Part 1 – Rafa dan Indi
Aku masih belum percaya
dengan apa yang Indira katakan, semuanya terasa mimpi. Semula aku kira, begitu
Indira melihatku dirumahnya dia akan mencaci makiku atau tidak melirik diriku
sedikitpun. Kulirik sekali lagi Indira yang berada disampingku, kami berada di
lantai dua kediaman Indira.
“Terikamasih Indira...”
Indira masih belum
bereaksi, dia terus saja menatap kedepan tanpa melirik sedikitpun kearahku.
Aku hanya bisa menghela
nafas panjang. “Kata Oma, kamu mulai lusa mau bekerja di klinik di kompleks ini
ya?.”
Masih tak ada reaksi
dari Indira. “Dira...”
Indira memejamkan
matanya sejenak lalu menoleh kearahku. “Jangan pernah memanggilku dengan nama
itu, kamu gak berhak. Panggilan itu hanya... DIA yang boleh menggunakannya.”
DIA. Ya, Dia. Adik
bungsuku. Aku hanya bisa tersenyum miris. “Maaf... Indi, bolehkan aku
memanggilmu ‘Indi’ saja?.”
Dia terdiam lagi, dia
kembali mengacuhkanku. Aku juga melakukan hal yang sama, hanya bisa terdiam. Sebenarnya
apa yang ada dalam pikiran kamu sekarang Indira? Aku meliriknya sekali lagi dan
dia masih saja diam.
***
Sebut saja ini ide gila,
aku menerima lamaran Rafael. Meskipun aku tidak tau kedepannya nanti akan
seperti apa, namun setidaknya dengan kebersamaanku dengan Rafa akan membuat
kedua orang yang telah susah payah membesarkanku akan bahagia, Oma dan Opa.
“Indi... lusa aku mau ke
Bogor.”
Lalu? Pertanyaan itu tak
sekalipun aku ucapkan padanya, aku hanya menanggapinya dalam hati saja.
Entahlah, aku masih saja enggan untuk berkata padanya. Aku masih kecewa dengan semua yang aku dengan tempo dulu.
“Disana, di dekat tempat
tinggalku ada juga sebuah klinik, tapi sayang Dokter disana jarang sekali ada
di tempat. Kata beberapa warga, Dokter disana mementingkan urusan di Kota.”
Terus?. Aku bertanya
lagi dalam hatiku, masih belum meliriknya.
“Tadinya aku berniat
mengajakmu kesana, siapa tau kamu tertarik. Kita bisa tinggal disana, itupun
jika kamu mau.”
Aku tak pernah merasakan
Rafael seputus asa ini, apakah benar dia putus asa? Tapi kenapa? Apa dia kecewa
dengan sikapku?
“Rafa...”
“Iya...”
Rafael meresponnya
dengan lambat, akhirnya aku putuskan untuk menoleh kearahnya, menatapnya yang
ternyata sedang menatapku dengan tatapan sendu.
“Aku ikut... mungkin
disana aku bisa menemukan semua yang aku inginkan.” Aku hampir tak percaya
dengan apa yang aku ucapkan, benarkah aku seyakin ini?
Dia hanya tersenyum
simpul, hanya tersenyum simpul saja? Apakah dia tidak bahagia aku ikut
dengannya? Kenapa dia hanya tersenyum simpul? Oh sudahlah, memangnya apa yang
diharapkan dirimu Indira? Rafael memang seperti itu.
“Terimakasih Indi...”
desahnya. Tangannya meraih tanganku, meremasnya sejenak. Namun kemudian ia
lepaskan kembali. Kenapa Rafa...? Apakah sikapmu ini mengatakan kalau kamu
memang bersalah? Apakah kamu benar-benar ambil andil dengan kepergian Ray?
Apakah kamu merasa bersalah?
“Indi...” ucap Rafa
ragu, dia terlihat mengeluarkan sebuah kotak bludru dari dalam saku jaketnya.
“Terimalah ini, tanda
keseriusan aku terhadap hubungan kita. Pakailah...”
Rafael membuka kotak itu
didalamnya ada dua buah cincin, dia meraih salah satu cincin yang ukurannya
lebih kecil dari cincin satunya lagi. Dia menatapku ragu, aku mengerti apa
maksudnya. Ku berikan tangan kiri ku padanya. Dia menyematkan cincin itu dijari
manisku. Pas sekali. Aku tidak menyangka pilihannya bisa begitu pas di jariku.
Aku meraih cincin yang berada dalam kotak itu, lalu memasangkan di jari Rafael
juga.
Tanpa kusangka Rafael
menarikku dalam pelukannya. Beberapa saat aku terkesima dengan prilakunya.
Kenapa dia? Apakah ini caranya dia mengatakan kebahagiaannya? Rafa dengan
lembut memelukku, mengelus puncak kepalaku dan punggungku, sesaat kemudian
dilepaskanlah pelukannya padaku.
“Maaf...”
Aku menarik ujung
bibirku untuk tersenyum padanya, sekedar mengatakan tidak apa-apa. Aku bingung
harus berbuat apa, hingga hanya itulah yang bisa aku lakukan.
Rafael melirik arloji
ditangannya, kemudian kembali beralih padaku. Ia tersenyum sekilas.
“Aku harus pulang.”
Ucapnya, ia menatapku begitu dalam kemudian mengelus puncak kepalaku. “Jangan
tidur terlalu malam. Semoga mimpi indah.”
Setelah mengatakan itu
ia berdiri dan beranjak pergi dari hadapanku, dibawah juga terdengar
orangtuanya berpamitan pada Oma dan Opa. Kulirik jemari tanganku. Apa yang baru
saja aku lakukan? Apakah ini keputusan yang tepat?
***
Aku tak bisa
menyembunyikan rasa bahagiaku sekarang, begitu aku sampai di kamarku aku hanya
bisa memandangi bingkai foto Indira yang memang aku pajang cukup besar di dinding
kamarku. Tak banyak yang mengetahui perihal foto itu, begitupun dengan Indira.
Aku sengaja mencuri-curi saja memotretnya, karena dulu dia kekasih adikku.
Aku tersenyum lagi dan
lagi, kemudian meraih ponselku. Mengetikkan pesan pada Indira.
Indi...
aku udah sampai dirumah.
Aku masih tidak percaya,
kini Indira adalah calon isteriku. Indira taukah kamu, aku begitu memimpikan
saat aku bisa bersanding dipelaminan bersamamu. Membesarkan anak-anak kita
bersama, menjadi keluarga yang bahagia. Indira...
Tak berselang lama,
Indira membalas pesanku.
Syukurlah kalau begitu.
Aku hanya bisa
tersenyum. Setidaknya, dia masih mau membalas pesanku.
Iya, jangan terlalu malam tidurnya ya.
Semoga mimpi indah Indi.
Night...
Apa Indira akan membalas
pesanku lagi? Apa aku terlihat berharap sekarang? Aku hanya bisa menggelengkan
kepalaku pelan.
“Rafa...”
Aku menoleh kearah
pintu, Mamaku berada disana. Tersenyum tipis padaku.
“Kamu bahagia?.”
“Sangat, Rafa sangat
bahagia Ma.”
Mama duduk disampingku,
dia memandangi juga kearah foto Indira.
“Baru saja Kakakmu
menelpon, dia menanyakan tentang lamaran itu.”
“Siapa Ma?.”
“Rio.”
“Oh.”
Rio, salah satu dari
tiga Kakakku yang pada saat kejadian Indira datang kerumahku kebetulan mereka
memang sedang berada disini mengunjungi Mama dan Papa. Saat itu, Indira datang
untuk bertemu dengan Rossa salah satu cucu dari Oma dan Opa nya. Anak dari
Almarhum Kakak Mama nya Indira yang tak lain adalah isteri Kak Rio.
“Ada apa?.” Tanya Mama
Aku menatap kearahnya,
“Apa Ma?.”
“Kamu dan Kakakmu.”
Aku hanya menggeleng
kecil, tidak ada yang bisa disalahkan disini. Itu bukan kesalahan Kak Rio.
“Tidak ada apa-apa Ma,
Rafa juga gak tau kenapa dia malah menghubungi Mama, biasanya juga langsung
sama Rafa.”
Mama akhirnya hanya
tersenyum mengerti, aku berharap Mama memang tidak bertanya lagi.
“Mama keluar dulu ya,
tuh liat Hp kamu dari tadi nyala mulu.” Mama terlihat tersenyum geli, menggoda
ku. Begitu Mama keluar dari kamarku, aku langsung mengampil ponselku. Nama
Indira ada dilayar, memanggilku.
“Hallo Indi.”
“Eh... Raf...”
“Ada apa In? Aku kira
kamu udah tidur.”
“Enggak, ini cuma kepanggil. Udah ya. bye...”
“Bye...”
“Night...”
Aku tersenyum kecil.
apakah Indira mulai luluh?
“Night too Indira...”
Indira... Indira... aku
sayang banget sama kamu Indira... apa kamu menyadari itu Indira?
***
Aku menatap pantulan
wajahku dicermin meja rias, sambil meringis. Meratapi kebodohanku sendiri. Apa
yang loe lakuin Indira? Ahhh... gila! Ini gila!. Aku masih ingat, masih jelas
dalam pikiranku. Semalam, aku dengan polosnya malah menelpon Rafael hanya
karena aku bingung harus membalas pesan untuknya seperti apa, saat aku putuskan
untuk tidak membalasnya aku malah tidak mengantuk sama sekali. Akhirnya, dengan
bodohnya, gue... Karenina Indira
menelpon Rafael Adhi Pratama. Oh God!!!
Ponsel di nakas
terdengar berdering, aku meraihnya. Sebuah pesan dari Rafa.
Pagi Indira... jangan
lupa sarapan ya, aku berangkat kerja dulu.
Aku hanya bisa tersenyum
kecil melihat pesan itu, tapi tunggu! Kenapa aku tersenyum? Oh, pasti aku sudah
gila.
Pagi kembali Rafael, kamu juga jangan lupa sarapan ya...
selamat bekerja...
No no no! Apa-apaan
Indira? Sebelum aku mengirim pesan itu aku mendetele beberapa kata.
Pagi kembali Rafael, take care...
Setelah mengetikkannya
aku mengirimkan pesan itu tanpa ragu lagi kemudian tersenyum puas. Beberapa
saat kemudian senyumku memudar, entah kenapa aku merasa ada yang salah denganku
dan Rafa sekarang. Dulu kami tidak seperti ini, apa aku salah memperlakukan
Rafa seperti ini?
---
“Selamat pagi Oma...”
Oma berbalik kearahku
lalu tersenyum. Beliau sedang menata beberapa bunga hidup di ruangan. Oma
memang selalu melakukan hal itu, setiap pagi. Setelah sarapan Oma akan merawat
bunga-bunganya, setiap pagi.
“Opa udah berangkat ya
Oma? Oma udah sarapan?.”
“Baru saja berangkat.
Sudah, tinggal kamu yang belum sarapan.” Oma menjawil hidungku dengan tangannya
yang sudah bersih.
“Ini Indira mau sarapan
Oma.” Ucapku sambil mengacungkan sepasang roti yang siap untuk disantap.
“Kamu gak ke klinik?
Bukannya kamu akan mulai kerja besok?.”
Ahh iya klinik, aku jadi
ingat dengan tawaran Rafa.
“Oma... sebenarnya
kemarin Rafa mengajak Indira ke Bogor, katanya disana juga ada klinik, dan
mungkin setelah menikah kami akan tinggal disana Oma.”
Oma tersenyum padaku,
beliau bersidekap duduk dihadapanku, menunggu cerita selanjutnya. “Lalu?.”
Aku menatap Oma dengan
sedikit ragu, aku hanya takut mengecewakannya atau bisa saja Oma marah dan
tidak mengijinkan.
“Mmmm, sampai hari
pernikahan yang belum ditentukan. Indira akan tinggal dirumah Rafa disana.
Boleh Oma?.”
Aku menahan nafas
sejenak, mengamati reksi Oma yang belum bisa aku baca. Namun beberapa saat
kemudian Oma terlihat tersenyum tipis.
“Terserah kamu saja, Oma
yakin kamu tau yang terbaik.”
Aku berlari kecil
mendekati Oma, memeluknya yang selalu dengan sabar merawatku sejak dulu.
“Terimakasih Oma.”
***
Seharian ini aku
disibukkan dengan mengisi sebuah seminar, ada pula pertemuan dengan beberapa
kolega untuk membahas mengenai penelitian yang sedang kami lakukan. Aku juga
baru sadar ini sudah masuk jam makan siang. Kuraih ponselku yang sedari tadi
hanya menganggur tak kusentuh. Ada sebuah pesan disana.
Jangan lupa lunch...
Aku tersenyum kecil,
apakah Indira mulai perhatian padaku lagi? Aku hampir tak percaya akhirnya
Indira mulai perhatian lagi padaku apalagi mengingat akhir-akhir ini kami
merenggang.
Kamu juga jangan lupa lunch ya, maaf ya aku baru balas pesan
kamu.
Tak berselang lama pesan
itu dibalas.
Kamu dari mana aja?
Kenapa baru membalas pesanku?
Apakah Indira
menungguku? Hatiku menghangat membayangkan hal itu, apakah benar Indira
menungguku?
Aku habis ngisi seminar, lanjut ke meeting. Kamu seharian
ini kemana?
Dirumah!
Balasan pesan yang cukup
singkat. Ada apa dengan Indira? Tidak biasanya dia seperti itu.
***
AKU KESAAAAALLLLLLL....
Rafael menanyakan aku seharian kemana? AKU MENUNGGUMU RAFAEL!!! Apakah dia lupa
sekarang punya aku?! harusnya dia bisa membedakan, saat dia masih sendiri dan
saat sekarang sudah menjalin hubungan denganku! Apa dia tidak tau apa yang
harus dia lakukan saat memiliki pasangan? Harusnya dia berusaha menghubungiku
sesekali!!!
Setelah membalas pesan
Rafael Aku melirik laptopku lalu menyeringai senang. Terserah kau lah Rafael.
Sekarang aku tidak akan kesepian lagi!.
Me : RICK....
Rick : Hey, kenapa kamu?
Rindu aku? :D
Me : Tidak, aku cuma sedang
bosan dirumah sendiri.
Rick : Wooo Bu Dokter
kita masih belum bekerja juga?
Me : Belum, aku masih
pemulihan :D
Rick : Haha... eh udah
makan siang?
Me : Belum nih, kamu?
Rick : Nih aku lagi
makan, mau?
Me : No thanks. :P
Rick : Sedang menunggu
seseorang kah?
Pertanyaan yang
membuatku kesal. Ya, sebenarnya aku memang berharap Rafael mengajakku makan
diluar. Aku bosan dirumah terus. Kulirik ponselku yang baru menyala setelah
sekian lama diam.
Maaf sugar, aku kurang
memperhatikanmu.
Oh My God!!! Coba sekali
lagi aku baca. Hah?! Akhirnya dia sadar juga tidak memperhatikanku. Aku
mengalihkan kembali perhatianku pada laptop yang berbunyi.
Rick : Aku harus kembali
kerja. Bye...
Kenapa sih kerja kerja
dan kerja terus? Semuanya kerja dan kerja?! Ponselku berdering tanda sebuah
panggilan masuk. Rafael... aku berdehem kecil.
“Ya, Hallo...”
“Sugar...”
Akhirnya aku
mendengarnya memanggilku seperti itu lagi.
“Sugar... kamu marah? Maaf. Aku tadi benar-benar sibuk.
Beberapa menit lagi juga aku harus mengisi kelas.”
“Tidak. yasudah sana
kerja.”
“Sugar... maaf, aku janji nanti setelah selesai aku langsung
kesana. Aku bakalan menjadwal ulang kegiatanku supaya aku tidak terlalu sibuk.
Tapi please kamu jangan marah...”
Terserah kau!!!
“AKU. GAK. MARAH.”
“Sugar please. Kamu tau aku.”
“Iya aku tau. Orang
sibuk.”
“Bukan itu Indira...”
Dia mendesah pelan. Aku
hanya diam menunggunya kembali berbicara.
“Aku hubungi lagi kamu nanti. Jangan lupa lunch ya sugar.”
Panggilan itu diakhiri
sepihak olehnya. Tak berselang lama
sebuah pesan masuk.
Indira, apakah kamu
lupa? Kau adalah kelemahanku.
Deg!
Aku terdiam, aku hanya
terpaku. Dulu, Rafael memang pernah mengatakan hal itu padaku. Aku kira, dia
hanya berusaha menghiburku. Tapi ternyata dia benar-benar merasakan seperti
itu? benarkah?
Setelah terdiam beberapa
saat, kemudian terdengar suara decitan dari sebuah rem dipekarangan rumah. Aku
segera keluar dari kamarku.
“Rafa...”
Dia keluar dari
dalam mobilnya, lalu berjalan cepat
kearahku dengan tangan yang sibuk merenggangkan dasinya. Begitu dia berada
didekatku, dia langsung merengkuhku dalam pelukannya.
“Sugar... I’m so sorry.”
No comments:
Post a Comment