Saturday, 23 May 2015

Beauty Bodyguard

1


Tak ada yang salah dengan perkenalan

Ketukan elegan berasal dari sebuah sepatu pantopel yang mahal terdengar menggema begitu mendominasi disetiap penjuru ruangan kala sang pemilik itu berjalan.
“Selamat pagi.”
Sapaan itu selalu terlontar pula dari beberapa orang yang berpapasan dengannya, dari mulai ia keluar dari kendaraan mewahnya hingga ia memasuki ruangannya.
“Jadwal saya?.”
“Hari ini dikantor akan sedikit santai, tapi nanti jam sembilan anda ada kuliah hingga sore nanti.”
Pemuda itu mengangguk, ia menghempaskan tubuhnya kemeja kerja kemudian melepaskan kacamata hitam yang sedari tadi memang masih menutupi mata elangnya. Ia menghela nafas.

“Kalian sudah bisa keluar dari ruangan saya.”
“Baik Boss! Kami permisi.”
Pemuda itu mengangguk kembali kemudian meraih ponselnya.
“Kak.”
“Hm.”
“Kontrol kantorku sementara.”
“Hm.”
“Kak.”
“Ali, Kakakmu ini juga sangatlah sibuk.”
“Yaudah, kalo gitu Kak Mila... gua kasih tau ke Papa.”
“Eits.... No!. Oke. Gua kontrol dari sini.”
Pemuda itu tersenyum puas. Cara itu memang tidak pernah salah. Ungkapnya dalam hati.
“Thank you Kakakku.”
“Iya.”

Pemuda itu bernama Aliando Syarief. Seorang milyarder muda yang begitu cerdas dan memiliki tingkat ketampanan yang luar biasa. Banyak yang mengakuinya, terlihat dari begitu banyaknya gadis yang begitu tertarik padanya bahkan banyak yang meminta dirinya untuk dijadikannya kekasih. Namun, entah kenapa tak ada satupun yang membuat hatinya tergugah. Baginya, karier adalah prioritas utamanya. Karena hanya itulah yang mampu membahagiakan kedua orangtuanya.

***

Bagaikan sebuah koin uang yang memuliki dua sisi berbeda namun masih tetap koin yang sama. Begitulah kata yang sekiranya pantas dilontarkan untuk Aliando Syarief. Kini ia keluar dari mobil mewahnya dengan pakaian yang berbeda, dengan gaya berbusana yang sangatlah berbeda dari penampilan sebelumnya. Seketika seluruh mata tertuju padanya.
“Ali.”
Ya, begitulah ia disapa. Ia menoleh dan ada beberapa gadis disana. Ia tersenyum kemudian melambaikan tangan ringan.
“Hai.”
Para gadis itupun menjerit. Ali tersenyum lagi kemudian melanjutkan perjalanan menuju kelasnya.
Tak banyak yang tahu bahwa dirinya seorang pengusaha, yang membesarkan nama keluarganya hingga menjadi sebuah perusahaan yang besar dan patut diperhitungkan, yang mereka tahu hanyalah Aliando Syarief, seorang pemuda keren dan tampan yang terlahir dikeluarga yang kayaraya.
Ali menaikan sebelah alisnya saat banyak sekali orang yang meneriakan namanya. Ada apa ini? apa gua secakep itu?

BRUUKKK!!!

Ali berbalik, tepat di belakang sebelahkanannya seorang lelaki bertubuh tegap tersungkur dengan sebilah belati ditangannya. Dihadapan lelaki itu berdiri seseorang yang sedang menggenggam sebuah helm. Lelaki itu mengerang keras saat tangannya yang menggenggam belati diinjak tanpa ampun oleh seseorang  itu dengan tangan yang mengacungkan helm kearah lelaki itu. Sesaat kemudian lelaki itu pergi berlari terbirit-birit. Ali tersenyum. Ia berjalan kearah seseorang yang telah menolongnya saat ia hendak menepuk bahunya bersamaan dengan itu orang itu berbalik. Ali mengerutkan keningnya saat bertatapan dengan orang itu. rambutnya kini terurai indah keluar dari jaket kulitnya.
“Loe... cewek?.”
Gadis itu menatap Ali dari ujung kaki hingga kepala. Ia tersenyum meremehkan kemudian berlalu tanpa ada niat untuk berucap sedikitpun.
Ali tersenyum tak percaya. Apa-apaan ini? ia mendengus kecil.

***

Gadis itu benar-benar mengganggu konsentrasinya, sepanjang perkuliahan ia tak fokus pada yang dikatakan oleh sang dosen. Karena untuk pertama kalinya, ia merasa diacuhkan seorang gadis, untuk pertama kalinya pula pikirannya sangat tersita oleh gadis itu.
Ali menghentikan mobilnya tepat di pintu utama kediamannya. Begitu ia memasuki ruang keluarga seorang wanita menghampirinya.
“Ali? sayang? Kamu udah pulang? Kenapa telpon Mama gak di angkat? Sms juga gak dibales. Kenapa? Kamu mau buat Mama jantungan hah?.”
Ali tersenyum kemudian menghela nafas, ia merangkul Sella sang Mama yang menatapnya penuh kekhawatiran dengan lembut.
“Ali kan kuliah Ma.”
“Mama dengar kamu ada yang mau nyerang sayang. Beneran itu? Mama khawatir sama kamu sayang.”
Ali mengedikan bahunya.
“Begitulah. Tapi gapapa kok Ma, tadi ada yang nolong Ali sebelum hal itu kejadian.”
“Siapa? Siapa Li orangnya? Mama sangat berterimakasih dia udah nolongin kamu.”
“Ali juga gak kenal Ma. Udah ya Ma, Ali gapapa kok.”

“Ali.”
Suara berat khas laki-laki memanggilnya. Ali berbalik kearah tangga, Ferly -Papanya- disana.
“Sebaiknya mulai sekarang kamu harus pakai bodyguard kamu kekampus. Identitas kamu mulai terbongkar. Musuh-musuh perusahaan kita mulai menyelidiki kamu.”
“Tapi Pa, gak lucu Ali kemana-mana diikutin terus sama cowok-cowok gede. Nanti dikiranya Ali apa coba? Udah ya Pa, Ma. Ini udah kita bahas dan Ali tetep gak mau. Lagipula Ali baik-baik ajakan?.”

“Tapi apa kata Papa kamu itu benar Li.”
Ali menatap Sella dengan tatapan sendu.
“Percaya sama Ali Ma, Ali gak akan kenapa-kenapa. Ali bisa jaga diri Ali sendiri.”
Beberapa saat Ali menatap Sella kemudian memeluknya sesaat.

***

Pagi itu Ali telah berada di kantornya, ia menengok ke arah sekertarisnya yang berdiri dan tersenyum kaku, tak seperti biasanya.
“Kenapa?.” Tanya Ali
“Didalam, ada tamu Boss.”
“Siapa?.”
“Err....”
Ali mengerutkan keningnya kemudian menghela nafas, ia menatap bingung sekertarisnya yang terlihat bingung itu, siapa lagi sih? Ali mendengus kesal kemudian beranjak keruangannya. Siapa lagi yang datang? Apa Papa masih saja mau menjodoh-jodohkanku? Atau bodyguard? Hhh... Papa... Saat membuka pintu ruangannya seseorang duduk membelakanginya di kursi kerjanya. Nampaknya dia seorang gadis garena rambutnya yang sebahu begitu rapih, dan di sebelah kirinya ada sebuah kepangan kecil.
“Ada urusan apa kesini?.”
Orang itu memutar kursi kerja Ali, kemudian tersenyum miring.
“Kasar ya loe.”
Ali mengerutkan keningnya, ia tersenyum lega kemudian menarik rambutnya yang masih rapih kebelakang.
“Fay.”

***

Ali melirik ke bangku pengemudi. Mendengus kesal.
“Sebenernya loe mau jadi asisten gua atau penguntit Papa gua sih? Gak usah ikut ke kampus juga kali.”
Fay, sahabat Ali yang memang sempat didaulat Ferly untuk menjadi pendamping hidupnya. Namun, keduanya yang enggan kemudian membuat ulah hingga perjodohan itu dibatalkan. Gadis itu mengedikkan bahunya.
“Sana belajar yang rajin. Gue mau jalan-jalan.”
Ali mendelik.
“Awas aja ya loe kalo mobil kesayangan gua lecet. Gua tipisin loe.”
“Alay loe. Sana keluar.”
“Sialan loe ngusir gua.” Umpat Ali.
Namun ia menurut juga keluar dari mobilnya. Kemudian menunggu Fay meninggalkan kampusnya barulah ia mulai melangkah menuju kelasnya.

“ALIANDOOOO AWAAAASSSS...”

Ali menengok kearah gerombolan gadis yang selalu menyapanya digerbang masuk kemudian menoleh kekirinya, sebuah mobil melaju kencang kearahnya. Tak ada yang ia lakukan, ia hanya diam menatap mobil itu. Hingga, tubuhnya terasa melayang ditarik hingga terjerembab di pinggir jalan, dengan seseorang yang berada diatasnya, memeluk kepalanya erat. Ali mendongak, orang itu juga menunduk. Keduanya bertatapan.
“Loe... lagi.”
Gadis itu dengan sigap berdiri, merapihkan pakaian dan rambutnya. Kemudian beranjak.
“Hey...” sahut Ali.
Gadis itu berhenti melangkah tanpa ada niat menoleh seincipun.
“Thanks ya, loe udah nyelametin gua lagi.”
Setelah mendengarkan ucapan Ali tersebut, gadis itu kemudian beranjak kembali tanpa ada niat berkata sedikitpun.
Ali tersenyum kecil, kemudian menghela nafas panjang. Ia terus menatap gadis yang menolongnya itu hingga menghilang dibalik gedung kampusnya, sungguh ia masih tak percaya dengan gadis itu, bagaimana mungkin dia bisa seberani itu menghadapi situasi yang begitu berbahaya dan bisa saja mempertaruhkan keselamatannya sendiri. kenapa dia rela nolongin gua? Apa dia suka sama gua? Tapi, kalo dia suka kenapa dia begitu dingin? Apa motif dia nolongin gua? Dan siapa dia? Siapa dia sebenarnya?.

***

“Gue rasa cewek itu suka sama loe Li. Masa iya sih dia rela nolongin loe begitu aja?.” Ucap Fay.
Dia berjalan kekursi dihadapan meja kerja Ali. sore hari itu Ali memang langsung kekantornya, karena perkulahannya memang tidaklah padat.
“Apa iya? Gua rasa mungkin dia cuma kasian. Buktinya dia gak nunjukin gejala-gejala suka sama gua.”
“Nahan gengsilah, naikin harga diri. Berarti dia cewek berkualitas. Kalo emang loe mau tau dia, ya loe cari tau tentang dia. Deketin dia, gue yakin loe bakalan dapetin jawaban sesuai apa yang loe tanyain sama gue. Setiap cewek itu beda Li.” Fay menghela nafas. “Gue bilang kayak gitu, belum berarti bener. Bisa aja sih dia cuma kasian sama loe. Gue juga belum liat tuh cewek kayak apa, yang pasti setiap cewek itu beda Li.” Fay menghela nafas lagi kemudian berdiri. “Gue pamit ya, nyokap gue baru mau pulang. Bye.”
Sepeninggal Fay, ia merenungkan setiap perkataan sahabatnya itu. meski awalnya ia mengira gadis itu menolong karena menyukainya, namun tidak semua orang seperti itu. benar apa kata Fay, setiap orang itu berbeda.
Ponsel Ali tiba-tiba berdering.

Dad’s Calling...

“Ya Pa...”
“Pulang sekarang, Papa mau kenalkan kamu dengan seseorang. Jangan buat dia menunggu. Secepatnya kamu datang.”
Ali mengerutkan keningnya, setelah Fay kejutan di pagi harinya, siapa lagi yang akan ditunjukkan Papa nya malam ini?
“Siapa Pa?.”
“Nanti juga kamu akan tahu. Cepat datang atau kamu akan menyesal.”
“Iya Pa, Ali pulang. Tunggu satu jam dari sekarang.”
“Oke. Hati-hati dijalannya.”
“Iya Pa. Bye Pa.”
Ali menghela nafas panjang. Ia menyandarkan punggungnya sejenak. Kenapa hidupnya ini penuh dengan kejutan?

***

Ali masuk kedalam rumahnya dengan malas, penampilannya sudah tidak karuan lagi. Dasi yang sudah dilonggarkan, jas yang sudah disampirkan di pundak. Didalam sana, terdengar sebuah percakapan antara orangtuanya dengan seorang gadis. Ya Tuhan... apa Papa gak bosen jodoh-jodohin gua? Ali menghela nafas lelah.
“Ali pulang.” Ucapnya pelan.
“Ali sini dulu sayang.”
Ali menghentikan langkahnya, tanpa minat ia menoleh kearah Sella. Namun kemudian matanya terasa diguyur air dingin, menjadi sangat segar saat melihat gadis yang ada disamping Sella. Ia tersenyum dalam hati. Apa dia bener-bener dijodohin sama gua? Haha kalo jodoh emang gak kemana. Ia tersenyum kecil sambil berjalan kearah orangtuanya.
“Ada apa ini? dijodohkan lagi?.”
Orangtua Ali terkekeh kecil. sementara gadis yang berada disamping Sella hanya menatap Ali tanpa minat.
“Kenapa kalian malah tersenyum?.”
Ferly menepuk pundak Ali.
“Sepertinya ini pertama kalinya kamu tertarik pada seorang gadis Li. Tapi sayang kali ini bukan kami jodohkan.”
Ali menatap Ferly dengan tatapan heran, seakan bertanya, terus?
“Dia akan menjadi bodyguard kamu. Papa udah cari disetiap agensi mencari bodyguard wanita terbaik buat jagain kamu. soalnya kamu gak mau dijaga sama cowok yang gede-gede. Dan akhirnya Papa nemuin dia, disalah satu agensi yang kebetulan teman dari teman Papa.”
Ali mengangguk-anggukan kepalanya, keduanya bertatapan begitu intens dengan maksud yang berbeda.
“Boleh, kenalin saya Aliando, panggil aja Ali.” ucapnya dengan tangan terulur kearah gadis itu.
Gadis itu membalas uluran tangan Ali dengan anggun.
“Prilly.”
Ya Tuhan... suaranya begitu lembut. Puji Ali membatin.
“khm... lepas Li.” Ucap Sella menggoda.
“Eh... Sorry. Oke kalo gitu ini kartu nama saya, saya harap anda menghubungi saya secepatnya.” Ia beralih kearah orangtuanya. “Oke Ma, Pa, selesaikan perkenalannya? Ali mau kekamar dulu sebentar. See you Prilly.”
Begitu berbalik, meninggalkan ruangan itu Ali tersenyum. Ia serasa memenangkan jakpot yang luar biasa, ini lebih membahagiakan dari mendapatkan tender yang besar. Guman Ali dalam hati, ia tersenyum lagi kemudian menghela nafas panjang.

***

Ali mendengus kesal, ia meraih ponselnya yang tidak ada tanda-tanda kehidupan. Memang benar sekali, berharap adalah titik awal dimana ia harus menerima sebuah kekecewaan. Ia meraih pakaian dari dalam lemari kemudian meraih gagang telepon.
“Bi, makan malamnya antarkan saja kekamar. Kalo Mama nanya, bilang aja aku sibuk.” Setengah kesal ia meletakkan kembali gagang telepon itu tanpa ada minat untuk mendengarkan suara balasan dari pembantu dirumahnya itu.
Ali menarik nafas panjang kemudian menghembuskannya perlahan, nafasnya masih memburu. Kenapa gua jadi gini? Kenapa gua ngerasa kecewa dia gak ngehubungin gua? Ali mengerang kesal.
“Ada apa sama gua ini?.”
Tiba-tiba ponselnya berdering, menandakan sebuah panggilan masuk. Ali dengan segera meraih ponselnya dengan sebuah senyuman terukir diwajah tampannya. Namun, sedetik kemudian ia mendengus kesal lagi.

Fay’s Calling...

“Ada apa sih? Bisa gak sih loe gak nelpon sekarang? Ganggu gua banget loe.” Ucap Ali begitu saja.
“Loe gak bisa lebih manis lagi ya sama gue?” bentak dari sebrang dengan suara yang agak bergetar. Ali melupakan sesuatu, gadis itu tidak suka dibentak. Ali mengerang kesal.
“Sorry, gua gak sengaja, gua cuma lagi kesel.”
“Ya loe juga gak seharusnya gitu sama gue, emang gue tau apa tentang masalah loe? Loe aneh Li, semenjak kita putus loe kenapa sih? Kita itu sahabatan Li, kenapa loe bisa berubah kayak gini sih semenjak perjodohan kita selesai? Kenapa?.”
“Fay... sorry, maaf.”
“Udahlah Li, gue muak dengerin loe lagi. Kalo loe udah gak mau gue ganggu loe, oke fine! Gue gak akan pernah hubungin loe lagi.”
“Fay... Fay!.”

Tok tok tok...

“Masuk Bi, simpen makanannya dimeja aja.” Setelah mengucapkan itu Ali berjalan kearah balkon kamarnya dengan tangan yang sibuk mengetikan sesuatu. Ia mengerang kesal kemudian mendial nomor gadis yang baru saja kesal padanya.

“Fay...” ucap Ali begitu panggilannya diangkat.
“Fay... maaf.”
“Nak Ali?.”
Ali mengerutkan keningnya.
“Tante Aya?.”
“Kalian kenapa lagi? Tante kira kalian baik-baik saja setelah perjodohan itu selesai.”
“Tant, Fay nya ada? Ali perlu bicara sama Fay.”
“Sebentar...”

“Fay, ini Ali mau bicara.”
“Gak Ma. Fay gak mau.”
“Kamu jangan seperti anak kecil Fay. Ali ingin berbicara baik-baik denganmu.”
“Enggak Ma, kalo dia emang mau ngomong baik-baik sama aku seharusnya dia datang kesini minta maaf atas perbuatannya! Bukan seperti itu.”
“FAY!.”
“Lihat? Sekarang Mama malah ngebentak Fay demi belain dia.”
“Fay, gak seharusnya kamu seperti itu sayang.”

“Tante?.”
“Iya Nak Ali?.”
Ali menghela nafas panjang. “Gapapa Fay kalo gak mau bicara.”
“Maafkan Fay ya Nak.”
“Iya Tante, tidak masalah. Terimakasih sebelumnya Tant, salam buat Om ya. selamat malam.”
Akhirnya Ali menutup sambungan teleponnya. Ia menghela nafas panjang. Kenapa ia melupakan bagian dimana Fay tidak suka dibentak? Kenapa ia bisa seceroboh ini? Ali mengerang lagi dengan keras kemudian mengacak-acak rambutnya, dengan kesal ia menyambar jaket dan kunci mobilnya, tanpa ada niat mengganti celana pendeknya terlebih dahulu.
Bersamaan dengan Ali keluar dari kamarnya, Prilly hendak memasuki kamar disebelah kamar Ali. Ali mendengus sebal.
“Kenapa belum menghubungiku juga?.” Tanyanya kesal.
Prilly mengedikkan bahunya.
“Aku pikir tidak perlu, toh kita tinggal satu rumah.”
“Terserah!.” Ucap Ali dengan penuh tekanan. Ia terlanjur kesal dengan gadis itu, ia juga semakin kesal saat ingat Fay masih marah padanya. Prilly belum mengerti satu hal, bahwa ia tak suka di bantah.
“Kau mau kemana?.” Tanya Prilly.
“Bukan urusanmu.” Jawab Ali.
Prilly mengejar Ali yang setengah berlari keluar dari rumahnya. Ia menghela nafas panjang. Sepertinya menjadi bodyguard Ali akan sangat melelahkan baginya. Prilly menghentikan langkahnya sesaat sebelum ia menabrak punggung Ali yang juga menghentikan langkahnya. Ali berbalik kearahnya.
“Sebaiknya biarkan aku pergi sendiri.”
“Tidak bisa, ini sudah menjadi tugasku.” Ucap Prilly begitu tegas.

“Hey! Kalian ada apa?.” Tanya Sella, ia terlihat berjalan begitu anggun menghampiri Ali dan Prilly yang sedang terlibat dalam sebuah perdebatan.
“Ali mau pergi dan Ali gak mau diikuti dia.”
“Tapi Li...”
“Ma... ngertiin Ali dulu untuk malam ini. Fay marah, dan dia akan lebih marah kalo aku bawa orang lain yang tidak dia kenal.”
“Li...”
“Ali baik-baik aja Ma, untuk malam ini saja. Biarkan Ali sendiri dulu.”
Ali menghela nafas panjang, ia meraih tangan Sella memberikan ketenangan.
“Fay marah, dan Ali gak bisa dalam suasana seperti ini Ma.”
“Li... kamu masih menyayangi Fay?.” Tanya Sella begitu pelan.
Ali menatap Sella sejenak, ia menghela nafas panjang.
“Ali... gak tau. Sebaiknya Ali pergi sekarang.”

Sella dan Prilly menatap kepergian Ali tanpa berniat untuk mencegahnya.
“Tente, apa perlu Prilly ikutin Ali pakai mobil lain?.”
Sella menggelengkan kecil kepalanya, ia menghela nafas panjang. Kemudian merangkul pundak Prilly agar berjalan beriringan dengannya.
“Fay itu tunangan Ali, meskipun mereka bersikeras untuk tidak melanjutkannya tapi Tante tau, mereka belum saling mengembalikan cincin tunangan mereka. Tante gak tau seberapa jauh hubungan mereka sekarang karena Fay baru kembali setelah menyelesaikan pendidikannya diluar negeri, sampai barusan. Tante sendiri kaget dia ingin menemui Fay. Tante kira dia sudah tidak berhubungan secara intens lagi dengan Fay.”
Prilly mengangguk anggukan kepalanya. Ia menghela nafas panjang, tidak tau harus bagaimana menanggapinya, bukan karena ia tidak peduli tapi lebih karena ia tidak tau harus menanggapinya seperti apa.
“Apa tadi saat kamu mengantarkan makanan kekamarnya terjadi sesuatu?.” Tanya Sella seraya menatap Prilly dengan lembut.
Prilly menghela nafas panjang. Ingatannya kembali pada beberapa menit yang lalu saat ia berdiri didepan pintu kamar Ali untuk memberikan makanan yang ia pesan. Memang ia merasa dongkol sekali, disini ia menjadi bodyguard bukan pembantu.

“Ada apa sih? Bisa gak sih loe gak nelpon sekarang? Ganggu gua banget loe.”

Prilly mengurungkan niatnya untuk mengetuk pintu, ia menimbang-nimbang. Apakah ini saat yang tepat? Ia menghela nafas sekali lagi ia ragu mengetuk pintu. Namun akhirnya ia mengetuk pintu itu.

“Masuk Bi, simpen makanannya dimeja aja.”

Mendengar sahutan itu Prilly masuk dengan wajah kesal. Bi! Bi! Bi! Dia kira gue pembantu apa? Seenak jidatnya aja loe!.

“Fay... Fay... Maaf.”

Prilly menggelengkan kepalanya pelan kemudian beranjak pergi. Sepertinya Boss nya itu sedang menggalau.

“Prilly.”
Prilly kembali kepada kesadarannya setelah melamun cukup lama. Ia tersenyum pada Sella sekilas.
“Sepertinya hanya ada kesalah fahaman saja Tante.”
Sella tersenyum ringan, lalu tanpa rasa canggung ia merangkul pundak Prilly dengan begitu sayang.
“Tante senang dengan ketenangan kamu. kamu terlihat begitu dewasa. Jika kamu datang lebih awal mungkin tante akan menjodohkan kamu dengan Ali, tapi Papanya Ali menginginkan terlebih dahulu Fay menjadi menantu dirumah ini.”
Prilly kembali tersenyum, memangnya siapa tante yang mau sama cowok seperti putera mu itu? so cakep! Tukang tebar pesona! Dia lebay sampe harus memakai bodyguard! Rutuk Prilly dalam hati.
“Dari dulu Tante berharap punya anak perempuan. Tante senang akhirnya ada perempuan lain ditempat ini selain tante. Bisa diajak curhat, jalan-jalan dan shopping. Ya walau tugasmu bukan itu.”
Prilly tersenyum lembut.
“Gapapa tante, Prilly seneng kalo tante seneng. Kita bisa berjalan-jalan nanti kalo Ali tidak berniat pergi kemana-mana.”
Keduanya saling melemparkan sebuah senyuman. Namun keakraban mereka berakhir saat kedatangan seorang tamu dengan membawa berpuluh-puluh pakaian.
“Hai Mom. Aku kaget sekali mendengar agar aku membawakan seluruh koleksi pakaian anak muda ku.”
Sella tersenyum kecil, ia menarik Prilly untuk mendekat kearah Milla.
“Ini untuk anggota keluarga baruku. Prilly kenalin ini desainer langganan tante, Mila. dia membawakan baju-baju untukmu. Segeralah coba.”
Prilly membulatkan matanya.
“Tante tapi ini...”
“Ali gak akan pernah mau pergi denganmu jika kamu memakai pakaian hitam-hitam seperti itu sayang. Segeralah pakai, sekalian dengan sepatu-sepatunya juga.”
Tanpa bantahan Prilly beranjak dengan membawa satu persatu pakaian itu untuk ia coba.

***

Jam 7 pagi, Ali baru kembali kerumahnya. Ia masih mengenakan pakaian yang sama. Raut wajah pemuda tampan itu masih saja sendu.
“Li, kamu baru pulang sayang?.”
Ali menghela nafas panjang kemudian membantingkan tubuhnya keatas sofa yang tak jauh dari meja makan.
“Iya Ma.”
Sella mendekati putera kesayangannya itu, ia mengusap kepala sang jagoan dengan lembut, sarat akan kasih sayang.
“Ada apa? Kenapa saat pulang wajahmu malah semakin ditekuk? Kenapa sama Fay?.”
Ali menghela nafas kembali kemudian menatap Mamanya.
“Ali bingung Ma. Ali harus gimana?.” Ali mengambil nafas sejenak. “Om Araf meminta kepastian hubungan Ali dengan Fay.”
“Lalu bagaimana jawaban kamu sayang?.”
“Ali bilang kami lebih nyaman bersahabat. Tapi Om Araf masih tidak percaya karena Ali bela-belain dateng untuk minta maaf sama Fay semalem.” Ali kembali menghela nafas. “Ali gak bisa Ma lanjutin pertunangan itu, Ali udah bilang. Tapi Om Araf malah menyangka Ali memiliki kekasih baru.”
Sella menghela nafas dengan senyuman cantiknya, berusaha membuat puteranya itu tenang.
“Yaudah, kamu gak usah murung gitu ah. Mama yakin semuanya akan ada jalan keluarnya yang lebih baik.”

Sebuah ketukan dari sebuah sepatu menghentikan kegiatan Ali dan Mamanya, keduanya menoleh kearah sumber suara, kearah pintu dapur. Prilly keluar dari sana dengan menggunakan pakaian yang telah rapih dibalik apron bunga-bunga itu. sepatu tak kalah cantik pun membingkai kaki indah itu.
“Makanan udah siap.”
Sella melirik Ali yang tak berkedip menatap Prilly yang berpenampilan sangat berbeda dari malam tadi. Dia telihat lebih anggun dengan wedges dan gaun berwarna putihnya.
“Cantik.” Guman Ali hampir berbisik namun masih terdengar oleh Mamanya hingga membuat Sella mau tak mau tersenyum tipis.
“Cantik ya Li?.” Bisik Sella tepat ditelinga Ali.
Ali mengerjabkan matanya sesaat, salah tingkah.
“Err... Ma, Ali... Ali mandi dulu siap-siap ke kantor.” Ucap Ali kemudian beranjak pergi.

Prilly mengerutkan keningnya melihat tingkah Ali, ia beralih menatap Sella, seraya bertanya dengan begitu anehnya.
“Ali kenapa tante?.”
Sella terkekeh kecil kemudian membantu Prilly menyiapkan sarapan untuk mereka.
“Tidak ada apa-apa. Mungkin, dia sedikit terkejut.” Ucapnya diiringi dengan kedipan mata bergurau.

***

Seluruh mata tertuju pada gadis yang keluar dari mobil yang sama bersama sang pemilik kantor, seluruh pegawai yang melihatnya berhenti dari aktifitas  hanya untuk melihat seseorang yang bersama Boss mereka itu. Selama ini Boss mereka itu tak pernah membawa perempuan kecuali Mamanya dan Fay. Dan sekarang Boss tampan itu membawa seorang gadis yang begitu cantik rupawan. Sehingga mau tak mau membuat suasana menjadi gaduh.
“Pagi Boss!.”
Sapaan itu terdengar berulang dari para karyawannya, Ali hanya mengganggukan kepalanya saja sambil berjalan berdampingan dengan Prilly yang terkesan tidak peduli dengan sapaan itu.
Keduanya kini telah memasuki ruangan Ali, Ali segera melirik Prilly yang kini duduk di sofa tak jauh darinya.
“Kenapa kamu bersikap seperti itu?.”
Prilly diam kemudian ia melirik ke arah Ali.
“Memangnya aku harus seperti apa?.”
“Membalas sapaan mereka, mungkin.”
“Mereka tidak menyapaku.”
Ali mengedikkan bahunya, ia duduk dimeja kerjanya membuka beberapa dokumen yang berada di mejanya. Namun hal itu tak berlangsung lama, ia segera mengalihkan pandangannya pada Prilly yang terlihat sibuk membaca majalah bisnis yang berada di meja itu. ia menatap lekat gadis itu. gadis yang menarik.
“Masih belum puas memandangi wajah cantikku?.” Ucap Prilly tanpa menoleh ke arah Ali.
Ali menaikan satu alisnya sambil tersenyum simpul.
“Sepertinya kamu sudah cukup terpesona dengan pesonaku. BOSS!.” Prilly berucap seraya menoleh kearah Ali.
Ali menghela nafas panjang dengan senyuman yang ia berikan pada Prilly.
“Ya, aku memang sudah terpesona olehmu.”
Prilly terpaku sesaat, namun kemudian tersenyum masam.
“Aku sudah tak heran lagi.” Ucapnya sambil berdiri.
“Kamu mau kemana?.”
“Ngambil minum.”
“Gak usah, biar nanti OB yang nganterin, kamu duduk aja disini.” Ali berucap seraya meraih gagang telepon. Prilly menghela nafas, gagal sudah caranya menghindari boss tampannya itu. fokus Prilly fokus! Loe disini kerja! Inget meskipun dia cakep tapi dia bukan tipe loe! Dia cuma cowok rese yang manja! Ucap Prilly membatin.
“Prill...”
“Prilly?.”
“Hey Prilly!.”
“Eh...” Prilly menoleh kearah Ali. “Ya. kenapa?.”
Ali mengerutkan keningnya. “Kamu ngelamun?.”
“Ah... enggak.”
Ali mengerlingkan matanya jahil, entah kenapa sifat yang dulu dominan dalam dirinya itu kini mulai bangkit kembali.
“Karena kamu bohong sebagai hukumannya kamu harus kabulin tiga permintaan aku.”
Prilly terjengkat, ia menoleh kearah Ali dengan cepat.
“Kamu kira aku Jin dari dalam botol? Enggak! Aku gak mau!.”
Dalam hati Ali tersenyum puas dengan tanggapan Prilly. Sesuai dengan apa yang ia prediksikan. Ia berdehem kecil kemudian berjalan dan duduk disamping Prilly.
Prilly menatap lurus kedepan dengan tangan yang dilipat di dada dan dengan kaki kanan yang ditumpangkan ke kaki kiri. Menatap boss nya itu sama saja mengantarkannya terjatuh pada lubang pesonanya.
“Permintaan pertama, aku mau perkenalan kita secara resmi dengan menyebutkan nama lengkap dan tentunya nomor ponselmu yang harus ada dalam kontak ponselku.” Ali mengulurkan tangannya. “Kenalin Aliando Syarief. Aku mahasiswa biasa yang ingin hidup mandiri berbekalkan usaha keluarga, anak kedua dari dua bersaudara dan...”
Prilly menoleh dengan cepat.
“Dan anak manja!.”
Ali dan Prilly saling bertatap dalam diam.
“Ya... lalu sudikah kamu berkenalan dengan anak manja ini, cantik?.” Tanya Ali dengan suara yang begitu lembut dan nyaris berbisik.
Prilly masih diam dengan mata yang masih menatap Ali dengan begitu kesal.
“Hei cantik? Ada yang salah?.” Tanya Ali lagi. Kemudian ia tersenyum pada gadis dihadapannya ini, senyuman mematikan. “Tak ada yang salah dengan perkenalan bukan?.”


Bersambung...

©SopiahNenden

No comments:

Post a Comment