Novi membuka
matanya dengan ogah-ogahan karena di pagi buta begini mendengar gemerincik air
dari kamar mandi yang ada di kamar kakaknya.
“kak Agni
ihh ganggu aja”rutuknya, ia berjalan menuju kamar sang kakak.
“kak Agni
lagi ngapain pagi buta kini di WC?”tanya Novi sambil mengetuk-ngetuk pintu
kamar mandi itu.
Clek
Agni membuka
pintu. Novi menatap Agni intens namun seketika wajahnya menegang, “kak Agni
sakit?”ia membimbing Agni menuju tempat tidur.
Agni
mengurut pelipisnya, “gak tau, kakak pusing banget, mual gak jelas”
Novi
menghela nafas, “kakak sakit. Biar Novi telponin kak Rio”Novi beranjak setelah
menyelimuti tubuh Agni.
Tak perlu
menunggu lama Novi kembali dengan Rio yang masih menggunakan piama.
“Ni”ujar
Rio, ia meletakkan tangannya di kening Agni
Agni
menggeliat, membuka matanya perlahan “pusing Io', mual banget”gumannya
Rio
menggeleng pelan, ia mengelus pelipis Agni, “ganti baju dulu, biar aku anter ke
rumah sakit”
Agni menatap
dirinya, ternyata masih mengenakan gaun semalam. Ia ingat sekali kalo tadi
malam ia langsung tidur karena merasa badannya gak enak. “gak mau, bentar lagi
juga sembuh kok”ia mendudukkan dirinya.
Rio beranjak
ke arah lemari Agni dan membawa piama serta jaket untuk Agni.
“kamu ganti
baju dulu ya, Nov bantu kak Agni ya? kakak ambilin makanan dulu”Rio beranjak.
Ia menuju
dapur membawa bubur yang sudah di siapkan koki rumah Agni. Tadi begitu Rio
datang ia langsung membangunkan koki dan menyuruhnya masak.
“non Agni
kenapa den?”tanya koki itu
Rio menggeleng,
“gak tau, katanya pusing, mual Bi”ia menata nampannya dengan teliti, memastikan
gak ada yang tertinggal. Setelah itu ia kembali ke kamar Agni.
Tok tok tok
“udah
belum”kata Rio agak sedikit berteriak
Clek
Novi membuka
kamar Agni, “udah”ia sedikit menguap. “Novi masih ngantuk, jagain kak Agni ya
kak”ia beranjak menuju kamarnya.
Rio masuk ke
kamar itu, menatap Agni yang terlihat telah terlelap kembali.
“makan dulu
sayang”bisik Rio tepat di telinga Agni
Agni
mengerjabkan matanya, “hm Io'”ia menggeser posisi agar Rio bisa duduk di tempat
tidurnya.
“makan ya?
biar aku suapin”Rio menyendok bubur itu.
Agni membuka
mulutnya, mengunyah bubur itu tapi kemudian menutup mulutnya dan berlari ke
kamar mandi.
Rio
mengikuti Agni dari belakang, “kamu kenapa sih Ni?”ia memijat tengkuk Agni
“ugh... mual
Io' gak enak bubur nya”Agni mencengkram westafel, mencoba menyeimbangkan
tubuhnya yang limbung.
Rio
mengangkat tubuh Agni yang sangat lemas,membawanya ke tempat tidur kembali
“tidur aja kalo gitu”Rio menyelimuti tubuh Agni.
Agni
mengangguk. Ia menatap Rio yang sesekali menguap. “tidur gih, kan nanti kamu
sekolah”kata Agni
Rio menatap
Agni, ia menggeleng. Rasa khawatirnya mengalahkan rasa kantuk yang ia rasa.
“aku jaga
kamu aja”Rio mengelus rambut Agni
Agni terdiam,
sebenarnya ia tidak tau bagaimana perasaan Rio padanya, apakah cuma sekedar
takut kena marah Papanya atau benar-benar menyayangi Agni?
“kok
ngelamun?”tanya Rio
Agni
menggeleng, “kamunya tidur”
“entar kalo
Mama udah dateng aku tidur”kata Rio
“Mama? Emang
Mama kamu kasih tau juga?”tanya Agni heran
“Agni, kamu
gapapa sayang?”tanya seorang wanita yang baru saja memasuki kamar itu.
“gapapa Ma,
cuma pusing aja”Agni mencoba tersenyum.
Mama Rio,
Zevana. Mengelus rambut Agni sayang. Semenjak Agni dan Rio bertunangan Zevana
memang meminta Agni memanggilnya Mama, “udah makan?”
“tadi malah
muntah Ma”jawab Rio, ia membaringkan tubuhnya di sofa kamar Agni
Zevana
menggeleng “yaudah istirahat aja dulu, nanti siang biar tante panggilin dokter”
Agni
mengangguk pelan, “maaf ya Agni ngerepotin”
“gak
ngerepotin kok, tidur ya biar Mama temenin”Zevana tidur di sebelah kanan Agni.
***
Bel telah
berbunyi Lima menit yang lalu tapi Agni belum kelihatan memasuki kelas itu.
Cakka terlihat gusar.
“kenapa loe?
Panik gitu kayaknya”ujar Rio
Cakka
menatap Rio jengkel, ini anak gak ada khawatir-khawatirnya ya sama Agni?
Padahal udah jelas gitu TUNANGAN? Cakka mendengus kesal. “Agni kemana?”tanya
Cakka sebiasa mungkin.
Rio melirik
bangku Agni setelah itu melirik Cakka, “sakit”
“sakit
apa?”tanya Cakka panik
Rio
mengangkat bahunya, “kenapa sih panik gitu?”
Cakka tak
mengindahkan pertanyaan Rio, ia malah meraih ponselnya dan berkutat dengan
benda itu hingga tak menyadari seorang guru telah memasuki kelas itu.
Sayang... katanya sakit ya? kok gak ngabarin
aku?
:)
aku gak mau kamu hawatir, Rio kasih tau kamu ya?
Iya, sakit apa sayang? Di rumah sama siapa?
Mau
di periksa dulu, kamu belajar yang bener gih
Iya sayang, Love you :*
Love you too
:*
“Cakka!
Sedang apa kamu? Tolong perhatikan!”ucap Lintar
Cakka
mengangguk, “maaf”
“nah, kalian
buat tugas kelompok tadi secepatnya, paling lambat minggu depan. Yasudah
sekarang buka bukunya halaman 34”
Tanpa terasa
bel tanda istirahatpun terdengar.
“Kka, Agni
kemana kok gak masuk?”tanya Marsha
“sakit”jawab
Cakka tanpa menatap Marsha, ia sibuk merapihkan alat tulisnya.
“entar
jengukin yuk”ajak Ify
“boleh, hey
kalian ikut gak?”jawab dan ajak Cindai pada 4 orang pemuda yang sama-sama masih
ada di dalam kelas.
“ngajak
siapa loe? Ngajak kita apa cowok loe doang?”tanya Rafli bermaksud menggoda
sepupunya itu.
Cindai
cemberut, “apaan sih loe? Ya kalian semua lah”ia menunduk malu.
Rafli
mengerlingkan matanya, “yakin loe? Entar kita ganggu gapapa nih?”
Mata Cindai
membulat, tanda ia akan marah besar pada Rafli karena menggodanya terus.
“udah-udah,
entar bareng-bareng aja”Bagas menengahi, setelah itu melempar Rafli dengan
pesil yang ia pegang, “jangan godain dia terus”bela Bagas dengan nada dingin.
“gak niat
banget loe belanya?”pancing Rafli
“jangan jadi
kompor deh”guman Marsha, ia sibuk dengan buku-bukunya, kebetulan ia belum
mengerjakan tugasnya.
Ify berjalan
mendekati Rio, duduk di hadapan pemuda itu. “loe kenapa? Sakit ya?”tanyanya
Rio
mendongakkan kepalanya, “ngantuk”ia menelungkupkan kembali kepalanya di atas
tangan yang ia letakkan di bangku.
Ify mengelus
kepala Rio dengan lembut, “loe tidur jam berapa semalem?”
“sepulang
dari acara itu gue langsung tidur”guman Rio agak tak berminat untuk berbicara.
Ify menghela
nafas, “entar jalan yuk”bisik Ify
Rio
mendongakkan kepalanya lambat, “katanya mau jenguk Agni”
Ify
tersenyum, “ya abis itulah”
Rio
mengangguk, “kalo di ijinin ya, soalnya ada kalo ada Mama susah buat keluar”
Ify
mengangguk mengerti, perasaan kenapa keadaan jadi berbalik gini? Dulu ia yang
sulit jika ingin main, sekarang? Hhh sudahlah...
‘maaf Fy, gue harus jaga Agni’batin Rio
“aku baru
tau lho kalo kamu anak ketua yayasan”guman Cindai saat Bagas duduk di
sebelahnya.
Bagas
tersenyum, “emang aku gak mirip ya sama Papi?”
Cindai
memamerkan giginya dan menggeleng.
“enggak
sedikitpun, cuma satu kemiripannya”
Bagas
mengerutkan keningnya, “apa?”
Cindai
tersenyum, “sama-sama pendiem”
Bagas
mengacak-acak poni Cindai, “ada-ada aja kamu”
“huaaaa....
kapan ya gue di acak-acak poninya kayak Cindai?”rengek Marsha sambil menatap ke
arah Cindai dan Bagas yang duduk di belakangnya.
Bagas
terkekeh, ia mengangkat tangannya hendak mengacak-acak poni Marsha namun
tangannya di tahan Rafli yang tiba-tiba duduk di samping Marsha, “jangan sentuh!
Loe tuh bahaya”tegas Rafli
Marsha
cemberut, “guekan pengen”
Rafli
menatap Marsha, mencubit pipi gadis itu dengan gemas. “Bagas pacar temen loe
gak nyadar banget loe”
Marsha
memanyunkan bibirnya, “Rafli mah gitu...”
Cindai
terkekeh melihat tingkah Rafli dan Marsha. “biarin aja lagi gue gak cemburu
kok, Marsha kan sahabat gue, gak mungkin macem-macem di belakang gue”
“tuhkan?
Cindai aja gak marah! Kok loe yang ribet?”Marsha membalas mencubit pipi Rafli
Tanpa mereka
sadari dua orang yang berada di ruangan iru merasa tertohok dengan ucapan
Cindai barusan, benar-benar mengena!
“itu sih
bisa-bisanya Rafli aja Sha, dia tuh suka sama loe tapi gak bisa ngungkapin”ujar
Bagas, ia sedang asik bertatapan dengan Cindai, memainkan rambut panjang
Cindai.
“jail
deh”Cindai mencubit perut Bagas karena menggosokkan rambutnya ke telinga
Cindai.
Rafli
melongos, “ngapain gue cemburu? Enggak!”
“dih siapa
yang bilang cemburu? Atau loe emang cemburu?”Bagas menghadap Rafli menunjuk
Rafli bermaksud menggodanya.
Rafli gelagapan,
“heh? Apa? Ya... ya... enggaklah, gak penting”Rafli beranjak dari kursinya,
berjalan keluar kelas.
Cindai
terkikik, “dasar aneh”
***
Sepulang
sekolah mereka ber tujuh ternyata benar-benar ke rumah Agni, Rio benar-benar
berusaha menyembunyikan kegusarannya.
‘mudah-mudahan Mama gak ngacauin’batinnya.
Ify menatap
Rio, kebetulan hari ini ia tidak membawa kendaraan jadilah ia ikut dengan mobil
Rio.
“kenapa
Io'?”tanya Ify
Rio
tersenyum, “gapapa kok”
Ify
mengangguk-angguk mengerti. Rio nampak terdiam, “kayaknya kamu jadi lebih
pendiem, kenapa?”tanya Rio
Ify
tersenyum, ternyata Rio tidak melupakannya. “gue cuma aneh aja, pas awal kenal
yang adem ayem itu cuma kita, tapi kenapa malah Bagas Cindai duluan yang jadi?
Gue kira bakalan kita yang jadian duluan”ujar Ify, ia menatap Rio dengan
senyuman yang agak di paksakan.
Rio sedikit
melirik ke arah Ify, “emang loe suka gitu sama gue?”
Ify
melongos, “gak peka banget ya loe! Ihh”
Rio
terkekeh, sejenak ia lupakan urusan Agni. “bukannya gue gak mau ya Fy sama loe,
tapi ya... gue takut loe nantinya nyesel pernah jadi pacar gue”
Ify memutar
badannya menjadi menghadap Rio, menatap pemuda yang sibuk mengendarai mobilnya.
“nyesel
gimana? Mario... loe tuh bodoh atau pura-pura bodoh sih? Cewek mana coba yang
bakalan nyesel pernah pacaran sama loe? Gak mungkin ada Io'”
Rio
menghentikan mobilnya tepat di pekarangan rumah Agni, ia mengelus pipi Ify
lembut. “loe yakin gak bakalan nyesel pacaran sama gue?”
Ify
mengangguk pelan, entah ragu atau bagaimana.
Rio tersenyum,
“yaudah kalo loe yakin, mau gak loe jadi cewek gue?”
Ify
tersenyum cerah, ia mengangguk penuh kepastian.
Rio
tersenyum, mengacak-acak rambut Ify setelah itu keluar dari mobilnya yang di
ikuti oleh Ify.
***
Agni menatap
ponselnya, melihat photo-photo dirinya dengan Rio yang Rio kirimkan dari
ponselnya. Entah kenapa dalam hatinya selalu saja ada yang mengganjal, selalu
ada hambatan untuk mencoba mencintai pemuda itu meski hanya sekedar untuk
membahagiakan Papanya.
“Agni
sayang, how are you? Loe gak parahkan sakitnya?”tanya Ify beruntun dan langsung
duduk di tempat tidur Agni.
Agni tertawa
melihat reaksi Ify, “lebay loe”ia mengalihkan pandangannya pada orang yang
lain.
“hai
semua”sapanya
“gimana
keadaan loe? Baik?”tanya Bagas
Agni
mengangguk, “thanks ya udah pada dateng, ecieee... pasangan baru udah nempel ya
sekarang”goda Agni pada Cindai yang berdiri secara berdampingan.
“apaan sih
loe Ni? Loe kapan nyusul?”tanya Cindai
Agni tertawa
garing, “calonnya mana?”
Tiba-tiba
Cakka mendekati Agni, duduk di sebelah kiri dan meraih jemari Agni,
menggenggamnya erat.
“cie... tuh
udah ada”goda Marsha
“apaan
sih?”Agni menunduk sebentar setelah itu Agni menatap Cakka yang ada di
sebelahnya, masih menggenggam tangannya. “kenapa Kka?”
Cakka
menggeleng, ia tersenyum begitu tulus, “aku cuma khawatir aja liat kamu pucet
gitu”
Agni
mengerutkan keningnya, “kayaknya itu bukan jawaban deh”gumannya
Cakka
menarik tangannya, tidak menggenggam lagi “loe sakit apa sih?”ia mengecek suhu
tubuh Agni oleh punggung tangannya.
“yang pasti
bukan sakit hati Kka, seorang Agni mana mungkin sakit hati”ujar Rafli, ia duduk
di sofa.
Marsha
melempar guling yang ia ambil dari kasur Agni pada Rafli, “gak usah
nimbrung”perintahnya.
“udah Sha,
biarin aja gak ada Rafli gak rame”bela Agni
“Ni, jawab
kenapa?”ujar Cakka
“cuma pusing
sama mual aja”jawab Agni singkat
“wah? Serius
Ag? Jangan-jangan loe hamil”ujar Rafli berniat bergurau tapi malah membuat
seseorang terdiam menghentikan aktifitasnya.
“hai... ini
minumannya”kata Zevana dengan nampan di tangannya.
“lho tante?
Ngapain disini?”tanya Bagas
Cindai
menatap Bagas, seakan bertanta ‘siapa
dia?’
“ini Mamanya
Rio, tante Zevana”ucap Bagas
Ify
tersenyum malu-malu ia mendekati Zevana.
“tante
kenalin aku Ify, pacarnya Rio”Ify mengulurkan tangan.
Rio menepuk
keningnya dengan takut ia melirik Agni dan Mamanya, ‘mampus gue, mau jawab apa coba kalo di tanya?’
Agni
terlihat menunduk, sementara Cakka sudah duduk di sofa begitu Zevana memasuki
ruangan itu.
Zevana
melirik Rio sekilas, keningnya nampak bertaut namun sedetik kemudian ia
tersenyum, “Zevana”
“tante, yang
itu Marsha dan itu Cindai”tunjuk Ify pada Marsha dan Cindai keduanya berjabat
tangan bergantian.
“yaudah
tante keluar dulu ya, oiya Agni juga harus segera istirahat lagi”kata Zevana sebelum
benar-benar berlalu.
Bagas dan
Rafli menatap Rio curiga, “ngapain nyokap loe disini?”
Rio
menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
“tante
ngerawat gue, soalnya dia tau kalo gue dirumah sendiri makannya dia bela-belain
dateng”jelas Agni, mencoba mengeluarkan Rio dari kecanggungan itu.
Marsha duduk
di sebelah Agni, menggantikan posisi Ify yang sekarang duduk di samping Rio.
“jujur sama
gue loe ada hubungan apa sama Rio?”tanya Marsha berbisik
Agni
mendongak, kaget dengan bisikan Marsha itu.
“gak ada”ia memalingkan
wajahnya ke arah lain.
Marsha
menghembuskan nafas, “kalo loe nganggep gue sahabat loe cerita, gue tau loe ada
hubungan atau problem mungkin”
Agni menatap
Marsha sekilas, ia menggeleng pelan. “loe sahabat baik gue Sha, tapi beneran
deh gue gak ada apa-apa kok”
Marsha
menghela nafas putus asa, “yaudah, tapi yang gue rasa kayaknya loe ada hubungan
istimewa sama Rio”ia beranjak dari tempat tidur
“Raf,
anterin gue balik yuk”ajak Marsha
Rafli
mengangguk mengerti, “yuk, bye semua, bye Ag, cepet sembuh ya”pamit Rafli
sebelum akhirnya berlalu dengan Marsha.
“Marsha
marah ya Ni?”tanya Cindai
“gak tau”ia
berdiri.
Rio memutar
badannya mendengan suara seretan dari sandal Agni, “mau kemana?”
“hongkong,
ya WC lah masa hongkong”Agni memasuki WC kamarnya dan menutup pintunya dengan
perlahan.
Cakka
menatap Rio dan Ify, mengintimidasi. Setelah cukup lama ia terdiam akhirnya ia
ingin mengeluarkan unek-uneknya.
“sejak kapan
kalian jadian?”tanya Cakka dengan nada tak bersahabat.
“tadi di
mobil, emang kenapa?”jawab dan tanya Ify dengan ringan.
Cakka
mendengus, ia segera tarik tangan Rio keluar dari kamar Agni.
“lepas,
apaan sih?”kata Rio dengan keras.
Cakka
berbalik, menunjuk Rio tepat di wajahnya “loe yang apaan hah?! Loe tuh serakah
ya udah punya Agni masih aja loe embat Ify”
Rio menatap
Cakka dengan aneh, “tau apa loe tentang gue sama Agni?”
Cakka
mengambil sesuatu dari sakunya, “ini...”ia mengacungkan benda kecil, cincin.
“cincin tunangan loe sama Agni”
Rio menatap
tajam Cakka, “balikin! Darimana loe dapet itu?”
Cakka
tersenyum sinis, “penting ya buat loe?”ia berlalu begitu saja.
Sementara di
dalam kamar Cindai, Bagas dan Ify di selubungi banyak pertanyaan, terlalu
mencurigakan kelakuan dua pemuda itu.
Tak lama
Agni keluar dari kamar mandi, “Cakka sama Rio pulang?”tanya Agni
“lagi pada
di luar”jawab Cindai
Tak lama
Cakka memasuki kamar Agni, meraih tasnya kasar.
“Ni,
baik-baik ya... aku pulang dulu”pamit Cakka, ia mendekati Agni mengecup bibir
Agni hingga beberapa detik.
Cindai meneguk
ludah sukar melihat kejadian itu, ia melirik Bagas yang juga bengong melihat
adegan barusan.
Cakka beranjak
dari kamar Agni, namun ketika ia berada di ambang pintu ia terhalangi oleh Rio yang
mematung di tempat. Dengan sengaja Cakka menyenggol pundak Rio kencang hingga
pemuda itu agak terhuyun.
“errr... Ni,
kita pamit ya”ucap Cindai
Agni masih
mematung, ia shock dengan perlakuan Cakka tadi yang menurutnya terlalu mengagetkan.
“Ni, kita
pamit”kata Bagas
“eh, iya...
ati-ati ya”pesan Agni
Rio memasuki
kamar Agni, “Fy loe sama Cindai, Bagas ya pulangnya? Gue masih ada urusan
disini”
Ify merengut,
“tapi Io'...”
Rio berdecak,
“terserah loe deh ya mau nurut apa engga!”ucap Rio agak membentak
Mata Ify agak
berkaca-kaca, ia menghentakan kakinya kesal, meraih tas dengan kasar dan
berlalu mengejar Bagas dan Cindai.
Rio menghela
nafas setelah kepergian Ify, ia menutup pintu kamar agar bisa berbicara lebih
serius dengan Agni tanpa ada yang mengganggunya.
Agni membaringkan
dirinya di tempat tidur, “harusnya kamu gak kasar sama Ify, kan dia pacar kamu”ujar
Agni sambil membenahi selimutnya, lebih tepatnya mengalihkan pandangan.
Rio duduk di
samping Agni, “jangan bahas dia dulu”
“aku cuma
kasih tau Io', kamu fikir enak Io' gak di pentingin kayak Ify gitu? Enggak! Apalagi
yang Ify tau kita gak ada hubungan. Pasti dia sakit hati banget Io'”Agni memberanikan
diri menatap Rio
“iya aku
tau! Aku salah!”ucap Rio dengan beberapa penekanan emosi.
Keduanya cukup
lama berdiam diri, “Ni, please biarin aku sayang sama kamu, jangan blok aku!”
“atas dasar
apa kamu mau sayang sama aku? Jujur ya Io', sebenernya aku juga udah pacaran
sama Cakka”kata Agni, setelah mengatakan itu ia menghembuskan nafas panjang.
Rio menatap Agni
tak percaya, “pantesan”Rio mengeluarkan cincin yang diberikan Cakka tadi dari
saku celananya.
“itu punya
gue”Agni merebut cincin itu.
Rio tersenyum
kecut, “gue? Gue lagi ya Ni? Lupa sesuatu?”
Agni meringis,
“maaf”
Rio menghela
nafas, pikirannya benar-benar buntu sekarang. Ia mengacak-acak rambutnya
frustasi.
“gue lakuin
ini cuma buat satu hal Ni, gue mau orang tua gue nyatu lagi! Gue gak mau mereka
pisah! Dan cuma dengan ini Papa mau balikan lagi sama Mama, cuma dengan cara
ini Papa nurutin kemauan gue...”guman Rio penuh dengan keputus asaan.
“kalo sampe
kita udahan, gue gak tau bakalan gimana lagi hidup gue”lanjut Rio
Agni membangunkan
dirinya, menarik Rio kedalam pelukannya. “maaf Io', aku gak tau”
Rio mengangkat
wajahnya, “maaf aku kasar lagi”
Agni mengangguk,
komitmen awal mereka memang menghilangkan loe-gue yang murni dari permintaan
orang tua mereka dan merekapun menyetujuinya tanpa ada paksaan.
“sekarang
hubungan kita gimana?”tanya Rio
Agni tersenyum,
“kita jalanin aja, tanpa ada yang di sakiti Io' dan satu lagi, aku minta kamu
simpen cincin itu kalo ke sekolah”
Rio mengangguk
mengerti, ia menatap Agni jahil, “tapi... kalo aku lagi mesra-mesraan nih ya
misalnya, kira-kira cemburu gak?”goda Rio
Agni membulatkan
matanta, memukul lengan Rio pelan. “enggak! Apaan sih kamu”
***
Begitu pulang
dari kediaman Agni, Ify langsung mengurung diri di kamar. Seumur-umur ia baru
merasakan di bentak oleh seseorang yang ia suka. Ia sungguh sakit hati dengan
perlakuan Rio padanya.
Ia rasa
ponselnya berdering.
“hallo? Fy, maaf tadi aku kasar, maaf banget
aku lagi banyak fikiran... maaf ya maaf banget aku gak bakalan kasar lagi
beneran deh asal kamu jangan marah ya”
“aduh Rio,
pelan pelan kek ngomongnya”
“kamu gak marah Fy?”
“enggak, kan
tadi kamu bilang lagi banyak fikiran jadi wajarlah kalo kamu gitu”
“maaf ya”
“iya Rio sayang”
“yaudah aku udah di panggil Mama sama Papa,
bye”
“bye”
Ify tersenyum,
ternyata Rio tidak seburuk itu. Ia begitu tanggung jawab langsung meminta maaf
padanya tanpa ada gengsi-gengsian.
***
Rio, Agni,
Patton dan Zevana berkumpul di ruang tamu rumah Agni, begitu Patton pulang
kerja ia langsung ke rumah Agni karena mendapatkan pesan dari Zevana yang cukup
mengejutkan.
“sebenarnya
ada apa Rio?”tanya Patton
Rio meringis,
“gini Pa... dia itu Ify temennya Agni”
“Ify itu
emang anak tukang becanda Pa, dia udah biasa gitu Pa beneran deh”jelas Agni, ia
mengedipka sebelah mata pada Rio
“iya Pa, dia
emang anaknya suka agak keterlaluan kalo becanda”sambung Rio
“beneran?”tanya
Zevana meyakinkan, “tapi kok tadi kayak serius ya?”gumannya
“enggak kok
Ma, percaya deh sama Rio”ucap Rio
Zevana mengangguk,
“oiya ini tadi surat pemeriksaan dari dokter kali aja mau liat”ia memberikannya
pada Rio.
Rio segera
membuka amplop itu, membaca langsung pada intinya. Ia mengerutkan keningna, “Ma,
positive? Positive apaan?”guman Rio sambil membaca isi surat itu dengan teliti.
“HAH?!
HAMIL?”ucap Rio histeris.
To Be Continue...
No comments:
Post a Comment