apa?”
“gue di
jodohin sama Gita, gue di paksa nikah sama dia”guman Irshad
Deva terdiam, mencerna benar-benar kata-kata itu. Apakah itu sebuah
kejujuran? Atau hanya kamuflase saja?
“gue gak
sebodoh itu buat percaya omong kosong loe”
Irshad nampak beranjak, “terserah loe mau percaya atau gak, yang harus
loe pikirin sekarang seharusnya bukan masa lalu, tapi masa depan. Toh sekarang
loe udah bahagiakan sama kehidupan loe?”Irshad menghela nafas, “terimakasih
atas waktunya Pak Deva, permisi”Irshad benar-benar berlalu dari ruangan itu.
***
Agni, Cakka
dan Kay berjalan beriringan, Agni di apit oleh keduanya.
“mau kemana
lagi kak?”tanya Agni
Kay nampak
berfikir, “makan yuk”
Agni
mengangguk setuju, namun sebelum berjalan kembali ia pindah posisi ke sebelah
kanan Cakka, sehingga sekarang Cakka yang ada di tengah.
Cakka
menatap Agni bingung, namun ia akhirnya tersenyum mengerti maksud Agni. Ia
mengalungkan tangannya di kedua pundak gadis itu.
“yuk
makan”ia menarik keduanya dan berjalan dengan masih posisi seperti itu.
Agni dan Kay
duduk berhadapan sementara Cakka ada di samping mereka.
“pesen apa
nih? Biar gue teraktir”ucap Kay
Agni nampak
berfikir, namun pandangannya malah tertuju pada sebuah eskalator dimana disana
ada Rio dan Ify saling bergandengan tangan dan bercanda dengan begitu mesra.
“Ni?”Cakka
mengibaskan telapak tangannya di depan wajah Agni.
Agni
mengerjabkan matanya, tersenyum kaku pada Cakka. “apa aja deh kak”ucap Agni
pada Kay.
“oke, kalo
gitu samaan aja ya”Kay berlalu dari hadapan mereka.
Cakka
menatap Agni dengan khawatir, “muka kamu pucet banget”ia mengelus pipi kanan
Agni.
Agni
tersenyum kaku, “masa? Perasaan kamu aja kali”Agni mencoba menyembunyikan
kegundahan hatinya.
Cakka meraih
tangan kanan Agni, mengecupnya pelan.
Wajah Agni
merona merah melihatnya. Dengan segera ia pun menarik tangannya dari genggaman
Cakka.
“kenapa
sayang? Ciee malu-malu gitu”goda Cakka
Wajah Agni
semakin memerah, “apaan sih Kka?”
Tiba-tiba
Kay datang dengan terburu-buru, “hey sorry ya gue harus pulang nih, gue udah di
suruh balik lagi ke Aussie”
Agni
mengerutkan keningnya, “kok gitu kak?”
“gak tau
nih, mendadak. Ini buat bayar makanannya, gue duluan ya bye”ia menyimpan uang
dengan nominal seratur ribuan.
“hati-hati”guman
Cakka
Agni menatap
Cakka yang masih menatap kepergian Kay, ia mengelus pipi Cakka mencoba
mengalihkan pandangan kekasihnya itu padanya.
“gak rela
ya?”tanya Agni
Cakka
tersenyum simpul, “lebih gak rela lagi kalo kamu tinggalin aku”ucap Cakka
lirih, ia meraih kedua tangan Agni. “aku sayang banget sama kamu”
Agni
tersenyum tipis, “aku juga sayang banget sama kamu”balas Agni
“khm”deham
seseorang.
Cakka dan
Agni menjauh, berbalik melihat siapa yang berdeham itu.
“gak nyangka
ya loe berdua mesra juga”ujar Ify, yang berdeham tadi. Ia duduk di hadapan Agni
sementara Rio menghadap Cakka.
“gak ngajak
nih kalian berdua disini”guman Ify
Agni
tersenyum canggung, ia melirik Cakka dan sidikit melirik Rio yang juga
meliriknya dengan ekor mata.
“gak di ajak
juga udah satu tujuan”guman Agni
Cakka
berdecak kesal, “ngapain sih kemari? Ganggu aja loe berdua”
“ini
makanannya, silahkan menikmati”ucap seorang waiters
Agni
mengangguk menanggapinya.
“ganggu?”tanya
Rio memastikan. “iyalah”jawab Cakka dengan santai.
Rio berdiri,
ia raih tangan Ify “gak usah disini, ganggu”ia menarik tangan Ify hendak
menjauh tapi Ify tetap di tempat tidak ituk berjalan.
“gak mau?
Yaudah aku pulang”ancam Rio pada Ify dan dengan terpaksa Ify mengangguk
mengikuti Rio.
Agni
terkekeh, ia menepuk tangan Cakka pelan.
“kasian Ify
Kka”guman Agni
Cakka
tersenyum masam, “Ify apa Rio? Ternyata cowok kamu yang satu itu cemburuan juga
kayak kamunya”ujar Cakka tak menyadari ucapannya itu.
Agni yang
baru ingin menyuapkan sesendok makanannya langsung berhenti, ia raih tasnya.
“mau
kemana?”Cakka menahan lengan Agni. Mendengar ucapan itu ingin sekali Agni
mengacak-acak wajah pemuda di hadapannya ini. gak sadar apa kalau dia sudah
menyinggungnya?
“pulang”ujar
Agni, ia berdiri meninggalkan Cakka.
Cakka meraih
tangan Agni, “sama siapa?”
Agni
menghela nafas, benar juga “sama Rio!”tekad Agni.
Cakka
memebelalakan matanya, “gak boleh!”perintahnya
Cakka dan
Agni saling beradu tatapan, saling melempar tatapan tak bersahabat. Tatapan
yang benar-benar sarat dengan suasana panas itu.
***
Ify berjalan
dengan wajah yang masih di tekuk, “kamu gak asik banget Io' kan enak kalo
jalannya banyakan gak sepi gini”guman Ify
“sepi
gimana? Ini mall lebih dari seratus orang ada di sini”imbuh Rio
Ify
merengut, “kan kalo tadi bareng Cakka sama Agni lebih rame Io'”ujar Ify
Rio menghela
nafas panjang, “kan tadi kamu denger sendirikan kalo kita ganggu?”ucap Rio.
“tapi kamu
pergi kayak bukan karena itu...”Ify berjalan mendahului Rio yang terpaku
mendengar ucapan itu. Ia sadar ucapan Ify itu memang 100% benar.
“...kamu
kayak orang cemburu Io', cemburu sama Agni ya?”
Rio meraih
lengan Ify lembut, “kok ngomongnya gitu? Aku gak cemburu kok beneran”ucap lirih
Rio
Ify
tersenyum, “aku percaya”ia menarik Rio memasuki sebuah ruangan fotobox.
Ify memeluk
leher Rio, tersenyum dan di balas Rio. Keduanya tersenyum lepas seolah tak ada
beban apapun di benak mereka masing-masing.
Setelah
berfoto ponsel Rio berdering.
“bentar Fy
Mama”Rio keluar dari tempat itu ia menganggat panggilan itu.
“ya Ma”
“kamu di mall ya? tadi Mama liat motor kamu”
“iya, emang
Mama dimana? Sama siapa?”
“di mall sendirian, kamu pasti sama Agni
kan? Kesini dong temenin Mama”
Rio
menggaruk tengkuknya, bingung “ya... yaudah, Mama dimana?”
“di tempat peralatan bayi, cepetan ya?”
“yaudah Rio
kesana sekarang, tungguin ya”
“yaudah”
Ify menepuk
pundak Rio, “ada apa?”
Rio
menghembuskan nafas, “aku mau nemein Mama dulu, kamu pulang ya?”
Ify
menautkan keningnya, “kenapa? Aku gak keberatan kok jalan sama Mama kamu”ia
menarik Rio dengan manja.
Seseorang
menepuk pundak Rio. Rio pun berbalik “eh Kka, ada apa?”tanyanya pada Cakka yang
menepuk pundaknya.
“gue ada
butuh sama Ify, boleh gue pinjem sebentar?”kata Cakka dengan berat hati.
Rio
mengangguk dalam hati ia bersyukur karena ada Cakka, “asal jangan macem-macem”
Cakka
memutar bola matanya, “enggak lah, gue juga punya cewek”ia menarik tangan Ify
paksa tapi Ify memberontak, “ihh lepasin”
Cakka
menatap Ify, “apa lagi sih?”
Ify
mendengus, ia berbalik lagi, menghadap ke tempat Rio dimana pemuda itu berdiri
tapi ia telah menghilang di telan bumi.
Cakka
menarik tangan Ify lagi, “ayolah, gak usah cari dia, gue ada urussan lebih
penting sama loe”
Ify
memajukan bibirnya, “ada apa sih? Gak asik banget loe!”
“gak usah
monyong-monyong deh, gue cium baru tau rasa loe”ancam Cakka
Seseorang
melambaikan tangan ke arah Cakka, Ify mengerjabkan matanya.
“tante
Sivia? Ngapain disini?”
Cakka
menepuk keningnya pelan, “mampus deh gue”
“honey...
kok gak ngasih tau sih mau ke sini, sama Ify lagi... wah kalian cocok deh”kata
Sivia
Cakka
menghela nafas panjang, “Cakka udah punya cewek kale Ma”
“aku juga,
aku udah punya pacar tante! Ogah deh Ify sama mahkluk ter mesum”cibir Ify
Cakka
memutar matanya kesal, “maksud loe?”
“sudah-sudah,
pulang yuk Mama capek jalan-jalan terus nyari adek kamu”kata Sivia
“terus nanti
Difa pulangnya gimana? Cakka gak bawa mobil”ujar Cakka
“sama sopir,
kita pulang sama kakak kamu, yuk... eh Ify mau bareng?”tawar Sivia
Ify
tersenyum, “gak usah tante, Ify bawa mobil kok, yaudah Ify duluan kalo gitu,
dah tante”ia pun berlalu.
“yaudah yuk,
kasian kakak kamu”Sivia menarik Cakka
Cakka tetap
di tempat, “gak usah, Cakka bisa pulang sendiri”ia berkata begitu dingin.
Sivia diam,
ia menghela nafas “yasudah, cepet pulang
ya? ada yang mau Mama omongin”
Cakka
mengangguk, setelah itu Sivia berlalu. Cakka terus menatap Mamanya yang
menghilang di balik pintu sebuah mobil sport mewah berwarna merah mentereng
itu.
‘apa loe juga mau rebut Mama?’batin
Cakka lirih.
***
Bagas dan
Cindai duduk saling berhadapan di kediaman Bagas, tadi begitu pulang sekolah
Bagas tidak membiarkan Cindai untuk pulang sendiri karena ia ingin cepet
menyelesaikan masalahnya. Jadilah sekarang Cindai yang ada di rumahnya.
“aku mau
pulang”ucap Cindai begitu keluar dari kamar mandi yang ada di kamar Bagas, ia
keluar teah lengkap dengan pakaian yang entah darimana Bagas mendapatkan
pakaian itu.
Bagas duduk
sila di karpet, memutar badannya agar menghadap Cindai.
“duduk
dulu”ia menepuk tempat di sebelahnya.
Cindai
mengalah, akhirnya ia menuruti apa kata Bagas. Ia duduk di sebelah kiri pemuda
itu. Tanpa suara Bagas menarik Cindai agar merebahkan kepala di bahunya. Kini
keduanya menghadap kesebuah televisi dimana Bagas tengah bermain play stasion.
“ada saatnya
dimana seseorang harus bisa menerima masalalu pasangannya, menerima kenyataan
yang enggak bisa di hapus. Masalalu itu waktu yang gak bisa di ulang, dan gak
bisa di salahkan”ujar Bagas tanpa penekanan emosi, ia mematikan televisinya.
Ia
menghembuskan nafas dengan berat, “andai dulu aku turutin apa kata Mami sama
Papi buat gak pacaran pasti gak bakalan kayak gini”
Sekali lagi
ia menghembuskan nafasnya dengan berat, “sekarang mau kamu apa? Aku gak bakalan
maksa kalo kamu emang gak mau sama aku”gumannya. Berat memang ketika ia harus
mengatakan hal itu. Berat! Bahkan sangat berat!
Cindai
memeluk pinggang Bagas, “aku mau kamu cerita yang sebenarnya”ujarnya, ia
memejamkan matanya, bersiap mendengarkan cerita pemuda itu.
FLASHBACK
Bagas
memasuki kediaman Rafli karena tiba-tiba sahabatnya itu menghubunginya dan
memintanya untuk datang kerumah itu. Dari arah jauh ia bisa melihat ada dua
orang gadis dan ada dua orang lelaki di ruamh keluarga itu. Ia dapat mengenali
kedua pemuda itu yang tak lain adalah sahabatnya, Cakka dan Rafli.
“sini”Rafli
melambaikan tangan pada Bagas. Kemudian ia pun mendekati sahabatnya itu.
“ada apa loe
nyuruh gue dateng?”tanya Bagas to the point.
Rafli
terkekeh, ia menunjuk seorang gadis dengan dagunya. Bagas mengikuti arah
pandang Rafli, ia tersenyum pada gadis itu.
“tadi dia
liat foto kita dan minta gue buat datengin loe kesini”guman Rafli bermaksud
menjelaskan.
“Chelsea”gadis
itu mengulurkan tangannya.
Bagas
tersenyum, ia membalas uluran tangan itu. “Bagas”
“yang ini
Kay, kakaknya Chelsea ceweknya Cakka”jelas Rafli
Bagas
berjabatan tangan dengan Kay.
“mereka
sepupu jauh gue, mereka tinggal di Aussie”lanjut Rafli
Setelah
pertemuan pertama itu Bagas dan Chelsea menjalin hubungan yang sangat baik,
hingga memutuskan buat pacaran. Sampai Obiet, Papi Bagas mengetahui hal itu dan
dengan keras melarang hubungan mereka.
“gak usah
pacaran! Papi gak suka sama gadis itu”desis Obiet saat Bagas memasuki
kediamannya, karena telah berjalan-jalan dengan Chelsea.
“Bagas udah
gede Pi, kenapa sih di anggap anak kecil terus? Bagas udah mau Lima belas taun
Pi”imbuh Bagas
“terserah
kamulah, yang nyesel nantinya juga kamu. Papi udah ingetin itu”guman Obiet
sambil berlalu meninggalkan Bagas yang masih berdiri terpaku.
Hubungan
Bagas dengan Chelsea dengan terpaksa harus long distance karena Chelsea harus
kembali ke Aussie, sampai beberapa bulan hubungan mereka terjalin dengan baik.
Tapi akhirnya Bagas tidak kuat menjalani itu dan lebih memilih memutuskannya
daripada harus memendam rindu yang membara.
Hingga ia
mendapat kabar dari Obiet bahwa sebenarnya ia sudah di jodohkan dengan seorang
gadis yang akan satu sekolah dengannya, gadis itu Cindai!
“Bagas mau
ngenal dia dan buat dia jatuh cinta dengan cara Bagas sendiri! Bagas minta Papi
jangan ikut campur”pinta Bagas yang mendapat anggukan dari Obiet.
FLASHBACK END
“dan aku
bener-bener jatuh cinta sama kamu”guman Cindai masih dalam posisi. Bagas
tersenyum, ia mengelus puncak kepala kekasihnya itu, “tapi kamu tolak juga kan?
Aku sampe muter otak cari kekurangan aku dimana sampe kamu tega nolak aku”
Cindai
menegakkan dirinya, menghadap pada kekasihnya dan membelai pipi lembut itu “kan
aku udah bilang, aku gak tau kalo yang di jodohin sama aku itu kamu”
Bagas
terkekeh, “lagian kamu sih, makannya jadi orang itu jangan kelewat bawel
jadinya orang tua lagi ngomong kok di potong-potong”
Cindai
cemberut, ia menggembungkan pipinya. “apaan sih, enggak kok”
Bagas
mengelus ujung bibir gadisnya itu, lalu mengelus permukaan bibir itu dengan ibu
jarinya.
“jangan
marah lagi ya? aku takut kehilangan kamu”ujar Bagas
Cindai
mengangguk pasti, “maafin aku juga ya gak dengerin kamu, aku kekanak-kanakan”
Bagas lagi
dan lagi tersenyum, “aku susah lho dapetin kamu, jangan ninggalin aku please”
Cindai
terkekeh, “gak usah lebay deh, aku gak bakalan ninggalin kamu kok”
“janji?”Bagas
menjulurkan kelingkingnya.
“janji”Cindai
menautkan kelingkingnya di kelingking Bagas.
***
Agni dan Rio
memasuki kediaman Agni dengan berdampingan, tadi Rio diminta Zevana untuk
menemai Agni di rumahnya malam ini karena ia takut Gabriel belum datang.
“makin
lengket ya? syukur deh”guman Gabriel yang baru turun dari lantai atas.
Agni
tersenyum kemudian berlari dan memeluk Gabriel “Agni kangen Papa”
“tadi kata
Novi liat kalian lagi jalan-jalan berdua di mall di toko peralatan bayi,
ngapain?”tanya Gabriel, mereka berjalan dan duduk di kursi ruangan keluarganya,
Rio duduk di sebelah kiri dan Agni di sebelah kanan Gabriel,
“Mama Zeva
kan mau punya anak lagi Pa”ucap Agni dengan senyuman yang merekah
Gabriel
tersenyum, “wah, bagus dong... bilang selamat ya Yo sama Mama mu dari Papa”
Rio
mengangguk “oke Pa”
“oiya, kamu
mau tetep nginep apa gimana?”tanya Agni pada Rio
Rio nampak
berfikir, “pulang aja kan udah ada Papa, tapi pinjem mobilnya ya?”
Agni
mengangguk, “bawa aja, besok jemput tapi”
Rio
mengangguk, kemudian ia mencium tangan Gabriel hendak pamit. Agni mengantarkan
Rio sampai ke depan pintu.
“hati-hati
ya?”pesan Agni
Rio
mengacak-acak rambut Agni, mengelus pipinya “iya sayang”ia mengecup pipi kiri
Agni kemudian beranjak. Agni memegang pipinya, masih kaget dengan kejadian
beberapa detik yang lalu.
***
Oik memasuki
sebuah apotik yang terletak cukup jauh dari kediamannya, ia berniat membeli
vitamin untuk Rafli karena ia takut kalau Rafli sakit atau apapun itu. Namun begitu
memasuki apotik itu ia melihat seorang wanita yang sangat ia kenal. Iya tidak
salah lagi itu Gita! Mantan kekasih suaminya.
“hey Gita?”tanya
Oik memastikan
Yang di
tanya mengangguk, ia tersenyum kaku “Oik ya? istrinya Deva?”
Oik membalas
senyumannya, ia mengangguk kecil “sedang apa kamu disini?”tanyanya
Gita menunduk,
“anakku sakit, suhu tubuhnya meningkat, sejak tadi sepulang sekolah dia gak mau
makan dan hanya mengurung diri di kamar”
Oik menghela
nafas, “boleh aku melihatnya?”
“tentu”
Setelah keperluan
masing-masing terpenuhi akhirnya mereka menuju ke kediaman Gita yang tak
terlampau jauh dari sana.
Oik berjalan
memasuki kamar Marsha setelah mendapatkan izin dari Gita. Di dalam sana ia
dapat melihat gadis yang terlihat sangat lemah, wajahnya pucat pasi badannya
bergerak-grak gelisah. Ia meletakkan punggung tangannya ke atas kening Marsha. “panas”desisnya
“Rafli”igau Marsha
Gita memasuki
kamar itu, “gapapa kok, kalo dia udah bisa nerima kepergian Rafli dia gak
bakalan gini”ujarnya karena melihat tatapan Oik yang terlihat khawatir ketika
menatap Marsha.
“maaf,
gara-gara Deva semuanya jadi gini”ucap Oik
“bukan salah
dia, sudahlah nasi sudah menjadi bubur”guman Gita
Oik menatap
lekat wajah Gita yang menyiratkan penyesalan, terlihat sekali di wajah
cantiknya itu
Setelah melihat
kondisi Marsha ia segera pamit pulang karena suaminya mengabarkan bahwa satu
jam lagi ia akan pulang, dan ia harus sampai di rumah lebih cepat dari suaminya
agar ia tak tau kalau ia keluar rumah tanpa sepengetahuannya.
***
Deva
memasuki kediamannya dengan Kay, ia berniat memberangkatkan Rafli bersamaan
dengan Kay.
“udah siap
Ik?”tanya Deva pada Oik
Oik mengangguk
lemah, ia menatap suaminya dengan sendu “apa ini tidak berlebihan?”
Deva tersenyum,
ia mengecup kening istrinya, “tidak”
“tapi Rafli...”
“kenapa?”potong
Deva
“liat aja di
kamarnya”Oik berlalu ke dapur hendak membawakan minuman untuk Kay.
Deva berjalan
ke kamar Rafli, perlahan ia memasuki ruangan itu. Ia melihat Rafli yang duduk
di ambang jendela, menghadap keluar. Terlihat sekali ketidak relaannya
meninggalkan rumah ini atau mungkin lebih tepatnya gadis itu. Gadis anak dari
lelaki yang sudah merebut kekasihnya dulu.
Mengingat itu
hatinya kembali berkecamuk. Apakah yang ia lakukan sudah tepat? Ataukan berlebohan?
To Be Continue...
keren, terusin :)
ReplyDelete