Thursday, 4 April 2013

Cowok itu... #11


 Ify dan Rio berjalan berdampingan menuju parkiran, keduanya berniat untuk jalan-jalan tapi keduanya juga membawa kendaraan.
“yaudahlah yang penting disananya kita berduakan?”ujar Rio

Ify tersenyum, ia menarik tangan Rio manja “yaudah aku duluan kamu ikutin ya?”

Rio tersenyum, ia duduk di motornya memakai jaket lalu helm facefullnya.

Ify dengan mobilnya mulai melaju meninggalkan parkiran, sementara Rio mengikuti gadisnya itu dari belakang.

Namun berbeda dengan pasangan Cakka dan Agni, keduanya malah tidak membawa kendaraan. Agni yang dari rumahnya membawa mobil malah menyimpan mobilnya di kediaman Rio dan berangkat bersama Rio.
“untung deh kamu gak bawa mobil”guman Cakka

Agni menatap Cakka dengan pandangan penuh tanya, “kok untung?”

Cakka mengangguk, senyumnya merekah “kita jalan-jalan dulu yuk sama temen aku”

Agni menatap curiga “siapa? Cewek?”

Cakka mengangguk semangat, “iya namanya Kay, itu dia”Cakka menunjuk sebuah mobil yang berhenti di depan gerbang.
“yuk”Cakka menarik tangan Agni

Agni tetap diam di tempat, “kamu aja gih, aku gak mau”

“kok gitu? Pokoknya harus ikut!”Cakka menarik paksa tangan Agni hingga sampai di depan seorang gadis menggunakan topi yang menurut Agni memang cantik dan... dewasa.

“siapa Kka?”tanya Kay sambil menunjuk Agni

Cakka tersenyum, “Agni, cewek gue”

Kay membulatkan bibirnya, “yaudah Kka loe di depan ya gue sama Agni di belakang”kebetulan ada Seorang sopir yang membawa mobil itu.

“oiya kenalin gue Kay”kay mengulurkan tangannya

Agni tersenyum membalas jabatan tangan itu, “Agni”

“Cakka sekarang nakal gak? masih jelalatan gak sih kalo liat cewek cakep?”tanya Kay sambil melirik Cakka dengan jail

Agni terkekeh, “ya gitu deh kak, emang gitu dari dulunya ya?”

“iya”jawab Kay

“ihh dari dulu apa? Enggak kok! Jangan ngada-ngada”ucap Cakka

“cie yang kesindir nyaut”goda Agni

Cakka diam, ia hanya bergumam kecil di depan gak mau lagi menanggapi omongan cewek-cewek yang bawel itu.

***

Bagas duduk di bangku dekat lapangan dimana Cindai sedang latihan, entah kenapa gadis itu jadi latihan di hari ini padahal biasanya dia latihan cuma satu kali dalam satu minggu.
Sebuah pesan masuk pada ponsel Bagas.

Hai gas, ternyata sekarang kamu udah gak sendiri ya?
Ternyata aku gak begitu berarti sampai kamu bisa dapet lagi pengganti secepat ini.
Aku gak percaya kamu lakuin ini, aku bener-bener kecewa. Tapi, walau begitu apa yang bisa aku lakuin selain diam? Melihat kenyataan yang bener-bener membuat aku jatuh.
Aku kira dengan aku datang ke sini, aku bakalan lebih baik. Ternyata malah sebaliknya...

Tanpa Bagas sadari Cindai mengamatinya yang sedang sibuk membaca pesan itu.
‘kayaknya dia emang bener-bener lebih berarti’

Dayat menepuk pundak Cindai, “kenapa? Kok gak fokus gitu?”

Cindai menatap Dayat, tersenyum simpul “gapapa, yaudah lanjutin”

Bagas melihat Cindai yang sedang berhadapan dengan Dayat, bukan berhadapan biasa mungkin lebih tepat di katakan bertarung saling mukul-memukul, terlihat sekali Cindai bermain dengan emosi yang tidak terkontrol karena permainannya parah, gak ada satupun pukulannya yang tepat sasaran.
“argh”ringis Cindai karena kelengahannya ia mendapatkan pukulan yang cukup keras ke ulu hatinya.

Bagas berlari ke arah Cindai, gadisnya itu nampak kesakitan.
“kasar banget sih sama cewek?”ucap Bagas kesal, ia meraih pundak Cindai “gapapa?”

Cindai menyempurnakan posisi berdirinya, “apa sih? Lebay banget”ia menyingkirkan Bagas agak kasar “mulai lagi kak”Cindai sudah bersiap-siap namun dengan tiba-tiba Bagas menarik Cindai dengan paksa.
“aw, sakit”ringis Bagas karena tangannya di pelintir ke belakang oleh Cindai

Bagas menatap Cindai yang ada di belakangnya, keduanya beradu pandangan dengan tak bersahabat.
“dengarlah sayangku tiada yang lain saat ini
engkaulah yang ada di hati
engkaulah yang ada di hati

Duhai kekasihku hanyalah dirimu yang kumau
tiada yang lain di hati
selamanya hanya dirimu”

(bukan rayuan-Bagas version)

Cindai merenggangkan pegangannya. Merasakan itu Bagas melepaskan tangannya dari Cindai, ia menghadap Cindai, menatap intens kekasihnya itu.
“maaf”ujar Bagas

Cindai mengalihkan pandangannya, ia merapihkan poni yang sedikit turun ke keningnya.
“gimana sih rasanya kalo cewek kamu sendiri di peluk orang lain? Gak ngindar lagi”gumanya pelan

Bagas meraih lengan Cindai, “apa hukumannya belum cukup? Dari kemaren aku di cuekin terus”

Cindai melepaskan lengan Bagas dengan lembut, ia berlalu tanpa berkata sepatah katapun.

***

Marsha membanting dirinya ke tempat tidur menelungkupkan badannya, entah kenapa ia merasa benar-benar kehilangan semangat hidup. Separuh ruang di hatinya benar-benar kosong.
Marsha merasakan seseorang mengelus rambutnya, “maaf sayang, gara-gara Mama kamu sama Rafli jadi begini”guman Gita.

“sudahlah, jangan menyalahkan diri sendiri”Irshad duduk di samping Gita.
Marsha menggeliat, ia berbalik menatap orang tuanya.
“apa salah Marsha Ma, Pa? Sampe Papanya Rafli marah banget sama Marsha?”Marsha membenamkan kepalanya di dada Gita.

Gita mengelus puncak kepala Marsha mencoba menyalurkan energi pada putrinya.
“ini salah Mama Sha, maafin Mama sayang... Mama gak tau kalo Rafli itu anaknya Deva”

Marsha mengangkat wajahnya, “Deva siapa Ma?”

Irshad menghela nafas, “gak usah di bahas. Gita biarkan Marsha istirahat dulu”ia beranjak dari kamar putrinya itu.

Gita tersenyum pada Marsha yang menahannya, Gita menggeleng ia melepaskan genggaman Marsha, “kamu istirahat dulu ya, nanti Papamu pasti akan cerita”

Akhirnya Marsha mengangguk mengerti. Gita pun beranjak dari kamar Marsha.

***

Rafli diam di ambang jendela, menatap keluar. Sementara Oik sibuk merapihkan pakaiannya kedalam sebuah koper. Ya... besok ia akan ke Aussie dan kepindahannya akan di urus Deva.
“Ma, sebenernya ada apa sih sampe Rafli harus di pisahin sama Marsha? Apa salah Rafli Ma?”guman Rafli tanpa mengalihkan pandangannya. Ia menghela nafas panjang, “padahal tante Gita baik banget sama Rafli. apalagi Om Irshad, pengertian banget sama Rafli”lanjutnya

Oik menghentikan pergerakkan tangannya, ia palingkan perhatiannya pada Rafli.
“tadi, siapa kamu bilang?”tanya Oik

“tante Gita sama Om Irshad”guman Rafli tanpa semangat.

Oik membereskan pakaian Rafli kembali, “Papa kamu gak akan pernah bisa kamu ada hubungan dengan anak dari mereka”

Mendengar nada dingin dari Mamanya Rafli menatap dengan tatapan aneh pada Mamanya itu, benar-benar tidak seperti biasanya.
“ada masalah apa sama mereka?”tanya Rafli, ia mendekati Oik.

Oik bungkam, tak sepatah katapun terlontar dari mulutnya.

***

Deva menatap kosong layar komputernya, pikirannya melayang pada beberapa tahun yang lalu dimana ia harus merasakan sakitnya hati karena sebuah perasaan yang di sebut CINTA.
“Pak Deva ada tamu”ucap sekertaris Deva yang tiba-tiba memasuki ruangan itu.

Deva mengerjabkan matanya, “siapa?”tanyanya

“Irshad”seseoang masuk tanpa permisi, karena ia sadar gak akan pernah ada persetujuan jika ia tau siapa yang datang.

“kalau begitu saya permisi Pak”sekertaris itu keluar dari ruangan.

Deva menatap dingin orang yang ada di hadapannya, Irshad.
“ada urusan apa kamu kesini?”tanya Deva, ia berdiri dengan melipat kedua tangannya di dada.
Irshad menghela nafas, “ini tentang Rafli dan... Marsha”
Deva tersenyum sinis, “mereka gak akan pernah di biarkan bersatu!”
“jangan jadiin masalalu sebagai pelampiasan Dev, loe juga harus mikirin gimana kacaunya anak loe”guman Irshad
Deva membalas tatapan Irshad yang memang sedari tadi menatapnya, “denger ya! anak gue cowok! Dan anak gue gak selemah seperti yang loe bayangin”
“tapi anak gue... dia lemah, dia butuh anak loe!”Irshad beberapa kali menghela nafas mencoba tidak ikut emosi dalam pembicaraan ini.
Deva tertawa mengejek, “emang masalah buat gue? Denger ya! ini juga gara-gara loe yang udah rebut Gita dari gue”desis Deva.
“gue gak rebut dia”sanggah Irshad dengan nada yang mulai tinggi.
Deva menatap seolah menantang, “terus apa?”
“gue di jodohin sama Gita, gue di paksa nikah sama dia”guman Irshad
Deva terdiam, mencerna benar-benar kata-kata itu. Apakah itu sebuah kejujuran? Atau hanya kamuflase saja?
“gue gak sebodoh itu buat percaya omong kosong loe”
Irshad nampak beranjak, “terserah loe mau percaya atau gak, yang harus loe pikirin sekarang seharusnya bukan masa lalu, tapi masa depan. Toh sekarang loe udah bahagiakan sama kehidupan loe?”Irshad menghela nafas, “terimakasih atas waktunya Pak Deva, permisi”Irshad benar-benar berlalu dari ruangan itu.

***

Agni, Cakka dan Kay berjalan beriringan, Agni di apit oleh keduanya.
“mau kemana lagi kak?”tanya Agni

Kay nampak berfikir, “makan yuk”
Agni mengangguk setuju, namun sebelum berjalan kembali ia pindah posisi ke sebelah kanan Cakka, sehingga sekarang Cakka yang ada di tengah.

Cakka menatap Agni bingung, namun ia akhirnya tersenyum mengerti maksud Agni. Ia mengalungkan tangannya di kedua pundak gadis itu.
“yuk makan”ia menarik keduanya dan berjalan dengan masih posisi seperti itu.

Agni dan Kay duduk berhadapan sementara Cakka ada di samping mereka.
“pesen apa nih? Biar gue teraktir”ucap Kay
Agni nampak berfikir, namun pandangannya malah tertuju pada sebuah eskalator dimana disana ada Rio dan Ify saling bergandengan tangan dan bercanda dengan begitu mesra.
“Ni?”Cakka mengibaskan telapak tangannya di depan wajah Agni.

Agni mengerjabkan matanya, tersenyum kaku pada Cakka. “apa aja deh kak”ucap Agni pada Kay.
“oke, kalo gitu samaan aja ya”Kay berlalu dari hadapan mereka.

Cakka menatap Agni dengan khawatir, “muka kamu pucet banget”ia mengelus pipi kanan Agni.

Agni tersenyum kaku, “masa? Perasaan kamu aja kali”Agni mencoba menyembunyikan kegundahan hatinya.

Cakka meraih tangan kanan Agni, mengecupnya pelan.
Wajah Agni merona merah melihatnya. Dengan segera ia pun menarik tangannya dari genggaman Cakka.
“kenapa sayang? Ciee malu-malu gitu”goda Cakka
Wajah Agni semakin memerah, “apaan sih Kka?”

Tiba-tiba Kay datang dengan terburu-buru, “hey sorry ya gue harus pulang nih, gue udah di suruh balik lagi ke Aussie”
Agni mengerutkan keningnya, “kok gitu kak?”
“gak tau nih, mendadak. Ini buat bayar makanannya, gue duluan ya bye”ia menyimpan uang dengan nominal seratur ribuan.
“hati-hati”guman Cakka

Agni menatap Cakka yang masih menatap kepergian Kay, ia mengelus pipi Cakka mencoba mengalihkan pandangan kekasihnya itu padanya.
“gak rela ya?”tanya Agni
Cakka tersenyum simpul, “lebih gak rela lagi kalo kamu tinggalin aku”ucap Cakka lirih, ia meraih kedua tangan Agni. “aku sayang banget sama kamu”

Agni tersenyum tipis, “aku juga sayang banget sama kamu”balas Agni
“khm”deham seseorang.

Cakka dan Agni menjauh, berbalik melihat siapa yang berdeham itu.
“gak nyangka ya loe berdua mesra juga”ujar Ify, yang berdeham tadi. Ia duduk di hadapan Agni sementara Rio menghadap Cakka.
“gak ngajak nih kalian berdua disini”guman Ify

Agni tersenyum canggung, ia melirik Cakka dan sidikit melirik Rio yang juga meliriknya dengan ekor mata.
“gak di ajak juga udah satu tujuan”guman Agni
Cakka berdecak kesal, “ngapain sih kemari? Ganggu aja loe berdua”

“ini makanannya, silahkan menikmati”ucap seorang waiters
Agni mengangguk menanggapinya.

“ganggu?”tanya Rio memastikan. “iyalah”jawab Cakka dengan santai.
Rio berdiri, ia raih tangan Ify “gak usah disini, ganggu”ia menarik tangan Ify hendak menjauh tapi Ify tetap di tempat tidak ituk berjalan.
“gak mau? Yaudah aku pulang”ancam Rio pada Ify dan dengan terpaksa Ify mengangguk mengikuti Rio.

Agni terkekeh, ia menepuk tangan Cakka pelan.
“kasian Ify Kka”guman Agni

Cakka tersenyum masam, “Ify apa Rio? Ternyata cowok kamu yang satu itu cemburuan juga kayak kamunya”ujar Cakka tak menyadari ucapannya itu.

Agni yang baru ingin menyuapkan sesendok makanannya langsung berhenti, ia raih tasnya.
“mau kemana?”Cakka menahan lengan Agni. Mendengar ucapan itu ingin sekali Agni mengacak-acak wajah pemuda di hadapannya ini. gak sadar apa kalau dia sudah menyinggungnya?
“pulang”ujar Agni, ia berdiri meninggalkan Cakka.
Cakka meraih tangan Agni, “sama siapa?”

Agni menghela nafas, benar juga “sama Rio!”tekad Agni.
Cakka memebelalakan matanya, “gak boleh!”perintahnya

Cakka dan Agni saling beradu tatapan, saling melempar tatapan tak bersahabat. Tatapan yang benar-benar sarat dengan suasana panas itu.

***

Ify berjalan dengan wajah yang masih di tekuk, “kamu gak asik banget Io' kan enak kalo jalannya banyakan gak sepi gini”guman Ify
“sepi gimana? Ini mall lebih dari seratus orang ada di sini”imbuh Rio

Ify merengut, “kan kalo tadi bareng Cakka sama Agni lebih rame Io'”ujar Ify
Rio menghela nafas panjang, “kan tadi kamu denger sendirikan kalo kita ganggu?”ucap Rio.
“tapi kamu pergi kayak bukan karena itu...”Ify berjalan mendahului Rio yang terpaku mendengar ucapan itu. Ia sadar ucapan Ify itu memang 100% benar.
“...kamu kayak orang cemburu Io', cemburu sama Agni ya?”

Rio meraih lengan Ify lembut, “kok ngomongnya gitu? Aku gak cemburu kok beneran”ucap lirih Rio
Ify tersenyum, “aku percaya”ia menarik Rio memasuki sebuah ruangan fotobox.

Ify memeluk leher Rio, tersenyum dan di balas Rio. Keduanya tersenyum lepas seolah tak ada beban apapun di benak mereka masing-masing.
Setelah berfoto ponsel Rio berdering.
“bentar Fy Mama”Rio keluar dari tempat itu ia menganggat panggilan itu.

“ya Ma”

“kamu di mall ya? tadi Mama liat motor kamu”

“iya, emang Mama dimana? Sama siapa?”

“di mall sendirian, kamu pasti sama Agni kan? Kesini dong temenin Mama”

Rio menggaruk tengkuknya, bingung “ya... yaudah, Mama dimana?”

“di tempat peralatan bayi, cepetan ya?”

“yaudah Rio kesana sekarang, tungguin ya”

“yaudah”

Ify menepuk pundak Rio, “ada apa?”
Rio menghembuskan nafas, “aku mau nemein Mama dulu, kamu pulang ya?”
Ify menautkan keningnya, “kenapa? Aku gak keberatan kok jalan sama Mama kamu”ia menarik Rio dengan manja.

Seseorang menepuk pundak Rio. Rio pun berbalik “eh Kka, ada apa?”tanyanya pada Cakka yang menepuk pundaknya.
“gue ada butuh sama Ify, boleh gue pinjem sebentar?”kata Cakka dengan berat hati.
Rio mengangguk dalam hati ia bersyukur karena ada Cakka, “asal jangan macem-macem”

Cakka memutar bola matanya, “enggak lah, gue juga punya cewek”ia menarik tangan Ify paksa tapi Ify memberontak, “ihh lepasin”
Cakka menatap Ify, “apa lagi sih?”
Ify mendengus, ia berbalik lagi, menghadap ke tempat Rio dimana pemuda itu berdiri tapi ia telah menghilang di telan bumi.

Cakka menarik tangan Ify lagi, “ayolah, gak usah cari dia, gue ada urussan lebih penting sama loe”
Ify memajukan bibirnya, “ada apa sih? Gak asik banget loe!”
“gak usah monyong-monyong deh, gue cium baru tau rasa loe”ancam Cakka

Seseorang melambaikan tangan ke arah Cakka, Ify mengerjabkan matanya.
“tante Sivia? Ngapain disini?”
Cakka menepuk keningnya pelan, “mampus deh gue”
“honey... kok gak ngasih tau sih mau ke sini, sama Ify lagi... wah kalian cocok deh”kata Sivia

Cakka menghela nafas panjang, “Cakka udah punya cewek kale Ma”
“aku juga, aku udah punya pacar tante! Ogah deh Ify sama mahkluk ter mesum”cibir Ify
Cakka memutar matanya kesal, “maksud loe?”

“sudah-sudah, pulang yuk Mama capek jalan-jalan terus nyari adek kamu”kata Sivia
“terus nanti Difa pulangnya gimana? Cakka gak bawa mobil”ujar Cakka
“sama sopir, kita pulang sama kakak kamu, yuk... eh Ify mau bareng?”tawar Sivia

Ify tersenyum, “gak usah tante, Ify bawa mobil kok, yaudah Ify duluan kalo gitu, dah tante”ia pun berlalu.

“yaudah yuk, kasian kakak kamu”Sivia menarik Cakka
Cakka tetap di tempat, “gak usah, Cakka bisa pulang sendiri”ia berkata begitu dingin.
Sivia diam, ia menghela nafas  “yasudah, cepet pulang ya? ada yang mau Mama omongin”
Cakka mengangguk, setelah itu Sivia berlalu. Cakka terus menatap Mamanya yang menghilang di balik pintu sebuah mobil sport mewah berwarna merah mentereng itu.
‘apa loe juga mau rebut Mama?’batin Cakka lirih.

***

Bagas dan Cindai duduk saling berhadapan di kediaman Bagas, tadi begitu pulang sekolah Bagas tidak membiarkan Cindai untuk pulang sendiri karena ia ingin cepet menyelesaikan masalahnya. Jadilah sekarang Cindai yang ada di rumahnya.
“aku mau pulang”ucap Cindai begitu keluar dari kamar mandi yang ada di kamar Bagas, ia keluar teah lengkap dengan pakaian yang entah darimana Bagas mendapatkan pakaian itu.

Bagas duduk sila di karpet, memutar badannya agar menghadap Cindai.
“duduk dulu”ia menepuk tempat di sebelahnya.

Cindai mengalah, akhirnya ia menuruti apa kata Bagas. Ia duduk di sebelah kiri pemuda itu. Tanpa suara Bagas menarik Cindai agar merebahkan kepala di bahunya. Kini keduanya menghadap kesebuah televisi dimana Bagas tengah bermain play stasion.
“ada saatnya dimana seseorang harus bisa menerima masalalu pasangannya, menerima kenyataan yang enggak bisa di hapus. Masalalu itu waktu yang gak bisa di ulang, dan gak bisa di salahkan”ujar Bagas tanpa penekanan emosi, ia mematikan televisinya.
Ia menghembuskan nafas dengan berat, “andai dulu aku turutin apa kata Mami sama Papi buat gak pacaran pasti gak bakalan kayak gini”
Sekali lagi ia menghembuskan nafasnya dengan berat, “sekarang mau kamu apa? Aku gak bakalan maksa kalo kamu emang gak mau sama aku”gumannya. Berat memang ketika ia harus mengatakan hal itu. Berat! Bahkan sangat berat!

Cindai memeluk pinggang Bagas, “aku mau kamu cerita yang sebenarnya”ujarnya, ia memejamkan matanya, bersiap mendengarkan cerita pemuda itu.

FLASHBACK

Bagas memasuki kediaman Rafli karena tiba-tiba sahabatnya itu menghubunginya dan memintanya untuk datang kerumah itu. Dari arah jauh ia bisa melihat ada dua orang gadis dan ada dua orang lelaki di ruamh keluarga itu. Ia dapat mengenali kedua pemuda itu yang tak lain adalah sahabatnya, Cakka dan Rafli.
“sini”Rafli melambaikan tangan pada Bagas. Kemudian ia pun mendekati sahabatnya itu.
“ada apa loe nyuruh gue dateng?”tanya Bagas to the point.

Rafli terkekeh, ia menunjuk seorang gadis dengan dagunya. Bagas mengikuti arah pandang Rafli, ia tersenyum pada gadis itu.
“tadi dia liat foto kita dan minta gue buat datengin loe kesini”guman Rafli bermaksud menjelaskan.

“Chelsea”gadis itu mengulurkan tangannya.
Bagas tersenyum, ia membalas uluran tangan itu. “Bagas”
“yang ini Kay, kakaknya Chelsea ceweknya Cakka”jelas Rafli
Bagas berjabatan tangan dengan Kay.
“mereka sepupu jauh gue, mereka tinggal di Aussie”lanjut Rafli

Setelah pertemuan pertama itu Bagas dan Chelsea menjalin hubungan yang sangat baik, hingga memutuskan buat pacaran. Sampai Obiet, Papi Bagas mengetahui hal itu dan dengan keras melarang hubungan mereka.
“gak usah pacaran! Papi gak suka sama gadis itu”desis Obiet saat Bagas memasuki kediamannya, karena telah berjalan-jalan dengan Chelsea.
“Bagas udah gede Pi, kenapa sih di anggap anak kecil terus? Bagas udah mau Lima belas taun Pi”imbuh Bagas
“terserah kamulah, yang nyesel nantinya juga kamu. Papi udah ingetin itu”guman Obiet sambil berlalu meninggalkan Bagas yang masih berdiri terpaku.

Hubungan Bagas dengan Chelsea dengan terpaksa harus long distance karena Chelsea harus kembali ke Aussie, sampai beberapa bulan hubungan mereka terjalin dengan baik. Tapi akhirnya Bagas tidak kuat menjalani itu dan lebih memilih memutuskannya daripada harus memendam rindu yang membara.
Hingga ia mendapat kabar dari Obiet bahwa sebenarnya ia sudah di jodohkan dengan seorang gadis yang akan satu sekolah dengannya, gadis itu Cindai!
“Bagas mau ngenal dia dan buat dia jatuh cinta dengan cara Bagas sendiri! Bagas minta Papi jangan ikut campur”pinta Bagas yang mendapat anggukan dari Obiet.

FLASHBACK END

“dan aku bener-bener jatuh cinta sama kamu”guman Cindai masih dalam posisi. Bagas tersenyum, ia mengelus puncak kepala kekasihnya itu, “tapi kamu tolak juga kan? Aku sampe muter otak cari kekurangan aku dimana sampe kamu tega nolak aku”

Cindai menegakkan dirinya, menghadap pada kekasihnya dan membelai pipi lembut itu “kan aku udah bilang, aku gak tau kalo yang di jodohin sama aku itu kamu”

Bagas terkekeh, “lagian kamu sih, makannya jadi orang itu jangan kelewat bawel jadinya orang tua lagi ngomong kok di potong-potong”

Cindai cemberut, ia menggembungkan pipinya. “apaan sih, enggak kok”
Bagas mengelus ujung bibir gadisnya itu, lalu mengelus permukaan bibir itu dengan ibu jarinya.
“jangan marah lagi ya? aku takut kehilangan kamu”ujar Bagas

Cindai mengangguk pasti, “maafin aku juga ya gak dengerin kamu, aku kekanak-kanakan”
Bagas lagi dan lagi tersenyum, “aku susah lho dapetin kamu, jangan ninggalin aku please”
Cindai terkekeh, “gak usah lebay deh, aku gak bakalan ninggalin kamu kok”
“janji?”Bagas menjulurkan kelingkingnya.
“janji”Cindai menautkan kelingkingnya di kelingking Bagas.

***

Agni dan Rio memasuki kediaman Agni dengan berdampingan, tadi Rio diminta Zevana untuk menemai Agni di rumahnya malam ini karena ia takut Gabriel belum datang.

“makin lengket ya? syukur deh”guman Gabriel yang baru turun dari lantai atas.
Agni tersenyum kemudian berlari dan memeluk Gabriel “Agni kangen Papa”
“tadi kata Novi liat kalian lagi jalan-jalan berdua di mall di toko peralatan bayi, ngapain?”tanya Gabriel, mereka berjalan dan duduk di kursi ruangan keluarganya, Rio duduk di sebelah kiri dan Agni di sebelah kanan Gabriel,
“Mama Zeva kan mau punya anak lagi Pa”ucap Agni dengan senyuman yang merekah

Gabriel tersenyum, “wah, bagus dong... bilang selamat ya Yo sama Mama mu dari Papa”
Rio mengangguk “oke Pa”

“oiya, kamu mau tetep nginep apa gimana?”tanya Agni pada Rio
Rio nampak berfikir, “pulang aja kan udah ada Papa, tapi pinjem mobilnya ya?”
Agni mengangguk, “bawa aja, besok jemput tapi”
Rio mengangguk, kemudian ia mencium tangan Gabriel hendak pamit. Agni mengantarkan Rio sampai ke depan pintu.
“hati-hati ya?”pesan Agni

Rio mengacak-acak rambut Agni, mengelus pipinya “iya sayang”ia mengecup pipi kiri Agni kemudian beranjak. Agni memegang pipinya, masih kaget dengan kejadian beberapa detik yang lalu.

***

Oik memasuki sebuah apotik yang terletak cukup jauh dari kediamannya, ia berniat membeli vitamin untuk Rafli karena ia takut kalau Rafli sakit atau apapun itu. Namun begitu memasuki apotik itu ia melihat seorang wanita yang sangat ia kenal. Iya tidak salah lagi itu Gita! Mantan kekasih suaminya.
“hey Gita?”tanya Oik memastikan

Yang di tanya mengangguk, ia tersenyum kaku “Oik ya? istrinya Deva?”
Oik membalas senyumannya, ia mengangguk kecil “sedang apa kamu disini?”tanyanya

Gita menunduk, “anakku sakit, suhu tubuhnya meningkat, sejak tadi sepulang sekolah dia gak mau makan dan hanya mengurung diri di kamar”
Oik menghela nafas, “boleh aku melihatnya?”
“tentu”

Setelah keperluan masing-masing terpenuhi akhirnya mereka menuju ke kediaman Gita yang tak terlampau jauh dari sana.
Oik berjalan memasuki kamar Marsha setelah mendapatkan izin dari Gita. Di dalam sana ia dapat melihat gadis yang terlihat sangat lemah, wajahnya pucat pasi badannya bergerak-grak gelisah. Ia meletakkan punggung tangannya ke atas kening Marsha. “panas”desisnya

“Rafli”igau Marsha

Gita memasuki kamar itu, “gapapa kok, kalo dia udah bisa nerima kepergian Rafli dia gak bakalan gini”ujarnya karena melihat tatapan Oik yang terlihat khawatir ketika menatap Marsha.
“maaf, gara-gara Deva semuanya jadi gini”ucap Oik
“bukan salah dia, sudahlah nasi sudah menjadi bubur”guman Gita
Oik menatap lekat wajah Gita yang menyiratkan penyesalan, terlihat sekali di wajah cantiknya itu

Setelah melihat kondisi Marsha ia segera pamit pulang karena suaminya mengabarkan bahwa satu jam lagi ia akan pulang, dan ia harus sampai di rumah lebih cepat dari suaminya agar ia tak tau kalau ia keluar rumah tanpa sepengetahuannya.

***

Deva memasuki kediamannya dengan Kay, ia berniat memberangkatkan Rafli bersamaan dengan Kay.
“udah siap Ik?”tanya Deva pada Oik
Oik mengangguk lemah, ia menatap suaminya dengan sendu “apa ini tidak berlebihan?”
Deva tersenyum, ia mengecup kening istrinya, “tidak”
“tapi Rafli...”
“kenapa?”potong Deva
“liat aja di kamarnya”Oik berlalu ke dapur hendak membawakan minuman untuk Kay.

Deva berjalan ke kamar Rafli, perlahan ia memasuki ruangan itu. Ia melihat Rafli yang duduk di ambang jendela, menghadap keluar. Terlihat sekali ketidak relaannya meninggalkan rumah ini atau mungkin lebih tepatnya gadis itu. Gadis anak dari lelaki yang sudah merebut kekasihnya dulu.
Mengingat itu hatinya kembali berkecamuk. Apakah yang ia lakukan sudah tepat? Ataukan berlebohan?


To Be Continue...

1 comment: