Friday, 29 May 2015

Beauty Bodyguard

3

Love is...
INI GILA!!! Batin Prilly mengerang. Ia melemparkan tasnya kesal. DASAR GILAAAAA!!!
Tok Tok Tok
“Prill... buka Prill.”
“Prill...”

Ketukan-ketukan itu semakin melemah, Prilly menghela nafas lega namun beberapa saat kemudian ia mendengar seseorang yang sedang berbincang didepan pintu kamarnya. Ia memicingkan pendengarannya. Nihil! Tak terdengar apapun. Sesaat kemudian terdengar ketukan lagi.
“Sayang buka. Ini Tante.”
Prilly menghela nafas panjang kemudian dengan perlahan membuka pintu membiarkan Sella memasuki kamarnya.
“Kenapa kamu marah sama Ali?.”
“Tante marah ya?.”
“Tidak, ada masalah apa kamu sama Ali?.”
Prilly menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, ia juga meringis kecil. ia rasa sebenarnya kurang pantas marah pada Ali hanya karena Ali memintanya menjadi seorang kekasih, namun entah kenapa ia malah kesal karena merasa hal itu tidak seharusnya terjadi.
“Itu Tante... Ali meminta Prilly menjadi pacarnya.”
Sella mengerutkan keningnya, ia menatap Prilly heran.
“Lalu? Ada yang salah?.” Sella terdiam sebentar menunggu reaksi Prilly, lalu berkata lagi. “Memangnya anak Tante kurang cakep ya? kurang keren ya?.”
“Eh... enggak, bukan karena itu Tante.”
“Lalu?.”
Prilly berdehem kecil, ia bingung harus menjawab seperti apa. Untuk pertama kalinya ia merasa malu dengan pipi yang terasa memanas.
“Prilly?.”
“Ya Prilly rasa, gak seharusnya ada hubungan seperti itu Tante antara Boss dan bawahannya, apalagi Prilly cuma bodyguardnya aja.”
Sella sedikit berpikir sambil mengerutkan keningnya.
“Bagi Tante gak ada yang gitu-gituan ahh, kita semua sama manusia. Dan seenggaknya kamu membuat Tante lega kalo kamu jadi pacarnya, banyak sekali wanita yang suka menggodanya terlebih dari suruhan clien-nya. Tante hanya ingin ada yang menjaga dia lebih sayang.” Sella menghela nafas. “Jadi, kamu mau ya jadi pacarnya Ali?.”
Prilly menatap Sella dengan cepat, ia sungguh takjup mendengarnya. Apakah yang barusan itu adalah bentuk restu?
Dari arah pintu seseorang tersenyum puas. Akhirnya mungkin hanya dengan cara itu Prilly akan luluh dan mau padanya. Meskipun sedikit licik, tapi itu baginya bukan sebuah kelicikan, melainkan kecerdasan darinya. Ali gitu. Haha...

***

Ali menatap Prilly sambil tersenyum kecil, pemandangan Prilly yang hilir mudik didapur bersama Mamanya itu entah kenapa sangatlah menarik baginya, lebih menarik dari apapun.
“Kenapa kamu senyum-senyum gitu Ali?.” Tanya sebuah suara dari arah kanannya.
“Eh...” Ali menoleh dengan cepat kearah kanannya, Ali mengutuk dalam hatinya. Kenapa ada Papa?
“Sejak kapan Papa disitu?.” Tanya balik Ali pada Ferly yang memang sedari tadi duduk di pantry.
“Sejak kapan kamu tertarik masuk dapur?”
Crap!
“Eh.” Ali menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. “Ya... sejak sekarang.” Ucapnya gugup. Ia menghampiri Ferly, meraih sebuah gelas kemudian berjalan menuju kulkas mengambil sebotol air. Hanya untuk menghilangkan kegugupannya saja.
“Ohh sejak sekarang Li? Sejak ada Prilly ya?.” sahut Sella yang diiringi cekikikan tawa darinya.
“Ma... Enggak kok.” Kilah Ali.
“Ahh.. Jangan bohong, Mama tau lho sekarang kamu lagi bohong.” Goda Sella.
“Eh, enggak... enggak.”

“Makanan sudah siap.” Seru Prilly mengalihkan perhatian orang-orang disana.
“Tuh makanannya udah siap, makan yuk Ma Pa. Ali udah laper.”
Sella tersenyum geli melihat tingkah puteranya, sementara Ferly hanya tersenyum kecil menanggapinya.

***

Ali dengan tergesa keluar dari kamarnya, jas tersampir di bahu dengan lengan pakaian yang belum dikancing dengan rapih. Ia berjalan kearah meja makan, menyambar rotinya kemudian meminum segelas susu yang telah tersedia untuknya. Ia yakin itu untuknya, mengingat hanya ada piring dan gelas itu. sepertinya ia benar-benar terlambat sekarang.
“Ma...” teriak Ali sambil berusaha mengancingkan lengan kemejanya.
“Udah pergi.”
“Papa?.”
“Udah berangkat.”
Ali menghentakkan kakinya kesal. Ia berdiri menghadap kearah Prilly yang sedang berdiri begitus santai didepannya. “Kenapa gak ada yang bangunin sih?.”
Prilly mengedikkan bahunya “Salah sendiri.”
“Salah kamu lah.”
Prilly mengerutkan dahinya. “Aku?.”
Dengan perasaan setengah kesal ia menatap Prilly “Iya. Kamu dateng terus kemimpi aku dan aku gak mau bangun.”
Keduanya bertatapan. Ada perasaan aneh yang timbul dalam hati Prilly, sebuah desiran halus yang entah harus bereaksi seperti apa saat mendengarnya.  Namun, beberapa saat kemudian Prilly beranjak meninggalkan Ali tanpa berniat berkata sedikitpun.

***

Ali menatap pantulan dirinya di kaca spion. Memastikan penampilannya rapih seperti biasanya. Sementara Prilly menatap Ali sejenak kemudian menghela nafas.
“Liat sini coba.”
“Hm, kenapa?.” Tanya Ali sambil menatap kearah Prilly.
Prilly menarik bahu Ali dan membuat pria itu menghadap padanya. Ia sedikit menarik dasi Ali kemudian mengeratkannya kembali hingga rapih. Sementara Ali menatap Prilly dalam diam. Ia tak akan mengeluarkan kata-kata jahilnya lagi yang hanya akan membuat Prilly kesal. Ia cukup tau itu, ia mengerti bahwa Prilly memang selalu kesal padanya jika ia berkata aneh atau menggodanya. Sekarang, ia lebih baik diam saja. Itu lebih baik.
Ali tersenyum pada Prilly yang menatapnya sesaat.
“Terimakasih Prilly.”
Prilly mengangguk kecil kemudian keluar dari dalam mobil mewah Ali. keduanya pun berjalan berdampingan menuju ruangan. Meski bukan pertama kalinya Ali datang bersama Prilly, namun tetap saja keduanya masih menjadi pusat perhatian jika mereka berjalan bersama hingga memasuki lift khusus.
“Hari ini sepertinya jadwalku padat. Pagi ini aku harus memeriksa laporan, siang nanti ada meeting diluar sorenya mungkin kembali lagi kekantor aku harus mengevaluasi beberapa divisi. Kemungkinan hingga malam lagi.”
“Hm.”
Ali tersenyum kecil, ia melirik kearah Prilly yang hanya menatap lurus kedepan.
“Kamu tidak keberatan?.”
“Tidak.”

Ting!

Suara lift terbuka, menandakan mereka telah sampai di lantai tempat kerja Ali. Prilly berjalan dibelakang Ali yang melangkah lebih dulu darinya. Keduanya tersenyum pada sekretaris Ali yang menunduk hormat.
“Boss ada tamu didalam, tadi saya sudah memintanya untuk menunggu tapi dia memaksa masuk.” Ucap si sekretaris
Ali mengerutkan keningnya, dia siapa? Sepertinya bukan orang yang terlalu penting, mengingat sekretarisnya pun menyebut dia. Bukan beliau. Ali menganggukkan kepalanya pelan.
“Yasudah.” Ucap Ali seraya berjalan.
“Boss!.” Prilly berujar. “Saya ke pantry dulu sebentar.” Lanjut ucapan Prilly.
Ali menghentikan langkahnya, ia menarik pelan lengan Prilly.
“Aku lebih nyaman kamu yang gak formal Prilly, bisakan kamu mengabulkan permintaanku yang satu itu?.”
Prilly menarik pelan lengannya yang diraih Ali. ia menatap pria itu sejenak, lalu mengangguk patuh.
“Yasudah, jangan lama-lama ya.” ucap Ali, ia beranjak menuju ruangannya. Begitu ia memasuki ruangannya, seorang wanita cantik duduk di sofa. Ia menghela nafas panjang, para klien nya yang gak pernah berhasil bekerja sama dengannya selalu saja melakukan hal ini, karena yang mereka tau Boss diperusahaan ini muda dan lajang.
“Selamat Pagi.” Sapa wanita itu seraya berdiri dengan gerakan lambat lalu tersenyum, yang jelas sekali bahwa wanita itu menggodanya. Ia mendekati Ali kemudian mengulurkan tangannya. “Perkenalkan, saya utusan dari perusahaan SDC Grup.”
Ali menjabat tangannya sekilas kemudian duduk disofa yang berhadapan dengan wanita tadi. Wanita itu tersenyum menggoda kemudian duduk disamping Ali. ia memberikan berkas yang sedari tadi ia pegang kemudian meraih tangan Ali, berusaha terus menggodanya. Tanpa sungkan wanita itu meletakkan tangannya di atas paha Ali.
“Bagaimana? Saya harap kerjasama ini bisa berjalan ya.”

Tanpa ada aba-aba pintu ruangan itu terbuka, diambang pintu Prilly berdiri dengan sebelah tangannya membawa minuman.
Ali menoleh dengan cepat dengan tersenyum tipis. Ia melihat Prilly yang sedang meneliti wanita disampingnya, terlihat dari mata Prilly yang turun kemudian naik yang ia perkirakan sedang melihat dari ujung kaki dan ujung kepala wanita disampingnya itu.
Prilly tersenyum miring, setelah mengamati lebih lama akhirnya ia faham kemungkinan wanita itu ada disini. Prilly menyeringai lagi, ia akhirnya menemukan cara untuk menyerang wanita itu. Prilly berjalan santai hingga berada tepat dihadapan wanita itu, wanita yang kini menatapnya tajam berusaha tidak terintimidasi oleh keberadaan Prilly.
“Sayang ini siapa? Kok aku gak dikenalin?.” Tanya Prilly pada Ali tanpa mengalihkan pandangannya dari wanita itu.
“Oh, ini hanya katanya sih mau kerjasama sayang.”
“Hm...” Prilly mengangguk-anggukan kepalanya sambil mengetuk-ngetukkan telunjuknya di dagunya sendiri. “Pasti ditolakkan?.”
Ali tersenyum, ia melirik pada wanita itu kemudian tersenyum ramah. “Mungkin kami belum bisa bekerja sama dengan perusahaan anda, jika memang ingin bekerja sama katakan pada atasan anda untuk datang sendiri dan tidak mengirimkan seseorang yang hanya ingin menggoda. Oke? Oh iya, pintu keluar disebelah sana.” Tunjuk Ali pada pintu yang masih terbuka karena tidak ditutup oleh Prilly.
Wajah wanita itu memerah marah, ia menghentakkan kakinya kesal kemudian berlalu setelah sebelumnya menarik roknya lebih bawah.
Prilly masih menatap dingin kearah pintu kemudian ia mengalihkan pandangan pada Ali yang ternyata menatapnya dengan begitu intens.
“Jadi kita resmi pacaran?.” Tanya Ali

***

Prilly menatap jalanan malam yang padat oleh kendaraan, ia tak berniat sedikitpun untuk menoleh  kearah sampingnya dimana Ali berada. Perkataan Ali tadi pagi benar-benar mengganggunya. Apakah benar kini mereka menyadi pasangan kekasih? Tapi, ia belum menjawabnya secara langsung, ia belum mengiyakan tawaran Ali itu. Prilly menghela nafas panjang. Oh! Ini benar-benar menyebalkan!!! Desah Prilly dalam hati.

“Prill...”
“Ya.”
“Kamu kenapa?.” Tanya Ali pelan.

Prilly menghela nafas panjang, untuk saat ini ia sangat malas membahas hal ini. Please jangan sekarang... ucap Prilly membatin.
“Gapapa.” Ucapnya pelan

Ali menghela nafas, ia bingung bagaimana cara menghadapi gadis dingin disampingnya itu. Prilly, kenapa kamu terus berubah-ubah? Ujar Ali.

Sepanjang perjalanan tak ada lagi percakapan dari mereka, Prilly hanya terus diam dengan pandangan terus kedepan. Sementara Ali, terus berkonsentrasi dengan kemudinya. Begitu mereka sampai Prilly keluar terlebih dahulu kemudian menunggu Ali, setelah itu keduanya berjalan tanpa ada percakapan sedikitpun.

Ali jengah, ia tak bisa dalam keadaan seperti ini terus. Saat keduanya sampai di depan kamar yang ditempati Prilly, Ali berbalik menatap Prilly.
“Aku mau mandi dulu, kamu juga mandi. Jangan lupa turun lagi, makan malam.” Ucap Ali.

Prilly hanya tersenyum sedikit kemudian mengangguk, masih tak berucap. Ali tersenyum, ia mengulurkan tangannya mengelus pelan puncak kepala Prilly. Setelah itu ia berbalik dan menghilang dibalik pintu kamarnya.

Apa itu barusan? Tanya Prilly dalam hati. Ia masih terpaku didepan pintu. Ia cukup terkesima dengan perlakuan Ali padanya. Tak pernah ada yang memperlakukannya semanis ini, tak pernah ada yang mengelus rambutnya selembut itu, bahkan senyuman itu... Prilly mengelus dadanya. Terasa hangat didalam sana.

***

Ali tersenyum menatap Prilly yang terlihat begitu manis dengan blus yang menutupi tubuh indahnya. Dia terlihat begitu bersemangat jika berada didapur. Malam ini, ia bisa puas memandangi gadisnya itu tanpa gangguan dari Ibunya. Untung Mama sama Papa ada dinner bisnis. Ali tersenyum bahagia dalam hati.

“Kamu masak apa?.”
“Sup.”

Karena merasa tak puas dengan jawaban Prilly, Ali mendekati gadis itu. Ia berdiri bersandar pada kichenset.

“Prill...”
“Hm.”
“Prilly...”
“Apa?.”
“Prilly.”
“Apaan sih? Kamu gak liat aku lagi masak? Duduk sana!.” Ucap Prilly.

Ali terkekeh kecil, ia  berbalik menghadap kulkas mengambil sekotak susu yang selalu disediakan Ibunya tercinta.

“Kamu itu manis banget.”
“Aku bukan gula.”
“Tapi kamu manis, kamu juga lucu.”
“Aku bukan pelawak.”
“Kamu cantik.”
“Aku tau.”
“Tapi galak.”
“Itu aku.”
“Kamu juga dingin.”
“Dari dulu.”

Ali tak gentar menggoda gadis itu, entah kenapa ia sangat senang menggoda gadis itu. ia kembali mendekati Prilly.

“Walaupun gitu... aku. sangat.” Ali mendekatkan wajahnya pada wajah Prilly. “Mencintaimu.”

Prilly diam, tidak menyahuti lagi ucapannya. Ali tersenyum, ia kembali mengelus rambut Prilly kemudian berlalu, kembali duduk di meja makan. Ali... sebenarnya, semua ini apa?

***

Ali dan Prilly duduk berdampingan di depan televisi. Namun, Prilly sibuk dengan laptopnya sementara Ali hanya menonton sebuah pertandingan sepak bola di televisi.

“Kamu lagi ngapain?.” Tanya Ali.
“Ngerjain tugas.”
“Oh. Padahal besokkan minggu. Masih ngerjain tugas?.”
“Disini aku hanya budak. Siapa tau aja besok kamu mau pergi, kan otomatis aku gak bisa ngerjain tugasnya.” Ucap Prilly tanpa sedikitpun mengalihkan pandangannya dari laptop.

Ali tersenyum kecil, ia menyandarkan punggungnya disandaran kursi.
“Kamu bukan budak Prill, kamu bisa melakukan apapun yang kamu mau disini.”
“Tetap saja. Disini...” Prilly memandang ke arah Ali. “Aku berada disini untuk bekerja, bukan melakukan apa yang aku mau.”
“Prilly...” Ali menghadap ke arah Prilly, ia memegang kedua bahu gadis itu.
“Apa semuanya kurang jelas?.” ia menghela nafas panjang.
“Prilly...” Ali memejamkan matanya sejenak.
“Aku mencintai kamu.” ucapnya putus asa.

Prilly terpaku menatapnya, ia ragu. Apakah Ali serius terhadapnya?
“Li...” ucap Prilly lirih.
“Aku serius tentang ini semua Prilly. Aku cinta sama kamu, aku sayang sama kamu Prilly... cuma kamu.”

Ali dan Prilly saling berpandangan, tak ada yang berucap satu sama lain. Prilly masih menatap Ali ragu, ia mulai membuka mulutnya hendak berucap.

“Ali... aku...”

***


 bersambung.....

ditunggu komennya ya :)
ditunggu juga kritik dan sarannya.
terimakasih :)

No comments:

Post a Comment