Friday, 22 August 2014

Long Distance Marriage



Chapter 9

Prilly menghela nafas panjang saat melihat berita disebuah media online dan media social. Ia yak habis pikir, ternyata mention Ali benar-benar membuat publik gempar.

Udahlah Ni, loe gak usah ambil pusing.

Tapi Prill...
Ya gue gak terima aja. Siapa coba dia?

Ya loe berpikir positif aja kenapa sih?
Lagipula itu kehidupan pribadi dia.

Gue kan ngefans sama dia.
Jadi gue kudu tau.

Loe itu sebenernya ngefans apa naksir sih?
Rempong loe.


Nih ya Prill, gak mungkinlah itu Mamanya.
Gak mungkin Mamanya,
Kalo Mamanya, kenapa dia harus kayak orang nyamar gtu?

Urusan dia keles.
Ngapain loe rempong?
Kalo ngefans itu dukung dong apa keputusan idola loe.
Loe gak boleh kayak gitu.
Ngefans itu sama karyanya, orangnya jadiin motivasi buat kita.
Jangan malah loe ngatur hidup pribadi dia.
Kepo masalah pribadi dia.
Gak pantes tau fans kayak gitu.
Loe pikir loe siapa?
Kalo loe bener-bener real fans, ya loe dukung aja apa kata idola loe.

Idih ngomel aja loe.
Iye deh iyeee

Tuh kan loe dibilangin malah kayak gitu.
Terserah loe deh ya...
Gue udah kasih tau loe.
Sadar dong loe. Loe itu obsesi sama dia bukan ngefans!!!

Obsesi apanya? Kagak lahh...
Tuh tuh tuh... ada info terbaru.
Dia masih aja bilang itu Mamanya.

Yaudah sih percaya aja kenapa sih?
Udah ah. Males gue ngomong sama loe!!!

Prilly mematikan obrolan dengan Agni, kemudian ia menutup laptopnya. Kenapa ya banyak sekali yang begitu terobsesi pada suaminya itu? sahabatnya sendiri juga kayak gitu. Waduh!!! Gimana kalo Agni tau Ali beneran udah nikah? Dan istrinya itu gue? Haduh... gimana ya?
Prilly menghela nafas panjang. Ia meraih ponselnya kemudian mendial nomor yang telah ia kuasai diluar kepala itu.
“Assalamu’alaikum yaang.”
“Wa’alaikumsalam Honey. Honey,  aku takut nih.”
“Takut apa sih yaang?.”
“Aku takut orang-orang tau. Nanti kalo aku dibully gimana? Bully yang dari kemaren aja tertuju buat aku meski gak di tag ke aku.”
Ali terkekeh kecil.
“Yaang... sabar ya... nanti juga aku yakin mereka gak bakalan kayak gitu. Kalo mereka nyakitin kamu berarti mereka gak sayang sama aku, berarti mereka bukan ngefans sama aku.”
“Honey...”
“Kenapa sayaang? Aku sayang sama kamu dan aku akan selalu ada disamping kamu. jadi kamu tenang ya... aku bakalan bertindak kalo mereka macem-macem sama kamu.”
Prilly menggembungkan pipinya. Ia kesal dan takut secara bersamaan.
“Iya honey. Pokoknya kamu harus jagain aku.”
“Iya sayaang... yaang aku lagi mau take nih.”
Prilly mendengus.
“Yaudah. Assalamu’alaikum.”
Ali terkekeh kecil. masih saja Prilly seperti itu jika menyangkut sisi dari dirinya yang lain. tapi, entah kenapa itu merupakan hiburan tersendiri untuknya.
“Wa’alaimumsalam. I love you Sayaang.”
“I love you too Honey.”
Prilly menyimpan ponselnya di nakas kemudian menjatuhkan diri kepembaringan. Bayangan kekesalah Agni terus saja menghantui dirinya.

“Gue yakin... pasti cewek itu dibully abis-abisan kalo ketauan. Gue yakin!!!.”

Prilly menggelengkan kepalanya.
“Enggak... gue gak mau. Enggak....”
Prilly menarik sebuah bantal kemudia menutup wajahnya dengan bantal itu. itu tidak boleh terjadi padanya. Tidak!!!

***

Hari demi hari tanpa perasa berlalu begitu saja. Setiap hari hanyalah ponsel yang menghubungkan Prilly pada suaminya. Hanya itu saja. Rasa rindu yang semakin membuncahpun begitu terasa. Masalah demi masalah itu mereka abaikan karena kebungkaman Ali dan juga cara mengelaknya dia, hingga mereka bosan mengabarkannya dan gosip itupun menjadi menguap.
Rindu, kata itulah yang bisa digambarkan untuk perasaan Prilly, dua minggu sudah ia berpisah dengan Ali. Rindu itu membuatnya semakin tidak karuan. Menulis skripsi tidak fokus, membaca juga tidak fokus. Semuanya tidak fokus.
“Hang out yuk Prill, kebetulan sekalian gue mau ketemuan sama Al... katanya dia baru aja sampe kesini.”
“Loe gak mikirin cowok loe apa Ni? Gak kasian apa? Entar dia cemburu.”
Agni tersenyum masam.
“Gue udah putus kali Prill.”
“Lho? Kok gue gak dikasih tau sih Ni? Kok gitu? Kenapa? Kok putus sih?.”
Agni tersenyum kemudian terkekeh.
“Perasaan ddua minggu lalu gue ngomong deh udah putus. Loe kenapa aneh gitu sih? Ih gak biasanya loe pikunan. Udah ah... yuk. Gue juga liat loe akhir-akhir ini bete gitu.”
“Sebentar ya... gue ambil tas dulu.”
Setelah melihat anggukan dari Agni Prilly berlalu menuju kamarnya sambil diam-diam mendial nomor Ali.
“Ya sayang? Hallo?.”
“Assalamualaikum.”
Ali terkekeh.
“Waalaikumsalam sayang. Ada apa? Aku baru mau istirahat nih.”
“Aku mau jalan sama Agni ya Honey? Kasian dia baru putus sama cowoknya.”
“Yaudah, kamu juga pasti butuh hiburankan? Pasti pusing mikirin skripsi.”
“Aku lebih pusing mikirin kamu Honey. Aku takut kamu selingkuh.”
“Haha... gak mungkin sayang. Cinta aku itu udah stuck dikamu.”

“Prilly loe ngapain sih lama banget?.”

“Honey, Agni udah manggil tuh. Udah dulu ya... jangan lupa makan dan banyak istirahat ya honey, aku jalan dulu.”
“Iya Barbie sayang... I love you...”
“I love you too Honey. Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam...”

“Prilly!.” Agni menyembul dari balik pintu kamar. “Lagi ngapain sih loe lama banget?.”
Prilly segera memasukan ponselnya kedalam tas. Ia tersenyum pada Agni kemudian menghampiri sahabatnya itu.
“Yuk... gak usah bengong gitu deh.”
Agni mendelik ke arah Prilly, namun kemudian ia mengedikan bahunya. Setelah itu keduanya pergi meninggalkan apartemen itu.

***

Prilly dan Agni duduk disalah satu tempat duduk yang agak kepojokan.
“Prill, kok muka loe pucet gitu? Gak kayak biasanya?.”
Prilly mengerutkan keningnya, kemudian ia langsung mengambil bedaknya untuk berkaca. Ia memperhatikan seksama kedua pipi dan matanya.
“Biasa aja kali Ni.”
“Enggak Prilly. Loe pucet. Loe sakit ya?.”
Prilly mengedikkan bahunya sambil memasukan bedak itu kedalam tasnya.
“Gak tau, akhir-akhir ini gue emang gak enak badan, mungkin terlalu capek nulis skripsi, gue juga beberapa hari ini tidurnya tengah malem terus, bahkan kadang sampe dini hari gue masih melek.”
Agni menghela nafas. ia tak habis pikir dengan sahabatnya itu. ia juga heran sendiri, apasih motif dia hingga harus menyelesaikan skripsinya secepet itu? seperti yang terburu-buru gak jelas padahal dulu dia tidak seperti ini.
“Kalo ada apa-apa kasih tau gue ya. gue jadi khawatir liat muka loe yang pucet kayak gitu.”
“Iya tenang aja keles.” Prilly terkekeh kecil melihat Agni begitu khawatir padanya. “Eh itu Al.” Tunjuk Prilly pada seseorang yang baru saja memasuki tempat itu.
Agni tersenyum, ia melambaikan tangannya pada Al yang mulai mendekat.
“Kamu kok lama sih?.”
“Ada urusan dulu sayaang.”
Prilly mengerutkan keningnya, ia menatap Al dan Agni bergantian. Ia masih belum mencerna kedekatan mereka itu.
“Oiya ini temen aku, Prilly. Dia ngefans banget lho sama kamu.”
“Al.” Al mengulurkan tangan pada Prilly. Sementara Prilly masih menatap Agni dengan tatapan curiga.
“Tunggu... sebenernya ini ada apa? Gue bingung lho...”
Al mengerutkan keningnya melihat Prilly bertanya begitu heran. Ia melirik ke arah Agni  yang terlihat tak memperhatikan keduanya, menghindari tatapan Prilly.
“Agni belum cerita?.”
Prilly menggelengkan kepalanya.
“Kita udah Tunangan.”
“WHAT?!.”

***

Prilly menarik Agni menjauhi Al, ia menarik Agni hingga memasuki sebuah toilet umum. Ia butuh penjelasan yang sejelas-jelasnya. Kenapa ini seperti ini? kenapa bisa? Kok gak ada media yang tau sih? Kok ia gak diundang sih? Beribu pertanyaanpun berkecamuk dalam pikirannya.
“Sekarang loe jelasin sama gue!!!.”
“Ya... gitu. Bener apa kaya dia.”
“Maksud loe?.”
Agni mengacungkan tangan kirinya, memamerkan sebuah cincin yang telah melingkar begitu manis dijari manisnya.
“Tapi kapan Ni? Kok loe gak ngasih tau gue sih? Kok loe gak bilang sih? Loe udah gak anggap gue sahabat loe?.”
“Prilly... gue dijodohin. Acaranya juga dadakan. Lagipula gak ngundang siapa-siapa kok. Beneran. Loe tau sendirikan gimana dia?.”
“Tapi masa sahabat sendiri loe gak kasih tau sih?.”
Prilly menatap tajam ke arah Agni, ia mengatur nafasnya yang tida stabil. Ia sebal sekali degan sahabatnya itu. apa dia tidak menghargainya? Kenapa sekedar di beritahupun tidak? sahabat macam apa itu?.
“Sahabat macem apa sih yang gak mau ngundang sahabatnya sendiri?.”
Setelah mengatakan itu Prilly keluar dari toilet. Ia merasa begitu dongkol melihat sahabatnya seperti itu. ia merasa tak dihargai.
“Prilly maafin gue.”
“Udahlah... gak usah ketemu gue lagi.”
Prilly menyentakkan tangan Agni kemudian berjalan cepat meninggalkan Agni yang masih terdiam di depan pintu toilet. Apakah ia salah menunda memberitahunya? Ia hanya mencari waktu yang tepat. Kenapa sekarang malah seperti ini? Agni menghela nafas panjang. Gue tau Prill, loe gak bakalan lama marah sama gue. Gue harap loe beneran gak lama ya marahnya. Loe sahabat gue... maafin gue kalo gue salah.

***

Wajah Prilly masih terlihat memendam amarahnya, ia masih kesal dengan sahabatnya itu, ditambah lagi ponsel Ali mati, tidak bisa dihubungi. Semakin membuat mood nya semakin buruk.
“Mister Stop.”
Prilly menghentikan taksi itu didepan sebuah super market yang tak jauh dari apartemennya. Jika ia kesal, ia akan melampiaskan kekesalannya itu dengan memasak, untuk itu ia memutuskan untuk membeli beberapa bahan makanan untuk ia masak.
Prilly menghela nafas panjang. Agni... gue gak nyangka ya... loe kayak gitu. Kenapa sekedar ngasih tau aja gak mau. Lagipula gue gak mungkin kok ngasih tau orang lain kalo itu privasi. Sebenernya apa sih yang dia pikirkan? Dia kira gue gampang bocorin rahasia orang? Prilly mendengus kesal lagi.
Setelah mengambil beberapa bahan makanan ia lekas membayarnya. Setelah itu ia berjalan menuju apartemennya. Pikirannya masih saja tertuju pada Agni. Idolanya Tunangan dengan Sahabatnya. SAHABATNYA!!!! Sungguh luar biasa. Ia memang sempat mendengar gosip jika idolanya itu telah dijodohkan dengan orang tuanya. Tapi gak perlu Agni Agni juga keless. Sahabatnya!!!. Sebenarnya Prilly bukan kesal mengenai gadis yang dijodohkannya itu Agni. Tapi bagaimana bisa ia tidak diberitahu? Bagaimana bisa seperti itu?
Prilly mengerutkan keningnya saat memasuki apartemennya  yang gelap itu. perasaan sebelum berangkat ia telah menyalakan semua lampunya. Ia berjalan meraba-raba dengan kakinya, takut menyenggol sesuatu. Prilly menarik nafas, jujur saja ia sangat takut jika yang masuknya itu orang jahat. Ia menyimpan belanjaannya begitu hati-hati kemudian ia merogoh ke dalam belanjaannya itu. tadi ia membeli minuman dalam sebuah botol. Ini dia... awas aja kalo macem-macem gue pukul pake ini. saat ia menekan stop kontak, sebuah tangan yang begitu dingin menghentikannya.
“SIAPA LOE. Mundur atau gue pukul loe pake minuman ini.”
Prilly menarik nafas panjang, dia tak menyahuti ucapannya. Dengan penuh berani ia menyalakan lampunya.

TEK!

“AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA.....................”
“Sayaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaang.”
“Honey... kamu ngapain sih gelap-gelapan kayak hantu kayak tadi? Mana tangan kamu dingin lagi.”
Prilly memandang Ali yang berada dihadapannya. Ia mengerjapkan matanya beberapa kali. Sementara Ali hanya memandang Prilly sambil tersenyum.
“Honey? Honey ini kamu?.” Prilly menatap Ali tak percaya. Ali tersenyum sambil mengelus pipi Prilly.
“Honeeeyyy...” Prilly berhamburan memeluk Ali.
“Honey aku kangen banget sama kamu honey... kapan kamu dateng? Kenapa kamu gak bilang sama aku sih? Akukan bisa masakin dulu buat kamu.”
“Aku juga kangen kamu sayaang... inikan kejutan sayaang...”
Prilly mengeratkan pelukannya pada Ali, begitupun dengan Ali. Mereka saling merangkul melepaskan rasa rindu yang begitu membelenggu.
“Aku gak nyangka kamu bakalan kesini.” Ucap Prilly dengan tangan yang masih memeluk Ali. Ia masih enggan untuk melepaskannya.
Ali tersenyum. Ia mengelus punggung dan kepala Prilly. Kemudian mengecup puncak kepala istrinya itu, menyalurkan seluruh rasa rindu dan kasih sayangnya pada Prilly. Namun, kedekatan itu terhenti oleh suara ponsel Prilly.
Ali melepaskan pelukannya pada Prilly, begitupun sebaliknya.
Ali mengerutkan keningnya. Saat Prilly hanya memandangi ponselnya itu dengan wajah yang kesal.
“Siapa yaang?.”
“Agni.”
“Tapi kok kamu cemberut gitu?.”
“Honey... kamu tau? Akukan ngafans banget tuh sama Al Ghazali. Tapi ternyata Agni tunangan sama dia. Aku gak mempermasalahkan ya masalah tunangan-tunangannya, aku bodo amat. Aku gak peduli. Tapi, kenapa dia tega banget sih gak undang aku? atau minimal ngasih tau aku? gimana aku gak sebel coba? Aku berasa gak dihargain banget.”
Ali melipat kedua tangannya didada sambil memperhatikan Prilly yang terlihat begitu kesal. Ia terkekeh kecil kemudian mencubit hidung Prilly.
“Kamu sendiri? Udah ngasih tau Agni kalo kamu udah nikah sama aku? yang kata kamu dia itu ngefans banget sama Aliando?.”

Deg!

Ya! Prilly melupakan satuhal yang itu. ia lupa... ia lupa Agni sangat menggilai suaminya, ia begitu mengidolakan suaminya. Ia menatap Ali, kemudian menggeleng pelan.
“Honey... aku lupa. Pasti dia akan lebih marah sama aku. karena aku tadi udah marah-marahin dia. Aduhh Honey... gimana dong?.”
Ali tersenyum kecil. ia menekan kedua pipi Prilly dengan telunjuknya.
“Kamu ada-ada aja sih. Tinggal kamu jelasin aja besok. Kamu juga minta maaf sama dia. Toh kamu sama dia itu, satu sama kan?.”
Prilly menghela nafas.
“Iya sih. Yaudah aku bilang aja besok. Lambat laun dia juga bakalan tau.”
“Nah gitu dong. Itu baru Illy nya Ali.”
Prilly terkekeh kecil.
“Apaan sih kamu...”
Ali terkekeh melihat Prilly yang tersipu malu. ia kembali memeluk istrinya itu yang masih ia rindukan.

***

Pagi-pagi sekali Agni memutuskan untuk menemui Prilly, ia enggan masalahnya jadi berlarut-larut, karena bagaimanapun juga ia dan Prilly bersahabat dan tidak seharusnya sahabat itu bertengkar lebih lama lagi.
“Kamu tenang aja. Mana ada sih sahabat yang marahan lama.”
“Ya kamu enak Al. Aku? aku takut Illy marah-marah lagi.”
Al terkekeh. Ia menjangkau kepala Agni kemudian mengelusnya.
“Tenang sayang.”
Agni tersenyum kecil kemudian mengalihkan pandangannya keluar jendela mobil. Pokoknya masalah itu harus selesai saat ini juga.

***

Ali membuka matanya setelah ia rasa cahaya dari luar sana mulai menerpa wajahnya. Tadi, selepas menjalankan kewajibannya beribadah ia dan Prilly tidur kembali. Ia menghela nafas panjang kemudian melirik ke arah Prilly yang masih terlelap, ia mengelus wajah istrinya itu yang dari kemarin terlihat lebih pucat dari biasanya.
“Yaang...”
Prilly bergumam, ia hanya menggerakan tubuhnya menjadi menghadap ke arah Ali.
Ali terkekeh kecil, ia meniup-niup wajah Prilly dengan tangan kanan yang mencubit hidung istrinya itu dengan gemas. Prilly mengerutkan keningnya sambil bergumam tanpa membuka matanya.
“Honey... aku ngantuk.”
“Siang yaang... makan yuk, kita jalan keluar. Kamu pucet banget.”
“Enggak Honey... perut aku gak enak banget dari semalem. Nanti aku masakin aja buat kamu.”
Ali menghela nafas, ia menarik pinggang Prilly agar mendekat ke arahnya. Ia mengelus kepala Prilly dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya mengelus pinggang Prilly.
“Kamu istirahat aja yaang... biar aku yang cari makan ya.”
“Jangan...” Prilly melepaskan dirinya dari Ali, ia mendudukan dirinya pelan sambil merapihkan rambutnya.
Ali mendudukan dirinya mengikuti Prilly. Ia mrapihkan rambut Prilly yang berantakan itu. sementara Prilly menatap Ali sambil tersenyum. Betapa beruntungnya dia memiliki Ali yang begitu perhatian padanya.

TING NONG...

Prilly dan Ali kompak menatap ke arah luar, keduanya kemudians aling menatap.
“Siapa yang kesini pagi-pagi yaang?.”
Prilly menggelengkan kepalanya pelan.
“Gak tau.”
“Yaudah biar aku buka.”
Ali turun dari pembaringan kemudian keluar dari kamar.
“Tunggu sembentar...”
Ali mulai membuka kunci pintu utamanya.
“Prilly! Loe marah sama gue sampe loe ganti password apartemen... Aliando?.”

“Honey siapa yang dateng?.”
Prilly keluar dari kamarnya masih dengan mengenakan piamanya sementara tangannya sambil berusaha menguncir rambutnya. Ia menoleh ke arah pintu.
“Agni?.”

***

Bersambung.

Jangan lupa baca Artikel iniyaaaa...
Terimakasih udah mau baca cerita karya-karya aku. meskipun jelek, terimakasih udah mau nunggu dan baca. :)
Please pada siapapun dimohon untuk tidak mengcopy-paste tulisan dalam blog ini tanpa seijin penulisnya ya :) dimohon untuk bisa menghargai karya orang lain.
Untuk kritik dan sarannya masih bisa kok kalian sampaikan di Twitter dan Ask.fm di @SopiahNenden. :)
Aku berharap bukan hanya minta dilanjut dan nanya kapan lanjut ya (tapi terserah kalian juga sih, toh aku juga seneng kalian ask gitu berarti kalian nungguin cerita aku) hehee... boleh juga lho saran apapun, ask apapun. Aku tunggu ya... selamat berteman... :D

Terimakasih. :)

2 comments: