Chapter 10
Pernah ada dalam posisi sulit?
Posisi dimana tak diberi kesempatan untuk menjelaskan, untuk berbicara. Bahkan
sedikitpun tak diberikan kesempatan? Pernahkah mengalami hal seperti itu?
“Prilly... loe tuh... loe
gila! Loe parah! Gue gak nyangka ya loe
bisa ngelakuin hal ini? loe bahkan lebih parah dari gue.” Agni menarik nafas
panjang, ia memegangi pinggiran kichenset. Tadi, begitu ia melihat Prilly, ia
langsung menarik sahabatnya itu ke arah dapur tanpa mengindahkan apapun lagi.
“Apa yang baru aja gue liat ini?
gue yang udah gila atau loe yang lebih gila? Gua tau apartemen loe cuma ada
satu kamar yang bahkan loe tumpangin sama gue aja ogah. Sedangkan ini?.”
“Agni...”
“Apa?! Loe bisa ya kemaren
marah-marah sama gue? Tapi ternyata... gak usah deh loe jelasin lagi. Yang
penting gue udah tau asli loe kayak gimana.” Agni menarik nafas panjang,
menahan emosinya. Ia berjalan ke arah kulkas, menuangkan segelas air.
“Agni... gue bakalan jelasin
semuanya tapi loe janji loe...”
BYUR...
Agni menyiram wajah Prilly dengan
segelas air itu.
“Agni...”
“BIAR LOE SADAR!!! Loe gak mikir
apa gimana kalo loe hamil? Emang loe yakin dia mau tanggung jawab?! Gila ya
loe...”
Prilly mengerutkan keningnya.
Tangan kanannya meraba perutnya yang memang sejak tadi terasa aneh.
Kepalanyapun mulai pening karena siraman air dingin dari Agni.
“Hamil?.”
Agni tersenyum lirih. ia menarik
poninya kebelakang dengan kesal kemudian mengalihkan pandangannya ke arah lain.
“Yaiyalah! Loe gak mikir atau
gimana sih? Loe itu cewek dan dia itu cowok! Kalian tidur satu ruangan! Satu
kamar! Satu ranjang! Dan kalian... gak ada hubungan apapun!.”
“Sebenernya... hmp.”
Prilly menutup mulutnya saat ia
merasakan isi perutnya akan keluar. Ia segera berlari ke arah wastafel.
“Prilly!!!.”
Agni panik, ia berlari ke arah
Prilly kemudian merangkul tubuh Sahabatnya itu yang mulai lemas. Ia mengurut
kengkuk Prilly pelan.
“Ali... panggilin Ali Ni.”
Agni menghela nafas.
“Ni...”
Agni melirik ke arah Prilly yang
mulai mengkhawatirkan. Wajahnya yang putih bersih, kini terlihat begitu pucat,
tubuhnya yang lemaspun mulai limbung.
“ALIIIIIIIIIIIIIIIIII....................”
***
Ali mengelus kening Prilly, sesekali
ia membiarkan Prilly menghirup minyak aroma terapi yang ia ulurkan tepat dibawah
hidungnya.
“Yaang... bangun.”
“Bawa kerumah sakit. Gue harus
mastiin sesuatu. Al... anterin aku sama Prilly.”
“Enggak! Kalian gak boleh bawa
Prilly. Prilly gapapa dan sebentar lagi dia akan sadar.”
Agni menatap Ali dengan tatapan
tajam penuh kekesalan. Bagaimana mungkin orang ini seenaknya saja melarangnya
membawa Prilly kerumah sakit. Memang siapa dia berani-beraninya melarangnya?
“Apaan sih loe? Kenapa gue gak
boleh bawa Prilly kerumah sakit? Loe takut apa hah?! Loe takut ketauan hamilin
anak orang HAH?!.”
Ali mengerutkan keningnya.
“Ya... kalo hamil gimana? Bagus
malah.”
Agni melongos.
“Gila ya loe. Loe sama Prilly
sama-sama gila!!!.”
“Gila apanya?.”
“Pokoknya gue mau bawa Prilly
kerumah sakit.”
“Enggak!.”
“Kenapa sih loe? Kenapa enggak boleh
lagi HAH?!.”
“Gue takut rumah sakit. PUAS
LOE?!.”
“Terus? Emang loe penting ikut? Gue
gak minta loe ikut.”
“Tapi gue berhak atas Prilly.”
Agni tertawa kecil.
“Berhak? Loe kira loe siapa HAH?!.”
Ali menggeretakan rahangnya. Ia
memejamkan matanya sesaat kemudian menatap Agni kembali.
“Gue suaminya...”
“APA?!.”
***
Ali, Prilly, Agni dan Al masih
berkumpul diapartemen Prilly. Beberapa saat lalu Prilly telah sadar dan
kondisinya mulai membaik.
“Gue masih gak ngerti. Loe itu gak
suka sama Ali tapi bisa nikah. Gak masuk akal.”
“Aliando Ni, bukan Ali.” ralat
Prilly. Ia kemudian menghela nafas panjang.
“Bodolah, toh orangnya sama ini.”
Prilly menghela nafas lagi. Ia
menyandarkan punggungnya kesandaran kursi sementara kepalanya ia sandarkan
kebahu Ali dengan tangan Ali yang terus saja mengelus kepala Prilly dengan
penuh kasih sayang.
“Pusing yaang?.”
Prilly mengangguk ringan. Agni
melongos melihatnya, ia melirik Al yang ternyata sedang terkekeh kecil melihat
Agni yang kesal pada Prilly yang begitu manja pada Prilly.
“Udah sayang jangan marah-marah
terus. Kasian Prilly nya juga yang sakit gitu.”
“Ya aku masih kesel Al... kemaren
dia yang marah-marah gara-gara gak aku undang. Tapi kok dia sendiri gak
ngundang?.”
“Agni...”
Agni mengalihkan pandangnya pada
Prilly.
“Gue kan udah bilang. Gue nikah
sama Ali itu dalam posisi gue gak tau Ali itu Aliando. Gue juga gak pernah tau
nama Aliando itu Muhammad Ali Syarief, suami gue.”
“St... udah yaang...” Ali kembali
mengelus puncak kepala Prilly. Sementara tangan yang bebas mengelus pipinya. Ia
menatap ke arah Agni.
“Kita baru bertemu saat Prilly
pulang. Lagipula yang tau kita menikah itu hanya keluarga. Kita dijodohkan oleh
orangtua kita.”
Agni mendengus, ia menghela nafas
panjang.
“Iya deh. Untung ya gue ngefans
sama loe. Tapi awas aja kalo gue gak dikasih foto bareng dinyanyiin juga. Gue
sebarin dimedsos kalo Prilly itu bini loe.”
Prilly yang masih terlihat lemas
terkekeh kecil begitupun juga Ali. ia menatap Agni menggoda.
“Ogah ah. Ngapain foto sama loe?.”
“Iya nih, sama gue aja dia gak
minta foto bareng. Masa sama suami orang minta sih?.” Sindir Al.
“Ih... apaan sih? Oke kalo gitu.
Gue sebarin sekarang nih.” Agni meraih ponselnya.
“Jangaaaannn... ih gue kan cuma
becanda. Kapan aja boleh kok foto bareng. Asal yang wajar aja dan...” Ali
melirik Prilly sekilas. “Kalo dapet ijin sih dari dia nih.”
Agni menaikan satu alisnya.
“Kalo gak diijinin gue bakalan
kenalin dimedsos kalo dia bini loe. Awas aja pokoknya.”
Prilly tersenyum tipis.
“Gapapa kok loe foto sama Ali.
asal...” Prilly melirik Ali dengan tatapan jahil. “Gue boleh foto sama Al.”
Ali membulatkan matanya.
“JANGAN!!!.”
Ali mengerucutkan bibirnya. Ia
menatap Prilly manja, kesal, cemburu.
“Jangan yaang... kamu cuma boleh foto
sama aku. aku gak suka, aku cemburuuuu.”
“Honey. Cuma foto ih. Yaa...”
“Ih kamu lagi ngidam ya?.”
Prilly mengerutkan keningnya.
“Ngidam? Enggak kok Honey...”
“Tapi bener Prill, loe kayak lagi
ngidam. Jangan-jangan loe hamil...” ucap Agni.
Prilly dan Ali saling bertatapan,
kaget. Masa sih Prilly hamil?
***
Prilly terkekeh kecil melihat Ali
kesana kemari didepan kichenset. Palagi dengan apron bunga-bunga yang begitu
lucu. Sementara Prilly hanya duduk dimeja makan yang tak jauh dari Ali, ia
terus saja tertawa kecil melihat Ali yang kebingungan.
“Yaang garam, gula nya ada dimana?
Terus penggorengannya pake yang mana? Ngidupin kompornya gimana? Ini kok aneh
gini? Yaang?.”
Prilly semakin terkekeh.
“Kamu kok malah ketawa sih? Yaang
ini gimana motongnya?.”
Prilly menahan tawanya kemudian
berjalan pelan ke arah Ali. ia meraih pisau ditangan Ali. kemudian mulai
mengupas beberapa sayuran dan memotonginya. Ia mulai menyalakan kompornya.
“Yaang udah biar sama aku sisanya.”
Prilly melirik kearah Ali, menatap
suaminya tak yakin.
“Aku bisa kok. Aku gak mau kamu
mual-mual lagi kayak tadi. Atau kamu udah gak mual-mual lagi?.”
“Enggak tuh. Cuma tinggal pusingnya
aja dikit.”
Ali mengelus kepala Prilly lembut
kemudian mengecupnya pelan.
“Maaf ya... aku gak bisa masak
sih.”
“Gapapa honey... kamu gak perlu kok
bisa masak.”
Ali terkekeh kecil. kemudian
keduanya melanjutkan memasak makanan untuk mereka berdua itu.
***
Prilly duduk bersandar pada kursi dengan kaki
yang sengaja ia tekuk. Dihadapannya ada Ali yang sedang bermain dengan gitar
milik Al yang sengaja ia pinjam.
“Kamu aneh-aneh aja sih? Katanya
gak suka liat aku maen-maen gitar gini. Kamu juga gak liat apa tadi Agni kesel
banget dia harus nganterin ini.”
“Bohong honey. Agni gak pernah tuh
kesel kalo buat ketemu kamu. aku tau gimana Agni.”
Ali terkekeh. Ia bergeser mendekat
ke arah Prilly. Prilly pun mengubah posisi duduknya menjadi bersandar pada Ali.
“Yaang... kamu kenapa sih? Mau
kedokter? Kali-kali aja kamu kenapa-kenapa. Makan sedikit aja gak bisa. Parah
tau gak. aku khawatir kamu muntahin makanan kamu terus.”
“Aku gapapa honey. Udah ah...
maenin gih gitarnya. Nyanyiin juga. Aku ngantuk banget.”
Ali mulai memetik gitarnya
perlahan. Sesekali ia melirik ke arah Prilly yang memandang ke arah lain dengan
pandangan kosong. Dia terlihat sedang tidak fokus, tapi kenapa?.
“Yaang?.”
“Hm...”
“Kok malah ngelamun sih? Katanya
ngantuk.”
Prilly menegakkan posisi duduknya,
ia mengambil gitar yang berada ditangan Ali kemudian ia simpan dikursi lain. ia
duduk mendekat, menyandarkan kepalanya pada pundak Ali. Ali terkekeh kecil, ia
mengelus rambut Prilly pelan.
“Kenapa yaang?.”
Prilly menarik nafas panjang.
“Aku pengen tau masalalu kamu
honey.”
“Maksud kamu?.”
“Ya... tentang cinta pertama kamu
mungkin?.”
Ali tersenyum kecil. ia menarik
pinggang Prilly agar lebih dekat disampingnya.
“Dulu... aku pernah jatuh cinta
sama seseorang, pas masih SMP.”
Prilly membenarkan posisi duduknya
lagi, ia duduk menghadap Ali dengan sempurna. menatap suaminya itu dengan
intens.
“Dia pinter, cantik, baik, ceria.
Pokoknya dia sempurna dimata aku. dia gak pernah buat masalah.”
Prilly merengut. Bolehkah ia merasa
cemburu? Suaminya sendiri memuji-muji gadis lain dihadapannya tanpa ada belas
kasihan padanya. Apa dia tidak bisa menjaga perasaannya? Meskipun gadis itu
cinta pertama suaminya itu. tapi tidak perlu segitunya jugakan memujinya?
“Sayangnya... aku gak sempet
kenalan, aku cuma satu tahun satu SMP sama dia. Lagipula dulu aku sama dia gak
satu kelas. Mungkin aja dia gak kenal aku juga atau bahkan gak mau kenal sama
aku. soalnya denger-denger dia gak terlalu suka sama cowok ganteng.”
Prilly mengerutkan keningnya, ia
memukul pelan dada Ali.
“Emang kamu ganteng? Pede banget
sih kamu. terus... emang kamu gak usaha kenalan gitu?.”
Ali tersenyum kecil. ia menarik
tangan Prilly. Menggenggamnya erat.
“Bukannya gak usaha, tapi gak ada
kesempatan yaang... gak tau kenapa aku ragu aja setiap deket sama dia. Aku tuh
dimata dia kayak bayangan semu yang bahkan gak penting buat dia liat.”
“Jadi, kamu memutuskan cuma buat
liatin dia aja gitu honey?.”
Ali mengangguk kecil.
“Aku cuma perhatiin semuanya
tentang dia, dari cara dia senyum, ketawa, cemberut, nangis bahkan saat dia
capek atau tidur dikelas aku pernah liat semuanya, aku selalu perhatiin dia.
Ya... kamu ngertilah gimana orang yang lagi jatuh cinta.”
Prilly menghela nafas panjang.
“Beruntung ya yang kamu perhatiin.
Kisah cinta pertama kita hampir sama. Aku juga bahkan gak sempet kenalan sama
dia.”
“Kok bisa?.”
“Saat itu aku ketemu dia pas aku
gak sengaja mau ketabrak diparkiran sekolah. Dia nolongin aku, narik aku sampe
dia yang jatoh dan kepalanya luka. Pas aku mau tolong dia, orangtua dia datang
dan bawa dia pergi. Ternyata dia itu mau pindah sekolah, aku coba cari berita
tentang dia, segalanya tentang dia... dari nama atau bahkan alamat atau ya
seenggaknya akun sosial media tapi aku gak dapet apapun, dia ternyata bukan
orang yang banyak ngasih tau data pribadinya sama orang-orang dan dari saat
itulah aku sadar, mungkin aku jatuh cinta sama dia pada pandangan pertama.”
Ali tersenyum kecil. ia menatap
Prilly, menyejajarkan wajahnya pada Prilly. Ia tersenyum lagi kemudian
menyibakkan rambutnya. Prilly mematung. Ia memegang kepala Ali, mengelus sebuah
bekas luka tepat diantara rambut bagian depan Ali.
“Jadi?.”
Ali meraih wajah Prilly, begitu
juga Prilly.
“Cinta pertama aku itu kamu.” ucap
Ali da Prilly bersamaan.
Air mata Prilly berurai. Bagaimana
ini terjadi? Takdir Tuhan memang indah. Ali memeluk erat tubuh Prilly. Begitu
juga Prilly. Ternyata benar, tak pernah ada yang namanya kebetulan didunia ini.
karena yang ada hanyalah takdir Tuhan. Takdir yang begitu indah, takdir yang
bahkan belum pernah terpikirkan sedikitpun sebelumnya.
“Honey...”
“Ya yaang?.”
“Makasih dan maaf...”
“Buat apa?.”
“Makasih usah mau sayang sama aku
dan cinta sama aku selama itu, dan maaf aku gak pernah menyadari itu. bahkan
aku sempet gak percaya pas kamu bilang diinfotaiment kalo kamu masih setia sama
cinta pertama kamu.”
Ali terkekeh. Ia tak melepaskan
Prilly. Ia mengelus puncak kepala Prilly, kemudian mengecupnya lama.
Menyalurkan seluruh kasih sayang yang begitu melimpah pada gadisnya ini.
Prilly mengurai pelukannya. Ia dan
Ali berpandangan dengan senyum yang terus terukir dibibirnya. Ali mengapus air
mata Prilly dengan kedua ibu jarinya.
“Aku sayang kamu honey...”
“Aku lebih sayang kamu yaang...
lebih sayang kamu...”
Keduanya masih bertatapan. Ali
merapatkan diri pada Prilly. Menjatuhkan Prilly diatas sofa, keduanya masih
bertatapan, semakin dekat dan menghapuskan jarak antara keduanya.
***
Ali terbangun. Ia melirik kearah
sampingnya. Prilly tak ada disana.
“Yaang...”
“Honeyyyy...” panggil lirih Prilly
dari arah kamar mandi.
Dengan cepat Ali berlari ke arah
kamar mandi, ia mendapati Prilly yang berada didekat wastafel.
“Yaang?.”
“Honey...”
“PRILLYYYY ALIIII........ MAMA
DATENG.”
Ali dan Prilly berpandangan. Ali
segera memapah Prilly kembali ketempat tidur. ia merebahkan Prilly,
menyelimutinya kembali.
“Yaang kamu tidur dulu ya... Mama
kayaknya udah dateng, aku bukain pintu dulu.”
Prilly menganggukan kepalanya.
Setelah itu Ali meninggalkan Prilly sendiri. Tak lama kemudian ternyata Riani
datang.
“Prilly... bangun sayang. Mama
periksa dulu.”
Prilly kembali membuka matanya, ia
tersenyum pada Riani yang terlihat panik.
“Ma... Mama Reina mana?.”
Riani mengeluarkan beberapa alat
medisnya. Prilly baru tau jika Mama mertuanya itu seorang bidan yang bekerja
sukarelawan di kompleks rumahnya, selama ini yang dibilangnya arisan yang ia
kira foya-foya ternyata Mamanya itu sedang mengobati warga sekitar yang kurang
mampu.
“Mama kamu masih diperjalanan
sayang. Begitu Mama denger kamu sakit dari Ali, Mama langsung terbang kesini.
Sementara Mama kamu masih diluar kota sama Papa kamu, jadi mungkin nanti siang
datang.”
“Oh gitu.”
“Asam lambung kamu naik sayang...
tapi.”
Ali mengerutkan keningnya. Ia duduk
bersila disamping Prilly sambil menatap Riani.
“Apa mungkin kamu hamil?.”
Ali dan Prilly berpandangan.
Benarkah? Tapi... manamungkin?. Keduanya menatap Riani yang menatap kedua
puterinya sambil tersenyum menggoda.
***
Bersambung.
Oke. Ini gaje banget seoalnya aku
maksain banget alurnya. Jelek? Aneh? Wajar karena aku lagi bad mood banget
beberapa hari ini. tapi, semoga kalian tetep kemal ya dan tetep setia nungguin
ceritanya. :)
Jangan lupa baca artikel ini dan
update cerita yang akan di share atau yang lagi dibuat akan selalu di share di
twitter aku di @SopiahNenden. Yang mau tanya apapun tentang cerita-ceritaku,
kritik atau saran dan apapun itu silahkan ask di askfm aku @SopiahNenden.
Terimakasih sebelumnya :)
gk sabar nh say nunggu lanjutan'a heheee
ReplyDeleteayooo cepet di next
ReplyDeletegak sabar... lanjutannya dong pliiissss
ReplyDeleted next donk,tiap hri nongkrongin nech blog nunggu lnjutannya bloem kluar,gk sabar pnsran sma sma klanjutannya
ReplyDeleteLanjutin dong kak..udah gak sabar nih..
ReplyDelete