Dua orang Pemuda memperhatikan seorang gadis yang sedang menyantap
makan siangnya di sebuah kantin.
“siapa
dia?”tanya salah satu pemuda, sebut saja Cakka.
Pemuda yang
ada di hadapannya, Gabriel. terkekeh, “loe gak tau dia?”tanyanya.
Cakka
berdecak, “kalo gue tau gak bakalan nanya”imbuhnya.
“namanya
Agni, dia model”ucap Iel, ia menyantap makanannya.
“anak
baru?”Cakka menatap gadis yang bernama Agni itu tanpa mengalihkan pandangan
sedikitpun. ‘pantesan, ternyata model’
“bukan, dia junior”
Cakka
membulatkan bibirnya.
Gabriel
menghentikan makannya, “kalo loe bisa taklukin dia, gue berani deh jadi kacung
loe selama seminggu”
Cakka
tersenyum miring, “loe bakalan jadi kacung gue, Gabriel”
“gue mau
dalam satu minggu loe udah pacarin dia, kalo enggak loe yang jadi kacung
gue”tantang Iel
“oke! Liat
ini Gab”Cakka beranjak menuju kursi dimana Agni dan teman-temannya duduk.
Agni menatap
Cakka dengan pandangan penuh tanya.
Cakka
tersenyum tipis, “hai, loe Agni?”tunjuk Cakka pada gadis yang rambutnya di
kuncir kuda.
Agni
menyambutnya dengan senyuman juga, “hai juga, iya kenapa emangnya?”
Cakka
mengulurkan tangannya, “gue Cakka”
Agni
menjabat tangan Cakka, “Agni”
“boleh gue
minta nomor hape loe?”ucap Cakka
Agni
mengangguk, “boleh, catet ya”
Agni
menyebutkan beberapa digit angka, Cakka dengan telaten mencatat nomor itu.
“thanks
ya”Cakka berlalu setelah mendapat acungan jempol dari Agni.
***
Agni dan
tiga temannya, Ify, Sivia dan Shilla. Mereka tengah berkumpul di kediaman Agni.
“tumben ya
loe gak ada jadwal”kata Ify, setelah itu di iringi sengan tawa dari
teman-temannya.
Agni
terkekeh, “sialan loe”
Ponsel Agni
berdering, ia melirik ponselnya.
“siapa?”tanya
Sivia
“Cakka”Agni
beranjak dari tempatnya.
“ya hallo?”
“hai Ni, lagi ngapain?”
“lagi maen
sama temen-temen”
“gue ganggu ya?”
“gak kok,
ada ada emangnya?”
“gue mau ajak loe jalan”
“ohh boleh,
entar malem deh ya”
“oke, bye cantik”
Agni
tersenyum, “bye”
“seneng amat
loe, ati-ati Ni buaya tetep aja buaya”ujar Shilla
“iya Ni,
diakan playboy”sambung Ify
“bener tuh
apa kata Shilla sama Ify, ati-ati loe”simpul Sivia
Agni
tersenyum miring mendengar penuturan-penuturan temannya.
***
Malam
harinya Agni jalan-jalan bersama Cakka disebuah pusat perbelanjaan. Mereka berjalan
beriringan dengan terkadang di selingi candaan-candaan.
“maen
yuk”ajak Agni
“boleh”mereka
berjalan ke tempat permainan di mall itu.
Seseorang
menepuk pundak Agni, Agni berbalik.
“eh hai Ray”Agni
bercipika-cipiki dengan orang itu yang bernama Ray
“ngapain
disini?”tanya Agni
Ray
tersenyum, “lagi nemenin Mama belanja”
Agni
mengangguk-angguk mengerti.
“yaudah,
duluan ya kasian Mama kalo nunggu lama”
Agni
tersenyum, “oke”
Setelah itu Ray
berlalu.
“siapa
Ni?”tanya Cakka
Agni
berbalik, “temen, kenapa emangnya?”
Cakka
tersenyum, “gapapa”
Merekapun
bermain di tempat itu sampai jam sembilan malam, Cakkapun mengantarkan Agni ke
rumahnya.
***
Pagi hari yang cerah di awal liburan semester, sangat mendukung buat
main atau jalan-jalan bersama orang yang di kasihi. Begitupun dengan Cakka,
hari ini ia berniat bermain ke rumah Agni untuk mengajaknya jalan-jalan.
Cakka menekan bel rumah Agni, tak lama terdengar sahutan. Perlahan
pintu besar itu terbuka, namun bukan Agni yang ia dapati malah seorang anak
kecil yang ia lihat.
“kak Agninya
ada?”tanya Cakka
Anak itu
mengerutkan keningnya lucu, “kakak siapa?”tanyanya.
Cakka
terkekeh, “kamu lucu deh, nama kakak, Cakka. Nama kamu?”
Anak itu
mengerucutkan bibirnya, ia paling gak suka di sebut lucu, emangnya boneka lucu?
“Difa” ia meloyor masuk tanpa mengajak Cakka. Namun tak lama Agni keluar
menggandeng Difa
“hei Kka,
kenapa gak masuk?”tanya Agni.
Cakka
tersenyum, “gak ada yang ngajak sih”
Agni
tersenyum, “yaudah yuk masuk”
“kak Ni,
Difa gak suka kakak itu”rengek Difa, ia duduk di pangkuan Agni
Dahi Cakka
mengkerut, “kok gitu? Emang kakak jahat ya?”
Difa nampak
berbisik pada Agni, Agni balas membisik pada anak itu. Difa tersenyum riang ia
segera turun dari pangkuan Agni dan pergi entah kemana.
“Difa gak
suka di sebut lucu Kka, makannya dia gak suka sama loe”guman Agni
Cakka
mengangguk mengerti, “tapi dia emang lucu, ngegemesin banget”
Agni
tersenyum kecil.
“oiya Ni,
katanya seharusnya loe satu angkatan ya sama gue?”tanya Cakka
Agni mengangguk,
“tadinya gue males kuliah, tapi setelah gue pikir-pikir gak ada kerjaan banget
gak kuliah jadilah gue baru bisa masuk taun ini”jelasnya
“Difa
siap”teriak Difa sambil berlari dan duduk di samping Agni, kini anak itu telah
memakai pakaian santai tapi terlihat lebih rapih.
Agni
tersenyum, “jadi jalan Kka?”tanya Agni.
“jadi,
ngajak...”Cakka melirik Difa
Agni
mengangguk semangat.
“Difa mau ke
dufan”ucap Difa, Agni mengangguk menurutinya.
Cakka
menghela nafas panjang, yaudahlah mau tidak mau.
“kalo gak
mau gapapa, biar Difa gue anterin aja ke rumah kakak”putus Agni
Difa nampak
cemberut, “NO! Difa gak mau pulang kesana Kak, Mommy cerewet!”
Cakka
tersenyum, ia mengelus puncak kepala Difa, “yaudah yuk kita ke dufan”
Mata indah
Difa berbinar, “beneran ya?”tanyanya memastikan
Cakka
mengangguk pasti, “heem”
“yee”sorak
Difa
***
Sudah hampir
lima jam mereka berputar-putar di dufan, naik dari satu wahana ke wahana
lainnya. Sebenarnya mereka memfokuskan diri pada Difa, tapi meski begitu mereka
tak kalah bahagia dengan Difa yang terus bermain tanpa lelah.
“Difa, makan
dulu ya... kalo gak makan nanti kak Agni di marahin Mommy kamu lagi”bujuk Agni
Difa
menggeleng, ia menarik-narik ujung baju Cakka meminta pemuda itu untuk jongkok.
“gendong,
Difa ngantuk”rengeknya
Cakka
terkekeh, ia membawa Difa kedalam gendongannya.
“Difa mau
pulang?”tanya Cakka
Difa
menggeleng pelan, ia benamkan wajahnya di lekukan leher Cakka.
“Difa mau ke
rumah kak Cakka”imbuhnya
Agni
meringis, ia menatap Cakka ragu “maaf ya, gak udah deh ya... nanti ngerepotin
lagi kalo ke rumah kak Cakka”
“kalo gitu
Difa gak mau pulang”ancam Difa, sesekali ia terlihat menguap.
Cakka
mengelus pipi Agni, “gapapa, yuk”ia menarik tangan Agni dengan lembut.
***
Agni
berjalan di belakang Cakka, mereka kini berjalan memasuki kediaman Cakka yang
cukup mewah.
“rumah
loe?”tanya Agni kurang percaya
Cakka
mengangguk pasti, “iya, kenapa berantakan ya? atau jelek?”
Agni
tersenyum, “enggak bukan gitu, tapi loe kan masih kuliah darimana coba dapet
rumah segede ini?”
Cakka
terkekeh, “ya kerjalah, gini-gini gue udah punya kerjaan”
Agni
mengangguk-angguk mengerti, sesekali ia melirik Difa yang terlihat sudah
terlelap dalam gendongan Cakka.
“capek
banget ya kayaknya”guman Agni, ia mengelus pelan kepala Difa
Cakka
tersenyum, ia berjalan menuju sebuah kamar, kemudian masuk ke dalam ruangan
itu.
“biar Difa
tidur dulu disini”
Agni menatap
khawatir ke arah Difa, “Difa pasti bangun, dia itu kalo tidur kudu di temenin
Mommy nya”
Cakka
terdiam, “terus gimana? Gak mungkinkan gue gendong terus”
Agni
mengangguk, ia berbisik pada Difa yang membuat anak itu menggeliat, membuka
matanya dengan malas.
“bangun,
udah di rumah kak Cakka nih”kata Agni
Difa
menepuk-nepuk dada Cakka tanda ia ingin turun dari gendongan pemuda itu.
“ini kamar
kak Cakka?”Difa mengerjabkan matanya, kemudian mengedarkan pandangannya ke
seluruh penjuru kamar itu.
Cakka
menggeleng, “ini kamar tamu, kamar kakak ada di atas, mau kesana?”
Difa
mengangguk semangat, sementara Agni lagi-lagi meringis, malu juga membawa anak
yang jiwa ingin taunya tinggi. “sorry ya”
Cakka
mengangguk maklum, ia menggandeng Difa untuk berjalan-jalan di rumahnya.
Setelah makan siang siap, mereka juga makan disana. Sampai waktu sudah
menunjukkan jam lima dengan berat hati ia harus pulang.
“kan Difa
kapan-kapan bisa kesini lagi”bujuk Cakka karena Difa gak mau pulang.
“yuk Dif,
kakak gak mau lho di marahin Mommy kamu itu”ajak Agni
Difa
mengangguk lemas, Agni tersenyum melihat anggukkan itu.
***
Agni
mengantarkan Difa ke dalam rumahnya.
“nah Difa,
jangan nakal ya... nanti kapan-kapan kita jalan lagi”
“beneran lho
kak, gak boong kan?”Difa menatap Agni dengan pandangan memelas
Agni
mengangguk pasti, tak lama seorang wanita datang.
“Difa nakal
gak Ni?”tanya wanita itu
Agni menggelang,
“enggak kak, eh kak Rio nya mana?”
Wanita itu,
Ify tersenyum pada Agni “belum pulang”
Agni
mengerutkan dahinya, “jam segini?”
Ify
mengangguk lemah, “mungkin lembur”
Agni
menghela nafas, “yaudah deh, aku pamit ya kak. Kalo ada apa-apa bilang ke Agni
aja biar entar Agni yang omelin kak Rio”
Ify
terkekeh, “gak udahlah”
“kalo gitu
Agni pamit, dah kak... dadaaa Difa”Agni melambaikan tangan pada Difa yang di
balas dengan lambaian tangan juga.
***
Matahari
kembali terbit menandakan hari baru telah datang kembali.
Pagi ini
cukup cerah untuk jalan-jalan, apalagi hari ini kakaknya gak ada acara jadi
Difa hari ini gak datang ke rumahnya.
Agni meraih
ponselnya. Ia tersenyum begitu melihat satu pesan.
Pagi cantik.
Hari ini gue jemput lagi agak siangan ya?
Gue mau ajak loe jalan-jalan sekarang,
berdua tapi... ya?
Gue jemput loe jam sebelas. :)
Setelah
membaca pesan itu Agni segera ke kamar mandi untuk sekedar membasuh wajahnya.
Setelah itu ia turun untuk sarapan.
“hari ini
masak apa Bi? Dari harumnya enak nih”tanya Agni pada Bi Jum, seorang wanita
yang sudah berumur yang merawat Agni dari sejak bayi.
“ini masak
makanan biasanya non, kan non sukanya nasi goreng kalo pagi”wanita itu
memberikan sepiring nasi yang berwarna coklat.
Agni
tersenyum, “makasih bi, oiya... nanti siang masakin lagi ya ada temen Agni yang
mau kesini”
“beres
non”Bi Jum kembali kedapur untuk membawa makanan pelengkap yang belum dibawa.
***
Cakka dan Agni
berjalan beriringan menuju sebuah danau yang sangat indah, danau yang cukup
terawat dan airnya juga sangat jernih.
“waw,
darimana loe tau tempat ini?”tanya Agni
Cakka tersenyum,
“ini tempat spesial gue sama Oma, dan gue cuma bawa orang spesial ke tempat ini”gumannya
Agni tersenyum
simpul, “jadi gue spesial nih?”tanya Agni
Cakka bergumam,
“menurut loe?”
Agni mengangkat
bahu tanda tak tau, ia duduk di bangku dekat danau. Cakka ikut di sampingnya.
“sebenernya
gue itu mau bilang sesuatu sama loe”
Agni mengangkat
kepalanya, ia menyimpan ponselnya yang sedari tadi di otak-atik.
“ngomongin
apa?”
Cakka berdeham,
ia menyempurnakan posisi duduknya.
“gue suka
sama loe, loe mau gak jadi cewek gue?”
Agni tersenyum
tipis, “kita baru kenal, oiya kerumah gue yuk Bibi gue udah nyiapin makanan”
Cakka menghela
nafas, yasudahlah mungkin belum tepat.
***
Cakka dan Agni
memasuki pakarangan rumahnya, “mobil siapa Ni?”tanya Cakka karena merasa asing
dengan sebuah mobil yang terparkir di halaman rumahnya.
Agni nampak
bingung, ia mengalihkan pandangan ke arah lain, “mobil kak Rio mungkin”
Cakka mengerutkan
keningnya, “kak Rio? Kakak loe itu? Ngapain dia kesini?”
“gak tau”jawab
Agni, ia keluar dari mobilnya dan masuk ke dalam rumahnya mendahului Cakka.
“non”Bi Jum
mendekati Agni, “ada tuan muda”
Agni membelalakan
matanya, “kok tumben?”
“gak tau
non, tadi katanya mau pamit mau keluar kota”jelas Bi Jum.
Cakka mendekati
Agni, “siapa Ni? Hehe sorry gue masuk gak permisi”
Agni tersenyum,
“yaudah makan yuk”
Keduanyapun makan
dalam hening sesekali mereka berbincang namun itu tidak banyak, hanya
seperlunya saja. Tak lama setelah itu Cakkapun pamit.
***
Tanpa terasa
satu minggu sudah Agni mengenal Cakka, begitupun sebaliknya.
Agni
membangunkan dirinya dengan ogah-ogahan, ia melirik jam yang berada di dinding
kamarnya.
Begitu ia
hendak ke kamar mandi ponselnya kembali berdering. Agni berdecak kesal.
“hallo”
“pagi Ni, hari ini ada acara?”
Agni nampak
berpikir, “ada, kenapa emang?”
“tadinya gue mau ajak loe jalan lagi”
“sorry ya
Kka, hari ini gue ada acara penting banget”
“yaudah, kapan-kapan juga bisa, kalo gitu
udah dulu ya, bye”
“oke bye”
Setelah itu
Agni kembali beranjak ke arah kamar mandinya.
***
Agni duduk
sendiri di sudut sebuah cafe, ia sesekali melihat keluar yang nampaknya
gerimis.
“lama
banget”keluhnya
Seseorang
menepuk pundak Agni, gadis itu berbalik. Ia mengerutkan dahinya.
“Kka? Lagi
ngapain?”
“nganter
Mama beli kue di toko sebelah”Cakka duduk di samping Agni
Agni
mengangguk-angguk mengerti.
“nunggu
siapa Ni?”tanya Cakka
Tak lama
terlihat seseorang memasuki cafe itu, Agni melambaikan tangan pada orang itu.
“kenapa ada
dia?”tanya orang itu menunjuk Cakka
Cakka
berdiri bermaksud menyambut, “kenalin gue Cakka temen deketnya Agni”
“Ray”orang
itu, Ray menjabat tangan Cakka, setelah itu mengalihkan pandangan pada Agni
“kok gak bilang-bilang punya temen deket?”
Agni
terkekeh, “gak usah kekanak-kanakan gitu deh, bukannya waktu itu kamu pernah
liat ya? dan pernah di ceritain juga kan sama temen-temen aku?”
Ray nampak
berfikir, “oh iya”
Agni
teringat sesuatu, ia mengalihkan pandangan pada Cakka “Kka dia ini lawan main
gue kalo lagi modeling”
Cakka
mengangguk-angguk mengerti, “pantesan akrab banget”
Seseorang berlari
kecil ke arah Agni, “Mami... ups”ia melirik takut ke arah Cakka.
Cakka mengerutkan
dahinya, “Difa?”
Difa meringis,
“Maaf”
Ray tertawa
kecil, ia mengacak-acak rambut Difa. “maaf kenapa?”
Difa duduk
di pangkuan Ray, “enggak kok Pi, Papi kapan pulang? Difa kangen Difa mau
tinggal bertiga lagi sama Mami”
Agni menatap
Cakka dengan ekor matanya ia tersenyum penuh kemenangan dalam hatinya, terlihat
jelas rahang Cakka mengeras. Mungkin ia measa terbodohi atau entahlah.
“sebaiknya
gue pergi, permisi”Cakka berlalu begitu saja.
***
“hah?! Serius
loe? Masa sih sampe segitunya?”tanya Shilla antusias
Agni tersenyum
sinis, “itu buat pelajaran aja, emang cewek barang bisa di pake taruhan”
Ify merengut,
“kalo gitu loe menang dong, yaaahhh....”
THE END
No comments:
Post a Comment