Friday, 29 March 2013

Cowok itu... #8


Novi membuka matanya dengan ogah-ogahan karena di pagi buta begini mendengar gemerincik air dari kamar mandi yang ada di kamar kakaknya.
“kak Agni ihh ganggu aja”rutuknya, ia berjalan menuju kamar sang kakak.
“kak Agni lagi ngapain pagi buta kini di WC?”tanya Novi sambil mengetuk-ngetuk pintu kamar mandi itu.

Clek

Agni membuka pintu. Novi menatap Agni intens namun seketika wajahnya menegang, “kak Agni sakit?”ia membimbing Agni menuju tempat tidur.

Agni mengurut pelipisnya, “gak tau, kakak pusing banget, mual gak jelas”

Novi menghela nafas, “kakak sakit. Biar Novi telponin kak Rio”Novi beranjak setelah menyelimuti tubuh Agni.

Tak perlu menunggu lama Novi kembali dengan Rio yang masih menggunakan piama.
“Ni”ujar Rio, ia meletakkan tangannya di kening Agni

Agni menggeliat, membuka matanya perlahan “pusing Io', mual banget”gumannya

Rio menggeleng pelan, ia mengelus pelipis Agni, “ganti baju dulu, biar aku anter ke rumah sakit”

Agni menatap dirinya, ternyata masih mengenakan gaun semalam. Ia ingat sekali kalo tadi malam ia langsung tidur karena merasa badannya gak enak. “gak mau, bentar lagi juga sembuh kok”ia mendudukkan dirinya.

Rio beranjak ke arah lemari Agni dan membawa piama serta jaket untuk Agni.
“kamu ganti baju dulu ya, Nov bantu kak Agni ya? kakak ambilin makanan dulu”Rio beranjak.
Ia menuju dapur membawa bubur yang sudah di siapkan koki rumah Agni. Tadi begitu Rio datang ia langsung membangunkan koki dan menyuruhnya masak.

“non Agni kenapa den?”tanya koki itu

Rio menggeleng, “gak tau, katanya pusing, mual Bi”ia menata nampannya dengan teliti, memastikan gak ada yang tertinggal. Setelah itu ia kembali ke kamar Agni.

Tok tok tok

“udah belum”kata Rio agak sedikit berteriak

Clek

Novi membuka kamar Agni, “udah”ia sedikit menguap. “Novi masih ngantuk, jagain kak Agni ya kak”ia beranjak menuju kamarnya.

Rio masuk ke kamar itu, menatap Agni yang terlihat telah terlelap kembali.
“makan dulu sayang”bisik Rio tepat di telinga Agni

Agni mengerjabkan matanya, “hm Io'”ia menggeser posisi agar Rio bisa duduk di tempat tidurnya.
“makan ya? biar aku suapin”Rio menyendok bubur itu.

Agni membuka mulutnya, mengunyah bubur itu tapi kemudian menutup mulutnya dan berlari ke kamar mandi.

Rio mengikuti Agni dari belakang, “kamu kenapa sih Ni?”ia memijat tengkuk Agni

“ugh... mual Io' gak enak bubur nya”Agni mencengkram westafel, mencoba menyeimbangkan tubuhnya yang limbung.

Rio mengangkat tubuh Agni yang sangat lemas,membawanya ke tempat tidur kembali “tidur aja kalo gitu”Rio menyelimuti tubuh Agni.

Agni mengangguk. Ia menatap Rio yang sesekali menguap. “tidur gih, kan nanti kamu sekolah”kata Agni

Rio menatap Agni, ia menggeleng. Rasa khawatirnya mengalahkan rasa kantuk yang ia rasa.
“aku jaga kamu aja”Rio mengelus rambut Agni

Agni terdiam, sebenarnya ia tidak tau bagaimana perasaan Rio padanya, apakah cuma sekedar takut kena marah Papanya atau benar-benar menyayangi Agni?

“kok ngelamun?”tanya Rio

Agni menggeleng, “kamunya tidur”

“entar kalo Mama udah dateng aku tidur”kata Rio

“Mama? Emang Mama kamu kasih tau juga?”tanya Agni heran

“Agni, kamu gapapa sayang?”tanya seorang wanita yang baru saja memasuki kamar itu.

“gapapa Ma, cuma pusing aja”Agni mencoba tersenyum.

Mama Rio, Zevana. Mengelus rambut Agni sayang. Semenjak Agni dan Rio bertunangan Zevana memang meminta Agni memanggilnya Mama, “udah makan?”

“tadi malah muntah Ma”jawab Rio, ia membaringkan tubuhnya di sofa kamar Agni

Zevana menggeleng “yaudah istirahat aja dulu, nanti siang biar tante panggilin dokter”

Agni mengangguk pelan, “maaf ya Agni ngerepotin”

“gak ngerepotin kok, tidur ya biar Mama temenin”Zevana tidur di sebelah kanan Agni.

***

Bel telah berbunyi Lima menit yang lalu tapi Agni belum kelihatan memasuki kelas itu. Cakka terlihat gusar.
“kenapa loe? Panik gitu kayaknya”ujar Rio

Cakka menatap Rio jengkel, ini anak gak ada khawatir-khawatirnya ya sama Agni? Padahal udah jelas gitu TUNANGAN? Cakka mendengus kesal. “Agni kemana?”tanya Cakka sebiasa mungkin.

Rio melirik bangku Agni setelah itu melirik Cakka, “sakit”

“sakit apa?”tanya Cakka panik

Rio mengangkat bahunya, “kenapa sih panik gitu?”

Cakka tak mengindahkan pertanyaan Rio, ia malah meraih ponselnya dan berkutat dengan benda itu hingga tak menyadari seorang guru telah memasuki kelas itu.

Sayang... katanya sakit ya? kok gak ngabarin aku?

:) aku gak mau kamu hawatir, Rio kasih tau kamu ya?

Iya, sakit apa sayang? Di rumah sama siapa?

Mau di periksa dulu, kamu belajar yang bener gih

Iya sayang, Love you :*

Love you too :*

“Cakka! Sedang apa kamu? Tolong perhatikan!”ucap Lintar

Cakka mengangguk, “maaf”

“nah, kalian buat tugas kelompok tadi secepatnya, paling lambat minggu depan. Yasudah sekarang buka bukunya halaman 34”

Tanpa terasa bel tanda istirahatpun terdengar.
“Kka, Agni kemana kok gak masuk?”tanya Marsha

“sakit”jawab Cakka tanpa menatap Marsha, ia sibuk merapihkan alat tulisnya.

“entar jengukin yuk”ajak Ify

“boleh, hey kalian ikut gak?”jawab dan ajak Cindai pada 4 orang pemuda yang sama-sama masih ada di dalam kelas.

“ngajak siapa loe? Ngajak kita apa cowok loe doang?”tanya Rafli bermaksud menggoda sepupunya itu.

Cindai cemberut, “apaan sih loe? Ya kalian semua lah”ia menunduk malu.

Rafli mengerlingkan matanya, “yakin loe? Entar kita ganggu gapapa nih?”

Mata Cindai membulat, tanda ia akan marah besar pada Rafli karena menggodanya terus.
“udah-udah, entar bareng-bareng aja”Bagas menengahi, setelah itu melempar Rafli dengan pesil yang ia pegang, “jangan godain dia terus”bela Bagas dengan nada dingin.

“gak niat banget loe belanya?”pancing Rafli

“jangan jadi kompor deh”guman Marsha, ia sibuk dengan buku-bukunya, kebetulan ia belum mengerjakan tugasnya.

Ify berjalan mendekati Rio, duduk di hadapan pemuda itu. “loe kenapa? Sakit ya?”tanyanya

Rio mendongakkan kepalanya, “ngantuk”ia menelungkupkan kembali kepalanya di atas tangan yang ia letakkan di bangku.

Ify mengelus kepala Rio dengan lembut, “loe tidur jam berapa semalem?”

“sepulang dari acara itu gue langsung tidur”guman Rio agak tak berminat untuk berbicara.

Ify menghela nafas, “entar jalan yuk”bisik Ify

Rio mendongakkan kepalanya lambat, “katanya mau jenguk Agni”

Ify tersenyum, “ya abis itulah”

Rio mengangguk, “kalo di ijinin ya, soalnya ada kalo ada Mama susah buat keluar”

Ify mengangguk mengerti, perasaan kenapa keadaan jadi berbalik gini? Dulu ia yang sulit jika ingin main, sekarang? Hhh sudahlah...

‘maaf Fy, gue harus jaga Agni’batin Rio

“aku baru tau lho kalo kamu anak ketua yayasan”guman Cindai saat Bagas duduk di sebelahnya.

Bagas tersenyum, “emang aku gak mirip ya sama Papi?”

Cindai memamerkan giginya dan menggeleng.
“enggak sedikitpun, cuma satu kemiripannya”

Bagas mengerutkan keningnya, “apa?”

Cindai tersenyum, “sama-sama pendiem”

Bagas mengacak-acak poni Cindai, “ada-ada aja kamu”

“huaaaa.... kapan ya gue di acak-acak poninya kayak Cindai?”rengek Marsha sambil menatap ke arah Cindai dan Bagas yang duduk di belakangnya.

Bagas terkekeh, ia mengangkat tangannya hendak mengacak-acak poni Marsha namun tangannya di tahan Rafli yang tiba-tiba duduk di samping Marsha, “jangan sentuh! Loe tuh bahaya”tegas Rafli

Marsha cemberut, “guekan pengen”

Rafli menatap Marsha, mencubit pipi gadis itu dengan gemas. “Bagas pacar temen loe gak nyadar banget loe”

Marsha memanyunkan bibirnya, “Rafli mah gitu...”

Cindai terkekeh melihat tingkah Rafli dan Marsha. “biarin aja lagi gue gak cemburu kok, Marsha kan sahabat gue, gak mungkin macem-macem di belakang gue”

“tuhkan? Cindai aja gak marah! Kok loe yang ribet?”Marsha membalas mencubit pipi Rafli

Tanpa mereka sadari dua orang yang berada di ruangan iru merasa tertohok dengan ucapan Cindai barusan, benar-benar mengena!

“itu sih bisa-bisanya Rafli aja Sha, dia tuh suka sama loe tapi gak bisa ngungkapin”ujar Bagas, ia sedang asik bertatapan dengan Cindai, memainkan rambut panjang Cindai.

“jail deh”Cindai mencubit perut Bagas karena menggosokkan rambutnya ke telinga Cindai.

Rafli melongos, “ngapain gue cemburu? Enggak!”

“dih siapa yang bilang cemburu? Atau loe emang cemburu?”Bagas menghadap Rafli menunjuk Rafli bermaksud menggodanya.

Rafli gelagapan, “heh? Apa? Ya... ya... enggaklah, gak penting”Rafli beranjak dari kursinya, berjalan keluar kelas.

Cindai terkikik, “dasar aneh”

***

Sepulang sekolah mereka ber tujuh ternyata benar-benar ke rumah Agni, Rio benar-benar berusaha menyembunyikan kegusarannya.
‘mudah-mudahan Mama gak ngacauin’batinnya.

Ify menatap Rio, kebetulan hari ini ia tidak membawa kendaraan jadilah ia ikut dengan mobil Rio.
“kenapa Io'?”tanya Ify

Rio tersenyum, “gapapa kok”

Ify mengangguk-angguk mengerti. Rio nampak terdiam, “kayaknya kamu jadi lebih pendiem, kenapa?”tanya Rio

Ify tersenyum, ternyata Rio tidak melupakannya. “gue cuma aneh aja, pas awal kenal yang adem ayem itu cuma kita, tapi kenapa malah Bagas Cindai duluan yang jadi? Gue kira bakalan kita yang jadian duluan”ujar Ify, ia menatap Rio dengan senyuman yang agak di paksakan.

Rio sedikit melirik ke arah Ify, “emang loe suka gitu sama gue?”

Ify melongos, “gak peka banget ya loe! Ihh”

Rio terkekeh, sejenak ia lupakan urusan Agni. “bukannya gue gak mau ya Fy sama loe, tapi ya... gue takut loe nantinya nyesel pernah jadi pacar gue”

Ify memutar badannya menjadi menghadap Rio, menatap pemuda yang sibuk mengendarai mobilnya.
“nyesel gimana? Mario... loe tuh bodoh atau pura-pura bodoh sih? Cewek mana coba yang bakalan nyesel pernah pacaran sama loe? Gak mungkin ada Io'”

Rio menghentikan mobilnya tepat di pekarangan rumah Agni, ia mengelus pipi Ify lembut. “loe yakin gak bakalan nyesel pacaran sama gue?”

Ify mengangguk pelan, entah ragu atau bagaimana.

Rio tersenyum, “yaudah kalo loe yakin, mau gak loe jadi cewek gue?”

Ify tersenyum cerah, ia mengangguk penuh kepastian.

Rio tersenyum, mengacak-acak rambut Ify setelah itu keluar dari mobilnya yang di ikuti oleh Ify.

***

Agni menatap ponselnya, melihat photo-photo dirinya dengan Rio yang Rio kirimkan dari ponselnya. Entah kenapa dalam hatinya selalu saja ada yang mengganjal, selalu ada hambatan untuk mencoba mencintai pemuda itu meski hanya sekedar untuk membahagiakan Papanya.

“Agni sayang, how are you? Loe gak parahkan sakitnya?”tanya Ify beruntun dan langsung duduk di tempat tidur Agni.

Agni tertawa melihat reaksi Ify, “lebay loe”ia mengalihkan pandangannya pada orang yang lain.
“hai semua”sapanya

“gimana keadaan loe? Baik?”tanya Bagas

Agni mengangguk, “thanks ya udah pada dateng, ecieee... pasangan baru udah nempel ya sekarang”goda Agni pada Cindai yang berdiri secara berdampingan.

“apaan sih loe Ni? Loe kapan nyusul?”tanya Cindai

Agni tertawa garing, “calonnya mana?”

Tiba-tiba Cakka mendekati Agni, duduk di sebelah kiri dan meraih jemari Agni, menggenggamnya erat.
“cie... tuh udah ada”goda Marsha

“apaan sih?”Agni menunduk sebentar setelah itu Agni menatap Cakka yang ada di sebelahnya, masih menggenggam tangannya. “kenapa Kka?”

Cakka menggeleng, ia tersenyum begitu tulus, “aku cuma khawatir aja liat kamu pucet gitu”

Agni mengerutkan keningnya, “kayaknya itu bukan jawaban deh”gumannya

Cakka menarik tangannya, tidak menggenggam lagi “loe sakit apa sih?”ia mengecek suhu tubuh Agni oleh punggung tangannya.

“yang pasti bukan sakit hati Kka, seorang Agni mana mungkin sakit hati”ujar Rafli, ia duduk di sofa.

Marsha melempar guling yang ia ambil dari kasur Agni pada Rafli, “gak usah nimbrung”perintahnya.

“udah Sha, biarin aja gak ada Rafli gak rame”bela Agni

“Ni, jawab kenapa?”ujar Cakka

“cuma pusing sama mual aja”jawab Agni singkat

“wah? Serius Ag? Jangan-jangan loe hamil”ujar Rafli berniat bergurau tapi malah membuat seseorang terdiam menghentikan aktifitasnya.

“hai... ini minumannya”kata Zevana dengan nampan di tangannya.

“lho tante? Ngapain disini?”tanya Bagas

Cindai menatap Bagas, seakan bertanta ‘siapa dia?’

“ini Mamanya Rio, tante Zevana”ucap Bagas

Ify tersenyum malu-malu ia mendekati Zevana.
“tante kenalin aku Ify, pacarnya Rio”Ify mengulurkan tangan.

Rio menepuk keningnya dengan takut ia melirik Agni dan Mamanya, ‘mampus gue, mau jawab apa coba kalo di tanya?’
Agni terlihat menunduk, sementara Cakka sudah duduk di sofa begitu Zevana memasuki ruangan itu.

Zevana melirik Rio sekilas, keningnya nampak bertaut namun sedetik kemudian ia tersenyum, “Zevana”
“tante, yang itu Marsha dan itu Cindai”tunjuk Ify pada Marsha dan Cindai keduanya berjabat tangan bergantian.

“yaudah tante keluar dulu ya, oiya Agni juga harus segera istirahat lagi”kata Zevana sebelum benar-benar berlalu.

Bagas dan Rafli menatap Rio curiga, “ngapain nyokap loe disini?”

Rio menggaruk tengkuknya yang tak gatal.

“tante ngerawat gue, soalnya dia tau kalo gue dirumah sendiri makannya dia bela-belain dateng”jelas Agni, mencoba mengeluarkan Rio dari kecanggungan itu.

Marsha duduk di sebelah Agni, menggantikan posisi Ify yang sekarang duduk di samping Rio.
“jujur sama gue loe ada hubungan apa sama Rio?”tanya Marsha berbisik

Agni mendongak, kaget dengan bisikan Marsha itu.
“gak ada”ia memalingkan wajahnya ke arah lain.

Marsha menghembuskan nafas, “kalo loe nganggep gue sahabat loe cerita, gue tau loe ada hubungan atau problem mungkin”

Agni menatap Marsha sekilas, ia menggeleng pelan. “loe sahabat baik gue Sha, tapi beneran deh gue gak ada apa-apa kok”

Marsha menghela nafas putus asa, “yaudah, tapi yang gue rasa kayaknya loe ada hubungan istimewa sama Rio”ia beranjak dari tempat tidur

“Raf, anterin gue balik yuk”ajak Marsha

Rafli mengangguk mengerti, “yuk, bye semua, bye Ag, cepet sembuh ya”pamit Rafli sebelum akhirnya berlalu dengan Marsha.

“Marsha marah ya Ni?”tanya Cindai

“gak tau”ia berdiri.

Rio memutar badannya mendengan suara seretan dari sandal Agni, “mau kemana?”

“hongkong, ya WC lah masa hongkong”Agni memasuki WC kamarnya dan menutup pintunya dengan perlahan.

Cakka menatap Rio dan Ify, mengintimidasi. Setelah cukup lama ia terdiam akhirnya ia ingin mengeluarkan unek-uneknya.
“sejak kapan kalian jadian?”tanya Cakka dengan nada tak bersahabat.

“tadi di mobil, emang kenapa?”jawab dan tanya Ify dengan ringan.

Cakka mendengus, ia segera tarik tangan Rio keluar dari kamar Agni.

“lepas, apaan sih?”kata Rio dengan keras.

Cakka berbalik, menunjuk Rio tepat di wajahnya “loe yang apaan hah?! Loe tuh serakah ya udah punya Agni masih aja loe embat Ify”

Rio menatap Cakka dengan aneh, “tau apa loe tentang gue sama Agni?”

Cakka mengambil sesuatu dari sakunya, “ini...”ia mengacungkan benda kecil, cincin. “cincin tunangan loe sama Agni”

Rio menatap tajam Cakka, “balikin! Darimana loe dapet itu?”

Cakka tersenyum sinis, “penting ya buat loe?”ia berlalu begitu saja.

Sementara di dalam kamar Cindai, Bagas dan Ify di selubungi banyak pertanyaan, terlalu mencurigakan kelakuan dua pemuda itu.
Tak lama Agni keluar dari kamar mandi, “Cakka sama Rio pulang?”tanya Agni

“lagi pada di luar”jawab Cindai

Tak lama Cakka memasuki kamar Agni, meraih tasnya kasar.
“Ni, baik-baik ya... aku pulang dulu”pamit Cakka, ia mendekati Agni mengecup bibir Agni hingga beberapa detik.

Cindai meneguk ludah sukar melihat kejadian itu, ia melirik Bagas yang juga bengong melihat adegan barusan.

Cakka beranjak dari kamar Agni, namun ketika ia berada di ambang pintu ia terhalangi oleh Rio yang mematung di tempat. Dengan sengaja Cakka menyenggol pundak Rio kencang hingga pemuda itu agak terhuyun.

“errr... Ni, kita pamit ya”ucap Cindai

Agni masih mematung, ia shock dengan perlakuan Cakka tadi yang menurutnya terlalu mengagetkan.

“Ni, kita pamit”kata Bagas

“eh, iya... ati-ati ya”pesan Agni

Rio memasuki kamar Agni, “Fy loe sama Cindai, Bagas ya pulangnya? Gue masih ada urusan disini”

Ify merengut, “tapi Io'...”

Rio berdecak, “terserah loe deh ya mau nurut apa engga!”ucap Rio agak membentak

Mata Ify agak berkaca-kaca, ia menghentakan kakinya kesal, meraih tas dengan kasar dan berlalu mengejar Bagas dan Cindai.

Rio menghela nafas setelah kepergian Ify, ia menutup pintu kamar agar bisa berbicara lebih serius dengan Agni tanpa ada yang mengganggunya.

Agni membaringkan dirinya di tempat tidur, “harusnya kamu gak kasar sama Ify, kan dia pacar kamu”ujar Agni sambil membenahi selimutnya, lebih tepatnya mengalihkan pandangan.

Rio duduk di samping Agni, “jangan bahas dia dulu”

“aku cuma kasih tau Io', kamu fikir enak Io' gak di pentingin kayak Ify gitu? Enggak! Apalagi yang Ify tau kita gak ada hubungan. Pasti dia sakit hati banget Io'”Agni memberanikan diri menatap Rio

“iya aku tau! Aku salah!”ucap Rio dengan beberapa penekanan emosi.

Keduanya cukup lama berdiam diri, “Ni, please biarin aku sayang sama kamu, jangan blok aku!”

“atas dasar apa kamu mau sayang sama aku? Jujur ya Io', sebenernya aku juga udah pacaran sama Cakka”kata Agni, setelah mengatakan itu ia menghembuskan nafas panjang.

Rio menatap Agni tak percaya, “pantesan”Rio mengeluarkan cincin yang diberikan Cakka tadi dari saku celananya.

“itu punya gue”Agni merebut cincin itu.

Rio tersenyum kecut, “gue? Gue lagi ya Ni? Lupa sesuatu?”

Agni meringis, “maaf”

Rio menghela nafas, pikirannya benar-benar buntu sekarang. Ia mengacak-acak rambutnya frustasi.
“gue lakuin ini cuma buat satu hal Ni, gue mau orang tua gue nyatu lagi! Gue gak mau mereka pisah! Dan cuma dengan ini Papa mau balikan lagi sama Mama, cuma dengan cara ini Papa nurutin kemauan gue...”guman Rio penuh dengan keputus asaan.
“kalo sampe kita udahan, gue gak tau bakalan gimana lagi hidup gue”lanjut Rio

Agni membangunkan dirinya, menarik Rio kedalam pelukannya. “maaf Io', aku gak tau”

Rio mengangkat wajahnya, “maaf aku kasar lagi”

Agni mengangguk, komitmen awal mereka memang menghilangkan loe-gue yang murni dari permintaan orang tua mereka dan merekapun menyetujuinya tanpa ada paksaan.

“sekarang hubungan kita gimana?”tanya Rio

Agni tersenyum, “kita jalanin aja, tanpa ada yang di sakiti Io' dan satu lagi, aku minta kamu simpen cincin itu kalo ke sekolah”

Rio mengangguk mengerti, ia menatap Agni jahil, “tapi... kalo aku lagi mesra-mesraan nih ya misalnya, kira-kira cemburu gak?”goda Rio

Agni membulatkan matanta, memukul lengan Rio pelan. “enggak! Apaan sih kamu”

***

Begitu pulang dari kediaman Agni, Ify langsung mengurung diri di kamar. Seumur-umur ia baru merasakan di bentak oleh seseorang yang ia suka. Ia sungguh sakit hati dengan perlakuan Rio padanya.

Ia rasa ponselnya berdering.

“hallo? Fy, maaf tadi aku kasar, maaf banget aku lagi banyak fikiran... maaf ya maaf banget aku gak bakalan kasar lagi beneran deh asal kamu jangan marah ya”

“aduh Rio, pelan pelan kek ngomongnya”

“kamu gak marah Fy?”

“enggak, kan tadi kamu bilang lagi banyak fikiran jadi wajarlah kalo kamu gitu”

“maaf ya”

“iya Rio sayang”

“yaudah aku udah di panggil Mama sama Papa, bye”

“bye”

Ify tersenyum, ternyata Rio tidak seburuk itu. Ia begitu tanggung jawab langsung meminta maaf padanya tanpa ada gengsi-gengsian.

***

Rio, Agni, Patton dan Zevana berkumpul di ruang tamu rumah Agni, begitu Patton pulang kerja ia langsung ke rumah Agni karena mendapatkan pesan dari Zevana yang cukup mengejutkan.
“sebenarnya ada apa Rio?”tanya Patton

Rio meringis, “gini Pa... dia itu Ify temennya Agni”

“Ify itu emang anak tukang becanda Pa, dia udah biasa gitu Pa beneran deh”jelas Agni, ia mengedipka sebelah mata pada Rio

“iya Pa, dia emang anaknya suka agak keterlaluan kalo becanda”sambung Rio

“beneran?”tanya Zevana meyakinkan, “tapi kok tadi kayak serius ya?”gumannya

“enggak kok Ma, percaya deh sama Rio”ucap Rio

Zevana mengangguk, “oiya ini tadi surat pemeriksaan dari dokter kali aja mau liat”ia memberikannya pada Rio.

Rio segera membuka amplop itu, membaca langsung pada intinya. Ia mengerutkan keningna, “Ma, positive? Positive apaan?”guman Rio sambil membaca isi surat itu dengan teliti.

“HAH?! HAMIL?”ucap Rio histeris.


To Be Continue...



No comments:

Post a Comment