Tuesday, 9 April 2013

Cowok itu... #12


Rafli benar-benar akan  pergi dengan Kay, hanya Kay! Sementara Chelsea akan berada di Indonesia selama beberapa hari kedepan. Kay menatap Rafli dengan tidak yakin, pasalnya pemuda itu seperti mayat hidup yang berjalan.
“loe yakin mau pergi?”tanya Kay

Rafli terlihat menghembuskan nafas panjang, sesekali ia berbalik berharap gadis yang di sayanginya datang dan memaksanya untuk tidak pergi.
“mau gimana lagi?”jawab Rafli namun berupa bertanya kembali.

“yaiyalah, mana mungkin gadis itu datang menahan kamu Rafli, dia pasti senang dengan kepergian kamu”ucap Deva, ia memberikan sesuatu kepada Kay.

“lima belas menit  lagi kita berangkat”ujar Kay.

***

Marsha menatap Papanya dengan tatapan memohon, kini ia memang berada di sebuah rumah sakit karena kondisinya tadi malam semakin drop karena Cindai mengabarkan bahwa Rafli akan pergi ke Aussie.
“please Pa, aku mau ketemu Rafli sebentar aja”

Irshad menghela nafas panjang, ia memang selalu mengabulkan apa yang putrinya ini mau tapi untuk hal ini ia ragu.
“kita usahain”ia meraih kursi roda untuk di pakai putrinya karena putrinya itu belum cukup kuat untuk berjalan.

***

Cindai berangkat bersama dengan Bagas, semalam ia menginap di rumah Bagas dan untuk beberapa hari kedepan sampai seseorang yang ada di rumah Cindai pergi.
“gapapa nih? Gak enak sama tetangga lho gas”ujar Cindai, kini keduanya berada di dalam mobil.

Bagas memalingkan sedikit wajahnya, tangannya ia ulurkan untuk mengelus pipi kekasihnya itu “tenang aja, gak bakalan ada apa-apa”

Setelah itu mereka di sibukkan dengan fikirannya masing-masing sampai keduanya sampai di parkiran sekolah. Keduanya keluar bersamaan.
“Agni... Rio...”panggil Cindai lambat. Kenapa Agni bisa bersama Rio yang notabenya kekasih Ify, sahabat mereka.

Rio dan Agni masih di dalam mobil keduanya nampak berbincang, Bagas menghampiri Cindai menepuk pundak gadisnya itu.
“jangan ikut campur urusan orang”gumannya pelan.

Cindai berbalik menatap Bagas, ia mengangguk sedikit. Ia mengerti apa kata kekasihnya itu, dan memang seharusnya begitu karena gak baik juga mencampuri urusan orang meski itu sahabat sendiri. Keduanya berjalan berdampingan membuat seluruh pandangan wanita yang berada di sana menatapnya iri.

Agni dan Rio keluar dari mobil Agni bersamaan, Agni nampak tersenyum kecil.
“dasar! Minta aja jatah sama Ify”Agni menjulurkan lidahnya pada Rio

Rio menyeringai jahil, “emang boleh? Gak takut cemburu nih?”goda Rio
“gak! gak bakalan Hon!!!”ucap Agni spontan yang membuat Rio terkikik geli melihat ekspresinya.

Keduanyapun berjalan berlainan arah, Agni menuju kelasnya sementara Rio berjalan ke arah lain.

***

Cakka menyimpan kertas besar di hadapan teman-temannya minus Marsha dan Rafli.
“ini tugas kelompok kita, gue udah berbaik hati buat dua gambar buat kita berdelapan”guman Cakka begitu memasuki kelas.
Rio menepuk-nepuk punggung Cakka, “bagus bagus, anak pintar”

Agni duduk di bangku samping Cakka namun posisinya membelakangi pemuda itu, “tugas apa Kka?”tanyanya tak mengerti karena saat di berikan tugas Agni tidak masuk kelas.
“biologi, pak Lintar”jawab Cakka seadanya, ia menelungkupkan kepalanya di bahu Agni dari belakang. Entah kenapa ia merasa sangat malas hari ini.

Agni mengelus puncak kepala Cakka dengan tangan kanan, ia merasakan Cakka memeluk pinggangnya dengan sebelah tangan. “ngantuk ya?”tanya Agni.
Cakka hanya mengangguk, “kamu kok kurus juga ya?”ia mengangkat wajahnya, duduk dengan sempurna.

Agni tersenyum kecil, “katanya seksi”bisik Agni tepat di telinga Cakka.
Cakka menyeringai, “seksi kalo pake baju renang, badan kamu itu wuuuu...”sambil memeragakan bentuk tubuh oleh tangannya. Agni memukul pelan pundak Cakka, “kamu tuh ya... pikiran kamu”ia mengusap wajah Cakka setelah itu kembali ke bangkunya. Karena Bagas telah datang dan dapat di pastikan kalo ia bakalan duduk bersama Cakka.

Rio terus menyibukan dirinya dengan buku, gak tau sibuk apa. Pasalnya hari ini gak ada tugas apapun selain yang dari pak Lintar itu. Ify memasuki kelasnya, ia berjalan ke arah Rio.
“sibuk banget”ujar Ify, ia tersenyum sambil menatap Rio.

Rio membalas tatapan dan senyuman itu, ia menjatuhkan tangannya di garis rahang Ify, mengelusnya sebentar kemudian menarik tangannya kembali.
“gak sibuk kok”Rio membenahi bukunya, “kok baru dateng? Gak biasa banget”tanyanya

Ify terkekeh, “sekali-sekali boleh dong siang...”ia menyimpan tas ke kursi “boleh ya aku duduk disini?”pinta Ify
Rio menghela nafas, selagi Ify sibuk dengan tasnya ia lirik Agni yang nampak tidak mempedulikannya.

“kan udah jelas larangannya. Dilarang satu bangku dengan lawan jenis. Gak baca non aturannya”guman Cakka bermaksud memberi tau.

Ify berbalik ke arah Cakka, “loe kenapa sih sentimen banget sama gue? Kayaknya gak boleh banget gue deket sama Rio, ada apa sih?”ia bertanya dengan tak sabaran. Bagaimana bisa sabar kalau pemuda itu terus saja mengusiknya, seolah ingin memisahkannya dengan Rio.

“gak usah bentak-bentak kali Fy, Cakka kan cuma ngasih tau dan emang benerkan aturannya gitu?”bela Agni, gak enak juga liat cowok sendiri di tanya dengan emosi gitu.
Ify mengalihkan pandangannya dari Cakka, “loe sama Cakka sama aja! Niat banget misahin gue sama Rio”desisnya, ia keluar dari kelas. Gak tau kenapa ia rasa banyak yang mencurigakan dalam persahabatan mereka.

Rio mengacak rambutnya, “ngambek kan? Kalian sih! Yang ribet gue-gue juga kan? Argh”Rio berdiri hendak beranjak. “gak sadar status banget”guman Cakka dengan nada yang sinis. Rio menatap Cakka sekilas “terserah apa kata loe deh”ia beranjak begitu saja. Kalau boleh jujur sebenarnya ia juga tidak suka dengan kejadian tadi.

Bagas dan Cindai hanya mampu menghela nafas, mereka hanya sebagai penonton setia saja. Daripada urusannya semakin ribet lebih baik keduanya bungkam.
Cindai menepuk pundak Agni yang menatap kepergian Rio setelah sebelumnya mendengar guman Cakka yang di dengarnya cukup jelas. Ia menatap Cindai. “gue harus gimana? Apa bisa bantu?”tanya Cindai

Agni menghela nafas panjang, ia mulai mengambil bukunya menggambarkan sesuatu dengan pensilnya kemudian menunjukan gambar itu pada Cindai.
Cindai menutup mulutnya, ia benar-benar kaget dengan gambar itu. Bagaimana tidak Agni menggambarkan dua cincin dan ada nama Agni dan Rio terpatri apik di dalamnya lalu ada sebuah kata ‘taukan apa artinya?’

“loe sama Rio...”Agni mengangguk lemah sebelum Cindai melanjutkan ucapannya, kemudian ia mengeluarkan cincin dari balik seragamnya. Cindai meraih cincin itu dan di dalamnya memang benar ada nama pemuda itu ‘Mario’

“jangan bilang sama Ify, please... gue takut”Agni menatap Cindai memohon, ia kini benar-benar sudah tidak sanggup menahan emosinya sendiri, ia sadar ia juga butuh tempat curhat dan mengadu.
“iya gue gak bakalan kasih tau siapapun, tapi menurut gue mendingan loe omongin tentang perasaan loe yang sebenarnya sama Rio, terus loe harus bisa cari jalan pintas. Buat Ify gak curiga sama kalian”ujar Cindai agak berbisik. Agni mengangguk mengerti.

***

Marsha dan Irshad telah sampai di bandara keberangkatan ke laur negeri. Keduanya masih bingung harus ke arah mana mereka berangkat karena salah sedikit pasti fatal.
“Pa, ayo cepet”desak Marsha, ia sesekali berbalik pada Irshad yang mendorong kursi rodanya.
Irshad mengelus rambut putrinya itu, “iya sayang, Papa usahain”ia terus mengedarkan pandangannya.

Marsha dalam hatinya tak henti-henti berdo’a. Semoga ia bisa bertemu dengan Rafli, walau tak bisa membuat pemuda itu bertahan tak apa, yang penting ia bisa melihat pemuda itu untuk terakhir kalinya. Pandangannya terhenti pada seorang pemuda mulai mengantri di pintu masuk.
“Pa... itu Rafli”tunjuk Marsha, “kejar Pa”desak Marsha lagi.
“Rafli...”panggil Marsha, namun pemuda itu nampak tak mendengarkannya terlihat dari pergerakannya yang semakin jauh.
“RAFLIIIIII......”teriak Marsha, ia mencoba berjalan menggapai Rafli yang mulai menghilang tapi...

BRUK

Marsha terjatuh, kakinya tak mampu di jadikan topangan lagi. Begitu lemas dan tak bertenaga.
“argh”erangnya, Irshad segera menghampiri Marsha, meraih putrinya itu dan membawanya kedalam pelukan.

***

Sementara Rafli masih gusar, lima menit  tersisa sebelum ia masuk kedalam pesawat.
“yuk”Kay berdiri bermaksud mengajak Rafli untuk pergi.

Rafli terlihat menghela nafas panjang, sepertinya takdir akan memisahkannya dengan Marsha. Ia pun beranjak mengikuti Kay. berjalan tanpa minat.
‘gue masih berharap loe dateng Sha’batinnya.

“Rafli...”

Rafli menggelangkan kepalanya, ‘saking terobsesinya gue berharap loe dateng Sha, kenapa dalam otak gue cuma ada loe yang manggil gue’

“RAFLIIII.....”teriak seseorang yang sangat di kenal oleh Rafli, ia berbalik seketika menyadari bahwa itu bukan halusinasinya saja. Ia  mengedarkan pandangan mencari sumber suara.
“Marsha...”guman Rafli, begitu melihat seorang gadis yang tergeletak di lantai ia segera berlari ke arah gadis itu.
Rafli beradu pandangan dengan Irshad yang tengah memeluk Marsha yang masih sesenggukan. Irshad melepaskan Marsha dan membiarkan Rafli memberikan pelukan perpisahan untuk putrinya itu.

Rafli berjongkok, ia menggantikan posisi Irshad.
“Sha...”panggil Rafli

Marsha mendongakkan kepalanya, menatap nanar pemuda di hadapannya itu, “Rafli” ia berhamdur memeluk Rafli, mendekapnya posesif. “jangan pergi”

Rafli perlahan membalas pelukan Marsha, namun ia segera melepaskan pelukannya itu dan mengangkat Marsha kembali duduk di kursi roda.
“jaga diri baik-baik ya”Rafli mengelus puncak kepala Marsha.

Marsha meraih lengan Rafli yang akan berjalan meninggalkannya, “jangan...”ucap Marsha lirih dengan nada yang penuh permohonan.
Rafli tersenyum kecil, ia berbalik kemudian memeluk Marsha kembali, “iya... gue gak pergi”bisiknya
Marsha membulatkan matanya, “beneran?”
Rafli menatap Marsha dan mengangguk pasti.
“Om Deva.... gimana?”
Seketika Rafli terdiam, entah apa yang ada di fikirannya sekarang.

***

Hari ini di kelas Agni dan teman-temannya entah kenapa tidak ada guru yang masuk satu orang pun, padahal Ulangan Tengah Semester akan segera di laksanakan. Di kelaspun terlihat lengang, benyak dari mereka keluar dari kelas yang terlihat hanya ada Bagas dan Cindai.
“ada masalah apa Agni sama Ify?”tanya Bagas.

Cindai menatap Bagas sekilas, “gak ada”ujarnya ia menyibukan diri dengan bukunya.
Bagas terlihat menghela nafas, “yaudah kalo gak mau cerita”

Cukup lama keduanya terdiam, sampai Bagas memulai pembicaraan kembali.
“kapan sepupu kamu itu pulang?”tanya Bagas
Cindai menghentikan tangannya yang sedang berkutat dengan pensil dan buku. Ia menatap Bagas dengan tatapan kosong, “tanya aja sendiri”ia menyibukkan kembali dengan bukunya.

Bagas tersenyum kecil, ia tau kalau kekasihnya itu sedang cemburu. Ia mengelus rambut yang terurai dengan lembut. “jangan marah dong”ia menatap Cindai begitu intens ia baru menyadari kalau gadisnya itu memiliki bulu mata yang lentik alami dan tatapannya begitu tajam. Ia terkekeh kecil.

Cindai mendelik, “apanya yang lucu?”desisnya kesal.
Melihat itu Bagas malah tertawa dan mengacak-acak rambut Cindai, “kamu lucu deh”

Cindai merengut, ia mengangkat tangan hendak memukul lengan Bagas. Namun dengan sigap Bagas menangkisnya. Ternyata berpacaran dengan karateka berguna juga baginya untuk melatih ke reflekan.
Cindai semakin cemberut, kesal juga di tangkis begitu gak bisa melampiaskan emosi.
“sakit sayang... mendingan ini aja”bisik Bagas kemudian menunjuk bibirnya. Cindai membulatkan matanya ia menggelitiki Bagas dengan kesal.
“dasar cowok! Kamu ketularan Cakka ya? ihhh”Cindai terus mengulurkan tangan menggelitiki Bagas.

Bagas terus berusaha menghindari Cindai, ia terus tertawa geli dan pada akhirnya ia meraih pinggang Cindai. Membuat keduanya berhadapan, keduanya saling berpandangan cukup lama.
“Cindai”panggil seseorang

Cindai dan Bagas dengan segera menjauh. Cindai melihat ke arah pintu, di sana ada Dayat. Ia merapihkan rambutnya yang agak acak-acakan kemudian menghampiri Dayat.
“ada apa kak?”ia tersenyum kaku.

Dayat tersenyum, “gak kok, cuma mau kasih tau aja nanti ada kumpulan”ia sesekali melirik Bagas yang menunduk dan nampak cemberut.
“oke”kata Cindai menyetujui.
“yaudah, kakak balik dulu ke kelas, dan... sorry ganggu”kata Dayat.
Cindai mengangguk, ia tersenyum malu, setelah itu Dayat kembali ke kelasnya dan Cindai kembali duduk di samping Bagas.

“cie yang cemburu”gurau Cindai.
Bagas tersenyum sinis, “udah tau ya? syukur deh”ia berlalu tanpa mengindahkan panggilan Cindai.

***

Rio menatap Ify yang duduk di taman belakang sekolah, terlihat Ify  sesekali menghela nafas panjang. Rio menghampiri gadisnya itu.
“jangan marah-marah gitu ah”ujar Rio, ia duduk di samping Ify menatap gadis itu dengan tatapan dalam.

Ify menghela nafas panjang, “kenapa sih Io' Cakka gitu banget? Apa sih salah aku? Kenapa kayaknya dia gak suka banget liat aku sama kamu?”ia membalas tatapan Rio dengan mata yang sendu.
Rio tersenyum tipis, ia menyampirkan rambut Ify ke belakang telinganya, “mungkin bukan gitu maksud Cakka, lagian ada tujuan apa coba dia mau buat kita jauh? Dia kan udah punya Agni”ia mengucapkan nama Agni dengan sedikit berat.
Ify menghela nafas panjang, “emang beneran ya Cakka jadian sama Agni? Mereka kayak gak pacaran”guman ify

Rio mengalihkan pandangan dari Ify, “udahlah jangan difikirin, yang penting aku sayang sama kamu dan kamu sayang sama aku”ia melirik Ify sekilas.

Ify tersenyum mendengar penuturan itu, ia menatap Rio mengelus pundak pemuda itu pelan.
“iya”ia sandarkan kepalanya di bahu Rio
“ulang tahun kamu gak di rayain Io'?”tanya Ify

Rio terkekeh, “aku bukan anak kecil sayang... dengan kamu tetep di samping aku itu udah kado yang indah dan sempurna banget buat aku”desis Rio, ia membisikan kata-kata itu begitu lembut dan mesra.
“makasih Hon

DEG!

Panggilan itu...
“jangan panggil aku Hon Fy, cari panggilan lain”ujar Rio spontan
Ify nampak berfikir, “yaudah, tapi aku panggilnya apa dong?”
Rio meraih tangan kanan Ify, “apapun terserah kamu, asal jangan itu”
Ify mengangguk mengerti. Rio mengecup pelan punggung tangan Ify.
Ify malah tertunduk malu menerimanya.

***

Agni keluar dari ruang gantinya, tadi ia memutuskan untuk berenang saja daripada harus di kelas. Tadi ia telah memastikan kalau gurunya hari ini benar-benar tidak ada.
Agni mengerutkan keningnya ketika melihat Cakka hanya menggunakan celana pendek yang ia tau itu memang khusus renang. Ia sedikit menahan nafas saat melihat dada bidang Cakka yang tidak di balut apapun dan bagian bagian laon yang  benar-benar membuat darahnya berdesir.
“ngapain pake celana gitu?”tanya Agni setelah ia sadar kembali, ia mulai merenggangkan ototnya, pemanasan.

Cakka berdiri di samping Agni, “kan mau ikutan”ia mengikuti pergerakkan Agni. Agni membiarkan Cakka mengikutinya, terlihat sesekali Cakka meliriknya dan Agni pun sesekali melirik Cakka.
“mau taruhan sama aku? Siapa yang sampe sini lagi duluan dia pemenangnya”tawar Cakka, kini mereka bersiap di pinggir kolam.
Agni mengerutkan dahinya,”apa imbalannya?”
“kalo aku menang kamu harus cium aku”guman Cakka
Agni memutar bola matanya, “itu sih maunya”
“takut ya?”goda Cakka.
“gak! yaudah yuk... pasti aku menang”kata Agni

Cakka dan Agni mulai bersiap, “siap... satu... dua... tiga”

CLUP

Keduanya masuk kedalam air bersamaan, keduanya terus saling memacu. Cakka terlihat sampai di seberang terlebih dahulu tapi entah kenapa ketika sampai di tempat semula Agni malah yang pertama sampai.
Agni tersenyum penuh kemenangan, ia menyandarkan dirinya ke dinding kolam sementara separuh badannya tetap ada di dalam. “hebatkan?”

Cakka duduk di pinggiran kolam, ia tersenyum nakal. “iya deh yang atlet”ia menundukan dirinya, membuatkan kepalanya sejajar dengan Agni. Agni menatap Cakka.

Pandangan keduanya beradu, terlihat Cakka mendekatkan kepalanya pada Agni, beberapa detik kemudian bibir keduanya menyatu.
“itu hadiah karena kamu menang”bisik Cakka.

 Tak lama setelah itu Agni menenggelamkan dirinya, malu.
Sementara Cakka terkekeh, lucu sekali gadisnya itu.
“Kka... tolong”

Cakka melihat ketengah kolam, terlihat Agni melambaikan tangannya. Ia hampir tenggelam dan Cakka segera menceburkan diri mencoba meraih Agni. Menyeret gadisnya itu ke pinggir.
“Ni, bangun”Cakka menepuk-nepuk popo Agni. Kemudian ia menekan dada Agni beberapa kali.
“Agni bangun”ujar Cakka
Cakka mengambil nafas panjang, ia berniat memberi nafas buatan, begitu jaraknya sudah dekat seseorang menahan Cakka untuk menghenrikan aksinya.
“Rio”

Rio menatap Cakka tajam ia mengambil alih Agni, mengangkatnya agar duduk membungkuk. Ia menepuk pelan punggung Agni.
“uhuk...”Agni menyemburkan air ke arah kolam. Ia mendongak lemas “Io' dingin”ujarnya

Cakka memberikan jubah handuk pada Rio dan membuarkan Rio memakaikannya pada Agni. Cakka terlihat memasuki ruang ganti.
“kamu kok bisa gini?”tanya Rio pada Agni yang ia sandarkan pada dada bagian kirinya.

“kram”ujar Agni masih lirih
“biar aku anter pulang ya”tawar Rio yang di gelengi oleh Agni, ia melirik Cakka yang keluar kamar ganti.
“Kka”ia menegakkan tubuhnya. Cakka menatap Agni agak dingin.
“anterin aku pulang”pinta Agni, ia menjauhkan lengan Rio dari perutnya.

Cakka mengangguk, “kamu ganti baju dulu ya”ia meraih tangan Agni membantunya berdiri. Agni menuruti permintaannya.

Rio menatap Agni dengan khawatir, sementara Cakka terlihat sedang mengeringkan rambutnya.
“sebaiknya loe perhatiin Ify deh, kalo di sekolah ada gue yang jaga Agni”ujar Cakka, ia melirik Rio dengan sinis.
“yaudah”Rio beranjak begitu saja dari tempat itu, enggan meneruskan perbincangan yang sepertinya akan berlanjut dengan perdebatan jika di ladeni.

***

Cindai terus berkeliling mencari keberadaan Bagas, tadi pemuda itu telah berjanji akan menunggunya pulang, tapi pemuda itu seperti hilang di telan bumi.
“dimana sih Gas? Di SMS gak di balas!”umpatnya cukup kesal. Akhirnya ia memutuskan untuk menuju parkiran dan tepat di bangku parkiran itu ia dapat melihat dua orang yang sedang bercengkrama. Salah satunya gadis, dia memeluk lengan pemuda itu begitu posesif, dia juga menyandarkan kepalanya di bahu pemuda itu.
Nafas Cindai nampak memburu, hatinya benar-benar di buat seakan ingin meledak.
“Bagas”panggil Cindai dengan nada yang di buat sebiasa mungkin.

Yang di panggil menengok dan tersenyum. Gadis yang ada di sampingnya itu otomatis menjauh dari Bagas.
“udah rapatnya?”tanya Bagas, ia berdiri menghampiri Cindai yang menatapnya dengan sendu.

Cindai sedikit memaksakan senyumannya, ia mengangguk kecil setelah itu mengalihkan pandangannya pada gadis tadi.
“ngapain kesini Chels?”tanya Cindai dengan senyuman yang ia sunggingkan.

Gadis itu, Chelsea. Ia membalas senyuman Cindai. “mau jemput kamu, kan setau aku kamu  gak bawa mobil”ujarnya
Cindai menghela nafas, ia melirik Bagas “aku pulang sama Chelsea ya?”pinta Cindai
Bagas merengut, “gak! kan udah janji mau sama aku”gumannya

Cindai mengalihkan pandangannya pada Chelsea “aku sama Bagas aja, sorry ya udah ngerepotin”kata Cindai dengan lembut
Chelsea mengangguk mengerti, “kalo gitu aku pulang dulu, bye”pamit Chelsea

Sepeninggal Chelsea Cindai dengan cuek berjalan ke arah mobil Bagas. Bagas mengikuti gadisnya itu kemudian membuka mobilnya.
Di dalam mobil Cindai lebih banyak diam, nampaknya gadis ini masih mencoba menetralisir kemarahannya. Bagas meraih tangan Cindai, menggenggamnya lembut. “ada apa?”tanyanya

Cindai tak bergeming, ia malas untuk berbicara. Bagas yang menyadari itupun melepaskan genggamannya itu kemudian fokus pada jalan raya.

***

Marsha merebahkan kembali badannya ke pembaringan, tangannya tak lepas menggenggam tangan pemuda yang mengikutinya sampai kembali ke rumah sakit, Rafli.
“jangan pergi lagi”pinta Marsha yang di angguki Rafli.

Rafli menarik selimut untuk menutupi tibuh Marsha, “istirahat dulu ya sayang? Pulihin lagi kondisi kamu”ujar Rafli dengan lembut.

Marsha mengangguk lemah, “jangan kemana-mana, temenin aku disini”
Rafli mengangguk pasti.

Sementara diluar sana ada yang menatap keduanya dengan tatapan yang berbeda.
“kalau saja saya gak punya janji sama Rafli, saya gak akan biarin ini terjadi”guman salah satunya yang tak lain Deva
Irshad hanya menanggapinya dengan senyuman, “mereka emang gak bisa di pisahin”ia mengalihkan pandangannya pada Deva, ia menepuk pundaknya pelan. “ikhlasin lah, gak baik nyimpen sakit hati lama-lama, kalau dulu aku gak di jodohin juga aku bak bakalan mau sama Gita”
Deva menatapnya sebentar kemudian menghela nafas panjang.

Sementara Marsha masih terjaga, ia terus menatap Rafli memastikan pemuda itu tak menghilang.
“kok malah liatin gitu? Tidur dong”kata Rafli, ia mengelus kening Marsha mencoba membuatnya terlelap.
Marsha menggeleng pelan, “aku gak mau, gimana kalo nanti kamu ngilang?”
Rafli terkekeh, “gak bakalan, aku janji gak bakalan ninggalin kamu deh”
Marsha mengangguk percaya, ia pun mencoba memejamkan matanya untuk sejenak melepaskan bebannya.
Rafli terlihat menghela nafas panjang, “aku bakalan lemah kalo tanpa kamu Sha, kamu itu separuh hidup aku”ia terus mengelus kening Marsha dengan ibu jarinya sampai gadis itu benar-benar terlelap.

***

“Novi pulang”teriak Novi yang baru memasuki kediamannya bersama dengan Difa, tadi di depan ia melihat sebuah mobil yang bukan milik keluarganya ataupun milik Rio.
“kak...”teriak Novi lagi, ia mengalihkan pandangannya pada Difa “duduk dulu Dif, gue  ganti baju dulu”ia beranjak ke kamarnya.

Difa duduk di ruang tamu, hari ini ia akan mengerjakan tugas bersama. Ia mengambil ponselnya, mengetikan sesuatu disana.

Sementara di tempat lain Cakka dan Agni duduk berhadapan di halaman belakang  yang di tumbuhi banyak rumput teki. Cakka memangku gitar, mulai memetik senarnya satu persatu. Menjadikan sebuah instrumen lagu My Heart.
Agni menatap Cakka, ia mengulum senyumannya terus menerus, entah kenapa ia merasa sangat bahagia dengan pemuda itu.
“bagus Kka, lagi dong”pinta Agni, ia menatap Cakka dengan tatapan memohon.

Namun  baru saja Cakka ingin memetik gitarnya ponselnya bergetar.

Lagi di rumah kak Agni ya?

Cakka mengerutkan keningnya, darimana adiknya itu tau?

Iya, kenapa? Jangan lapor Mama!

Agni menatap Cakka yang nampak serius dengan ponselnya.
“ada apa sih Kka? Serius banget”

Cakka menyimpan ponselnya, ia kembali memetik gitar itu. Sambil menatap Agni yang nampak cemberut.
“cuma Difa sayang, jangan marah dong”ia mengulurkan tangannya mengelus rambut Agni.

Agni menatap Cakka penuh selidik, “beneran?”ia memicingkan matanya curiga.

“kak Agni, kok ada kak Cakka?”tanya Novi yang baru saja keluar dari rumah bersama Difa di belakangnya. Rencananya Novi mau mengerjakan tugas itu di belakang rumahnya ini yang memang sangat sejuk. Cocok untuk mengerjakan soal serumit Matematika. Keduanya duduk di dekat Cakka dan Agni.

Cakka melongos, pantesan Difa tau.
“masih kecil! Jangan pacaran deh”ujar Cakka.

Difa menatap Cakka tak suka, “emang siapa yang pacaran? Kan kakak! Difa cuma mau ngerjain tugas kok :P”ia mengalihkan pandangannya pada Novi yang mulai membuka bukunya.

Agni terkekeh melihat ekspresi Cakka yang sangat lucu itu, ia tau kalau pemuda itu paling tidak suka sama yang namanya di ganggu!
“jangan cemberut gitu ahh, jelek tau”ledek Agni sambil mencolek dagu Cakka menggoda.

Cakka tersenyum kecil, “genit juga ya kamu”
Agni membulatkan matanya, “genit? Enak aja!”
“emang, Agni genit, Agni genit”Cakka terus menggoda Agni dengan memelet-meletkan lidahnya.
“Cakkaaaaaaaaaaa............”dengan gemas Agni memukuli Cakka.

“aduh STOP!”teriak Novi dengan suara yang sangat melengking, saking kencangnya membuat Difa menutup kupingnya dan Cakka Agni pun otomatis menutup telinganya pengang.

“Novi, kenapa?”tanya Gabriel, ia terlihat berjalan cepat setelah mendengar teriakan Novi yang terdengar sampai ruangan depan padahal itu lumayan jauh.
“lho... nak Cakka?”

Cakka tersenyum sedikit mengangguk, “lagi nganter Difa belajar bareng om”ucapnya
Difa membulatkan matanya berniat membantah, namun segera di pelototi oleh Cakka dan membuatnya mau tidak mau harus bungkam.

Gabriel tersenyum, “yaudah”ia berjalan menjauhi ke empatnya.

Cakka menghembuskan nafas lega, namun Gabriel terlihat berbalik yang membuat Cakka menelan ludah dengan sukar. ‘ada apa lagi sih?’batinnya.
“Agni, kata Mama Zeva nanti  kamu ke sana”pesan Gabriel setelah itu kembali memasuki rumahnya.

Cakka menatap Agni meminta penjelasan, “khm...aku belum tau Kka, jangan liatin aku gitu dong”ujar Agni yang mendapat anggukan dari Cakka.
Agni tersenyum melihatnya, ini yang paling ia suka dari Cakka. Tidak banyak bertanya!

***

Jam delapan Agni memasuki kediaman Rio, tadi dia naik taksi karena mobilnya di bawa Rio.
“Agni, sini”panggil Zevana dari pintu yang lain.

Agni mengerutkan keningnya, “kok disini Ma?”
Zevana tersenyum, “kan kita mau buat kejutan sama Rio, dan kamu jangan lewat depan biar Rio gak tau kemu disini”mereka kini berjalan memasuki rumah dengan mengendap-endap. Untung tadi Patton dan Gilang sudah di tugaskan untuk mengalihkan perhatian Rio.
“kamu diem dulu di kamar ini ya”Zevana dan Agni memasuki sebuah kamar tepat di samping kamar Rio.

Agni mengangguk patuh, “ini kan ulang tahun Rio yang ke enam belas, dan sekarang Rio udah punya kamu jadi harus rayain bareng kamu, nah rencananya pas dia seventeen mau di rayain dan ngasih tau ke semua orang kalo kalian udah tunangan”jelas Zevana
Agni mengangguk lemah, sebenarnya ia bingung harus seperti apa menghadapinya.

Sementara di ruang keluarga Rio merasa ada yang aneh dengan Papa dan adiknya itu, karena kalau ia mau menengok ke arah tangga ia selalu di cegah, selalu saja ada alasannya.
“kalian kenapa sih? Aneh gitu”komentar Rio

“gapapa, Gilang tidur dulu ah... night Pa, kak”pamit Gilang, ia berlalu menuju kamarnya. Sebenarnya ia telah menahan kantuk sejak tadi, namun ia harus menahannya sampai ia telah melihat Agni memasuki lantai atas dengan aman, ia pun memutuskan untuk ke kamarnya.

Rio berdiri, “aku juga mau tidur ah Pa”ia beranjak dari ruangan itu menuju kamarnya.

“kok Agni gak ada SMS ya?”ia menatap ponselnya begitu ia membaringkan tubuhnya ke tempat tidur.
Ia menekan tombol hijau pada kontak ponsel Agni.
“tuuuttt.... tuuuuttt.... tut tut tut”

Rio mengerutkan keningnya, “kok di reject?”ia yang tak mau mengambil pusingpun malah menyimpan ponselnya di meja kecil samping tempat tidur. Kemudian ia meraih laptopnya.

Rio tersenyum begitu melihat sebuah status.
FyoSaufika menunggu jam dua belas :)

Namun merengut begitu melihat status lain.
AgSafanah  bosan dengan ke adaan!

Tak meu menaggapi keduanya dengan pusing ia malah menutup kembali akunnya dan menyimpan laptop itu kembali. Kemudian menarik selimut untuk berlabuh ke alam mimpi.

***

Agni keluar dari kamar dengan mengendap, kemudian memastikan sekeliling aman. Ia pun berjinjit menuju ke arah dapur dimana Patton,  Zevana, Gilang telah menunggunya.
“udah siap?”tanya Zevana

Agni mengangguk, ia berjalan bersamaan dengan ke tiganya menuju kamar Rio.

CLEK

Ketiganya memasuki kamar Rio, “biar Agni yang bangunin”bisik Agni pada Zevana.
Agni berjalan perlahan, kemudian duduk di samping Rio.
“happy birthday Hon” bisik Agni

Rio menggeliat, ia perlahan membuka matanya.

TEK

Seketika lampu di ruangan itu terang karena saklar yang di tekan oleh Patton.
“Happy birthday”sorak ketiganya.

Rio tersenyum senang sambil mengerjabkan matanya masih belum siap dengan penerangan itu.

“Pa, matiin ah lampunya, masa pake lilin lampunya nyala, kan gak asik”protes Gilang pada Patton.

Patton pun menuruti apa kata putranya itu karena memang masuk akal juga.
Zevana mendekati Rio, “make a wish dulu, terus tiup lilinnya”

Rio nampak memejamkan matanya, Agni menatap Rio penasaran dengan apa yang Rio inginkan.
Rio membuka matanya, “fuhh”ia meniup lilin itu kemudian tersenyum ke arah ke empat orang yang ada di sana.

“kado nya mana?”tanya Rio berharap

Keempatnya saling berpandangan, “udah gede juga masih aja ngarepin kado”ujar Patton, ia sedikit terkekeh melihat Rio yang cemberut “tenang aja, Papa udah buatin rumah buat di tempatin sama kamu dan Agni”
“bener?”tanya Rio

Patton mengangguk pasti, “ini kunci rumahnya dan ini alamatnya”ia memberikan itu pada Rio
“yaudah, potong kue nya besok aja ya? kan malem-malem gini gak enak makan kue”kata Zevana, ia berdiri kemudian berlalu dari kamar Rio.

“yaudah, Gilang tidur lagi ah, daa semua”Gilang pun menghilang di balik tikungan pintu.

Rio menatap Patton, “ngapain Papa masih disini?”tanya Rio curiga
“liat kalian”jawabnya cuek

“keluar lah Pa, Rio mau ngomong bentar sama Agni”pinta Rio, yang akhirnya di kabulkan oleh Patton “jangan macem-macem”perintahnya, ia menarik sedikit pintu agar tidak terlalu terbuka.

Ponsel Rio terlihat berkedip-kedip.
“Ify Io'”kata Agni sambil meraih ponsel itu.

Rio tersenyum, ia mengambil ponselnya dari tangan Agni

“happy birthday sayang”

“makasih Fy, kamu belum tidur”

“belum, kan takut malah gak bangun lagi”

Rio terkekeh, “yaudah tidur lagi gih, aku gak mau kamu sakit”

“iya, dah Io' night”

“night too” Rio meletak kan ponselnya kembali setelah berkata itu, ia mengalihkan pandangannya pada Agni.
“mana kado dari kamu?”tagih Rio

Agni memotar bola matanya, “minta aja sama Ify, ngapain sama aku?”
Rio mengerling jahil, “cie yang cemburu”Rio menggelitiki badan Agni dengan sadis.
“Rio stop Rio geli”kata Agni sambil tak henti menahan tawa.

Rio menghentikan menggelitiki Agni setelah gadis itu ada di bawahnya, “oke”desisnya
Agni tersenyum, “make a wish apa tadi?”tanya Agni ia bangkit yang membuat Rio sedikit menyingkir.
Rio menarik Agni kembali hingga ia kembali terlentang di tempat tidur.
“Io'”ucap Agni

Rio tersenyum misterius, “aku... mau...”ia mengecup kening Agni, kemudian turun ke mata sebelah kanan, kemudian kiri lalu ke hidung.
Agni membuka matanya, menatap Rio yang menatapnya juga. Rio memiringkan wajahnya tepat di hadapan Agni, dekat... Agni memejamkan matanya kembali.
Sampai Agni merasakan sesuatu yang basah dan dingin menyentuh bibirnya. Kemudian turun dan turun sampai Agni menggeliatkan tubuhnya.


To Be Continue...

No comments:

Post a Comment