Friday, 29 August 2014

Long Distance Marriage



Chapter 10

Pernah ada dalam posisi sulit? Posisi dimana tak diberi kesempatan untuk menjelaskan, untuk berbicara. Bahkan sedikitpun tak diberikan kesempatan? Pernahkah mengalami hal seperti itu?
“Prilly... loe tuh... loe gila!  Loe parah! Gue gak nyangka ya loe bisa ngelakuin hal ini? loe bahkan lebih parah dari gue.” Agni menarik nafas panjang, ia memegangi pinggiran kichenset. Tadi, begitu ia melihat Prilly, ia langsung menarik sahabatnya itu ke arah dapur tanpa mengindahkan apapun lagi.
“Apa yang baru aja gue liat ini? gue yang udah gila atau loe yang lebih gila? Gua tau apartemen loe cuma ada satu kamar yang bahkan loe tumpangin sama gue aja ogah. Sedangkan ini?.”
“Agni...”
“Apa?! Loe bisa ya kemaren marah-marah sama gue? Tapi ternyata... gak usah deh loe jelasin lagi. Yang penting gue udah tau asli loe kayak gimana.” Agni menarik nafas panjang, menahan emosinya. Ia berjalan ke arah kulkas, menuangkan segelas air.
“Agni... gue bakalan jelasin semuanya tapi loe janji loe...”


BYUR...

Agni menyiram wajah Prilly dengan segelas air itu.
“Agni...”
“BIAR LOE SADAR!!! Loe gak mikir apa gimana kalo loe hamil? Emang loe yakin dia mau tanggung jawab?! Gila ya loe...”
Prilly mengerutkan keningnya. Tangan kanannya meraba perutnya yang memang sejak tadi terasa aneh. Kepalanyapun mulai pening karena siraman air dingin dari Agni.
“Hamil?.”
Agni tersenyum lirih. ia menarik poninya kebelakang dengan kesal kemudian mengalihkan pandangannya ke arah lain.
“Yaiyalah! Loe gak mikir atau gimana sih? Loe itu cewek dan dia itu cowok! Kalian tidur satu ruangan! Satu kamar! Satu ranjang! Dan kalian... gak ada hubungan apapun!.”
“Sebenernya... hmp.”
Prilly menutup mulutnya saat ia merasakan isi perutnya akan keluar. Ia segera berlari ke arah wastafel.
“Prilly!!!.”
Agni panik, ia berlari ke arah Prilly kemudian merangkul tubuh Sahabatnya itu yang mulai lemas. Ia mengurut kengkuk Prilly pelan.
 “Ali... panggilin Ali Ni.”
Agni menghela nafas.
“Ni...”
Agni melirik ke arah Prilly yang mulai mengkhawatirkan. Wajahnya yang putih bersih, kini terlihat begitu pucat, tubuhnya yang lemaspun mulai limbung.
“ALIIIIIIIIIIIIIIIIII....................”

***

Ali mengelus kening Prilly, sesekali ia membiarkan Prilly menghirup minyak aroma terapi yang ia ulurkan tepat dibawah hidungnya.
“Yaang... bangun.”
“Bawa kerumah sakit. Gue harus mastiin sesuatu. Al... anterin aku sama Prilly.”
“Enggak! Kalian gak boleh bawa Prilly. Prilly gapapa dan sebentar lagi dia akan sadar.”
Agni menatap Ali dengan tatapan tajam penuh kekesalan. Bagaimana mungkin orang ini seenaknya saja melarangnya membawa Prilly kerumah sakit. Memang siapa dia berani-beraninya melarangnya?
“Apaan sih loe? Kenapa gue gak boleh bawa Prilly kerumah sakit? Loe takut apa hah?! Loe takut ketauan hamilin anak orang HAH?!.”
Ali mengerutkan keningnya.
“Ya... kalo hamil gimana? Bagus malah.”
Agni melongos.
“Gila ya loe. Loe sama Prilly sama-sama gila!!!.”
“Gila apanya?.”
“Pokoknya gue mau bawa Prilly kerumah sakit.”
“Enggak!.”
“Kenapa sih loe? Kenapa enggak boleh lagi HAH?!.”
“Gue takut rumah sakit. PUAS LOE?!.”
“Terus? Emang loe penting ikut? Gue gak minta loe ikut.”
“Tapi gue berhak atas Prilly.”
Agni tertawa kecil.
“Berhak? Loe kira loe siapa HAH?!.”
Ali menggeretakan rahangnya. Ia memejamkan matanya sesaat kemudian menatap Agni kembali.
“Gue suaminya...”
“APA?!.”

***

Ali, Prilly, Agni dan Al masih berkumpul diapartemen Prilly. Beberapa saat lalu Prilly telah sadar dan kondisinya mulai membaik.
“Gue masih gak ngerti. Loe itu gak suka sama Ali tapi bisa nikah. Gak masuk akal.”
“Aliando Ni, bukan Ali.” ralat Prilly. Ia kemudian menghela nafas panjang.
“Bodolah, toh orangnya sama ini.”
Prilly menghela nafas lagi. Ia menyandarkan punggungnya kesandaran kursi sementara kepalanya ia sandarkan kebahu Ali dengan tangan Ali yang terus saja mengelus kepala Prilly dengan penuh kasih sayang.
“Pusing yaang?.”
Prilly mengangguk ringan. Agni melongos melihatnya, ia melirik Al yang ternyata sedang terkekeh kecil melihat Agni yang kesal pada Prilly yang begitu manja pada Prilly.
“Udah sayang jangan marah-marah terus. Kasian Prilly nya juga yang sakit gitu.”
“Ya aku masih kesel Al... kemaren dia yang marah-marah gara-gara gak aku undang. Tapi kok dia sendiri gak ngundang?.”
“Agni...”
Agni mengalihkan pandangnya pada Prilly.
“Gue kan udah bilang. Gue nikah sama Ali itu dalam posisi gue gak tau Ali itu Aliando. Gue juga gak pernah tau nama Aliando itu Muhammad Ali Syarief, suami gue.”
“St... udah yaang...” Ali kembali mengelus puncak kepala Prilly. Sementara tangan yang bebas mengelus pipinya. Ia menatap ke arah Agni.
“Kita baru bertemu saat Prilly pulang. Lagipula yang tau kita menikah itu hanya keluarga. Kita dijodohkan oleh orangtua kita.”
Agni mendengus, ia menghela nafas panjang.
“Iya deh. Untung ya gue ngefans sama loe. Tapi awas aja kalo gue gak dikasih foto bareng dinyanyiin juga. Gue sebarin dimedsos kalo Prilly itu bini loe.”
Prilly yang masih terlihat lemas terkekeh kecil begitupun juga Ali. ia menatap Agni menggoda.
“Ogah ah. Ngapain foto sama loe?.”
“Iya nih, sama gue aja dia gak minta foto bareng. Masa sama suami orang minta sih?.” Sindir Al.
“Ih... apaan sih? Oke kalo gitu. Gue sebarin sekarang nih.” Agni meraih ponselnya.
“Jangaaaannn... ih gue kan cuma becanda. Kapan aja boleh kok foto bareng. Asal yang wajar aja dan...” Ali melirik Prilly sekilas. “Kalo dapet ijin sih dari dia nih.”
Agni menaikan satu alisnya.
“Kalo gak diijinin gue bakalan kenalin dimedsos kalo dia bini loe. Awas aja pokoknya.”
Prilly tersenyum tipis.
“Gapapa kok loe foto sama Ali. asal...” Prilly melirik Ali dengan tatapan jahil. “Gue boleh foto sama Al.”
Ali membulatkan matanya.
“JANGAN!!!.”
Ali mengerucutkan bibirnya. Ia menatap Prilly manja, kesal, cemburu.
“Jangan yaang... kamu cuma boleh foto sama aku. aku gak suka, aku cemburuuuu.”
“Honey. Cuma foto ih. Yaa...”
“Ih kamu lagi ngidam ya?.”
Prilly mengerutkan keningnya.
“Ngidam? Enggak kok Honey...”
“Tapi bener Prill, loe kayak lagi ngidam. Jangan-jangan loe hamil...” ucap Agni.
Prilly dan Ali saling bertatapan, kaget. Masa sih Prilly hamil?

***

Prilly terkekeh kecil melihat Ali kesana kemari didepan kichenset. Palagi dengan apron bunga-bunga yang begitu lucu. Sementara Prilly hanya duduk dimeja makan yang tak jauh dari Ali, ia terus saja tertawa kecil melihat Ali yang kebingungan.
“Yaang garam, gula nya ada dimana? Terus penggorengannya pake yang mana? Ngidupin kompornya gimana? Ini kok aneh gini? Yaang?.”
Prilly semakin terkekeh.
“Kamu kok malah ketawa sih? Yaang ini gimana motongnya?.”
Prilly menahan tawanya kemudian berjalan pelan ke arah Ali. ia meraih pisau ditangan Ali. kemudian mulai mengupas beberapa sayuran dan memotonginya. Ia mulai menyalakan kompornya.
“Yaang udah biar sama aku sisanya.”
Prilly melirik kearah Ali, menatap suaminya tak yakin.
“Aku bisa kok. Aku gak mau kamu mual-mual lagi kayak tadi. Atau kamu udah gak mual-mual lagi?.”
“Enggak tuh. Cuma tinggal pusingnya aja dikit.”
Ali mengelus kepala Prilly lembut kemudian mengecupnya pelan.
“Maaf ya... aku gak bisa masak sih.”
“Gapapa honey... kamu gak perlu kok bisa masak.”
Ali terkekeh kecil. kemudian keduanya melanjutkan memasak makanan untuk mereka berdua itu.

***

 Prilly duduk bersandar pada kursi dengan kaki yang sengaja ia tekuk. Dihadapannya ada Ali yang sedang bermain dengan gitar milik Al yang sengaja ia pinjam.
“Kamu aneh-aneh aja sih? Katanya gak suka liat aku maen-maen gitar gini. Kamu juga gak liat apa tadi Agni kesel banget dia harus nganterin ini.”
“Bohong honey. Agni gak pernah tuh kesel kalo buat ketemu kamu. aku tau gimana Agni.”
Ali terkekeh. Ia bergeser mendekat ke arah Prilly. Prilly pun mengubah posisi duduknya menjadi bersandar pada Ali.
“Yaang... kamu kenapa sih? Mau kedokter? Kali-kali aja kamu kenapa-kenapa. Makan sedikit aja gak bisa. Parah tau gak. aku khawatir kamu muntahin makanan kamu terus.”
“Aku gapapa honey. Udah ah... maenin gih gitarnya. Nyanyiin juga. Aku ngantuk banget.”
Ali mulai memetik gitarnya perlahan. Sesekali ia melirik ke arah Prilly yang memandang ke arah lain dengan pandangan kosong. Dia terlihat sedang tidak fokus, tapi kenapa?.
“Yaang?.”
“Hm...”
“Kok malah ngelamun sih? Katanya ngantuk.”
Prilly menegakkan posisi duduknya, ia mengambil gitar yang berada ditangan Ali kemudian ia simpan dikursi lain. ia duduk mendekat, menyandarkan kepalanya pada pundak Ali. Ali terkekeh kecil, ia mengelus rambut Prilly pelan.
“Kenapa yaang?.”
Prilly menarik nafas panjang.
“Aku pengen tau masalalu kamu honey.”
“Maksud kamu?.”
“Ya... tentang cinta pertama kamu mungkin?.”
Ali tersenyum kecil. ia menarik pinggang Prilly agar lebih dekat disampingnya.
“Dulu... aku pernah jatuh cinta sama seseorang, pas masih SMP.”
Prilly membenarkan posisi duduknya lagi, ia duduk menghadap Ali dengan sempurna. menatap suaminya itu dengan intens.
“Dia pinter, cantik, baik, ceria. Pokoknya dia sempurna dimata aku. dia gak pernah buat masalah.”
Prilly merengut. Bolehkah ia merasa cemburu? Suaminya sendiri memuji-muji gadis lain dihadapannya tanpa ada belas kasihan padanya. Apa dia tidak bisa menjaga perasaannya? Meskipun gadis itu cinta pertama suaminya itu. tapi tidak perlu segitunya jugakan memujinya?
“Sayangnya... aku gak sempet kenalan, aku cuma satu tahun satu SMP sama dia. Lagipula dulu aku sama dia gak satu kelas. Mungkin aja dia gak kenal aku juga atau bahkan gak mau kenal sama aku. soalnya denger-denger dia gak terlalu suka sama cowok ganteng.”
Prilly mengerutkan keningnya, ia memukul pelan dada Ali.
“Emang kamu ganteng? Pede banget sih kamu. terus... emang kamu gak usaha kenalan gitu?.”
Ali tersenyum kecil. ia menarik tangan Prilly. Menggenggamnya erat.
“Bukannya gak usaha, tapi gak ada kesempatan yaang... gak tau kenapa aku ragu aja setiap deket sama dia. Aku tuh dimata dia kayak bayangan semu yang bahkan gak penting buat dia liat.”
“Jadi, kamu memutuskan cuma buat liatin dia aja gitu honey?.”
Ali mengangguk kecil.
“Aku cuma perhatiin semuanya tentang dia, dari cara dia senyum, ketawa, cemberut, nangis bahkan saat dia capek atau tidur dikelas aku pernah liat semuanya, aku selalu perhatiin dia. Ya... kamu ngertilah gimana orang yang lagi jatuh cinta.”
Prilly menghela nafas panjang.
“Beruntung ya yang kamu perhatiin. Kisah cinta pertama kita hampir sama. Aku juga bahkan gak sempet kenalan sama dia.”
“Kok bisa?.”
“Saat itu aku ketemu dia pas aku gak sengaja mau ketabrak diparkiran sekolah. Dia nolongin aku, narik aku sampe dia yang jatoh dan kepalanya luka. Pas aku mau tolong dia, orangtua dia datang dan bawa dia pergi. Ternyata dia itu mau pindah sekolah, aku coba cari berita tentang dia, segalanya tentang dia... dari nama atau bahkan alamat atau ya seenggaknya akun sosial media tapi aku gak dapet apapun, dia ternyata bukan orang yang banyak ngasih tau data pribadinya sama orang-orang dan dari saat itulah aku sadar, mungkin aku jatuh cinta sama dia pada pandangan pertama.”
Ali tersenyum kecil. ia menatap Prilly, menyejajarkan wajahnya pada Prilly. Ia tersenyum lagi kemudian menyibakkan rambutnya. Prilly mematung. Ia memegang kepala Ali, mengelus sebuah bekas luka tepat diantara rambut bagian depan Ali.
“Jadi?.”
Ali meraih wajah Prilly, begitu juga Prilly.
“Cinta pertama aku itu kamu.” ucap Ali da Prilly bersamaan.
Air mata Prilly berurai. Bagaimana ini terjadi? Takdir Tuhan memang indah. Ali memeluk erat tubuh Prilly. Begitu juga Prilly. Ternyata benar, tak pernah ada yang namanya kebetulan didunia ini. karena yang ada hanyalah takdir Tuhan. Takdir yang begitu indah, takdir yang bahkan belum pernah terpikirkan sedikitpun sebelumnya.
“Honey...”
“Ya yaang?.”
“Makasih dan maaf...”
“Buat apa?.”
“Makasih usah mau sayang sama aku dan cinta sama aku selama itu, dan maaf aku gak pernah menyadari itu. bahkan aku sempet gak percaya pas kamu bilang diinfotaiment kalo kamu masih setia sama cinta pertama kamu.”
Ali terkekeh. Ia tak melepaskan Prilly. Ia mengelus puncak kepala Prilly, kemudian mengecupnya lama. Menyalurkan seluruh kasih sayang yang begitu melimpah pada gadisnya ini.
Prilly mengurai pelukannya. Ia dan Ali berpandangan dengan senyum yang terus terukir dibibirnya. Ali mengapus air mata Prilly dengan kedua ibu jarinya.
“Aku sayang kamu honey...”
“Aku lebih sayang kamu yaang... lebih sayang kamu...”
Keduanya masih bertatapan. Ali merapatkan diri pada Prilly. Menjatuhkan Prilly diatas sofa, keduanya masih bertatapan, semakin dekat dan menghapuskan jarak antara keduanya.

***

Ali terbangun. Ia melirik kearah sampingnya. Prilly tak ada disana.
“Yaang...”
“Honeyyyy...” panggil lirih Prilly dari arah kamar mandi.
Dengan cepat Ali berlari ke arah kamar mandi, ia mendapati Prilly yang berada didekat wastafel.
“Yaang?.”
“Honey...”

“PRILLYYYY ALIIII........ MAMA DATENG.”

Ali dan Prilly berpandangan. Ali segera memapah Prilly kembali ketempat tidur. ia merebahkan Prilly, menyelimutinya kembali.
“Yaang kamu tidur dulu ya... Mama kayaknya udah dateng, aku bukain pintu dulu.”
Prilly menganggukan kepalanya. Setelah itu Ali meninggalkan Prilly sendiri. Tak lama kemudian ternyata Riani datang.
“Prilly... bangun sayang. Mama periksa dulu.”
Prilly kembali membuka matanya, ia tersenyum pada Riani yang terlihat panik.
“Ma... Mama Reina mana?.”
Riani mengeluarkan beberapa alat medisnya. Prilly baru tau jika Mama mertuanya itu seorang bidan yang bekerja sukarelawan di kompleks rumahnya, selama ini yang dibilangnya arisan yang ia kira foya-foya ternyata Mamanya itu sedang mengobati warga sekitar yang kurang mampu.
“Mama kamu masih diperjalanan sayang. Begitu Mama denger kamu sakit dari Ali, Mama langsung terbang kesini. Sementara Mama kamu masih diluar kota sama Papa kamu, jadi mungkin nanti siang datang.”
“Oh gitu.”
“Asam lambung kamu naik sayang... tapi.”
Ali mengerutkan keningnya. Ia duduk bersila disamping Prilly sambil menatap Riani.
“Apa mungkin kamu hamil?.”
Ali dan Prilly berpandangan. Benarkah? Tapi... manamungkin?. Keduanya menatap Riani yang menatap kedua puterinya sambil tersenyum menggoda.

***

Bersambung.
Oke. Ini gaje banget seoalnya aku maksain banget alurnya. Jelek? Aneh? Wajar karena aku lagi bad mood banget beberapa hari ini. tapi, semoga kalian tetep kemal ya dan tetep setia nungguin ceritanya. :)
Jangan lupa baca artikel ini dan update cerita yang akan di share atau yang lagi dibuat akan selalu di share di twitter aku di @SopiahNenden. Yang mau tanya apapun tentang cerita-ceritaku, kritik atau saran dan apapun itu silahkan ask di askfm aku @SopiahNenden.

Terimakasih sebelumnya :)

5 comments:

  1. gk sabar nh say nunggu lanjutan'a heheee

    ReplyDelete
  2. gak sabar... lanjutannya dong pliiissss

    ReplyDelete
  3. d next donk,tiap hri nongkrongin nech blog nunggu lnjutannya bloem kluar,gk sabar pnsran sma sma klanjutannya

    ReplyDelete
  4. Lanjutin dong kak..udah gak sabar nih..

    ReplyDelete