Sunday, 24 August 2014

Mr. Embem, I Hate You!!!



24 Lemparan Cinta Untuk Ali
Berawal dari sebuah kebencian yang membuahkan cinta.
Benci dan cinta itu beda tipis, Benarkah?

Cast:
Aliando Syarief
Prilly Latuconsina

Seorang gadis berjalan dengan begitu santai menyusuri koridor sekolahnya, gadis itu menatap lurus kedepan seakan tak berminat melirik kekanan maupun kekirinya. Sementara tanpa gadis itu sadari, seluruh pandangan tertuju padanya. Tak terkecuali. Gadis itu berhenti tepat di depan lapangan dimana para murid baru sedang melakukan upacara pembukaan Masa Orientasi Siswa. Dilehernya terkalung sebuah tanda kepanitiaan atasnama Prilly Latuconsina. Gadis itu tersenyum menatap seluruh siswa baru.
“Prilly...”

Gadis bernama Prilly itu melambaikan tangan pada seorang gadis dengan rambut yang kuncir kuda yang sedang berjalan kearahnya.
“Pelanggaran apalagi yang loe buat Agni? Tumben itu jas gak ketinggalan.”
Gadis yang disapa Agni itu terkekeh kemudian merangkul pundak Prilly. Ia mengangkat sedikit sepatunya kearah depan.
“Gue lupa malah pake sepatu ini. haha...”
“Agni... Agni... loe tuh anak berprestasi disini, tapi kapan loe mau rapih sekolah hm? Untung ya loe pinter jadi gak dikeluarin.”
“Aduhh Prilly Latuconsina yang kayak barbie hidup. Udah ya jangan nasehatin gue lagi. Gue baru aja dinasehatin sama guru BP. Lagian kalo lupa ya gimana? Orang kebiasaan. Lagipula gini-gini gue pernah rapih kok.”
Prilly memutar bola matanya.
“Iya rapih. Hari Senin doang. Udah ah... cabut yuk. Serem gue disini, mereka kayak mau makan gue.” Ucap Prilly sambil menoleh kearah barisan siswa dilapangan.
“Gara-gara mereka atau Mr. Embem loe itu?.”
Prilly memutar bola matanya, lalu menatap tajam ke arah Agni.
“Cowok sok kecakepan yang tukang tebar pesona itu? Iuhhh...”
Agni berdecak. Ia melipat tangannya didada kemudian menatap Prilly dan pemuda yang dimaksud itu bergantian hingga beberapa kali. Ia mengamati Prilly yang menatap ke arah lapangan lalu pada pemuda itu yang duduk tak jauh dari mereka berdiri.
“Gue heran deh. Kalian udah dua tahun sekelas dan sekarang sekelas lagi, tapi kenapa gak pernah akur sih? Ya... maksudnya kok loe bisa gitu benci sama dia lama-lama? Ini udah dua tahun lho... kalian juga pernah dinobatin jadi The Best Couple of...”
“Shut Up Agnia Marta! Loe mau gue marah sama loe dan gak gue kasih tebengan atau diem?.”
Prilly menatap sekilas sahabatnya itu dengan jengkel. Sementara Agni malah terkekeh kecil.
“Ih galak banget sih.”
Prilly mengerutkan keningnya, sepertinya ada yang janggal... ia berbalik ke arah Agni.
“Eh tunggu... tunggu... kata loe tadi gue sekelas lagi sama dia?.”
Agni mengangguk sekali dengan santai dan cukup membuat Prilly mendengus kesal.
“Sial banget sih hidup gue...”
Umpat Prilly kemudian berlalu dengan cepat tanpa mengindahkan keberadaan Agni.
“Kemana Prill?.”
“Papan pengumuman. Kali aja loe jailin gue.”
Agni terkekeh kemudian berdecak.
“Prilly... Prilly... padahal seluruh isi sekolah ini ngejer-ngejer dia. Malah nembak duluan saking tertariknya. Kenapa loe malah kayak gini?. Hhh... dasar.”

“Agni.”
Agni berbalik.
“Eh Li... kenapa?.”
Pemuda yang tadi duduk itu berjalan ke arah Agni dengan senyuman diwajahnya.
Ini cowok bener apa kata Prilly tukang tebar pesona atau emang mempesona? Hhh... Agni membatin sambil mengalihkan pandangannya, namun kemudian ia menoleh ia menatap pemuda itu dengan penuh tanya.
“Loe siapin buat nanti siang promosi Basket sama Prilly juga.”
“Kok gue? Kan udah ada junior. Kita udah kelas 12 ini.”
“Siapin aja.”
Agni mengangkat bahunya acuh. Kemudian menatap pemuda itu lagi.
“Udah?.”
“Udah.”
“Yaudah.” Agni berbalik.
“Loe sama aja ya sama temen loe itu.”
Agni menarik ujung bibirnya kemudian berbalik sambil tersenyum pada pemuda itu.
“Thanks. Gue anggap itu pujian.” Setelah mengatakan itu Agni berlalu meninggalkan Ali.
Aliando Syarief yang akrab disapa Ali itu tersenyum masam. Hanya dua gadis itu yang selalu acuh padanya, cuek padanya. Agni masih mendingan, kalau Prilly? Dia sangat jutek, sangat cuek dan sangat acuh padanya. Gadis itu seperti tak pernah menganggap keberadaannya sedikitpun. saat semua gadis berlomba mengantri ingin menjadi pacarnya, dia dideretan terakhirpun dia tak ada, dalam artian dia sama sekali tidak tertarik padanya. Catat dengan tinta tebal tidak tertarik padanya sedikitpun!.

***

Prilly dan Agni serta beberapa anak lainnya melakukan peregangan dilapangan indor. sesekali Prilly mengumpat kesal, kenapa dirinya harus ikut serta juga. Rencana siang ini shopping malah harus promosi seperti ini.
Prilly mendelik kearah lapangan dimana Ali sedang melakukan sesi latihan juga bersama yang lainnya.
“Tu cowok emang nyebelin banget. Ngerusak kebahagiaan orang aja bisanya.”
Agni menggelengkan kepalanya.
“Daripada loe ngegerutu gitu mendingan loe minum deh Prill, biar otak sama hati loe adem.”
“Gak usahlah.” Ucap Prilly sambil meraih satu buah bola basket dan menggiringnya kelapangan.
Bersamaan dengan itu pula, seluruh siswa yang mengikuti orientasi masuk ke lapangan itu. sesekali terdengar bisikan kekaguman atas permainan yang mereka lihat dilapangan.
“Selamat siang semuanya... ini basecamp nya anak-anak basket. Kalian diharapkan tenang selagi melihat promosi dari kami. Yes! Kalian bisa lihat disini terdapat dua lapangan ya... oiya capten team basket putera maupun puteri masih ada ditangan kelas 12 yaitu di Best Couple kita. Aliando Syarief dan Prilly Latucinsina.”
Bagus... itu siapa sih gue lupa namanya! Ngajakin gue perang ya tu anak. Pake sebut-sebut itu segala... ucap Prilly membatin.
Sementara itu tanpa Prilly sadari, Ali meliriknya sekilas. Ia terlihat menghela nafas panjang.
“Meskipun kalian di ekskul basket kalian bisa ikut even-even yang diadakan sekolah yang biasanya digelar antar ekskul dan sebagai buktinya ya capten-capten kita ini yang berhasil mengalahkan ekskul dance yang biasanya mendapatkan gelar The Best Couple. Oke... untuk hal lainnya kalian bisa lihat di brosur... selanjutnya kita lihat perform dari para atlet-atlet basket kita.”
Team basket Putera dan Puteri berpisah di lapangan yang berbeda. Ali berjalan kelapangan yang berada di sebelah kanan bersama teamnya. Ia mulai mendrible bola kemudian mengover dan shot! Masuk!.
Seakan tak mau kalah, team puteripun memberikan penampilan yang luar biasa. Prilly tersenyum pada Agni, ia mengoverkan bolanya pada Agni.
“Prilly... Awas....”
Prilly berbalik saat mendengar teriakan Ali.
“AAAAAAAAAA....” teriak penonton.

Duk!

Sebuah bola tepat mengenai pipi Prilly.
“Aw... ah...”
Prilly meringis memegangi pipinya.
Ali mendekat.
“Prill... sorry... gue gak sengaja. Gue anter ke UKS.”
Tanpa basa-basi ia berjalan keluar lapangan. Pipinya nyutnyutan ditambah kepalanya mulai pening. Ia berhenti kemudian berbalik menatap Ali tajam saat ia rasa disekitarnya sepi.
“Ini ketiga kalinya loe buat gue malu! Belum puas loe buat gue malu 2 tahun lalu? Satu tahun lalu hah?! Sampai loe lempar bola itu kemuka gue? Gue yang dua kemaren masih bisa diem ya... gue nahan. Tapi ini? loe keterlaluan! Loe gak liat semua anak baru liatin gue?! Puas loe sekarang hah?! Puas!.”
“Gue gak sengaja, gue bener-bener gak sengaja Prilly... lagian gue udah minta maafkan? Lagipula kapan gue buat loe malu? Selama ini kita ngobrol aja gak pernah!.”
“Gampang ya loe bilang gak sengaja dan maaf. Iya! Loe lupa karena loe gak pernah ngerasa salah!!! Loe lupa karena loe anggap kalo loe paling bener!!! Jangan loe pikir gue lupa ya!!! dan setelah ini loe pikir bisa buat gue gak malu lagi hm? Loe pikir gue bakalan lupain ini gitu aja setelah loe minta maaf?! Enggak!!! Dan...”
Prilly kembali meringis memegangi pipi dan kepalanya.
“Oke. Apa yang bisa buat loe maafin gue? Apapun akan gue lakukan!!!.”
Prilly menatap Ali dengan tatapan tajam dengan sesekali meringis memegangi kepalanya.
“Gue benci banget sama loe!.”
Setelah mengatakan itu, semuanya gelap.
Ali segera meraih tubuh Prilly sebelum terjatuh.
“Prilly...” ucap Ali khawatir kemudian mengangkat tubuh Prilly menuju UKS.

***

Prilly membuka matanya perlahan, pipinya masih saja terasa berat. Ia mendudukan dirinya.
“Prilly... loe udah sadar? Akhirnya... ini udah sore banget.”
“Agni...”
Prilly meringis pelan. Sementara Agni menuntun Prilly untuk mendudukan dirinya. Ia menatap Prilly kahatir, karena sahabatnya itu masih saja beberapa kali meringis dan memegangi kepalanya.
“Prilly... mana kunci mobil loe? Biar gue yang nyetir.”
“Ambil ditas.”
Agni bergegas mengambil kunci mobil dari tas milik Prilly kemudian membantu Prilly memakai sepatunya.
“Prill... loe belum makan ya? sorry ya gue lupa ingetin loe makan.”
“Gak... gapapa... gue sendiri aja lupa.”
Agni menuntun Prilly turun dari bangsal itu.
“Hati-hati.”
Prilly menghela nafas panjang, ia menatap sekelilingnya. Hah... untungkan gue gak berharap dia bener-bener mau lakuin apapun demi gue? Semua cowok emang penebar janji palsu!. Batin Prilly, ia menghela nafas kembali kemudian berlalu bersama Agni yang menuntunnya dengan begitu sabar.
Sementara disudut lain, Ali memperhatikan Prilly yang sesekali masih meringis. ia menghela nafas panjang. Maaf Prilly... kenapa sih semuanya malah tambah rumit seperti ini? apa yang harus gue lakukan?.

***

Esoknya Prilly memutuskan untuk tidak berangkat sekolah. Pipinya yang putih bersih kini ternoda oleh memar kecil.
“Prilly? Loe gak masuk sekarang?.”
“Enggak Ni. Ya kali muka gue babak belur kayak gini masuk sekolah.”
“Yaudah cantik... GWS. Entar gue usahain kerumah loe ya. bye-bye.”
“Terserah loe deh. Oke bye. Oiya kalo ada apa-apa kabarin gue.”
“Beres... kompres lagi sana muka loe.”
“Daritadi juga lagi di kompres keless. Yaudah katanya tadi Bye. Dah... bye.”
Dari ujung telepon sana Agni terkekeh kecil.
“Oke barbie sayang... bye.”
Prilly menyimpan ponselnya, sementara tangan kanannya terus mengompres bagian pipinya yang memar. Sesekali ia meringis kecil. Ali... ini bener-bener keterlaluan!!!. Arghhh....

“Prilly...”
“Iya Ma.”
Mama Prilly masuk dengan sebuah nampan berisi makanan, beliau berjalan mendekati Prilly dengan senyuman yang begitu menyejukkan.
“Nanti malam, kita makan malam bersama keluarga kolega Papa. Kamu harus ikut.” Ucap Mama sambil menaruh nampan itu di nakas.
“Tapi Ma... ini gimana?.” Tunjuk Prilly pada pipinya.
“Bisa ditutup sama plester. Kan kecil juga.”
Prilly menghela nafas panjang. Dalam sejarah hidupnya, meskipun ia nakal tapi ia tak pernah melawan orangtua terutama Mamanya, tidak akan pernah melakukan hal seperti itu. Prilly tersenyum.
“Baik Ma...”
Mama tersenyum, beliau mengelus rambut Prilly dengan sayang.
“Yaudah. Sekarang kamu makan ya...”
Prilly mengangguk. Sepeninggal Mamanya Prilly langsung menyantap makanan kesukaan buatan Mamanya itu. dalam kamusnya ada salah satu cita-cita yang harus ia capai. Ia tidak boleh mengecewakan orangtuanya, ia tidak boleh mengecewakan Mamanya sekali pun.
Apapun yang bikin Mama bahagia, Prilly akan lakukan. Karena itu pasti yang terbaik untuk Prilly.

***

Ali masih duduk didalam mobilnya, sementara pintunya sengaja dibuka. Ia menghela nafas panjang sambil sesekali melihat kearah gerbang yang sudah tertutup. Apa Prilly gak masuk?
Ali meraih tas nya, kemudian beranjak setelah mengunci mobilnya. Apa Prilly sakit? Sebenernya Prilly kenapa? Kenapa dia bisa benci banget sama gue?

Duk!

“Eh... sorry Li.”
“Agni... Eh tunggu.”
Agni kembali berbalik.
“Apa? Duh entar aja ya ngomongnya... meskipun gue gak pernah rapih seenggaknya gue gak pernah telat. Dan sekarang gue harus pergi karena gue gak mau telat.”
“Loe ngomel juga malah tambah lama. Prilly mana?.”
Agni menghela nafas.
“Sakit.”
Setelah mengatakan itu Agni berlalu begitu saja tanpa mengindahkan Ali yang masih diam terpaku ditempatnya.
Prilly sakit? Apa luka kemaren parah? Ali menoleh kekanan dan kekiri kemudian menghela nafas. gue harus cari tau dimana alamat rumah Prilly. Gue harus minta maaf lagi.

***

Axle’s HotNews
The Best Couple of the years terpergoki salah satu kamera reporter Axle bersitegang disalah satu lorong sekolah (04/8). Nampaknya hubungan antara pasangan terbaik kita ini memang tidak baik-baik saja. Apakah sebenarnya yang terjadi pada mereka? apakah hubungan mereka sedang bermasalah? Ataukah mereka telah menjalin hubungan yang sebenarnya dan sedang dalam masalah? Sayangnya, meskipun kami mengambil beberapa gambar, kami tidak dapat menyimak perbincangan keduanya.
Berikut ini cuplikan beberapa gambar yang diambil oleh lensa kamera team kami.

“WHAT?!”
“Ini mungkin Ali belum liat. Gue langsung cabut itu dari papan hotnews. Gue tau loe pasti marah kalo seantero sekolah heboh gara-gara ini.”
Prilly menghembuskan nafas lelah. Ia melemparkan kertas ditangannya itu.
“Gak bakalan nolong Agni... loe gak pernah update di websitenya sih. Loe tau? Semua cewek rempong ada disana!.”
Agni menaikan bahunya acuh. Setelah itu ia bangkit dari tempat tidur Prilly. Ia mendekati Prilly lalu memeluknya.
“Gue pulang ya... kata loe kan loe ada acara.”
Prilly menghela nafas kemudian mengangguk pelan. Ia tersenyum pada sahabatnya itu.
“Oke. Take care ya...”
“Siip... loe juga have fun ya acaranya, entar juga calling-calling ya...” ucap Agni sambil memeragakan gaya-gaya telepon.
Prilly menghela nafas panjang. Ia meraih Iphonenya lalu membuka website khusus sekolah mereka. ia mengerutkan keningnya.

Axle’s HotNews
Aliando Syarief atau yang akrab disapa dengan Ali, pada hari ini (05/8) terlihat murung. Dia tidak terlihat bergairah sedikitpun dalam mengikuti kegiatan panitia MOS. Apakah ini ada hubungannya dengan ketidak hadiran Prilly Latuconsina? Diam-diam kami juga melihat pemuda tampan itu sedang berbincang dengan sahabat Prilly, Agni. Apakah ada hubungannya dengan Prilly?
Oh... sampai kapankah mereka akan tetap sedingin ini? padahal dalam sejarah, setiap yang mendapatkan gelar The Best Couple of The Years pasti menjadi pasangan asli di dunia nyata. Ataukah ini tidak berlaku bagi keduanya? Mari kita tunggu kabar selanjutnya.

Prilly memutar bola matanya kesal. Sebenernya siapa sih yang ngurus website ini? kok rempong banget sih? Ih! Siapa juga yang mau sama cowok sok kecakepan kayak cowok tembem itu! ih!.

***

Prilly beserta kedua orangtuanya duduk disalah satu meja makan sebuah restaurant, sesekali ia melihat kaca pada bedak yang ia bawa.
“Udah cantik kok sayang, masa mau bedakan terus?.”
“Ih! Ma bukan bedakan. Illy liat ini nih. Gak enak banget diliatnya.” Tunjuk Prilly pada pipinya yang di balut sedikit plester.
Mama terkekeh kecil, lalu menepuk-nepuk pundak Prilly menenangkannya.
“Udah ah tetep cantik kok.”
Prilly menghela nafas kemudian menyimpan bedaknya kedalam tas kecil yang ia bawa. Tak lama kemudian tamu yang ditunggu-tunggu akhirnya datang.
“Selamat malam... maaf ya lama.”
“Enggak kok. Kami baru sampai juga.”
Prilly memutar bola matanya. Baru gimana? Udah lama keless ih Mama peres.
“Wah ini puteri kamu? tambah cantik. Eh tapi pipi kamu kenapa?.”
“Ini kemarin dia kecelakaan di sekolahnya. Wah... ganteng sekali kamu sekarang? Udah gede aja.” Ucap Mama Prilly, ia memelik sekilas pemuda tampan yang berada di belakang Prilly.
Prilly yang tadinya menunduk sekarang mengangkat wajahnya. Sedetik ia terdiam lalu mengalihkan pandangannya kearah lain. kenapa harus ada dia?
“Prilly liat tuh Ali mau kenalan.” Ucap Mamanya.
“Udah kenal Ma. Dia temen sekelas aku.” setelah mengatakan itu Prilly duduk dan mempersilahkan duduk pada tamu yang datang.
Ali dan Prilly betatapan dengan bebeda makna, Prilly menatap Ali penuh kebencian tapi Ali menatap gadis dihadapannya itu penuh kekhawatiran. Ali menghela nafas kemudian mengalihkan pandangannya kearah lain. kenapa sih harus cowok tembem ini? nyebelin banget! Ngerusak mood banget sih!.

***

“Gue gak nyangka bisa ketemu sama loe diacara dinner bisnis kayak gini.”
Prilly memutar bola matanya kesal. Ia menatap kearah Ali yang berdiri disampingnya dengan kesal.
“Iya! Dan sukses ngebuat mood gue rusak total!!!.”
Ali menghela nafas panjang. Ia berbalik ke arah Prilly kemudian menyandarkan badannya ke pagar pembatas.
“Kenapa sih Prill? Seenggaknya loe kasih tau gue, gue salahnya dimana? Biar gue gak ulangi lagi kesalahan itu.”
“Gak perlu.”
“Prilly jangan childish gitu deh.”
Prilly mendelik ke arah Ali. Ia mendengus.
“Apa? Loe bilang gue childish? Kalo gue childish loe apa? Gak tau malu? gak tau malu karena kesalahan sendiripun gak tau? Gitu?!” Prilly menggerutukan giginya. “Gue makin benci sama loe.”
Setelah mengatakan itu ia berlalu, memasuki restaurant itu kembali. Menuju orangtuanya yang nampak masih berbincang.

***

Gue jemput loe. Siap-siap ya...
Gue didepan rumah loe...
Prill... masih apa?

“Prilly sayang? Kamu masih ngapain?.”
Prilly mengerutkan keningnya. Ini siapa sih yang sms?
“Prilly... ya ampun... kamu belum ngapa-ngapain? Belum mandi?.”
“Kan biasanya jam segini juga baru bangun Ma.”
“Tapi Ali udah nunggu sayaaaang...”
“Iya ini mandi... eh tunggu... siapa Ma? Ali?.”

***

Prilly menatap dirinya didalam cermin yang selalu ia bawa. Ia mendelik kesal kesampingnya lalu menarik rambutnya kebelakang dengan gemas.
“Jadi loe tau nope gue dari siapa?.”
Ali tersenyum kecil.
“Gue kan ketua kelas, dan selama 2 tahun kita udah sekelas. Mana mungkin gue gak punya? Hm?.”
Prilly memutar bola matanya, lalu menatap keluar kaca mobil.
“Segitu pentingnya? Gue aja gak pernah punya tuh.”
Ali tersenyum kecil tanpa ada niat menyahuti pembicaraan Prilly. Begitu sampai di parkiran sekolah ia menghentikan mobilnya.
“Prilly...”
“Apa?.”
“Gue serius tentang pernyataan gue. Gue bakalan ngelakuin apapun demi dapetin maaf dari loe.”
“Oke.”
Prilly berbalik dan menatap ke arah Ali. Ia tersenyum manis pada pemuda dihadapannya itu.
“Gue minta... loe jauhin gue.”
“Prill... gak mungkin. Gue bakalan lakuin apapun asalkan buka itu. asalkan bukan dengan jauhin loe.”
Prilly mendengus kesal. Kemudian keluar dari mobil itu dan berlalu begitu saja.
Ali menghela nafas. salah lagi... Prill gue harus gimana nanggapin loe? Ali melirik ke arah Prilly yang berjalan cepat meninggalkannya kemudian keluar juga dari mobil itu.

***

“Prilly Latuconsina... loe ada angin apa berangkat sama dia?.”
Prilly mendengus sambil melirik Agni yang duduk di sampingnya. Ia mengetikan sesuatu diponselnya.
“Noh nyebelin banget tuh mahkluk tembem. Tau-tau udah ngejogrok aja dirumah gue.”
“Ciee... loe dijemput sama dia? Kok bisa sih?.”
“Ya semalem... eh... ya mana gue tau... ya dia tau ah males gue bahasnya.”
“Prilly semalem apa? Ayo cerita...”
Prilly menghela nafas.
“Eh Ni, dia nawarin buat ngelakuin apapun buat gue lho. Katanya dia mau nebus semuanya sama gue.”
“Wah... masa?.”
Prilly mengangguk semangat.
“Terus loe minta apa?.”
“Belum. Gak ada ide.”
“Kenapa loe gak jailin dia aja? Ya suruh nunggu loe, nemenin loe shooping lumayan ada kuli panggul.”
Prilly tersenyum ceria, lalu melirik ke arah Agni dengan jenaka.
“Ide bagus.”

***

Axle’s HotNews
Kedekatan The Best Couple of The Years kita makin terasa begitu intim. Setelah satu hari tidak datang ke sekolah, pagi tadi (06/8) Prilly terlihat keluar dari mobil yang sama dengan Ali, sepertinya Ali sengaja menjemput Prilly. Hal yang aneh bukan? Mengingat Ali selama ini tidak pernah sama sekali mengajak seorang gadis dalam mobilnya. Sementara siang ini Prilly terlihat berdiri disamping mobil Ali dan menyambut Ali dengan penuh senyuman. Sungguh momen langka, apabila kalian ingat selama ini Prilly memang dikenal sangat cuek pada Ali.
Apakah The Best Couple kita akan seperti couple-couple terdahulu? Yang pada awalnya hanya dipersatukan oleh sebuah gelar The Best Couple dan berakhir dengan hubungan yang real?

***

Prilly melirik kearah Ali yang mengemudikan mobil sportnya. Ia menghela nafas panjang kemudian kembali terpokus pada jalan.
“Loe yakin mau ngelakuin apapun buat gue?.”
Ali menengok ke arah Prilly, ia tersenyum kecil.
“Why not? Loe mau kemana?.”
Prilly tersenyum kecil, ia tersenyum jahil merencanakan sesuatu yang menyebalkan.

***

Ali melirik ke arah Prilly yang masih perawatan disebuah salon. Ia menghela nafas panjang kemudian melirik jam tangannya. Telah 4 jam ia menungguinya ditempat ini, namun masih saja dia belum setesai melakukan perawatan. Ia melirik sekali lagi ke arah Prilly kemudian mendekatinya.
“Masih lama?.”
“Lama. Kenapa emang? Bosen loe?.”
“Enggak sih. Gue udah biasa juga nganterin Mama, dan disuruh perawatan sama Mama. Ya kalo masih lama gue juga mau lah perawatan sekalian.”
Prilly memutar bola matanya kesal. Kalo dia perawatan sekarang, bisa-bisa jadi balik gue yang bosen tungguin dia. Ihh ogah!!!
“Jangan! Bentar lagi gue selesai.”
Ali mengerutkan keningnya.
“Lho katanya lama.”
“Enggak.”
Ali mengedikan bahunya.
“Yaudah, gue beli makanan dulu diseberang.”
Prilly menghela nafas panjang. Jangan sampe deh jadi senjata makan tuan. Alih-alih membuat Ali bosen, nanti dia lagi yang malah kebosenan nungguin Ali. Gak boleh. Gak lucu banget...
“Udah Mbak, cepetan ah...”
“Ye si Mbak katanya tadi santai aja biar lama.”

***

Prilly berguling di tempat tidurnya, ia terkekeh kecil dengan sebuah ponsel ditelinganya.
“Ya... 4 setengah jam menurut loe lama gak?.”
“Gila... dia rela nungguin loe selama itu? keren banget.”
“Sayangnya dia gak bosen Agni!!! Dia malah mau ikutan nyalon. Idih. Ogah gue kalo dia nyalon. Entar jadi senjata makan tuan buat gue.”
“Haha... dia nyalon?.”
“Katanya sih dia juga sering nganterin Mamanya dan sering nyalon bareng Mamanya. OMG Agni...”
“Gokil!!! Itu gosip luar biasa Prilly!.”
“Eh Ni, gue gak puas jailin dia. Kalo shooping, gue ogah ah. Sayang gue sama duit.”
“Ya minta dia yang bayarin aja keles.”
“Idih ogah! Gua bukan cewek matre ya... masih mampu gue bayar sendiri.”
“Terus apa dong?.”
Prilly nampak berpikir, ia tersenyum senang.
“Gue ada ide... bentar gue telpon dia dulu...”

***

Ali duduk dibalkon kamarnya, dengan sebuah gitar ditangan. Sesekali ia memetik gitarnya pelan. Sampai kapan Prilly benci sama gue? Ia melirik ponselnya yang berdering. Ia mengerutkan keningnya saat melihat nama sipemanggil. Ngapain Prilly malem-malem gini nelpon?
“Ya hallo Prill.”
“Li... gue mau mie ayam. Beliin dong, gue gak diijinin keluar rumah nih kalo malem.”
“Mie ayam?.”
“Iya... gue pengen banget mie ayam, gak tau kenapa.”
Ali melirik jam dinding dikamarnya. Jam sepuluh. Dimana mie ayam yang masih buka? Emang ada?
“Yaudah. Tunggu ya... gue kesana sekarang.”
“Oke... gue tunggu ya Ali... thanks yaaa...”
Ali sedikit tersenyum, agak terpaksa.
“Iya... loe jangan tidur dulu.”
“Enggak kok. Awas aja kalo loe gak ada. Gue bakalan lebih benci sama loe!!!.”
“Iya Prilly, gue kesana nih sekarang. Udah OTW.” Ucap Ali sambil berjalan mengambil jaket dan kunci mobilnya. “Yaudah. Bye.”
“Bye...”

Ali keluar kamarnya dengan cepat.

“Kemana Li?.”
“Kerumah Prilly Ma, sebentar.”
“Oh, yaudah. Jangan malem-malem pulangnya, jam 11 udah dirumah ya.”
“Iya Ma.”

Setelah mengatakan itu Ali benar-benar berlalu, setelah mengeluarkan mobil dari garasi, ia segera melesat meninggalkan kediamannya. Sepanjang perjalanan ia terus melirik kekanan dan kekiri. Mencari keberadaan pedagang itu.
Ponselnya kembali berdering.
“Ya Prill. Apa lagi?.” Tanya Ali begitu lembut.
“Martabak telornya satu yaa...”
“Iya...”
Ali kembali menyimpan ponselnya. Ia menghela nafas. cinta butuh perjuangan Ali... tenang. Ucap Ali dalam hati.
Ali mengerutkan keningnya saat melihat keramaian didepannya. Ia tersenyum senang. Sepertinya acara didepan sana benar-benar mendukung cintanya pada Prilly. Ia memarkirkan mobilnya kemudian keluar dari mobil menghampiri pedagang-pedagang itu yang sedang berdagang pada sebuah acara pernikahan. Ia merogoh sakunya, mendial nomor Prilly.
“Li... kenapa?.”
“Mau sekalian Baso gak? atau empek-empek gitu? Atau sate?.”
“Sate deh boleh...”
“Yaudah. Tunggu ya... 15 menit lagi gue nyampe kesana.”
“Hm...”

***

Prilly berguling ditempat tidur, berusaha membuatnya tidur. namun entah kenapa ia selalu terjaga. Padahal rencananya ia akan tidur membuat Ali dongkol. Prilly mendengus kesal, ia memutuskan untuk duduk diambang jendela yang biasanya membuatnya ngantuk.
Tak berselang lama seseorang memanggil Prilly. Ia menengok kearah bawah. Ali?

***

Ali menatap Prilly yang sedang menyantap mie ayamnya. Gadis itu terlihat begitu menikmati makanannya. Ia terkekeh kecil melihatnya.
“Loe lucu ya...”
Prilly mengerutkan keningnya ia melirik sekilas ke arah Ali namun kemudian kembali menyantap makanannya. Meski tadi rencananya ia tak ingin memakannya, tapi ternyata makanan itu mengugah selera juga.
“Loe kira gue badut?.”
Ali semakin terkekeh.
“Enggak. Loe lucu aja. Cantik.”
“Dari dulu keless. Loe baru sadar gue cantik?.”
Ali menghela nafas panjang. Ia tersenyum tipis, matanya tak lepas memandangi Prilly.
“Iya gue tau, daridulu loe emang cantik, loe baik, loe ramah banget. Tapi sayang... loe malah selalu jutek sama gue.”
Tak ada tanggapan dari Prilly. Ali menghela nafas panjang lagi.
“Prilly...”
“Hm.” Respon Prilly, tanpa menengok sedikitpun.
“Udah malem nih. Udah mau jam 12 juga. Gue pasti dimarahin sama Mama.”
Prilly terkekeh kecil.
“Masa sih loe dimarahin?.”
“Gue cuma dikasih waktu sampe jam 11. Paling gak dikasih masuk rumah. Hahaa.”
“Serius loe?.”
Prilly menatap Ali khawatir. Gue keterlaluan banget kalo gitu... niatnya cuma jailin dikit, masa jadi tidur diluar sih? Kan kasian...
“Kenapa loe? Kok liatinnya gitu banget?.”
“Enggak. Sorry ya... kayaknya gue keterlaluan deh suruh loe dateng malem-malem gini.”
Ali menarik ujung bibirnya, memberikan senyuman tertulusnya.
“Apa sih yang enggak buat loe?.”

Deg!

Prilly mengerjapkan matanya mendengar sekaligus melihat senyuman Ali yang entah kenapa begitu lain dimalam itu. ia semakin terkesima saat Ali mengelus kepalanya pelan kemudian berlalu. Ada apa dengan gue? Ujar Prilly sambil mengelus dadanya yang berdebar aneh.

***

Pagi-pagi sekali Prilly sudah siap dengan seragamnya, ia juga terlihat sedang menyiapkan sesuatu dikotak bekalnya.
“Prill, semalem siapa yang dateng? Kata Pas Satpam katanya ada tamu semalem.”
“Oh. Itu Ali Ma. Nganterin makanan.” Jawab Prilly.
“Jam 11 nganterin makanan?!.”
Prilly mengerutkan keningnya, ia berbalik ke arah Mamanya sambil melepaskan apron yang tadi ia kenakan.
“Iya Ma. Kenapa emangnya?.”
“Kalian pacaran?.”
“HAH?! Idih Mama ngaco. Ya enggak lah.”
“Terus Ali bela-belain dateng kesini malem-malem gitu apa? Masa gak pacaran dia mau sih dateng?.”
“Ih Mama... udah ah, tuh kayaknya Ali juga udah jemput. Bye bye Mamaaa...”
Prilly segera berlari meninggalkan Mamanya, ia enggan terus menerus digoda mamanya yang pasti akan terus bertanya tentang keingin tahuannya.

***

Ali dan Prilly keluar bersamaan dari dalam mobil Ali. Keduanya terlihat lebih akrab lagi dari sebelumnya. Banyak mata yang tertuju pada mereka saat mereka berjalan kekelasnya.
“Loe bawa apaan sih sampe tumben banget pas gue dateng loe udah nongol aja?.”
Prilly tertawa kecil. ia duduk di bangkunya begitupun Ali yang duduk dibangku yang keberulan dibelakang Prilly. Prilly mengeluarkan sebuah kotak dari tasnya. Ia memberikan kotak itu pada Ali.
“Ini. thanks ya loe udah bela-belain dateng semalem kerumah.”
“Gapapa. Ini buatan loe?.”
“Iya. Kenapa emangnya? Gak boleh gue suka masak?.”
“Bagus tuh. Calon istri yang baik.”
“Idih... siapa juga yang mau jadi istri loe?.”
“Emang siapa yang bilang calon istri gue? Cieee... geer atau ngarep?.”
“Ih apaan sih loe? Loe kali tuh yang ngarep punya istri cantik, imut, manis, pinter masak kayak gue. Gue sih enggak ya... sorry.”
Prilly kembali memunggungi Ali. Ia menghela nafas panjang.
“Iya Prill, gue emang ngarep banget punya istri kayak loe. Itupun kalo loe mau.”
Prilly terdiam. Ia berbalik lagi ke arah Ali. ia berharap Ali becanda. Ia berharap ada wajah becanda dari Ali. namun, yang ia dapat ternyata ekseriusan dari wajah Ali.
Prilly berdiri. Jujur saja, ia gugup ditatap begitu intens oleh Ali.
“Gue keluar...”

***

Exle’s HotNews
Setelah beberapa waktu lalu (07/8) kembali ke gap kamera axle bersama. Beberapa hari ini ternyata hubungan Best Couple kita terlihat merenggang kembali. Hal itu terbukti oleh kedatangan Prilly kesekolah yang kembali membawa mobil pribadinya. Ali dan Prilly pun terlihat tidak saling menyapa lagi. Sebenarnya ada apakah hubungan antara mereka berdua?

***

Prilly melongos saat melihat Ali yang sedang bersandar di pintu mobilnya. Ia mengalihkan pandangannya ke arah lain. enggan mengatakan apapun lagi.
“Prill. Loe kenapa lagi sih?.”
Ali menghela nafas panjang saat tak ada tanggapan dari Prilly. Ia menarik bahu Prilly agar menghadap ke arahnya.
“Prilly... jangan buat gue bingung. Gue ada salah apa lagi?.”
“Bingung? Buat apa bingung? Toh dari dulu gue ginikan? Udahlah awas. Gak perlu loe ganggu gue lagi.”
“Tapi Prill...”
“Pergi sekarang juga.”
Ali menghela nafas lagi. Dengan terpaksa ia menyingkir dari tempatnya. Ia melirik ke arah Agni yang menatapnya iba. Dia menggeleng pelan entah memberi isyarat apa padanya.

***

Agni... bantu gue.
Baru aja selangkah gue deket sama Prilly, masa sekarang gue jauh lagi.
Bantu ya... please...

Agni kembali menyimpan ponselnya setelah membaca pesan masuk itu. apa yang harus gue lakuin?
“Prill... loe sebenernya kenapa? Gue aja bingung liat loe aneh seminggu ini.” ucap Agni. Ia duduk diatas tempat tidur sementara Prilly duduk diambang jendela.
“Gue gak tau.”
“Loe aneh tau gak? sebelum loe gini lagi, loe keliatan akur banget sama Ali.”
Prilly menghela nafas, ia melirik ke arah Agni.
“Gue gak suka aja sama cara ngomongnya, dan gue rasa mendingan gue gak deket sama dia.”
“Loe cinta sama dia? Atau minimal, loe suka sama dia?.”
“Enggaklah.”
Agni berjalan ke arah Prilly, ia tersenyum kecil.
“Gue pulang ya... baik-baik loe mikirnya. Jangan sampe nyesel. Loe akan nyesel saat loe bener-bener kehilangan dia, walau ya gue gak tau gimana hati loe sama dia. Tapi loe bisa pertimbangin pengorbanan dia buat loe. Pikirin ya Prill, gue gak mau sesuatu yang buruk menimpa loe. Jangan sampe loe nyesel. Apalagi nanti, kalau dia udah punya cewek.”
Prilly terdiam mendengar ucapan Agni. Nyesel? Apa mungkin? Prilly melirih ponselnya yang terlihat menyala. Sebuah pesan masuk. Ia segera membukanya begitu melihat nama sipengirim pesan itu.

Prilly... gue dijodohin.

Deg!

Kenapa serasa ada dentuman yang menghantam dadanya? Apakah ini yan disebut penyesalan? Sakit hati?

***

Pagi-pagi sekali Prilly sudah duduk dipinggir lapangan basket yang menghadap langsung keparkiran. Ditangannya ada sebuah ponsel, terlihat menimbang-nimbang sesuatu. Semenjak malam tadi, ia memang terasa banyak pikiran sekali. Sehingga tidurpun tidak nyenyak sama sekali.
Prilly menegakkan duduknya saat melihat mobil Ali memasuki parkiran, ia mulai mengetikan sesuatu diponselnya. Ia mengangkat wajahnya sebelum mengirim pesan itu. ia mengerutkan keningnya saat melihat seorang gadis keluar dari mobil yang Ali. apa-apaan ini?!
“Agni?!.” Desis Prilly yang sarat akan amarah.

***

“PRILLY!!! Loe kenapa sih sampe gak mau ngomong sama gue?! Gue salah apa coba?! Ngomong kalo gue ada salah napa Prill?!.”
Agni menahan tangan Prilly yang terus saja menghindarinya. Semenjak pagi hingga pulang sekolah seperti ini Prilly masih saja menghindarinya, tidak mau berbicara sedikitpun dengannya.
“Prilly... please loe ngomong...”
“Loe mau gue ngomong apa lagi hah?!.”
“Ya loe jawab. Loe kanapa HAH KENAPA?!.”
“APALAGI SIH MAU LOE HAH?!.”
“GUA MAU LOE NGOMONG!!! LOE KENAPA?!.”
“SEKARANG GUA TANYA!!! NGAPAIN LOE SAMA ALI? selama ini loe jodoh-jodohin terus gue sama dia, loe dukung gue sama dia, loe bahkan seolah peduli sama hubungan gue sama dia. Tapi sekarang apa?! Apa?! HAH?! Loe sendirikan yang malah mau sama dia?! Udahlah... loe gak usah deketin gua lagi.”
Prilly menghentakkan kakinya kesal. Ia beranjak dari tempat itu dengan cepat meninggalkan Agni yang terlihat tak ada niat mengejarnya.
“Maafin gue Prill... gue harus lakuin ini...”

***

“Prilly... ada Ali sayang didepan... kamu temuin dia gih kasian udah lama banget nunggu kamu.”
“Aku bilang suruh dia pulang Ma... aku gak mau ketemu sama dia.”
Mama Prilly mengelus puncak kepala Prilly. Ia menghela nafas panjang.
“Kamu ada apa sama dia? Kalian marahan ya?.”
Prilly mengangkat wajahnya dari bantal, ia menarik nafas panjang kemudian menghembuskannya pelan.
“Yaudah Ma, biar Prilly temuin dia dulu.”
Entah kenapa ia paling enggan menjawab pertanyaan Mamanya jika mengenai Ali. apapun itu, entahlah... semuanya terasa begitu canggung, malu dan hal baru baginya.

Prilly duduk dihadapan Ali yang ternyata berada diruang tamu rumahnya, ia merapihkan rambut dengan tangannya.
“Ada apa?!.” Tanya Prilly tanpa menatap ke arah Ali.
“Prilly... loe marah sama Agni?.”
Prilly tersenyum masam.
“Oh. Dia laporan?.”
Ali menghela nafas panjang.
“Loe jangan marah sama dia, bagaimanapun dia sahabat loe Prill. Selama ini dia yang ada buat loe. Loe gak boleh gini sama dia.”
Prilly terdiam. Sepenting itukah Agni bagi Ali? hingga Ali memintanya untuk tidak marah pada Agni? Sebegitu pentingkah Agni?! Sebegitu tidak berharganya dirinya sekarag dimata Ali?
“Prilly... please ya... loe baikan sama Agni.”
Prilly bangkit dari duduknya, dengan masih tak menatap Prilly ia berkata.
“Silahkan keluar. Pintu keluar disebelah sana.”
Setelah mengatakan itu Prilly beranjak dari hadapan Ali. memangnya, siapa yang tak sakit hati melihat orang yang selama ini care padanya yang selama ini mengaku  selalu memperhatikannya sekarang berpaling pada sahabatnya sendiri. Salah jika ia sakit hati? Salah jika ia kecewa? Dan salah jika sekarang ia menyesal?

***

Exle’s HotNews
Best couple kita tahun ini ternyata sepertinya memang tidak akan bersatu. Kemarin (23/8) tim kami memergoki Ali bersama seorang gadis bernama Agni yang merupakan sahabat dari Prilly memasuki sekolah bersama menggunakan kendaraan milik Ali. ditambah, siang harinya Prilly dan Agni terlihat bersitegang. Apakah yang terjadi sebenarnya?

***

Prilly menghela nafas panjang. Ia menyimpan kembali ponselnya keatar nakas. Hari ini benar-benar sulit baginya. Ia merasa hanya hidup seorang diri, tak ada lagi Agni, tak ada lagi Ali. tak ada lagi keduanya. Kecewa, sangat kecewa. Kekecewaan itu masih saja membekas dalam hati Prilly.
Prilly meraih ponselnya yang berdering. Ia menerima sebuah broadcast dari group yang merupakan teman-teman satu sekolahnya.

HEY YOU!!! Hari minggu galau?! Sekarang gak lagi. Dateng yuk ke Axle’s Sport. Disini ada kehebohan lho... pokoknya buat kalian yang galau-galau akan segera terobati dan terlupakan deh galaunya. Cuss dateng ya ke Axle sekarang juga. Acara udah mau dimulai lhoooo.....

Prilly menghela nafas panjang. Ia beranjak dari tempat tidurnya kemudian meraih pakaian basket dan sepasang sepatu. Ia menasukannya kedalam tas. Setelah ia merapihkan pakaiannya ia menyisir rambutnya kemudian setelah itu beranjak. Daripada hanya diam memikirkan hal yang menyakiti hati. Bukan lebih baik jika ia pergi. Mencari teman baru atau bahkan seorang pacar?

***

Lapangan utama Axle telah ramai dengan beberapa atlet Basket. Ia tanpa pikir panjang mendekati tempat itu.
“Ada apa sih?.” Tanya Prilly pada salah seorang siswa disana.
Bukannya menjawab, siswa itu malah menepuk pundak temannya yang lain yang berada didepan Prilly. Begitupun selanjutnya hingga membentuk sebuah jalan untuknya. Ia mengerutkan keningnya. Saat ia mencapai tengah-tengah lingkaran itu, ia melihat Ali disana dengan beberapa bola basket disekitarnya.
Ali tersenyum pada Prilly yang menatap ke arahnya dengan tajam.
“Prilly...”
Prilly mendengus sebal. Mau buat gua malu lagi?
“Sumpah gue gak pernah ada hubungan apa-apa sama Agni. Gue cuma suka sama loe, gue sayang sama loe, gue cinta sama loe.”
Ali berjalan mendekati Prilly menarik Prilly mendekat ke arahnya.
“Gue mau, loe yang ada dikehidupan gue, entah sekarang ataupun nanti. Kalo loe bersedia. Loe lemparin bola-bola ini kegue dengan hitungan yang genap. Dan kalo loe berhenti di lemparan yang ganjil. Loe boleh minta gue ninggalin loe.”
Prilly masih tak buka suara. beberapa orang berbaris didekatnya dengan bola basket ditangan mereka masing-masing. Ia menerima satu persatu bola basket itu. dilemparan pertama Prilly berhenti cukup lama. Ia menatap wajah Ali yang terlihat begitu putus asa, ditangannya ada bola yang ia tangkap dari lemparannya. kemudian ia melemparkan bola kedua, namun dengan cepat disusul bola ketiga. Ali menangkapnya dengan tepat. Disetiap hitungan ganjil Prilly begitu lama memutuskan untuk melempar kembali atau tidak. hingga sampai bola ke 23, ia melemparnya pada Ali lagi, wajahnya pun semakin memohon padanya. Bola ke 24 Prilly hanya menimang-nimangnya. Ia menghela nafas panjang kemudian berbalik, berjalan meninggalkan lapangan itu.
“Prilly! Gue bener-bener sayang sama loe.”

DUK!

Lemparan itu tepat mengenai dada Ali begitu kencang. Lemparan ke 24 dari Prilly. Prilly dan Ali bertatapan cukup lama, orang-orang disana pun hanya terdiam. Masih mencerna apa yang di lakukan Prilly.
Prilly tersenyum pada Ali yang terlihat agak meringis.
“Gue mau.”

***

Epilog.

“Jadi kamu sengaja jailin aku gitu sama Agni?.”
“Lagipula kamu susah banget sih, cuma mau liat kamu sayang sama aku apa enggak aja susah banget.”
“Ih kamu jail ihhh... aku sampe marah-marahin Agni Aliiiiiii..........”
“Hahaa... gapapa orang ide dia juga.”
“Ih dasar kamu yaa...”
Prilly menghela nafas, ia menyandarkan kepalanya ditangan Ali.
“Oiya... jadi selama ini kamu ternyata udah dijodohin sama aku gitu? Kapan ada rencana kayak gitu?.”
“Dari pas awal kita masuk sekolah, aku udah tau kamu dari foto yang dikasih Mama.”
“Lama banget... kok gak cerita sih?.”
“Aku mau naklukin hati kamu dulu yang ternyata susah banget.”
Prilly terkekeh kecil. ia memeluk pinggang Ali begitupun sebaliknya. Percaya selalu ada keromantisan yang luarbiasa dibalik dua orang yang seperti musuhan diawal? Ini buktinya.

***

Exle’s HotNews
Akhirnya Best Couple kita meresmikan hubungannya pada Hari Minggu 24 Agustus 2014 bertempat di axle’s Sport.
Selamat ya... semoga kalian langgeng, bisa sampai menikah dan bahagia berdua selamanya...

***

TAMAT

No comments:

Post a Comment