Chapter
13
“Prill...
didepan banyak wartawan...”
“Apa?.” Ujar
Prilly pelan.
Al menatap
Prilly khawatir, wanita disampingnya itu terlihat begitu pucat.
“Prilly...”
“Al... argh...
sakit.” Ringis Prilly sambil memegangi perutnya, sementara sebelah tangannya
lagi mencengkeram lengan Al.
“Prilly!” Al
menatap Prilly dengan khawatir, pandangannya beralih ke perut Prilly. Dibagian
kaki samar terlihat sesuatu. “Darah...” guman Al , kemudian ia beralih pada
sopirnya. “Pak kerumah sakit terdekat! Cepat!!!.”
Untuk kesekian
kalinya Prilly mengerang, dengan tangannya yang semakin kencang mencengkeram
tangan Al. Sementara Al ia hanya bisa membiarkan kedua tangannya dicengkeram
oleh Prilly dan berusaha menenangkan Prilly.
“Prilly tenang
ya... sabar. PAK! Cepat!!!.”
Tak berselang
lama mereka sampai kerumah sakit, dengan cepat Al mengangkat Prilly memasuki
IGD, tanpa mempedulikan sekitar yang memperhatikannya penuh tanya.
“Prilly...
tenang ya... DOKTER!!!.”
***
Ali menatap ponselnya
dengan gusar, sedari tadi Prilly tidak bisa dihubungi begitu pula dengan Al,
sesekali Ali mengacak-acak rambutnya kesal.
“Gimana? Ada
kabar belum?.” Tanya Agni, gadis itu tak kalah panik juga karena kekasihnya tak
kunjung menghubunginya.
“Belum.”
Tiba-tiba ponsel
Ali berdering. Agni dengan cepat mendekat.
“Siapa?.”
Ali melirik
kearah Agni sekilas. “Mama...” ucapnya pelan.
Agni
menghembuskan nafas kecewa. Ia kira itu Prilly atau Al, tapi ternyata bukan.
“Apa Ma?
Prilly sama Al belum sampe juga? Seharusnya mereka dari setengah jam yang lalu
juga udah sampe Ma.”
Mendengar hal
itu, Agni semaki gusar. Kemana perginya Al membawa Prilly? Kenapa semuanya jadi
seperti ini?
“Kenapa disana
bisa banyak wartawan Ma? Mereka pasti pergi kesuatu tempat.” Ucap Ali lagi.
Ponsel Agni
yang sedari tadi ia genggam berdering. Panggilan dari Al masuk.
“Al, dimana
kamu?.”
“Di rumah sakit.”
“Apa? Rumah
sakit?.”
“Iya, Prilly pendarahan.”
“Apa?!.”
“Kalian cepat datang kesini. Alamatnya nanti aku
sms.”
“Oke. Al.
Tunggu.”
Agni beralih
pada Ali yang ternyata sedang menatapnya penuh tanya.
“Li, kita
harus cepet-cepet kerumah sakit. Prilly pendarahan...”
“Apa?!.”
***
Setelah cukup
lama menunggu akhirnya Dokter yang menangani Prilly keluar, dengan cepat Al
berdiri mendekati Dokter tersebut.
“Gimana
keadaan teman saya Dok?.”
“Pasien
baik-baik saja, hanya pendarahan biasa namun cukup beresiko mengingat usia
kehamilannya yang masih rentan.”
“Tapi...
semuanya baik-baik aja kan Dok?.”
Dokter itu
tersenyum kecil, ia menepuk pundak Al pelan.
“Pasien
baik-baik saja, anda tidak perlu khawatir. Sekarang pasien sedang beristirahat,
pasien harus banyak istirahat dan harus beberapa hari dirawat disini.”
“Syukurlah...
Terimakasih Dok.”
***
Ali berlari
sepanjang koridor rumah sakit, begitu ia mengetahui nomor ruang rawat istrinya
ia segera berlari mencari keberadaannya. Tak ada kata-kata sedikitpun yang
keluar dari mulut Ali. dadanya begitu bergemuruh, sesak. Ia begitu khawatir
pada istrinya.
Ceklek.
Ali membuka
perlahan ruang rawat Prilly, Al duduk disana. Menunggui Prilly dengan pakaian
yang sama, dengan bercak merah disana yang menjadi bukti nyata Prilly-nya tidak
baik-baik saja.
Al menatap
Ali, “Ali... sorry... gue...”
Ali tersenyum
tipis. “Gapapa... ini semua juga gara-gara gue. Beruntung ada loe yang jagain
Prilly, gue gak tau gimana kalo gak ada loe.”
“Oke... tapi
sorry... gue gak bisa jaga Prilly buat loe. Gue gak tau akhirnya bakalan ada
disini.”
Kini keduanya
berhadapan, Ali menepuk lengan Al beberapa kali sambil tersenyum tipis, mencoba
menghiburnya yang merasa bersalah.
“Tenang aja,
gapapa.”
“Sorry...
sekali lagi.”
Ali mengangguk
kecil kemudian beralih pada Prilly, ia mengelus kedua pipi Prilly dengan
lembut. Sementara Al berlalu, membiarkan pasangan itu berdua.
“Bangun sayang,
bangun.” bisik Ali pelan.
Menatap wajah
cantik yang begitu pucat itu membuatnya begitu pilu, dadanya sesak. Ali tak
bisa melihat wanita yang ia sayangi tergolek lemah seperti itu. ia juga lemah
jika wanitanya itu lemah. Ia mengecup seluruh permukaan wajah Prilly penuh
kasih sayang.
“Aku sayang
banget sama kamu... bangun sayaang.”
Detik demi
detik berlalu, waktu berlalu seakan sangatlah lama. Ali masih tak beranjak dari
kamar itu, sesekali ia mengecup tangan Prilly, menatapnya, berbisik lembut padanya,
setelah itu ia hanya mondar-mandir tak sabar menungguinya. Orangtuanya dan
orang tua Prilly juga telah datang. Mereka beberapa kali mengingatkan Ali untuk
sekedar tidur atau makan, namun Ali bersikukuh untuk tetap menunggu Prilly
hingga sadar. Ia tak ingin saat Prilly sadar ia tak ada disampingnya. Ia hanya
ingin terus mendampingi Prilly hingga dia bangun.
“Ma, apa dulu
waktu ngandung Ali Mama juga menderita?.” Tanya Ali pada Riani
Riani
mendekati Ali berdiri disamping puteranya, ia mengelus kepala putera
kesayangannya itu yang masih terus saja memandangi Prilly yang tak kunjung
membuka matanya.
“Tidak ada
wanita yang mengandung merasa menderita sayang.” Ujar Riani
“Tapi Ma...
kenapa Prilly sekarang menderita? Apa Ali gak seperti Papa dulu waktu jaga Mama
saat hamil Ali?.”
Riani menghela
nafas panjang, ia melirik kearah suaminya sekilas kemudian beralih pada Ali
kembali.
“Kamu sedang
berusahakan menjaga Prilly? Dulu... Papa-mu malah tidak tau Mama hamil, saking
sibuknya. Papa-mu tau Mama hamil saat perut Mama mulai besar aja. Saat itu Mama
memang sengaja seperti itu, soalnya Papa-mu sama sekali kurang memperhatikan
Mama.” Riani melirik suaminya tajam sementara suaminya hanya menyeringai jahil.
Riani tersenyum, ia mengecup puncak kepala Ali.
“Kamu yang
sabar ya sayang, kamu yang harus menguatkan Prilly. Kalo kamunya lemah gini,
gimana kamu bisa memberi semangat pada Prilly?.”
Ali mengangguk
patuh. “Makasih Ma. Maafin Ali juga, selama ini Ali selalu mengecewakan Mama,
selalu bandel. Maafin semua kesalahan Ali ya Ma.”
“Iya
sayang...” ucap Riani sambil terus mengelus kepala Ali yang bersandar
diperutnya.
***
Setelah
beberapa jam tertidur akhirnya Prilly dapat membuka matanya, ia mengerjapkan
matanya beberapa kali. Kemudian mengedarkan pandangan kesekelilingnya. Ya, ia
berada dirumah sakit, sekarang. Ia melirik tangan kanannya yang begitu berat,
ternyata Ali mengenggamnya. Ia tersenyum bahagia. Kemudian Prilly menarik
tangannya perlahan, lalu mengelus kepala Ali yang berada dibangsal tempat ia
tidur.
“Ali...”
Ali bergumam
pelan, sementara Prilly hanya dapat tersenyum kecil mendengarnya.
“Honey...”
panggil Prilly lagi.
“Ya...
Sayang.” Guman Ali, ia mengangkat kepalanya kemudian menguap. Ia mengerjapkan
matanya beberapa kali.
“Prilly...”
ujar Ali. “Hah?! Prilly! Sayang kamu udah sadar? Akhirnya...” Ali segera
memeluk Prilly dengan erat, sesekali ia mengelus punggung Prilly dan mengecup
puncak kepala istrinya itu dengan penuh kasih sayang.
“Honey...
gimana sama anak kita?.”
“Gapapa
sayang, tenang ya... yang penting kamu tenang gak stress semuanya akan aman.
Tenang ya sayang...”
Prilly
mengangguk pelan, “Syukurlah...”
“Maafin aku ya
sayang, aku malah titipin kamu sama Al, maafin aku gak bisa dampingin kamu
terus. Maafin aku.” bisik Ali.
Prilly tersenyum
kecil. “Gapapa Honey, yang penting aku baik-baik ajakan?.”
“Maafin
aku...”
“Gapapa Honey,
udah ahh jangan maaf maaf terus. Kalo kamu minta maaf lagi aku marah nih.”
Ancam Prilly.
Ali tersenyum
kecil, ia mengecup lagi puncak kepala Prilly kemudian menatap istrinya itu
penuh kasih sayang, ia mengecup seluruh permukaan wajah Prilly lagi.
“Aku sayang
banget sama kamu sayang...”
Prilly
tersenyum manis, ia mengelus sebelah pipi Ali dengan tangannya yang terbebas
dari infusan.
“Aku juga
sayang banget sama kamu Honey...”
***
Prill...
gimana kabar loe?
Sorry gue gak
bisa jenguk loe, banyak wartawan yang ikutin gue.
Prilly
tersenyum kecil begitu membaca pesan dari sahabatnya, Agni. Begitu bangun pagi
ini, ia mendengar ponselnya berdering tanda sebuah pesan masuk, ternyata Agni
yang memberinya pesan singkat.
“Ada apa? Kok
senyum-senyum gitu sih yaang?.” Tanya Ali seraya duduk disamping Prilly.
“Kasian Agni
Honey, dia jadi gak bisa maen gara-gara wartawan.”
Ali tersenyum
kecil, ia mengelus puncak kepala Prilly dengan penuh kasih sayang, kemudian ia
mengecup kening dan puncak kepala Prilly.
“Udah kamu
jangan mikirin itu ya, yang penting kamu sehat dan anak kita juga tumbuh dengan
sehat.”
Prilly
mengangguk patuh, ia harus menuruti apa kata Ali. setidaknya, apa yang dia
ucapkan itu hal terbaik untuknya.
“Honey...”
“Hmm...”
“Aku pengen
banget jus mangga yang ada di deket
rumah kamu itu lho.”
Ali terkekeh
kecil kemudian mengacak-acak rambut Prilly sesaat.
“Kamu udah
mulai ngidam ya?.”
“Ehh...”
Ali terkekeh kecil
melihat wajah Prilly yang memerah, malu.
***
Hari demi hari
berbagai gosip pun mulai mencuat, berbagai spekulasipun mulai naik kepermukaan.
“Al siapakah
wanita yang bersama anda saat dirumah sakit itu? apakah benar dia ternyata
simpanan anda yang tengah hamil?.”
“Benarkah anda
melakukan sebuah hubungan gelap hingga wanita itu hamil?.”
“Lalu
benarkah, ternyata wanita yang disebutkan teman dekat Aliando ternyata
berselingkuh dengan anda?.”
“Al... Al...
siapa wanita yang bersama anda, yang didalam mobil itu?.”
Agni menatap
Al yang dengan susah payah berjalan keluar dari mobil yang sedang ia tumpangi
ini, gosip itu ternyata semakin kacau saja. Bahkan Al yang akan memasuki gedung
kantor managernya saja massih saja dihadang oleh beberapa wartawan yang ingin
mewawancarainya. Agni mengambil ponselnya.
“Hallo Li, loe
dimana?.”
***
Agni memasuki
kediaman Prilly, yang sementara ini aman untuk melakukan pertemuan.
“Li.”
Ali melirik
kearah Agni yang baru saja masuk. Ia menghela nafas panjang kemudian mematikan
televisi yang sedari tadi ia lihat. Ya, ia memang telah mendengar gosip yang
semakin parah itu.
“Sorry. Gue
gak nyangka semuanya bisa ssekacau ini.”
Agni menghela
nafas panjang.
“Satu bulan
lagi gue mau nikah sama Al. Orang-orang rumah juga aneh sama ini semua. Please
Li, bantu gue. Loe klarifikasi semuanya. Gue gak mau semuanya kacau.”
Ali menghela
nafas panjang.
“Oke. Gue juga
udah siapin buat jumpa fans. Gue juga ada meet and greet. Gue berniat
klarifikasi semuanya secepat mungkin Ni.”
“Loe mau
publikasiin Prilly?.”
“Ya...” Jawab
Ali lambat.
“Apa gak
bahaya? Apa gak sebaiknya loe bilang aja yang sebenarnya tapi loe gak usah
libatin Prilly, loe gak usah publikasiin Prilly, loe juga bisakan jelasin
semuanya tanpa harus mereka tau Prilly?.” Ucap Agni dengan nafas menggebu. Ia
menghela nafas panjang.
“Gue cuma
khawatir sama Prilly Li, gue sebagai sahabat dia gak rela kalau suatu saat
Prilly kenapa-napa. Loe tau sendirikan gimana fanatik nya fans loe? Gue aja
jadi korban bully. Gue sih fine Li, gue gapapa. Tapi Prilly? Dia emang gak
lemah. Tapi dia lagi hamil!.”
“Apa loe gak
khawatirin kandungan dia?.” Lanjut Agni pelan. Ia mengalihkan pandangannya pada
Ali yang masih saja terus terdiam.
“Jadi... gue
harus gimana?.” Tanya Ali pelan.
***
Beberapa hari
di rumah sakit akhirnya Prilly diperbolehkan pulang, saat ini ia sedang
mengamati Ali yang sedang bersiap-siap untuk pergi jumpa fans dan meet and greet
di sebuah restaurant tak jauh dari rumahnya. Prilly tersenyum kecil.
“Kenapa yaang?
Kok senyum-senyum gitu?.”
Prilly
menggeleng pelan, ia mendekati Ali dengan tangan yang sibuk meraih jaket, topi
dan kacamata Ali kemudian memakaikannya. Ia menatap Ali dari ujung kepala
hingga ujung kaki sambil berkacak pinggang.
“Boleh
juga...” gumannya.
Ali terkekeh,
ia mengacak-acak rambut Prilly sesaat lalu mengecup puncak kepala dan kening
istrinya itu.
“Jaga diri
baik-baik ya sayaang, aku perginya gak lama kok.” Ucap Ali, setelah itu ia
berjongkok dihadapan Prilly, mengelus pelan permukaan perut Prilly kemudian
memeluknya.
“Baby jangan
nakal ya disana, jagain Mamanya ya Baby. Papa mau berangkat dulu.” Setelah
mengucapkan hal itu Ali mengecup perut Prilly.
Sementara itu,
Prilly menatapnya dengan tatapan haru. Ia tak menyangka menjadi calon seorang
Ibu akan semembahagiakan ini. Ali begitu menyayanginya, begitu memanjakannya,
dia juga begitu mengerti keadaannya.
Betapa beruntungnya aku, memilikimu yang begitu menyayangiku,
Ali...
***
Bersambung.
Nextt
ReplyDeleteJgn lama lamaa yaaa..
ReplyDeleteayo next..
ReplyDeleteudah gk sabar nihh
next kak. . semangat ngetiknya. . bagus alurnya..
ReplyDeleteBagus banget kak ceritanya, next nya jangan lama²
ReplyDeleteKak kakak penulis watty yg berakun rose_ungu kah..
ReplyDeletekalau ia, aku pengemar cerita prince's talenya kakak..., aku berharap kakak aktiv lagi di dunia orage... ;)
Nextttt kakk....
ReplyDeleteNextt yaa kag .
ReplyDeleteDitunggu ..
Semangat ngetik.y..
kok gak di next lagi kak ?
ReplyDeleteNext kali kk. Udah berapa tahun nunggu di next. Jujur aku dari masih Mts bacanya trus nunggu di next sampai aku MA kok gak di next juga😢 udah berapa tahun ini kk. Aku harap sih secepatnya di next😁
ReplyDeleteKak Nenden, udah 3 tahun lho. Kok ga dilanjut ceritany?
ReplyDelete