Monday, 1 April 2013

Kenali Musuh Sebelum Berperang (SS)



Dua orang Pemuda memperhatikan seorang gadis yang sedang menyantap makan siangnya di sebuah kantin.
“siapa dia?”tanya salah satu pemuda, sebut saja Cakka.

Pemuda yang ada di hadapannya, Gabriel. terkekeh, “loe gak tau dia?”tanyanya.

Cakka berdecak, “kalo gue tau gak bakalan nanya”imbuhnya.

“namanya Agni, dia model”ucap Iel, ia menyantap makanannya.

“anak baru?”Cakka menatap gadis yang bernama Agni itu tanpa mengalihkan pandangan sedikitpun. ‘pantesan, ternyata model’

“bukan, dia junior”

Cakka membulatkan bibirnya.

Gabriel menghentikan makannya, “kalo loe bisa taklukin dia, gue berani deh jadi kacung loe selama seminggu”

Cakka tersenyum miring, “loe bakalan jadi kacung gue, Gabriel”

“gue mau dalam satu minggu loe udah pacarin dia, kalo enggak loe yang jadi kacung gue”tantang Iel

“oke! Liat ini Gab”Cakka beranjak menuju kursi dimana Agni dan teman-temannya duduk.

Agni menatap Cakka dengan pandangan penuh tanya.

Cakka tersenyum tipis, “hai, loe Agni?”tunjuk Cakka pada gadis yang rambutnya di kuncir kuda.

Agni menyambutnya dengan senyuman juga, “hai juga, iya kenapa emangnya?”

Cakka mengulurkan tangannya, “gue Cakka”

Agni menjabat tangan Cakka, “Agni”

“boleh gue minta nomor hape loe?”ucap Cakka

Agni mengangguk, “boleh, catet ya”

Agni menyebutkan beberapa digit angka, Cakka dengan telaten mencatat nomor itu.
“thanks ya”Cakka berlalu setelah mendapat acungan jempol dari Agni.

***

Agni dan tiga temannya, Ify, Sivia dan Shilla. Mereka tengah berkumpul di kediaman Agni.
“tumben ya loe gak ada jadwal”kata Ify, setelah itu di iringi sengan tawa dari teman-temannya.

Agni terkekeh, “sialan loe”

Ponsel Agni berdering, ia melirik ponselnya.

“siapa?”tanya Sivia

“Cakka”Agni beranjak dari tempatnya.

“ya hallo?”

“hai Ni, lagi ngapain?”

“lagi maen sama temen-temen”

“gue ganggu ya?”

“gak kok, ada ada emangnya?”

“gue mau ajak loe jalan”

“ohh boleh, entar malem deh ya”

“oke, bye cantik”

Agni tersenyum, “bye”

“seneng amat loe, ati-ati Ni buaya tetep aja buaya”ujar Shilla

“iya Ni, diakan playboy”sambung Ify

“bener tuh apa kata Shilla sama Ify, ati-ati loe”simpul Sivia

Agni tersenyum miring mendengar penuturan-penuturan temannya.

***

Malam harinya Agni jalan-jalan bersama Cakka disebuah pusat perbelanjaan. Mereka berjalan beriringan dengan terkadang di selingi candaan-candaan.
“maen yuk”ajak Agni

“boleh”mereka berjalan ke tempat permainan di mall itu.

Seseorang menepuk pundak Agni, Agni berbalik.
“eh hai Ray”Agni bercipika-cipiki dengan orang itu yang bernama Ray
“ngapain disini?”tanya Agni

Ray tersenyum, “lagi nemenin Mama belanja”

Agni mengangguk-angguk mengerti.
“yaudah, duluan ya kasian Mama kalo nunggu lama”

Agni tersenyum, “oke”
Setelah itu Ray berlalu.

“siapa Ni?”tanya Cakka

Agni berbalik, “temen, kenapa emangnya?”

Cakka tersenyum, “gapapa”

Merekapun bermain di tempat itu sampai jam sembilan malam, Cakkapun mengantarkan Agni ke rumahnya.

***

Pagi hari yang cerah di awal liburan semester, sangat mendukung buat main atau jalan-jalan bersama orang yang di kasihi. Begitupun dengan Cakka, hari ini ia berniat bermain ke rumah Agni untuk mengajaknya jalan-jalan.
Cakka menekan bel rumah Agni, tak lama terdengar sahutan. Perlahan pintu besar itu terbuka, namun bukan Agni yang ia dapati malah seorang anak kecil yang ia lihat.
“kak Agninya ada?”tanya Cakka

Anak itu mengerutkan keningnya lucu, “kakak siapa?”tanyanya.

Cakka terkekeh, “kamu lucu deh, nama kakak, Cakka. Nama kamu?”

Anak itu mengerucutkan bibirnya, ia paling gak suka di sebut lucu, emangnya boneka lucu? “Difa” ia meloyor masuk tanpa mengajak Cakka. Namun tak lama Agni keluar menggandeng Difa

“hei Kka, kenapa gak masuk?”tanya Agni.

Cakka tersenyum, “gak ada yang ngajak sih”

Agni tersenyum, “yaudah yuk masuk”

“kak Ni, Difa gak suka kakak itu”rengek Difa, ia duduk di pangkuan Agni

Dahi Cakka mengkerut, “kok gitu? Emang kakak jahat ya?”

Difa nampak berbisik pada Agni, Agni balas membisik pada anak itu. Difa tersenyum riang ia segera turun dari pangkuan Agni dan pergi entah kemana.
“Difa gak suka di sebut lucu Kka, makannya dia gak suka sama loe”guman Agni

Cakka mengangguk mengerti, “tapi dia emang lucu, ngegemesin banget”

Agni tersenyum kecil.

“oiya Ni, katanya seharusnya loe satu angkatan ya sama gue?”tanya Cakka

Agni mengangguk, “tadinya gue males kuliah, tapi setelah gue pikir-pikir gak ada kerjaan banget gak kuliah jadilah gue baru bisa masuk taun ini”jelasnya

“Difa siap”teriak Difa sambil berlari dan duduk di samping Agni, kini anak itu telah memakai pakaian santai tapi terlihat lebih rapih.

Agni tersenyum, “jadi jalan Kka?”tanya Agni.

“jadi, ngajak...”Cakka melirik Difa

Agni mengangguk semangat.
“Difa mau ke dufan”ucap Difa, Agni mengangguk menurutinya.

Cakka menghela nafas panjang, yaudahlah mau tidak mau.

“kalo gak mau gapapa, biar Difa gue anterin aja ke rumah kakak”putus Agni

Difa nampak cemberut, “NO! Difa gak mau pulang kesana Kak, Mommy cerewet!”

Cakka tersenyum, ia mengelus puncak kepala Difa, “yaudah yuk kita ke dufan”

Mata indah Difa berbinar, “beneran ya?”tanyanya memastikan

Cakka mengangguk pasti, “heem”

“yee”sorak Difa

***

Sudah hampir lima jam mereka berputar-putar di dufan, naik dari satu wahana ke wahana lainnya. Sebenarnya mereka memfokuskan diri pada Difa, tapi meski begitu mereka tak kalah bahagia dengan Difa yang terus bermain tanpa lelah.
“Difa, makan dulu ya... kalo gak makan nanti kak Agni di marahin Mommy kamu lagi”bujuk Agni

Difa menggeleng, ia menarik-narik ujung baju Cakka meminta pemuda itu untuk jongkok.
“gendong, Difa ngantuk”rengeknya

Cakka terkekeh, ia membawa Difa kedalam gendongannya.
“Difa mau pulang?”tanya Cakka

Difa menggeleng pelan, ia benamkan wajahnya di lekukan leher Cakka.
“Difa mau ke rumah kak Cakka”imbuhnya

Agni meringis, ia menatap Cakka ragu “maaf ya, gak udah deh ya... nanti ngerepotin lagi kalo ke rumah kak Cakka”

“kalo gitu Difa gak mau pulang”ancam Difa, sesekali ia terlihat menguap.

Cakka mengelus pipi Agni, “gapapa, yuk”ia menarik tangan Agni dengan lembut.

***

Agni berjalan di belakang Cakka, mereka kini berjalan memasuki kediaman Cakka yang cukup mewah.
“rumah loe?”tanya Agni kurang percaya

Cakka mengangguk pasti, “iya, kenapa berantakan ya? atau jelek?”

Agni tersenyum, “enggak bukan gitu, tapi loe kan masih kuliah darimana coba dapet rumah segede ini?”

Cakka terkekeh, “ya kerjalah, gini-gini gue udah punya kerjaan”

Agni mengangguk-angguk mengerti, sesekali ia melirik Difa yang terlihat sudah terlelap dalam gendongan Cakka.
“capek banget ya kayaknya”guman Agni, ia mengelus pelan kepala Difa

Cakka tersenyum, ia berjalan menuju sebuah kamar, kemudian masuk ke dalam ruangan itu.
“biar Difa tidur dulu disini”

Agni menatap khawatir ke arah Difa, “Difa pasti bangun, dia itu kalo tidur kudu di temenin Mommy nya”

Cakka terdiam, “terus gimana? Gak mungkinkan gue gendong terus”

Agni mengangguk, ia berbisik pada Difa yang membuat anak itu menggeliat, membuka matanya dengan malas.
“bangun, udah di rumah kak Cakka nih”kata Agni

Difa menepuk-nepuk dada Cakka tanda ia ingin turun dari gendongan pemuda itu.
“ini kamar kak Cakka?”Difa mengerjabkan matanya, kemudian mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kamar itu.

Cakka menggeleng, “ini kamar tamu, kamar kakak ada di atas, mau kesana?”

Difa mengangguk semangat, sementara Agni lagi-lagi meringis, malu juga membawa anak yang jiwa ingin taunya tinggi. “sorry ya”

Cakka mengangguk maklum, ia menggandeng Difa untuk berjalan-jalan di rumahnya. Setelah makan siang siap, mereka juga makan disana. Sampai waktu sudah menunjukkan jam lima dengan berat hati ia harus pulang.
“kan Difa kapan-kapan bisa kesini lagi”bujuk Cakka karena Difa gak mau pulang.

“yuk Dif, kakak gak mau lho di marahin Mommy kamu itu”ajak Agni

Difa mengangguk lemas, Agni tersenyum melihat anggukkan itu.

***

Agni mengantarkan Difa ke dalam rumahnya.
“nah Difa, jangan nakal ya... nanti kapan-kapan kita jalan lagi”

“beneran lho kak, gak boong kan?”Difa menatap Agni dengan pandangan memelas

Agni mengangguk pasti, tak lama seorang wanita datang.
“Difa nakal gak Ni?”tanya wanita itu

Agni menggelang, “enggak kak, eh kak Rio nya mana?”

Wanita itu, Ify tersenyum pada Agni “belum pulang”

Agni mengerutkan dahinya, “jam segini?”

Ify mengangguk lemah, “mungkin lembur”

Agni menghela nafas, “yaudah deh, aku pamit ya kak. Kalo ada apa-apa bilang ke Agni aja biar entar Agni yang omelin kak Rio”

Ify terkekeh, “gak udahlah”

“kalo gitu Agni pamit, dah kak... dadaaa Difa”Agni melambaikan tangan pada Difa yang di balas dengan lambaian tangan juga.

***

Matahari kembali terbit menandakan hari baru telah datang kembali.
Pagi ini cukup cerah untuk jalan-jalan, apalagi hari ini kakaknya gak ada acara jadi Difa hari ini gak datang ke rumahnya.
Agni meraih ponselnya. Ia tersenyum begitu melihat satu pesan.

Pagi cantik.
Hari ini gue jemput lagi agak siangan ya?
Gue mau ajak loe jalan-jalan sekarang, berdua tapi... ya?
Gue jemput loe jam sebelas. :)

Setelah membaca pesan itu Agni segera ke kamar mandi untuk sekedar membasuh wajahnya. Setelah itu ia turun untuk sarapan.
“hari ini masak apa Bi? Dari harumnya enak nih”tanya Agni pada Bi Jum, seorang wanita yang sudah berumur yang merawat Agni dari sejak bayi.

“ini masak makanan biasanya non, kan non sukanya nasi goreng kalo pagi”wanita itu memberikan sepiring nasi yang berwarna coklat.

Agni tersenyum, “makasih bi, oiya... nanti siang masakin lagi ya ada temen Agni yang mau kesini”

“beres non”Bi Jum kembali kedapur untuk membawa makanan pelengkap yang belum dibawa.

***

Cakka dan Agni berjalan beriringan menuju sebuah danau yang sangat indah, danau yang cukup terawat dan airnya juga sangat jernih.
“waw, darimana loe tau tempat ini?”tanya Agni

Cakka tersenyum, “ini tempat spesial gue sama Oma, dan gue cuma bawa orang spesial ke tempat ini”gumannya

Agni tersenyum simpul, “jadi gue spesial nih?”tanya Agni

Cakka bergumam, “menurut loe?”

Agni mengangkat bahu tanda tak tau, ia duduk di bangku dekat danau. Cakka ikut di sampingnya.
“sebenernya gue itu mau bilang sesuatu sama loe”

Agni mengangkat kepalanya, ia menyimpan ponselnya yang sedari tadi di otak-atik.
“ngomongin apa?”

Cakka berdeham, ia menyempurnakan posisi duduknya.
“gue suka sama loe, loe mau gak jadi cewek gue?”

Agni tersenyum tipis, “kita baru kenal, oiya kerumah gue yuk Bibi gue udah nyiapin makanan”

Cakka menghela nafas, yasudahlah mungkin belum tepat.

***

Cakka dan Agni memasuki pakarangan rumahnya, “mobil siapa Ni?”tanya Cakka karena merasa asing dengan sebuah mobil yang terparkir di halaman rumahnya.

Agni nampak bingung, ia mengalihkan pandangan ke arah lain, “mobil kak Rio mungkin”

Cakka mengerutkan keningnya, “kak Rio? Kakak loe itu? Ngapain dia kesini?”

“gak tau”jawab Agni, ia keluar dari mobilnya dan masuk ke dalam rumahnya mendahului Cakka.

“non”Bi Jum mendekati Agni, “ada tuan muda”

Agni membelalakan matanya, “kok tumben?”
“gak tau non, tadi katanya mau pamit mau keluar kota”jelas Bi Jum.

Cakka mendekati Agni, “siapa Ni? Hehe sorry gue masuk gak permisi”

Agni tersenyum, “yaudah makan yuk”

Keduanyapun makan dalam hening sesekali mereka berbincang namun itu tidak banyak, hanya seperlunya saja. Tak lama setelah itu Cakkapun pamit.

***

Tanpa terasa satu minggu sudah Agni mengenal Cakka, begitupun sebaliknya.
Agni membangunkan dirinya dengan ogah-ogahan, ia melirik jam yang berada di dinding kamarnya.
Begitu ia hendak ke kamar mandi ponselnya kembali berdering. Agni berdecak kesal.
“hallo”

“pagi Ni, hari ini ada acara?”

Agni nampak berpikir, “ada, kenapa emang?”

“tadinya gue mau ajak loe jalan lagi”

“sorry ya Kka, hari ini gue ada acara penting banget”

“yaudah, kapan-kapan juga bisa, kalo gitu udah dulu ya, bye”

“oke bye”

Setelah itu Agni kembali beranjak ke arah kamar mandinya.

***

Agni duduk sendiri di sudut sebuah cafe, ia sesekali melihat keluar yang nampaknya gerimis.
“lama banget”keluhnya

Seseorang menepuk pundak Agni, gadis itu berbalik. Ia mengerutkan dahinya.
“Kka? Lagi ngapain?”

“nganter Mama beli kue di toko sebelah”Cakka duduk di samping Agni

Agni mengangguk-angguk mengerti.

“nunggu siapa Ni?”tanya Cakka

Tak lama terlihat seseorang memasuki cafe itu, Agni melambaikan tangan pada orang itu.
“kenapa ada dia?”tanya orang itu menunjuk Cakka

Cakka berdiri bermaksud menyambut, “kenalin gue Cakka temen deketnya Agni”

“Ray”orang itu, Ray menjabat tangan Cakka, setelah itu mengalihkan pandangan pada Agni “kok gak bilang-bilang punya temen deket?”

Agni terkekeh, “gak usah kekanak-kanakan gitu deh, bukannya waktu itu kamu pernah liat ya? dan pernah di ceritain juga kan sama temen-temen aku?”

Ray nampak berfikir, “oh iya”

Agni teringat sesuatu, ia mengalihkan pandangan pada Cakka “Kka dia ini lawan main gue kalo lagi modeling”

Cakka mengangguk-angguk mengerti, “pantesan akrab banget”

Seseorang berlari kecil ke arah Agni, “Mami... ups”ia melirik takut ke arah Cakka.

Cakka mengerutkan dahinya, “Difa?”

Difa meringis, “Maaf”

Ray tertawa kecil, ia mengacak-acak rambut Difa. “maaf kenapa?”

Difa duduk di pangkuan Ray, “enggak kok Pi, Papi kapan pulang? Difa kangen Difa mau tinggal bertiga lagi sama Mami”

Agni menatap Cakka dengan ekor matanya ia tersenyum penuh kemenangan dalam hatinya, terlihat jelas rahang Cakka mengeras. Mungkin ia measa terbodohi atau entahlah.

“sebaiknya gue pergi, permisi”Cakka berlalu begitu saja.

***

“hah?! Serius loe? Masa sih sampe segitunya?”tanya Shilla antusias

Agni tersenyum sinis, “itu buat pelajaran aja, emang cewek barang bisa di pake taruhan”

Ify merengut, “kalo gitu loe menang dong, yaaahhh....”

THE END

No comments:

Post a Comment