2
Permintaan ke-2
Ali
tersenyum kecil saat melihat wajah gadis cantik yang seharian ini menemaninya,
ia nampak begitu lelah dengan mata terpejam dan bernafas dengan teratur.
Aktifitas ini sepertinya tidak biasa baginya, masih belum terbiasa dengan
kegiatan terpadatnya, dari pagi meeting
sana-sini, darimulai didalam kantor hingga diluar kantor, dari makan siang
biasa hingga dinner bisnis dengan rekan bisnisnya yang baru. Ia melihat
arlojinya lalu menghela nafas panjang. Pantas
saja, sudah mulai larut.
“Prilly.”
Ali
tersenyum kembali, ia lantas berjalan ke arah Prilly menggoyangkan lengannya
pelan.
“Prill
bangun, kita pulang sekarang.”
Prilly
menghembuskan nafas pelan, tanpa ada niat bangun.
Ali
menghela nafas panjang kemudian mengangkat tubuh Prilly. Ia melirik
sekertarisnya yang ternyata masih berada di tempatnya. Dia menunduk hormat.
“Hubungi
Fay, tanyakan jadwalku lagi. Kalau perlu kamu minta saja semua jadwalnya sampai hari dimana dia memutuskan
untuk bekerja lagi.”
“Baik
Boss!.”
Ali
mengangguk kecil kemudian ia berlalu dari hadapan sekertarisnya itu yang nampak
sesekali mencuri-curi pandang pada Prilly yang berada didalam rengkuhannya.
***
“Ali
kenapa kamu baru....”
“St...”
Ali
berdesis mengisyaratkan untuk diam pada Sella yang setengah berteriak begitu
melihatnya masuk kedalam rumah. Sella memang selalu begitu cerewet saat ia
pulang terlalu larut, lihat saja sekarang saja jam dinding sudah menunjukkan
tepat tengah malam.
Sella
mengikuti Ali hingga puteranya itu meletakkan Prilly tepat dipembaringannya.
Lalu, dengan cepat ia menarik puteranya itu.
“Mama....”
Sella
berkacak pinggang dihadapan Ali yang merengek. Ali jengkel sekali dengan
Mamanya ini, bagaimana tidak? Ia berniat berlama-lama memandangi wajah gadis
itu. wajah yang begitu menarik dimatanya... eh bukan bukan wajahnya saja,
tetapi semua yang ada pada dirinya begitu menarik untuk selalu diperhatikan.
“Kenapa
malam-malam sekali pulangnya? Kenapa juga Prilly? Kamu jangan macam-macam ya
Ali!.”
Ali
mengacak rambutnya frustasi.
“Mama...
gimana aku mau macem-macem? Dia bodyguard Ali dan sudah dipastikan sebelum Ali
melakukan hal yang aneh Ali sudah mati ditangannya.”
Sella
menyipitkan matanya.
“Ya
ampun Ma, Mama belum percaya juga?.”
Sella
menggeleng pelan yang membuat puteranya itu mendengus kesal.
“Oh
jadi Mama gak percaya sama Ali?.”
“Bukan,
cuma Mama liat ada yang aneh aja sama kamu.”
“Apa
Ma?.” Ali bertanya dengan penuh penekanan.
“Kamu....”
Ali
mengerutkan keningnya menunggu ucapan sang Mama.
“Kamu
jatuh cinta sama Prilly?.”
Ali
tercekat. Apakah benar ia jatuh cinta sama Prilly?
“Eng...
enggak! Udah ahh Ma, Ali capek dan sekarang Ali mau istirahat. Bye Mom. Have a
nice dream.” Ali mengecup kedua pipi Mamanya dengan lembut kemudian melenggang
memasuki kamar disampingnya.
***
“Drrt...”
Prilly
sedikit penggeliatkan tubuhnya, matanya mengerjap-ngerjap menyesuaikan dengan
cahaya yang menerobos masuk malu-malu kedalam kamarnya. Untuk pertama kalinya
setelah beberapa tahun ia merasa tertidur dengan nyaman lagi, setelah kejadian
yang memilukan itu ia hampir tak pernah tidur dengan nyenyak lagi. Namun, malam
ini ia merasakan kedamaian dan kehangatan datang, menjalar pada diri dan
pikirannya.
“Drrt...”
Getaran
dari ponsel menyadarkan lamunannya, ia menoleh kesamping meraih tas tangannya
lalu mengeluarkan beberapa barang “kebesarannya”. Ia membuka dua buah pesan
yang masuk.
From: BOSS!!!
Pagi cantik, bagaimana tidurmu? Nyenyak?.
Tadi malam aku melihatmu tidur dengan
begitu damai. Kau sangat cantik kalau lagi tertidur seperti itu.
Prilly
mengerutkan keningnya, pikirannya berputar pada kejadian semalam. Ia meringis
sesaat. Ceroboh banget sih Prilly!!!
Bego! Kok bisa sih ketiduran gitu? Malu-maluin! Rutuknya dalam hati.
“Drrt...
Drrt...”
Prilly
melirik ponselnya lagi.
BOSS!!!’s Calling...
Prilly
mengumpat kesal. Untuk pertama kalinya, ia menyesal memberikan nomor kontak
pribadinya pada seseorang. Menyebalkan!!!
***
“Pagi
sayang.”
Prilly
berjalan menuruni tangga sambil tersenyum pada Sella yang tengah sibuk
menyiapkan sarapan.
“Pagi
juga Tante.”
“Hari
ini ada jadwal ngampus dulu ya?.”
Prilly
mengangguk, ia menyimpan tas punggungnya di atas kursi kemudian membantu Sella
menata makanan dan membantu menyiapkan minuman untuk seluruh penghuni rumah.
“Pagi
Mama. Pagi juga cantik.”
Prilly
menaruh segelas susu dihadapan Ali, kemudian ia mendelik ke arah Ali kesal.
“Namaku
Prilly! Berhentilah memanggilku seperti itu!.”
Ali
tersenyum geli menatap gadis cantik itu. ia menatap Prilly dari ujung kepala
hingga ujung kaki. Kenapa berbeda sekali dengan kemarin?
“Kenapa
gak pake dress aja? Kamu lebih cocok memakai dress daripada celana jeans dan
kemeja longgar gitu. Dan, kamu lebih cocok memakai higheels bukan sepatu
seperti itu.”
Prilly
mengacuhkan Ali, menurutnya tak penting juga mendengarkan ocehan tak bermutu
sok ngatur seperti itu.
Sella
tersenyum kecil melihat Ali tersungut kesal karena ucapannya yang tidak
didengarkan Prilly, gadis itu malah terlihat begitu fokus dengan roti dan
selainya. Tak peduli dengan ucapan puteranya itu. ia menghela nafas panjang,
setelah sekian lama tak melihat Ali sebawel ini akhirnya ia dapat melihatnya
lagi.
“Ali,
emang kamu pikir saat kamu kuliah dan ke kantor penampilan kamu sama? Tidakkan?
Tentu saja Prilly harus menyesuaikan dengan kamu.”
Prilly
tersenyum penuh kemenangan dengan mata yang mendelik puas kearah Ali yang
mendengus kesal.
***
“Siapa
dia? Kok sama Ali sih?.”
“Sok
cakep banget lagi. Cantikan juga gue.”
Desas-desus
itu semakin terdengar nyata ditelinga Prilly dari mulai ia keluar dari mobil
kesayangan Ali, hingga ia sampai dikoridor untuk menuju kelasnya. Prilly tak
mempedulikan itu, ia hanya terus berjalan lurus tanpa berniat melirik atau
menanggapi kata-kata itu.
“Jangan-jangan
dia godain Ali lagi.”
Oke!
Itu keterlaluan. Prilly menghela nafas panjang kemudian menghentikan langkahnya
tepat dihadapan seorang gadis yang berpenampilan bak model itu. ia menatap
penampilan gadis itu dari ujung kepala sampai kaki.
“Kenapa
cantik?.” Tanya Ali pada Prilly begitu ia sampai disamping gadis itu.
Prilly
menatap Ali sekilas kemudian melirik tajam kearah gadis tadi setelah itu
mengedikkan bahunya acuh, tak ada yang
penting. Kemudian berjalan lagi meninggalkan gadis itu yang menatap Prilly
dengan perasaan dongkol. Gadis itu sangka Prilly akan marah padanya dan ia akan
puas memakinya. Tapi ternyata, kenyataan
jauh dari harapannya.
Ali
berjalan mengimbangi langkah Prilly, sesekali Ali melirik Prilly bermaksud
menggoda gadis itu, namun tak pernah ada niat dari Prilly menggubris godaan yang
menurutnya tak bermutu itu.
“Cantik,
aku baru tau lho kamu bisa sekeren barusan.” Ucap Ali dengan tangan yang
berusaha merangkul pundak Prilly.
Prilly
mendelik kearah Ali sembari menepis kasar tangan yang berada di pundaknya.
Tanpa ada niat menjawab Prilly segera berjalan cepat meninggalkan pria
menyebalkan yang terus mengganggunya.
“Prilly...”
Ali meraih pergelangan tangan Prilly, namun lagi-lagi gadis itu
menghempaskannya, kali ini dengan sangat keras.
“Aw...
aduhhh...”
Prilly
berbalik dengan cepat kemudian
menghampiri Ali yang sedang mengaduh sambil memegangi perutnya.
“Li
kenapa? Duhh sorry sorry... yang mana yang sakit? Sorry sorry. Gak sengaja.
Sorry.” Prilly menarik Ali untuk duduk di kursi terdekat. Ia menatap Ali
khawatir, bisa gawat ceritanya jika bossnya ini terluka justru karenanya.
“Duhh
sorry...”
Ali
tersenyum kecil, untuk pertama kalinya ia melihat Prilly yang begitu panik.
Jujur, ia sangat menikmati wajah cantik bodyguard nya itu dari jarak yang
begitu dekat ini. Tanpa sadar, sebelah tangan Ali menyampirkan rambut gadis
dihadapannya itu kebelakang telinganya.
Prilly
mendongakan kepalanya, ia terdiam sejenak.
Ali
tersenyum lagi. Tidak menyangka, niatnya hanya untuk menjahili gadis itu kini
malah berakhir dengan kekhawatiran yang diluar dari bayangannya. Ia kira, gadis
itu akan tersenyum puas dan mengatainya. Tapi ternyata, gadis itu malah
mengkhawatirkannya.
“Aku
gapapa kok.”
“Jangan-jangan...”
Prilly menyipitkan matanya menatap Ali curiga. “Loe bohong! Loe jailin gue?!.”
“Ah...
Eng... Enggak kok.”
Prilly
menggeretakkan giginya. Ia menyesal mengkhawatirkan pria menyebalkan itu. ia
menghentakkan kakinya kemudian berdiri dengan menatap Ali kesal. Prilly
mendengus setelah itu berlalu begitu
saja dari hadapan Ali tanpa ada niat berbicara sedikitpun pada Ali. ia kesal,
sangat kesal.
“Prilly...
sorry Prill, maafin aku. aku gak tau kamu bakalan khawatir gitu, terus marah
kayak gini. Maafin aku.”
“Prilly...”
Ali meraih pergelangan Prilly lagi.
Prilly
berhenti lalu berbalik kearah Ali sambil menghela nafas panjang.
“Berhentilah
memohon dan meminta maaf seperti pria meminta maaf pada kekasihnya. Itu
membuatku muak!.”
Kekasih? Ali
mengerlingkan matanya jahil, bersiap meluncurkam kata-kata godaannya.
“Berhenti
menatapku seperti itu, lalu singkirkan juga pikiran aneh yang ada dalam otak
tampanmu itu!.” Prilly berbalik bersiap meninggalkan Ali lagi, namun kemudian
ia berbalik lagi.
Ali
menatap Prilly sambil menaikan sebelah alisnya.
“Apa?.”
“Sorry
tadi manggil gue-loe, gak seharusnya aku kasar sama kamu...” Prilly menggantungkan
ucapannya, ia mendekatkan wajahnya pada wajah Ali. “Boss!.” Desisnya tajam.
Setelah
mengatakan itu Prilly kembali berjalan meninggalkan Ali, kemudian menghilang
dibalik pintu kelas.
Sementara
Ali tersenyum kecil. ia tidak menyangka Prilly akan bertindak seberani itu
padanya.
***
“Aku
baru tau kita sekelas.” Bisik Ali pada Prilly ditengah-tengah jam perkuliahan. Prilly
menghentikan tangannya yang sedang mencatat, ia mendelik kearah Ali.
“Emang
penting?.” Tanya Prilly yang kemudian kembali terfokus pada papan tulis.
“Ya
aneh aja, kok aku baru gitu liat kamu disini.” Ali nampak sedikit berpikir. “Eh
iya, nanti kita jalan yuk. Bosen nih kuliah terus.”
Tak
ada tanggapan dari Prilly, gadis itu masih saja terfokus pada papan tulis.
“Oke
aku anggap kamu setuju.” Putus Ali.
“Aliando!
Berhenti mengobrol!.”
“Eh,
maaf Mister.” Ucap Ali dengan membungkukkan sedikit tubuhnya.
Prilly
tersenyum puas, rasain loe! Emang enak!
macem-macem sih loe sama gue.
***
“Kita
jalan kemana nih?.” Tanya Ali yang duduk dibalik kemudi pada Prilly yang duduk
disampingnya. Prilly masih saja diam, belum ada yang gadis itu ucapkan lagi
padanya.
Ali
menyeringai, ia harus keluarkan jurus andalannya. “Cantik...” panggilnya.
Prilly
dengan cepat menengok.
“Berhenti
menyebutku dengan sebutan seperti itu! namaku PRILLY!.”
“Nah,
akhirnya kamu ngomong jugakan?.”
Prilly
mencebikan bibirnya, kesal. Ternyata ia dijebak lagi.
“Kalo
kamu gak mau dipanggil gitu, makanya nyaut kalo ditanya. Jawab. Bukan diem
aja.”
“Emang
jawaban itu penting? Kamu kan boss nya kenapa jadi tanya sama aku? kamu juga
kan yang mau jalan-jalan? Kenapa malah nanya sama aku?.”
Prilly
mengepalkan tangannya, ia benar-benar kesal sekarang. Hari ini sangat
membuatnya kesal, sangat membuatnya marah.
“Can...
Eh maksudnya Prill.”
“Apa?!.”
Ali
menatap Prilly sekilas kemudian menghela nafas “Gak jadi deh.” Daripada
semakin ngamukkan? Mendingan gue diemin aja deh. Entar juga pasti dia bosen
sendiri. mungkin...
***
Ali
menatap Prilly yang masih saja diam, bahkan jika di ingat-ingat gadis itu sudah
hampir dua jam mendiamkannya. Dari mulai dari mobil hingga kini makanan mereka
telah habis.
“Prill...”
“Bayar
sana.”
Ini sebenernya siapa bossnya sih? Ali menghela nafas. lalu tanpa basa-basi ia beranjak menuju
kasir.
Prilly
tersenyum puas. Rasain loe emang enak gue
kerjain? Gak enakkan? Makan tuh! Kesel-kesel deh loe!. Namun kemudian ia
mengerutkan keningnya saat melihat Ali yang tangannya digamit oleh seorang
gadis, ia semakin mengerutkan keningnya saat melihat seorang pria berjalan
kearah mereka, pria itu menarik tangan gadis yang masih memeluk tangan Ali
erat. Prilly segera berjalan mendekati mereka.
“Berani-beraninya
ya loe rebut cewek gua? Loe kira loe siapa hah?!.”
“Siapa
yang rebut cewek situ? Ih ini apa lagi megang-megang.” Ucap Ali sambil berusaha
melepaskan tangan gadis itu yang memeluk tangannya.
Pria
itu bersiap melayangkan tinjunya kearah wajah Ali, bertepatan dengan itu tangan
lain meraih tangan itu. kemudian memelintirnya hingga pria yang berusaha
menyerang Ali tadi mengaduh kesakitan.
Dia,
Prilly. Ia melirik gadis yang masih memeluk tangan Ali. gadis model tadi. Ia
tersenyum masam sambil menatap gadis itu meremehkan. Prilly menghempaskan pria
tadi kemudian mendekati gadis itu. ia mendelik kesal.
“Sekarang?
Siapa cewek penggoda?.” Prilly menatap tajam pada gadis itu kemudian melirik
tangan yang masih memeluk tangan Ali. “Lepas!.” Desis Prilly tajam.
Gadis
itu dengan cepat melepaskan tangan Ali.
Prilly
segera berbalik kearah pria tadi.
“Jaga
ceweknya bung!.” Setelah mengatakan itu ia menarik tangan Ali, menjauh dari
mereka, menerobos kerumunan orang-orang yang melihat kejadian tadi.
“Thanks
ya Prill.”
“Hm.”
“Prill...”
“Sebenernya
dia siapa sih? Dan apa yang terjadi tadi?.”
Ali
tersenyum tipis, ternyata diam-diam gadis itu mengkhawatirkannya? Prilly khawatir sama gue?. Mengingatnya
entah kenapa ada sesuatu yang berdesir dalam hatinya.
“Li!!!.”
Bentak Prilly kesal sambil menatap pria menyebalkan itu, karena pertanyaannya
tak kunjung dijawab.
“Eh...
itu, tadi dia tiba-tiba dateng terus bilang ini cowok baru gue, gitu aja. Aku
juga gak ngerti dan gak tau dia siapa.”
Keduanya
bertatapan dalam diam.
“Prill...
aku mau permintaan kedua.”
“Apa?.”
“Aku
minta...” Ali menatap manik mata Prilly yang memancarkan rasa penasaran yang
tinggi. “Kamu jadi pacar aku.”
***
bersambung.
ditunggu komentarnya ya :)
thank you
@SopiahNenden
No comments:
Post a Comment