Saturday, 16 May 2015

Long Distance Marriage


Chapter 13

“Prill... didepan banyak wartawan...”
“Apa?.” Ujar Prilly pelan.


Al menatap Prilly khawatir, wanita disampingnya itu terlihat begitu pucat.
“Prilly...”
“Al... argh... sakit.” Ringis Prilly sambil memegangi perutnya, sementara sebelah tangannya lagi mencengkeram lengan Al.
“Prilly!” Al menatap Prilly dengan khawatir, pandangannya beralih ke perut Prilly. Dibagian kaki samar terlihat sesuatu. “Darah...” guman Al , kemudian ia beralih pada sopirnya. “Pak kerumah sakit terdekat! Cepat!!!.”

Untuk kesekian kalinya Prilly mengerang, dengan tangannya yang semakin kencang mencengkeram tangan Al. Sementara Al ia hanya bisa membiarkan kedua tangannya dicengkeram oleh Prilly dan berusaha menenangkan Prilly.
“Prilly tenang ya... sabar. PAK! Cepat!!!.”

Tak berselang lama mereka sampai kerumah sakit, dengan cepat Al mengangkat Prilly memasuki IGD, tanpa mempedulikan sekitar yang memperhatikannya penuh tanya.
“Prilly... tenang ya... DOKTER!!!.”

***

Ali menatap ponselnya dengan gusar, sedari tadi Prilly tidak bisa dihubungi begitu pula dengan Al, sesekali Ali mengacak-acak rambutnya kesal.
“Gimana? Ada kabar belum?.” Tanya Agni, gadis itu tak kalah panik juga karena kekasihnya tak kunjung menghubunginya.
“Belum.”

Tiba-tiba ponsel Ali berdering. Agni dengan cepat mendekat.
“Siapa?.”
Ali melirik kearah Agni sekilas. “Mama...” ucapnya pelan.

Agni menghembuskan nafas kecewa. Ia kira itu Prilly atau Al, tapi ternyata bukan.

“Apa Ma? Prilly sama Al belum sampe juga? Seharusnya mereka dari setengah jam yang lalu juga udah sampe Ma.”

Mendengar hal itu, Agni semaki gusar. Kemana perginya Al membawa Prilly? Kenapa semuanya jadi seperti ini?

“Kenapa disana bisa banyak wartawan Ma? Mereka pasti pergi kesuatu tempat.” Ucap Ali lagi.

Ponsel Agni yang sedari tadi ia genggam berdering. Panggilan dari Al masuk.
“Al, dimana kamu?.”
“Di rumah sakit.”
“Apa? Rumah sakit?.”
“Iya, Prilly pendarahan.”
“Apa?!.”
“Kalian cepat datang kesini. Alamatnya nanti aku sms.”
“Oke. Al. Tunggu.”

Agni beralih pada Ali yang ternyata sedang menatapnya penuh tanya.
“Li, kita harus cepet-cepet kerumah sakit. Prilly pendarahan...”
“Apa?!.”

***

Setelah cukup lama menunggu akhirnya Dokter yang menangani Prilly keluar, dengan cepat Al berdiri mendekati Dokter tersebut.
“Gimana keadaan teman saya Dok?.”
“Pasien baik-baik saja, hanya pendarahan biasa namun cukup beresiko mengingat usia kehamilannya yang masih rentan.”
“Tapi... semuanya baik-baik aja kan Dok?.”
Dokter itu tersenyum kecil, ia menepuk pundak Al pelan.
“Pasien baik-baik saja, anda tidak perlu khawatir. Sekarang pasien sedang beristirahat, pasien harus banyak istirahat dan harus beberapa hari dirawat disini.”
“Syukurlah... Terimakasih Dok.”

***

Ali berlari sepanjang koridor rumah sakit, begitu ia mengetahui nomor ruang rawat istrinya ia segera berlari mencari keberadaannya. Tak ada kata-kata sedikitpun yang keluar dari mulut Ali. dadanya begitu bergemuruh, sesak. Ia begitu khawatir pada istrinya.

Ceklek.

Ali membuka perlahan ruang rawat Prilly, Al duduk disana. Menunggui Prilly dengan pakaian yang sama, dengan bercak merah disana yang menjadi bukti nyata Prilly-nya tidak baik-baik saja.

Al menatap Ali, “Ali... sorry... gue...”
Ali tersenyum tipis. “Gapapa... ini semua juga gara-gara gue. Beruntung ada loe yang jagain Prilly, gue gak tau gimana kalo gak ada loe.”
“Oke... tapi sorry... gue gak bisa jaga Prilly buat loe. Gue gak tau akhirnya bakalan ada disini.”
Kini keduanya berhadapan, Ali menepuk lengan Al beberapa kali sambil tersenyum tipis, mencoba menghiburnya yang merasa bersalah.
“Tenang aja, gapapa.”
“Sorry... sekali lagi.”
Ali mengangguk kecil kemudian beralih pada Prilly, ia mengelus kedua pipi Prilly dengan lembut. Sementara Al berlalu, membiarkan pasangan itu berdua.
“Bangun sayang, bangun.” bisik Ali pelan.
Menatap wajah cantik yang begitu pucat itu membuatnya begitu pilu, dadanya sesak. Ali tak bisa melihat wanita yang ia sayangi tergolek lemah seperti itu. ia juga lemah jika wanitanya itu lemah. Ia mengecup seluruh permukaan wajah Prilly penuh kasih sayang.
“Aku sayang banget sama kamu... bangun sayaang.”

Detik demi detik berlalu, waktu berlalu seakan sangatlah lama. Ali masih tak beranjak dari kamar itu, sesekali ia mengecup tangan Prilly, menatapnya, berbisik lembut padanya, setelah itu ia hanya mondar-mandir tak sabar menungguinya. Orangtuanya dan orang tua Prilly juga telah datang. Mereka beberapa kali mengingatkan Ali untuk sekedar tidur atau makan, namun Ali bersikukuh untuk tetap menunggu Prilly hingga sadar. Ia tak ingin saat Prilly sadar ia tak ada disampingnya. Ia hanya ingin terus mendampingi Prilly hingga dia bangun.

“Ma, apa dulu waktu ngandung Ali Mama juga menderita?.” Tanya Ali pada Riani

Riani mendekati Ali berdiri disamping puteranya, ia mengelus kepala putera kesayangannya itu yang masih terus saja memandangi Prilly yang tak kunjung membuka matanya.

“Tidak ada wanita yang mengandung merasa menderita sayang.” Ujar Riani
“Tapi Ma... kenapa Prilly sekarang menderita? Apa Ali gak seperti Papa dulu waktu jaga Mama saat hamil Ali?.”

Riani menghela nafas panjang, ia melirik kearah suaminya sekilas kemudian beralih pada Ali kembali.
“Kamu sedang berusahakan menjaga Prilly? Dulu... Papa-mu malah tidak tau Mama hamil, saking sibuknya. Papa-mu tau Mama hamil saat perut Mama mulai besar aja. Saat itu Mama memang sengaja seperti itu, soalnya Papa-mu sama sekali kurang memperhatikan Mama.” Riani melirik suaminya tajam sementara suaminya hanya menyeringai jahil. Riani tersenyum, ia mengecup puncak kepala Ali.
“Kamu yang sabar ya sayang, kamu yang harus menguatkan Prilly. Kalo kamunya lemah gini, gimana kamu bisa memberi semangat pada Prilly?.”
Ali mengangguk patuh. “Makasih Ma. Maafin Ali juga, selama ini Ali selalu mengecewakan Mama, selalu bandel. Maafin semua kesalahan Ali ya Ma.”
“Iya sayang...” ucap Riani sambil terus mengelus kepala Ali yang bersandar diperutnya.

***

Setelah beberapa jam tertidur akhirnya Prilly dapat membuka matanya, ia mengerjapkan matanya beberapa kali. Kemudian mengedarkan pandangan kesekelilingnya. Ya, ia berada dirumah sakit, sekarang. Ia melirik tangan kanannya yang begitu berat, ternyata Ali mengenggamnya. Ia tersenyum bahagia. Kemudian Prilly menarik tangannya perlahan, lalu mengelus kepala Ali yang berada dibangsal tempat ia tidur.
“Ali...”

Ali bergumam pelan, sementara Prilly hanya dapat tersenyum kecil mendengarnya.

“Honey...” panggil Prilly lagi.

“Ya... Sayang.” Guman Ali, ia mengangkat kepalanya kemudian menguap. Ia mengerjapkan matanya beberapa kali.
“Prilly...” ujar Ali. “Hah?! Prilly! Sayang kamu udah sadar? Akhirnya...” Ali segera memeluk Prilly dengan erat, sesekali ia mengelus punggung Prilly dan mengecup puncak kepala istrinya itu dengan penuh kasih sayang.
“Honey... gimana sama anak kita?.”
“Gapapa sayang, tenang ya... yang penting kamu tenang gak stress semuanya akan aman. Tenang ya sayang...”
Prilly mengangguk pelan, “Syukurlah...”
“Maafin aku ya sayang, aku malah titipin kamu sama Al, maafin aku gak bisa dampingin kamu terus. Maafin aku.” bisik Ali.
Prilly tersenyum kecil. “Gapapa Honey, yang penting aku baik-baik ajakan?.”
“Maafin aku...”
“Gapapa Honey, udah ahh jangan maaf maaf terus. Kalo kamu minta maaf lagi aku marah nih.” Ancam Prilly.

Ali tersenyum kecil, ia mengecup lagi puncak kepala Prilly kemudian menatap istrinya itu penuh kasih sayang, ia mengecup seluruh permukaan wajah Prilly lagi.
“Aku sayang banget sama kamu sayang...”

Prilly tersenyum manis, ia mengelus sebelah pipi Ali dengan tangannya yang terbebas dari infusan.
“Aku juga sayang banget sama kamu Honey...”

***

Prill... gimana kabar loe?
Sorry gue gak bisa jenguk loe, banyak wartawan yang ikutin gue.

Prilly tersenyum kecil begitu membaca pesan dari sahabatnya, Agni. Begitu bangun pagi ini, ia mendengar ponselnya berdering tanda sebuah pesan masuk, ternyata Agni yang memberinya pesan singkat.

“Ada apa? Kok senyum-senyum gitu sih yaang?.” Tanya Ali seraya duduk disamping Prilly.
“Kasian Agni Honey, dia jadi gak bisa maen gara-gara wartawan.”
Ali tersenyum kecil, ia mengelus puncak kepala Prilly dengan penuh kasih sayang, kemudian ia mengecup kening dan puncak kepala Prilly.
“Udah kamu jangan mikirin itu ya, yang penting kamu sehat dan anak kita juga tumbuh dengan sehat.”
Prilly mengangguk patuh, ia harus menuruti apa kata Ali. setidaknya, apa yang dia ucapkan itu hal terbaik untuknya.

“Honey...”
“Hmm...”
“Aku pengen banget jus mangga  yang ada di deket rumah kamu itu lho.”
Ali terkekeh kecil kemudian mengacak-acak rambut Prilly sesaat.
“Kamu udah mulai ngidam ya?.”
“Ehh...”
Ali terkekeh kecil melihat wajah Prilly yang memerah, malu.

***

Hari demi hari berbagai gosip pun mulai mencuat, berbagai spekulasipun mulai naik kepermukaan.
“Al siapakah wanita yang bersama anda saat dirumah sakit itu? apakah benar dia ternyata simpanan anda yang tengah hamil?.”
“Benarkah anda melakukan sebuah hubungan gelap hingga wanita itu hamil?.”
“Lalu benarkah, ternyata wanita yang disebutkan teman dekat Aliando ternyata berselingkuh dengan anda?.”
“Al... Al... siapa wanita yang bersama anda, yang didalam mobil itu?.”

Agni menatap Al yang dengan susah payah berjalan keluar dari mobil yang sedang ia tumpangi ini, gosip itu ternyata semakin kacau saja. Bahkan Al yang akan memasuki gedung kantor managernya saja massih saja dihadang oleh beberapa wartawan yang ingin mewawancarainya. Agni mengambil ponselnya.

“Hallo Li, loe dimana?.”

***

Agni memasuki kediaman Prilly, yang sementara ini aman untuk melakukan pertemuan.
“Li.”
Ali melirik kearah Agni yang baru saja masuk. Ia menghela nafas panjang kemudian mematikan televisi yang sedari tadi ia lihat. Ya, ia memang telah mendengar gosip yang semakin parah itu.
“Sorry. Gue gak nyangka semuanya bisa ssekacau ini.”
Agni menghela nafas panjang.
“Satu bulan lagi gue mau nikah sama Al. Orang-orang rumah juga aneh sama ini semua. Please Li, bantu gue. Loe klarifikasi semuanya. Gue gak mau semuanya kacau.”
Ali menghela nafas panjang.
“Oke. Gue juga udah siapin buat jumpa fans. Gue juga ada meet and greet. Gue berniat klarifikasi semuanya secepat mungkin Ni.”
“Loe mau publikasiin Prilly?.”
“Ya...” Jawab Ali lambat.
“Apa gak bahaya? Apa gak sebaiknya loe bilang aja yang sebenarnya tapi loe gak usah libatin Prilly, loe gak usah publikasiin Prilly, loe juga bisakan jelasin semuanya tanpa harus mereka tau Prilly?.” Ucap Agni dengan nafas menggebu. Ia menghela nafas panjang.
“Gue cuma khawatir sama Prilly Li, gue sebagai sahabat dia gak rela kalau suatu saat Prilly kenapa-napa. Loe tau sendirikan gimana fanatik nya fans loe? Gue aja jadi korban bully. Gue sih fine Li, gue gapapa. Tapi Prilly? Dia emang gak lemah. Tapi dia lagi hamil!.”
“Apa loe gak khawatirin kandungan dia?.” Lanjut Agni pelan. Ia mengalihkan pandangannya pada Ali yang masih saja terus terdiam.
“Jadi... gue harus gimana?.” Tanya Ali pelan.


***


Beberapa hari di rumah sakit akhirnya Prilly diperbolehkan pulang, saat ini ia sedang mengamati Ali yang sedang bersiap-siap untuk pergi jumpa fans dan meet and greet di sebuah restaurant tak jauh dari rumahnya. Prilly tersenyum kecil.
“Kenapa yaang? Kok senyum-senyum gitu?.”
Prilly menggeleng pelan, ia mendekati Ali dengan tangan yang sibuk meraih jaket, topi dan kacamata Ali kemudian memakaikannya. Ia menatap Ali dari ujung kepala hingga ujung kaki sambil berkacak pinggang.
“Boleh juga...” gumannya.
Ali terkekeh, ia mengacak-acak rambut Prilly sesaat lalu mengecup puncak kepala dan kening istrinya itu.
“Jaga diri baik-baik ya sayaang, aku perginya gak lama kok.” Ucap Ali, setelah itu ia berjongkok dihadapan Prilly, mengelus pelan permukaan perut Prilly kemudian memeluknya.
“Baby jangan nakal ya disana, jagain Mamanya ya Baby. Papa mau berangkat dulu.” Setelah mengucapkan hal itu Ali mengecup perut Prilly.
Sementara itu, Prilly menatapnya dengan tatapan haru. Ia tak menyangka menjadi calon seorang Ibu akan semembahagiakan ini. Ali begitu menyayanginya, begitu memanjakannya, dia juga begitu mengerti  keadaannya.

Betapa beruntungnya aku, memilikimu yang begitu menyayangiku, Ali...

***

Bersambung.


11 comments:

  1. ayo next..
    udah gk sabar nihh

    ReplyDelete
  2. next kak. . semangat ngetiknya. . bagus alurnya..

    ReplyDelete
  3. Bagus banget kak ceritanya, next nya jangan lama²

    ReplyDelete
  4. Kak kakak penulis watty yg berakun rose_ungu kah..
    kalau ia, aku pengemar cerita prince's talenya kakak..., aku berharap kakak aktiv lagi di dunia orage... ;)

    ReplyDelete
  5. Nextt yaa kag .
    Ditunggu ..
    Semangat ngetik.y..

    ReplyDelete
  6. Next kali kk. Udah berapa tahun nunggu di next. Jujur aku dari masih Mts bacanya trus nunggu di next sampai aku MA kok gak di next juga😢 udah berapa tahun ini kk. Aku harap sih secepatnya di next😁

    ReplyDelete
  7. Kak Nenden, udah 3 tahun lho. Kok ga dilanjut ceritany?

    ReplyDelete