Thursday, 7 May 2015

RAIN

Part 1 – Rafa dan Indi

Aku masih belum percaya dengan apa yang Indira katakan, semuanya terasa mimpi. Semula aku kira, begitu Indira melihatku dirumahnya dia akan mencaci makiku atau tidak melirik diriku sedikitpun. Kulirik sekali lagi Indira yang berada disampingku, kami berada di lantai dua kediaman Indira.

“Terikamasih Indira...”

Indira masih belum bereaksi, dia terus saja menatap kedepan tanpa melirik sedikitpun kearahku.

Aku hanya bisa menghela nafas panjang. “Kata Oma, kamu mulai lusa mau bekerja di klinik di kompleks ini ya?.”

Masih tak ada reaksi dari Indira. “Dira...”

Indira memejamkan matanya sejenak lalu menoleh kearahku. “Jangan pernah memanggilku dengan nama itu, kamu gak berhak. Panggilan itu hanya... DIA yang boleh menggunakannya.”


DIA. Ya, Dia. Adik bungsuku. Aku hanya bisa tersenyum miris. “Maaf... Indi, bolehkan aku memanggilmu ‘Indi’ saja?.”

Dia terdiam lagi, dia kembali mengacuhkanku. Aku juga melakukan hal yang sama, hanya bisa terdiam. Sebenarnya apa yang ada dalam pikiran kamu sekarang Indira? Aku meliriknya sekali lagi dan dia masih saja diam.


***

Sebut saja ini ide gila, aku menerima lamaran Rafael. Meskipun aku tidak tau kedepannya nanti akan seperti apa, namun setidaknya dengan kebersamaanku dengan Rafa akan membuat kedua orang yang telah susah payah membesarkanku akan bahagia, Oma dan Opa.

“Indi... lusa aku mau ke Bogor.”

Lalu? Pertanyaan itu tak sekalipun aku ucapkan padanya, aku hanya menanggapinya dalam hati saja. Entahlah, aku masih saja enggan untuk berkata padanya. Aku masih kecewa  dengan semua yang aku dengan tempo dulu.

“Disana, di dekat tempat tinggalku ada juga sebuah klinik, tapi sayang Dokter disana jarang sekali ada di tempat. Kata beberapa warga, Dokter disana mementingkan urusan di Kota.”

Terus?. Aku bertanya lagi dalam hatiku, masih belum meliriknya.

“Tadinya aku berniat mengajakmu kesana, siapa tau kamu tertarik. Kita bisa tinggal disana, itupun jika kamu mau.”

Aku tak pernah merasakan Rafael seputus asa ini, apakah benar dia putus asa? Tapi kenapa? Apa dia kecewa dengan sikapku?

“Rafa...”
“Iya...”

Rafael meresponnya dengan lambat, akhirnya aku putuskan untuk menoleh kearahnya, menatapnya yang ternyata sedang menatapku dengan tatapan sendu.

“Aku ikut... mungkin disana aku bisa menemukan semua yang aku inginkan.” Aku hampir tak percaya dengan apa yang aku ucapkan, benarkah aku seyakin ini?

Dia hanya tersenyum simpul, hanya tersenyum simpul saja? Apakah dia tidak bahagia aku ikut dengannya? Kenapa dia hanya tersenyum simpul? Oh sudahlah, memangnya apa yang diharapkan dirimu Indira? Rafael memang seperti itu.

“Terimakasih Indi...” desahnya. Tangannya meraih tanganku, meremasnya sejenak. Namun kemudian ia lepaskan kembali. Kenapa Rafa...? Apakah sikapmu ini mengatakan kalau kamu memang bersalah? Apakah kamu benar-benar ambil andil dengan kepergian Ray? Apakah kamu merasa bersalah?

“Indi...” ucap Rafa ragu, dia terlihat mengeluarkan sebuah kotak bludru dari dalam saku jaketnya.
“Terimalah ini, tanda keseriusan aku terhadap hubungan kita. Pakailah...”

Rafael membuka kotak itu didalamnya ada dua buah cincin, dia meraih salah satu cincin yang ukurannya lebih kecil dari cincin satunya lagi. Dia menatapku ragu, aku mengerti apa maksudnya. Ku berikan tangan kiri ku padanya. Dia menyematkan cincin itu dijari manisku. Pas sekali. Aku tidak menyangka pilihannya bisa begitu pas di jariku. Aku meraih cincin yang berada dalam kotak itu, lalu memasangkan di jari Rafael juga.

Tanpa kusangka Rafael menarikku dalam pelukannya. Beberapa saat aku terkesima dengan prilakunya. Kenapa dia? Apakah ini caranya dia mengatakan kebahagiaannya? Rafa dengan lembut memelukku, mengelus puncak kepalaku dan punggungku, sesaat kemudian dilepaskanlah pelukannya padaku.

 “Maaf...”

Aku menarik ujung bibirku untuk tersenyum padanya, sekedar mengatakan tidak apa-apa. Aku bingung harus berbuat apa, hingga hanya itulah yang bisa aku lakukan.

Rafael melirik arloji ditangannya, kemudian kembali beralih padaku. Ia tersenyum sekilas.

“Aku harus pulang.” Ucapnya, ia menatapku begitu dalam kemudian mengelus puncak kepalaku. “Jangan tidur terlalu malam. Semoga mimpi indah.”

Setelah mengatakan itu ia berdiri dan beranjak pergi dari hadapanku, dibawah juga terdengar orangtuanya berpamitan pada Oma dan Opa. Kulirik jemari tanganku. Apa yang baru saja aku lakukan? Apakah ini keputusan yang tepat?


***

Aku tak bisa menyembunyikan rasa bahagiaku sekarang, begitu aku sampai di kamarku aku hanya bisa memandangi bingkai foto Indira yang memang aku pajang cukup besar di dinding kamarku. Tak banyak yang mengetahui perihal foto itu, begitupun dengan Indira. Aku sengaja mencuri-curi saja memotretnya, karena dulu dia kekasih adikku.

Aku tersenyum lagi dan lagi, kemudian meraih ponselku. Mengetikkan pesan pada Indira.

Indi... aku udah sampai dirumah.

Aku masih tidak percaya, kini Indira adalah calon isteriku. Indira taukah kamu, aku begitu memimpikan saat aku bisa bersanding dipelaminan bersamamu. Membesarkan anak-anak kita bersama, menjadi keluarga yang bahagia. Indira...

Tak berselang lama, Indira membalas pesanku.

Syukurlah kalau begitu.        

Aku hanya bisa tersenyum. Setidaknya, dia masih mau membalas pesanku.

Iya, jangan terlalu malam tidurnya ya.
Semoga mimpi indah Indi.
Night...

Apa Indira akan membalas pesanku lagi? Apa aku terlihat berharap sekarang? Aku hanya bisa menggelengkan kepalaku pelan.

“Rafa...”

Aku menoleh kearah pintu, Mamaku berada disana. Tersenyum tipis padaku.

“Kamu bahagia?.”
“Sangat, Rafa sangat bahagia Ma.”

Mama duduk disampingku, dia memandangi juga kearah foto Indira.
“Baru saja Kakakmu menelpon, dia menanyakan tentang lamaran itu.”
“Siapa Ma?.”
“Rio.”
“Oh.”

Rio, salah satu dari tiga Kakakku yang pada saat kejadian Indira datang kerumahku kebetulan mereka memang sedang berada disini mengunjungi Mama dan Papa. Saat itu, Indira datang untuk bertemu dengan Rossa salah satu cucu dari Oma dan Opa nya. Anak dari Almarhum Kakak Mama nya Indira yang tak lain adalah isteri Kak Rio.

“Ada apa?.” Tanya Mama
Aku menatap kearahnya, “Apa Ma?.”
“Kamu dan Kakakmu.”

Aku hanya menggeleng kecil, tidak ada yang bisa disalahkan disini. Itu bukan kesalahan Kak Rio.

“Tidak ada apa-apa Ma, Rafa juga gak tau kenapa dia malah menghubungi Mama, biasanya juga langsung sama Rafa.”

Mama akhirnya hanya tersenyum mengerti, aku berharap Mama memang tidak bertanya lagi.

“Mama keluar dulu ya, tuh liat Hp kamu dari tadi nyala mulu.” Mama terlihat tersenyum geli, menggoda ku. Begitu Mama keluar dari kamarku, aku langsung mengampil ponselku. Nama Indira ada dilayar, memanggilku.

“Hallo Indi.”
“Eh... Raf...”
“Ada apa In? Aku kira kamu udah tidur.”
“Enggak, ini cuma kepanggil. Udah ya. bye...”
“Bye...”
“Night...”

Aku tersenyum kecil. apakah Indira mulai luluh?

“Night too Indira...”

Indira... Indira... aku sayang banget sama kamu Indira... apa kamu menyadari itu Indira?

***

Aku menatap pantulan wajahku dicermin meja rias, sambil meringis. Meratapi kebodohanku sendiri. Apa yang loe lakuin Indira? Ahhh... gila! Ini gila!. Aku masih ingat, masih jelas dalam pikiranku. Semalam, aku dengan polosnya malah menelpon Rafael hanya karena aku bingung harus membalas pesan untuknya seperti apa, saat aku putuskan untuk tidak membalasnya aku malah tidak mengantuk sama sekali. Akhirnya, dengan bodohnya, gue...  Karenina Indira menelpon Rafael Adhi Pratama. Oh God!!!

Ponsel di nakas terdengar berdering, aku meraihnya. Sebuah pesan dari Rafa.

Pagi Indira... jangan lupa sarapan ya, aku berangkat kerja dulu.     
Aku hanya bisa tersenyum kecil melihat pesan itu, tapi tunggu! Kenapa aku tersenyum? Oh, pasti aku sudah gila.

Pagi kembali Rafael, kamu juga jangan lupa sarapan ya... selamat bekerja...

No no no! Apa-apaan Indira? Sebelum aku mengirim pesan itu aku mendetele beberapa kata.

Pagi kembali Rafael, take care...

Setelah mengetikkannya aku mengirimkan pesan itu tanpa ragu lagi kemudian tersenyum puas. Beberapa saat kemudian senyumku memudar, entah kenapa aku merasa ada yang salah denganku dan Rafa sekarang. Dulu kami tidak seperti ini, apa aku salah memperlakukan Rafa seperti ini?

---

“Selamat pagi Oma...”

Oma berbalik kearahku lalu tersenyum. Beliau sedang menata beberapa bunga hidup di ruangan. Oma memang selalu melakukan hal itu, setiap pagi. Setelah sarapan Oma akan merawat bunga-bunganya, setiap pagi.

“Opa udah berangkat ya Oma? Oma udah sarapan?.”

“Baru saja berangkat. Sudah, tinggal kamu yang belum sarapan.” Oma menjawil hidungku dengan tangannya yang sudah bersih.

“Ini Indira mau sarapan Oma.” Ucapku sambil mengacungkan sepasang roti yang siap untuk disantap.

“Kamu gak ke klinik? Bukannya kamu akan mulai kerja besok?.”

Ahh iya klinik, aku jadi ingat dengan tawaran Rafa.

“Oma... sebenarnya kemarin Rafa mengajak Indira ke Bogor, katanya disana juga ada klinik, dan mungkin setelah menikah kami akan tinggal disana Oma.”

Oma tersenyum padaku, beliau bersidekap duduk dihadapanku, menunggu cerita selanjutnya. “Lalu?.”

Aku menatap Oma dengan sedikit ragu, aku hanya takut mengecewakannya atau bisa saja Oma marah dan tidak mengijinkan.

“Mmmm, sampai hari pernikahan yang belum ditentukan. Indira akan tinggal dirumah Rafa disana. Boleh Oma?.”

Aku menahan nafas sejenak, mengamati reksi Oma yang belum bisa aku baca. Namun beberapa saat kemudian Oma terlihat tersenyum tipis.

“Terserah kamu saja, Oma yakin kamu tau yang terbaik.”

Aku berlari kecil mendekati Oma, memeluknya yang selalu dengan sabar merawatku sejak dulu. “Terimakasih Oma.”


***


Seharian ini aku disibukkan dengan mengisi sebuah seminar, ada pula pertemuan dengan beberapa kolega untuk membahas mengenai penelitian yang sedang kami lakukan. Aku juga baru sadar ini sudah masuk jam makan siang. Kuraih ponselku yang sedari tadi hanya menganggur tak kusentuh. Ada sebuah pesan disana.

Jangan lupa lunch...    

Aku tersenyum kecil, apakah Indira mulai perhatian padaku lagi? Aku hampir tak percaya akhirnya Indira mulai perhatian lagi padaku apalagi mengingat akhir-akhir ini kami merenggang.

Kamu juga jangan lupa lunch ya, maaf ya aku baru balas pesan kamu.

Tak berselang lama pesan itu dibalas.

Kamu dari mana aja? Kenapa baru membalas pesanku?

Apakah Indira menungguku? Hatiku menghangat membayangkan hal itu, apakah benar Indira menungguku?

Aku habis ngisi seminar, lanjut ke meeting. Kamu seharian ini kemana?

Dirumah!

Balasan pesan yang cukup singkat. Ada apa dengan Indira? Tidak biasanya dia seperti itu.


***

AKU KESAAAAALLLLLLL.... Rafael menanyakan aku seharian kemana? AKU MENUNGGUMU RAFAEL!!! Apakah dia lupa sekarang punya aku?! harusnya dia bisa membedakan, saat dia masih sendiri dan saat sekarang sudah menjalin hubungan denganku! Apa dia tidak tau apa yang harus dia lakukan saat memiliki pasangan? Harusnya dia berusaha menghubungiku sesekali!!!

Setelah membalas pesan Rafael Aku melirik laptopku lalu menyeringai senang. Terserah kau lah Rafael. Sekarang aku tidak akan kesepian lagi!.

Me : RICK....
Rick : Hey, kenapa kamu? Rindu aku? :D
Me : Tidak, aku cuma sedang bosan dirumah sendiri.
Rick : Wooo Bu Dokter kita masih belum bekerja juga?
Me : Belum, aku masih pemulihan :D
Rick : Haha... eh udah makan siang?
Me : Belum nih, kamu?
Rick : Nih aku lagi makan, mau?
Me : No thanks. :P
Rick : Sedang menunggu seseorang kah?

Pertanyaan yang membuatku kesal. Ya, sebenarnya aku memang berharap Rafael mengajakku makan diluar. Aku bosan dirumah terus. Kulirik ponselku yang baru menyala setelah sekian lama diam.

Maaf sugar, aku kurang memperhatikanmu.

Oh My God!!! Coba sekali lagi aku baca. Hah?! Akhirnya dia sadar juga tidak memperhatikanku. Aku mengalihkan kembali perhatianku pada laptop yang berbunyi.

Rick : Aku harus kembali kerja. Bye...

Kenapa sih kerja kerja dan kerja terus? Semuanya kerja dan kerja?! Ponselku berdering tanda sebuah panggilan masuk. Rafael... aku berdehem kecil.

“Ya, Hallo...”
“Sugar...”

Akhirnya aku mendengarnya memanggilku seperti itu lagi.

“Sugar... kamu marah? Maaf. Aku tadi benar-benar sibuk. Beberapa menit lagi juga aku harus mengisi kelas.”
“Tidak. yasudah sana kerja.”
“Sugar... maaf, aku janji nanti setelah selesai aku langsung kesana. Aku bakalan menjadwal ulang kegiatanku supaya aku tidak terlalu sibuk. Tapi please kamu jangan marah...”

Terserah kau!!!

 “AKU. GAK. MARAH.”
“Sugar please. Kamu tau aku.”
“Iya aku tau. Orang sibuk.”
“Bukan itu Indira...”

Dia mendesah pelan. Aku hanya diam menunggunya kembali berbicara.

“Aku hubungi lagi kamu nanti. Jangan lupa lunch ya sugar.”

Panggilan itu diakhiri sepihak olehnya.  Tak berselang lama sebuah pesan masuk.

Indira, apakah kamu lupa? Kau adalah kelemahanku.

Deg!
Aku terdiam, aku hanya terpaku. Dulu, Rafael memang pernah mengatakan hal itu padaku. Aku kira, dia hanya berusaha menghiburku. Tapi ternyata dia benar-benar merasakan seperti itu? benarkah?
Setelah terdiam beberapa saat, kemudian terdengar suara decitan dari sebuah rem dipekarangan rumah. Aku segera keluar dari kamarku.

“Rafa...”

Dia keluar dari dalam  mobilnya, lalu berjalan cepat kearahku dengan tangan yang sibuk merenggangkan dasinya. Begitu dia berada didekatku, dia langsung merengkuhku dalam pelukannya.


“Sugar... I’m so sorry.”

No comments:

Post a Comment