HAK CIPTA TERLINDUNGI.
TERIMAKASIH.
Author : Nenden Siti Sopiah
Title : RAIN
Genre : Romance
Prolog.
“Gimana? Senengkan loe
dia udah pergi? Sekarang, gak ada alesan lagi yang bisa halangin loe dapetin
Indira.”
Sejauh dari yang
kudengar Rafael hanya diam, dia tak memberikan reaksi apapun. Apakah sebenarnya
yang sedang aku dengar ini? Apakah dia benar-benar pergi karena Rafa? Apa Rafa
setega itu? Kenapa... Kenapa Rafa melakukan itu?
Aku tak tahan lagi,
dengan penuh keberanian aku membuka pintu kediaman Adhi Pratama tak lain adalah
kediaman Rafael Adhi Pratama.
“Rafa...” desisku, aku
masih tak percaya dengan apa yang baru saja aku dengar. Aku menggelengkan
kepalaku, kecewa. Setelah itu aku meninggalkan Rafa beserta saudara-saudaranya
yang nampak terdiam saat melihat keberadaanku.
“Indira...”
Terlambat Raf!
Aku injak gas dengan
penuh penekanan, saat itu pula kendaraan yang aku kendarakan melaju dengan
kekuatan tinggi. Rafa... kenapa gini? Sebenernya kebaikan yang kamu berikan
buat aku selama ini apa? Buat apa selama ini kamu rawat aku kalo akhirnya kayak
gini? Apa salahku? Sebenarnya apa yang tidak aku ketahui lagi? Decitan dari rem
yang aku injak terdengar begitu nyaring.
“Arghhhhhh...” aku hanya
bisa memukuli kepalaku yang tak mengirimkan sedikitpun informasi. Ya, aku
kehilangan sebagian ingatanku. Ingatanku tentang dia yang begitu mencintaiku,
dia yang selama ini selalu ada buatku. Dulu begitu aku sadar, orang lain yang
aku ingat hanya Rafa dan beberapa saudaranya.
“Ray... apa yang
sebenarnya terjadi? Katakan... Rafa tidak bersalah...” desahku.
---
Beberapa hari ini Rafael
tidak menghubungiku, entahlah aku tidak peduli. Meskipun dia menghubungiku aku
sendiri tidak yakin akan menanggapinya. Kupalingkan wajahku kearah laptop yang
terbuka, sebuah chat masuk. Aku memang tergabung dalam komunitas sebuah
penggemar games yang entah mengapa begitu membuatku nyaman. Aku memang selalu
bermimpi seperti dalam games tersebut, memiliki rumah yang sederhana disebuah
desa dengan sebuah peternakan dan perkebunan kecil dibelakangnya.
Rick: Hey Karen...
Me: Hai Rick, kemana aja
kamu? beberapa hari ini kok ngilang? :D
Rick: Ada, maklum aku
cuma petani biasa, didesa aku lagi sibuk panen.
Me: Wah seru, pengen
dong kesana.
Rick: Jangan ahh, kotor.
Me: Gapapa Rick.
Rick: Iya kapan-kapan
ya.
Me: Oke, aku tagih ya
nanti. Oiya Rick... nama asli kamu siapa? Kamu pelit ih.
Tak ada balasan kemana
dia? Aku tidak mengerti dengan orang ini, biasanya teman-teman yang lain selalu
dengan senang hati memberi tahukan nama aslinya, tapi kenapa dengan dia?
Me: Rick?
Rick: Ya... Karen... aku
akan memberitau namaku setelah kamu tertarik sama aku. :D
Me: Maksud kamu suka?
Jangan becanda.
Rick: Enggak Karen, aku
gak becanda. Aku janji akan memberi tau diriku. Tapi gak sekarang.
Me: Okay.
Dia Rick, entah siapa
nama aslinya yang jelas dia asyik. Tapi, terkadang dia sibuk entah kemana dan
alasannya? Dia sibuk bertani. Tapi, kata-katanya dalam menuliskan chat
mengingatkanku pada Ray. Semasa dalam masa penyembuhan, dia Dokter yang
mendampingiku kata-katanya begitu lembut dan mengasyikan. Terkadang aku
berharap Rick itu Ray-ku yang menghilang.
***
“Nak Rafa... mari masuk.
Ibu dan Bapak juga.”
Satu bulan pasca
kejadian dirumahku itu, untuk pertama kalinya lagi aku memberanikan diri
memasuki rumah Indira. Entah kenapa aku merasa takut dia akan semakin
membenciku jika aku memaksa agar dia mendengarkanku, biarlah semuanya mengalir.
Aku yakin semuanya akan lebih baik lagi.
“Nak Rafa, kemana saja
beberapa minggu ini? kenapa baru datang kerumah?.”
Aku hanya bisa
tersenyum, enggan untuk menjelaskan yang sebenarnya terjadi.
“Ada Oma, Rafa hanya
sedikit sibuk.” Aku hanya bisa menghela nafas panjang, kemudian menatap Nenek
dan Kakek Indira, Irva dan Hendra. “Oma... kedatangan Rafa bersama orangtua
Rafa kesini bermaksud untuk melamar Indira, cucu Oma.”
“Melamar?.” Guman Opa.
Kedua orang tuaku
tersenyum simpul, mereka memang bukan kali pertama datang kesini untuk melamar
Cucu dari mereka, ini kali ke empatnya orang tuaku datang kesini, setelah
melamarkan ketiga Kakakku pada cucu Oma dan Opa yang lainnya.
“Kami melamar lagi
kesini Oma, Opa. Setelah Kakak-Kakaknya melamar Cucu anda yang lain nampaknya
anak kami yang satu ini juga tertarik dengan Cucu anda. Rafael beberapa kali
mengutarakan niatnya dan baru saat ini kami sempat datang kesini.”
“Indira sudah tau?.”
Tanya Oma.
Aku tersenyum kecil, aku
belum memiliki keberanian untuk itu. aku takut dia membenciku tapi aku yakin
dapat membahagiakannya, aku tau segala keinginannya segala impiannya, dan aku
akan berusaha mewujudkannya.
“Belum Oma... Rafa membutuhkan restu Oma dan
Opa terlebih dulu sebagai wali Indira, baru nanti Rafa akan mengatakannya pada
Indira.”
Opa tersenyum simpul
padaku, “Kami akan senang sekali jika Nak Rafa menjadi cucu menantu kami, tapi
semua keputusan tergantung Indira.”
“Biar Oma panggilkan
Indira.” Ucap Oma kemudian berlalu.
Aku menunggu dengan
gelisah, bagaimana jika Indira menolak? Bagaimana jika Indira semakin
membenciku? Setelah kesalah fahaman itu, aku tidak yakin Indira masih akan
bersikap sama padaku seperti dulu.
Tak lama setelah itu,
Oma kembali turun dengan senyuman menghiasi wajahnya, dibelakangnya Indira
menyusul dengan menggunakan gaun sederhana yang begitu cantik melekat sempurna
ditubuhnya.
“Fandi, Nira dan Nak
Rafa... Indira mengatakan...” Oma menggantungkan kata-katanya, beliau melirik
kearah Indira yang menundukkan kepalanya. “Indira... kamu tidak mau
mengatakannya sendiri?.”
Indira terlihat menghela
nafas terlebih dahulu kemudian tersenyum tipis pada kedua orangtuaku. Apa yang
akan dia katakan? Indira... dia sedikit melirik kearahku dengan tatapan mata
yang masih sarat akan kekecewaan.
“Indira... menerima
lamaran Rafa...”
***
Bersambung.

No comments:
Post a Comment