Saturday, 30 March 2013

Cowok itu... #9



Rio masih menatap takjub kertas yang di genggamnya, “Ma? Ini serius? Jangan becanda! Gak lucu tau”ia tertawa hambar.

Zevana menatap Rio dengan pandangan aneh, “serius kok, baca aja lagi yang teliti”

Rio membaca ulang kertas itu, tak ada yang berubah tetap saja POSITIVE. Ia mengalihkan pandangannya sama Agni, “ini...”ia menghela nafas panjang, “ini serius Ni?”

Agni mengangguk semangat, “iya dong, kenapa emangnya?”

“aku gak suka anak kecil”guman Rio

Agni mengerutkan keningnya, “kok gitu? Aku suka Io' sama anak kecil”

“udah deh Io' terima aja kenapa?”guman Patton

“pokoknya Rio gak mau”tegas Rio

“kamu kok gitu sih Io'? jahat banget! TEGA tau gak”ucap Agni, ia cemberut melihat reaksi Rio tentang ini.

“aku gak mau Ni, kamu ngerti dong”kata Rio lagi masih dengan nada tegasnya.

Agni menunduk, “Rio resek!”umpatnya

“udah-udah, kamu ribet banget Io'”guman Zevana

“ribet gimana? Pokonya Rio gak mau”ucap Rio. Ia mengacak rambutnya frustasi, “MAMAAAAA.... RIO GAK MAU PUNYA ADEK LAGI!”teriak Rio dengan kesal.

***

Matahari mulai muncul, menandakan pagi telah datang kembali dan mengajak setiap anak adam untuk beraktifitas.
 Agni merapihkan seragamnya di depan cermin, setelah sakit yang melandanya kemarin hari ini ia memutuskan untuk sekolah karena ia merasa lebih baik.
“non sarapan dulu”ucap Pembantu rumah Agni.

“iya Bi”beriringan dengan sautannya, Agnipun dengan segera menuju meja makan.

Agni duduk berdampingan dengan Novi, ia melirik adiknya yang sibuk memainkan ponsel.
“sarapan dulu, jangan mainin hape terus”ucap Agni sambil mengoleskan selai pada rotinya.

Novi mengangguk, akhirnya ia menyantap rotinya.
“hari ini Novi bareng sama Difa ya kak? Nanti sore ada les bareng Difa juga, jadi kakak gak perlu suruh jemput Novi sama Pak Ujang”

Agni menyantap sarapannya, “yaudah, kalo ada apa-apa SMS aja ya?”

Novi mengangguk lagi, kali ini lebih semangat dari yang tadi “oiya tadi ada kak Rio SMS ke Novi katanya jangan lupa sarapan, dan minum obat jangan sampe maag nya kambuh lagi”

Agni tersenyum kecil, “bilang sama kak Rio, jangan bawel”
Novi mengacungkan jempolnya, “siip. Eh... kayaknya udah ada yang masuk gerbang, Novi berangkat ya kak”ia mencium pipi Agni beberapa saat.

Agni menggeleng pelan, kalau tidak ada Gabriel mereka pasti akur, gak pernah ada acara berantem. tapi entah kenapa kalau ada Gabriel keduanya selalu saja ribut, masalah sekecil apapun pasti jadi heboh.
“Agni”panggil seseorang

Agni berbalik, “Alvin, ngapain kesini?”ia berdiri, meraih tasnya.

Alvin tersenyum ia menaruh sebuah kotak agak besar di atas meja makan, “ini oleh-oleh kesukaan kamu, aku baru pulang dari Jerman”

Agni tersenyum kaku, “oh thanks. Gue duluan ya udah di tungguin tuh”Agni menunjuk Cakka yang berdiri di ambang pintu utama.

Alvin tersenyum miring, “kalo aku gak sibuk, kapan-kapan aku main kesini”ucap Alvin, setelah itu berlalu.

Agni berbalik lagi ke meja makan membawa bungkusan yang di bawa Alvin tadi. Cakka menatapnya penuh tanya, “mau dibawa kemana?”tanyanya

“buat temen-temen”guman Agni, ia menatap Cakka yang masih mematung di ambang pintu “ngapain masih diem? Ayo berangkat”

Cakka mengangguk mengerti.
Mereka berdua memasuki mobil sport milik Cakka, “ngapain dia kesini?”tanya Cakka dengan nada dingin.

“ngasih itu tuh”jawab Agni, ia tak menyadari kedinginan dalam nada bicara Cakka.

“aku gak suka kamu ada urusan lagi sama dia”guman Cakka

Agni mengerutkan keningnya, “kenapa?”

Cakka menatap Agni sekilas dengan tatapan tajam, “gak cukup aku sama Rio?”

Agni terdiam, ia menatap Cakka tak percaya, bukannya ini keputusan dia ya? seharusnya nerima dan gak usah ungkit-ungkit.
“terserah apa kata kamu aja deh, aku males ribut”ujar Agni, ia mengalihkan pandangannya ke arah jendela, tak berminat melanjutakan perbincangan.

Tak lama kemudian mereka sudah sampai di parkiran sekolah. Tanpa pamit terlebih dahulu Agni keluar meninggalkan Cakka yang mesih di dalam mobilnya.
“sebenernya siapa sih yang salah? Gue? Atau mereka?” Cakka memukul stirnya, “argh”erangnya, ia menelungkupkan wajahnya di stir itu.

***

Agni membanting tas ke atas mejanya, dan menyimpan kotak dari Alvin tadi di depan Ify dan Cindai.
Setelah itu Agni menelungkupkan wajahnya pada tas yang di banting tadi.

Ify, Cindai dan Marsha menatap Agni dengan pandangan penuh tanya, “ada masalah apa lagi?”tanya Ify

Agni menggeleng, ia masih gak mengangkat wajahnya.

Cindai menghela nafas, “cerita dong, kali aja kita bisa bantu”

Marsha mengelus punggung Agni, mencoba menyalurkan energi positive untuk sahabatnya itu.
“yang sabar Ni”

Agni mengangkat wajahnya, “kalian emang yang paling ngerti gue, makasih ya”keempatnya berpelukan meski terhalang kursi dan meja.

“sekarang udha maua cerita?”tanya Cindai

Agni mengangguk dan menceritakan kejadian saat ada Alvin datang kerumahnya sampai insiden yang ada di dalam mobil tanpa menceritakan yang menyangkut Rio, tentunya.
“jadi loe marahan sama Cakka?”tanya Ify

Agni mengangguk lesu, “gue gak tau kalo dia bisa berubah jadi mahkluk yang sangat posesif”

“pantesan aja kemarin kalian kissing ya... taunya udah jadian”guman Cindai

Marsha tersenyum, “udah ah jangan mellow... mendingan makan coklatnya Ni, kayaknya enak tuh”tunjuk Marsha pada kotak tadi yang isinya memang coklat putih, kesukaan Agni.

Agni tertawa renyah, “yaudah, makan gih”

Sementara Cindai dan Ify menggeleng-gelengkan kepalanya, sahabatnya yang satu ini memang maniak coklat, lebih maniak dari Agni.

***

Cindai dan Bagas berada di ruang kesenian, keduanya duduk di depan sebuah grand piano hitam.
“ajarin ya”pinta Cindai

Bagas tersenyum, “liat ya”
Bagas mulai memainkan tuts pianonya dengan perlahan.

Cindai tersenyum, “bagus, aku coba ya”

Bagas tak memperhatikan permainan Cindai, ia malah menatap gadisnya ini yang entah kenapa sejak beberapa hari ini ia terlihat kalem, gak sebawel biasanya.

“Bagas... abis ini gimana? Aku lupa”ujar Cindai, ia fokus dengan permainannya.
“Bagas”Cindai berbalik dan mendapati kekasihnya menatapnya dengan pandangan yang sangat dalam, ia menunduk malu. “jangan liatin dong”gumannya.

Bagas terkekeh melihat reaksi Cindai, “lucu deh kamu”

“lucu? Emang aku badut? Ihh”Cindai memukul pelan lengan Bagas.

“aw, sakit sayang”ringis Bagas, ia memegangi lengannya.

“ihh manja, orang gak keras kok sakit?”guman Cindai.

“yaiyalah gak keras menurut kamu, kamukan karateka”tegas Bagas.

Cindai memamerkan deretan gigi rapihnya, benar juga apa kata Bagas. Pelan buat ukuran karateka seperti dirinya emang bisa dibilang keras buat orang lain. “maaf sayang”

Bagas tak mengindahkannya.

Cindai menarik lengan baju Bagas, “maafin dong”pinta Cindai memelas.

Bagas menatap Cindai, ia mengangguk. Ia paling gak bisa melihat seseorang memelas padanya, “tapi...”Bagas menunjuk pipi kanannya

Cindai mengerutkan keningnya, “gak mau”ia bergerak membelakangi Bagas.

“yaudah, gak jadi deh maafinnya”ucap Bagas acuh, ia malah memainkan tuts pianonya lagi.
“Agni aja yang dicium Cakka di bibir biasa aja tuh kemaren”gumannya

Wajah Cindai seketika memerah mengingat kejadian kemarin, ia membayangkan betapa malunya dirinya kalo ada di posisi Agni.
“ihh... Bagas”

“apa?”Bagas menatap Cindai yang kembali menatapnya.

Cup

Cindai mengecup pelan pipi kiri Bagas setelah itu berlari menjauh meninggalkan Bagas.

Bagas menggeleng pelan, bibirnya tersenyum simpul.
“Cindai Cindai”

***

Agni memutuskan untuk tidak pergi kemanapun, ia begitu penat dengan segala pikirannya, begitu membingungkan.

Cakka duduk di samping Agni, “maaf”

Agni menatap Cakka sekilas, “buat apa?”tanya Agni begitu dingin

Cakka meraih sebelah tangan Agni,“udah ungkit-ungkit masalah itu, maaf... aku janji kalo kita berdua aku gak bakalan bahas Rio atau siapapun”ia menatap Agni mencoba mayakinkan gadisnya itu

Agni menarik tangannya, “aku gak suka cowok posesif Kka”

Cakka tak membiarkan Agni menghilang dari pandangannya, “maaf”

Agni berdiri, ia beranjak namun ketika ia mencapai pintu ia merasakan Cakka memeluknya erat.
“lepas Kka”

Cakka tak bergeming, “maaf”Cakka membalikkan tubuh Agni
“maafin aku”guman Cakka lagi

Agni menghela nafas, ia mengangguk pelan. Cakka memeluk Agni begitu melihat anggukan itu, “makasih”

Agni mengangguk lagi dalam dekapan Cakka, tanpa ia sengaja ia melihat Rio yang merebahkan kepalanya di pangkuan Ify dengan tangan yang begitu erat menggenggam. Perlahan ia membalas pelukan Cakka.

Cakka merenggangkan pelukkannya, perlahan ia menjauhkan Agni namun Agni memeluk Cakka begitu erat. Cakka mengelus rambut Agni pelan, “aku sayang kamu”

Agni tak merespon, Cakka mengedarkan pandangannya menatap satu objek yang mungkin yang membuat Agni seperti ini. ia melepaskan pelukkan Agni dengan paksa.
“Kka, kenapa?”tanya Agni

“pasti gara-gara dia kan kamu lemah gini?”tunjuk Cakka pada objek penglihatan Agni tadi.

Agni menggeleng kuat-kuat, “bukan”ia mencengkram tangan Cakka yang hendak berlalu. Namun Cakka menghempaskan genggaman Agni.

“CAKKA”teriak Agni mencoba menahan pemuda itu. Terlambat!

***

Ify menatap Rio yang bermain basket begitu semangat, namun terlihat sekali kalau wajahnya murung, tidak seceria seperti biasanya. Ia berjalan ke arah Rio, menarik pemuda itu ke pinggir lapangan.
“apa Fy?”tanya Rio, terlihat sekali nafasnya memburu kelelahan.

Ify mengusap peluh Rio dengan tissu yang sengaja ia bawa, “kamu kecapean, jangan main terus”

Rio mengacak-acak rambut Ify, “gapapa kok, makasih ya”

Ify mengangguk pasti, “kalo ada masalah cerita dong Hon

Rio menajamkan pandangannya, kaget “manggil apa tadi?”

Hon, kenapa emangnya? Gak suka?”Ify merengut

Rio terkekeh, “suka kok, jangan cemberut gitu dong”

Ify tersenyum kembali, “oiya, keliatannya kamu lagi ada masalah, kenapa?”

Rio menghela nafas, “aku mau punya adek lagi”

“terus? Masalahnya dimana?”tanya Ify heran

“aku bete aja kalo ada anak kecil, nyusahin tau”curhat Rio sambil membayangkan kejadian dulu ketika ia masih kecil dan harus mengurus Gilang yang bandel banget.

Ify mengelus pipi Rio, kemudian merapihkan rambutnya yang acak-acakan.
“gak seburuk itu kok, percaya deh sama aku”

Rio mengangguk, bukannya setelah itu menatap Ify. Rio malah menatap ke arah lain, melihat ke arah kelas. ‘sial’ umpatnya dalam hati, ia sangat menyesal melihat ke arah pintu, bagaimana tidak? Ia melihat ‘tunangannya’ yang sedang di peluk begitu posesif oleh seorang pemuda. Tapi kenapa pandangannya tidak berubah masih saja melihat ke arah pintu itu sampai Ify menepuk pundaknya.
“liatin siapa?”tanya Ify

Rio menatap Ify, ia menggeleng pelan. “bukan siapa-siapa”ia merebahkan kepalanya di pangkuan Ify, menggenggam begitu erat jemari Ify, seakan tak ingin melepaskannya.
“jangan tinggalin aku ya”ujar Rio

Ify mengangguk pasti, “gak bakalan Io'”gumannya, seketika pandangannya terjatuh pada jemari Rio. “cincin kamu gak di pake?”

Rio melihat jarinya, “enggak, kenapa emang?”

Ify mengelus rambut Rio, “aku pengen liat aja”

Rio mengangguk-angguk mengerti. Dalam hatinya ia bersyukur kalau lupa memakai cincinnya, kalau tidak? Berabe deh ya.

“CAKKA”teriak Agni.

“sini loe”Cakka tiba-tiba datang dan menyeret Rio pergi.

Ify menatap keduanya bingung, setelah itu ia melihat ke arah dari tempat Cakka datang dan Agni disana! Ia berjalan memasuki kelasnya mengejar Agni yang telah hilang di dalam sana.

Ify duduk di sebelah Agni, “ada masalah apa sama Rio?”tanya Ify curiga

Agni menatap Ify takut, apa ini saatnya ia jujur?

“apa Ni?”desak Ify

“Fy, sebenernya... gue sama Rio itu...”

“Agni”teriak Marsha memasuki kelas itu tiba-tiba.

Agni dan Ify menatap Marsha kesal. “ngagetin loe”

“hehe... ini ada suratnya lho Ni”ucap Marsha

Agni mengerutkan keningnya, “surat? Dari mana?”

“dari coklat loe, dari lavin mungkin”Marsha memberikan surat itu pada Agni

“thanks Sha”ucap Agni beranjak,

“mau kemana?”tanya Ify

“kebelakang bentar”jawab Agni

Ify mengangguk mengerti, membiarkan Agni sendiri dulu.

***

Cakka menghempaskan tubuh Rio ke tembok belakang sekolah, entah kenapa ia kesal pada Rio. Bukannya seharusnya ia senang karena kedekatan Rio dengan Ify? Kalau Rio dekat dengan Ify berarti frekuensi ia bersama Agni akan semakin besar.
“loe apaan sih?”tanya Rio kesal.

“loe tuh yang apa-apaan? udah tau tunangan loe satu sekolahan masih bisa ya loe mesra-mesraan sama cewek lain?”ucap Cakka memburu.

Rio tersenyum miring, “Masalah buat loe? Bukannya loe seneng ya?”

“HEH!”Cakka mencengkram kerah baju Rio, “gue gak sepicik itu Rio!”

Rio melepaskan cengkraman Cakka, “terus? Sebutan apa yang pantes sama cowok yang ciuman sama tuangan orang?”desis Rio

BUGH

Rio memegangi pipinya yang di hadiahi bogeman mentah Cakka. Cakka mendekati Rio yang masih memegangi pipinya, ia mengangkat tangan hendak memukul pemuda di hadapannya lagi.

“CAKKA STOP!!!”Agni segera berlari ke arah Rio, “gapapa Io'?”tanyanya, Rio menggeleng. Agni mengalihkan pandangannya pada Cakka, “apa-apaan sih Kka? Gak gini caranya nyelesein masalah!”guman Agni, “pulang ya, biar aku obatin”kata Agni pada Rio.
Rio mengangguk setelah itu mengikuti Agni yang menarik tangannya.

“argh....”Cakka memukul tembok yang kasar hingga dari tangannya bercucuran darah.

***

Rafli mengajak Marsha ke suatu tempat, ia merasa harus memperbaiki hubungannya dengan Marsha.
“bagus gak?”tanya Rafli

Marsha mengedarkan pandangannya, tempat ini sungguh indah.
“bagus banget Raf, indah, pemandangannya cantik”

Rafli tersenyum senang, ia menarik Marsha agar duduk di atas rerumputan hijau di sampingnya.
“tapi cantikan loe kok Sha, gak ada yang ngalahin cantiknya loe”

Marsha menyenggol Rafli, “gak usah gombal deh”ia menatap Rafli, mencoba membaca jalan pikirannya yang entah kenapa Rafli selalu bisa membloknya.

“heran ya gue bisa blok pikiran gue dari loe?”tanya Rafli

“penting gitu baca pikiran loe? Gak lagi”ungkap Marsha agak kesal.

Rafli mengerlingkan matanya, “beneran nih? Gak penasaran?”godanya

Marsha memutar bola matanya, “gak penting”

Rafli menghela nafas, kemudian terdiam.

‘tumben gak godain terus’batin Marsha

Mereka larut dalam pikirannya masing-masing. Hingga Rafli mengawali pembicaraan.
“Sha, gue suka sama loe, loe percaya gak?”ujar Rafli

Marsha menatap Rafli, “percaya lah, guekan baik hati, sabar, gak sombong, rajin menabung, cantik, manis, lucu”

Rafli terkekeh, “gue serius Sha”

“gue juga serius, loe emang suka gue kan?”Marsha menunjukkan ekspresi seriusnya

“iya, bukan cuma suka, gue sayang banget sama loe”guman Rafli, “loe mau gak jadi cewek gue?”tanya Rafli.

Marsha mengerutkan keningnya, “tunggu tunggu, loe serius apa becanda sih?”ia menatap Rafli

Rafli menghela nafas, ia menggaruk tengkuknya yang tak gatal, ia kesal juga sama gadis di depannya ini. “ya serius lah Marsha”ucapnya dengan gemas

“yaudah”

“yaudah apa?”tanya Rafli

“kita pacaran”jawab Marsha cuek

“beneran?”tanya Rafli memastikan

“yaiyalah, udah ah pulang yuk udah sore”Marsha berdiri

Rafli mengangguk, “sorry ya gue gak romantis”

“ya... gue udah maklum la kalo loe gak romantis”Marsha merubah ekspresi wajahnya menjadi seperti berbunga-bunga, “ahhh coba gue punya cowok yang kayak Bagas, udah pendiem, romantis lagi... aaaaa.... jadi Cindai seneng  kali ya?”guman Marsha

Rafli cemberut, “yaudah pacaran aja sama Bagas, gue gak peduli”

“beneran?”

“tau deh”Rafli menaiki motornya, Marsha naik ke pemboncengan.

“udah ah jangan cemberut jelek”Marsha melingkarkan tangannya di perut ralfi.

Rafli tersenyum simpul, “iya”

Di perjalanan Marsha tak melepaskan pelukannya, mereka kadang tersenyum senang dengan candaan Rafli, jadi begini ya rasanya pacaran?

Rafli dan Marsha memasuki gerbang rumahnya, “makasih ya”kata Marsha
Rafli mengangguk ia membuka helm facefull nya, “gue langsung pulang deh ya”

“RAFLI”teriak seseorang dari depan rumah Marsha.

Rafli menatap siapa yang memanggilnya, “Papa?”

“PULANG! JAUHI ANAK INI”bentak Papanya, Deva.

“Pa, gak bisa gitu dong...”

“DAN KAMU, JAUHI ANAK SAYA”bentak Deva pada Marsha, setelah itu memasuki mobil mewahnya.

“RAFLI PULANG SEKARANG”perintah Deva

Rafli mengangguk patuh, “maaf Sha”Rafli memasang helmnya lagi setelah itu mengikuti mobil Papanya.

***

Bagas dan Cindai keluar secara bersamaan dari mobil itu, “gapapa nih pulang sore?”tanya Bagas

Cindai menggeleng lemah, “enggak, Mom gak bakalan marah kok kalo aku sama kamu”
Cindai menarik tangan Bagas agar ikut masuk kedalam rumahnya.

“Cindai pulang”

“Cindai”sapa seorang gadis cantik yang baru turun dari lantai dua kediaman Cindai.
Gadis itu berlari hingga berhadapan dengan Cindai, bukannya ia memeluk Cindai ia malah memeluk Bagas yang berdiri di samping Cindai.
“Bagas, aku kira gak bakalan bisa ketemu kamu”gumannya masih memeluk Bagas.

Bagas diam, ia masih belum percaya dengan hadirnya gadis ini, kembali datang ke dalam hidupnya. Ia mengeratkan genggaman tangan pada Cindai yang ia rasa ingin melepaskan genggamannya itu.
“aku kangen kamu”gadis tadi melepaskan pelukkannya pada Bagas

Bagas hanya tersenyum kaku, “aku pulang dulu”pamit Bagas pada Cindai

Cindai mengangguk.

Gadis itu menahan tangan Bagas,“kok pulang?”tanya gadis itu.

Bagas melepaskan genggaman gadis itu, ia mendekatkan wajahnya pada wajah Cindai namun Cindai mendorong Bagas dengan halus, “yuk biar aku anter lagi sampe depan”ujar Cindai

“Chelsea, makan dulu yuk”ajak Dea yang datang dari arah dapur.

Gadis tadi, Chelsea. mengangguk.

***

Ify memasuki kediamannya dengan wajah yang lesu hari ini benar-benar melelahkan hatinya.
“Ify datang”sahut Ify malas.

“Ify, sini sayang”sahut Mama, Shilla.

Ify berjalan ke ruang tamu, “lho, tante Sivia?”ujar Ify

Shilla menatap Ify, “kamu kenal temen Mama ini?”

Ify mengangguk, ia duduk di samping Shilla. “kenal, tante Sivia kan Mamanya Cakka, temen Ify”

“wah beneran?”tanya Shilla

Sivia mengangguk, “iya, waktu aku dateng kesekolahan Cakka, Cakka ngenalin Ify”

Shilla mengerling jahil “wah, dikenalin ya? deket dong sama Cakka?”goda Shilla

“ya deket lah, orang Cakka temen sekelas”ujar Ify, entah kenapa ia jadi bersemengat seperti ini

“Cakka cakep gak Fy?”tanya Sivia

“banget tante, malahan temen sekelas bahkan satu sekolahpun suka sama dia”jelas Ify

“kamu suka dong”kata Sivia

“hah? Aku? Enggak lah tant”jawab Ify

Sivia tersenyum, “kapan-kapan main kerumah, biar tante kenalin sama adeknya Cakka”

Ify mengangguk, “oke tante, oiya Ify ganti baju dulu deh ya”Ify berlalu setelah melihat anggukan dari Sivia dan Shilla.

“Cakka anakmu yang cakep itukan?”tanya Shilla

“ketiga anak aku cakep kali”jawab Sivia

Shilla terkekeh, “iyaya... kan cowok semua”gumannya
“boleh deh satu jadi anak aku”pinta Shilla

Sivia tersenyum menanggapinya, “besanan dong, haha”ia tertawa renyah

***

Cakka masih terdiam di dalam mobil di halaman rumahnya, pikirannya benar-benar buntu sekarang. Apa yang harus ia lakukan? Agni tidak membalas pesannya, telponnyapun di abaikan begitu saja. Apa tadi ia keterlaluan?

Tuk tuk tuk

Seseorang mengetuk kaca mobilnya, Cakka menurunkan kaca mobilnya, setelah itu menatap tak berkedip orang yang ada di hadapannya
“Kay?”


To Be Continue...

Sempet senyum-senyum sendiri gara-gara liat komenan yg bilang Agni hamil, emang di dialognya ada kata hasil pemeriksaan Agni ya? enggak kan? Hehe...

Saran kritik? Boleh di sampaikan di Inbox. Ini buat yang minta kak Kay di adain di cerita ini aku udah usahain dan akhirnya bisa nyempil juga, maaf ya kalo ngecewain...

Jangan lupa tinggalkan jejak. :)

2 comments:

  1. ka nenden kapan part 10nya dipos?
    bentar lagi UN yah... semoga sukses ya !!

    ReplyDelete
  2. nanti deh ya masih perbaikan, iya bentar lagi aku juga UN do'ain aja ya semoga sukses dan dapet nilai memuaskan :)

    ReplyDelete