Rafli
benar-benar akan pergi dengan Kay, hanya
Kay! Sementara Chelsea akan berada di Indonesia selama beberapa hari kedepan.
Kay menatap Rafli dengan tidak yakin, pasalnya pemuda itu seperti mayat hidup
yang berjalan.
“loe yakin
mau pergi?”tanya Kay
Rafli
terlihat menghembuskan nafas panjang, sesekali ia berbalik berharap gadis yang
di sayanginya datang dan memaksanya untuk tidak pergi.
“mau gimana
lagi?”jawab Rafli namun berupa bertanya kembali.
“yaiyalah,
mana mungkin gadis itu datang menahan kamu Rafli, dia pasti senang dengan
kepergian kamu”ucap Deva, ia memberikan sesuatu kepada Kay.
“lima belas
menit lagi kita berangkat”ujar Kay.
***
Marsha
menatap Papanya dengan tatapan memohon, kini ia memang berada di sebuah rumah
sakit karena kondisinya tadi malam semakin drop karena Cindai mengabarkan bahwa
Rafli akan pergi ke Aussie.
“please Pa,
aku mau ketemu Rafli sebentar aja”
Irshad
menghela nafas panjang, ia memang selalu mengabulkan apa yang putrinya ini mau
tapi untuk hal ini ia ragu.
“kita
usahain”ia meraih kursi roda untuk di pakai putrinya karena putrinya itu belum
cukup kuat untuk berjalan.
***
Cindai
berangkat bersama dengan Bagas, semalam ia menginap di rumah Bagas dan untuk
beberapa hari kedepan sampai seseorang yang ada di rumah Cindai pergi.
“gapapa nih?
Gak enak sama tetangga lho gas”ujar Cindai, kini keduanya berada di dalam
mobil.
Bagas
memalingkan sedikit wajahnya, tangannya ia ulurkan untuk mengelus pipi
kekasihnya itu “tenang aja, gak bakalan ada apa-apa”
Setelah itu
mereka di sibukkan dengan fikirannya masing-masing sampai keduanya sampai di
parkiran sekolah. Keduanya keluar bersamaan.
“Agni...
Rio...”panggil Cindai lambat. Kenapa Agni bisa bersama Rio yang notabenya
kekasih Ify, sahabat mereka.
Rio dan Agni
masih di dalam mobil keduanya nampak berbincang, Bagas menghampiri Cindai
menepuk pundak gadisnya itu.
“jangan ikut
campur urusan orang”gumannya pelan.
Cindai
berbalik menatap Bagas, ia mengangguk sedikit. Ia mengerti apa kata kekasihnya
itu, dan memang seharusnya begitu karena gak baik juga mencampuri urusan orang
meski itu sahabat sendiri. Keduanya berjalan berdampingan membuat seluruh
pandangan wanita yang berada di sana menatapnya iri.
Agni dan Rio
keluar dari mobil Agni bersamaan, Agni nampak tersenyum kecil.
“dasar!
Minta aja jatah sama Ify”Agni menjulurkan lidahnya pada Rio
Rio
menyeringai jahil, “emang boleh? Gak takut cemburu nih?”goda Rio
“gak! gak
bakalan Hon!!!”ucap Agni spontan yang
membuat Rio terkikik geli melihat ekspresinya.
Keduanyapun berjalan
berlainan arah, Agni menuju kelasnya sementara Rio berjalan ke arah lain.
***
Cakka
menyimpan kertas besar di hadapan teman-temannya minus Marsha dan Rafli.
“ini tugas
kelompok kita, gue udah berbaik hati buat dua gambar buat kita berdelapan”guman
Cakka begitu memasuki kelas.
Rio
menepuk-nepuk punggung Cakka, “bagus bagus, anak pintar”
Agni duduk
di bangku samping Cakka namun posisinya membelakangi pemuda itu, “tugas apa
Kka?”tanyanya tak mengerti karena saat di berikan tugas Agni tidak masuk kelas.
“biologi,
pak Lintar”jawab Cakka seadanya, ia menelungkupkan kepalanya di bahu Agni dari
belakang. Entah kenapa ia merasa sangat malas hari ini.
Agni
mengelus puncak kepala Cakka dengan tangan kanan, ia merasakan Cakka memeluk
pinggangnya dengan sebelah tangan. “ngantuk ya?”tanya Agni.
Cakka hanya
mengangguk, “kamu kok kurus juga ya?”ia mengangkat wajahnya, duduk dengan
sempurna.
Agni
tersenyum kecil, “katanya seksi”bisik Agni tepat di telinga Cakka.
Cakka
menyeringai, “seksi kalo pake baju renang, badan kamu itu wuuuu...”sambil
memeragakan bentuk tubuh oleh tangannya. Agni memukul pelan pundak Cakka, “kamu
tuh ya... pikiran kamu”ia mengusap wajah Cakka setelah itu kembali ke
bangkunya. Karena Bagas telah datang dan dapat di pastikan kalo ia bakalan duduk
bersama Cakka.
Rio terus
menyibukan dirinya dengan buku, gak tau sibuk apa. Pasalnya hari ini gak ada
tugas apapun selain yang dari pak Lintar itu. Ify memasuki kelasnya, ia
berjalan ke arah Rio.
“sibuk
banget”ujar Ify, ia tersenyum sambil menatap Rio.
Rio membalas
tatapan dan senyuman itu, ia menjatuhkan tangannya di garis rahang Ify,
mengelusnya sebentar kemudian menarik tangannya kembali.
“gak sibuk
kok”Rio membenahi bukunya, “kok baru dateng? Gak biasa banget”tanyanya
Ify
terkekeh, “sekali-sekali boleh dong siang...”ia menyimpan tas ke kursi “boleh
ya aku duduk disini?”pinta Ify
Rio menghela
nafas, selagi Ify sibuk dengan tasnya ia lirik Agni yang nampak tidak
mempedulikannya.
“kan udah
jelas larangannya. Dilarang satu bangku dengan lawan jenis. Gak baca non
aturannya”guman Cakka bermaksud memberi tau.
Ify berbalik
ke arah Cakka, “loe kenapa sih sentimen banget sama gue? Kayaknya gak boleh
banget gue deket sama Rio, ada apa sih?”ia bertanya dengan tak sabaran.
Bagaimana bisa sabar kalau pemuda itu terus saja mengusiknya, seolah ingin
memisahkannya dengan Rio.
“gak usah
bentak-bentak kali Fy, Cakka kan cuma ngasih tau dan emang benerkan aturannya
gitu?”bela Agni, gak enak juga liat cowok sendiri di tanya dengan emosi gitu.
Ify
mengalihkan pandangannya dari Cakka, “loe sama Cakka sama aja! Niat banget
misahin gue sama Rio”desisnya, ia keluar dari kelas. Gak tau kenapa ia rasa
banyak yang mencurigakan dalam persahabatan mereka.
Rio mengacak
rambutnya, “ngambek kan? Kalian sih! Yang ribet gue-gue juga kan? Argh”Rio
berdiri hendak beranjak. “gak sadar status banget”guman Cakka dengan nada yang
sinis. Rio menatap Cakka sekilas “terserah apa kata loe deh”ia beranjak begitu
saja. Kalau boleh jujur sebenarnya ia juga tidak suka dengan kejadian tadi.
Bagas dan
Cindai hanya mampu menghela nafas, mereka hanya sebagai penonton setia saja.
Daripada urusannya semakin ribet lebih baik keduanya bungkam.
Cindai
menepuk pundak Agni yang menatap kepergian Rio setelah sebelumnya mendengar
guman Cakka yang di dengarnya cukup jelas. Ia menatap Cindai. “gue harus
gimana? Apa bisa bantu?”tanya Cindai
Agni
menghela nafas panjang, ia mulai mengambil bukunya menggambarkan sesuatu dengan
pensilnya kemudian menunjukan gambar itu pada Cindai.
Cindai
menutup mulutnya, ia benar-benar kaget dengan gambar itu. Bagaimana tidak Agni
menggambarkan dua cincin dan ada nama Agni dan Rio terpatri apik di dalamnya
lalu ada sebuah kata ‘taukan apa
artinya?’
“loe sama
Rio...”Agni mengangguk lemah sebelum Cindai melanjutkan ucapannya, kemudian ia
mengeluarkan cincin dari balik seragamnya. Cindai meraih cincin itu dan di
dalamnya memang benar ada nama pemuda itu ‘Mario’
“jangan
bilang sama Ify, please... gue takut”Agni menatap Cindai memohon, ia kini
benar-benar sudah tidak sanggup menahan emosinya sendiri, ia sadar ia juga
butuh tempat curhat dan mengadu.
“iya gue gak
bakalan kasih tau siapapun, tapi menurut gue mendingan loe omongin tentang
perasaan loe yang sebenarnya sama Rio, terus loe harus bisa cari jalan pintas.
Buat Ify gak curiga sama kalian”ujar Cindai agak berbisik. Agni mengangguk
mengerti.
***
Marsha dan
Irshad telah sampai di bandara keberangkatan ke laur negeri. Keduanya masih
bingung harus ke arah mana mereka berangkat karena salah sedikit pasti fatal.
“Pa, ayo
cepet”desak Marsha, ia sesekali berbalik pada Irshad yang mendorong kursi
rodanya.
Irshad
mengelus rambut putrinya itu, “iya sayang, Papa usahain”ia terus mengedarkan
pandangannya.
Marsha dalam
hatinya tak henti-henti berdo’a. Semoga ia bisa bertemu dengan Rafli, walau tak
bisa membuat pemuda itu bertahan tak apa, yang penting ia bisa melihat pemuda
itu untuk terakhir kalinya. Pandangannya terhenti pada seorang pemuda mulai
mengantri di pintu masuk.
“Pa... itu
Rafli”tunjuk Marsha, “kejar Pa”desak Marsha lagi.
“Rafli...”panggil
Marsha, namun pemuda itu nampak tak mendengarkannya terlihat dari pergerakannya
yang semakin jauh.
“RAFLIIIIII......”teriak
Marsha, ia mencoba berjalan menggapai Rafli yang mulai menghilang tapi...
BRUK
Marsha
terjatuh, kakinya tak mampu di jadikan topangan lagi. Begitu lemas dan tak
bertenaga.
“argh”erangnya,
Irshad segera menghampiri Marsha, meraih putrinya itu dan membawanya kedalam
pelukan.
***
Sementara
Rafli masih gusar, lima menit tersisa
sebelum ia masuk kedalam pesawat.
“yuk”Kay
berdiri bermaksud mengajak Rafli untuk pergi.
Rafli
terlihat menghela nafas panjang, sepertinya takdir akan memisahkannya dengan
Marsha. Ia pun beranjak mengikuti Kay. berjalan tanpa minat.
‘gue masih berharap loe dateng Sha’batinnya.
“Rafli...”
Rafli
menggelangkan kepalanya, ‘saking
terobsesinya gue berharap loe dateng Sha, kenapa dalam otak gue cuma ada loe
yang manggil gue’
“RAFLIIII.....”teriak
seseorang yang sangat di kenal oleh Rafli, ia berbalik seketika menyadari bahwa
itu bukan halusinasinya saja. Ia
mengedarkan pandangan mencari sumber suara.
“Marsha...”guman
Rafli, begitu melihat seorang gadis yang tergeletak di lantai ia segera berlari
ke arah gadis itu.
Rafli beradu
pandangan dengan Irshad yang tengah memeluk Marsha yang masih sesenggukan.
Irshad melepaskan Marsha dan membiarkan Rafli memberikan pelukan perpisahan
untuk putrinya itu.
Rafli
berjongkok, ia menggantikan posisi Irshad.
“Sha...”panggil
Rafli
Marsha
mendongakkan kepalanya, menatap nanar pemuda di hadapannya itu, “Rafli” ia
berhamdur memeluk Rafli, mendekapnya posesif. “jangan pergi”
Rafli
perlahan membalas pelukan Marsha, namun ia segera melepaskan pelukannya itu dan
mengangkat Marsha kembali duduk di kursi roda.
“jaga diri
baik-baik ya”Rafli mengelus puncak kepala Marsha.
Marsha meraih
lengan Rafli yang akan berjalan meninggalkannya, “jangan...”ucap Marsha lirih
dengan nada yang penuh permohonan.
Rafli
tersenyum kecil, ia berbalik kemudian memeluk Marsha kembali, “iya... gue gak
pergi”bisiknya
Marsha
membulatkan matanya, “beneran?”
Rafli
menatap Marsha dan mengangguk pasti.
“Om Deva....
gimana?”
Seketika
Rafli terdiam, entah apa yang ada di fikirannya sekarang.
***
Hari ini di
kelas Agni dan teman-temannya entah kenapa tidak ada guru yang masuk satu orang
pun, padahal Ulangan Tengah Semester akan segera di laksanakan. Di kelaspun
terlihat lengang, benyak dari mereka keluar dari kelas yang terlihat hanya ada
Bagas dan Cindai.
“ada masalah
apa Agni sama Ify?”tanya Bagas.
Cindai
menatap Bagas sekilas, “gak ada”ujarnya ia menyibukan diri dengan bukunya.
Bagas
terlihat menghela nafas, “yaudah kalo gak mau cerita”
Cukup lama
keduanya terdiam, sampai Bagas memulai pembicaraan kembali.
“kapan
sepupu kamu itu pulang?”tanya Bagas
Cindai
menghentikan tangannya yang sedang berkutat dengan pensil dan buku. Ia menatap
Bagas dengan tatapan kosong, “tanya aja sendiri”ia menyibukkan kembali dengan
bukunya.
Bagas
tersenyum kecil, ia tau kalau kekasihnya itu sedang cemburu. Ia mengelus rambut
yang terurai dengan lembut. “jangan marah dong”ia menatap Cindai begitu intens
ia baru menyadari kalau gadisnya itu memiliki bulu mata yang lentik alami dan
tatapannya begitu tajam. Ia terkekeh kecil.
Cindai
mendelik, “apanya yang lucu?”desisnya kesal.
Melihat itu
Bagas malah tertawa dan mengacak-acak rambut Cindai, “kamu lucu deh”
Cindai
merengut, ia mengangkat tangan hendak memukul lengan Bagas. Namun dengan sigap
Bagas menangkisnya. Ternyata berpacaran dengan karateka berguna juga baginya
untuk melatih ke reflekan.
Cindai
semakin cemberut, kesal juga di tangkis begitu gak bisa melampiaskan emosi.
“sakit
sayang... mendingan ini aja”bisik Bagas kemudian menunjuk bibirnya. Cindai
membulatkan matanya ia menggelitiki Bagas dengan kesal.
“dasar
cowok! Kamu ketularan Cakka ya? ihhh”Cindai terus mengulurkan tangan menggelitiki
Bagas.
Bagas terus
berusaha menghindari Cindai, ia terus tertawa geli dan pada akhirnya ia meraih
pinggang Cindai. Membuat keduanya berhadapan, keduanya saling berpandangan
cukup lama.
“Cindai”panggil
seseorang
Cindai dan
Bagas dengan segera menjauh. Cindai melihat ke arah pintu, di sana ada Dayat.
Ia merapihkan rambutnya yang agak acak-acakan kemudian menghampiri Dayat.
“ada apa
kak?”ia tersenyum kaku.
Dayat
tersenyum, “gak kok, cuma mau kasih tau aja nanti ada kumpulan”ia sesekali
melirik Bagas yang menunduk dan nampak cemberut.
“oke”kata
Cindai menyetujui.
“yaudah,
kakak balik dulu ke kelas, dan... sorry ganggu”kata Dayat.
Cindai
mengangguk, ia tersenyum malu, setelah itu Dayat kembali ke kelasnya dan Cindai
kembali duduk di samping Bagas.
“cie yang
cemburu”gurau Cindai.
Bagas
tersenyum sinis, “udah tau ya? syukur deh”ia berlalu tanpa mengindahkan
panggilan Cindai.
***
Rio menatap
Ify yang duduk di taman belakang sekolah, terlihat Ify sesekali menghela nafas panjang. Rio
menghampiri gadisnya itu.
“jangan
marah-marah gitu ah”ujar Rio, ia duduk di samping Ify menatap gadis itu dengan
tatapan dalam.
Ify menghela
nafas panjang, “kenapa sih Io' Cakka gitu banget? Apa sih salah aku? Kenapa
kayaknya dia gak suka banget liat aku sama kamu?”ia membalas tatapan Rio dengan
mata yang sendu.
Rio
tersenyum tipis, ia menyampirkan rambut Ify ke belakang telinganya, “mungkin
bukan gitu maksud Cakka, lagian ada tujuan apa coba dia mau buat kita jauh? Dia
kan udah punya Agni”ia mengucapkan nama Agni dengan sedikit berat.
Ify menghela
nafas panjang, “emang beneran ya Cakka jadian sama Agni? Mereka kayak gak
pacaran”guman ify
Rio
mengalihkan pandangan dari Ify, “udahlah jangan difikirin, yang penting aku
sayang sama kamu dan kamu sayang sama aku”ia melirik Ify sekilas.
Ify
tersenyum mendengar penuturan itu, ia menatap Rio mengelus pundak pemuda itu
pelan.
“iya”ia
sandarkan kepalanya di bahu Rio
“ulang tahun
kamu gak di rayain Io'?”tanya Ify
Rio
terkekeh, “aku bukan anak kecil sayang... dengan kamu tetep di samping aku itu
udah kado yang indah dan sempurna banget buat aku”desis Rio, ia membisikan
kata-kata itu begitu lembut dan mesra.
“makasih Hon”
DEG!
Panggilan
itu...
“jangan
panggil aku Hon Fy, cari panggilan
lain”ujar Rio spontan
Ify nampak
berfikir, “yaudah, tapi aku panggilnya apa dong?”
Rio meraih
tangan kanan Ify, “apapun terserah kamu, asal jangan itu”
Ify
mengangguk mengerti. Rio mengecup pelan punggung tangan Ify.
Ify malah
tertunduk malu menerimanya.
***
Agni keluar
dari ruang gantinya, tadi ia memutuskan untuk berenang saja daripada harus di
kelas. Tadi ia telah memastikan kalau gurunya hari ini benar-benar tidak ada.
Agni
mengerutkan keningnya ketika melihat Cakka hanya menggunakan celana pendek yang
ia tau itu memang khusus renang. Ia sedikit menahan nafas saat melihat dada
bidang Cakka yang tidak di balut apapun dan bagian bagian laon yang benar-benar membuat darahnya berdesir.
“ngapain
pake celana gitu?”tanya Agni setelah ia sadar kembali, ia mulai merenggangkan
ototnya, pemanasan.
Cakka berdiri
di samping Agni, “kan mau ikutan”ia mengikuti pergerakkan Agni. Agni membiarkan
Cakka mengikutinya, terlihat sesekali Cakka meliriknya dan Agni pun sesekali
melirik Cakka.
“mau taruhan
sama aku? Siapa yang sampe sini lagi duluan dia pemenangnya”tawar Cakka, kini
mereka bersiap di pinggir kolam.
Agni
mengerutkan dahinya,”apa imbalannya?”
“kalo aku
menang kamu harus cium aku”guman Cakka
Agni memutar
bola matanya, “itu sih maunya”
“takut
ya?”goda Cakka.
“gak! yaudah
yuk... pasti aku menang”kata Agni
Cakka dan
Agni mulai bersiap, “siap... satu... dua... tiga”
CLUP
Keduanya
masuk kedalam air bersamaan, keduanya terus saling memacu. Cakka terlihat
sampai di seberang terlebih dahulu tapi entah kenapa ketika sampai di tempat
semula Agni malah yang pertama sampai.
Agni
tersenyum penuh kemenangan, ia menyandarkan dirinya ke dinding kolam sementara
separuh badannya tetap ada di dalam. “hebatkan?”
Cakka duduk
di pinggiran kolam, ia tersenyum nakal. “iya deh yang atlet”ia menundukan
dirinya, membuatkan kepalanya sejajar dengan Agni. Agni menatap Cakka.
Pandangan
keduanya beradu, terlihat Cakka mendekatkan kepalanya pada Agni, beberapa detik
kemudian bibir keduanya menyatu.
“itu hadiah
karena kamu menang”bisik Cakka.
Tak lama setelah itu Agni menenggelamkan
dirinya, malu.
Sementara
Cakka terkekeh, lucu sekali gadisnya itu.
“Kka...
tolong”
Cakka
melihat ketengah kolam, terlihat Agni melambaikan tangannya. Ia hampir
tenggelam dan Cakka segera menceburkan diri mencoba meraih Agni. Menyeret
gadisnya itu ke pinggir.
“Ni,
bangun”Cakka menepuk-nepuk popo Agni. Kemudian ia menekan dada Agni beberapa
kali.
“Agni
bangun”ujar Cakka
Cakka
mengambil nafas panjang, ia berniat memberi nafas buatan, begitu jaraknya sudah
dekat seseorang menahan Cakka untuk menghenrikan aksinya.
“Rio”
Rio menatap
Cakka tajam ia mengambil alih Agni, mengangkatnya agar duduk membungkuk. Ia
menepuk pelan punggung Agni.
“uhuk...”Agni
menyemburkan air ke arah kolam. Ia mendongak lemas “Io' dingin”ujarnya
Cakka
memberikan jubah handuk pada Rio dan membuarkan Rio memakaikannya pada Agni.
Cakka terlihat memasuki ruang ganti.
“kamu kok
bisa gini?”tanya Rio pada Agni yang ia sandarkan pada dada bagian kirinya.
“kram”ujar
Agni masih lirih
“biar aku
anter pulang ya”tawar Rio yang di gelengi oleh Agni, ia melirik Cakka yang
keluar kamar ganti.
“Kka”ia
menegakkan tubuhnya. Cakka menatap Agni agak dingin.
“anterin aku
pulang”pinta Agni, ia menjauhkan lengan Rio dari perutnya.
Cakka
mengangguk, “kamu ganti baju dulu ya”ia meraih tangan Agni membantunya berdiri.
Agni menuruti permintaannya.
Rio menatap
Agni dengan khawatir, sementara Cakka terlihat sedang mengeringkan rambutnya.
“sebaiknya
loe perhatiin Ify deh, kalo di sekolah ada gue yang jaga Agni”ujar Cakka, ia
melirik Rio dengan sinis.
“yaudah”Rio
beranjak begitu saja dari tempat itu, enggan meneruskan perbincangan yang
sepertinya akan berlanjut dengan perdebatan jika di ladeni.
***
Cindai terus
berkeliling mencari keberadaan Bagas, tadi pemuda itu telah berjanji akan
menunggunya pulang, tapi pemuda itu seperti hilang di telan bumi.
“dimana sih
Gas? Di SMS gak di balas!”umpatnya cukup kesal. Akhirnya ia memutuskan untuk
menuju parkiran dan tepat di bangku parkiran itu ia dapat melihat dua orang
yang sedang bercengkrama. Salah satunya gadis, dia memeluk lengan pemuda itu
begitu posesif, dia juga menyandarkan kepalanya di bahu pemuda itu.
Nafas Cindai
nampak memburu, hatinya benar-benar di buat seakan ingin meledak.
“Bagas”panggil
Cindai dengan nada yang di buat sebiasa mungkin.
Yang di
panggil menengok dan tersenyum. Gadis yang ada di sampingnya itu otomatis
menjauh dari Bagas.
“udah
rapatnya?”tanya Bagas, ia berdiri menghampiri Cindai yang menatapnya dengan
sendu.
Cindai
sedikit memaksakan senyumannya, ia mengangguk kecil setelah itu mengalihkan
pandangannya pada gadis tadi.
“ngapain
kesini Chels?”tanya Cindai dengan senyuman yang ia sunggingkan.
Gadis itu,
Chelsea. Ia membalas senyuman Cindai. “mau jemput kamu, kan setau aku kamu gak bawa mobil”ujarnya
Cindai
menghela nafas, ia melirik Bagas “aku pulang sama Chelsea ya?”pinta Cindai
Bagas
merengut, “gak! kan udah janji mau sama aku”gumannya
Cindai
mengalihkan pandangannya pada Chelsea “aku sama Bagas aja, sorry ya udah
ngerepotin”kata Cindai dengan lembut
Chelsea
mengangguk mengerti, “kalo gitu aku pulang dulu, bye”pamit Chelsea
Sepeninggal
Chelsea Cindai dengan cuek berjalan ke arah mobil Bagas. Bagas mengikuti
gadisnya itu kemudian membuka mobilnya.
Di dalam
mobil Cindai lebih banyak diam, nampaknya gadis ini masih mencoba menetralisir
kemarahannya. Bagas meraih tangan Cindai, menggenggamnya lembut. “ada
apa?”tanyanya
Cindai tak
bergeming, ia malas untuk berbicara. Bagas yang menyadari itupun melepaskan
genggamannya itu kemudian fokus pada jalan raya.
***
Marsha
merebahkan kembali badannya ke pembaringan, tangannya tak lepas menggenggam
tangan pemuda yang mengikutinya sampai kembali ke rumah sakit, Rafli.
“jangan
pergi lagi”pinta Marsha yang di angguki Rafli.
Rafli
menarik selimut untuk menutupi tibuh Marsha, “istirahat dulu ya sayang? Pulihin
lagi kondisi kamu”ujar Rafli dengan lembut.
Marsha
mengangguk lemah, “jangan kemana-mana, temenin aku disini”
Rafli
mengangguk pasti.
Sementara
diluar sana ada yang menatap keduanya dengan tatapan yang berbeda.
“kalau saja
saya gak punya janji sama Rafli, saya gak akan biarin ini terjadi”guman salah
satunya yang tak lain Deva
Irshad hanya
menanggapinya dengan senyuman, “mereka emang gak bisa di pisahin”ia mengalihkan
pandangannya pada Deva, ia menepuk pundaknya pelan. “ikhlasin lah, gak baik
nyimpen sakit hati lama-lama, kalau dulu aku gak di jodohin juga aku bak
bakalan mau sama Gita”
Deva
menatapnya sebentar kemudian menghela nafas panjang.
Sementara
Marsha masih terjaga, ia terus menatap Rafli memastikan pemuda itu tak
menghilang.
“kok malah
liatin gitu? Tidur dong”kata Rafli, ia mengelus kening Marsha mencoba
membuatnya terlelap.
Marsha
menggeleng pelan, “aku gak mau, gimana kalo nanti kamu ngilang?”
Rafli
terkekeh, “gak bakalan, aku janji gak bakalan ninggalin kamu deh”
Marsha
mengangguk percaya, ia pun mencoba memejamkan matanya untuk sejenak melepaskan
bebannya.
Rafli
terlihat menghela nafas panjang, “aku bakalan lemah kalo tanpa kamu Sha, kamu
itu separuh hidup aku”ia terus mengelus kening Marsha dengan ibu jarinya sampai
gadis itu benar-benar terlelap.
***
“Novi
pulang”teriak Novi yang baru memasuki kediamannya bersama dengan Difa, tadi di
depan ia melihat sebuah mobil yang bukan milik keluarganya ataupun milik Rio.
“kak...”teriak
Novi lagi, ia mengalihkan pandangannya pada Difa “duduk dulu Dif, gue ganti baju dulu”ia beranjak ke kamarnya.
Difa duduk
di ruang tamu, hari ini ia akan mengerjakan tugas bersama. Ia mengambil
ponselnya, mengetikan sesuatu disana.
Sementara di
tempat lain Cakka dan Agni duduk berhadapan di halaman belakang yang di tumbuhi banyak rumput teki. Cakka
memangku gitar, mulai memetik senarnya satu persatu. Menjadikan sebuah
instrumen lagu My Heart.
Agni menatap
Cakka, ia mengulum senyumannya terus menerus, entah kenapa ia merasa sangat
bahagia dengan pemuda itu.
“bagus Kka,
lagi dong”pinta Agni, ia menatap Cakka dengan tatapan memohon.
Namun baru saja Cakka ingin memetik gitarnya
ponselnya bergetar.
Lagi
di rumah kak Agni ya?
Cakka
mengerutkan keningnya, darimana adiknya itu tau?
Iya, kenapa? Jangan lapor Mama!
Agni menatap
Cakka yang nampak serius dengan ponselnya.
“ada apa sih
Kka? Serius banget”
Cakka
menyimpan ponselnya, ia kembali memetik gitar itu. Sambil menatap Agni yang
nampak cemberut.
“cuma Difa
sayang, jangan marah dong”ia mengulurkan tangannya mengelus rambut Agni.
Agni menatap
Cakka penuh selidik, “beneran?”ia memicingkan matanya curiga.
“kak Agni,
kok ada kak Cakka?”tanya Novi yang baru saja keluar dari rumah bersama Difa di
belakangnya. Rencananya Novi mau mengerjakan tugas itu di belakang rumahnya ini
yang memang sangat sejuk. Cocok untuk mengerjakan soal serumit Matematika.
Keduanya duduk di dekat Cakka dan Agni.
Cakka
melongos, pantesan Difa tau.
“masih
kecil! Jangan pacaran deh”ujar Cakka.
Difa menatap
Cakka tak suka, “emang siapa yang pacaran? Kan kakak! Difa cuma mau ngerjain
tugas kok :P”ia mengalihkan pandangannya pada Novi yang mulai membuka bukunya.
Agni
terkekeh melihat ekspresi Cakka yang sangat lucu itu, ia tau kalau pemuda itu
paling tidak suka sama yang namanya di ganggu!
“jangan
cemberut gitu ahh, jelek tau”ledek Agni sambil mencolek dagu Cakka menggoda.
Cakka
tersenyum kecil, “genit juga ya kamu”
Agni
membulatkan matanya, “genit? Enak aja!”
“emang, Agni
genit, Agni genit”Cakka terus menggoda Agni dengan memelet-meletkan lidahnya.
“Cakkaaaaaaaaaaa............”dengan
gemas Agni memukuli Cakka.
“aduh
STOP!”teriak Novi dengan suara yang sangat melengking, saking kencangnya
membuat Difa menutup kupingnya dan Cakka Agni pun otomatis menutup telinganya
pengang.
“Novi,
kenapa?”tanya Gabriel, ia terlihat berjalan cepat setelah mendengar teriakan
Novi yang terdengar sampai ruangan depan padahal itu lumayan jauh.
“lho... nak
Cakka?”
Cakka
tersenyum sedikit mengangguk, “lagi nganter Difa belajar bareng om”ucapnya
Difa
membulatkan matanya berniat membantah, namun segera di pelototi oleh Cakka dan
membuatnya mau tidak mau harus bungkam.
Gabriel
tersenyum, “yaudah”ia berjalan menjauhi ke empatnya.
Cakka
menghembuskan nafas lega, namun Gabriel terlihat berbalik yang membuat Cakka
menelan ludah dengan sukar. ‘ada apa lagi
sih?’batinnya.
“Agni, kata
Mama Zeva nanti kamu ke sana”pesan
Gabriel setelah itu kembali memasuki rumahnya.
Cakka
menatap Agni meminta penjelasan, “khm...aku belum tau Kka, jangan liatin aku
gitu dong”ujar Agni yang mendapat anggukan dari Cakka.
Agni
tersenyum melihatnya, ini yang paling ia suka dari Cakka. Tidak banyak
bertanya!
***
Jam delapan Agni
memasuki kediaman Rio, tadi dia naik taksi karena mobilnya di bawa Rio.
“Agni, sini”panggil
Zevana dari pintu yang lain.
Agni mengerutkan
keningnya, “kok disini Ma?”
Zevana tersenyum,
“kan kita mau buat kejutan sama Rio, dan kamu jangan lewat depan biar Rio gak
tau kemu disini”mereka kini berjalan memasuki rumah dengan mengendap-endap. Untung
tadi Patton dan Gilang sudah di tugaskan untuk mengalihkan perhatian Rio.
“kamu diem
dulu di kamar ini ya”Zevana dan Agni memasuki sebuah kamar tepat di samping
kamar Rio.
Agni mengangguk
patuh, “ini kan ulang tahun Rio yang ke enam belas, dan sekarang Rio udah punya
kamu jadi harus rayain bareng kamu, nah rencananya pas dia seventeen mau di
rayain dan ngasih tau ke semua orang kalo kalian udah tunangan”jelas Zevana
Agni mengangguk
lemah, sebenarnya ia bingung harus seperti apa menghadapinya.
Sementara di
ruang keluarga Rio merasa ada yang aneh dengan Papa dan adiknya itu, karena
kalau ia mau menengok ke arah tangga ia selalu di cegah, selalu saja ada
alasannya.
“kalian
kenapa sih? Aneh gitu”komentar Rio
“gapapa, Gilang
tidur dulu ah... night Pa, kak”pamit Gilang, ia berlalu menuju kamarnya. Sebenarnya
ia telah menahan kantuk sejak tadi, namun ia harus menahannya sampai ia telah
melihat Agni memasuki lantai atas dengan aman, ia pun memutuskan untuk ke
kamarnya.
Rio berdiri,
“aku juga mau tidur ah Pa”ia beranjak dari ruangan itu menuju kamarnya.
“kok Agni gak
ada SMS ya?”ia menatap ponselnya begitu ia membaringkan tubuhnya ke tempat
tidur.
Ia menekan
tombol hijau pada kontak ponsel Agni.
“tuuuttt.... tuuuuttt.... tut tut tut”
Rio mengerutkan
keningnya, “kok di reject?”ia yang tak mau mengambil pusingpun malah menyimpan
ponselnya di meja kecil samping tempat tidur. Kemudian ia meraih laptopnya.
Rio tersenyum
begitu melihat sebuah status.
FyoSaufika menunggu jam dua belas :)
Namun merengut
begitu melihat status lain.
AgSafanah bosan dengan ke adaan!
Tak meu
menaggapi keduanya dengan pusing ia malah menutup kembali akunnya dan menyimpan
laptop itu kembali. Kemudian menarik selimut untuk berlabuh ke alam mimpi.
***
Agni keluar
dari kamar dengan mengendap, kemudian memastikan sekeliling aman. Ia pun
berjinjit menuju ke arah dapur dimana Patton, Zevana, Gilang telah menunggunya.
“udah siap?”tanya
Zevana
Agni mengangguk,
ia berjalan bersamaan dengan ke tiganya menuju kamar Rio.
CLEK
Ketiganya memasuki
kamar Rio, “biar Agni yang bangunin”bisik Agni pada Zevana.
Agni berjalan
perlahan, kemudian duduk di samping Rio.
“happy
birthday Hon” bisik Agni
Rio menggeliat,
ia perlahan membuka matanya.
TEK
Seketika lampu
di ruangan itu terang karena saklar yang di tekan oleh Patton.
“Happy
birthday”sorak ketiganya.
Rio tersenyum
senang sambil mengerjabkan matanya masih belum siap dengan penerangan itu.
“Pa, matiin
ah lampunya, masa pake lilin lampunya nyala, kan gak asik”protes Gilang pada
Patton.
Patton pun
menuruti apa kata putranya itu karena memang masuk akal juga.
Zevana mendekati
Rio, “make a wish dulu, terus tiup lilinnya”
Rio nampak
memejamkan matanya, Agni menatap Rio penasaran dengan apa yang Rio inginkan.
Rio membuka
matanya, “fuhh”ia meniup lilin itu kemudian tersenyum ke arah ke empat orang
yang ada di sana.
“kado nya
mana?”tanya Rio berharap
Keempatnya saling
berpandangan, “udah gede juga masih aja ngarepin kado”ujar Patton, ia sedikit
terkekeh melihat Rio yang cemberut “tenang aja, Papa udah buatin rumah buat di
tempatin sama kamu dan Agni”
“bener?”tanya
Rio
Patton mengangguk
pasti, “ini kunci rumahnya dan ini alamatnya”ia memberikan itu pada Rio
“yaudah,
potong kue nya besok aja ya? kan malem-malem gini gak enak makan kue”kata
Zevana, ia berdiri kemudian berlalu dari kamar Rio.
“yaudah, Gilang
tidur lagi ah, daa semua”Gilang pun menghilang di balik tikungan pintu.
Rio menatap
Patton, “ngapain Papa masih disini?”tanya Rio curiga
“liat kalian”jawabnya
cuek
“keluar lah
Pa, Rio mau ngomong bentar sama Agni”pinta Rio, yang akhirnya di kabulkan oleh
Patton “jangan macem-macem”perintahnya, ia menarik sedikit pintu agar tidak
terlalu terbuka.
Ponsel Rio terlihat
berkedip-kedip.
“Ify Io'”kata
Agni sambil meraih ponsel itu.
Rio tersenyum,
ia mengambil ponselnya dari tangan Agni
“happy birthday sayang”
“makasih Fy,
kamu belum tidur”
“belum, kan takut malah gak bangun lagi”
Rio terkekeh,
“yaudah tidur lagi gih, aku gak mau kamu sakit”
“iya, dah Io' night”
“night too” Rio
meletak kan ponselnya kembali setelah berkata itu, ia mengalihkan pandangannya
pada Agni.
“mana kado
dari kamu?”tagih Rio
Agni memotar
bola matanya, “minta aja sama Ify, ngapain sama aku?”
Rio mengerling
jahil, “cie yang cemburu”Rio menggelitiki badan Agni dengan sadis.
“Rio stop Rio
geli”kata Agni sambil tak henti menahan tawa.
Rio menghentikan
menggelitiki Agni setelah gadis itu ada di bawahnya, “oke”desisnya
Agni tersenyum,
“make a wish apa tadi?”tanya Agni ia bangkit yang membuat Rio sedikit
menyingkir.
Rio menarik Agni
kembali hingga ia kembali terlentang di tempat tidur.
“Io'”ucap Agni
Rio tersenyum
misterius, “aku... mau...”ia mengecup kening Agni, kemudian turun ke mata
sebelah kanan, kemudian kiri lalu ke hidung.
Agni membuka
matanya, menatap Rio yang menatapnya juga. Rio memiringkan wajahnya tepat di
hadapan Agni, dekat... Agni memejamkan matanya kembali.
Sampai Agni merasakan
sesuatu yang basah dan dingin menyentuh bibirnya. Kemudian turun dan turun
sampai Agni menggeliatkan tubuhnya.
To Be Continue...
No comments:
Post a Comment