24 Lemparan Cinta Untuk Ali
Berawal dari sebuah kebencian
yang membuahkan cinta.
Benci dan cinta itu beda tipis,
Benarkah?
Cast:
Aliando Syarief
Prilly Latuconsina
Seorang gadis berjalan dengan begitu santai
menyusuri koridor sekolahnya, gadis itu menatap lurus kedepan seakan tak
berminat melirik kekanan maupun kekirinya. Sementara tanpa gadis itu sadari,
seluruh pandangan tertuju padanya. Tak terkecuali. Gadis itu berhenti tepat di
depan lapangan dimana para murid baru sedang melakukan upacara pembukaan Masa
Orientasi Siswa. Dilehernya terkalung sebuah tanda kepanitiaan atasnama Prilly
Latuconsina. Gadis itu tersenyum menatap seluruh siswa baru.
“Prilly...”
Gadis bernama Prilly itu melambaikan tangan
pada seorang gadis dengan rambut yang kuncir kuda yang sedang berjalan
kearahnya.
“Pelanggaran apalagi yang loe buat Agni?
Tumben itu jas gak ketinggalan.”
Gadis yang disapa Agni itu terkekeh
kemudian merangkul pundak Prilly. Ia mengangkat sedikit sepatunya kearah depan.
“Gue lupa malah pake sepatu ini. haha...”
“Agni... Agni... loe tuh anak berprestasi
disini, tapi kapan loe mau rapih sekolah hm? Untung ya loe pinter jadi gak
dikeluarin.”
“Aduhh Prilly Latuconsina yang kayak barbie
hidup. Udah ya jangan nasehatin gue lagi. Gue baru aja dinasehatin sama guru
BP. Lagian kalo lupa ya gimana? Orang kebiasaan. Lagipula gini-gini gue pernah
rapih kok.”
Prilly memutar bola matanya.
“Iya rapih. Hari Senin doang. Udah ah...
cabut yuk. Serem gue disini, mereka kayak mau makan gue.” Ucap Prilly sambil
menoleh kearah barisan siswa dilapangan.
“Gara-gara mereka atau Mr. Embem loe itu?.”
Prilly memutar bola matanya, lalu menatap
tajam ke arah Agni.
“Cowok sok kecakepan yang tukang tebar
pesona itu? Iuhhh...”
Agni berdecak. Ia melipat tangannya didada
kemudian menatap Prilly dan pemuda yang dimaksud itu bergantian hingga beberapa
kali. Ia mengamati Prilly yang menatap ke arah lapangan lalu pada pemuda itu
yang duduk tak jauh dari mereka berdiri.
“Gue heran deh. Kalian udah dua tahun
sekelas dan sekarang sekelas lagi, tapi kenapa gak pernah akur sih? Ya...
maksudnya kok loe bisa gitu benci sama dia lama-lama? Ini udah dua tahun lho...
kalian juga pernah dinobatin jadi The Best Couple of...”
“Shut Up Agnia Marta! Loe mau gue marah
sama loe dan gak gue kasih tebengan atau diem?.”
Prilly menatap sekilas sahabatnya itu
dengan jengkel. Sementara Agni malah terkekeh kecil.
“Ih galak banget sih.”
Prilly mengerutkan keningnya, sepertinya ada yang janggal... ia
berbalik ke arah Agni.
“Eh tunggu... tunggu... kata loe tadi gue
sekelas lagi sama dia?.”
Agni mengangguk sekali dengan santai dan
cukup membuat Prilly mendengus kesal.
“Sial banget sih hidup gue...”
Umpat Prilly kemudian berlalu dengan cepat
tanpa mengindahkan keberadaan Agni.
“Kemana Prill?.”
“Papan pengumuman. Kali aja loe jailin
gue.”
Agni terkekeh kemudian berdecak.
“Prilly... Prilly... padahal seluruh isi
sekolah ini ngejer-ngejer dia. Malah nembak duluan saking tertariknya. Kenapa
loe malah kayak gini?. Hhh... dasar.”
“Agni.”
Agni berbalik.
“Eh Li... kenapa?.”
Pemuda yang tadi duduk itu berjalan ke arah
Agni dengan senyuman diwajahnya.
Ini
cowok bener apa kata Prilly tukang tebar pesona atau emang mempesona? Hhh... Agni membatin sambil mengalihkan pandangannya, namun
kemudian ia menoleh ia menatap pemuda itu dengan penuh tanya.
“Loe siapin buat nanti siang promosi Basket
sama Prilly juga.”
“Kok gue? Kan udah ada junior. Kita udah
kelas 12 ini.”
“Siapin aja.”
Agni mengangkat bahunya acuh. Kemudian
menatap pemuda itu lagi.
“Udah?.”
“Udah.”
“Yaudah.” Agni berbalik.
“Loe sama aja ya sama temen loe itu.”
Agni menarik ujung bibirnya kemudian
berbalik sambil tersenyum pada pemuda itu.
“Thanks. Gue anggap itu pujian.” Setelah
mengatakan itu Agni berlalu meninggalkan Ali.
Aliando Syarief yang akrab disapa Ali itu
tersenyum masam. Hanya dua gadis itu yang selalu acuh padanya, cuek padanya.
Agni masih mendingan, kalau Prilly? Dia sangat jutek, sangat cuek dan sangat
acuh padanya. Gadis itu seperti tak pernah menganggap keberadaannya sedikitpun.
saat semua gadis berlomba mengantri ingin menjadi pacarnya, dia dideretan
terakhirpun dia tak ada, dalam artian dia sama sekali tidak tertarik padanya.
Catat dengan tinta tebal tidak tertarik
padanya sedikitpun!.
***
Prilly dan Agni serta beberapa anak lainnya
melakukan peregangan dilapangan indor. sesekali Prilly mengumpat kesal, kenapa
dirinya harus ikut serta juga. Rencana siang ini shopping malah harus promosi
seperti ini.
Prilly mendelik kearah lapangan dimana Ali
sedang melakukan sesi latihan juga bersama yang lainnya.
“Tu cowok emang nyebelin banget. Ngerusak
kebahagiaan orang aja bisanya.”
Agni menggelengkan kepalanya.
“Daripada loe ngegerutu gitu mendingan loe
minum deh Prill, biar otak sama hati loe adem.”
“Gak usahlah.” Ucap Prilly sambil meraih
satu buah bola basket dan menggiringnya kelapangan.
Bersamaan dengan itu pula, seluruh siswa
yang mengikuti orientasi masuk ke lapangan itu. sesekali terdengar bisikan
kekaguman atas permainan yang mereka lihat dilapangan.
“Selamat siang semuanya... ini basecamp nya
anak-anak basket. Kalian diharapkan tenang selagi melihat promosi dari kami.
Yes! Kalian bisa lihat disini terdapat dua lapangan ya... oiya capten team
basket putera maupun puteri masih ada ditangan kelas 12 yaitu di Best Couple
kita. Aliando Syarief dan Prilly Latucinsina.”
Bagus...
itu siapa sih gue lupa namanya! Ngajakin gue perang ya tu anak. Pake
sebut-sebut itu segala... ucap Prilly membatin.
Sementara itu tanpa Prilly sadari, Ali
meliriknya sekilas. Ia terlihat menghela nafas panjang.
“Meskipun kalian di ekskul basket kalian
bisa ikut even-even yang diadakan sekolah yang biasanya digelar antar ekskul
dan sebagai buktinya ya capten-capten kita ini yang berhasil mengalahkan ekskul
dance yang biasanya mendapatkan gelar The Best Couple. Oke... untuk hal lainnya
kalian bisa lihat di brosur... selanjutnya kita lihat perform dari para
atlet-atlet basket kita.”
Team basket Putera dan Puteri berpisah di
lapangan yang berbeda. Ali berjalan kelapangan yang berada di sebelah kanan
bersama teamnya. Ia mulai mendrible bola kemudian mengover dan shot! Masuk!.
Seakan tak mau kalah, team puteripun
memberikan penampilan yang luar biasa. Prilly tersenyum pada Agni, ia
mengoverkan bolanya pada Agni.
“Prilly... Awas....”
Prilly berbalik saat mendengar teriakan
Ali.
“AAAAAAAAAA....” teriak penonton.
Duk!
Sebuah bola tepat mengenai pipi Prilly.
“Aw... ah...”
Prilly meringis memegangi pipinya.
Ali mendekat.
“Prill... sorry... gue gak sengaja. Gue
anter ke UKS.”
Tanpa basa-basi ia berjalan keluar
lapangan. Pipinya nyutnyutan ditambah kepalanya mulai pening. Ia berhenti
kemudian berbalik menatap Ali tajam saat ia rasa disekitarnya sepi.
“Ini ketiga kalinya loe buat gue malu!
Belum puas loe buat gue malu 2 tahun lalu? Satu tahun lalu hah?! Sampai loe
lempar bola itu kemuka gue? Gue yang dua kemaren masih bisa diem ya... gue
nahan. Tapi ini? loe keterlaluan! Loe gak liat semua anak baru liatin gue?!
Puas loe sekarang hah?! Puas!.”
“Gue gak sengaja, gue bener-bener gak
sengaja Prilly... lagian gue udah minta maafkan? Lagipula kapan gue buat loe
malu? Selama ini kita ngobrol aja gak pernah!.”
“Gampang ya loe bilang gak sengaja dan maaf.
Iya! Loe lupa karena loe gak pernah ngerasa salah!!! Loe lupa karena loe anggap
kalo loe paling bener!!! Jangan loe pikir gue lupa ya!!! dan setelah ini loe
pikir bisa buat gue gak malu lagi hm? Loe pikir gue bakalan lupain ini gitu aja
setelah loe minta maaf?! Enggak!!! Dan...”
Prilly kembali meringis memegangi pipi dan
kepalanya.
“Oke. Apa yang bisa buat loe maafin gue?
Apapun akan gue lakukan!!!.”
Prilly menatap Ali dengan tatapan tajam
dengan sesekali meringis memegangi kepalanya.
“Gue benci banget sama loe!.”
Setelah mengatakan itu, semuanya gelap.
Ali segera meraih tubuh Prilly sebelum
terjatuh.
“Prilly...” ucap Ali khawatir kemudian
mengangkat tubuh Prilly menuju UKS.
***
Prilly membuka matanya perlahan, pipinya
masih saja terasa berat. Ia mendudukan dirinya.
“Prilly... loe udah sadar? Akhirnya... ini
udah sore banget.”
“Agni...”
Prilly meringis pelan. Sementara Agni
menuntun Prilly untuk mendudukan dirinya. Ia menatap Prilly kahatir, karena
sahabatnya itu masih saja beberapa kali meringis dan memegangi kepalanya.
“Prilly... mana kunci mobil loe? Biar gue
yang nyetir.”
“Ambil ditas.”
Agni bergegas mengambil kunci mobil dari
tas milik Prilly kemudian membantu Prilly memakai sepatunya.
“Prill... loe belum makan ya? sorry ya gue
lupa ingetin loe makan.”
“Gak... gapapa... gue sendiri aja lupa.”
Agni menuntun Prilly turun dari bangsal
itu.
“Hati-hati.”
Prilly menghela nafas panjang, ia menatap
sekelilingnya. Hah... untungkan gue gak
berharap dia bener-bener mau lakuin apapun demi gue? Semua cowok emang penebar
janji palsu!. Batin Prilly, ia menghela nafas kembali kemudian berlalu
bersama Agni yang menuntunnya dengan begitu sabar.
Sementara disudut lain, Ali memperhatikan
Prilly yang sesekali masih meringis. ia menghela nafas panjang. Maaf Prilly... kenapa sih semuanya malah
tambah rumit seperti ini? apa yang harus gue lakukan?.
***
Esoknya Prilly memutuskan untuk tidak
berangkat sekolah. Pipinya yang putih bersih kini ternoda oleh memar kecil.
“Prilly?
Loe gak masuk sekarang?.”
“Enggak Ni. Ya kali muka gue babak belur
kayak gini masuk sekolah.”
“Yaudah
cantik... GWS. Entar gue usahain kerumah loe ya. bye-bye.”
“Terserah loe deh. Oke bye. Oiya kalo ada
apa-apa kabarin gue.”
“Beres...
kompres lagi sana muka loe.”
“Daritadi juga lagi di kompres keless.
Yaudah katanya tadi Bye. Dah... bye.”
Dari ujung telepon sana Agni terkekeh
kecil.
“Oke
barbie sayang... bye.”
Prilly menyimpan ponselnya, sementara
tangan kanannya terus mengompres bagian pipinya yang memar. Sesekali ia
meringis kecil. Ali... ini bener-bener
keterlaluan!!!. Arghhh....
“Prilly...”
“Iya Ma.”
Mama Prilly masuk dengan sebuah nampan
berisi makanan, beliau berjalan mendekati Prilly dengan senyuman yang begitu
menyejukkan.
“Nanti malam, kita makan malam bersama
keluarga kolega Papa. Kamu harus ikut.” Ucap Mama sambil menaruh nampan itu di
nakas.
“Tapi Ma... ini gimana?.” Tunjuk Prilly
pada pipinya.
“Bisa ditutup sama plester. Kan kecil
juga.”
Prilly menghela nafas panjang. Dalam
sejarah hidupnya, meskipun ia nakal tapi ia tak pernah melawan orangtua
terutama Mamanya, tidak akan pernah melakukan hal seperti itu. Prilly
tersenyum.
“Baik Ma...”
Mama tersenyum, beliau mengelus rambut
Prilly dengan sayang.
“Yaudah. Sekarang kamu makan ya...”
Prilly mengangguk. Sepeninggal Mamanya Prilly
langsung menyantap makanan kesukaan buatan Mamanya itu. dalam kamusnya ada
salah satu cita-cita yang harus ia capai. Ia tidak boleh mengecewakan
orangtuanya, ia tidak boleh mengecewakan Mamanya sekali pun.
Apapun
yang bikin Mama bahagia, Prilly akan lakukan. Karena itu pasti yang terbaik
untuk Prilly.
***
Ali masih duduk didalam mobilnya, sementara
pintunya sengaja dibuka. Ia menghela nafas panjang sambil sesekali melihat
kearah gerbang yang sudah tertutup. Apa
Prilly gak masuk?
Ali meraih tas nya, kemudian beranjak
setelah mengunci mobilnya. Apa Prilly
sakit? Sebenernya Prilly kenapa? Kenapa dia bisa benci banget sama gue?
Duk!
“Eh... sorry Li.”
“Agni... Eh tunggu.”
Agni kembali berbalik.
“Apa? Duh entar aja ya ngomongnya...
meskipun gue gak pernah rapih seenggaknya gue gak pernah telat. Dan sekarang
gue harus pergi karena gue gak mau telat.”
“Loe ngomel juga malah tambah lama. Prilly
mana?.”
Agni menghela nafas.
“Sakit.”
Setelah mengatakan itu Agni berlalu begitu
saja tanpa mengindahkan Ali yang masih diam terpaku ditempatnya.
Prilly
sakit? Apa luka kemaren parah? Ali
menoleh kekanan dan kekiri kemudian menghela nafas. gue harus cari tau dimana alamat rumah Prilly. Gue harus minta maaf
lagi.
***
Axle’s
HotNews
The
Best Couple of the years terpergoki salah satu kamera reporter Axle bersitegang
disalah satu lorong sekolah (04/8). Nampaknya hubungan antara pasangan terbaik
kita ini memang tidak baik-baik saja. Apakah sebenarnya yang terjadi pada
mereka? apakah hubungan mereka sedang bermasalah? Ataukah mereka telah menjalin
hubungan yang sebenarnya dan sedang dalam masalah? Sayangnya, meskipun kami
mengambil beberapa gambar, kami tidak dapat menyimak perbincangan keduanya.
Berikut
ini cuplikan beberapa gambar yang diambil oleh lensa kamera team kami.
“WHAT?!”
“Ini mungkin Ali belum liat. Gue langsung
cabut itu dari papan hotnews. Gue tau
loe pasti marah kalo seantero sekolah heboh gara-gara ini.”
Prilly menghembuskan nafas lelah. Ia
melemparkan kertas ditangannya itu.
“Gak bakalan nolong Agni... loe gak pernah
update di websitenya sih. Loe tau? Semua cewek rempong ada disana!.”
Agni menaikan bahunya acuh. Setelah itu ia
bangkit dari tempat tidur Prilly. Ia mendekati Prilly lalu memeluknya.
“Gue pulang ya... kata loe kan loe ada
acara.”
Prilly menghela nafas kemudian mengangguk
pelan. Ia tersenyum pada sahabatnya itu.
“Oke. Take care ya...”
“Siip... loe juga have fun ya acaranya,
entar juga calling-calling ya...” ucap Agni sambil memeragakan gaya-gaya
telepon.
Prilly menghela nafas panjang. Ia meraih
Iphonenya lalu membuka website khusus sekolah mereka. ia mengerutkan keningnya.
Axle’s
HotNews
Aliando
Syarief atau yang akrab disapa dengan Ali, pada hari ini (05/8) terlihat
murung. Dia tidak terlihat bergairah sedikitpun dalam mengikuti kegiatan
panitia MOS. Apakah ini ada hubungannya dengan ketidak hadiran Prilly
Latuconsina? Diam-diam kami juga melihat pemuda tampan itu sedang berbincang
dengan sahabat Prilly, Agni. Apakah ada hubungannya dengan Prilly?
Oh...
sampai kapankah mereka akan tetap sedingin ini? padahal dalam sejarah, setiap
yang mendapatkan gelar The Best Couple of The Years pasti menjadi pasangan asli
di dunia nyata. Ataukah ini tidak berlaku bagi keduanya? Mari kita tunggu kabar
selanjutnya.
Prilly memutar bola matanya kesal. Sebenernya siapa sih yang ngurus website
ini? kok rempong banget sih? Ih! Siapa juga yang mau sama cowok sok kecakepan
kayak cowok tembem itu! ih!.
***
Prilly beserta kedua orangtuanya duduk
disalah satu meja makan sebuah restaurant, sesekali ia melihat kaca pada bedak
yang ia bawa.
“Udah cantik kok sayang, masa mau bedakan
terus?.”
“Ih! Ma bukan bedakan. Illy liat ini nih.
Gak enak banget diliatnya.” Tunjuk Prilly pada pipinya yang di balut sedikit
plester.
Mama terkekeh kecil, lalu menepuk-nepuk
pundak Prilly menenangkannya.
“Udah ah tetep cantik kok.”
Prilly menghela nafas kemudian menyimpan
bedaknya kedalam tas kecil yang ia bawa. Tak lama kemudian tamu yang
ditunggu-tunggu akhirnya datang.
“Selamat malam... maaf ya lama.”
“Enggak kok. Kami baru sampai juga.”
Prilly memutar bola matanya. Baru gimana? Udah lama keless ih Mama peres.
“Wah ini puteri kamu? tambah cantik. Eh
tapi pipi kamu kenapa?.”
“Ini kemarin dia kecelakaan di sekolahnya.
Wah... ganteng sekali kamu sekarang? Udah gede aja.” Ucap Mama Prilly, ia
memelik sekilas pemuda tampan yang berada di belakang Prilly.
Prilly yang tadinya menunduk sekarang
mengangkat wajahnya. Sedetik ia terdiam lalu mengalihkan pandangannya kearah
lain. kenapa harus ada dia?
“Prilly liat tuh Ali mau kenalan.” Ucap
Mamanya.
“Udah kenal Ma. Dia temen sekelas aku.”
setelah mengatakan itu Prilly duduk dan mempersilahkan duduk pada tamu yang
datang.
Ali dan Prilly betatapan dengan bebeda
makna, Prilly menatap Ali penuh kebencian tapi Ali menatap gadis dihadapannya
itu penuh kekhawatiran. Ali menghela nafas kemudian mengalihkan pandangannya
kearah lain. kenapa sih harus cowok
tembem ini? nyebelin banget! Ngerusak mood banget sih!.
***
“Gue gak nyangka bisa ketemu sama loe
diacara dinner bisnis kayak gini.”
Prilly memutar bola matanya kesal. Ia
menatap kearah Ali yang berdiri disampingnya dengan kesal.
“Iya! Dan sukses ngebuat mood gue rusak
total!!!.”
Ali menghela nafas panjang. Ia berbalik ke
arah Prilly kemudian menyandarkan badannya ke pagar pembatas.
“Kenapa sih Prill? Seenggaknya loe kasih
tau gue, gue salahnya dimana? Biar gue gak ulangi lagi kesalahan itu.”
“Gak perlu.”
“Prilly jangan childish gitu deh.”
Prilly mendelik ke arah Ali. Ia mendengus.
“Apa? Loe bilang gue childish? Kalo gue childish
loe apa? Gak tau malu? gak tau malu karena kesalahan sendiripun gak tau?
Gitu?!” Prilly menggerutukan giginya. “Gue makin benci sama loe.”
Setelah mengatakan itu ia berlalu, memasuki
restaurant itu kembali. Menuju orangtuanya yang nampak masih berbincang.
***
Gue
jemput loe. Siap-siap ya...
Gue
didepan rumah loe...
Prill...
masih apa?
“Prilly sayang? Kamu masih ngapain?.”
Prilly mengerutkan keningnya. Ini siapa sih yang sms?
“Prilly... ya ampun... kamu belum
ngapa-ngapain? Belum mandi?.”
“Kan biasanya jam segini juga baru bangun
Ma.”
“Tapi Ali udah nunggu sayaaaang...”
“Iya ini mandi... eh tunggu... siapa Ma?
Ali?.”
***
Prilly menatap dirinya didalam cermin yang
selalu ia bawa. Ia mendelik kesal kesampingnya lalu menarik rambutnya
kebelakang dengan gemas.
“Jadi loe tau nope gue dari siapa?.”
Ali tersenyum kecil.
“Gue kan ketua kelas, dan selama 2 tahun
kita udah sekelas. Mana mungkin gue gak punya? Hm?.”
Prilly memutar bola matanya, lalu menatap
keluar kaca mobil.
“Segitu pentingnya? Gue aja gak pernah
punya tuh.”
Ali tersenyum kecil tanpa ada niat
menyahuti pembicaraan Prilly. Begitu sampai di parkiran sekolah ia menghentikan
mobilnya.
“Prilly...”
“Apa?.”
“Gue serius tentang pernyataan gue. Gue
bakalan ngelakuin apapun demi dapetin maaf dari loe.”
“Oke.”
Prilly berbalik dan menatap ke arah Ali. Ia
tersenyum manis pada pemuda dihadapannya itu.
“Gue minta... loe jauhin gue.”
“Prill... gak mungkin. Gue bakalan lakuin
apapun asalkan buka itu. asalkan bukan dengan jauhin loe.”
Prilly mendengus kesal. Kemudian keluar
dari mobil itu dan berlalu begitu saja.
Ali menghela nafas. salah lagi... Prill gue harus gimana nanggapin loe? Ali melirik ke
arah Prilly yang berjalan cepat meninggalkannya kemudian keluar juga dari mobil
itu.
***
“Prilly Latuconsina... loe ada angin apa
berangkat sama dia?.”
Prilly mendengus sambil melirik Agni yang
duduk di sampingnya. Ia mengetikan sesuatu diponselnya.
“Noh nyebelin banget tuh mahkluk tembem.
Tau-tau udah ngejogrok aja dirumah gue.”
“Ciee... loe dijemput sama dia? Kok bisa
sih?.”
“Ya semalem... eh... ya mana gue tau... ya
dia tau ah males gue bahasnya.”
“Prilly semalem apa? Ayo cerita...”
Prilly menghela nafas.
“Eh Ni, dia nawarin buat ngelakuin apapun
buat gue lho. Katanya dia mau nebus semuanya sama gue.”
“Wah... masa?.”
Prilly mengangguk semangat.
“Terus loe minta apa?.”
“Belum. Gak ada ide.”
“Kenapa loe gak jailin dia aja? Ya suruh
nunggu loe, nemenin loe shooping lumayan ada kuli panggul.”
Prilly tersenyum ceria, lalu melirik ke
arah Agni dengan jenaka.
“Ide bagus.”
***
Axle’s
HotNews
Kedekatan
The Best Couple of The Years kita makin terasa begitu intim. Setelah satu hari
tidak datang ke sekolah, pagi tadi (06/8) Prilly terlihat keluar dari mobil
yang sama dengan Ali, sepertinya Ali sengaja menjemput Prilly. Hal yang aneh
bukan? Mengingat Ali selama ini tidak pernah sama sekali mengajak seorang gadis
dalam mobilnya. Sementara siang ini Prilly terlihat berdiri disamping mobil Ali
dan menyambut Ali dengan penuh senyuman. Sungguh momen langka, apabila kalian
ingat selama ini Prilly memang dikenal sangat cuek pada Ali.
Apakah
The Best Couple kita akan seperti couple-couple terdahulu? Yang pada awalnya
hanya dipersatukan oleh sebuah gelar The Best Couple dan berakhir dengan
hubungan yang real?
***
Prilly melirik kearah Ali yang mengemudikan
mobil sportnya. Ia menghela nafas panjang kemudian kembali terpokus pada jalan.
“Loe yakin mau ngelakuin apapun buat gue?.”
Ali menengok ke arah Prilly, ia tersenyum
kecil.
“Why not? Loe mau kemana?.”
Prilly tersenyum kecil, ia tersenyum jahil
merencanakan sesuatu yang menyebalkan.
***
Ali melirik ke arah Prilly yang masih
perawatan disebuah salon. Ia menghela nafas panjang kemudian melirik jam
tangannya. Telah 4 jam ia menungguinya ditempat ini, namun masih saja dia belum
setesai melakukan perawatan. Ia melirik sekali lagi ke arah Prilly kemudian
mendekatinya.
“Masih lama?.”
“Lama. Kenapa emang? Bosen loe?.”
“Enggak sih. Gue udah biasa juga nganterin
Mama, dan disuruh perawatan sama Mama. Ya kalo masih lama gue juga mau lah
perawatan sekalian.”
Prilly memutar bola matanya kesal. Kalo dia perawatan sekarang, bisa-bisa jadi
balik gue yang bosen tungguin dia. Ihh ogah!!!
“Jangan! Bentar lagi gue selesai.”
Ali mengerutkan keningnya.
“Lho katanya lama.”
“Enggak.”
Ali mengedikan bahunya.
“Yaudah, gue beli makanan dulu diseberang.”
Prilly menghela nafas panjang. Jangan sampe
deh jadi senjata makan tuan. Alih-alih membuat Ali bosen, nanti dia lagi yang
malah kebosenan nungguin Ali. Gak boleh.
Gak lucu banget...
“Udah Mbak, cepetan ah...”
“Ye si Mbak katanya tadi santai aja biar
lama.”
***
Prilly berguling di tempat tidurnya, ia
terkekeh kecil dengan sebuah ponsel ditelinganya.
“Ya... 4 setengah jam menurut loe lama
gak?.”
“Gila...
dia rela nungguin loe selama itu? keren banget.”
“Sayangnya dia gak bosen Agni!!! Dia malah
mau ikutan nyalon. Idih. Ogah gue kalo dia nyalon. Entar jadi senjata makan
tuan buat gue.”
“Haha...
dia nyalon?.”
“Katanya sih dia juga sering nganterin
Mamanya dan sering nyalon bareng Mamanya. OMG Agni...”
“Gokil!!!
Itu gosip luar biasa Prilly!.”
“Eh Ni, gue gak puas jailin dia. Kalo
shooping, gue ogah ah. Sayang gue sama duit.”
“Ya
minta dia yang bayarin aja keles.”
“Idih ogah! Gua bukan cewek matre ya...
masih mampu gue bayar sendiri.”
“Terus
apa dong?.”
Prilly nampak berpikir, ia tersenyum
senang.
“Gue ada ide... bentar gue telpon dia
dulu...”
***
Ali duduk dibalkon kamarnya, dengan sebuah
gitar ditangan. Sesekali ia memetik gitarnya pelan. Sampai kapan Prilly benci sama gue? Ia melirik ponselnya yang
berdering. Ia mengerutkan keningnya saat melihat nama sipemanggil. Ngapain Prilly malem-malem gini nelpon?
“Ya hallo Prill.”
“Li...
gue mau mie ayam. Beliin dong, gue gak diijinin keluar rumah nih kalo malem.”
“Mie ayam?.”
“Iya...
gue pengen banget mie ayam, gak tau kenapa.”
Ali melirik jam dinding dikamarnya. Jam sepuluh. Dimana mie ayam yang masih
buka? Emang ada?
“Yaudah. Tunggu ya... gue kesana sekarang.”
“Oke...
gue tunggu ya Ali... thanks yaaa...”
Ali sedikit tersenyum, agak terpaksa.
“Iya... loe jangan tidur dulu.”
“Enggak
kok. Awas aja kalo loe gak ada. Gue bakalan lebih benci sama loe!!!.”
“Iya Prilly, gue kesana nih sekarang. Udah
OTW.” Ucap Ali sambil berjalan mengambil jaket dan kunci mobilnya. “Yaudah.
Bye.”
“Bye...”
Ali keluar kamarnya dengan cepat.
“Kemana Li?.”
“Kerumah Prilly Ma, sebentar.”
“Oh, yaudah. Jangan malem-malem pulangnya,
jam 11 udah dirumah ya.”
“Iya Ma.”
Setelah mengatakan itu Ali benar-benar
berlalu, setelah mengeluarkan mobil dari garasi, ia segera melesat meninggalkan
kediamannya. Sepanjang perjalanan ia terus melirik kekanan dan kekiri. Mencari
keberadaan pedagang itu.
Ponselnya kembali berdering.
“Ya Prill. Apa lagi?.” Tanya Ali begitu
lembut.
“Martabak
telornya satu yaa...”
“Iya...”
Ali kembali menyimpan ponselnya. Ia
menghela nafas. cinta butuh perjuangan
Ali... tenang. Ucap Ali dalam hati.
Ali mengerutkan keningnya saat melihat
keramaian didepannya. Ia tersenyum senang. Sepertinya acara didepan sana
benar-benar mendukung cintanya pada Prilly. Ia memarkirkan mobilnya kemudian
keluar dari mobil menghampiri pedagang-pedagang itu yang sedang berdagang pada
sebuah acara pernikahan. Ia merogoh sakunya, mendial nomor Prilly.
“Li...
kenapa?.”
“Mau sekalian Baso gak? atau empek-empek
gitu? Atau sate?.”
“Sate
deh boleh...”
“Yaudah. Tunggu ya... 15 menit lagi gue
nyampe kesana.”
“Hm...”
***
Prilly berguling ditempat tidur, berusaha
membuatnya tidur. namun entah kenapa ia selalu terjaga. Padahal rencananya ia
akan tidur membuat Ali dongkol. Prilly mendengus kesal, ia memutuskan untuk
duduk diambang jendela yang biasanya membuatnya ngantuk.
Tak berselang lama seseorang memanggil
Prilly. Ia menengok kearah bawah. Ali?
***
Ali menatap Prilly yang sedang menyantap
mie ayamnya. Gadis itu terlihat begitu menikmati makanannya. Ia terkekeh kecil
melihatnya.
“Loe lucu ya...”
Prilly mengerutkan keningnya ia melirik
sekilas ke arah Ali namun kemudian kembali menyantap makanannya. Meski tadi
rencananya ia tak ingin memakannya, tapi ternyata makanan itu mengugah selera
juga.
“Loe kira gue badut?.”
Ali semakin terkekeh.
“Enggak. Loe lucu aja. Cantik.”
“Dari dulu keless. Loe baru sadar gue
cantik?.”
Ali menghela nafas panjang. Ia tersenyum
tipis, matanya tak lepas memandangi Prilly.
“Iya gue tau, daridulu loe emang cantik,
loe baik, loe ramah banget. Tapi sayang... loe malah selalu jutek sama gue.”
Tak ada tanggapan dari Prilly. Ali menghela
nafas panjang lagi.
“Prilly...”
“Hm.” Respon Prilly, tanpa menengok
sedikitpun.
“Udah malem nih. Udah mau jam 12 juga. Gue
pasti dimarahin sama Mama.”
Prilly terkekeh kecil.
“Masa sih loe dimarahin?.”
“Gue cuma dikasih waktu sampe jam 11.
Paling gak dikasih masuk rumah. Hahaa.”
“Serius loe?.”
Prilly menatap Ali khawatir. Gue keterlaluan banget kalo gitu... niatnya
cuma jailin dikit, masa jadi tidur diluar sih? Kan kasian...
“Kenapa loe? Kok liatinnya gitu banget?.”
“Enggak. Sorry ya... kayaknya gue
keterlaluan deh suruh loe dateng malem-malem gini.”
Ali menarik ujung bibirnya, memberikan
senyuman tertulusnya.
“Apa sih yang enggak buat loe?.”
Deg!
Prilly mengerjapkan matanya mendengar
sekaligus melihat senyuman Ali yang entah kenapa begitu lain dimalam itu. ia
semakin terkesima saat Ali mengelus kepalanya pelan kemudian berlalu. Ada apa dengan gue? Ujar Prilly sambil
mengelus dadanya yang berdebar aneh.
***
Pagi-pagi sekali Prilly sudah siap dengan
seragamnya, ia juga terlihat sedang menyiapkan sesuatu dikotak bekalnya.
“Prill, semalem siapa yang dateng? Kata Pas
Satpam katanya ada tamu semalem.”
“Oh. Itu Ali Ma. Nganterin makanan.” Jawab
Prilly.
“Jam 11 nganterin makanan?!.”
Prilly mengerutkan keningnya, ia berbalik
ke arah Mamanya sambil melepaskan apron yang tadi ia kenakan.
“Iya Ma. Kenapa emangnya?.”
“Kalian pacaran?.”
“HAH?! Idih Mama ngaco. Ya enggak lah.”
“Terus Ali bela-belain dateng kesini malem-malem
gitu apa? Masa gak pacaran dia mau sih dateng?.”
“Ih Mama... udah ah, tuh kayaknya Ali juga
udah jemput. Bye bye Mamaaa...”
Prilly segera berlari meninggalkan Mamanya,
ia enggan terus menerus digoda mamanya yang pasti akan terus bertanya tentang
keingin tahuannya.
***
Ali dan Prilly keluar bersamaan dari dalam
mobil Ali. Keduanya terlihat lebih akrab lagi dari sebelumnya. Banyak mata yang
tertuju pada mereka saat mereka berjalan kekelasnya.
“Loe bawa apaan sih sampe tumben banget pas
gue dateng loe udah nongol aja?.”
Prilly tertawa kecil. ia duduk di bangkunya
begitupun Ali yang duduk dibangku yang keberulan dibelakang Prilly. Prilly
mengeluarkan sebuah kotak dari tasnya. Ia memberikan kotak itu pada Ali.
“Ini. thanks ya loe udah bela-belain dateng
semalem kerumah.”
“Gapapa. Ini buatan loe?.”
“Iya. Kenapa emangnya? Gak boleh gue suka
masak?.”
“Bagus tuh. Calon istri yang baik.”
“Idih... siapa juga yang mau jadi istri
loe?.”
“Emang siapa yang bilang calon istri gue?
Cieee... geer atau ngarep?.”
“Ih apaan sih loe? Loe kali tuh yang ngarep
punya istri cantik, imut, manis, pinter masak kayak gue. Gue sih enggak ya...
sorry.”
Prilly kembali memunggungi Ali. Ia menghela
nafas panjang.
“Iya Prill, gue emang ngarep banget punya
istri kayak loe. Itupun kalo loe mau.”
Prilly terdiam. Ia berbalik lagi ke arah
Ali. ia berharap Ali becanda. Ia berharap ada wajah becanda dari Ali. namun,
yang ia dapat ternyata ekseriusan dari wajah Ali.
Prilly berdiri. Jujur saja, ia gugup
ditatap begitu intens oleh Ali.
“Gue keluar...”
***
Exle’s
HotNews
Setelah
beberapa waktu lalu (07/8) kembali ke gap kamera axle bersama. Beberapa hari
ini ternyata hubungan Best Couple kita terlihat merenggang kembali. Hal itu
terbukti oleh kedatangan Prilly kesekolah yang kembali membawa mobil
pribadinya. Ali dan Prilly pun terlihat tidak saling menyapa lagi. Sebenarnya
ada apakah hubungan antara mereka berdua?
***
Prilly melongos saat melihat Ali yang
sedang bersandar di pintu mobilnya. Ia mengalihkan pandangannya ke arah lain.
enggan mengatakan apapun lagi.
“Prill. Loe kenapa lagi sih?.”
Ali menghela nafas panjang saat tak ada
tanggapan dari Prilly. Ia menarik bahu Prilly agar menghadap ke arahnya.
“Prilly... jangan buat gue bingung. Gue ada
salah apa lagi?.”
“Bingung? Buat apa bingung? Toh dari dulu
gue ginikan? Udahlah awas. Gak perlu loe ganggu gue lagi.”
“Tapi Prill...”
“Pergi sekarang juga.”
Ali menghela nafas lagi. Dengan terpaksa ia
menyingkir dari tempatnya. Ia melirik ke arah Agni yang menatapnya iba. Dia
menggeleng pelan entah memberi isyarat apa padanya.
***
Agni... bantu gue.
Baru aja selangkah gue deket sama Prilly,
masa sekarang gue jauh lagi.
Bantu ya... please...
Agni kembali menyimpan ponselnya setelah
membaca pesan masuk itu. apa yang harus
gue lakuin?
“Prill... loe sebenernya kenapa? Gue aja
bingung liat loe aneh seminggu ini.” ucap Agni. Ia duduk diatas tempat tidur
sementara Prilly duduk diambang jendela.
“Gue gak tau.”
“Loe aneh tau gak? sebelum loe gini lagi,
loe keliatan akur banget sama Ali.”
Prilly menghela nafas, ia melirik ke arah
Agni.
“Gue gak suka aja sama cara ngomongnya, dan
gue rasa mendingan gue gak deket sama dia.”
“Loe cinta sama dia? Atau minimal, loe suka
sama dia?.”
“Enggaklah.”
Agni berjalan ke arah Prilly, ia tersenyum
kecil.
“Gue pulang ya... baik-baik loe mikirnya.
Jangan sampe nyesel. Loe akan nyesel saat loe bener-bener kehilangan dia, walau
ya gue gak tau gimana hati loe sama dia. Tapi loe bisa pertimbangin pengorbanan
dia buat loe. Pikirin ya Prill, gue gak mau sesuatu yang buruk menimpa loe.
Jangan sampe loe nyesel. Apalagi nanti, kalau dia udah punya cewek.”
Prilly terdiam mendengar ucapan Agni. Nyesel? Apa mungkin? Prilly melirih
ponselnya yang terlihat menyala. Sebuah pesan masuk. Ia segera membukanya
begitu melihat nama sipengirim pesan itu.
Prilly... gue dijodohin.
Deg!
Kenapa serasa ada dentuman yang menghantam
dadanya? Apakah ini yan disebut penyesalan? Sakit hati?
***
Pagi-pagi sekali Prilly sudah duduk
dipinggir lapangan basket yang menghadap langsung keparkiran. Ditangannya ada
sebuah ponsel, terlihat menimbang-nimbang sesuatu. Semenjak malam tadi, ia
memang terasa banyak pikiran sekali. Sehingga tidurpun tidak nyenyak sama
sekali.
Prilly menegakkan duduknya saat melihat
mobil Ali memasuki parkiran, ia mulai mengetikan sesuatu diponselnya. Ia
mengangkat wajahnya sebelum mengirim pesan itu. ia mengerutkan keningnya saat
melihat seorang gadis keluar dari mobil yang Ali. apa-apaan ini?!
“Agni?!.” Desis Prilly yang sarat akan
amarah.
***
“PRILLY!!! Loe kenapa sih sampe gak mau
ngomong sama gue?! Gue salah apa coba?! Ngomong kalo gue ada salah napa
Prill?!.”
Agni menahan tangan Prilly yang terus saja
menghindarinya. Semenjak pagi hingga pulang sekolah seperti ini Prilly masih
saja menghindarinya, tidak mau berbicara sedikitpun dengannya.
“Prilly... please loe ngomong...”
“Loe mau gue ngomong apa lagi hah?!.”
“Ya loe jawab. Loe kanapa HAH KENAPA?!.”
“APALAGI SIH MAU LOE HAH?!.”
“GUA MAU LOE NGOMONG!!! LOE KENAPA?!.”
“SEKARANG GUA TANYA!!! NGAPAIN LOE SAMA
ALI? selama ini loe jodoh-jodohin terus gue sama dia, loe dukung gue sama dia,
loe bahkan seolah peduli sama hubungan gue sama dia. Tapi sekarang apa?! Apa?!
HAH?! Loe sendirikan yang malah mau sama dia?! Udahlah... loe gak usah deketin
gua lagi.”
Prilly menghentakkan kakinya kesal. Ia
beranjak dari tempat itu dengan cepat meninggalkan Agni yang terlihat tak ada
niat mengejarnya.
“Maafin gue Prill... gue harus lakuin
ini...”
***
“Prilly... ada Ali sayang didepan... kamu
temuin dia gih kasian udah lama banget nunggu kamu.”
“Aku bilang suruh dia pulang Ma... aku gak
mau ketemu sama dia.”
Mama Prilly mengelus puncak kepala Prilly.
Ia menghela nafas panjang.
“Kamu ada apa sama dia? Kalian marahan
ya?.”
Prilly mengangkat wajahnya dari bantal, ia
menarik nafas panjang kemudian menghembuskannya pelan.
“Yaudah Ma, biar Prilly temuin dia dulu.”
Entah kenapa ia paling enggan menjawab
pertanyaan Mamanya jika mengenai Ali. apapun itu, entahlah... semuanya terasa
begitu canggung, malu dan hal baru baginya.
Prilly duduk dihadapan Ali yang ternyata
berada diruang tamu rumahnya, ia merapihkan rambut dengan tangannya.
“Ada apa?!.” Tanya Prilly tanpa menatap ke
arah Ali.
“Prilly... loe marah sama Agni?.”
Prilly tersenyum masam.
“Oh. Dia laporan?.”
Ali menghela nafas panjang.
“Loe jangan marah sama dia, bagaimanapun
dia sahabat loe Prill. Selama ini dia yang ada buat loe. Loe gak boleh gini
sama dia.”
Prilly terdiam. Sepenting itukah Agni bagi
Ali? hingga Ali memintanya untuk tidak marah pada Agni? Sebegitu pentingkah
Agni?! Sebegitu tidak berharganya dirinya sekarag dimata Ali?
“Prilly... please ya... loe baikan sama
Agni.”
Prilly bangkit dari duduknya, dengan masih
tak menatap Prilly ia berkata.
“Silahkan keluar. Pintu keluar disebelah
sana.”
Setelah mengatakan itu Prilly beranjak dari
hadapan Ali. memangnya, siapa yang tak sakit hati melihat orang yang selama ini
care padanya yang selama ini mengaku
selalu memperhatikannya sekarang berpaling pada sahabatnya sendiri.
Salah jika ia sakit hati? Salah jika ia kecewa? Dan salah jika sekarang ia
menyesal?
***
Exle’s
HotNews
Best
couple kita tahun ini ternyata sepertinya memang tidak akan bersatu. Kemarin (23/8)
tim kami memergoki Ali bersama seorang gadis bernama Agni yang merupakan
sahabat dari Prilly memasuki sekolah bersama menggunakan kendaraan milik Ali.
ditambah, siang harinya Prilly dan Agni terlihat bersitegang. Apakah yang
terjadi sebenarnya?
***
Prilly menghela nafas panjang. Ia menyimpan
kembali ponselnya keatar nakas. Hari ini benar-benar sulit baginya. Ia merasa
hanya hidup seorang diri, tak ada lagi Agni, tak ada lagi Ali. tak ada lagi
keduanya. Kecewa, sangat kecewa. Kekecewaan itu masih saja membekas dalam hati
Prilly.
Prilly meraih ponselnya yang berdering. Ia
menerima sebuah broadcast dari group yang merupakan teman-teman satu
sekolahnya.
HEY
YOU!!! Hari minggu galau?! Sekarang gak lagi. Dateng yuk ke Axle’s Sport.
Disini ada kehebohan lho... pokoknya buat kalian yang galau-galau akan segera
terobati dan terlupakan deh galaunya. Cuss dateng ya ke Axle sekarang juga.
Acara udah mau dimulai lhoooo.....
Prilly menghela nafas panjang. Ia beranjak
dari tempat tidurnya kemudian meraih pakaian basket dan sepasang sepatu. Ia
menasukannya kedalam tas. Setelah ia merapihkan pakaiannya ia menyisir
rambutnya kemudian setelah itu beranjak. Daripada
hanya diam memikirkan hal yang menyakiti hati. Bukan lebih baik jika ia pergi.
Mencari teman baru atau bahkan seorang pacar?
***
Lapangan utama Axle telah ramai dengan
beberapa atlet Basket. Ia tanpa pikir panjang mendekati tempat itu.
“Ada apa sih?.” Tanya Prilly pada salah
seorang siswa disana.
Bukannya menjawab, siswa itu malah menepuk
pundak temannya yang lain yang berada didepan Prilly. Begitupun selanjutnya
hingga membentuk sebuah jalan untuknya. Ia mengerutkan keningnya. Saat ia
mencapai tengah-tengah lingkaran itu, ia melihat Ali disana dengan beberapa
bola basket disekitarnya.
Ali tersenyum pada Prilly yang menatap ke
arahnya dengan tajam.
“Prilly...”
Prilly mendengus sebal. Mau buat gua malu lagi?
“Sumpah gue gak pernah ada hubungan apa-apa
sama Agni. Gue cuma suka sama loe, gue sayang sama loe, gue cinta sama loe.”
Ali berjalan mendekati Prilly menarik
Prilly mendekat ke arahnya.
“Gue mau, loe yang ada dikehidupan gue,
entah sekarang ataupun nanti. Kalo loe bersedia. Loe lemparin bola-bola ini
kegue dengan hitungan yang genap. Dan kalo loe berhenti di lemparan yang
ganjil. Loe boleh minta gue ninggalin loe.”
Prilly masih tak buka suara. beberapa orang
berbaris didekatnya dengan bola basket ditangan mereka masing-masing. Ia
menerima satu persatu bola basket itu. dilemparan pertama Prilly berhenti cukup
lama. Ia menatap wajah Ali yang terlihat begitu putus asa, ditangannya ada bola
yang ia tangkap dari lemparannya. kemudian ia melemparkan bola kedua, namun dengan
cepat disusul bola ketiga. Ali menangkapnya dengan tepat. Disetiap hitungan
ganjil Prilly begitu lama memutuskan untuk melempar kembali atau tidak. hingga
sampai bola ke 23, ia melemparnya pada Ali lagi, wajahnya pun semakin memohon
padanya. Bola ke 24 Prilly hanya menimang-nimangnya. Ia menghela nafas panjang
kemudian berbalik, berjalan meninggalkan lapangan itu.
“Prilly! Gue bener-bener sayang sama loe.”
DUK!
Lemparan itu tepat mengenai dada Ali begitu
kencang. Lemparan ke 24 dari Prilly. Prilly dan Ali bertatapan cukup lama,
orang-orang disana pun hanya terdiam. Masih mencerna apa yang di lakukan
Prilly.
Prilly tersenyum pada Ali yang terlihat
agak meringis.
“Gue mau.”
***
Epilog.
“Jadi kamu sengaja jailin aku gitu sama
Agni?.”
“Lagipula kamu susah banget sih, cuma mau
liat kamu sayang sama aku apa enggak aja susah banget.”
“Ih kamu jail ihhh... aku sampe
marah-marahin Agni Aliiiiiii..........”
“Hahaa... gapapa orang ide dia juga.”
“Ih dasar kamu yaa...”
Prilly menghela nafas, ia menyandarkan kepalanya
ditangan Ali.
“Oiya... jadi selama ini kamu ternyata udah
dijodohin sama aku gitu? Kapan ada rencana kayak gitu?.”
“Dari pas awal kita masuk sekolah, aku udah
tau kamu dari foto yang dikasih Mama.”
“Lama banget... kok gak cerita sih?.”
“Aku mau naklukin hati kamu dulu yang
ternyata susah banget.”
Prilly terkekeh kecil. ia memeluk pinggang
Ali begitupun sebaliknya. Percaya selalu ada keromantisan yang luarbiasa
dibalik dua orang yang seperti musuhan diawal? Ini buktinya.
***
Exle’s
HotNews
Akhirnya
Best Couple kita meresmikan hubungannya pada Hari Minggu 24 Agustus 2014
bertempat di axle’s Sport.
Selamat
ya... semoga kalian langgeng, bisa sampai menikah dan bahagia berdua
selamanya...
***
TAMAT
No comments:
Post a Comment