Monday, 1 April 2013

Cowok itu... #10



Cakka keluar dari mobilnya, kemudian mengajak Kay memasuki rumahnya.
“dari tadi belum masuk?”tanya Cakka

Kay menggeleng, “gak enak, kan tante Via nya gak ada”

Cakka mengerutkan keningnya, “Mama kemana? Gak biasa banget gak ada kerjaan keluyuran”gumannya, “duduk, biar gue buatin minuman dulu”

“eh gak usah”tahan Kay, ia menghela nafas, “gue ke sini buat ngasih undangan ini”

Cakka duduk kembali, “undangan apa?”

“pernikahan gue, loe dateng ya? loe jadi tamu kehormatan gue lho”ucap gadis itu.

Cakka mengangguk, “pasti”

Kay berdiri, “gue harus pulang nih udah sore banget, oiya gue harap loe bisa nemenin gue ya besok gue mau jalan-jalan sebelum dipingit”

Cakka mengacungkan jempolnya, “oke, entar gue jemput deh ya”

“thanks ya, gue pulang dulu, bilang salam sama tante Sivia, bye”Kay berlalu meninggalkan kediaman Cakka.

Cakka menatap kepergian gadis itu, gadisnya dulu yang sempat mengisi hatinya, gadis yang begitu bisa mengerti apapun keinginannya.
‘semoga loe bahagia’batin Cakka.

***

Rafli berlari menaiki tangganya dengan cepat, ia muak dengan lelaki itu, lelaki yang selalu ia sebut dengan panggilan PAPA!
“Rafli dengerin Papa!”kata Deva agak keras.

Rafli menghentikan langkahnya, ia berbalik. “apalagi sih Pa? Belum puas bentak-bentaknya? Hah?!”tanyanya dengan hati yang terasa hancur, bagaimana tidak? Ngilang gitu aja ninggalin anak sendiri, pulang-pulang malah ngacauin semuanya!

“jauhin anak itu”desis Deva

“Papa apaan sih? Apa sih peduli Papa selama ini? Papa itu sibuk kerja! Gak usah urus Rafli”Rafli berbalik hendak menaiki tangga lagi.

“kalo kamu tetep deketin anak itu, Papa akan pindahkan kamu ke rumah Oma di Aussie”ancam Deva

Rafli menghentikan langkahnya, ia menghela nafas panjang. “terserah Papa aja, asal Papa seneng, toh Rafli cuma boneka Papa”lirih pemuda itu kemudian berlalu

Seorang wanita mendekati Deva, “ada apa?”tanya lembut wanita itu.

“Ik”Deva menghela nafas panjang, “gak ada apa-apa, kamu istirahat gih kayaknya pucet banget”saran Deva pada istrinya.

Oik menghela nafas, “apapun masalah kamu sama Rafli, sebaiknya kamu jangan keterlaluan ya sama dia? Dia udah besar tau apa yang baik menurut dia”ia mengelus dada suaminya.

Deva melirik Oik sekilas, “iya”ia mengecup kening istrinya cukup lama.

***

Ify duduk di depan Mamanya, beberapa saat lalu Sivia pamit untuk pulang karena terlihat sudah malam.
“tante Sivia baik ya Ma? Tapi waktu tante Via ke sekolah heboh banget lho Ma”ungkap Ify

Shilla mengerutkan keningnya, “heboh gimana?”

Ify nampak berfikir, “ya heboh kayak ABG jaman sekarang itu lho”

Shilla tersenyum kecil, “dia emang gitu dari dulunya, tapi sayangnya pernikahannya harus gagal Fy”

Ify menatap Shilla, berminat mendengarkan Mamanya itu, “kok bisa?”

“Sivia sama mantan Suaminya itu dulunya di jodohkan padahal dulu dia baru aja mau di ajak tunangan sama pacarnya, awal-awal dia nerima sampai punya dua anak dan waktu kehamilan ketiga mantan suaminya itu menggugat cerai, dia nikah lagi sama wanita yang lebih muda”jelas Shilla

Ify terus menatap Shilla dengan tatapan ingin tau, “terus sekarang balikan lagi gak tante Sivia sama mantan pacarnya?”

Shilla menggeleng, ia mengelus rambut Ify dengan lembut “dia ngilang gitu aja, sempet di kabarkan sudah menikah dan punya anak tapi gak tau juga”
“tadinya Mama juga mau jodohkan kamu sama Cakka”

Ify membulatkan matanya, “tapi enggak kan Ma?”

Shilla tersenyum, “enggak, tante Sivia gak mau kalo anaknya ngalamin kayak dia”

Tanpa di sadari Ify menghela nafas panjang, ‘untung-untung’

Shilla mengambil sebuah majalah, “belajar gih abis itu tidur”

“Mama mau ngapain disini?”tanya Ify

“nungguin Papa kamu, tadi katanya ada meeting jadi pulangnya pasti malem.

Ify mengangguk mengerti, “yaudah, night Mom”ia mengecup kilat pipi Mamanya, kemudian berlalu ke kamarnya.

***

Bagas menatap layar ponselnya dengan gusar, gadisnya benar-benar berubah setelah insiden tadi. Yang Cindai balas hanya seperlunya saja kalau dia bilang mau kesana Cindai membalas dengan jangan. Ia hendak menelpon Cindai bilang juga jangan. Malam ini ia rasa merupakan malam larangan baginya.
“argh”Bagas mengacak-acak rambutnya.

Ponsel Bagas berdering. Ia berdecak kesal, “ck Cakka, kirain Cindai”umpatnya

Chelsea balik ya?

Kok loe tau? Kay juga pasti datengkan?

Yoi

Ngapain sih tu adek-kakak balik lagi, cewek gue ngamuk gara-gara dia

Kok bisa?

Tau deh gue juga bingung, pas gue masuk ke rumah Cindai udah ada dia mana langsung meluk-meluk lagi

Haha kasian deh loe!

Sialan loe

Bagas mondar-mandir di kamarnya, ia putuskan buat menelpon sajalah, gak peduli mau di cuekin atau gimanapun!
“tuttt... tuuuutttt”
Panggilannya di angkat, tapi tidak ada sapaan dari lawan bicaranya.
“Cindai? Kamu disanakan?”

“hn”

“kamu kenapa?”

“tut”

Panggilan di akhiri secara sepihak, Bagas menatap ponselnya mencoba menghubungi kekasihnya kembali
“maaf, nomor yang anda tuju...”

“argh”Bagas menghempaskan ponselnya ke tempat tidur

***

Rio mengerjabkan matanya, kepalanya pening dan rahangnya masih ngilu karena bogeman Cakka. Rio merasakan seseorang memeluk dirinya, ia berpaling ke sebelah kanan.
“Agni”ujarnya ia baru ingat, tadi Agni mengobati lukanya, Rio ketiduran dan entah kenapa Agni juga bisa ketiduran, Rio bangun memindahkan Agni dan tidur lagi.
Rio melirik jam tangannya, “udah malem”ia mengguncangkan tubuh Agni, “bangun Ni, aku mau pulang”ia mendudukan dirinya.

Agni menggeliat, “eh... Io'”iapun ikut duduk menyandarkan punggungnya di kepala tempat tidur.

Rio menatap Agni, ia tersenyum simpul, “aku pulang dulu, kamu tidur yang nyenyak ya”

Agni mengangguk, matanya benar-benar berat sekarang.

Rio mengecup puncak kepala Agni, kemudian membisikan sesuatu “Cakka udah dua kali dapet kiss dari kamu kok aku belum?”goda Rio setelah itu beranjak

Agni menatap kepergian Rio, menggeleng pelan ia juga tau kalau Rio becanda dan gak mungkin ia berkata serius padanya.

***

Cindai mematut rambutnya di depan cermin, hari ini ia menggerai rambut panjangnya, tujuan awalnya ialah untuk menutupi matanya yang sembab, dan menutupi wajah yang agak murungnya.
“Cindai”sapa Chelsea, ia memasuki kamar Cindai

Cindai berbalik, “apa?”tanyanya dengan lembut, sesekali ia menghela nafas panjang.

“Bagas dateng kesini lagi gak?”Chelsea menatap Cindai penuh harap.
Cindai mengangkat bahunya, ia kembali menata rambutnya dan membubuhkan sebuah bandana di kepalanya.

Chelsea mengedarkan pandangannya di kamar Cindai dan pandangannya terhenti pada sebuah photo. “itu foto apa?”ia hendak mendekati foto itu.

Cindai menarik Chelsea keluar dari kamarnya, “sarapan gih, aku mau berangkat udah siang”Cindai berjalan keluar dari kamar. Chelsea mengikutinya.

Dea tersenyum melihat Cindai yang turun, “sarapan dulu sayang, Chels sini”ajak Dea.

Cindai mendekati Dea, ia tersenyum hambar “Cindai berangkat aja, makannya nanti di kantin”

Dea mengangguk, “sama siapa berangkatnya?”

Cindai nampak berpikir, “sama Pak Endang lah, siapa lagi? Bye Mom”ia mengecup pelan pipi Dea kemudian berlalu.

“hati-hati”pesan Dea, ia duduk di hadapan Chelsea. Kebetulan Riko sedang berada di luar kota jadilah mereka bertiga di tambah pembantunya.

Chelsea menyendok makanannya, “oiya tant, foto yang ada di kamar Cindai itu photo apa?”

Dea mengerutkan dahinya, “yang besar?”

Chelsea mengangguk tanpa suara.
“itu foto pertunangan Cindai sama Bagas”ungkap Dea.

Chelsea menghentikan kunyahannya, “Bagas? Yang kemaren?”tanyanya

Dea tersenyum, “yaiya, emang yang mana lagi?”

Raut wajah Chelsea berubah menjadi muram. ‘ternyata aku gak cukup berarti buat dia’

***

Agni dan Novi masih berada di meja makan, menyelesaikan sarapannya.
“Papa kapan pulang sih? Novi kangen sama Mama udah lama gak nengokin Mama”ungkap Novi

Agni menatap Novi, “kalo kangen Mama entar sama kakak aja”

Novi menggeleng kuat, “gak! Novi maunya sama Papa”

Agni menghela nafas panjang, “yaudah, biar nanti kakak telpon Papa”

“asik, makasih kakakku”sorak Novi

Taklama terdengar suara sebuah kendaraan memasuki pekarangan rumahnya, “pacar kamu tuh dateng”ucap Agni bermaksud menggoda

“pacar? Gak! cuma temen kok”sanggahnya, ia beranjak dari meja makan. Begitupun Agni karena melihat jam yang sudah hampir menunjukkan ke arah angka 7.

“Cakka”guman Agni begitu melihat siapa yang keluar dari mobil itu.

“Difa, kok sama kak Cakka sih?”tanya Novi, dia berlari ke arah Difa

Difa mengangkat bahunya, “gak tau, lagi aneh aja kali”

“Ni, yuk bareng”ajak Cakka

Agni nampak mengotak-atik ponselnya.
“sial”umpatnya kesal, ia kembali kedalam rumahnya.

Cakka menghela nafas, apakah kesalahannya begitu fatal sampai Agni bersikap seperti ini?
Ia melihat kearah garasi yang terbuka, Agni memasuki salah satu mobilnya melajukan mobil itu keluar dari gerbang lain.
“masuk”perintah Cakka pada Difa dan Novi

“maklum aja ya kak, kak Agni kayaknya ada masalah sama kak Rio, soalnya begitu kak Rio semalem keluar dari kamarnya dia langsung uring-uringan gak jelas”guman Novi bermaksud memberitahu Cakka.

“semalem Rio pulang jam berapa?”tanya Cakka tanpa menoleh ke arah Novi

“jam delapan deh kayaknya, oiya kemaren pulang jam berapa kak? Novi sampe gak tau kak Agni udah pulang”ujar Novi

Cakka menatap Novi, “Agni emang gak keluar kamar?”

Novi menggeleng polos, ia kaget juga melihat ekspresi Cakka.
Rahang Cakka langsung mengeras, ia kembali menyempurnakan posisinya.

Difa membuka headphonesnya, “oiya kak, kemaren ada kak Kay SMS, katanya mau kerumah, kakak ketemu gak?”tanyanya.

“udah”jawab Cakka singkat. “kok gak ngasih tau dari pagi kalo dia mau kerumah?”tanya Cakka

“hape nya juga di tas, kebacanya pas udah di rumah”jawab Difa

Setelah itu Cakka hanya terdiam, sementara Difa dan Novi terus berceloteh di bangku belakang.
“Pak di sini aja”ucap Cakka begitu sampai di gerbang sekolahnya, si sopirpun langsung mengerem.

Cakka keluar dari mobilnya, ia segera memasuki area sekolahnya.
Ia mengedarkan pandangannya begitu di parkiran, di sudut parkiran ia melihat Agni yang duduk di boncengan sebuah motor yang ia ketahui milik Rio karena si pemilik membuka helmnya mereka tidak berdua tapi ada satu orang lain, Bagas!

Agni melihat Cakka dengan ujung matanya, kemudian ia beralih pada Rio, membuka jaket Rio dari arah belakang.
“ciee... romantis amat”kata Bagas, ia bersandar di mobilnya.

Rio menatap Agni yang menyimpan kepala di bahunya, “ada angin apa nih?”tanyanya

Agni memiringkan wajahnya, “ada Cakka”ucap Agni

Bagas dan Rio tersenyum geli, ternyata Agni bermaksud memanas-manasi Cakka toh.
“hati-hati sampe dia ngamuk Ni”ujar Bagas, ia berdiri sempurna hendak berlalu.

Tanpa mereka sadari bukan hanya ada Cakka disana, tapi ada seseorang yang baru datang dan berada tepat di belakang Cakka, matanya mulai perih, berkaca-kaca.
“Ify”ucap Cakka begitu melihat seseorang berlari mendahuluinya.

Agni turun dari motor itu, “gak usah ngurusin gue deh, mendingan loe urusin cewek loe noh, di gaet cowok lain baru tau rasa loe”ia menunjuk Cindai yang berada di kantin duduk berdampingan dengan Dayat.

Bagas tersenyum sinis, “udah bosen sama gue kali”ia beranjak begitu saja meninggalkan Agni

Rio berdiri di samping Agni, “kenapa tuh anak?”

Agni menunjuk ke arah Cindai lagi dengan dagunya, kemudian menarik Rio mengajaknya memasuki kelas yang cukup jauh dari parkiran.

***

BRAK

“ARGH”erang Rafli, ia mengacak rambutnya frustasi setelah melempar tasnya hingga menghantam pintu yang tak kunjung di bukakan. Sejak pulang kemarin ia memang tak keluar kamar tapi sejak kapan kamarnya itu di kunci dari luar? Ia benar-benar tak menyadari itu.
“mau apa lagi sih? Hape di sita! laptop di sita! Kurang menderita apa lagi sih?”teriak Rafli, ia benar-benar hampir gila dengan perlakuan Papanya itu yang menurutnya aneh bin ajaib.

Terdengar seseorang membuka pintu kamarnya.
Clek
Seseorang menyembulkan kepalanya, “makan dulu sayang”ucapnya, siapa lagi kalau bukan Oik, sang Mama tercinta.

Rafli berdicak, “masih peduli? Sana kerja! Gak usah ada di rumah sekalian”umpatnya kesal

Oik menghela nafas, ia mendekati putranya. “maafin Mama, Mama gak bisa lakuin apa-apa buat hal ini”

Rafli mendelik, “terus bisanya apa?”ia berdiri seolah menantang Mamanya.
“Rafli udah cukup sabar Ma ngadepin kalian berdua! Rafli capek di jadiin boneka terus! Rafli udah gede Ma! Tau apa yang baik buat Rafli! Gak usah di atur terus!”bentak Rafli dengan penekanan emosi, ia memang sulit jika harus membendung emosinya.
“Rafli capek”kali ini Rafli berkata lirih, ia berjalan keluar dari kamarnya Oik tak menahan, dalam hati ia tersenyum senang. Namun begitu sampai ke depan pintu utama pintu itu di kunci rapat, ia beralih ke pintu belakang, sama! Semua pintu di kunci tanpa celah.

Oik memegang bahu Rafli yang terlihat naik-turun mengatur emosi, ia membalikan putranya. Rafli berbalik lalu dengan cepat memeluk Mamanya itu.
“apa Ma salah Rafli? Apa? Sampe Papa tega gini?”

Oik mengelus puncak kepala Rafli, mengecupnya pelan, tanpa terasa matanya mulai mengeluarkan cairan bening. Ia tak kuasa melihat putranya serapuh ini.
“Mama gak tau Rafli, Papa gak cerita, maafin Mama”gumannya

Rafli mengangkat wajahnya, menegakkan tubuhnya. Ia melirik jam besar yang berada di ruang utama, “boleh nelpon Cindai Ma?”

Oik mengangguk, ia memberikan ponselnya.

Rafli beranjak menuju kamarnya dengan ponsel yang berada di telinganya.

***

Cindai memasuki kelasnya, kepalanya mulai ringan setelah menceritakan sedikit kegundahannya pada Dayat. Ia menatap Bagas yang menatapnya begitu dingin, kemudian mengalihkan pandangan pada Agni dan Ify yang sedang berbincang dan kadang tertawa setelah itu duduk di samping Marsha yang terlihat sangat murung.
“ada apa nih?”tanya Cindai

“ini nih si Agni masa mau manas-manasin Cakka pake Rio gak ngasih tau gue, hampir aja gue salah faham tadi”jelas Ify dengan nada yang agak berbisik.

“wah? Masa? Terus-terus gimana sama dianya?”tanya Cindai

Agni menyeringai, “panas kayaknya, liat aja tuh masih perang dingin sama Rio”ia terkikik geli melihat ekspresi Cakka.

Ify menghentikan tawa Agni dan Cindai kemudian beralih pada Marsha.
“kenapa Sha?”tanya Ify

Marsha menghela nafas panjang, “kenapa ya Papanya Rafli kayaknya gak suka banget sama gue, gue punya salah apa coba?”

Cindai membulatkan matanya, “Om Deva pulang?”

Marsha mengangguk lembat, “nomornya juga sekarang gak aktif, kayaknya gue sama Rafli bener-bener gak ada jalan buat bersatu deh”lirihnya.

Agni, Ify dan Cindai menatap Marsha dengan iba, dalam hati mereka bersyukur meskipun banyak rintangan tapi gak sampai segitunya.
“sabar ya Sha”kata Agni.

Marsha tersenyum hambar.

Ponsel Cindai bergetar, “tante Oik”gumannya

“ya hallo”

“Cindai ini gue Rafli, bisa gue bicara sama Marsha?”

Cindai memberikan ponselnya pada Marsha, “dari Rafli Sha”

Mata Marsha berbinar penuh kebahagiaan.
“hallo Raf, kemana aja loe? Gue khawatir sama loe”rengeknya

Rafli terkekeh, “maaf ya gara-gara gue kayaknya loe khawatir”

Marsha merengut, “loekan pacar gue”

Rafli terdengar menghembuskan nafas, “kayaknya gue bakalan pindah Sha”

“pindah? Kemana?”

“ke Aussie, sekarang aja gue di kurung di rumah cuma berdua sama Mama. Gue cuma mau ngucapin selamat tinggal”

Marsha menutup mulutnya, “Raf, gak ada jalan lain?”

“enggak Sha, mungkin ini terakhir kali kita bicara, segala fasilitas gue disita termasuk hape dan laptop yang bisa buat kita komunikasi”

“Rafli, please jangan becanda”

“bukan hal yang lucu buat becanda Sha, udah dulu ya... bye”

Tangan Marsha lemas, ia segera menelungkupkan wajahnya di atas tas.
“ada apa Sha?”tanya Cindai

Marsha menggelengkan kepalanya, tak lama ia mengangkat wajahnya dan tersenyum.
“hehe kalian nyangka gue nangis ya?”tanyanya

Agni Ify dan Cindai berpandangan aneh.
“udah, udah mau ada guru tuh”kata Marsha

Dan benar saja, tak lama kemudian ada seorang guru memasuki kelasnya.

***

Begitu bel istirahat terdengar semuanya berhamburan keluar kelas kecuali Cakka dan Agni, keduanya masih diam, sebenarnya bukan tanpa alasan karena mereka diam di kelas itu untuk berbicara lebih serius.
Cakka mendekati Agni dan duduk di sampingnya.
“kesalahan aku besar banget ya sampe kamu gini?”tanya Cakka

Agni menghela nafas, ia menghadapkan dirinya pada Cakka.
“aku gak tau Kka, aku bingung”ungkapnya

Cakka memegang pundak Agni, “sekarang apa mau kamu?”

Agni menunduk, “Kka, sebenernya aku emang sayang sama kamu tapi...”ia menghela nafas panjang
“Rio tunangan aku Kka, meskipun aku saat ini gak sayang sama dia tapi aku itu punya tanggung jawab atas dia, begitupun sebaliknya”
Agni memejamkan matanya, merangkai kata agar tak menyakiti pemuda itu.
“aku gak ada perasaan apapun Kka sama Rio, Rio cuma tuangan tanpa sayang aja buat aku”
Agni menundukan kepalanya dalam dan semakin dalam.
“tapi gak tau kenapa kalau ingat status itu aku jadi punya rasa cemburu kalo Rio lagi sama cewek lain”

Cakka mengelus pipi Agni, mengangkat dagu gadis itu agar menatapnya, “terus, setelah ini mau kamu apa?”

“please, jangan sakitin Rio lagi”Agni menatap Cakka memohon, pandangannya benar-benar menyiratkan sebuah kekhawatiran.

Cakka mengangguk lemah, ia menarik gadisnya itu kedalam pelukan.

To Be Continue... :)


1 comment: