Thursday, 7 May 2015

RAIN

DILARANG MENGCOPY-PASTE, MEMPERBANYAK, MEMPUBLIKASIKAN KEMBALI DAN APAPUN YANG BERSIFAT PLAGIAT DARI SELURUH ISI DARI BLOG INI. MOHON UNTUK MENGHARGAI KARYA PENULIS.

HAK CIPTA TERLINDUNGI.

TERIMAKASIH.






Author : Nenden Siti Sopiah
Title : RAIN
Genre : Romance











Prolog.

“Gimana? Senengkan loe dia udah pergi? Sekarang, gak ada alesan lagi yang bisa halangin loe dapetin Indira.”

Sejauh dari yang kudengar Rafael hanya diam, dia tak memberikan reaksi apapun. Apakah sebenarnya yang sedang aku dengar ini? Apakah dia benar-benar pergi karena Rafa? Apa Rafa setega itu? Kenapa... Kenapa Rafa melakukan itu?
Aku tak tahan lagi, dengan penuh keberanian aku membuka pintu kediaman Adhi Pratama tak lain adalah kediaman Rafael Adhi Pratama.
“Rafa...” desisku, aku masih tak percaya dengan apa yang baru saja aku dengar. Aku menggelengkan kepalaku, kecewa. Setelah itu aku meninggalkan Rafa beserta saudara-saudaranya yang nampak terdiam saat melihat keberadaanku.
“Indira...”

Terlambat Raf!
Aku injak gas dengan penuh penekanan, saat itu pula kendaraan yang aku kendarakan melaju dengan kekuatan tinggi. Rafa... kenapa gini? Sebenernya kebaikan yang kamu berikan buat aku selama ini apa? Buat apa selama ini kamu rawat aku kalo akhirnya kayak gini? Apa salahku? Sebenarnya apa yang tidak aku ketahui lagi? Decitan dari rem yang aku injak terdengar begitu nyaring.
“Arghhhhhh...” aku hanya bisa memukuli kepalaku yang tak mengirimkan sedikitpun informasi. Ya, aku kehilangan sebagian ingatanku. Ingatanku tentang dia yang begitu mencintaiku, dia yang selama ini selalu ada buatku. Dulu begitu aku sadar, orang lain yang aku ingat hanya Rafa dan beberapa saudaranya.
“Ray... apa yang sebenarnya terjadi? Katakan... Rafa tidak bersalah...” desahku.

---

Beberapa hari ini Rafael tidak menghubungiku, entahlah aku tidak peduli. Meskipun dia menghubungiku aku sendiri tidak yakin akan menanggapinya. Kupalingkan wajahku kearah laptop yang terbuka, sebuah chat masuk. Aku memang tergabung dalam komunitas sebuah penggemar games yang entah mengapa begitu membuatku nyaman. Aku memang selalu bermimpi seperti dalam games tersebut, memiliki rumah yang sederhana disebuah desa dengan sebuah peternakan dan perkebunan kecil dibelakangnya.

Rick: Hey Karen...
Me: Hai Rick, kemana aja kamu? beberapa hari ini kok ngilang? :D
Rick: Ada, maklum aku cuma petani biasa, didesa aku lagi sibuk panen.
Me: Wah seru, pengen dong kesana.
Rick: Jangan ahh, kotor.
Me: Gapapa Rick.
Rick: Iya kapan-kapan ya.
Me: Oke, aku tagih ya nanti. Oiya Rick... nama asli kamu siapa? Kamu pelit ih.

Tak ada balasan kemana dia? Aku tidak mengerti dengan orang ini, biasanya teman-teman yang lain selalu dengan senang hati memberi tahukan nama aslinya, tapi kenapa dengan dia?

Me: Rick?
Rick: Ya... Karen... aku akan memberitau namaku setelah kamu tertarik sama aku. :D
Me: Maksud kamu suka? Jangan becanda.
Rick: Enggak Karen, aku gak becanda. Aku janji akan memberi tau diriku. Tapi gak sekarang.
Me: Okay.

Dia Rick, entah siapa nama aslinya yang jelas dia asyik. Tapi, terkadang dia sibuk entah kemana dan alasannya? Dia sibuk bertani. Tapi, kata-katanya dalam menuliskan chat mengingatkanku pada Ray. Semasa dalam masa penyembuhan, dia Dokter yang mendampingiku kata-katanya begitu lembut dan mengasyikan. Terkadang aku berharap Rick itu Ray-ku yang menghilang.

***

“Nak Rafa... mari masuk. Ibu dan Bapak juga.”

Satu bulan pasca kejadian dirumahku itu, untuk pertama kalinya lagi aku memberanikan diri memasuki rumah Indira. Entah kenapa aku merasa takut dia akan semakin membenciku jika aku memaksa agar dia mendengarkanku, biarlah semuanya mengalir. Aku yakin semuanya akan lebih baik lagi.

“Nak Rafa, kemana saja beberapa minggu ini? kenapa baru datang kerumah?.”
Aku hanya bisa tersenyum, enggan untuk menjelaskan yang sebenarnya terjadi.
“Ada Oma, Rafa hanya sedikit sibuk.” Aku hanya bisa menghela nafas panjang, kemudian menatap Nenek dan Kakek Indira, Irva dan Hendra. “Oma... kedatangan Rafa bersama orangtua Rafa kesini bermaksud untuk melamar Indira, cucu Oma.”
“Melamar?.” Guman Opa.
Kedua orang tuaku tersenyum simpul, mereka memang bukan kali pertama datang kesini untuk melamar Cucu dari mereka, ini kali ke empatnya orang tuaku datang kesini, setelah melamarkan ketiga Kakakku pada cucu Oma dan Opa yang lainnya.
“Kami melamar lagi kesini Oma, Opa. Setelah Kakak-Kakaknya melamar Cucu anda yang lain nampaknya anak kami yang satu ini juga tertarik dengan Cucu anda. Rafael beberapa kali mengutarakan niatnya dan baru saat ini kami sempat datang kesini.”
“Indira sudah tau?.” Tanya Oma.
Aku tersenyum kecil, aku belum memiliki keberanian untuk itu. aku takut dia membenciku tapi aku yakin dapat membahagiakannya, aku tau segala keinginannya segala impiannya, dan aku akan berusaha mewujudkannya.
 “Belum Oma... Rafa membutuhkan restu Oma dan Opa terlebih dulu sebagai wali Indira, baru nanti Rafa akan mengatakannya pada Indira.”
Opa tersenyum simpul padaku, “Kami akan senang sekali jika Nak Rafa menjadi cucu menantu kami, tapi semua keputusan tergantung Indira.”
“Biar Oma panggilkan Indira.” Ucap Oma kemudian berlalu.

Aku menunggu dengan gelisah, bagaimana jika Indira menolak? Bagaimana jika Indira semakin membenciku? Setelah kesalah fahaman itu, aku tidak yakin Indira masih akan bersikap sama padaku seperti dulu.
Tak lama setelah itu, Oma kembali turun dengan senyuman menghiasi wajahnya, dibelakangnya Indira menyusul dengan menggunakan gaun sederhana yang begitu cantik melekat sempurna ditubuhnya.

“Fandi, Nira dan Nak Rafa... Indira mengatakan...” Oma menggantungkan kata-katanya, beliau melirik kearah Indira yang menundukkan kepalanya. “Indira... kamu tidak mau mengatakannya sendiri?.”
Indira terlihat menghela nafas terlebih dahulu kemudian tersenyum tipis pada kedua orangtuaku. Apa yang akan dia katakan? Indira... dia sedikit melirik kearahku dengan tatapan mata yang masih sarat akan kekecewaan.
“Indira... menerima lamaran Rafa...”


***

Bersambung.

No comments:

Post a Comment