Chapter 12
Satu bulan
berlalu, akhirnya Prilly berhasil menyelesaikan pendidikannya. Kini ia duduk
gelisah disofa apartemennya menunggu keluarganya yang tak kunjung datang. Prilly
merasakan elusan lembut pada bahunya, ia menoleh kesampingnya mendapati
suaminya yang tengah tersenyum menenangkannya.
“Sebentar lagi
mereka datang sayang, tenang ya.”
Prilly tersenyum
kecil kemudian menghela nafas panjang. Ia menyandarkan kepalanya kebahu Ali.
“Aku gak tau gimana kalo gak ada kamu Honey.”
Ali terkekeh
kecil, ia mengecup puncak kepala Prilly, menyalurkan seluruh kasih sayangnya,
hanya untuk menenangkan istrinya seorang.
“Happy
Graduation Prilly sayaaaang.” Seru Agni yang masuk begitu saja kedalam
apartemen Prilly dibelakangnya diikuti oleh keluarga Prilly.
“Thank you doll
eyes.” Prilly berdiri memeluk sahabatnya itu, kemudian ia beralih pada
keluarganya. “Ma, Ma. Makasih ya udah dateng.” Ia memeluk Reina dan Riani
bergantian, kemudian ia beralih pada Fandi dan Fadli. Ia juga melakukan hal
yang sama. “Makasih juga ya Pa, kalian udah mau dateng.”
“Iya dong, masa
anak Papa mau wisuda Papa gak dateng sih.” Ucap Fandi.
Agni
mengeluarkan kamera milik Prilly yang tergeletak dimeja. Ia tersenyum. “Foto
bersama dulu sebelum berangkat.”
Prilly mengangguk,
ia menarik Ali untuk berdiri disampingnya kemudian diikuti kedua orangtuanya
dan kedua mertuanya.
“Satu, dua,
tiga.”
Prilly melirik
kearah Ali yang ternyata sedang menatapnya dengan senyuman yang tak pernah
luntur dari wajah tampannya.
“Kenapa?.”
“Ini foto
keluarga pertama kita.”
Prilly tertegun.
Ya benar, ini foto keluarga pertamanya bersama suaminya.
“Ali, Prilly.”
Klik!
Satu bidikan
didapatkan Agni begitu keduanya menoleh secara bersamaan kearahnya. Ia
terkekeh. “Bagus.” Ucapnya sambil mengacungkan sebelah ibu jarinya.
***
“Ali! gila
loe!!!.”
Agni memukul
lengan Ali begitu ia bertemu dengan suami sahabatnya itu ditengah kerumunan
orang.
“Apa sih?.”
“Loe gila
hah?!.” Agni mendesis marah, berbisik penuh penekanan pada Ali.
“Kenapa?.”
“Loe mau bikin
Prilly dibully? Apaan ini?.”
Agni
mengacungkan ponselnya tepat didepan wajah Ali. dilayar ponsel itu terpampang
akun instagram miliknya.
“Ohh loe
follow gue? Mau di follback?.”
Agni
mengacungkan tinjunya.
“Bukan itu
bego!!!.”
“Terus?.”
“Maksud loe
apaan upload foto Prilly ini HAH?! Terus apa ini? “Happy Graduation sayang”?
gila loe ya. liat komen-komennya! Gila ya loe.”
Ali menghela
nafas panjang.
“Gue juga
berhakkan ngerayain kebahagiaan gue?.” Ucapnya seraya kembali memerhatikan
Prilly yang kini telah kembali duduk ditempatnya.
“Ya gak
gitu-gitu juga keles, sekarang ini udah jadi gosip Li, gila loe ya. gak ada
kasian-kasiannya loe sama sahabat gue.”
“AgniTA?.”
“Apa loe
sebut-sebut nama gue? Denger ya loe! Kalo sampe ada apa-apa sama Prilly! Gue
bakalan botakin loe!.”
Sementara Agni
terus mengomel Ali malah mengutak atik ponselnya kemudian ia mengarahkan ponsel
untuk membidik Agni dan dirinya, tak lama kemudian ponsel Agni berbunyi sebuah
pemberitahuan masuk. Mulanya, Agni mengabaikannya namun pemberitahuan
berberondong masuk di akun Instagramnya.
Si bawel yang
lagi marah-marah :P
Caption itulah
yang berada pada foto yang baru saja dibidikan oleh Ali tadi. Beberapa saat
kemudian langsunglah followersnya bertambah dan beberapa komentar pedas masuk
memenuhi pemberitahuannya.
“Nyebelin ya
loe! Sejak kapan loe tau akun gue? Sejak kapan juga loe follow akun gue?
Kapan?! Ali gue benci loe!.”
Ali terkekeh
kecil, mungkin dengan begini tak ada yang akan menyerang Prilly. Bukan
bermaksud mengorbankan Agni, namun ia tau Agni akan mengerti apa yang
sebenarnya ia lakukan, ia yakin bahwa gadis itu akan memahami tindakannya.
***
Prilly menatap
Ali dan Agni bergantian begitu ketiganya sampai di apartemen milik Prilly, tadi
begitu acara selesai orang tua Prilly dan Ali segera kembali ke Jakarta karena
ada pekerjaan yang mendesak hingga ketiganya harus mengantarkan kepulangan
mereka terlebih dahulu setelah acara selesai.
“Agni kenapa
sih? kok tumben banget kayak lagi marah sama Ali? katanya loe ngefans.”
Agni
mendengus, ia mendelik. “Enggak lagi!!! Mulai detik ini gue bukan fans dia
lagi.”
“Yes!.” Seru
Ali begitu mendengar ucapan Agni, membuat gadis itu mendelik lagi, karad
kekesalannya semakin bertambah.
Prilly
mengerutkan keningnya, ia tersenyum geli melihat tingkah sahabatnya dan
suaminya itu. ia menggelengkan kepalanya pelan.
“Kalian
ini...”
Suara bel
berbunyi pertanda seseorang akan bertamu.
“Itu pasti
Al.” Guman Agni kemudian ia berjalan kearah pintu dan membukakan pintunya.
“Hai sayaang.”
Sapa Al.
Agni tersenyum
cerah, “Hai juga sayang? Lama banget sih...”
Al
mengacungkan tangan sebelah kanannya yang membawa dua kantung berisi makanan
pesanan Agni, spesial untuk perayaan kelulusan Prilly.
“Yaudah yuk.
Masuk.” Ajak Agni.
***
Ali merangkul
pinggang Prilly, membawanya untuk lebih mendekat. “Sayang...”
“Hm...” guman
Prilly.
“Study kamukan
udah selesai, aku juga udah terlalu lama cuti.” Ali mengelus puncak kepala
Prilly.
Prilly
tersenyum kecil kemudian menghadap kearah suaminya itu. “Lalu?.”
“Kita pulang
ya... aku harus kerja.” Ucap Ali ragu.
Prilly dan Ali
lama saling bertatapan. Sesaat kemudian Prilly tersenyum sambil menganggukkan
kepalanya. “Kapan?.”
“Mungkin lusa.
Gimana?.”
“Yaudah.”
Ali
mengerutkan keningnya. Ia menegakkan duduknya kemudian menghadapkan Prilly
padanya. “Kamu kenapa yaang? Kok dikit-dikit gitu jawabnya?.”
“Gapapa Honey,
aku cuma gak enak badan aja.”
“MAKANAN
DATAAAAAAANG.” Seru Agni yang telah menyiapkan makanan di atas piring dan kini
ia bawa kehadapan Prilly dan Ali.
“Biasa aja
keleess...” ucap Prilly.
“Lagian gue
udah ada di depan kalian malah dicuekin.” Kata Agni dengan sedikit bersungut.
“Ya sorry
sorry...” Prilly berucap dengan senyuman geli menghiasi wajah cantiknya. “Yuk
duduk Ni, Al.” Ajaknya.
Begitu Agni
dan Al meletakkan seluruh makanan diatas meja dengan cepat Prilly menutup mulut
serta hidungnya, kemudian ia berlari kecil ke arah dapur diiringi dengan Ali
yang mengejarnya. Agni dan Al saling melirik, “Apa ada yang salah ya?.”
***
“Prilly loe
baik-baik aja kan?.” Tanya Agni begitu Prilly telah kembali.
“Tolong Ni,
bawa makanannya kedapur ya, kalian makan aja di dapur. Biar gue istirahat
sebentar. Pusing banget.” Ucap Prilly, ia mulai berjalan di tuntun oleh Ali
kearah kamarnya. Agni terlihat mengangguk kemudian kembali membawa beberapa
piring makanan kembali kedapur bersama dengan kekasihnya.
“Kamu juga
makan Honey, sana. Kasian mereka berdua. Aku mau istirahat aja sendiri dulu di
kamar. Ya... kasian juga kamukan belum makan.”
“Tapi
yaang...”
“Gak ada
bantahan Honey. Kamu makan dulu nanti setelah makan baru samperin aku.”
“Yaang.”
“Kalo gak
makan, malam ini kamu gak usah tidur di kamar sekalian.”
“Sayang... kok
gitu...”
“Makan.”
“Oke oke...
aku makan setelah antar kamu kekamar.”
Prilly
mengangguk pelan.
***
Ali, Agni dan
Al makan dalam diam, sesekali Agni dan Al saling melirik kemudian mengangguk
entah mengisyaratkan apa. Sementara Ali bersemangat sekali untuk menghabiskan
makanannya.
“Err... Li.”
“Ya...”
“Loe pernah
ngelakuin ‘itu’ gak sama Prilly?.” Tanya Agni ragu.
Ali
mengerutkan keningnya kemudian menatap Agni bingung, namun setelah melihat Agni
yang memperlihatkan ekspresi anehnya ia mulai mengerti. “Oh itu. emangnya
kenapa?.”
“Ya maksudnya,
gini lho Li, apa ada kemungkinan Prilly hamil gitu?.”
“Hamil?.”
“Heem.” Ucap
Agni sambil menganggukkan kepalanya.
“Mungkin...
iya...” jawab Ali ragu.
Agni menghela
nafas panjang. “Haiss... terus loe mau tinggalin dia disini sementara loe
bakalan pulang? Gitu?.”
Ali menghela
nafas dalam, ia tercenung beberapa saat. Benar juga, kalau seperti itu ia harus
rela meninggalkan Prilly sementara waktu. “Ada loe disinikan yang siap nemenin
dia?.”
“Sayangnya gue
sama Al juga lusa pulang.”
Lagi-lagi Ali
menghela nafas, ia tak mungkin meninggalkan Prilly sendirian disini dalam
kondisi hamil. “Gue usahain bawa dia pulang.”
“Gosip loe
disini sama pacar loe udah jadi gosip besar di Indonesia Li.” Ucap Al. “Tapi
untungnya yang disangka pacar loe itu Agni.”
Ali
mengerutkan keningnya. “Kok?.”
Agni memutar
bola matanya kesal. “Ya gara-gara loe upload foto gue lah. Bego loe!!!.”
“Oh...”
“Gue ada
rencana...” usulan Al.
Ali menatap
kekasih sahabat istrinya itu penuh tanda tanya. Rencana seperti apa?
***
“Positif.”
Guman Prilly dengan senyuman yang merekah dibibirnya. Positif? Guman Prilly sekali lagi dalam hatinya. Perasaan bahagia
begitu membuncah memenuhi rongga dadanya. Apakah seperti ini kebahagiaan
menjadi calon Ibu? Kedua mata Prilly berkaca-kaca kemudian butiran air mata
kebahagiaan mulai meluncur ke pipinya. Ia mengelus perutnya pelan. “Baik-baik
disana ya sayaang, Bunda akan jaga kamu.”
***
Prilly turun
dari pesawat seorang diri, ia terlihat gugup kemudian membenarkan letak kaca
matanya, ia melirik kearah kanannya, disana ada Al dengan penyamaran
sempurnanya. Sementara Ali dibelakangnya dan Agni menyusul. Ia jadi teringat percakapan mereka sebelum
berangkat tadi pagi.
“Kamu harus menjamin keamanan Prilly!.” Seru Ali
pada Al yang baru saja memasuki apartemennya.
Prilly mengelus punggung Ali, “Tenang Honey, aku
pasti aman apalagi ada Agni yang udah mau berkorban.”
“Tapi sayaang.”
“Gapapa Honey, tenang aja.”
“Tenang aja Li, Prilly aman sama gue. Loe tinggal
jaga Agni aja.” Sahut Al.
“Oke.” Ali melirik kearah Prilly kemudian memeluknya
beberapa saat.
Begitu Prilly
keluar bandara tersebut beberapa wartawan terlihat berjalan kearahnya. Dengan
gugup Prilly membenarkan letak kacamatanya lagi, mengeratkan syalnya kemudian
menunduk. Ya Tuhan.... ia melirik
kearah Al, dia sudah selamat dari kerumunan wartawan. Sementara ia masih gugup
karena wartawan terus berdatangan menghampirinya.
“Itu dia
Aliando.” Seru para wartawan
Wartawan itu
berlalu dari hadapan Prilly, ia menoleh kebelakang. Kini Ali yang dikerumuni
oleh beberapa wartawan. Agni juga terlihat dihadang beberapa wartawan. Prilly
menghela nafas lega.
“Akhirnya...”
guman Prilly, bertepatan dengan itu seseorang menepuk pundaknya. Prilly
membeku. Ia berbalik perlahan.
“Al?.” Prilly
kembali menghela nafas lega. “Loe bener-bener ya, gue kaget tau.”
“Sorry, tapi
kita harus segera pulang. Mobil udah siap dan sesuai apa kata suami loe, loe
harus langsung istirahat total.”
“Oke. Gue
istirahat dimana?.”
“Yang paling
deket dari sini cuma apartemen gue.”
“Tapi?.”
Al mendengus
kesal, “Gue udah ijin sama Ali, dan loe bisa tenang ditempat gue.”
“O..Oke.”
***
Dari kejauhan
Ali sekilas memperhatikan Prilly yang kini mulai keluar dari bandara bersama
Al, ia melirik kearah Agni yang terlihat terus menunduk. Gadis itu terus
menurunkan topi yang ia kenakan untuk menutupi wajahnya.
“Ali, siapa
yang bersama anda selama berlibur di Singapura?.”
“Ali... Ali,
siapakah wanita ini?.”
“Ali, benarkah
wanita ini wanita spesial itu?.”
Agni terhuyun
kebelakang saat beberapa wartawan terus maju menuju kearahnya dan juga Ali.
“Aw...” rintih
Agni begitu salah satu kamera wartawan mengenai kepalanya.
Secara refleks
Ali berbalik melihat kearah Agni yang memegangi kepalanya, dengan cepat ia
menarik gadis itu mendekat kearahnya, ia merangkul cukup erat pundak Agni. Ali
sedikit menunduk.
“Sorry.”
“Ali... Siapa
wanita disamping anda itu?.”
“Ini cuma
teman saya, sahabat saya. Kami kebetulan menghadiri acara yang sama dan jadwal
kepulangan kita sama. Hanya itu, terimakasih.” Ucap Ali. Setelah mengucapkan
itu dengan cepat Ali berjalan meskipun masih sulit juga.
“Hey, bukannya
itu mobil Al ya?.” ucap seorang wartawan.
“Itu Al, dia
dengan seseorang.”
Beberapa
wartawan berpindah mengejar Al yang kini tengah membukakan pintunya untuk
Prilly. Melihat hal itu Ali menghela nafas lega, setidaknya Prilly sudah berada
di dalam mobil dan aman.
“Ali...
benarkah ini hanyalah sahabat?.”
“Ya.”
“Tidak
lebih?.”
“Tidak.”
“Oke. Mbak...
Mbak namanya siapa?.”
Agni tidak
menjawab ia mengeratkan pegangannya pada jaket yang ia kenakan. Ia kemudian
terlihat menghela nafas lega begitu mobil yang akan ia gunakan untuk pulang
telah terparkir rapih.
“No Agni.
Jangan berpikir loe bisa pulang kerumah loe, itupun kalo privasi loe masih mau
loe jaga. Loe pulang kerumah gue sementara biar wartawan gak tau dimana rumah
loe.” Bisik Ali.
“What?!.”
Bisik tajam Agni.
“Nurut atau
loe gak aman?.”
“Oke!!!.”
Ali membukakan
pintu mobil jemputannya untuk Agni, setelah itu ia mengikuti masuk kedalamnya.
Ia menghela nafas panjang.
“Syukurlah.”
“Gue gak
kebayang kalo loe sama Prilly Li, gue aja sampe kejedot kamera. Untung Prilly
udah duluan.” Rutuk Agni sambil memandangi kepalanya disebuah kaca kecil.
“Thanks ya Ni,
kalo gak ada loe gue gak tau nasib Prilly gimana. Apalagi liat kondisi tadi
padet banget.”
“Oke. Lagian
Prilly sahabat gue.” Agni terdiam sejenak. “Eh tapi Li, emang gapapa gue
kerumah loe?.”
“Enggak. Mama
juga udah stand by di lobi apartemen Al jemput Prilly.”
“Yakin loe
Prilly langsung dibawa? Loe gak inget kata dokter? Prilly harus langsung
istirahat.”
“Nyokap gue tau
apa yang dia harus lakuin.” Ucap Ali kemudian meraih ponselnya, menghubungi
Prilly.
“Sayang?.”
“Honey...”
“Kamu gapapa
sayang? Mama udah nunggu kamu di apartemen Al.”
“Aku gapapa honey, oke nanti aku langsung pulang
sama Mama.”
“Kamu kedokter
dulu sama Mama ya, aku gak mau kamu kenapa-napa.”
“Aku gapapa kok honey.”
“Pokoknya kamu
nurut apa kata Mama ya... aku tunggu kamu dirumah.”
“Oke honey.”
***
Al melirik
kearah Prilly dengan ragu kemudian mengalihkan pandangan kearah depan.
“Prill...
didepan banyak wartawan...”
***
Bersambung...
untuk teman-teman maaf ya ini slow-post soalnya aku masih sibuk kuliah. harap maklum ya semuanya. :)
yuk yang mau cakap-cakap bisa ke twitter dan ask.fm di @SopiahNenden
Thank you semuanya
Mana part selanjutnya kak ? LDM seru (y)
ReplyDelete