Monday, 4 May 2015

Long Distance Marriage

DILARANG KERAS COPY-PASTE SELURUH CERITA YANG ADA DI BLOG INI APALAGI MEMPUBLIKASIKAN ULANG DITEMPAT LAIN. MOHON HARGAI KARYA CIPTA ORANG LAIN.


Chapter 12



Satu bulan berlalu, akhirnya Prilly berhasil menyelesaikan pendidikannya. Kini ia duduk gelisah disofa apartemennya menunggu keluarganya yang tak kunjung datang. Prilly merasakan elusan lembut pada bahunya, ia menoleh kesampingnya mendapati suaminya yang tengah tersenyum menenangkannya.
“Sebentar lagi mereka datang sayang, tenang ya.”
Prilly tersenyum kecil kemudian menghela nafas panjang. Ia menyandarkan kepalanya kebahu Ali. “Aku gak tau gimana kalo gak ada kamu Honey.”
Ali terkekeh kecil, ia mengecup puncak kepala Prilly, menyalurkan seluruh kasih sayangnya, hanya untuk menenangkan istrinya seorang.

“Happy Graduation Prilly sayaaaang.” Seru Agni yang masuk begitu saja kedalam apartemen Prilly dibelakangnya diikuti oleh keluarga Prilly.
“Thank you doll eyes.” Prilly berdiri memeluk sahabatnya itu, kemudian ia beralih pada keluarganya. “Ma, Ma. Makasih ya udah dateng.” Ia memeluk Reina dan Riani bergantian, kemudian ia beralih pada Fandi dan Fadli. Ia juga melakukan hal yang sama. “Makasih juga ya Pa, kalian udah mau dateng.”
“Iya dong, masa anak Papa mau wisuda Papa gak dateng sih.” Ucap Fandi.

Agni mengeluarkan kamera milik Prilly yang tergeletak dimeja. Ia tersenyum. “Foto bersama dulu sebelum berangkat.”
Prilly mengangguk, ia menarik Ali untuk berdiri disampingnya kemudian diikuti kedua orangtuanya dan kedua mertuanya.
“Satu, dua, tiga.”
Prilly melirik kearah Ali yang ternyata sedang menatapnya dengan senyuman yang tak pernah luntur dari wajah tampannya.
“Kenapa?.”
“Ini foto keluarga pertama kita.”
Prilly tertegun. Ya benar, ini foto keluarga pertamanya bersama suaminya.
“Ali, Prilly.”

Klik!

Satu bidikan didapatkan Agni begitu keduanya menoleh secara bersamaan kearahnya. Ia terkekeh. “Bagus.” Ucapnya sambil mengacungkan sebelah ibu jarinya.

***

“Ali! gila loe!!!.”
Agni memukul lengan Ali begitu ia bertemu dengan suami sahabatnya itu ditengah kerumunan orang.
“Apa sih?.”
“Loe gila hah?!.” Agni mendesis marah, berbisik penuh penekanan pada Ali.
“Kenapa?.”
“Loe mau bikin Prilly dibully? Apaan ini?.”
Agni mengacungkan ponselnya tepat didepan wajah Ali. dilayar ponsel itu terpampang akun instagram miliknya.
“Ohh loe follow gue? Mau di follback?.”
Agni mengacungkan tinjunya.
“Bukan itu bego!!!.”
“Terus?.”
“Maksud loe apaan upload foto Prilly ini HAH?! Terus apa ini? “Happy Graduation sayang”? gila loe ya. liat komen-komennya! Gila ya loe.”
Ali menghela nafas panjang.
“Gue juga berhakkan ngerayain kebahagiaan gue?.” Ucapnya seraya kembali memerhatikan Prilly yang kini telah kembali duduk ditempatnya.
“Ya gak gitu-gitu juga keles, sekarang ini udah jadi gosip Li, gila loe ya. gak ada kasian-kasiannya loe sama sahabat gue.”
“AgniTA?.”
“Apa loe sebut-sebut nama gue? Denger ya loe! Kalo sampe ada apa-apa sama Prilly! Gue bakalan botakin loe!.”
Sementara Agni terus mengomel Ali malah mengutak atik ponselnya kemudian ia mengarahkan ponsel untuk membidik Agni dan dirinya, tak lama kemudian ponsel Agni berbunyi sebuah pemberitahuan masuk. Mulanya, Agni mengabaikannya namun pemberitahuan berberondong masuk di akun Instagramnya.

Si bawel yang lagi marah-marah :P

Caption itulah yang berada pada foto yang baru saja dibidikan oleh Ali tadi. Beberapa saat kemudian langsunglah followersnya bertambah dan beberapa komentar pedas masuk memenuhi pemberitahuannya.
“Nyebelin ya loe! Sejak kapan loe tau akun gue? Sejak kapan juga loe follow akun gue? Kapan?! Ali gue benci loe!.”
Ali terkekeh kecil, mungkin dengan begini tak ada yang akan menyerang Prilly. Bukan bermaksud mengorbankan Agni, namun ia tau Agni akan mengerti apa yang sebenarnya ia lakukan, ia yakin bahwa gadis itu akan memahami tindakannya.

***

Prilly menatap Ali dan Agni bergantian begitu ketiganya sampai di apartemen milik Prilly, tadi begitu acara selesai orang tua Prilly dan Ali segera kembali ke Jakarta karena ada pekerjaan yang mendesak hingga ketiganya harus mengantarkan kepulangan mereka terlebih dahulu setelah acara selesai.
“Agni kenapa sih? kok tumben banget kayak lagi marah sama Ali? katanya loe ngefans.”
Agni mendengus, ia mendelik. “Enggak lagi!!! Mulai detik ini gue bukan fans dia lagi.”
“Yes!.” Seru Ali begitu mendengar ucapan Agni, membuat gadis itu mendelik lagi, karad kekesalannya semakin bertambah.
Prilly mengerutkan keningnya, ia tersenyum geli melihat tingkah sahabatnya dan suaminya itu. ia menggelengkan kepalanya pelan.
“Kalian ini...”

Suara bel berbunyi pertanda seseorang akan bertamu.
“Itu pasti Al.” Guman Agni kemudian ia berjalan kearah pintu dan membukakan pintunya.
“Hai sayaang.” Sapa Al.
Agni tersenyum cerah, “Hai juga sayang? Lama banget sih...”
Al mengacungkan tangan sebelah kanannya yang membawa dua kantung berisi makanan pesanan Agni, spesial untuk perayaan kelulusan Prilly.
“Yaudah yuk. Masuk.” Ajak Agni.

***

Ali merangkul pinggang Prilly, membawanya untuk lebih mendekat. “Sayang...”
“Hm...” guman Prilly.
“Study kamukan udah selesai, aku juga udah terlalu lama cuti.” Ali mengelus puncak kepala Prilly.
Prilly tersenyum kecil kemudian menghadap kearah suaminya itu. “Lalu?.”
“Kita pulang ya... aku harus kerja.” Ucap Ali ragu.
Prilly dan Ali lama saling bertatapan. Sesaat kemudian Prilly tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. “Kapan?.”
“Mungkin lusa. Gimana?.”
“Yaudah.”
Ali mengerutkan keningnya. Ia menegakkan duduknya kemudian menghadapkan Prilly padanya. “Kamu kenapa yaang? Kok dikit-dikit gitu jawabnya?.”
“Gapapa Honey, aku cuma gak enak badan aja.”

“MAKANAN DATAAAAAAANG.” Seru Agni yang telah menyiapkan makanan di atas piring dan kini ia bawa kehadapan Prilly dan Ali.

“Biasa aja keleess...” ucap Prilly.
“Lagian gue udah ada di depan kalian malah dicuekin.” Kata Agni dengan sedikit bersungut.
“Ya sorry sorry...” Prilly berucap dengan senyuman geli menghiasi wajah cantiknya. “Yuk duduk Ni, Al.” Ajaknya.
Begitu Agni dan Al meletakkan seluruh makanan diatas meja dengan cepat Prilly menutup mulut serta hidungnya, kemudian ia berlari kecil ke arah dapur diiringi dengan Ali yang mengejarnya. Agni dan Al saling melirik, “Apa ada yang salah ya?.”

***

“Prilly loe baik-baik aja kan?.” Tanya Agni begitu Prilly telah kembali.
“Tolong Ni, bawa makanannya kedapur ya, kalian makan aja di dapur. Biar gue istirahat sebentar. Pusing banget.” Ucap Prilly, ia mulai berjalan di tuntun oleh Ali kearah kamarnya. Agni terlihat mengangguk kemudian kembali membawa beberapa piring makanan kembali kedapur bersama dengan kekasihnya.
“Kamu juga makan Honey, sana. Kasian mereka berdua. Aku mau istirahat aja sendiri dulu di kamar. Ya... kasian juga kamukan belum makan.”
“Tapi yaang...”
“Gak ada bantahan Honey. Kamu makan dulu nanti setelah makan baru samperin aku.”
“Yaang.”
“Kalo gak makan, malam ini kamu gak usah tidur di kamar sekalian.”
“Sayang... kok gitu...”
“Makan.”
“Oke oke... aku makan setelah antar kamu kekamar.”
Prilly mengangguk pelan.

***

Ali, Agni dan Al makan dalam diam, sesekali Agni dan Al saling melirik kemudian mengangguk entah mengisyaratkan apa. Sementara Ali bersemangat sekali untuk menghabiskan makanannya.
“Err... Li.”
“Ya...”
“Loe pernah ngelakuin ‘itu’ gak sama Prilly?.” Tanya Agni ragu.
Ali mengerutkan keningnya kemudian menatap Agni bingung, namun setelah melihat Agni yang memperlihatkan ekspresi anehnya ia mulai mengerti. “Oh itu. emangnya kenapa?.”
“Ya maksudnya, gini lho Li, apa ada kemungkinan Prilly hamil gitu?.”
“Hamil?.”
“Heem.” Ucap Agni sambil menganggukkan kepalanya.
“Mungkin... iya...” jawab Ali ragu.
Agni menghela nafas panjang. “Haiss... terus loe mau tinggalin dia disini sementara loe bakalan pulang? Gitu?.”
Ali menghela nafas dalam, ia tercenung beberapa saat. Benar juga, kalau seperti itu ia harus rela meninggalkan Prilly sementara waktu. “Ada loe disinikan yang siap nemenin dia?.”
“Sayangnya gue sama Al juga lusa pulang.”
Lagi-lagi Ali menghela nafas, ia tak mungkin meninggalkan Prilly sendirian disini dalam kondisi hamil. “Gue usahain bawa dia pulang.”
“Gosip loe disini sama pacar loe udah jadi gosip besar di Indonesia Li.” Ucap Al. “Tapi untungnya yang disangka pacar loe itu Agni.”
Ali mengerutkan keningnya. “Kok?.”
Agni memutar bola matanya kesal. “Ya gara-gara loe upload foto gue lah. Bego loe!!!.”
“Oh...”
“Gue ada rencana...” usulan Al.
Ali menatap kekasih sahabat istrinya itu penuh tanda tanya. Rencana seperti apa?

***

“Positif.” Guman Prilly dengan senyuman yang merekah dibibirnya. Positif? Guman Prilly sekali lagi dalam hatinya. Perasaan bahagia begitu membuncah memenuhi rongga dadanya. Apakah seperti ini kebahagiaan menjadi calon Ibu? Kedua mata Prilly berkaca-kaca kemudian butiran air mata kebahagiaan mulai meluncur ke pipinya. Ia mengelus perutnya pelan. “Baik-baik disana ya sayaang, Bunda akan jaga kamu.”

***

Prilly turun dari pesawat seorang diri, ia terlihat gugup kemudian membenarkan letak kaca matanya, ia melirik kearah kanannya, disana ada Al dengan penyamaran sempurnanya. Sementara Ali dibelakangnya dan Agni menyusul.  Ia jadi teringat percakapan mereka sebelum berangkat tadi pagi.

“Kamu harus menjamin keamanan Prilly!.” Seru Ali pada Al yang baru saja memasuki apartemennya.
Prilly mengelus punggung Ali, “Tenang Honey, aku pasti aman apalagi ada Agni yang udah mau berkorban.”
“Tapi sayaang.”
“Gapapa Honey, tenang aja.”
“Tenang aja Li, Prilly aman sama gue. Loe tinggal jaga Agni aja.” Sahut Al.
“Oke.” Ali melirik kearah Prilly kemudian memeluknya beberapa saat.

Begitu Prilly keluar bandara tersebut beberapa wartawan terlihat berjalan kearahnya. Dengan gugup Prilly membenarkan letak kacamatanya lagi, mengeratkan syalnya kemudian menunduk. Ya Tuhan.... ia melirik kearah Al, dia sudah selamat dari kerumunan wartawan. Sementara ia masih gugup karena wartawan terus berdatangan menghampirinya.

“Itu dia Aliando.” Seru para wartawan

Wartawan itu berlalu dari hadapan Prilly, ia menoleh kebelakang. Kini Ali yang dikerumuni oleh beberapa wartawan. Agni juga terlihat dihadang beberapa wartawan. Prilly menghela nafas lega.
“Akhirnya...” guman Prilly, bertepatan dengan itu seseorang menepuk pundaknya. Prilly membeku. Ia berbalik perlahan.
“Al?.” Prilly kembali menghela nafas lega. “Loe bener-bener ya, gue kaget tau.”
“Sorry, tapi kita harus segera pulang. Mobil udah siap dan sesuai apa kata suami loe, loe harus langsung istirahat total.”
“Oke. Gue istirahat dimana?.”
“Yang paling deket dari sini cuma apartemen gue.”
“Tapi?.”
Al mendengus kesal, “Gue udah ijin sama Ali, dan loe bisa tenang ditempat gue.”
“O..Oke.”

***

Dari kejauhan Ali sekilas memperhatikan Prilly yang kini mulai keluar dari bandara bersama Al, ia melirik kearah Agni yang terlihat terus menunduk. Gadis itu terus menurunkan topi yang ia kenakan untuk menutupi wajahnya.

“Ali, siapa yang bersama anda selama berlibur di Singapura?.”
“Ali... Ali, siapakah wanita ini?.”
“Ali, benarkah wanita ini wanita spesial itu?.”

Agni terhuyun kebelakang saat beberapa wartawan terus maju menuju kearahnya dan juga Ali.
“Aw...” rintih Agni begitu salah satu kamera wartawan mengenai kepalanya.
Secara refleks Ali berbalik melihat kearah Agni yang memegangi kepalanya, dengan cepat ia menarik gadis itu mendekat kearahnya, ia merangkul cukup erat pundak Agni. Ali sedikit menunduk.
“Sorry.”

“Ali... Siapa wanita disamping anda itu?.”
“Ini cuma teman saya, sahabat saya. Kami kebetulan menghadiri acara yang sama dan jadwal kepulangan kita sama. Hanya itu, terimakasih.” Ucap Ali. Setelah mengucapkan itu dengan cepat Ali berjalan meskipun masih sulit juga.

“Hey, bukannya itu mobil Al ya?.” ucap seorang wartawan.
“Itu Al, dia dengan seseorang.”

Beberapa wartawan berpindah mengejar Al yang kini tengah membukakan pintunya untuk Prilly. Melihat hal itu Ali menghela nafas lega, setidaknya Prilly sudah berada di dalam mobil dan aman.

“Ali... benarkah ini  hanyalah sahabat?.”
“Ya.”
“Tidak lebih?.”
“Tidak.”
“Oke. Mbak... Mbak namanya siapa?.”

Agni tidak menjawab ia mengeratkan pegangannya pada jaket yang ia kenakan. Ia kemudian terlihat menghela nafas lega begitu mobil yang akan ia gunakan untuk pulang telah terparkir rapih.

“No Agni. Jangan berpikir loe bisa pulang kerumah loe, itupun kalo privasi loe masih mau loe jaga. Loe pulang kerumah gue sementara biar wartawan gak tau dimana rumah loe.” Bisik Ali.
“What?!.” Bisik tajam Agni.
“Nurut atau loe gak aman?.”
“Oke!!!.”

Ali membukakan pintu mobil jemputannya untuk Agni, setelah itu ia mengikuti masuk kedalamnya. Ia menghela nafas panjang.
“Syukurlah.”
“Gue gak kebayang kalo loe sama Prilly Li, gue aja sampe kejedot kamera. Untung Prilly udah duluan.” Rutuk Agni sambil memandangi kepalanya disebuah kaca kecil.
“Thanks ya Ni, kalo gak ada loe gue gak tau nasib Prilly gimana. Apalagi liat kondisi tadi padet banget.”
“Oke. Lagian Prilly sahabat gue.” Agni terdiam sejenak. “Eh tapi Li, emang gapapa gue kerumah loe?.”
“Enggak. Mama juga udah stand by di lobi apartemen Al jemput Prilly.”
“Yakin loe Prilly langsung dibawa? Loe gak inget kata dokter? Prilly harus langsung istirahat.”
“Nyokap gue tau apa yang dia harus lakuin.” Ucap Ali kemudian meraih ponselnya, menghubungi Prilly.
“Sayang?.”
“Honey...”
“Kamu gapapa sayang? Mama udah nunggu kamu di apartemen Al.”
“Aku gapapa honey, oke nanti aku langsung pulang sama Mama.”
“Kamu kedokter dulu sama Mama ya, aku gak mau kamu kenapa-napa.”
“Aku gapapa kok honey.”
“Pokoknya kamu nurut apa kata Mama ya... aku tunggu kamu dirumah.”
“Oke honey.”

***

Al melirik kearah Prilly dengan ragu kemudian mengalihkan pandangan kearah depan.
“Prill... didepan banyak wartawan...”

***

Bersambung...
 untuk teman-teman maaf ya ini slow-post soalnya aku masih sibuk kuliah. harap maklum ya semuanya. :)
yuk yang mau cakap-cakap bisa ke twitter dan ask.fm di @SopiahNenden

Thank you semuanya

1 comment: