Sunday, 24 May 2015

Beauty Bodyguard

2


Permintaan ke-2
Ali tersenyum kecil saat melihat wajah gadis cantik yang seharian ini menemaninya, ia nampak begitu lelah dengan mata terpejam dan bernafas dengan teratur. Aktifitas ini sepertinya tidak biasa baginya, masih belum terbiasa dengan kegiatan terpadatnya, dari pagi meeting sana-sini, darimulai didalam kantor hingga diluar kantor, dari makan siang biasa hingga dinner bisnis dengan rekan bisnisnya yang baru. Ia melihat arlojinya lalu menghela nafas panjang. Pantas saja, sudah mulai larut.
“Prilly.”

Ali tersenyum kembali, ia lantas berjalan ke arah Prilly menggoyangkan lengannya pelan.
“Prill bangun, kita pulang sekarang.”
Prilly menghembuskan nafas pelan, tanpa ada niat bangun.
Ali menghela nafas panjang kemudian mengangkat tubuh Prilly. Ia melirik sekertarisnya yang ternyata masih berada di tempatnya. Dia menunduk hormat.
“Hubungi Fay, tanyakan jadwalku lagi. Kalau perlu kamu minta saja semua  jadwalnya sampai hari dimana dia memutuskan untuk bekerja lagi.”
“Baik Boss!.”
Ali mengangguk kecil kemudian ia berlalu dari hadapan sekertarisnya itu yang nampak sesekali mencuri-curi pandang pada Prilly yang berada didalam rengkuhannya.

***

“Ali kenapa kamu baru....”
“St...”
Ali berdesis mengisyaratkan untuk diam pada Sella yang setengah berteriak begitu melihatnya masuk kedalam rumah. Sella memang selalu begitu cerewet saat ia pulang terlalu larut, lihat saja sekarang saja jam dinding sudah menunjukkan tepat tengah malam.
Sella mengikuti Ali hingga puteranya itu meletakkan Prilly tepat dipembaringannya. Lalu, dengan cepat ia menarik puteranya itu.
“Mama....”
Sella berkacak pinggang dihadapan Ali yang merengek. Ali jengkel sekali dengan Mamanya ini, bagaimana tidak? Ia berniat berlama-lama memandangi wajah gadis itu. wajah yang begitu menarik dimatanya... eh bukan bukan wajahnya saja, tetapi semua yang ada pada dirinya begitu menarik untuk selalu diperhatikan.
“Kenapa malam-malam sekali pulangnya? Kenapa juga Prilly? Kamu jangan macam-macam ya Ali!.”
Ali mengacak rambutnya frustasi.
“Mama... gimana aku mau macem-macem? Dia bodyguard Ali dan sudah dipastikan sebelum Ali melakukan hal yang aneh Ali sudah mati ditangannya.”
Sella menyipitkan matanya.
“Ya ampun Ma, Mama belum percaya juga?.”
Sella menggeleng pelan yang membuat puteranya itu mendengus kesal.
“Oh jadi Mama gak percaya sama Ali?.”
“Bukan, cuma Mama liat ada yang aneh aja sama kamu.”
“Apa Ma?.” Ali bertanya dengan penuh penekanan.
“Kamu....”
Ali mengerutkan keningnya menunggu ucapan sang Mama.
“Kamu jatuh cinta sama Prilly?.”
Ali tercekat. Apakah benar ia jatuh cinta sama Prilly?
“Eng... enggak! Udah ahh Ma, Ali capek dan sekarang Ali mau istirahat. Bye Mom. Have a nice dream.” Ali mengecup kedua pipi Mamanya dengan lembut kemudian melenggang memasuki kamar disampingnya.

***

“Drrt...”
Prilly sedikit penggeliatkan tubuhnya, matanya mengerjap-ngerjap menyesuaikan dengan cahaya yang menerobos masuk malu-malu kedalam kamarnya. Untuk pertama kalinya setelah beberapa tahun ia merasa tertidur dengan nyaman lagi, setelah kejadian yang memilukan itu ia hampir tak pernah tidur dengan nyenyak lagi. Namun, malam ini ia merasakan kedamaian dan kehangatan datang, menjalar pada diri dan pikirannya.
“Drrt...”
Getaran dari ponsel menyadarkan lamunannya, ia menoleh kesamping meraih tas tangannya lalu mengeluarkan beberapa barang “kebesarannya”. Ia membuka dua buah pesan yang masuk.
From: BOSS!!!
Pagi cantik, bagaimana tidurmu? Nyenyak?.
Tadi malam aku melihatmu tidur dengan begitu damai. Kau sangat cantik kalau lagi tertidur seperti itu.

Prilly mengerutkan keningnya, pikirannya berputar pada kejadian semalam. Ia meringis sesaat. Ceroboh banget sih Prilly!!! Bego! Kok bisa sih ketiduran gitu? Malu-maluin! Rutuknya dalam hati.

“Drrt... Drrt...”

Prilly melirik ponselnya lagi.

BOSS!!!’s Calling...

Prilly mengumpat kesal. Untuk pertama kalinya, ia menyesal memberikan nomor kontak pribadinya pada seseorang. Menyebalkan!!!

***

“Pagi sayang.”
Prilly berjalan menuruni tangga sambil tersenyum pada Sella yang tengah sibuk menyiapkan sarapan.
“Pagi juga Tante.”
“Hari ini ada jadwal ngampus dulu ya?.”
Prilly mengangguk, ia menyimpan tas punggungnya di atas kursi kemudian membantu Sella menata makanan dan membantu menyiapkan minuman untuk seluruh penghuni rumah.
“Pagi Mama. Pagi juga cantik.”
Prilly menaruh segelas susu dihadapan Ali, kemudian ia mendelik ke arah Ali kesal.
“Namaku Prilly! Berhentilah memanggilku seperti itu!.”
Ali tersenyum geli menatap gadis cantik itu. ia menatap Prilly dari ujung kepala hingga ujung kaki. Kenapa berbeda sekali dengan kemarin?
“Kenapa gak pake dress aja? Kamu lebih cocok memakai dress daripada celana jeans dan kemeja longgar gitu. Dan, kamu lebih cocok memakai higheels bukan sepatu seperti itu.”
Prilly mengacuhkan Ali, menurutnya tak penting juga mendengarkan ocehan tak bermutu sok ngatur seperti itu.
Sella tersenyum kecil melihat Ali tersungut kesal karena ucapannya yang tidak didengarkan Prilly, gadis itu malah terlihat begitu fokus dengan roti dan selainya. Tak peduli dengan ucapan puteranya itu. ia menghela nafas panjang, setelah sekian lama tak melihat Ali sebawel ini akhirnya ia dapat melihatnya lagi.
“Ali, emang kamu pikir saat kamu kuliah dan ke kantor penampilan kamu sama? Tidakkan? Tentu saja Prilly harus menyesuaikan dengan kamu.”
Prilly tersenyum penuh kemenangan dengan mata yang mendelik puas kearah Ali yang mendengus kesal.

***

“Siapa dia? Kok sama Ali sih?.”
“Sok cakep banget lagi. Cantikan juga gue.”
Desas-desus itu semakin terdengar nyata ditelinga Prilly dari mulai ia keluar dari mobil kesayangan Ali, hingga ia sampai dikoridor untuk menuju kelasnya. Prilly tak mempedulikan itu, ia hanya terus berjalan lurus tanpa berniat melirik atau menanggapi kata-kata itu.
“Jangan-jangan dia godain Ali lagi.”
Oke! Itu keterlaluan. Prilly menghela nafas panjang kemudian menghentikan langkahnya tepat dihadapan seorang gadis yang berpenampilan bak model itu. ia menatap penampilan gadis itu dari ujung kepala sampai kaki.
“Kenapa cantik?.” Tanya Ali pada Prilly begitu ia sampai disamping gadis itu.
Prilly menatap Ali sekilas kemudian melirik tajam kearah gadis tadi setelah itu mengedikkan bahunya acuh, tak ada yang penting. Kemudian berjalan lagi meninggalkan gadis itu yang menatap Prilly dengan perasaan dongkol. Gadis itu sangka Prilly akan marah padanya dan ia akan puas memakinya. Tapi ternyata, kenyataan  jauh dari harapannya.
Ali berjalan mengimbangi langkah Prilly, sesekali Ali melirik Prilly bermaksud menggoda gadis itu, namun tak pernah ada niat dari Prilly menggubris godaan yang menurutnya tak bermutu itu.
“Cantik, aku baru tau lho kamu bisa sekeren barusan.” Ucap Ali dengan tangan yang berusaha merangkul pundak Prilly.
Prilly mendelik kearah Ali sembari menepis kasar tangan yang berada di pundaknya. Tanpa ada niat menjawab Prilly segera berjalan cepat meninggalkan pria menyebalkan yang terus mengganggunya.
“Prilly...” Ali meraih pergelangan tangan Prilly, namun lagi-lagi gadis itu menghempaskannya, kali ini dengan sangat keras.
“Aw... aduhhh...”
Prilly berbalik dengan  cepat kemudian menghampiri Ali yang sedang mengaduh sambil memegangi perutnya.
“Li kenapa? Duhh sorry sorry... yang mana yang sakit? Sorry sorry. Gak sengaja. Sorry.” Prilly menarik Ali untuk duduk di kursi terdekat. Ia menatap Ali khawatir, bisa gawat ceritanya jika bossnya ini terluka justru karenanya.
“Duhh sorry...”
Ali tersenyum kecil, untuk pertama kalinya ia melihat Prilly yang begitu panik. Jujur, ia sangat menikmati wajah cantik bodyguard nya itu dari jarak yang begitu dekat ini. Tanpa sadar, sebelah tangan Ali menyampirkan rambut gadis dihadapannya itu kebelakang telinganya.
Prilly mendongakan kepalanya, ia terdiam sejenak.
Ali tersenyum lagi. Tidak menyangka, niatnya hanya untuk menjahili gadis itu kini malah berakhir dengan kekhawatiran yang diluar dari bayangannya. Ia kira, gadis itu akan tersenyum puas dan mengatainya. Tapi ternyata, gadis itu malah mengkhawatirkannya.
“Aku gapapa kok.”
“Jangan-jangan...” Prilly menyipitkan matanya menatap Ali curiga. “Loe bohong! Loe jailin gue?!.”
“Ah... Eng... Enggak kok.”
Prilly menggeretakkan giginya. Ia menyesal mengkhawatirkan pria menyebalkan itu. ia menghentakkan kakinya kemudian berdiri dengan menatap Ali kesal. Prilly mendengus setelah itu berlalu  begitu saja dari hadapan Ali tanpa ada niat berbicara sedikitpun pada Ali. ia kesal, sangat kesal.
“Prilly... sorry Prill, maafin aku. aku gak tau kamu bakalan khawatir gitu, terus marah kayak gini. Maafin aku.”
“Prilly...” Ali meraih pergelangan Prilly lagi.
Prilly berhenti lalu berbalik kearah Ali sambil menghela nafas panjang.
“Berhentilah memohon dan meminta maaf seperti pria meminta maaf pada kekasihnya. Itu membuatku muak!.”
Kekasih? Ali mengerlingkan matanya jahil, bersiap meluncurkam kata-kata godaannya.
“Berhenti menatapku seperti itu, lalu singkirkan juga pikiran aneh yang ada dalam otak tampanmu itu!.” Prilly berbalik bersiap meninggalkan Ali lagi, namun kemudian ia berbalik lagi.
Ali menatap Prilly sambil menaikan sebelah alisnya.
“Apa?.”
“Sorry tadi manggil gue-loe, gak seharusnya aku kasar sama kamu...” Prilly menggantungkan ucapannya, ia mendekatkan wajahnya pada wajah Ali. “Boss!.” Desisnya tajam.
Setelah mengatakan itu Prilly kembali berjalan meninggalkan Ali, kemudian menghilang dibalik pintu kelas.
Sementara Ali tersenyum kecil. ia tidak menyangka Prilly akan bertindak seberani itu padanya.

***

“Aku baru tau kita sekelas.” Bisik Ali pada Prilly ditengah-tengah jam perkuliahan. Prilly menghentikan tangannya yang sedang mencatat, ia mendelik kearah Ali.
“Emang penting?.” Tanya Prilly yang kemudian kembali terfokus pada papan tulis.
“Ya aneh aja, kok aku baru gitu liat kamu disini.” Ali nampak sedikit berpikir. “Eh iya, nanti kita jalan yuk. Bosen nih kuliah terus.”
Tak ada tanggapan dari Prilly, gadis itu masih saja terfokus pada papan tulis.
“Oke aku anggap kamu setuju.” Putus Ali.

“Aliando! Berhenti mengobrol!.”

“Eh, maaf Mister.” Ucap Ali dengan membungkukkan sedikit tubuhnya.
Prilly tersenyum puas, rasain loe! Emang enak! macem-macem sih loe sama gue.

***

“Kita jalan kemana nih?.” Tanya Ali yang duduk dibalik kemudi pada Prilly yang duduk disampingnya. Prilly masih saja diam, belum ada yang gadis itu ucapkan lagi padanya.
Ali menyeringai, ia harus keluarkan jurus andalannya. “Cantik...” panggilnya.
Prilly dengan cepat menengok.
“Berhenti menyebutku dengan sebutan seperti itu! namaku PRILLY!.”
“Nah, akhirnya kamu ngomong jugakan?.”
Prilly mencebikan bibirnya, kesal. Ternyata ia dijebak lagi.
“Kalo kamu gak mau dipanggil gitu, makanya nyaut kalo ditanya. Jawab. Bukan diem aja.”
“Emang jawaban itu penting? Kamu kan boss nya kenapa jadi tanya sama aku? kamu juga kan yang mau jalan-jalan? Kenapa malah nanya sama aku?.”
Prilly mengepalkan tangannya, ia benar-benar kesal sekarang. Hari ini sangat membuatnya kesal, sangat membuatnya marah.
“Can... Eh maksudnya Prill.”
“Apa?!.”
Ali menatap Prilly sekilas kemudian menghela nafas “Gak jadi deh.”  Daripada semakin ngamukkan? Mendingan gue diemin aja deh. Entar juga pasti dia bosen sendiri. mungkin...

***

Ali menatap Prilly yang masih saja diam, bahkan jika di ingat-ingat gadis itu sudah hampir dua jam mendiamkannya. Dari mulai dari mobil hingga kini makanan mereka telah habis.
“Prill...”
“Bayar sana.”
Ini sebenernya siapa bossnya sih? Ali menghela nafas. lalu tanpa basa-basi ia beranjak menuju kasir.
Prilly tersenyum puas. Rasain loe emang enak gue kerjain? Gak enakkan? Makan tuh! Kesel-kesel deh loe!. Namun kemudian ia mengerutkan keningnya saat melihat Ali yang tangannya digamit oleh seorang gadis, ia semakin mengerutkan keningnya saat melihat seorang pria berjalan kearah mereka, pria itu menarik tangan gadis yang masih memeluk tangan Ali erat. Prilly segera berjalan mendekati mereka.

“Berani-beraninya ya loe rebut cewek gua? Loe kira loe siapa hah?!.”
“Siapa yang rebut cewek situ? Ih ini apa lagi megang-megang.” Ucap Ali sambil berusaha melepaskan tangan gadis itu yang memeluk tangannya.
Pria itu bersiap melayangkan tinjunya kearah wajah Ali, bertepatan dengan itu tangan lain meraih tangan itu. kemudian memelintirnya hingga pria yang berusaha menyerang Ali tadi mengaduh kesakitan.
Dia, Prilly. Ia melirik gadis yang masih memeluk tangan Ali. gadis model tadi. Ia tersenyum masam sambil menatap gadis itu meremehkan. Prilly menghempaskan pria tadi kemudian mendekati gadis itu. ia mendelik kesal.
“Sekarang? Siapa cewek penggoda?.” Prilly menatap tajam pada gadis itu kemudian melirik tangan yang masih memeluk tangan Ali. “Lepas!.” Desis Prilly tajam.
Gadis itu dengan cepat melepaskan tangan Ali.
Prilly segera berbalik kearah pria tadi.
“Jaga ceweknya bung!.” Setelah mengatakan itu ia menarik tangan Ali, menjauh dari mereka, menerobos kerumunan orang-orang yang melihat kejadian tadi.

“Thanks ya Prill.”
“Hm.”
“Prill...”
“Sebenernya dia siapa sih? Dan apa yang terjadi tadi?.”
Ali tersenyum tipis, ternyata diam-diam gadis itu mengkhawatirkannya? Prilly khawatir sama gue?. Mengingatnya entah kenapa ada sesuatu yang berdesir dalam hatinya.
“Li!!!.” Bentak Prilly kesal sambil menatap pria menyebalkan itu, karena pertanyaannya tak kunjung dijawab.
“Eh... itu, tadi dia tiba-tiba dateng terus bilang ini cowok baru gue, gitu aja. Aku juga gak ngerti dan gak tau dia siapa.”
Keduanya bertatapan dalam diam.
“Prill... aku mau permintaan kedua.”
“Apa?.”
“Aku minta...” Ali menatap manik mata Prilly yang memancarkan rasa penasaran yang tinggi. “Kamu jadi pacar aku.”

***

 bersambung.

ditunggu komentarnya ya :)

thank you 

@SopiahNenden

No comments:

Post a Comment