3
Love is...
INI GILA!!! Batin Prilly mengerang. Ia melemparkan tasnya kesal. DASAR GILAAAAA!!!
Tok
Tok Tok
“Prill...
buka Prill.”
“Prill...”
Ketukan-ketukan
itu semakin melemah, Prilly menghela nafas lega namun beberapa saat kemudian ia
mendengar seseorang yang sedang berbincang didepan pintu kamarnya. Ia
memicingkan pendengarannya. Nihil! Tak terdengar apapun. Sesaat kemudian
terdengar ketukan lagi.
“Sayang
buka. Ini Tante.”
Prilly
menghela nafas panjang kemudian dengan perlahan membuka pintu membiarkan Sella
memasuki kamarnya.
“Kenapa
kamu marah sama Ali?.”
“Tante
marah ya?.”
“Tidak,
ada masalah apa kamu sama Ali?.”
Prilly
menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, ia juga meringis kecil. ia rasa
sebenarnya kurang pantas marah pada Ali hanya karena Ali memintanya menjadi
seorang kekasih, namun entah kenapa ia malah kesal karena merasa hal itu tidak
seharusnya terjadi.
“Itu
Tante... Ali meminta Prilly menjadi pacarnya.”
Sella
mengerutkan keningnya, ia menatap Prilly heran.
“Lalu?
Ada yang salah?.” Sella terdiam sebentar menunggu reaksi Prilly, lalu berkata
lagi. “Memangnya anak Tante kurang cakep ya? kurang keren ya?.”
“Eh...
enggak, bukan karena itu Tante.”
“Lalu?.”
Prilly
berdehem kecil, ia bingung harus menjawab seperti apa. Untuk pertama kalinya ia
merasa malu dengan pipi yang terasa memanas.
“Prilly?.”
“Ya
Prilly rasa, gak seharusnya ada hubungan seperti itu Tante antara Boss dan
bawahannya, apalagi Prilly cuma bodyguardnya aja.”
Sella
sedikit berpikir sambil mengerutkan keningnya.
“Bagi
Tante gak ada yang gitu-gituan ahh, kita semua sama manusia. Dan seenggaknya
kamu membuat Tante lega kalo kamu jadi pacarnya, banyak sekali wanita yang suka
menggodanya terlebih dari suruhan clien-nya. Tante hanya ingin ada yang menjaga
dia lebih sayang.” Sella menghela nafas. “Jadi, kamu mau ya jadi pacarnya
Ali?.”
Prilly
menatap Sella dengan cepat, ia sungguh takjup mendengarnya. Apakah yang barusan
itu adalah bentuk restu?
Dari
arah pintu seseorang tersenyum puas. Akhirnya mungkin hanya dengan cara itu
Prilly akan luluh dan mau padanya. Meskipun sedikit licik, tapi itu baginya
bukan sebuah kelicikan, melainkan kecerdasan darinya. Ali gitu. Haha...
***
Ali
menatap Prilly sambil tersenyum kecil, pemandangan Prilly yang hilir mudik
didapur bersama Mamanya itu entah kenapa sangatlah menarik baginya, lebih
menarik dari apapun.
“Kenapa
kamu senyum-senyum gitu Ali?.” Tanya sebuah suara dari arah kanannya.
“Eh...”
Ali menoleh dengan cepat kearah kanannya, Ali mengutuk dalam hatinya. Kenapa ada Papa?
“Sejak
kapan Papa disitu?.” Tanya balik Ali pada Ferly yang memang sedari tadi duduk
di pantry.
“Sejak
kapan kamu tertarik masuk dapur?”
Crap!
“Eh.”
Ali menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. “Ya... sejak sekarang.” Ucapnya
gugup. Ia menghampiri Ferly, meraih sebuah gelas kemudian berjalan menuju
kulkas mengambil sebotol air. Hanya untuk menghilangkan kegugupannya saja.
“Ohh
sejak sekarang Li? Sejak ada Prilly ya?.” sahut Sella yang diiringi cekikikan
tawa darinya.
“Ma...
Enggak kok.” Kilah Ali.
“Ahh..
Jangan bohong, Mama tau lho sekarang kamu lagi bohong.” Goda Sella.
“Eh,
enggak... enggak.”
“Makanan
sudah siap.” Seru Prilly mengalihkan perhatian orang-orang disana.
“Tuh
makanannya udah siap, makan yuk Ma Pa. Ali udah laper.”
Sella
tersenyum geli melihat tingkah puteranya, sementara Ferly hanya tersenyum kecil
menanggapinya.
***
Ali
dengan tergesa keluar dari kamarnya, jas tersampir di bahu dengan lengan
pakaian yang belum dikancing dengan rapih. Ia berjalan kearah meja makan,
menyambar rotinya kemudian meminum segelas susu yang telah tersedia untuknya.
Ia yakin itu untuknya, mengingat hanya ada piring dan gelas itu. sepertinya ia
benar-benar terlambat sekarang.
“Ma...”
teriak Ali sambil berusaha mengancingkan lengan kemejanya.
“Udah
pergi.”
“Papa?.”
“Udah
berangkat.”
Ali menghentakkan
kakinya kesal. Ia berdiri menghadap kearah Prilly yang sedang berdiri begitus
santai didepannya. “Kenapa gak ada yang bangunin sih?.”
Prilly
mengedikkan bahunya “Salah sendiri.”
“Salah
kamu lah.”
Prilly
mengerutkan dahinya. “Aku?.”
Dengan
perasaan setengah kesal ia menatap Prilly “Iya. Kamu dateng terus kemimpi aku
dan aku gak mau bangun.”
Keduanya
bertatapan. Ada perasaan aneh yang timbul dalam hati Prilly, sebuah desiran
halus yang entah harus bereaksi seperti apa saat mendengarnya. Namun, beberapa saat kemudian Prilly beranjak
meninggalkan Ali tanpa berniat berkata sedikitpun.
***
Ali
menatap pantulan dirinya di kaca spion. Memastikan penampilannya rapih seperti
biasanya. Sementara Prilly menatap Ali sejenak kemudian menghela nafas.
“Liat
sini coba.”
“Hm,
kenapa?.” Tanya Ali sambil menatap kearah Prilly.
Prilly
menarik bahu Ali dan membuat pria itu menghadap padanya. Ia sedikit menarik
dasi Ali kemudian mengeratkannya kembali hingga rapih. Sementara Ali menatap
Prilly dalam diam. Ia tak akan mengeluarkan kata-kata jahilnya lagi yang hanya
akan membuat Prilly kesal. Ia cukup tau itu, ia mengerti bahwa Prilly memang
selalu kesal padanya jika ia berkata aneh atau menggodanya. Sekarang, ia lebih
baik diam saja. Itu lebih baik.
Ali
tersenyum pada Prilly yang menatapnya sesaat.
“Terimakasih
Prilly.”
Prilly
mengangguk kecil kemudian keluar dari dalam mobil mewah Ali. keduanya pun
berjalan berdampingan menuju ruangan. Meski bukan pertama kalinya Ali datang
bersama Prilly, namun tetap saja keduanya masih menjadi pusat perhatian jika
mereka berjalan bersama hingga memasuki lift khusus.
“Hari
ini sepertinya jadwalku padat. Pagi ini aku harus memeriksa laporan, siang
nanti ada meeting diluar sorenya mungkin kembali lagi kekantor aku harus mengevaluasi
beberapa divisi. Kemungkinan hingga malam lagi.”
“Hm.”
Ali
tersenyum kecil, ia melirik kearah Prilly yang hanya menatap lurus kedepan.
“Kamu
tidak keberatan?.”
“Tidak.”
Ting!
Suara
lift terbuka, menandakan mereka telah sampai di lantai tempat kerja Ali. Prilly
berjalan dibelakang Ali yang melangkah lebih dulu darinya. Keduanya tersenyum
pada sekretaris Ali yang menunduk hormat.
“Boss
ada tamu didalam, tadi saya sudah memintanya untuk menunggu tapi dia memaksa
masuk.” Ucap si sekretaris
Ali
mengerutkan keningnya, dia siapa? Sepertinya bukan orang yang terlalu penting,
mengingat sekretarisnya pun menyebut dia. Bukan beliau. Ali menganggukkan
kepalanya pelan.
“Yasudah.”
Ucap Ali seraya berjalan.
“Boss!.”
Prilly berujar. “Saya ke pantry dulu sebentar.” Lanjut ucapan Prilly.
Ali
menghentikan langkahnya, ia menarik pelan lengan Prilly.
“Aku
lebih nyaman kamu yang gak formal Prilly, bisakan kamu mengabulkan permintaanku
yang satu itu?.”
Prilly
menarik pelan lengannya yang diraih Ali. ia menatap pria itu sejenak, lalu
mengangguk patuh.
“Yasudah,
jangan lama-lama ya.” ucap Ali, ia beranjak menuju ruangannya. Begitu ia
memasuki ruangannya, seorang wanita cantik duduk di sofa. Ia menghela nafas
panjang, para klien nya yang gak pernah berhasil bekerja sama dengannya selalu
saja melakukan hal ini, karena yang mereka tau Boss diperusahaan ini muda dan
lajang.
“Selamat
Pagi.” Sapa wanita itu seraya berdiri dengan gerakan lambat lalu tersenyum,
yang jelas sekali bahwa wanita itu menggodanya. Ia mendekati Ali kemudian
mengulurkan tangannya. “Perkenalkan, saya utusan dari perusahaan SDC Grup.”
Ali
menjabat tangannya sekilas kemudian duduk disofa yang berhadapan dengan wanita
tadi. Wanita itu tersenyum menggoda kemudian duduk disamping Ali. ia memberikan
berkas yang sedari tadi ia pegang kemudian meraih tangan Ali, berusaha terus
menggodanya. Tanpa sungkan wanita itu meletakkan tangannya di atas paha Ali.
“Bagaimana?
Saya harap kerjasama ini bisa berjalan ya.”
Tanpa
ada aba-aba pintu ruangan itu terbuka, diambang pintu Prilly berdiri dengan sebelah
tangannya membawa minuman.
Ali
menoleh dengan cepat dengan tersenyum tipis. Ia melihat Prilly yang sedang
meneliti wanita disampingnya, terlihat dari mata Prilly yang turun kemudian
naik yang ia perkirakan sedang melihat dari ujung kaki dan ujung kepala wanita
disampingnya itu.
Prilly
tersenyum miring, setelah mengamati lebih lama akhirnya ia faham kemungkinan
wanita itu ada disini. Prilly menyeringai lagi, ia akhirnya menemukan cara
untuk menyerang wanita itu. Prilly berjalan santai hingga berada tepat
dihadapan wanita itu, wanita yang kini menatapnya tajam berusaha tidak
terintimidasi oleh keberadaan Prilly.
“Sayang
ini siapa? Kok aku gak dikenalin?.” Tanya Prilly pada Ali tanpa mengalihkan
pandangannya dari wanita itu.
“Oh,
ini hanya katanya sih mau kerjasama sayang.”
“Hm...”
Prilly mengangguk-anggukan kepalanya sambil mengetuk-ngetukkan telunjuknya di
dagunya sendiri. “Pasti ditolakkan?.”
Ali
tersenyum, ia melirik pada wanita itu kemudian tersenyum ramah. “Mungkin kami
belum bisa bekerja sama dengan perusahaan anda, jika memang ingin bekerja sama
katakan pada atasan anda untuk datang sendiri dan tidak mengirimkan seseorang
yang hanya ingin menggoda. Oke? Oh iya, pintu keluar disebelah sana.” Tunjuk Ali
pada pintu yang masih terbuka karena tidak ditutup oleh Prilly.
Wajah
wanita itu memerah marah, ia menghentakkan kakinya kesal kemudian berlalu
setelah sebelumnya menarik roknya lebih bawah.
Prilly
masih menatap dingin kearah pintu kemudian ia mengalihkan pandangan pada Ali
yang ternyata menatapnya dengan begitu intens.
“Jadi
kita resmi pacaran?.” Tanya Ali
***
Prilly
menatap jalanan malam yang padat oleh kendaraan, ia tak berniat sedikitpun
untuk menoleh kearah sampingnya dimana
Ali berada. Perkataan Ali tadi pagi benar-benar mengganggunya. Apakah benar
kini mereka menyadi pasangan kekasih? Tapi, ia belum menjawabnya secara
langsung, ia belum mengiyakan tawaran Ali itu. Prilly menghela nafas panjang. Oh! Ini benar-benar menyebalkan!!! Desah
Prilly dalam hati.
“Prill...”
“Ya.”
“Kamu
kenapa?.” Tanya Ali pelan.
Prilly
menghela nafas panjang, untuk saat ini ia sangat malas membahas hal ini. Please jangan sekarang... ucap Prilly
membatin.
“Gapapa.”
Ucapnya pelan
Ali
menghela nafas, ia bingung bagaimana cara menghadapi gadis dingin disampingnya
itu. Prilly, kenapa kamu terus
berubah-ubah? Ujar Ali.
Sepanjang
perjalanan tak ada lagi percakapan dari mereka, Prilly hanya terus diam dengan
pandangan terus kedepan. Sementara Ali, terus berkonsentrasi dengan kemudinya.
Begitu mereka sampai Prilly keluar terlebih dahulu kemudian menunggu Ali,
setelah itu keduanya berjalan tanpa ada percakapan sedikitpun.
Ali
jengah, ia tak bisa dalam keadaan seperti ini terus. Saat keduanya sampai di
depan kamar yang ditempati Prilly, Ali berbalik menatap Prilly.
“Aku
mau mandi dulu, kamu juga mandi. Jangan lupa turun lagi, makan malam.” Ucap
Ali.
Prilly
hanya tersenyum sedikit kemudian mengangguk, masih tak berucap. Ali tersenyum,
ia mengulurkan tangannya mengelus pelan puncak kepala Prilly. Setelah itu ia
berbalik dan menghilang dibalik pintu kamarnya.
Apa itu barusan? Tanya Prilly dalam hati. Ia masih terpaku didepan pintu. Ia
cukup terkesima dengan perlakuan Ali padanya. Tak pernah ada yang
memperlakukannya semanis ini, tak pernah ada yang mengelus rambutnya selembut
itu, bahkan senyuman itu... Prilly mengelus dadanya. Terasa hangat didalam
sana.
***
Ali tersenyum
menatap Prilly yang terlihat begitu manis dengan blus yang menutupi tubuh
indahnya. Dia terlihat begitu bersemangat jika berada didapur. Malam ini, ia
bisa puas memandangi gadisnya itu tanpa gangguan dari Ibunya. Untung Mama sama Papa ada dinner bisnis. Ali
tersenyum bahagia dalam hati.
“Kamu
masak apa?.”
“Sup.”
Karena
merasa tak puas dengan jawaban Prilly, Ali mendekati gadis itu. Ia berdiri
bersandar pada kichenset.
“Prill...”
“Hm.”
“Prilly...”
“Apa?.”
“Prilly.”
“Apaan
sih? Kamu gak liat aku lagi masak? Duduk sana!.” Ucap Prilly.
Ali
terkekeh kecil, ia berbalik menghadap
kulkas mengambil sekotak susu yang selalu disediakan Ibunya tercinta.
“Kamu
itu manis banget.”
“Aku
bukan gula.”
“Tapi
kamu manis, kamu juga lucu.”
“Aku
bukan pelawak.”
“Kamu
cantik.”
“Aku
tau.”
“Tapi
galak.”
“Itu
aku.”
“Kamu
juga dingin.”
“Dari
dulu.”
Ali
tak gentar menggoda gadis itu, entah kenapa ia sangat senang menggoda gadis
itu. ia kembali mendekati Prilly.
“Walaupun
gitu... aku. sangat.” Ali mendekatkan wajahnya pada wajah Prilly. “Mencintaimu.”
Prilly
diam, tidak menyahuti lagi ucapannya. Ali tersenyum, ia kembali mengelus rambut
Prilly kemudian berlalu, kembali duduk di meja makan. Ali... sebenarnya, semua ini apa?
***
Ali
dan Prilly duduk berdampingan di depan televisi. Namun, Prilly sibuk dengan
laptopnya sementara Ali hanya menonton sebuah pertandingan sepak bola di
televisi.
“Kamu
lagi ngapain?.” Tanya Ali.
“Ngerjain
tugas.”
“Oh.
Padahal besokkan minggu. Masih ngerjain tugas?.”
“Disini
aku hanya budak. Siapa tau aja besok kamu mau pergi, kan otomatis aku gak bisa
ngerjain tugasnya.” Ucap Prilly tanpa sedikitpun mengalihkan pandangannya dari
laptop.
Ali
tersenyum kecil, ia menyandarkan punggungnya disandaran kursi.
“Kamu
bukan budak Prill, kamu bisa melakukan apapun yang kamu mau disini.”
“Tetap
saja. Disini...” Prilly memandang ke arah Ali. “Aku berada disini untuk
bekerja, bukan melakukan apa yang aku mau.”
“Prilly...”
Ali menghadap ke arah Prilly, ia memegang kedua bahu gadis itu.
“Apa semuanya
kurang jelas?.” ia menghela nafas panjang.
“Prilly...”
Ali memejamkan matanya sejenak.
“Aku
mencintai kamu.” ucapnya putus asa.
Prilly
terpaku menatapnya, ia ragu. Apakah Ali serius terhadapnya?
“Li...”
ucap Prilly lirih.
“Aku
serius tentang ini semua Prilly. Aku cinta sama kamu, aku sayang sama kamu
Prilly... cuma kamu.”
Ali
dan Prilly saling berpandangan, tak ada yang berucap satu sama lain. Prilly
masih menatap Ali ragu, ia mulai membuka mulutnya hendak berucap.
“Ali...
aku...”
***
bersambung.....
ditunggu komennya ya :)
ditunggu juga kritik dan sarannya.
terimakasih :)
No comments:
Post a Comment