Saturday, 16 May 2015

RAIN

Part 2 – Bogor


Indira POV

Aku menatap Rafael yang mengemudikan mobil sportnya dengan begitu tenang, sebenarnya aku malu sendiri terhadapnya. Karena aku kemarin dia sampai tidak mengisi salah satu kelasnya. Aku sadar, aku kekanak-kanakan sekali. Hanya tidak begitu diperhatikan olehnya aku memberontak. Kemarin dia sampai menginap dirumah, memasakkan makanan kesukaanku, menemaniku diruang baca, kami juga menonton sebuah film di studioku. Sebenarnya aku tak habis pikir, kenapa dia rela langsung pulang dan memperlakukanku seperti itu? padahal dengan setelah dia mengisi kelas lalu pulang kerumahku juga aku tidak masalah. Tapi yasudahlah. Mungkin aku memang beruntung mendapatkannya.

“Kenapa?.” Tanya Rafa, ia menoleh sedikit kearahku.


“Tidak.”

“Tidak?.” dia menyeringai. Hey! Kenapa dia? Beraninya dia menyeringai seperti itu.

“Aku cuma liat jalanan disebelah sana.” Dustaku sambil menunjuk hamparan hijau di sebelah kanan jalananan ini.

“Ohh, bukannya memperhatikanku?.”

“Tidak!.” jawabku cepat. “Buat apa aku merhatiin kamu? gak usah geer!.”

Hass!!! Apa baru saja aku ketahuan memperhatikannya? Ya! tentu saja Indira! Dasar ceroboh. Memalukan!!!


***


Akhirnya kami sampai di Bogor. Aku memandangi bangunan rumah yang tidak begitu besar tapi tidak bisa disebut kecil pula. Rumah ini begitu elegan dengan hanya satu lantai. Aku akan selalu nyaman tinggal disini. Gumanku dalam hati.

“Maaf ya... apa rumahku sesuai keinginanmu Sugar? Rumah ini sangat kecil dibandingkan rumah keluargamu.”

Aku hanya tersenyum kecil menanggapinya, kulirik tajam pada Rafael.

“Menurutmu?.”

“Apa?.” Tanya Rafael dengan sedikit lesu, mungkin dia merasa lelah diperjalanan tadi.

Dia benar-benar tidak peka! Harusnya dia tau perasaanku tanpa aku harus menjelaskannya. Dia benar-benar payah! Aku hentakkan kakiku kesal.

“Memangnya ada yang tidak suka begitu sampai ditempat ini terus tersenyum? Mana kuncinya? Mulai hari ini, rumah ini milikku!!!.”

Aku melihat Rafael tersenyum bahagia begitu aku mengambil kunci dari tangannya dan beranjak mendahuluinya, aku melihat jelas sekali gurat kebahagiaan itu dari kaca rumah ini. apa Rafael sebahagia itu?

“WOW.” Desisku pelan, bagaimana mungkin rumah ini tertata begitu rapih? Ruang tamu ditata dengan begitu elegan, menggunakan furniture yang serba kayu. Saat memasuki ruang disebelah kanannya ada ruang untuk menonton Tv, ada sebuah televisi layar datar dan juga sebuah sofa setengah lingkaran yang hanya diperuntukkan untuk berdua lengkap dengan meja kecil disampingnya. Aku berjalan kearah jendela, disamping rumah ini ada sebuah pohon yang begitu rindang dengan kursi dan ada juga sebuah ayunan, jika membuka jendela depan ada sebuah kolam kecil dengan air mancur yang mengalir indah.

Aku berjalan kembali, ada dua buah kamar yang saling berhadapan. Kamar pertama, hanya ada sebuah ranjang, lemari dan sebuah kursi kecil. Sepertinya ini bukan kamar yang ditempati Rafa.

Aku berjalan kekamar yang satunya lagi, dikamar ini begitu lengkap dengan meja kerja. Sudah pasti ini kamar Rafael. Perlahan aku membuka gorden yang menutupi ruangan ini,begitu terbuka dibelakang rumah ini ternyata ada sebuah kebun kecil, banyak sekali macamnya. Ada juga sebuah rumah kaca diujung kebun kecil itu.

“Wow.” Aku gak nyangka rumah ini begitu indah, ini rumah impianku. Aku melirik kearah Rafa yang sedari tadi hanya mengikutiku.

“Aku mau kamar ini.”

Rafael tersenyum kecil kemudian mengangguk.

“Rumah ini milikmu Sugar...”

Setelah mengatakan itu Rafa keluar dari kamar. Sementara aku masih terkesima dengan pemandangan ini. aku beruntung sekali Rafa melamarku, ternyata dia bisa mengabulkan impianku. Hhh... apakah aku baru sadar beruntung memiliki Rafael?

“Sugar...” panggil Rafa.

Aku segera menghampirinya, ternyata dia sedang berada di kichenset. Menuangkan jus pada dua buah gelas. Dia berjalan kearahku kemudian memberikan salah satu gelasnya untukku.

Aku mengamati rumah ini kembali, ternyata ada ruang untuk bersantai lainnya, didekat bar yang memisahkan ruangan itu dengan ruangan makan dan kichenset. Rumah ini seakan memang diciptakan untukku dan aku merasa memang seharusnya aku berada disini.

Rafael menggiringku keluar dari rumah, duduk lesehan di beranda belakang rumah.

“Apa ada yang kurang?.”

Aku hanya menggeleng pelan.

“Tidak. Aku suka disini...” ucapku sambil menatap halaman yang luas itu. ada beberapa pekerja yang sedang membersihkan rumah ini disana.

Rafael mengelus rambutku kemudian merangkulkan tangannya kepundakku, membuat aku bersandari dibahunya yang tegap. Beberapa saat aku terhanyut, namun kemudian Rafa melepaskannya.

“Aku tinggal sebentar ya.” ucap Rafa kemudian berlalu memasuki rumah kembali.

Sepeninggal Rafa aku kembali mengamati seluruh penjuru halaman ini. begitu melihat serumpun bunga mawar tak jauh dari sini aku segera mendekatinya. Disini banyak sekali bunganya, seperti sengaja ditanam. Secara kebetulan aku memang sangat menyukainya.

“Permisi.” Sapa seseorang.

“Ya...” aku berbalik lambat. “Eh... Ibu, maaf saya kurang sopan.”

“Tidak Nona, maaf saya menganggu anda.” Wanita paruh baya itu membungkuk sesaat. “Nona perkenalkan saya Sumi, yang biasa mengurus rumah dan kebun Tuan Rafael. Disebelah sana suami saya, panggil kami jika memerlukan bantuan Nona.”

Aku hanya bisa tersenyum, “Iya Bu, perkenalkan Saya Indira. Mungkin Rafa sudah memberitahu Ibu tentang saya.”

“Ahh iya, tentu saja Nona. Dari dulu hingga sekarang Tuan memang selalu membicarakan anda. Betapa sayangnya Tuan pada anda.”

Aku hanya bisa mengerutkan keningku. Apa yang baru saja aku dengar ini. dari dulu? Dari dulu kapan? Aku menatap Ibu Sumi. Rasa penasaranku begitu menguasaiku sekarang.

“Dari dulu Bu? Sejak kapan?.”

Bu Sumi nampak berpikir sejenak, “Ibu tidak ingat, sudah terlalu lama. Yang pasti yang saya ingat semasa Tuan kuliah. Bahkan beberapa bulan ini Tuan rajin memetik dan merangkai bunga-bunga ini sendiri. Tuan mengatakan bunga-bunga itu buat orang yang dia sayang.”

“Ibu yankin?.” Tanyaku memastikan. Kalau memang Rafa mencintaiku selama itu, kenapa justru mereka mengatakan aku menjalin hubungan dengan Ray. Sebenarnya apa yang terjadi?

“Dikamar Tuan juga ada foto anda Nona...”

“Foto?.” Hah? Rafa melakukan hal itu? benarkah? Ini benar-benar kejutan yang luarbiasa untukku.

Ibu Sumi mengangguk.

“Nona saya permisi.” Pamitnya. Ibu Sumi terlihat tersenyum kearahku tapi bukan padaku.

“Indira...”

Aku berbalik. Oh ternyata Rafa berada di belakangku. Kutatap dia dari ujung kepala hingga kaki, lelaki didepanku ini benar-benar berbeda dari biasanya. Yang biasanya kaku dengan potongan rambut rapih, kemeja, jas, celana panjang dan sepatu mengkilat. Kini Rafael seperti orang baru. Rambutnya sedikit berantakan, dia menggunakan kaus oblong yang begitu pas ditubuhnya yang ramping, beberapa tonjolan ototpun tercetak jelas dibalik kaus itu, celananya hanya sampai lutut lengkap dengan sandal yang membingkai kakinya. Mau kemana dia?

“Kamu seperti bukan Rafael.” Gumanku.

Rafael tersenyum kecil, ia merangkul pundakku menggiringku lagi menuju rumahnya.

“Kamu mau istirahat dulu atau mau langsung keliling? Kebetulan aku akan keliling desa sekarang.”

“Aku mau istirahat.” Jawabku cepat.

“Yasudah, kalo kamu mau cari aku minta antar sama Ibu Sumi ya. aku perginya mungkin agak lama, aku juga mau liat kliniknya buat kamu.”

Aku berpikir sejenak. Kalau aku tinggal dirumah, tidur atau cuma keliling disini pasti aku bosan. Pasti ujung-ujungnya bete.

“Eh Raf...”

“Ya Indi?.”

Rafa menatapku, dia mendudukanku di beranda lagi.

“Aku ikut aja ya.”

Rafael tersenyum kecil. “Itu yang aku harapkan, kamu siap-siap gih aku mau ambil sesuatu dulu.”

Aku mengangguk patuh kemudian memasuki rumah, aku memasuki kamar Rafa dan tas ku ternyata benar ada disana. Aku menatap sekeliling kamar ini, dimana letak fotoku yang dibilang Bu Sumi? Begitu melihat sesuatu yang ditutupi sebuah kain, aku membukanya. Aku cukup terperangah, ternyata benar. Ini fotoku.

Sebenarnya ada apa? Benarkah Rafa telah lama mencintaiku? Tapi kenapa Ray...? siapa Ray sebenarnya?

***

Bersambung.


No comments:

Post a Comment