1
Tak ada yang salah dengan perkenalan
Ketukan
elegan berasal dari sebuah sepatu pantopel yang mahal terdengar menggema begitu
mendominasi disetiap penjuru ruangan kala sang pemilik itu berjalan.
“Selamat
pagi.”
Sapaan
itu selalu terlontar pula dari beberapa orang yang berpapasan dengannya, dari
mulai ia keluar dari kendaraan mewahnya hingga ia memasuki ruangannya.
“Jadwal
saya?.”
“Hari
ini dikantor akan sedikit santai, tapi nanti jam sembilan anda ada kuliah
hingga sore nanti.”
Pemuda
itu mengangguk, ia menghempaskan tubuhnya kemeja kerja kemudian melepaskan
kacamata hitam yang sedari tadi memang masih menutupi mata elangnya. Ia
menghela nafas.
“Kalian
sudah bisa keluar dari ruangan saya.”
“Baik
Boss! Kami permisi.”
Pemuda
itu mengangguk kembali kemudian meraih ponselnya.
“Kak.”
“Hm.”
“Kontrol
kantorku sementara.”
“Hm.”
“Kak.”
“Ali, Kakakmu ini juga sangatlah sibuk.”
“Yaudah,
kalo gitu Kak Mila... gua kasih tau ke Papa.”
“Eits.... No!. Oke. Gua kontrol dari sini.”
Pemuda
itu tersenyum puas. Cara itu memang tidak
pernah salah. Ungkapnya dalam hati.
“Thank
you Kakakku.”
“Iya.”
Pemuda
itu bernama Aliando Syarief. Seorang milyarder muda yang begitu cerdas dan
memiliki tingkat ketampanan yang luar biasa. Banyak yang mengakuinya, terlihat
dari begitu banyaknya gadis yang begitu tertarik padanya bahkan banyak yang
meminta dirinya untuk dijadikannya kekasih. Namun, entah kenapa tak ada satupun
yang membuat hatinya tergugah. Baginya, karier adalah prioritas utamanya.
Karena hanya itulah yang mampu membahagiakan kedua orangtuanya.
***
Bagaikan
sebuah koin uang yang memuliki dua sisi berbeda namun masih tetap koin yang
sama. Begitulah kata yang sekiranya pantas dilontarkan untuk Aliando Syarief.
Kini ia keluar dari mobil mewahnya dengan pakaian yang berbeda, dengan gaya
berbusana yang sangatlah berbeda dari penampilan sebelumnya. Seketika seluruh
mata tertuju padanya.
“Ali.”
Ya,
begitulah ia disapa. Ia menoleh dan ada beberapa gadis disana. Ia tersenyum
kemudian melambaikan tangan ringan.
“Hai.”
Para
gadis itupun menjerit. Ali tersenyum lagi kemudian melanjutkan perjalanan
menuju kelasnya.
Tak
banyak yang tahu bahwa dirinya seorang pengusaha, yang membesarkan nama
keluarganya hingga menjadi sebuah perusahaan yang besar dan patut
diperhitungkan, yang mereka tahu hanyalah Aliando Syarief, seorang pemuda keren
dan tampan yang terlahir dikeluarga yang kayaraya.
Ali
menaikan sebelah alisnya saat banyak sekali orang yang meneriakan namanya. Ada apa ini? apa gua secakep itu?
BRUUKKK!!!
Ali
berbalik, tepat di belakang sebelahkanannya seorang lelaki bertubuh tegap
tersungkur dengan sebilah belati ditangannya. Dihadapan lelaki itu berdiri
seseorang yang sedang menggenggam sebuah helm. Lelaki itu mengerang keras saat
tangannya yang menggenggam belati diinjak tanpa ampun oleh seseorang itu dengan tangan yang mengacungkan helm
kearah lelaki itu. Sesaat kemudian lelaki itu pergi berlari terbirit-birit. Ali
tersenyum. Ia berjalan kearah seseorang yang telah menolongnya saat ia hendak
menepuk bahunya bersamaan dengan itu orang itu berbalik. Ali mengerutkan
keningnya saat bertatapan dengan orang itu. rambutnya kini terurai indah keluar
dari jaket kulitnya.
“Loe...
cewek?.”
Gadis
itu menatap Ali dari ujung kaki hingga kepala. Ia tersenyum meremehkan kemudian
berlalu tanpa ada niat untuk berucap sedikitpun.
Ali
tersenyum tak percaya. Apa-apaan ini?
ia mendengus kecil.
***
Gadis
itu benar-benar mengganggu konsentrasinya, sepanjang perkuliahan ia tak fokus
pada yang dikatakan oleh sang dosen. Karena untuk pertama kalinya, ia merasa
diacuhkan seorang gadis, untuk pertama kalinya pula pikirannya sangat tersita
oleh gadis itu.
Ali
menghentikan mobilnya tepat di pintu utama kediamannya. Begitu ia memasuki
ruang keluarga seorang wanita menghampirinya.
“Ali?
sayang? Kamu udah pulang? Kenapa telpon Mama gak di angkat? Sms juga gak
dibales. Kenapa? Kamu mau buat Mama jantungan hah?.”
Ali
tersenyum kemudian menghela nafas, ia merangkul Sella sang Mama yang menatapnya
penuh kekhawatiran dengan lembut.
“Ali
kan kuliah Ma.”
“Mama
dengar kamu ada yang mau nyerang sayang. Beneran itu? Mama khawatir sama kamu
sayang.”
Ali
mengedikan bahunya.
“Begitulah.
Tapi gapapa kok Ma, tadi ada yang nolong Ali sebelum hal itu kejadian.”
“Siapa?
Siapa Li orangnya? Mama sangat berterimakasih dia udah nolongin kamu.”
“Ali
juga gak kenal Ma. Udah ya Ma, Ali gapapa kok.”
“Ali.”
Suara
berat khas laki-laki memanggilnya. Ali berbalik kearah tangga, Ferly -Papanya-
disana.
“Sebaiknya
mulai sekarang kamu harus pakai bodyguard kamu kekampus. Identitas kamu mulai
terbongkar. Musuh-musuh perusahaan kita mulai menyelidiki kamu.”
“Tapi
Pa, gak lucu Ali kemana-mana diikutin terus sama cowok-cowok gede. Nanti
dikiranya Ali apa coba? Udah ya Pa, Ma. Ini udah kita bahas dan Ali tetep gak
mau. Lagipula Ali baik-baik ajakan?.”
“Tapi
apa kata Papa kamu itu benar Li.”
Ali
menatap Sella dengan tatapan sendu.
“Percaya
sama Ali Ma, Ali gak akan kenapa-kenapa. Ali bisa jaga diri Ali sendiri.”
Beberapa
saat Ali menatap Sella kemudian memeluknya sesaat.
***
Pagi
itu Ali telah berada di kantornya, ia menengok ke arah sekertarisnya yang
berdiri dan tersenyum kaku, tak seperti biasanya.
“Kenapa?.”
Tanya Ali
“Didalam,
ada tamu Boss.”
“Siapa?.”
“Err....”
Ali
mengerutkan keningnya kemudian menghela nafas, ia menatap bingung sekertarisnya
yang terlihat bingung itu, siapa lagi
sih? Ali mendengus kesal kemudian beranjak keruangannya. Siapa lagi yang datang? Apa Papa masih saja
mau menjodoh-jodohkanku? Atau bodyguard? Hhh... Papa... Saat membuka pintu
ruangannya seseorang duduk membelakanginya di kursi kerjanya. Nampaknya dia
seorang gadis garena rambutnya yang sebahu begitu rapih, dan di sebelah kirinya
ada sebuah kepangan kecil.
“Ada
urusan apa kesini?.”
Orang
itu memutar kursi kerja Ali, kemudian tersenyum miring.
“Kasar
ya loe.”
Ali
mengerutkan keningnya, ia tersenyum lega kemudian menarik rambutnya yang masih
rapih kebelakang.
“Fay.”
***
Ali
melirik ke bangku pengemudi. Mendengus kesal.
“Sebenernya
loe mau jadi asisten gua atau penguntit Papa gua sih? Gak usah ikut ke kampus
juga kali.”
Fay,
sahabat Ali yang memang sempat didaulat Ferly untuk menjadi pendamping hidupnya.
Namun, keduanya yang enggan kemudian membuat ulah hingga perjodohan itu
dibatalkan. Gadis itu mengedikkan bahunya.
“Sana
belajar yang rajin. Gue mau jalan-jalan.”
Ali
mendelik.
“Awas
aja ya loe kalo mobil kesayangan gua lecet. Gua tipisin loe.”
“Alay
loe. Sana keluar.”
“Sialan
loe ngusir gua.” Umpat Ali.
Namun
ia menurut juga keluar dari mobilnya. Kemudian menunggu Fay meninggalkan
kampusnya barulah ia mulai melangkah menuju kelasnya.
“ALIANDOOOO
AWAAAASSSS...”
Ali
menengok kearah gerombolan gadis yang selalu menyapanya digerbang masuk
kemudian menoleh kekirinya, sebuah mobil melaju kencang kearahnya. Tak ada yang
ia lakukan, ia hanya diam menatap mobil itu. Hingga, tubuhnya terasa melayang
ditarik hingga terjerembab di pinggir jalan, dengan seseorang yang berada
diatasnya, memeluk kepalanya erat. Ali mendongak, orang itu juga menunduk.
Keduanya bertatapan.
“Loe...
lagi.”
Gadis
itu dengan sigap berdiri, merapihkan pakaian dan rambutnya. Kemudian beranjak.
“Hey...”
sahut Ali.
Gadis
itu berhenti melangkah tanpa ada niat menoleh seincipun.
“Thanks
ya, loe udah nyelametin gua lagi.”
Setelah
mendengarkan ucapan Ali tersebut, gadis itu kemudian beranjak kembali tanpa ada
niat berkata sedikitpun.
Ali
tersenyum kecil, kemudian menghela nafas panjang. Ia terus menatap gadis yang
menolongnya itu hingga menghilang dibalik gedung kampusnya, sungguh ia masih
tak percaya dengan gadis itu, bagaimana mungkin dia bisa seberani itu
menghadapi situasi yang begitu berbahaya dan bisa saja mempertaruhkan
keselamatannya sendiri. kenapa dia rela
nolongin gua? Apa dia suka sama gua? Tapi, kalo dia suka kenapa dia begitu
dingin? Apa motif dia nolongin gua? Dan siapa dia? Siapa dia sebenarnya?.
***
“Gue
rasa cewek itu suka sama loe Li. Masa iya sih dia rela nolongin loe begitu
aja?.” Ucap Fay.
Dia
berjalan kekursi dihadapan meja kerja Ali. sore hari itu Ali memang langsung
kekantornya, karena perkulahannya memang tidaklah padat.
“Apa
iya? Gua rasa mungkin dia cuma kasian. Buktinya dia gak nunjukin gejala-gejala
suka sama gua.”
“Nahan
gengsilah, naikin harga diri. Berarti dia cewek berkualitas. Kalo emang loe mau
tau dia, ya loe cari tau tentang dia. Deketin dia, gue yakin loe bakalan
dapetin jawaban sesuai apa yang loe tanyain sama gue. Setiap cewek itu beda
Li.” Fay menghela nafas. “Gue bilang kayak gitu, belum berarti bener. Bisa aja
sih dia cuma kasian sama loe. Gue juga belum liat tuh cewek kayak apa, yang
pasti setiap cewek itu beda Li.” Fay menghela nafas lagi kemudian berdiri. “Gue
pamit ya, nyokap gue baru mau pulang. Bye.”
Sepeninggal
Fay, ia merenungkan setiap perkataan sahabatnya itu. meski awalnya ia mengira
gadis itu menolong karena menyukainya, namun tidak semua orang seperti itu.
benar apa kata Fay, setiap orang itu berbeda.
Ponsel
Ali tiba-tiba berdering.
Dad’s Calling...
“Ya
Pa...”
“Pulang sekarang, Papa mau kenalkan kamu
dengan seseorang. Jangan buat dia menunggu. Secepatnya kamu datang.”
Ali
mengerutkan keningnya, setelah Fay kejutan di pagi harinya, siapa lagi yang
akan ditunjukkan Papa nya malam ini?
“Siapa
Pa?.”
“Nanti juga kamu akan tahu. Cepat datang
atau kamu akan menyesal.”
“Iya
Pa, Ali pulang. Tunggu satu jam dari sekarang.”
“Oke. Hati-hati dijalannya.”
“Iya
Pa. Bye Pa.”
Ali
menghela nafas panjang. Ia menyandarkan punggungnya sejenak. Kenapa hidupnya
ini penuh dengan kejutan?
***
Ali
masuk kedalam rumahnya dengan malas, penampilannya sudah tidak karuan lagi.
Dasi yang sudah dilonggarkan, jas yang sudah disampirkan di pundak. Didalam
sana, terdengar sebuah percakapan antara orangtuanya dengan seorang gadis. Ya Tuhan... apa Papa gak bosen jodoh-jodohin
gua? Ali menghela nafas lelah.
“Ali
pulang.” Ucapnya pelan.
“Ali
sini dulu sayang.”
Ali
menghentikan langkahnya, tanpa minat ia menoleh kearah Sella. Namun kemudian
matanya terasa diguyur air dingin, menjadi sangat segar saat melihat gadis yang
ada disamping Sella. Ia tersenyum dalam hati. Apa dia bener-bener dijodohin sama gua? Haha kalo jodoh emang gak
kemana. Ia tersenyum kecil sambil berjalan kearah orangtuanya.
“Ada
apa ini? dijodohkan lagi?.”
Orangtua
Ali terkekeh kecil. sementara gadis yang berada disamping Sella hanya menatap
Ali tanpa minat.
“Kenapa
kalian malah tersenyum?.”
Ferly
menepuk pundak Ali.
“Sepertinya
ini pertama kalinya kamu tertarik pada seorang gadis Li. Tapi sayang kali ini
bukan kami jodohkan.”
Ali
menatap Ferly dengan tatapan heran, seakan bertanya, terus?
“Dia
akan menjadi bodyguard kamu. Papa udah cari disetiap agensi mencari bodyguard
wanita terbaik buat jagain kamu. soalnya kamu gak mau dijaga sama cowok yang
gede-gede. Dan akhirnya Papa nemuin dia, disalah satu agensi yang kebetulan
teman dari teman Papa.”
Ali
mengangguk-anggukan kepalanya, keduanya bertatapan begitu intens dengan maksud
yang berbeda.
“Boleh,
kenalin saya Aliando, panggil aja Ali.” ucapnya dengan tangan terulur kearah
gadis itu.
Gadis
itu membalas uluran tangan Ali dengan anggun.
“Prilly.”
Ya Tuhan... suaranya begitu lembut. Puji Ali membatin.
“khm...
lepas Li.” Ucap Sella menggoda.
“Eh...
Sorry. Oke kalo gitu ini kartu nama saya, saya harap anda menghubungi saya
secepatnya.” Ia beralih kearah orangtuanya. “Oke Ma, Pa, selesaikan
perkenalannya? Ali mau kekamar dulu sebentar. See you Prilly.”
Begitu
berbalik, meninggalkan ruangan itu Ali tersenyum. Ia serasa memenangkan jakpot
yang luar biasa, ini lebih membahagiakan
dari mendapatkan tender yang besar. Guman Ali dalam hati, ia tersenyum lagi
kemudian menghela nafas panjang.
***
Ali
mendengus kesal, ia meraih ponselnya yang tidak ada tanda-tanda kehidupan. Memang
benar sekali, berharap adalah titik awal dimana ia harus menerima sebuah
kekecewaan. Ia meraih pakaian dari dalam lemari kemudian meraih gagang telepon.
“Bi,
makan malamnya antarkan saja kekamar. Kalo Mama nanya, bilang aja aku sibuk.”
Setengah kesal ia meletakkan kembali gagang telepon itu tanpa ada minat untuk
mendengarkan suara balasan dari pembantu dirumahnya itu.
Ali
menarik nafas panjang kemudian menghembuskannya perlahan, nafasnya masih
memburu. Kenapa gua jadi gini? Kenapa gua
ngerasa kecewa dia gak ngehubungin gua? Ali mengerang kesal.
“Ada
apa sama gua ini?.”
Tiba-tiba
ponselnya berdering, menandakan sebuah panggilan masuk. Ali dengan segera
meraih ponselnya dengan sebuah senyuman terukir diwajah tampannya. Namun,
sedetik kemudian ia mendengus kesal lagi.
Fay’s Calling...
“Ada
apa sih? Bisa gak sih loe gak nelpon sekarang? Ganggu gua banget loe.” Ucap Ali
begitu saja.
“Loe gak bisa lebih manis lagi ya sama gue?”
bentak dari sebrang dengan suara yang agak
bergetar. Ali melupakan sesuatu, gadis itu tidak suka dibentak. Ali mengerang
kesal.
“Sorry,
gua gak sengaja, gua cuma lagi kesel.”
“Ya loe juga gak seharusnya gitu sama gue,
emang gue tau apa tentang masalah loe? Loe aneh Li, semenjak kita putus loe
kenapa sih? Kita itu sahabatan Li, kenapa loe bisa berubah kayak gini sih
semenjak perjodohan kita selesai? Kenapa?.”
“Fay...
sorry, maaf.”
“Udahlah Li, gue muak dengerin loe lagi.
Kalo loe udah gak mau gue ganggu loe, oke fine! Gue gak akan pernah hubungin
loe lagi.”
“Fay...
Fay!.”
Tok
tok tok...
“Masuk
Bi, simpen makanannya dimeja aja.” Setelah mengucapkan itu Ali berjalan kearah
balkon kamarnya dengan tangan yang sibuk mengetikan sesuatu. Ia mengerang kesal
kemudian mendial nomor gadis yang baru saja kesal padanya.
“Fay...”
ucap Ali begitu panggilannya diangkat.
“Fay...
maaf.”
“Nak Ali?.”
Ali
mengerutkan keningnya.
“Tante
Aya?.”
“Kalian kenapa lagi? Tante kira kalian
baik-baik saja setelah perjodohan itu selesai.”
“Tant,
Fay nya ada? Ali perlu bicara sama Fay.”
“Sebentar...”
“Fay, ini Ali mau bicara.”
“Gak Ma. Fay gak mau.”
“Kamu jangan seperti anak kecil Fay. Ali
ingin berbicara baik-baik denganmu.”
“Enggak Ma, kalo dia emang mau ngomong
baik-baik sama aku seharusnya dia datang kesini minta maaf atas perbuatannya!
Bukan seperti itu.”
“FAY!.”
“Lihat? Sekarang Mama malah ngebentak Fay
demi belain dia.”
“Fay, gak seharusnya kamu seperti itu
sayang.”
“Tante?.”
“Iya Nak Ali?.”
Ali
menghela nafas panjang. “Gapapa Fay kalo gak mau bicara.”
“Maafkan Fay ya Nak.”
“Iya
Tante, tidak masalah. Terimakasih sebelumnya Tant, salam buat Om ya. selamat
malam.”
Akhirnya
Ali menutup sambungan teleponnya. Ia menghela nafas panjang. Kenapa ia
melupakan bagian dimana Fay tidak suka dibentak? Kenapa ia bisa seceroboh ini? Ali
mengerang lagi dengan keras kemudian mengacak-acak rambutnya, dengan kesal ia
menyambar jaket dan kunci mobilnya, tanpa ada niat mengganti celana pendeknya
terlebih dahulu.
Bersamaan
dengan Ali keluar dari kamarnya, Prilly hendak memasuki kamar disebelah kamar
Ali. Ali mendengus sebal.
“Kenapa
belum menghubungiku juga?.” Tanyanya kesal.
Prilly
mengedikkan bahunya.
“Aku
pikir tidak perlu, toh kita tinggal satu rumah.”
“Terserah!.”
Ucap Ali dengan penuh tekanan. Ia terlanjur kesal dengan gadis itu, ia juga
semakin kesal saat ingat Fay masih marah padanya. Prilly belum mengerti satu
hal, bahwa ia tak suka di bantah.
“Kau
mau kemana?.” Tanya Prilly.
“Bukan
urusanmu.” Jawab Ali.
Prilly
mengejar Ali yang setengah berlari keluar dari rumahnya. Ia menghela nafas
panjang. Sepertinya menjadi bodyguard Ali akan sangat melelahkan baginya.
Prilly menghentikan langkahnya sesaat sebelum ia menabrak punggung Ali yang
juga menghentikan langkahnya. Ali berbalik kearahnya.
“Sebaiknya
biarkan aku pergi sendiri.”
“Tidak
bisa, ini sudah menjadi tugasku.” Ucap Prilly begitu tegas.
“Hey!
Kalian ada apa?.” Tanya Sella, ia terlihat berjalan begitu anggun menghampiri
Ali dan Prilly yang sedang terlibat dalam sebuah perdebatan.
“Ali
mau pergi dan Ali gak mau diikuti dia.”
“Tapi
Li...”
“Ma...
ngertiin Ali dulu untuk malam ini. Fay marah, dan dia akan lebih marah kalo aku
bawa orang lain yang tidak dia kenal.”
“Li...”
“Ali
baik-baik aja Ma, untuk malam ini saja. Biarkan Ali sendiri dulu.”
Ali
menghela nafas panjang, ia meraih tangan Sella memberikan ketenangan.
“Fay
marah, dan Ali gak bisa dalam suasana seperti ini Ma.”
“Li...
kamu masih menyayangi Fay?.” Tanya Sella begitu pelan.
Ali
menatap Sella sejenak, ia menghela nafas panjang.
“Ali...
gak tau. Sebaiknya Ali pergi sekarang.”
Sella
dan Prilly menatap kepergian Ali tanpa berniat untuk mencegahnya.
“Tente,
apa perlu Prilly ikutin Ali pakai mobil lain?.”
Sella
menggelengkan kecil kepalanya, ia menghela nafas panjang. Kemudian merangkul
pundak Prilly agar berjalan beriringan dengannya.
“Fay
itu tunangan Ali, meskipun mereka bersikeras untuk tidak melanjutkannya tapi
Tante tau, mereka belum saling mengembalikan cincin tunangan mereka. Tante gak
tau seberapa jauh hubungan mereka sekarang karena Fay baru kembali setelah
menyelesaikan pendidikannya diluar negeri, sampai barusan. Tante sendiri kaget
dia ingin menemui Fay. Tante kira dia sudah tidak berhubungan secara intens
lagi dengan Fay.”
Prilly
mengangguk anggukan kepalanya. Ia menghela nafas panjang, tidak tau harus
bagaimana menanggapinya, bukan karena ia tidak peduli tapi lebih karena ia
tidak tau harus menanggapinya seperti apa.
“Apa
tadi saat kamu mengantarkan makanan kekamarnya terjadi sesuatu?.” Tanya Sella
seraya menatap Prilly dengan lembut.
Prilly
menghela nafas panjang. Ingatannya kembali pada beberapa menit yang lalu saat
ia berdiri didepan pintu kamar Ali untuk memberikan makanan yang ia pesan.
Memang ia merasa dongkol sekali, disini ia menjadi bodyguard bukan pembantu.
“Ada apa sih? Bisa gak sih loe gak nelpon
sekarang? Ganggu gua banget loe.”
Prilly
mengurungkan niatnya untuk mengetuk pintu, ia menimbang-nimbang. Apakah ini
saat yang tepat? Ia menghela nafas sekali lagi ia ragu mengetuk pintu. Namun
akhirnya ia mengetuk pintu itu.
“Masuk
Bi, simpen makanannya dimeja aja.”
Mendengar
sahutan itu Prilly masuk dengan wajah kesal. Bi! Bi! Bi! Dia kira gue pembantu apa? Seenak jidatnya aja loe!.
“Fay...
Fay... Maaf.”
Prilly
menggelengkan kepalanya pelan kemudian beranjak pergi. Sepertinya Boss nya itu sedang
menggalau.
“Prilly.”
Prilly
kembali kepada kesadarannya setelah melamun cukup lama. Ia tersenyum pada Sella
sekilas.
“Sepertinya
hanya ada kesalah fahaman saja Tante.”
Sella
tersenyum ringan, lalu tanpa rasa canggung ia merangkul pundak Prilly dengan
begitu sayang.
“Tante
senang dengan ketenangan kamu. kamu terlihat begitu dewasa. Jika kamu datang
lebih awal mungkin tante akan menjodohkan kamu dengan Ali, tapi Papanya Ali
menginginkan terlebih dahulu Fay menjadi menantu dirumah ini.”
Prilly
kembali tersenyum, memangnya siapa tante
yang mau sama cowok seperti putera mu itu? so cakep! Tukang tebar pesona! Dia
lebay sampe harus memakai bodyguard! Rutuk Prilly dalam hati.
“Dari
dulu Tante berharap punya anak perempuan. Tante senang akhirnya ada perempuan
lain ditempat ini selain tante. Bisa diajak curhat, jalan-jalan dan shopping.
Ya walau tugasmu bukan itu.”
Prilly
tersenyum lembut.
“Gapapa
tante, Prilly seneng kalo tante seneng. Kita bisa berjalan-jalan nanti kalo Ali
tidak berniat pergi kemana-mana.”
Keduanya
saling melemparkan sebuah senyuman. Namun keakraban mereka berakhir saat
kedatangan seorang tamu dengan membawa berpuluh-puluh pakaian.
“Hai
Mom. Aku kaget sekali mendengar agar aku membawakan seluruh koleksi pakaian
anak muda ku.”
Sella
tersenyum kecil, ia menarik Prilly untuk mendekat kearah Milla.
“Ini
untuk anggota keluarga baruku. Prilly kenalin ini desainer langganan tante,
Mila. dia membawakan baju-baju untukmu. Segeralah coba.”
Prilly
membulatkan matanya.
“Tante
tapi ini...”
“Ali
gak akan pernah mau pergi denganmu jika kamu memakai pakaian hitam-hitam
seperti itu sayang. Segeralah pakai, sekalian dengan sepatu-sepatunya juga.”
Tanpa
bantahan Prilly beranjak dengan membawa satu persatu pakaian itu untuk ia coba.
***
Jam 7
pagi, Ali baru kembali kerumahnya. Ia masih mengenakan pakaian yang sama. Raut
wajah pemuda tampan itu masih saja sendu.
“Li,
kamu baru pulang sayang?.”
Ali
menghela nafas panjang kemudian membantingkan tubuhnya keatas sofa yang tak
jauh dari meja makan.
“Iya
Ma.”
Sella
mendekati putera kesayangannya itu, ia mengusap kepala sang jagoan dengan
lembut, sarat akan kasih sayang.
“Ada
apa? Kenapa saat pulang wajahmu malah semakin ditekuk? Kenapa sama Fay?.”
Ali
menghela nafas kembali kemudian menatap Mamanya.
“Ali
bingung Ma. Ali harus gimana?.” Ali mengambil nafas sejenak. “Om Araf meminta
kepastian hubungan Ali dengan Fay.”
“Lalu
bagaimana jawaban kamu sayang?.”
“Ali
bilang kami lebih nyaman bersahabat. Tapi Om Araf masih tidak percaya karena
Ali bela-belain dateng untuk minta maaf sama Fay semalem.” Ali kembali menghela
nafas. “Ali gak bisa Ma lanjutin pertunangan itu, Ali udah bilang. Tapi Om Araf
malah menyangka Ali memiliki kekasih baru.”
Sella
menghela nafas dengan senyuman cantiknya, berusaha membuat puteranya itu
tenang.
“Yaudah,
kamu gak usah murung gitu ah. Mama yakin semuanya akan ada jalan keluarnya yang
lebih baik.”
Sebuah
ketukan dari sebuah sepatu menghentikan kegiatan Ali dan Mamanya, keduanya
menoleh kearah sumber suara, kearah pintu dapur. Prilly keluar dari sana dengan
menggunakan pakaian yang telah rapih dibalik apron bunga-bunga itu. sepatu tak
kalah cantik pun membingkai kaki indah itu.
“Makanan
udah siap.”
Sella
melirik Ali yang tak berkedip menatap Prilly yang berpenampilan sangat berbeda
dari malam tadi. Dia telihat lebih anggun dengan wedges dan gaun berwarna
putihnya.
“Cantik.”
Guman Ali hampir berbisik namun masih terdengar oleh Mamanya hingga membuat Sella
mau tak mau tersenyum tipis.
“Cantik
ya Li?.” Bisik Sella tepat ditelinga Ali.
Ali
mengerjabkan matanya sesaat, salah tingkah.
“Err...
Ma, Ali... Ali mandi dulu siap-siap ke kantor.” Ucap Ali kemudian beranjak
pergi.
Prilly
mengerutkan keningnya melihat tingkah Ali, ia beralih menatap Sella, seraya
bertanya dengan begitu anehnya.
“Ali
kenapa tante?.”
Sella
terkekeh kecil kemudian membantu Prilly menyiapkan sarapan untuk mereka.
“Tidak
ada apa-apa. Mungkin, dia sedikit terkejut.” Ucapnya diiringi dengan kedipan
mata bergurau.
***
Seluruh
mata tertuju pada gadis yang keluar dari mobil yang sama bersama sang pemilik
kantor, seluruh pegawai yang melihatnya berhenti dari aktifitas hanya untuk melihat seseorang yang bersama
Boss mereka itu. Selama ini Boss mereka itu tak pernah membawa perempuan
kecuali Mamanya dan Fay. Dan sekarang Boss tampan itu membawa seorang gadis
yang begitu cantik rupawan. Sehingga mau tak mau membuat suasana menjadi gaduh.
“Pagi
Boss!.”
Sapaan
itu terdengar berulang dari para karyawannya, Ali hanya mengganggukan kepalanya
saja sambil berjalan berdampingan dengan Prilly yang terkesan tidak peduli
dengan sapaan itu.
Keduanya
kini telah memasuki ruangan Ali, Ali segera melirik Prilly yang kini duduk di
sofa tak jauh darinya.
“Kenapa
kamu bersikap seperti itu?.”
Prilly
diam kemudian ia melirik ke arah Ali.
“Memangnya
aku harus seperti apa?.”
“Membalas
sapaan mereka, mungkin.”
“Mereka
tidak menyapaku.”
Ali
mengedikkan bahunya, ia duduk dimeja kerjanya membuka beberapa dokumen yang
berada di mejanya. Namun hal itu tak berlangsung lama, ia segera mengalihkan
pandangannya pada Prilly yang terlihat sibuk membaca majalah bisnis yang berada
di meja itu. ia menatap lekat gadis itu. gadis
yang menarik.
“Masih
belum puas memandangi wajah cantikku?.” Ucap Prilly tanpa menoleh ke arah Ali.
Ali
menaikan satu alisnya sambil tersenyum simpul.
“Sepertinya
kamu sudah cukup terpesona dengan pesonaku. BOSS!.” Prilly berucap seraya
menoleh kearah Ali.
Ali
menghela nafas panjang dengan senyuman yang ia berikan pada Prilly.
“Ya,
aku memang sudah terpesona olehmu.”
Prilly
terpaku sesaat, namun kemudian tersenyum masam.
“Aku
sudah tak heran lagi.” Ucapnya sambil berdiri.
“Kamu
mau kemana?.”
“Ngambil
minum.”
“Gak
usah, biar nanti OB yang nganterin, kamu duduk aja disini.” Ali berucap seraya
meraih gagang telepon. Prilly menghela nafas, gagal sudah caranya menghindari
boss tampannya itu. fokus Prilly fokus!
Loe disini kerja! Inget meskipun dia cakep tapi dia bukan tipe loe! Dia cuma
cowok rese yang manja! Ucap Prilly membatin.
“Prill...”
“Prilly?.”
“Hey Prilly!.”
“Eh...”
Prilly menoleh kearah Ali. “Ya. kenapa?.”
Ali
mengerutkan keningnya. “Kamu ngelamun?.”
“Ah...
enggak.”
Ali
mengerlingkan matanya jahil, entah kenapa sifat yang dulu dominan dalam dirinya
itu kini mulai bangkit kembali.
“Karena
kamu bohong sebagai hukumannya kamu harus kabulin tiga permintaan aku.”
Prilly
terjengkat, ia menoleh kearah Ali dengan cepat.
“Kamu
kira aku Jin dari dalam botol? Enggak! Aku gak mau!.”
Dalam
hati Ali tersenyum puas dengan tanggapan Prilly. Sesuai dengan apa yang ia
prediksikan. Ia berdehem kecil kemudian berjalan dan duduk disamping Prilly.
Prilly
menatap lurus kedepan dengan tangan yang dilipat di dada dan dengan kaki kanan
yang ditumpangkan ke kaki kiri. Menatap boss nya itu sama saja mengantarkannya
terjatuh pada lubang pesonanya.
“Permintaan
pertama, aku mau perkenalan kita secara resmi dengan menyebutkan nama lengkap
dan tentunya nomor ponselmu yang harus ada dalam kontak ponselku.” Ali
mengulurkan tangannya. “Kenalin Aliando Syarief. Aku mahasiswa biasa yang ingin
hidup mandiri berbekalkan usaha keluarga, anak kedua dari dua bersaudara
dan...”
Prilly
menoleh dengan cepat.
“Dan
anak manja!.”
Ali
dan Prilly saling bertatap dalam diam.
“Ya...
lalu sudikah kamu berkenalan dengan anak manja ini, cantik?.” Tanya Ali dengan
suara yang begitu lembut dan nyaris berbisik.
Prilly
masih diam dengan mata yang masih menatap Ali dengan begitu kesal.
“Hei
cantik? Ada yang salah?.” Tanya Ali lagi. Kemudian ia tersenyum pada gadis
dihadapannya ini, senyuman mematikan. “Tak ada yang salah dengan perkenalan
bukan?.”
Bersambung...
©SopiahNenden
No comments:
Post a Comment