Cakka keluar
dari mobilnya, kemudian mengajak Kay memasuki rumahnya.
“dari tadi
belum masuk?”tanya Cakka
Kay
menggeleng, “gak enak, kan tante Via nya gak ada”
Cakka
mengerutkan keningnya, “Mama kemana? Gak biasa banget gak ada kerjaan
keluyuran”gumannya, “duduk, biar gue buatin minuman dulu”
“eh gak
usah”tahan Kay, ia menghela nafas, “gue ke sini buat ngasih undangan ini”
Cakka duduk
kembali, “undangan apa?”
“pernikahan
gue, loe dateng ya? loe jadi tamu kehormatan gue lho”ucap gadis itu.
Cakka
mengangguk, “pasti”
Kay berdiri,
“gue harus pulang nih udah sore banget, oiya gue harap loe bisa nemenin gue ya
besok gue mau jalan-jalan sebelum dipingit”
Cakka
mengacungkan jempolnya, “oke, entar gue jemput deh ya”
“thanks ya,
gue pulang dulu, bilang salam sama tante Sivia, bye”Kay berlalu meninggalkan
kediaman Cakka.
Cakka
menatap kepergian gadis itu, gadisnya dulu yang sempat mengisi hatinya, gadis
yang begitu bisa mengerti apapun keinginannya.
‘semoga loe bahagia’batin Cakka.
***
Rafli
berlari menaiki tangganya dengan cepat, ia muak dengan lelaki itu, lelaki yang
selalu ia sebut dengan panggilan PAPA!
“Rafli
dengerin Papa!”kata Deva agak keras.
Rafli
menghentikan langkahnya, ia berbalik. “apalagi sih Pa? Belum puas bentak-bentaknya?
Hah?!”tanyanya dengan hati yang terasa hancur, bagaimana tidak? Ngilang gitu
aja ninggalin anak sendiri, pulang-pulang malah ngacauin semuanya!
“jauhin anak
itu”desis Deva
“Papa apaan
sih? Apa sih peduli Papa selama ini? Papa itu sibuk kerja! Gak usah urus
Rafli”Rafli berbalik hendak menaiki tangga lagi.
“kalo kamu
tetep deketin anak itu, Papa akan pindahkan kamu ke rumah Oma di Aussie”ancam
Deva
Rafli
menghentikan langkahnya, ia menghela nafas panjang. “terserah Papa aja, asal
Papa seneng, toh Rafli cuma boneka Papa”lirih pemuda itu kemudian berlalu
Seorang
wanita mendekati Deva, “ada apa?”tanya lembut wanita itu.
“Ik”Deva
menghela nafas panjang, “gak ada apa-apa, kamu istirahat gih kayaknya pucet
banget”saran Deva pada istrinya.
Oik menghela
nafas, “apapun masalah kamu sama Rafli, sebaiknya kamu jangan keterlaluan ya
sama dia? Dia udah besar tau apa yang baik menurut dia”ia mengelus dada
suaminya.
Deva melirik
Oik sekilas, “iya”ia mengecup kening istrinya cukup lama.
***
Ify duduk di
depan Mamanya, beberapa saat lalu Sivia pamit untuk pulang karena terlihat
sudah malam.
“tante Sivia
baik ya Ma? Tapi waktu tante Via ke sekolah heboh banget lho Ma”ungkap Ify
Shilla
mengerutkan keningnya, “heboh gimana?”
Ify nampak
berfikir, “ya heboh kayak ABG jaman sekarang itu lho”
Shilla
tersenyum kecil, “dia emang gitu dari dulunya, tapi sayangnya pernikahannya
harus gagal Fy”
Ify menatap
Shilla, berminat mendengarkan Mamanya itu, “kok bisa?”
“Sivia sama
mantan Suaminya itu dulunya di jodohkan padahal dulu dia baru aja mau di ajak
tunangan sama pacarnya, awal-awal dia nerima sampai punya dua anak dan waktu
kehamilan ketiga mantan suaminya itu menggugat cerai, dia nikah lagi sama
wanita yang lebih muda”jelas Shilla
Ify terus
menatap Shilla dengan tatapan ingin tau, “terus sekarang balikan lagi gak tante
Sivia sama mantan pacarnya?”
Shilla
menggeleng, ia mengelus rambut Ify dengan lembut “dia ngilang gitu aja, sempet
di kabarkan sudah menikah dan punya anak tapi gak tau juga”
“tadinya
Mama juga mau jodohkan kamu sama Cakka”
Ify
membulatkan matanya, “tapi enggak kan Ma?”
Shilla
tersenyum, “enggak, tante Sivia gak mau kalo anaknya ngalamin kayak dia”
Tanpa di
sadari Ify menghela nafas panjang, ‘untung-untung’
Shilla
mengambil sebuah majalah, “belajar gih abis itu tidur”
“Mama mau
ngapain disini?”tanya Ify
“nungguin
Papa kamu, tadi katanya ada meeting jadi pulangnya pasti malem.
Ify
mengangguk mengerti, “yaudah, night Mom”ia mengecup kilat pipi Mamanya,
kemudian berlalu ke kamarnya.
***
Bagas menatap
layar ponselnya dengan gusar, gadisnya benar-benar berubah setelah insiden
tadi. Yang Cindai balas hanya seperlunya saja kalau dia bilang mau kesana
Cindai membalas dengan jangan. Ia hendak menelpon Cindai bilang juga jangan.
Malam ini ia rasa merupakan malam larangan baginya.
“argh”Bagas
mengacak-acak rambutnya.
Ponsel Bagas
berdering. Ia berdecak kesal, “ck Cakka, kirain Cindai”umpatnya
Chelsea
balik ya?
Kok loe tau? Kay juga pasti datengkan?
Yoi
Ngapain sih tu adek-kakak balik lagi, cewek
gue ngamuk gara-gara dia
Kok
bisa?
Tau
deh gue juga bingung, pas gue masuk ke rumah Cindai udah ada dia mana langsung
meluk-meluk lagi
Haha kasian deh loe!
Sialan
loe
Bagas
mondar-mandir di kamarnya, ia putuskan buat menelpon sajalah, gak peduli mau di
cuekin atau gimanapun!
“tuttt... tuuuutttt”
Panggilannya
di angkat, tapi tidak ada sapaan dari lawan bicaranya.
“Cindai?
Kamu disanakan?”
“hn”
“kamu
kenapa?”
“tut”
Panggilan di
akhiri secara sepihak, Bagas menatap ponselnya mencoba menghubungi kekasihnya
kembali
“maaf, nomor
yang anda tuju...”
“argh”Bagas
menghempaskan ponselnya ke tempat tidur
***
Rio
mengerjabkan matanya, kepalanya pening dan rahangnya masih ngilu karena bogeman
Cakka. Rio merasakan seseorang memeluk dirinya, ia berpaling ke sebelah kanan.
“Agni”ujarnya
ia baru ingat, tadi Agni mengobati lukanya, Rio ketiduran dan entah kenapa Agni
juga bisa ketiduran, Rio bangun memindahkan Agni dan tidur lagi.
Rio melirik
jam tangannya, “udah malem”ia mengguncangkan tubuh Agni, “bangun Ni, aku mau
pulang”ia mendudukan dirinya.
Agni
menggeliat, “eh... Io'”iapun ikut duduk menyandarkan punggungnya di kepala
tempat tidur.
Rio menatap
Agni, ia tersenyum simpul, “aku pulang dulu, kamu tidur yang nyenyak ya”
Agni
mengangguk, matanya benar-benar berat sekarang.
Rio mengecup
puncak kepala Agni, kemudian membisikan sesuatu “Cakka udah dua kali dapet kiss
dari kamu kok aku belum?”goda Rio setelah itu beranjak
Agni menatap
kepergian Rio, menggeleng pelan ia juga tau kalau Rio becanda dan gak mungkin
ia berkata serius padanya.
***
Cindai
mematut rambutnya di depan cermin, hari ini ia menggerai rambut panjangnya,
tujuan awalnya ialah untuk menutupi matanya yang sembab, dan menutupi wajah
yang agak murungnya.
“Cindai”sapa
Chelsea, ia memasuki kamar Cindai
Cindai
berbalik, “apa?”tanyanya dengan lembut, sesekali ia menghela nafas panjang.
“Bagas
dateng kesini lagi gak?”Chelsea menatap Cindai penuh harap.
Cindai
mengangkat bahunya, ia kembali menata rambutnya dan membubuhkan sebuah bandana
di kepalanya.
Chelsea
mengedarkan pandangannya di kamar Cindai dan pandangannya terhenti pada sebuah
photo. “itu foto apa?”ia hendak mendekati foto itu.
Cindai
menarik Chelsea keluar dari kamarnya, “sarapan gih, aku mau berangkat udah
siang”Cindai berjalan keluar dari kamar. Chelsea mengikutinya.
Dea
tersenyum melihat Cindai yang turun, “sarapan dulu sayang, Chels sini”ajak Dea.
Cindai
mendekati Dea, ia tersenyum hambar “Cindai berangkat aja, makannya nanti di
kantin”
Dea
mengangguk, “sama siapa berangkatnya?”
Cindai
nampak berpikir, “sama Pak Endang lah, siapa lagi? Bye Mom”ia mengecup pelan
pipi Dea kemudian berlalu.
“hati-hati”pesan
Dea, ia duduk di hadapan Chelsea. Kebetulan Riko sedang berada di luar kota
jadilah mereka bertiga di tambah pembantunya.
Chelsea
menyendok makanannya, “oiya tant, foto yang ada di kamar Cindai itu photo apa?”
Dea
mengerutkan dahinya, “yang besar?”
Chelsea
mengangguk tanpa suara.
“itu foto
pertunangan Cindai sama Bagas”ungkap Dea.
Chelsea
menghentikan kunyahannya, “Bagas? Yang kemaren?”tanyanya
Dea
tersenyum, “yaiya, emang yang mana lagi?”
Raut wajah
Chelsea berubah menjadi muram. ‘ternyata
aku gak cukup berarti buat dia’
***
Agni dan
Novi masih berada di meja makan, menyelesaikan sarapannya.
“Papa kapan
pulang sih? Novi kangen sama Mama udah lama gak nengokin Mama”ungkap Novi
Agni menatap
Novi, “kalo kangen Mama entar sama kakak aja”
Novi
menggeleng kuat, “gak! Novi maunya sama Papa”
Agni
menghela nafas panjang, “yaudah, biar nanti kakak telpon Papa”
“asik,
makasih kakakku”sorak Novi
Taklama
terdengar suara sebuah kendaraan memasuki pekarangan rumahnya, “pacar kamu tuh
dateng”ucap Agni bermaksud menggoda
“pacar? Gak!
cuma temen kok”sanggahnya, ia beranjak dari meja makan. Begitupun Agni karena
melihat jam yang sudah hampir menunjukkan ke arah angka 7.
“Cakka”guman
Agni begitu melihat siapa yang keluar dari mobil itu.
“Difa, kok
sama kak Cakka sih?”tanya Novi, dia berlari ke arah Difa
Difa
mengangkat bahunya, “gak tau, lagi aneh aja kali”
“Ni, yuk
bareng”ajak Cakka
Agni nampak
mengotak-atik ponselnya.
“sial”umpatnya
kesal, ia kembali kedalam rumahnya.
Cakka
menghela nafas, apakah kesalahannya begitu fatal sampai Agni bersikap seperti
ini?
Ia melihat
kearah garasi yang terbuka, Agni memasuki salah satu mobilnya melajukan mobil
itu keluar dari gerbang lain.
“masuk”perintah
Cakka pada Difa dan Novi
“maklum aja
ya kak, kak Agni kayaknya ada masalah sama kak Rio, soalnya begitu kak Rio
semalem keluar dari kamarnya dia langsung uring-uringan gak jelas”guman Novi
bermaksud memberitahu Cakka.
“semalem Rio
pulang jam berapa?”tanya Cakka tanpa menoleh ke arah Novi
“jam delapan
deh kayaknya, oiya kemaren pulang jam berapa kak? Novi sampe gak tau kak Agni
udah pulang”ujar Novi
Cakka
menatap Novi, “Agni emang gak keluar kamar?”
Novi
menggeleng polos, ia kaget juga melihat ekspresi Cakka.
Rahang Cakka
langsung mengeras, ia kembali menyempurnakan posisinya.
Difa membuka
headphonesnya, “oiya kak, kemaren ada kak Kay SMS, katanya mau kerumah, kakak
ketemu gak?”tanyanya.
“udah”jawab
Cakka singkat. “kok gak ngasih tau dari pagi kalo dia mau kerumah?”tanya Cakka
“hape nya
juga di tas, kebacanya pas udah di rumah”jawab Difa
Setelah itu
Cakka hanya terdiam, sementara Difa dan Novi terus berceloteh di bangku
belakang.
“Pak di sini
aja”ucap Cakka begitu sampai di gerbang sekolahnya, si sopirpun langsung
mengerem.
Cakka keluar
dari mobilnya, ia segera memasuki area sekolahnya.
Ia
mengedarkan pandangannya begitu di parkiran, di sudut parkiran ia melihat Agni
yang duduk di boncengan sebuah motor yang ia ketahui milik Rio karena si
pemilik membuka helmnya mereka tidak berdua tapi ada satu orang lain, Bagas!
Agni melihat
Cakka dengan ujung matanya, kemudian ia beralih pada Rio, membuka jaket Rio
dari arah belakang.
“ciee...
romantis amat”kata Bagas, ia bersandar di mobilnya.
Rio menatap
Agni yang menyimpan kepala di bahunya, “ada angin apa nih?”tanyanya
Agni
memiringkan wajahnya, “ada Cakka”ucap Agni
Bagas dan
Rio tersenyum geli, ternyata Agni bermaksud memanas-manasi Cakka toh.
“hati-hati
sampe dia ngamuk Ni”ujar Bagas, ia berdiri sempurna hendak berlalu.
Tanpa mereka
sadari bukan hanya ada Cakka disana, tapi ada seseorang yang baru datang dan
berada tepat di belakang Cakka, matanya mulai perih, berkaca-kaca.
“Ify”ucap
Cakka begitu melihat seseorang berlari mendahuluinya.
Agni turun
dari motor itu, “gak usah ngurusin gue deh, mendingan loe urusin cewek loe noh,
di gaet cowok lain baru tau rasa loe”ia menunjuk Cindai yang berada di kantin
duduk berdampingan dengan Dayat.
Bagas
tersenyum sinis, “udah bosen sama gue kali”ia beranjak begitu saja meninggalkan
Agni
Rio berdiri
di samping Agni, “kenapa tuh anak?”
Agni
menunjuk ke arah Cindai lagi dengan dagunya, kemudian menarik Rio mengajaknya
memasuki kelas yang cukup jauh dari parkiran.
***
BRAK
“ARGH”erang
Rafli, ia mengacak rambutnya frustasi setelah melempar tasnya hingga menghantam
pintu yang tak kunjung di bukakan. Sejak pulang kemarin ia memang tak keluar
kamar tapi sejak kapan kamarnya itu di kunci dari luar? Ia benar-benar tak
menyadari itu.
“mau apa
lagi sih? Hape di sita! laptop di sita! Kurang menderita apa lagi sih?”teriak
Rafli, ia benar-benar hampir gila dengan perlakuan Papanya itu yang menurutnya
aneh bin ajaib.
Terdengar
seseorang membuka pintu kamarnya.
Clek
Seseorang
menyembulkan kepalanya, “makan dulu sayang”ucapnya, siapa lagi kalau bukan Oik,
sang Mama tercinta.
Rafli
berdicak, “masih peduli? Sana kerja! Gak usah ada di rumah sekalian”umpatnya
kesal
Oik menghela
nafas, ia mendekati putranya. “maafin Mama, Mama gak bisa lakuin apa-apa buat
hal ini”
Rafli
mendelik, “terus bisanya apa?”ia berdiri seolah menantang Mamanya.
“Rafli udah
cukup sabar Ma ngadepin kalian berdua! Rafli capek di jadiin boneka terus!
Rafli udah gede Ma! Tau apa yang baik buat Rafli! Gak usah di atur
terus!”bentak Rafli dengan penekanan emosi, ia memang sulit jika harus
membendung emosinya.
“Rafli
capek”kali ini Rafli berkata lirih, ia berjalan keluar dari kamarnya Oik tak
menahan, dalam hati ia tersenyum senang. Namun begitu sampai ke depan pintu
utama pintu itu di kunci rapat, ia beralih ke pintu belakang, sama! Semua pintu
di kunci tanpa celah.
Oik memegang
bahu Rafli yang terlihat naik-turun mengatur emosi, ia membalikan putranya.
Rafli berbalik lalu dengan cepat memeluk Mamanya itu.
“apa Ma
salah Rafli? Apa? Sampe Papa tega gini?”
Oik mengelus
puncak kepala Rafli, mengecupnya pelan, tanpa terasa matanya mulai mengeluarkan
cairan bening. Ia tak kuasa melihat putranya serapuh ini.
“Mama gak
tau Rafli, Papa gak cerita, maafin Mama”gumannya
Rafli
mengangkat wajahnya, menegakkan tubuhnya. Ia melirik jam besar yang berada di
ruang utama, “boleh nelpon Cindai Ma?”
Oik
mengangguk, ia memberikan ponselnya.
Rafli
beranjak menuju kamarnya dengan ponsel yang berada di telinganya.
***
Cindai
memasuki kelasnya, kepalanya mulai ringan setelah menceritakan sedikit kegundahannya
pada Dayat. Ia menatap Bagas yang menatapnya begitu dingin, kemudian
mengalihkan pandangan pada Agni dan Ify yang sedang berbincang dan kadang
tertawa setelah itu duduk di samping Marsha yang terlihat sangat murung.
“ada apa
nih?”tanya Cindai
“ini nih si
Agni masa mau manas-manasin Cakka pake Rio gak ngasih tau gue, hampir aja gue
salah faham tadi”jelas Ify dengan nada yang agak berbisik.
“wah? Masa?
Terus-terus gimana sama dianya?”tanya Cindai
Agni
menyeringai, “panas kayaknya, liat aja tuh masih perang dingin sama Rio”ia
terkikik geli melihat ekspresi Cakka.
Ify
menghentikan tawa Agni dan Cindai kemudian beralih pada Marsha.
“kenapa
Sha?”tanya Ify
Marsha
menghela nafas panjang, “kenapa ya Papanya Rafli kayaknya gak suka banget sama
gue, gue punya salah apa coba?”
Cindai
membulatkan matanya, “Om Deva pulang?”
Marsha
mengangguk lembat, “nomornya juga sekarang gak aktif, kayaknya gue sama Rafli
bener-bener gak ada jalan buat bersatu deh”lirihnya.
Agni, Ify
dan Cindai menatap Marsha dengan iba, dalam hati mereka bersyukur meskipun
banyak rintangan tapi gak sampai segitunya.
“sabar ya
Sha”kata Agni.
Marsha
tersenyum hambar.
Ponsel
Cindai bergetar, “tante Oik”gumannya
“ya hallo”
“Cindai ini gue Rafli, bisa gue bicara sama
Marsha?”
Cindai
memberikan ponselnya pada Marsha, “dari Rafli Sha”
Mata Marsha
berbinar penuh kebahagiaan.
“hallo Raf,
kemana aja loe? Gue khawatir sama loe”rengeknya
Rafli terkekeh, “maaf ya gara-gara gue
kayaknya loe khawatir”
Marsha
merengut, “loekan pacar gue”
Rafli terdengar menghembuskan nafas,
“kayaknya gue bakalan pindah Sha”
“pindah?
Kemana?”
“ke Aussie, sekarang aja gue di kurung di
rumah cuma berdua sama Mama. Gue cuma mau ngucapin selamat tinggal”
Marsha
menutup mulutnya, “Raf, gak ada jalan lain?”
“enggak Sha, mungkin ini terakhir kali kita
bicara, segala fasilitas gue disita termasuk hape dan laptop yang bisa buat
kita komunikasi”
“Rafli,
please jangan becanda”
“bukan hal yang lucu buat becanda Sha, udah
dulu ya... bye”
Tangan
Marsha lemas, ia segera menelungkupkan wajahnya di atas tas.
“ada apa
Sha?”tanya Cindai
Marsha
menggelengkan kepalanya, tak lama ia mengangkat wajahnya dan tersenyum.
“hehe kalian
nyangka gue nangis ya?”tanyanya
Agni Ify dan
Cindai berpandangan aneh.
“udah, udah
mau ada guru tuh”kata Marsha
Dan benar
saja, tak lama kemudian ada seorang guru memasuki kelasnya.
***
Begitu bel
istirahat terdengar semuanya berhamburan keluar kelas kecuali Cakka dan Agni,
keduanya masih diam, sebenarnya bukan tanpa alasan karena mereka diam di kelas
itu untuk berbicara lebih serius.
Cakka mendekati
Agni dan duduk di sampingnya.
“kesalahan
aku besar banget ya sampe kamu gini?”tanya Cakka
Agni menghela
nafas, ia menghadapkan dirinya pada Cakka.
“aku gak tau
Kka, aku bingung”ungkapnya
Cakka memegang
pundak Agni, “sekarang apa mau kamu?”
Agni menunduk,
“Kka, sebenernya aku emang sayang sama kamu tapi...”ia menghela nafas panjang
“Rio tunangan
aku Kka, meskipun aku saat ini gak sayang sama dia tapi aku itu punya tanggung
jawab atas dia, begitupun sebaliknya”
Agni memejamkan
matanya, merangkai kata agar tak menyakiti pemuda itu.
“aku gak ada
perasaan apapun Kka sama Rio, Rio cuma tuangan tanpa sayang aja buat aku”
Agni menundukan
kepalanya dalam dan semakin dalam.
“tapi gak
tau kenapa kalau ingat status itu aku jadi punya rasa cemburu kalo Rio lagi
sama cewek lain”
Cakka mengelus
pipi Agni, mengangkat dagu gadis itu agar menatapnya, “terus, setelah ini mau
kamu apa?”
“please,
jangan sakitin Rio lagi”Agni menatap Cakka memohon, pandangannya benar-benar
menyiratkan sebuah kekhawatiran.
Cakka mengangguk
lemah, ia menarik gadisnya itu kedalam pelukan.
To Be
Continue... :)
lanjutin :)
ReplyDelete