Chapter 9
Prilly menghela nafas panjang saat
melihat berita disebuah media online dan media social. Ia yak habis pikir,
ternyata mention Ali benar-benar membuat publik gempar.
Udahlah Ni, loe gak usah ambil pusing.
Tapi Prill...
Ya gue gak
terima aja. Siapa coba dia?
Ya loe berpikir positif aja kenapa sih?
Lagipula itu kehidupan pribadi dia.
Gue kan ngefans sama dia.
Jadi gue kudu tau.
Loe itu sebenernya ngefans apa naksir sih?
Rempong loe.
Nih ya Prill, gak mungkinlah itu Mamanya.
Gak mungkin Mamanya,
Kalo Mamanya, kenapa dia harus
kayak orang nyamar gtu?
Urusan dia keles.
Ngapain loe rempong?
Kalo ngefans itu dukung dong apa keputusan idola
loe.
Loe gak boleh kayak gitu.
Ngefans itu sama karyanya, orangnya jadiin motivasi buat
kita.
Jangan malah loe ngatur hidup pribadi dia.
Kepo masalah pribadi dia.
Gak pantes tau fans kayak gitu.
Loe pikir loe siapa?
Kalo loe bener-bener real fans, ya loe dukung aja
apa kata idola loe.
Idih ngomel aja loe.
Iye deh iyeee
Tuh kan loe dibilangin malah kayak gitu.
Terserah loe deh ya...
Gue udah kasih tau loe.
Sadar dong loe. Loe itu obsesi sama dia bukan
ngefans!!!
Obsesi apanya? Kagak lahh...
Tuh tuh tuh... ada info terbaru.
Dia masih aja bilang itu Mamanya.
Yaudah sih percaya aja kenapa sih?
Udah ah. Males gue ngomong sama loe!!!
Prilly mematikan obrolan dengan
Agni, kemudian ia menutup laptopnya. Kenapa ya banyak sekali yang begitu
terobsesi pada suaminya itu? sahabatnya sendiri juga kayak gitu. Waduh!!! Gimana kalo Agni tau Ali beneran
udah nikah? Dan istrinya itu gue? Haduh... gimana ya?
Prilly menghela nafas panjang. Ia
meraih ponselnya kemudian mendial nomor yang telah ia kuasai diluar kepala itu.
“Assalamu’alaikum
yaang.”
“Wa’alaikumsalam Honey. Honey, aku takut nih.”
“Takut
apa sih yaang?.”
“Aku takut orang-orang tau. Nanti
kalo aku dibully gimana? Bully yang dari kemaren aja tertuju buat aku meski gak
di tag ke aku.”
Ali terkekeh kecil.
“Yaang...
sabar ya... nanti juga aku yakin mereka gak bakalan kayak gitu. Kalo mereka
nyakitin kamu berarti mereka gak sayang sama aku, berarti mereka bukan ngefans
sama aku.”
“Honey...”
“Kenapa
sayaang? Aku sayang sama kamu dan aku akan selalu ada disamping kamu. jadi kamu
tenang ya... aku bakalan bertindak kalo mereka macem-macem sama kamu.”
Prilly menggembungkan pipinya. Ia
kesal dan takut secara bersamaan.
“Iya honey. Pokoknya kamu harus
jagain aku.”
“Iya
sayaang... yaang aku lagi mau take nih.”
Prilly mendengus.
“Yaudah. Assalamu’alaikum.”
Ali terkekeh kecil. masih saja
Prilly seperti itu jika menyangkut sisi dari dirinya yang lain. tapi, entah
kenapa itu merupakan hiburan tersendiri untuknya.
“Wa’alaimumsalam.
I love you Sayaang.”
“I love you too Honey.”
Prilly menyimpan ponselnya di nakas
kemudian menjatuhkan diri kepembaringan. Bayangan kekesalah Agni terus saja
menghantui dirinya.
“Gue
yakin... pasti cewek itu dibully abis-abisan kalo ketauan. Gue yakin!!!.”
Prilly menggelengkan kepalanya.
“Enggak... gue gak mau. Enggak....”
Prilly menarik sebuah bantal
kemudia menutup wajahnya dengan bantal itu. itu tidak boleh terjadi padanya.
Tidak!!!
***
Hari demi hari tanpa perasa berlalu
begitu saja. Setiap hari hanyalah ponsel yang menghubungkan Prilly pada
suaminya. Hanya itu saja. Rasa rindu yang semakin membuncahpun begitu terasa.
Masalah demi masalah itu mereka abaikan karena kebungkaman Ali dan juga cara
mengelaknya dia, hingga mereka bosan mengabarkannya dan gosip itupun menjadi
menguap.
Rindu, kata itulah yang bisa
digambarkan untuk perasaan Prilly, dua minggu sudah ia berpisah dengan Ali.
Rindu itu membuatnya semakin tidak karuan. Menulis skripsi tidak fokus, membaca
juga tidak fokus. Semuanya tidak fokus.
“Hang out yuk Prill, kebetulan
sekalian gue mau ketemuan sama Al... katanya dia baru aja sampe kesini.”
“Loe gak mikirin cowok loe apa Ni?
Gak kasian apa? Entar dia cemburu.”
Agni tersenyum masam.
“Gue udah putus kali Prill.”
“Lho? Kok gue gak dikasih tau sih
Ni? Kok gitu? Kenapa? Kok putus sih?.”
Agni tersenyum kemudian terkekeh.
“Perasaan ddua minggu lalu gue
ngomong deh udah putus. Loe kenapa aneh gitu sih? Ih gak biasanya loe pikunan. Udah
ah... yuk. Gue juga liat loe akhir-akhir ini bete gitu.”
“Sebentar ya... gue ambil tas
dulu.”
Setelah melihat anggukan dari Agni
Prilly berlalu menuju kamarnya sambil diam-diam mendial nomor Ali.
“Ya
sayang? Hallo?.”
“Assalamualaikum.”
Ali terkekeh.
“Waalaikumsalam
sayang. Ada apa? Aku baru mau istirahat nih.”
“Aku mau jalan sama Agni ya Honey?
Kasian dia baru putus sama cowoknya.”
“Yaudah,
kamu juga pasti butuh hiburankan? Pasti pusing mikirin skripsi.”
“Aku lebih pusing mikirin kamu
Honey. Aku takut kamu selingkuh.”
“Haha...
gak mungkin sayang. Cinta aku itu udah stuck dikamu.”
“Prilly loe ngapain sih lama
banget?.”
“Honey, Agni udah manggil tuh. Udah
dulu ya... jangan lupa makan dan banyak istirahat ya honey, aku jalan dulu.”
“Iya
Barbie sayang... I love you...”
“I love you too Honey.
Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam...”
“Prilly!.” Agni menyembul dari
balik pintu kamar. “Lagi ngapain sih loe lama banget?.”
Prilly segera memasukan ponselnya
kedalam tas. Ia tersenyum pada Agni kemudian menghampiri sahabatnya itu.
“Yuk... gak usah bengong gitu deh.”
Agni mendelik ke arah Prilly, namun
kemudian ia mengedikan bahunya. Setelah itu keduanya pergi meninggalkan
apartemen itu.
***
Prilly dan Agni duduk disalah satu
tempat duduk yang agak kepojokan.
“Prill, kok muka loe pucet gitu?
Gak kayak biasanya?.”
Prilly mengerutkan keningnya,
kemudian ia langsung mengambil bedaknya untuk berkaca. Ia memperhatikan seksama
kedua pipi dan matanya.
“Biasa aja kali Ni.”
“Enggak Prilly. Loe pucet. Loe
sakit ya?.”
Prilly mengedikkan bahunya sambil
memasukan bedak itu kedalam tasnya.
“Gak tau, akhir-akhir ini gue emang
gak enak badan, mungkin terlalu capek nulis skripsi, gue juga beberapa hari ini
tidurnya tengah malem terus, bahkan kadang sampe dini hari gue masih melek.”
Agni menghela nafas. ia tak habis
pikir dengan sahabatnya itu. ia juga heran sendiri, apasih motif dia hingga
harus menyelesaikan skripsinya secepet itu? seperti yang terburu-buru gak jelas
padahal dulu dia tidak seperti ini.
“Kalo ada apa-apa kasih tau gue ya.
gue jadi khawatir liat muka loe yang pucet kayak gitu.”
“Iya tenang aja keles.” Prilly
terkekeh kecil melihat Agni begitu khawatir padanya. “Eh itu Al.” Tunjuk Prilly
pada seseorang yang baru saja memasuki tempat itu.
Agni tersenyum, ia melambaikan
tangannya pada Al yang mulai mendekat.
“Kamu kok lama sih?.”
“Ada urusan dulu sayaang.”
Prilly mengerutkan keningnya, ia
menatap Al dan Agni bergantian. Ia masih belum mencerna kedekatan mereka itu.
“Oiya ini temen aku, Prilly. Dia
ngefans banget lho sama kamu.”
“Al.” Al mengulurkan tangan pada
Prilly. Sementara Prilly masih menatap Agni dengan tatapan curiga.
“Tunggu... sebenernya ini ada apa?
Gue bingung lho...”
Al mengerutkan keningnya melihat Prilly
bertanya begitu heran. Ia melirik ke arah Agni
yang terlihat tak memperhatikan keduanya, menghindari tatapan Prilly.
“Agni belum cerita?.”
Prilly menggelengkan kepalanya.
“Kita udah Tunangan.”
“WHAT?!.”
***
Prilly menarik Agni menjauhi Al, ia
menarik Agni hingga memasuki sebuah toilet umum. Ia butuh penjelasan yang
sejelas-jelasnya. Kenapa ini seperti ini? kenapa bisa? Kok gak ada media yang
tau sih? Kok ia gak diundang sih? Beribu pertanyaanpun berkecamuk dalam
pikirannya.
“Sekarang loe jelasin sama gue!!!.”
“Ya... gitu. Bener apa kaya dia.”
“Maksud loe?.”
Agni mengacungkan tangan kirinya,
memamerkan sebuah cincin yang telah melingkar begitu manis dijari manisnya.
“Tapi kapan Ni? Kok loe gak ngasih
tau gue sih? Kok loe gak bilang sih? Loe udah gak anggap gue sahabat loe?.”
“Prilly... gue dijodohin. Acaranya
juga dadakan. Lagipula gak ngundang siapa-siapa kok. Beneran. Loe tau
sendirikan gimana dia?.”
“Tapi masa sahabat sendiri loe gak
kasih tau sih?.”
Prilly menatap tajam ke arah Agni,
ia mengatur nafasnya yang tida stabil. Ia sebal sekali degan sahabatnya itu.
apa dia tidak menghargainya? Kenapa sekedar di beritahupun tidak? sahabat macam
apa itu?.
“Sahabat macem apa sih yang gak mau
ngundang sahabatnya sendiri?.”
Setelah mengatakan itu Prilly keluar
dari toilet. Ia merasa begitu dongkol melihat sahabatnya seperti itu. ia merasa
tak dihargai.
“Prilly maafin gue.”
“Udahlah... gak usah ketemu gue
lagi.”
Prilly menyentakkan tangan Agni
kemudian berjalan cepat meninggalkan Agni yang masih terdiam di depan pintu
toilet. Apakah ia salah menunda memberitahunya? Ia hanya mencari waktu yang
tepat. Kenapa sekarang malah seperti ini? Agni menghela nafas panjang. Gue tau Prill, loe gak bakalan lama marah
sama gue. Gue harap loe beneran gak lama ya marahnya. Loe sahabat gue... maafin
gue kalo gue salah.
***
Wajah Prilly masih terlihat
memendam amarahnya, ia masih kesal dengan sahabatnya itu, ditambah lagi ponsel
Ali mati, tidak bisa dihubungi. Semakin membuat mood nya semakin buruk.
“Mister Stop.”
Prilly menghentikan taksi itu
didepan sebuah super market yang tak jauh dari apartemennya. Jika ia kesal, ia
akan melampiaskan kekesalannya itu dengan memasak, untuk itu ia memutuskan
untuk membeli beberapa bahan makanan untuk ia masak.
Prilly menghela nafas panjang. Agni... gue gak nyangka ya... loe kayak
gitu. Kenapa sekedar ngasih tau aja gak mau. Lagipula gue gak mungkin kok
ngasih tau orang lain kalo itu privasi. Sebenernya apa sih yang dia pikirkan?
Dia kira gue gampang bocorin rahasia orang? Prilly mendengus kesal lagi.
Setelah mengambil beberapa bahan
makanan ia lekas membayarnya. Setelah itu ia berjalan menuju apartemennya.
Pikirannya masih saja tertuju pada Agni. Idolanya Tunangan dengan Sahabatnya.
SAHABATNYA!!!! Sungguh luar biasa. Ia memang sempat mendengar gosip jika
idolanya itu telah dijodohkan dengan orang tuanya. Tapi gak perlu Agni Agni
juga keless. Sahabatnya!!!. Sebenarnya Prilly bukan kesal mengenai gadis yang
dijodohkannya itu Agni. Tapi bagaimana bisa ia tidak diberitahu? Bagaimana bisa
seperti itu?
Prilly mengerutkan keningnya saat
memasuki apartemennya yang gelap itu.
perasaan sebelum berangkat ia telah menyalakan semua lampunya. Ia berjalan
meraba-raba dengan kakinya, takut menyenggol sesuatu. Prilly menarik nafas,
jujur saja ia sangat takut jika yang masuknya itu orang jahat. Ia menyimpan
belanjaannya begitu hati-hati kemudian ia merogoh ke dalam belanjaannya itu.
tadi ia membeli minuman dalam sebuah botol. Ini
dia... awas aja kalo macem-macem gue pukul pake ini. saat ia menekan stop
kontak, sebuah tangan yang begitu dingin menghentikannya.
“SIAPA LOE. Mundur atau gue pukul
loe pake minuman ini.”
Prilly menarik nafas panjang, dia
tak menyahuti ucapannya. Dengan penuh berani ia menyalakan lampunya.
TEK!
“AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA.....................”
“Sayaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaang.”
“Honey... kamu ngapain sih
gelap-gelapan kayak hantu kayak tadi? Mana tangan kamu dingin lagi.”
Prilly memandang Ali yang berada
dihadapannya. Ia mengerjapkan matanya beberapa kali. Sementara Ali hanya
memandang Prilly sambil tersenyum.
“Honey? Honey ini kamu?.” Prilly
menatap Ali tak percaya. Ali tersenyum sambil mengelus pipi Prilly.
“Honeeeyyy...” Prilly berhamburan
memeluk Ali.
“Honey aku kangen banget sama kamu
honey... kapan kamu dateng? Kenapa kamu gak bilang sama aku sih? Akukan bisa
masakin dulu buat kamu.”
“Aku juga kangen kamu sayaang...
inikan kejutan sayaang...”
Prilly mengeratkan pelukannya pada
Ali, begitupun dengan Ali. Mereka saling merangkul melepaskan rasa rindu yang
begitu membelenggu.
“Aku gak nyangka kamu bakalan
kesini.” Ucap Prilly dengan tangan yang masih memeluk Ali. Ia masih enggan
untuk melepaskannya.
Ali tersenyum. Ia mengelus punggung
dan kepala Prilly. Kemudian mengecup puncak kepala istrinya itu, menyalurkan
seluruh rasa rindu dan kasih sayangnya pada Prilly. Namun, kedekatan itu
terhenti oleh suara ponsel Prilly.
Ali melepaskan pelukannya pada
Prilly, begitupun sebaliknya.
Ali mengerutkan keningnya. Saat
Prilly hanya memandangi ponselnya itu dengan wajah yang kesal.
“Siapa yaang?.”
“Agni.”
“Tapi kok kamu cemberut gitu?.”
“Honey... kamu tau? Akukan ngafans
banget tuh sama Al Ghazali. Tapi ternyata Agni tunangan sama dia. Aku gak
mempermasalahkan ya masalah tunangan-tunangannya, aku bodo amat. Aku gak
peduli. Tapi, kenapa dia tega banget sih gak undang aku? atau minimal ngasih
tau aku? gimana aku gak sebel coba? Aku berasa gak dihargain banget.”
Ali melipat kedua tangannya didada
sambil memperhatikan Prilly yang terlihat begitu kesal. Ia terkekeh kecil
kemudian mencubit hidung Prilly.
“Kamu sendiri? Udah ngasih tau Agni
kalo kamu udah nikah sama aku? yang kata kamu dia itu ngefans banget sama
Aliando?.”
Deg!
Ya! Prilly melupakan satuhal yang
itu. ia lupa... ia lupa Agni sangat menggilai suaminya, ia begitu mengidolakan
suaminya. Ia menatap Ali, kemudian menggeleng pelan.
“Honey... aku lupa. Pasti dia akan
lebih marah sama aku. karena aku tadi udah marah-marahin dia. Aduhh Honey...
gimana dong?.”
Ali tersenyum kecil. ia menekan kedua
pipi Prilly dengan telunjuknya.
“Kamu ada-ada aja sih. Tinggal kamu
jelasin aja besok. Kamu juga minta maaf sama dia. Toh kamu sama dia itu, satu
sama kan?.”
Prilly menghela nafas.
“Iya sih. Yaudah aku bilang aja
besok. Lambat laun dia juga bakalan tau.”
“Nah gitu dong. Itu baru Illy nya
Ali.”
Prilly terkekeh kecil.
“Apaan sih kamu...”
Ali terkekeh melihat Prilly yang
tersipu malu. ia kembali memeluk istrinya itu yang masih ia rindukan.
***
Pagi-pagi sekali Agni memutuskan
untuk menemui Prilly, ia enggan masalahnya jadi berlarut-larut, karena
bagaimanapun juga ia dan Prilly bersahabat dan tidak seharusnya sahabat itu
bertengkar lebih lama lagi.
“Kamu tenang aja. Mana ada sih
sahabat yang marahan lama.”
“Ya kamu enak Al. Aku? aku takut
Illy marah-marah lagi.”
Al terkekeh. Ia menjangkau kepala
Agni kemudian mengelusnya.
“Tenang sayang.”
Agni tersenyum kecil kemudian
mengalihkan pandangannya keluar jendela mobil. Pokoknya masalah itu harus selesai saat ini juga.
***
Ali membuka matanya setelah ia rasa
cahaya dari luar sana mulai menerpa wajahnya. Tadi, selepas menjalankan
kewajibannya beribadah ia dan Prilly tidur kembali. Ia menghela nafas panjang
kemudian melirik ke arah Prilly yang masih terlelap, ia mengelus wajah istrinya
itu yang dari kemarin terlihat lebih pucat dari biasanya.
“Yaang...”
Prilly bergumam, ia hanya
menggerakan tubuhnya menjadi menghadap ke arah Ali.
Ali terkekeh kecil, ia meniup-niup
wajah Prilly dengan tangan kanan yang mencubit hidung istrinya itu dengan
gemas. Prilly mengerutkan keningnya sambil bergumam tanpa membuka matanya.
“Honey... aku ngantuk.”
“Siang yaang... makan yuk, kita
jalan keluar. Kamu pucet banget.”
“Enggak Honey... perut aku gak enak
banget dari semalem. Nanti aku masakin aja buat kamu.”
Ali menghela nafas, ia menarik
pinggang Prilly agar mendekat ke arahnya. Ia mengelus kepala Prilly dengan
tangan kirinya, sementara tangan kanannya mengelus pinggang Prilly.
“Kamu istirahat aja yaang... biar
aku yang cari makan ya.”
“Jangan...” Prilly melepaskan
dirinya dari Ali, ia mendudukan dirinya pelan sambil merapihkan rambutnya.
Ali mendudukan dirinya mengikuti Prilly.
Ia mrapihkan rambut Prilly yang berantakan itu. sementara Prilly menatap Ali sambil
tersenyum. Betapa beruntungnya dia memiliki Ali yang begitu perhatian padanya.
TING NONG...
Prilly dan Ali kompak menatap ke
arah luar, keduanya kemudians aling menatap.
“Siapa yang kesini pagi-pagi
yaang?.”
Prilly menggelengkan kepalanya
pelan.
“Gak tau.”
“Yaudah biar aku buka.”
Ali turun dari pembaringan kemudian
keluar dari kamar.
“Tunggu sembentar...”
Ali mulai membuka kunci pintu
utamanya.
“Prilly! Loe marah sama gue sampe
loe ganti password apartemen... Aliando?.”
“Honey siapa yang dateng?.”
Prilly keluar dari kamarnya masih
dengan mengenakan piamanya sementara tangannya sambil berusaha menguncir
rambutnya. Ia menoleh ke arah pintu.
“Agni?.”
***
Bersambung.
Jangan lupa baca Artikel iniyaaaa...
Terimakasih udah mau baca cerita
karya-karya aku. meskipun jelek, terimakasih udah mau nunggu dan baca. :)
Please pada siapapun dimohon untuk
tidak mengcopy-paste tulisan dalam blog ini tanpa seijin penulisnya ya :)
dimohon untuk bisa menghargai karya orang lain.
Untuk kritik dan sarannya masih
bisa kok kalian sampaikan di Twitter dan Ask.fm di @SopiahNenden. :)
Aku berharap bukan hanya minta
dilanjut dan nanya kapan lanjut ya (tapi terserah kalian juga sih, toh aku juga
seneng kalian ask gitu berarti kalian nungguin cerita aku) hehee... boleh juga
lho saran apapun, ask apapun. Aku tunggu ya... selamat berteman... :D
Terimakasih. :)
next secepatnya yah... aku suka bgt cerita ini ;)
ReplyDeletelnjutin critanya nanggung klu gk dlnjutin..:)
ReplyDelete