Rio masih
menatap takjub kertas yang di genggamnya, “Ma? Ini serius? Jangan becanda! Gak
lucu tau”ia tertawa hambar.
Zevana
menatap Rio dengan pandangan aneh, “serius kok, baca aja lagi yang teliti”
Rio membaca
ulang kertas itu, tak ada yang berubah tetap saja POSITIVE. Ia mengalihkan
pandangannya sama Agni, “ini...”ia menghela nafas panjang, “ini serius Ni?”
Agni
mengangguk semangat, “iya dong, kenapa emangnya?”
“aku gak
suka anak kecil”guman Rio
Agni
mengerutkan keningnya, “kok gitu? Aku suka Io' sama anak kecil”
“udah deh
Io' terima aja kenapa?”guman Patton
“pokoknya
Rio gak mau”tegas Rio
“kamu kok
gitu sih Io'? jahat banget! TEGA tau gak”ucap Agni, ia cemberut melihat reaksi
Rio tentang ini.
“aku gak mau
Ni, kamu ngerti dong”kata Rio lagi masih dengan nada tegasnya.
Agni
menunduk, “Rio resek!”umpatnya
“udah-udah,
kamu ribet banget Io'”guman Zevana
“ribet
gimana? Pokonya Rio gak mau”ucap Rio. Ia mengacak rambutnya frustasi,
“MAMAAAAA.... RIO GAK MAU PUNYA ADEK LAGI!”teriak Rio dengan kesal.
***
Matahari mulai muncul, menandakan pagi telah datang kembali dan
mengajak setiap anak adam untuk beraktifitas.
Agni merapihkan seragamnya di depan cermin,
setelah sakit yang melandanya kemarin hari ini ia memutuskan untuk sekolah karena
ia merasa lebih baik.
“non sarapan
dulu”ucap Pembantu rumah Agni.
“iya
Bi”beriringan dengan sautannya, Agnipun dengan segera menuju meja makan.
Agni duduk
berdampingan dengan Novi, ia melirik adiknya yang sibuk memainkan ponsel.
“sarapan
dulu, jangan mainin hape terus”ucap Agni sambil mengoleskan selai pada rotinya.
Novi
mengangguk, akhirnya ia menyantap rotinya.
“hari ini
Novi bareng sama Difa ya kak? Nanti sore ada les bareng Difa juga, jadi kakak
gak perlu suruh jemput Novi sama Pak Ujang”
Agni menyantap
sarapannya, “yaudah, kalo ada apa-apa SMS aja ya?”
Novi
mengangguk lagi, kali ini lebih semangat dari yang tadi “oiya tadi ada kak Rio SMS
ke Novi katanya jangan lupa sarapan, dan minum obat jangan sampe maag nya kambuh
lagi”
Agni tersenyum
kecil, “bilang sama kak Rio, jangan bawel”
Novi mengacungkan
jempolnya, “siip. Eh... kayaknya udah ada yang masuk gerbang, Novi berangkat ya
kak”ia mencium pipi Agni beberapa saat.
Agni
menggeleng pelan, kalau tidak ada Gabriel mereka pasti akur, gak pernah ada
acara berantem. tapi entah kenapa kalau ada Gabriel keduanya selalu saja ribut,
masalah sekecil apapun pasti jadi heboh.
“Agni”panggil
seseorang
Agni
berbalik, “Alvin, ngapain kesini?”ia berdiri, meraih tasnya.
Alvin
tersenyum ia menaruh sebuah kotak agak besar di atas meja makan, “ini oleh-oleh
kesukaan kamu, aku baru pulang dari Jerman”
Agni
tersenyum kaku, “oh thanks. Gue duluan ya udah di tungguin tuh”Agni menunjuk
Cakka yang berdiri di ambang pintu utama.
Alvin
tersenyum miring, “kalo aku gak sibuk, kapan-kapan aku main kesini”ucap Alvin,
setelah itu berlalu.
Agni
berbalik lagi ke meja makan membawa bungkusan yang di bawa Alvin tadi. Cakka
menatapnya penuh tanya, “mau dibawa kemana?”tanyanya
“buat temen-temen”guman
Agni, ia menatap Cakka yang masih mematung di ambang pintu “ngapain masih diem?
Ayo berangkat”
Cakka
mengangguk mengerti.
Mereka
berdua memasuki mobil sport milik Cakka, “ngapain dia kesini?”tanya Cakka
dengan nada dingin.
“ngasih itu
tuh”jawab Agni, ia tak menyadari kedinginan dalam nada bicara Cakka.
“aku gak
suka kamu ada urusan lagi sama dia”guman Cakka
Agni
mengerutkan keningnya, “kenapa?”
Cakka
menatap Agni sekilas dengan tatapan tajam, “gak cukup aku sama Rio?”
Agni
terdiam, ia menatap Cakka tak percaya, bukannya ini keputusan dia ya?
seharusnya nerima dan gak usah ungkit-ungkit.
“terserah
apa kata kamu aja deh, aku males ribut”ujar Agni, ia mengalihkan pandangannya
ke arah jendela, tak berminat melanjutakan perbincangan.
Tak lama
kemudian mereka sudah sampai di parkiran sekolah. Tanpa pamit terlebih dahulu
Agni keluar meninggalkan Cakka yang mesih di dalam mobilnya.
“sebenernya
siapa sih yang salah? Gue? Atau mereka?” Cakka memukul stirnya, “argh”erangnya,
ia menelungkupkan wajahnya di stir itu.
***
Agni
membanting tas ke atas mejanya, dan menyimpan kotak dari Alvin tadi di depan
Ify dan Cindai.
Setelah itu
Agni menelungkupkan wajahnya pada tas yang di banting tadi.
Ify, Cindai
dan Marsha menatap Agni dengan pandangan penuh tanya, “ada masalah apa
lagi?”tanya Ify
Agni
menggeleng, ia masih gak mengangkat wajahnya.
Cindai
menghela nafas, “cerita dong, kali aja kita bisa bantu”
Marsha
mengelus punggung Agni, mencoba menyalurkan energi positive untuk sahabatnya
itu.
“yang sabar
Ni”
Agni
mengangkat wajahnya, “kalian emang yang paling ngerti gue, makasih
ya”keempatnya berpelukan meski terhalang kursi dan meja.
“sekarang
udha maua cerita?”tanya Cindai
Agni
mengangguk dan menceritakan kejadian saat ada Alvin datang kerumahnya sampai
insiden yang ada di dalam mobil tanpa menceritakan yang menyangkut Rio,
tentunya.
“jadi loe
marahan sama Cakka?”tanya Ify
Agni
mengangguk lesu, “gue gak tau kalo dia bisa berubah jadi mahkluk yang sangat
posesif”
“pantesan
aja kemarin kalian kissing ya... taunya udah jadian”guman Cindai
Marsha tersenyum,
“udah ah jangan mellow... mendingan makan coklatnya Ni, kayaknya enak
tuh”tunjuk Marsha pada kotak tadi yang isinya memang coklat putih, kesukaan
Agni.
Agni tertawa
renyah, “yaudah, makan gih”
Sementara
Cindai dan Ify menggeleng-gelengkan kepalanya, sahabatnya yang satu ini memang
maniak coklat, lebih maniak dari Agni.
***
Cindai dan
Bagas berada di ruang kesenian, keduanya duduk di depan sebuah grand piano
hitam.
“ajarin
ya”pinta Cindai
Bagas tersenyum,
“liat ya”
Bagas mulai
memainkan tuts pianonya dengan perlahan.
Cindai
tersenyum, “bagus, aku coba ya”
Bagas tak
memperhatikan permainan Cindai, ia malah menatap gadisnya ini yang entah kenapa
sejak beberapa hari ini ia terlihat kalem, gak sebawel biasanya.
“Bagas...
abis ini gimana? Aku lupa”ujar Cindai, ia fokus dengan permainannya.
“Bagas”Cindai
berbalik dan mendapati kekasihnya menatapnya dengan pandangan yang sangat
dalam, ia menunduk malu. “jangan liatin dong”gumannya.
Bagas
terkekeh melihat reaksi Cindai, “lucu deh kamu”
“lucu? Emang
aku badut? Ihh”Cindai memukul pelan lengan Bagas.
“aw, sakit
sayang”ringis Bagas, ia memegangi lengannya.
“ihh manja,
orang gak keras kok sakit?”guman Cindai.
“yaiyalah
gak keras menurut kamu, kamukan karateka”tegas Bagas.
Cindai
memamerkan deretan gigi rapihnya, benar juga apa kata Bagas. Pelan buat ukuran
karateka seperti dirinya emang bisa dibilang keras buat orang lain. “maaf
sayang”
Bagas tak
mengindahkannya.
Cindai
menarik lengan baju Bagas, “maafin dong”pinta Cindai memelas.
Bagas
menatap Cindai, ia mengangguk. Ia paling gak bisa melihat seseorang memelas
padanya, “tapi...”Bagas menunjuk pipi kanannya
Cindai
mengerutkan keningnya, “gak mau”ia bergerak membelakangi Bagas.
“yaudah, gak
jadi deh maafinnya”ucap Bagas acuh, ia malah memainkan tuts pianonya lagi.
“Agni aja
yang dicium Cakka di bibir biasa aja tuh kemaren”gumannya
Wajah Cindai
seketika memerah mengingat kejadian kemarin, ia membayangkan betapa malunya
dirinya kalo ada di posisi Agni.
“ihh...
Bagas”
“apa?”Bagas
menatap Cindai yang kembali menatapnya.
Cup
Cindai
mengecup pelan pipi kiri Bagas setelah itu berlari menjauh meninggalkan Bagas.
Bagas
menggeleng pelan, bibirnya tersenyum simpul.
“Cindai
Cindai”
***
Agni
memutuskan untuk tidak pergi kemanapun, ia begitu penat dengan segala
pikirannya, begitu membingungkan.
Cakka duduk
di samping Agni, “maaf”
Agni menatap
Cakka sekilas, “buat apa?”tanya Agni begitu dingin
Cakka meraih
sebelah tangan Agni,“udah ungkit-ungkit masalah itu, maaf... aku janji kalo
kita berdua aku gak bakalan bahas Rio atau siapapun”ia menatap Agni mencoba
mayakinkan gadisnya itu
Agni menarik
tangannya, “aku gak suka cowok posesif Kka”
Cakka tak
membiarkan Agni menghilang dari pandangannya, “maaf”
Agni
berdiri, ia beranjak namun ketika ia mencapai pintu ia merasakan Cakka
memeluknya erat.
“lepas Kka”
Cakka tak
bergeming, “maaf”Cakka membalikkan tubuh Agni
“maafin
aku”guman Cakka lagi
Agni
menghela nafas, ia mengangguk pelan. Cakka memeluk Agni begitu melihat anggukan
itu, “makasih”
Agni
mengangguk lagi dalam dekapan Cakka, tanpa ia sengaja ia melihat Rio yang
merebahkan kepalanya di pangkuan Ify dengan tangan yang begitu erat
menggenggam. Perlahan ia membalas pelukan Cakka.
Cakka
merenggangkan pelukkannya, perlahan ia menjauhkan Agni namun Agni memeluk Cakka
begitu erat. Cakka mengelus rambut Agni pelan, “aku sayang kamu”
Agni tak
merespon, Cakka mengedarkan pandangannya menatap satu objek yang mungkin yang
membuat Agni seperti ini. ia melepaskan pelukkan Agni dengan paksa.
“Kka,
kenapa?”tanya Agni
“pasti
gara-gara dia kan kamu lemah gini?”tunjuk Cakka pada objek penglihatan Agni
tadi.
Agni
menggeleng kuat-kuat, “bukan”ia mencengkram tangan Cakka yang hendak berlalu.
Namun Cakka menghempaskan genggaman Agni.
“CAKKA”teriak
Agni mencoba menahan pemuda itu. Terlambat!
***
Ify menatap
Rio yang bermain basket begitu semangat, namun terlihat sekali kalau wajahnya
murung, tidak seceria seperti biasanya. Ia berjalan ke arah Rio, menarik pemuda
itu ke pinggir lapangan.
“apa
Fy?”tanya Rio, terlihat sekali nafasnya memburu kelelahan.
Ify mengusap
peluh Rio dengan tissu yang sengaja ia bawa, “kamu kecapean, jangan main terus”
Rio
mengacak-acak rambut Ify, “gapapa kok, makasih ya”
Ify
mengangguk pasti, “kalo ada masalah cerita dong Hon”
Rio
menajamkan pandangannya, kaget “manggil apa tadi?”
“Hon, kenapa emangnya? Gak suka?”Ify
merengut
Rio
terkekeh, “suka kok, jangan cemberut gitu dong”
Ify
tersenyum kembali, “oiya, keliatannya kamu lagi ada masalah, kenapa?”
Rio menghela
nafas, “aku mau punya adek lagi”
“terus?
Masalahnya dimana?”tanya Ify heran
“aku bete
aja kalo ada anak kecil, nyusahin tau”curhat Rio sambil membayangkan kejadian
dulu ketika ia masih kecil dan harus mengurus Gilang yang bandel banget.
Ify mengelus
pipi Rio, kemudian merapihkan rambutnya yang acak-acakan.
“gak seburuk
itu kok, percaya deh sama aku”
Rio
mengangguk, bukannya setelah itu menatap Ify. Rio malah menatap ke arah lain,
melihat ke arah kelas. ‘sial’ umpatnya
dalam hati, ia sangat menyesal melihat ke arah pintu, bagaimana tidak? Ia
melihat ‘tunangannya’ yang sedang di peluk begitu posesif oleh seorang pemuda.
Tapi kenapa pandangannya tidak berubah masih saja melihat ke arah pintu itu
sampai Ify menepuk pundaknya.
“liatin
siapa?”tanya Ify
Rio menatap
Ify, ia menggeleng pelan. “bukan siapa-siapa”ia merebahkan kepalanya di
pangkuan Ify, menggenggam begitu erat jemari Ify, seakan tak ingin
melepaskannya.
“jangan
tinggalin aku ya”ujar Rio
Ify
mengangguk pasti, “gak bakalan Io'”gumannya, seketika pandangannya terjatuh
pada jemari Rio. “cincin kamu gak di pake?”
Rio melihat
jarinya, “enggak, kenapa emang?”
Ify mengelus
rambut Rio, “aku pengen liat aja”
Rio
mengangguk-angguk mengerti. Dalam hatinya ia bersyukur kalau lupa memakai
cincinnya, kalau tidak? Berabe deh ya.
“CAKKA”teriak
Agni.
“sini
loe”Cakka tiba-tiba datang dan menyeret Rio pergi.
Ify menatap
keduanya bingung, setelah itu ia melihat ke arah dari tempat Cakka datang dan
Agni disana! Ia berjalan memasuki kelasnya mengejar Agni yang telah hilang di
dalam sana.
Ify duduk di
sebelah Agni, “ada masalah apa sama Rio?”tanya Ify curiga
Agni menatap
Ify takut, apa ini saatnya ia jujur?
“apa
Ni?”desak Ify
“Fy,
sebenernya... gue sama Rio itu...”
“Agni”teriak
Marsha memasuki kelas itu tiba-tiba.
Agni dan Ify
menatap Marsha kesal. “ngagetin loe”
“hehe... ini
ada suratnya lho Ni”ucap Marsha
Agni
mengerutkan keningnya, “surat? Dari mana?”
“dari coklat
loe, dari lavin mungkin”Marsha memberikan surat itu pada Agni
“thanks
Sha”ucap Agni beranjak,
“mau
kemana?”tanya Ify
“kebelakang
bentar”jawab Agni
Ify
mengangguk mengerti, membiarkan Agni sendiri dulu.
***
Cakka
menghempaskan tubuh Rio ke tembok belakang sekolah, entah kenapa ia kesal pada
Rio. Bukannya seharusnya ia senang karena kedekatan Rio dengan Ify? Kalau Rio
dekat dengan Ify berarti frekuensi ia bersama Agni akan semakin besar.
“loe apaan
sih?”tanya Rio kesal.
“loe tuh
yang apa-apaan? udah tau tunangan loe satu sekolahan masih bisa ya loe
mesra-mesraan sama cewek lain?”ucap Cakka memburu.
Rio
tersenyum miring, “Masalah buat loe? Bukannya loe seneng ya?”
“HEH!”Cakka
mencengkram kerah baju Rio, “gue gak sepicik itu Rio!”
Rio
melepaskan cengkraman Cakka, “terus? Sebutan apa yang pantes sama cowok yang
ciuman sama tuangan orang?”desis Rio
BUGH
Rio
memegangi pipinya yang di hadiahi bogeman mentah Cakka. Cakka mendekati Rio
yang masih memegangi pipinya, ia mengangkat tangan hendak memukul pemuda di
hadapannya lagi.
“CAKKA
STOP!!!”Agni segera berlari ke arah Rio, “gapapa Io'?”tanyanya, Rio menggeleng.
Agni mengalihkan pandangannya pada Cakka, “apa-apaan sih Kka? Gak gini caranya
nyelesein masalah!”guman Agni, “pulang ya, biar aku obatin”kata Agni pada Rio.
Rio
mengangguk setelah itu mengikuti Agni yang menarik tangannya.
“argh....”Cakka
memukul tembok yang kasar hingga dari tangannya bercucuran darah.
***
Rafli
mengajak Marsha ke suatu tempat, ia merasa harus memperbaiki hubungannya dengan
Marsha.
“bagus
gak?”tanya Rafli
Marsha
mengedarkan pandangannya, tempat ini sungguh indah.
“bagus
banget Raf, indah, pemandangannya cantik”
Rafli
tersenyum senang, ia menarik Marsha agar duduk di atas rerumputan hijau di
sampingnya.
“tapi
cantikan loe kok Sha, gak ada yang ngalahin cantiknya loe”
Marsha
menyenggol Rafli, “gak usah gombal deh”ia menatap Rafli, mencoba membaca jalan
pikirannya yang entah kenapa Rafli selalu bisa membloknya.
“heran ya
gue bisa blok pikiran gue dari loe?”tanya Rafli
“penting
gitu baca pikiran loe? Gak lagi”ungkap Marsha agak kesal.
Rafli
mengerlingkan matanya, “beneran nih? Gak penasaran?”godanya
Marsha
memutar bola matanya, “gak penting”
Rafli
menghela nafas, kemudian terdiam.
‘tumben gak godain terus’batin Marsha
Mereka larut
dalam pikirannya masing-masing. Hingga Rafli mengawali pembicaraan.
“Sha, gue suka
sama loe, loe percaya gak?”ujar Rafli
Marsha
menatap Rafli, “percaya lah, guekan baik hati, sabar, gak sombong, rajin
menabung, cantik, manis, lucu”
Rafli
terkekeh, “gue serius Sha”
“gue juga
serius, loe emang suka gue kan?”Marsha menunjukkan ekspresi seriusnya
“iya, bukan
cuma suka, gue sayang banget sama loe”guman Rafli, “loe mau gak jadi cewek
gue?”tanya Rafli.
Marsha
mengerutkan keningnya, “tunggu tunggu, loe serius apa becanda sih?”ia menatap
Rafli
Rafli
menghela nafas, ia menggaruk tengkuknya yang tak gatal, ia kesal juga sama
gadis di depannya ini. “ya serius lah Marsha”ucapnya dengan gemas
“yaudah”
“yaudah
apa?”tanya Rafli
“kita
pacaran”jawab Marsha cuek
“beneran?”tanya
Rafli memastikan
“yaiyalah,
udah ah pulang yuk udah sore”Marsha berdiri
Rafli
mengangguk, “sorry ya gue gak romantis”
“ya... gue
udah maklum la kalo loe gak romantis”Marsha merubah ekspresi wajahnya menjadi
seperti berbunga-bunga, “ahhh coba gue punya cowok yang kayak Bagas, udah
pendiem, romantis lagi... aaaaa.... jadi Cindai seneng kali ya?”guman Marsha
Rafli
cemberut, “yaudah pacaran aja sama Bagas, gue gak peduli”
“beneran?”
“tau
deh”Rafli menaiki motornya, Marsha naik ke pemboncengan.
“udah ah
jangan cemberut jelek”Marsha melingkarkan tangannya di perut ralfi.
Rafli
tersenyum simpul, “iya”
Di
perjalanan Marsha tak melepaskan pelukannya, mereka kadang tersenyum senang
dengan candaan Rafli, jadi begini ya rasanya pacaran?
Rafli dan
Marsha memasuki gerbang rumahnya, “makasih ya”kata Marsha
Rafli
mengangguk ia membuka helm facefull nya, “gue langsung pulang deh ya”
“RAFLI”teriak
seseorang dari depan rumah Marsha.
Rafli
menatap siapa yang memanggilnya, “Papa?”
“PULANG!
JAUHI ANAK INI”bentak Papanya, Deva.
“Pa, gak
bisa gitu dong...”
“DAN KAMU,
JAUHI ANAK SAYA”bentak Deva pada Marsha, setelah itu memasuki mobil mewahnya.
“RAFLI
PULANG SEKARANG”perintah Deva
Rafli
mengangguk patuh, “maaf Sha”Rafli memasang helmnya lagi setelah itu mengikuti
mobil Papanya.
***
Bagas dan
Cindai keluar secara bersamaan dari mobil itu, “gapapa nih pulang sore?”tanya
Bagas
Cindai
menggeleng lemah, “enggak, Mom gak bakalan marah kok kalo aku sama kamu”
Cindai
menarik tangan Bagas agar ikut masuk kedalam rumahnya.
“Cindai
pulang”
“Cindai”sapa
seorang gadis cantik yang baru turun dari lantai dua kediaman Cindai.
Gadis itu
berlari hingga berhadapan dengan Cindai, bukannya ia memeluk Cindai ia malah
memeluk Bagas yang berdiri di samping Cindai.
“Bagas, aku
kira gak bakalan bisa ketemu kamu”gumannya masih memeluk Bagas.
Bagas diam, ia
masih belum percaya dengan hadirnya gadis ini, kembali datang ke dalam
hidupnya. Ia mengeratkan genggaman tangan pada Cindai yang ia rasa ingin
melepaskan genggamannya itu.
“aku kangen
kamu”gadis tadi melepaskan pelukkannya pada Bagas
Bagas hanya
tersenyum kaku, “aku pulang dulu”pamit Bagas pada Cindai
Cindai
mengangguk.
Gadis itu
menahan tangan Bagas,“kok pulang?”tanya gadis itu.
Bagas
melepaskan genggaman gadis itu, ia mendekatkan wajahnya pada wajah Cindai namun
Cindai mendorong Bagas dengan halus, “yuk biar aku anter lagi sampe depan”ujar
Cindai
“Chelsea,
makan dulu yuk”ajak Dea yang datang dari arah dapur.
Gadis tadi,
Chelsea. mengangguk.
***
Ify memasuki
kediamannya dengan wajah yang lesu hari ini benar-benar melelahkan hatinya.
“Ify datang”sahut
Ify malas.
“Ify, sini
sayang”sahut Mama, Shilla.
Ify berjalan
ke ruang tamu, “lho, tante Sivia?”ujar Ify
Shilla
menatap Ify, “kamu kenal temen Mama ini?”
Ify
mengangguk, ia duduk di samping Shilla. “kenal, tante Sivia kan Mamanya Cakka,
temen Ify”
“wah
beneran?”tanya Shilla
Sivia
mengangguk, “iya, waktu aku dateng kesekolahan Cakka, Cakka ngenalin Ify”
Shilla
mengerling jahil “wah, dikenalin ya? deket dong sama Cakka?”goda Shilla
“ya deket
lah, orang Cakka temen sekelas”ujar Ify, entah kenapa ia jadi bersemengat
seperti ini
“Cakka cakep
gak Fy?”tanya Sivia
“banget
tante, malahan temen sekelas bahkan satu sekolahpun suka sama dia”jelas Ify
“kamu suka
dong”kata Sivia
“hah? Aku?
Enggak lah tant”jawab Ify
Sivia tersenyum,
“kapan-kapan main kerumah, biar tante kenalin sama adeknya Cakka”
Ify mengangguk,
“oke tante, oiya Ify ganti baju dulu deh ya”Ify berlalu setelah melihat
anggukan dari Sivia dan Shilla.
“Cakka anakmu
yang cakep itukan?”tanya Shilla
“ketiga anak
aku cakep kali”jawab Sivia
Shilla terkekeh,
“iyaya... kan cowok semua”gumannya
“boleh deh
satu jadi anak aku”pinta Shilla
Sivia tersenyum
menanggapinya, “besanan dong, haha”ia tertawa renyah
***
Cakka masih
terdiam di dalam mobil di halaman rumahnya, pikirannya benar-benar buntu
sekarang. Apa yang harus ia lakukan? Agni tidak membalas pesannya, telponnyapun
di abaikan begitu saja. Apa tadi ia keterlaluan?
Tuk tuk tuk
Seseorang mengetuk
kaca mobilnya, Cakka menurunkan kaca mobilnya, setelah itu menatap tak berkedip
orang yang ada di hadapannya
“Kay?”
To Be
Continue...
Sempet senyum-senyum
sendiri gara-gara liat komenan yg bilang Agni hamil, emang di dialognya ada
kata hasil pemeriksaan Agni ya? enggak kan? Hehe...
Saran kritik?
Boleh di sampaikan di Inbox. Ini buat yang minta kak Kay di adain di cerita ini
aku udah usahain dan akhirnya bisa nyempil juga, maaf ya kalo ngecewain...
Jangan lupa
tinggalkan jejak. :)
ka nenden kapan part 10nya dipos?
ReplyDeletebentar lagi UN yah... semoga sukses ya !!
nanti deh ya masih perbaikan, iya bentar lagi aku juga UN do'ain aja ya semoga sukses dan dapet nilai memuaskan :)
ReplyDelete