Part 2 – Bogor
Indira POV
Aku menatap Rafael yang mengemudikan mobil sportnya dengan
begitu tenang, sebenarnya aku malu sendiri terhadapnya. Karena aku kemarin dia
sampai tidak mengisi salah satu kelasnya. Aku sadar, aku kekanak-kanakan
sekali. Hanya tidak begitu diperhatikan olehnya aku memberontak. Kemarin dia
sampai menginap dirumah, memasakkan makanan kesukaanku, menemaniku diruang
baca, kami juga menonton sebuah film di studioku. Sebenarnya aku tak habis
pikir, kenapa dia rela langsung pulang dan memperlakukanku seperti itu? padahal
dengan setelah dia mengisi kelas lalu pulang kerumahku juga aku tidak masalah.
Tapi yasudahlah. Mungkin aku memang beruntung mendapatkannya.
“Kenapa?.” Tanya Rafa, ia menoleh sedikit kearahku.
“Tidak.”
“Tidak?.” dia menyeringai. Hey! Kenapa dia? Beraninya dia
menyeringai seperti itu.
“Aku cuma liat jalanan disebelah sana.” Dustaku sambil
menunjuk hamparan hijau di sebelah kanan jalananan ini.
“Ohh, bukannya memperhatikanku?.”
“Tidak!.” jawabku cepat. “Buat apa aku merhatiin kamu? gak
usah geer!.”
Hass!!! Apa baru saja aku ketahuan memperhatikannya? Ya!
tentu saja Indira! Dasar ceroboh. Memalukan!!!
***
Akhirnya kami sampai di Bogor. Aku memandangi bangunan rumah
yang tidak begitu besar tapi tidak bisa disebut kecil pula. Rumah ini begitu
elegan dengan hanya satu lantai. Aku akan selalu nyaman tinggal disini. Gumanku
dalam hati.
“Maaf ya... apa rumahku sesuai keinginanmu Sugar? Rumah ini
sangat kecil dibandingkan rumah keluargamu.”
Aku hanya tersenyum kecil menanggapinya, kulirik tajam pada
Rafael.
“Menurutmu?.”
“Apa?.” Tanya Rafael dengan sedikit lesu, mungkin dia merasa
lelah diperjalanan tadi.
Dia benar-benar tidak peka! Harusnya dia tau perasaanku
tanpa aku harus menjelaskannya. Dia benar-benar payah! Aku hentakkan kakiku
kesal.
“Memangnya ada yang tidak suka begitu sampai ditempat ini terus
tersenyum? Mana kuncinya? Mulai hari ini, rumah ini milikku!!!.”
Aku melihat Rafael tersenyum bahagia begitu aku mengambil
kunci dari tangannya dan beranjak mendahuluinya, aku melihat jelas sekali gurat
kebahagiaan itu dari kaca rumah ini. apa Rafael sebahagia itu?
“WOW.” Desisku pelan, bagaimana mungkin rumah ini tertata
begitu rapih? Ruang tamu ditata dengan begitu elegan, menggunakan furniture yang serba kayu. Saat memasuki
ruang disebelah kanannya ada ruang untuk menonton Tv, ada sebuah televisi layar
datar dan juga sebuah sofa setengah lingkaran yang hanya diperuntukkan untuk
berdua lengkap dengan meja kecil disampingnya. Aku berjalan kearah jendela, disamping
rumah ini ada sebuah pohon yang begitu rindang dengan kursi dan ada juga sebuah
ayunan, jika membuka jendela depan ada sebuah kolam kecil dengan air mancur yang
mengalir indah.
Aku berjalan kembali, ada dua buah kamar yang saling
berhadapan. Kamar pertama, hanya ada sebuah ranjang, lemari dan sebuah kursi
kecil. Sepertinya ini bukan kamar yang ditempati Rafa.
Aku berjalan kekamar yang satunya lagi, dikamar ini begitu
lengkap dengan meja kerja. Sudah pasti ini kamar Rafael. Perlahan aku membuka gorden
yang menutupi ruangan ini,begitu terbuka dibelakang rumah ini ternyata ada
sebuah kebun kecil, banyak sekali macamnya. Ada juga sebuah rumah kaca diujung
kebun kecil itu.
“Wow.” Aku gak nyangka rumah ini begitu indah, ini rumah
impianku. Aku melirik kearah Rafa yang sedari tadi hanya mengikutiku.
“Aku mau kamar ini.”
Rafael tersenyum kecil kemudian mengangguk.
“Rumah ini milikmu Sugar...”
Setelah mengatakan itu Rafa keluar dari kamar. Sementara aku
masih terkesima dengan pemandangan ini. aku beruntung sekali Rafa melamarku,
ternyata dia bisa mengabulkan impianku. Hhh... apakah aku baru sadar beruntung
memiliki Rafael?
“Sugar...” panggil Rafa.
Aku segera menghampirinya, ternyata dia sedang berada di
kichenset. Menuangkan jus pada dua buah gelas. Dia berjalan kearahku kemudian
memberikan salah satu gelasnya untukku.
Aku mengamati rumah ini kembali, ternyata ada ruang untuk
bersantai lainnya, didekat bar yang memisahkan ruangan itu dengan ruangan makan
dan kichenset. Rumah ini seakan memang diciptakan untukku dan aku merasa memang
seharusnya aku berada disini.
Rafael menggiringku keluar dari rumah, duduk lesehan di
beranda belakang rumah.
“Apa ada yang kurang?.”
Aku hanya menggeleng pelan.
“Tidak. Aku suka disini...” ucapku sambil menatap halaman
yang luas itu. ada beberapa pekerja yang sedang membersihkan rumah ini disana.
Rafael mengelus rambutku kemudian merangkulkan tangannya
kepundakku, membuat aku bersandari dibahunya yang tegap. Beberapa saat aku
terhanyut, namun kemudian Rafa melepaskannya.
“Aku tinggal sebentar ya.” ucap Rafa kemudian berlalu memasuki rumah kembali.
Sepeninggal Rafa aku kembali
mengamati seluruh penjuru halaman ini. begitu melihat serumpun bunga mawar tak
jauh dari sini aku segera mendekatinya. Disini banyak sekali bunganya, seperti
sengaja ditanam. Secara kebetulan aku memang sangat menyukainya.
“Permisi.” Sapa seseorang.
“Ya...” aku berbalik lambat. “Eh...
Ibu, maaf saya kurang sopan.”
“Tidak Nona, maaf saya menganggu
anda.” Wanita paruh baya itu membungkuk sesaat. “Nona perkenalkan saya Sumi,
yang biasa mengurus rumah dan kebun Tuan Rafael. Disebelah sana suami saya,
panggil kami jika memerlukan bantuan Nona.”
Aku hanya bisa tersenyum, “Iya Bu,
perkenalkan Saya Indira. Mungkin Rafa sudah memberitahu Ibu tentang saya.”
“Ahh iya, tentu saja Nona. Dari dulu
hingga sekarang Tuan memang selalu membicarakan anda. Betapa sayangnya Tuan
pada anda.”
Aku hanya bisa mengerutkan keningku.
Apa yang baru saja aku dengar ini. dari dulu? Dari dulu kapan? Aku menatap Ibu
Sumi. Rasa penasaranku begitu menguasaiku sekarang.
“Dari dulu Bu? Sejak kapan?.”
Bu Sumi nampak berpikir sejenak, “Ibu
tidak ingat, sudah terlalu lama. Yang pasti yang saya ingat semasa Tuan kuliah.
Bahkan beberapa bulan ini Tuan rajin memetik dan merangkai bunga-bunga ini
sendiri. Tuan mengatakan bunga-bunga itu buat orang yang dia sayang.”
“Ibu yankin?.” Tanyaku memastikan. Kalau
memang Rafa mencintaiku selama itu, kenapa justru mereka mengatakan aku
menjalin hubungan dengan Ray. Sebenarnya apa yang terjadi?
“Dikamar Tuan juga ada foto anda
Nona...”
“Foto?.” Hah? Rafa melakukan hal
itu? benarkah? Ini benar-benar kejutan yang luarbiasa untukku.
Ibu Sumi mengangguk.
“Nona saya permisi.” Pamitnya. Ibu
Sumi terlihat tersenyum kearahku tapi bukan padaku.
“Indira...”
Aku berbalik. Oh ternyata Rafa
berada di belakangku. Kutatap dia dari ujung kepala hingga kaki, lelaki
didepanku ini benar-benar berbeda dari biasanya. Yang biasanya kaku dengan
potongan rambut rapih, kemeja, jas, celana panjang dan sepatu mengkilat. Kini
Rafael seperti orang baru. Rambutnya sedikit berantakan, dia menggunakan kaus
oblong yang begitu pas ditubuhnya yang ramping, beberapa tonjolan ototpun tercetak
jelas dibalik kaus itu, celananya hanya sampai lutut lengkap dengan sandal yang
membingkai kakinya. Mau kemana dia?
“Kamu seperti bukan Rafael.” Gumanku.
Rafael tersenyum kecil, ia merangkul
pundakku menggiringku lagi menuju rumahnya.
“Kamu mau istirahat dulu atau mau
langsung keliling? Kebetulan aku akan keliling desa sekarang.”
“Aku mau istirahat.” Jawabku cepat.
“Yasudah, kalo kamu mau cari aku
minta antar sama Ibu Sumi ya. aku perginya mungkin agak lama, aku juga mau liat
kliniknya buat kamu.”
Aku berpikir sejenak. Kalau aku
tinggal dirumah, tidur atau cuma keliling disini pasti aku bosan. Pasti
ujung-ujungnya bete.
“Eh Raf...”
“Ya Indi?.”
Rafa menatapku, dia mendudukanku di
beranda lagi.
“Aku ikut aja ya.”
Rafael tersenyum kecil. “Itu yang
aku harapkan, kamu siap-siap gih aku mau ambil sesuatu dulu.”
Aku mengangguk patuh kemudian
memasuki rumah, aku memasuki kamar Rafa dan tas ku ternyata benar ada disana. Aku
menatap sekeliling kamar ini, dimana letak fotoku yang dibilang Bu Sumi? Begitu
melihat sesuatu yang ditutupi sebuah kain, aku membukanya. Aku cukup
terperangah, ternyata benar. Ini fotoku.
Sebenarnya ada apa? Benarkah Rafa
telah lama mencintaiku? Tapi kenapa Ray...? siapa Ray sebenarnya?
***
Bersambung.
No comments:
Post a Comment