Saturday, 19 July 2014

Immortal Love



Part 7: Komitmen.

Ali dan Prilly duduk berhadapan di kursi yang berada dibawah sebuah pohon. Keduanya saling melempar senyuman kebahagiaan dan sesekali mereka bersenandung dengan Ali yang memetik gitarnya.
“Eh... cowok loe gak marah gue maen sama loe?.”
Prilly tersneyum.
“Enggak. Dia kan lagi di Itali. Kenapa emang?.”
“Ya... kali aja dia tiba-tiba dateng kesini. Loe gak takut sama dia?.”

Prilly terkekeh kecil.
“Tiba-tiba gimana? Loe kira dia apaan bisa dateng tiba-tiba? Ngapain gue takut sama dia? Toh dia manusia biasa juga.”
Ali tersenyum. Ia merapihkan poni Prilly yang menutupi wajahnya. Ia dan Prilly saling bertatapan. Aku kangen banget sama kamu Prilly...
“Masih ada kesempatan gak Prill buat gue?.”
Ali menghela nafas sejenak, lalu menatap Prilly yang sedari tadi memang menatapnya tak berpaling.
“Jujur. Gue ngerasa udah deket banget sama loe. Entah karena loe mirip sama dia. Entah karena gue emang sayang sama loe. Yang jelas gue ngerasa deket banget sama loe.”
Prilly masih menatap mata Ali tanpa berkedip. Aku juga kangen banget sama kamu Ali...
“Prilly?.”
Prilly tersenyum.
“Anggap aja gue itu Prilly loe Li.”
“Maksud loe?.”
Prilly mengelus pipi Ali.
“Jodoh itu siapa yang tahu Li. Kalo pun gue sekarang sama Cio, belum tentu jodohkan?.”
Ali mengerutkan keningnya.
“Loe lagi ada masalah sama Cio?.”
“Enggak. Kok loe ngomongnya gitu?.”
“Loe ada masalah apa? Apa dia ke Itai karena ada masalah sama loe?.”
Prilly menghela nafas, ia mengalihkan pandangannya ke arah lain.
“Berarti bener ya?.”
“Mungkin. Yang jelas gue ngomong kayak gini bukan berarti loe jadi pelampiasan Li. Gue cuma mau temen gue bahagia karena gue Li. Seenggaknya mungkin loe akan bahagia dengan anggap gue itu Prilly loe.”
Prilly menatap kembali ke arah Ali.
“Selain itu, gue jua nyaman sama loe.”
“Prill...”
“Apapun yang kamu pikirkan sekarang Li, loe mau anggap cewek kayak gimanapun terserah loe. Yang perlu loe tahu cuma gue nyaman sama loe.”
Ali dan Prilly terdiam dengan mata saling menatap penuh kerinduan.
“Jadiin aku yang kedua dikehidupan kamu Prill...”
Prilly terhenyak. Giginya gemerutuk lalu ia mengalihkan pandangannya ke arah lain.
“Prill...”

“Bilang sama Ali. Kita udahan... Kakak gak mau gak ada yang jaga kamu disini sementara Kakak akan pergi. Apalagi mengingat Surya pasti akan mengincar kamu.”
“Tapi Kak...”
“Percaya sama Kakak. Selain itu kamu harus alihin perhatian dia dari mutiara itu...”

“Gak ada yang kedua Li. Gue sama Cio emang udahan.”
“Apa?!.”
“Iya Li. Gue emang udahan sama Cio. Semenjak pertengkaran kami dulu dan lusa. Gue gak tahu lagi... gue udah gak ngerti lagi sama pikiran dia.”
Ali merangkul pundak Prilly.
“Udah jangan dipikirin.”
Prilly menengok ke arah Ali kemudian tersenyum.
“Makasih ya Li.”
Ali tersenyum. Ia mengusap wajah Prilly dengan jari-jarinya. Prilly tersenyum dengan mata yang tak lepas dari Ali, kemudian ia melakukan hal yang sama pada Ali.
Ali semakin merekahkan senyumannya. Aku sayang sama kamu Prilly... ia menarik Prilly dalam dekapannya.
Prilly mengeratkan pelukannya. Aku juga sayang kamu Ali...

***

Prilly terkekeh sambil mencubit hidung Ali. Sementara tangan kanannya merangkul pinggang Pemuda disampingnya itu.
“Kamu ngegemesin banget sih ihh... pagi-pagi udah gombal.”
Ali membalas cubitan Prilly sementara tangan kanannya  merangkul bahu Prilly.
“Gapapa.”
“Sakit Ali...”
“Kamunya juga nyubit ih. Genit.”
“Biarin.”
Prilly menjulurkan lidahnya sambil mencubit pipi Ali kemudian berlari meninggalkan Ali.
“Hey! Prilly... awas ya kamu.”
Prilly tertawa sambil berbalik ke arah Ali.
“Apa? Kejar sini.”
Prilly kembali menjulurkan lidahnya.
Ali terkekeh kecil melihatnya.
“Awas ya kamu.”
Prilly berbalik lagi. Ia mengerutkan keningnya.
“Ali kemana?.”
Prilly menengok ke kanan dan kekiri, tak nampak keberadaan Ali disepanjang koridor sekolah. Prilly tersenyum saat menyadari keberadaan Ali. Setelah itu ia berbalik.
“Aw. Ali...”
Prilly memukul dada Ali yang tiba-tiba ada dibelakangnya dengan kesal.
“Cepet banget kamu.”
Ali tersenyum bangga.
“Iya dong. Udah ah... kekelas yuk.”
Prilly mencibir.
“Ihh... dasar.”
“Udah... yuk.”
Ali merangkul Prilly kembali dan membawa gadis itu kekelas.

***

Kevin dan Mila duduk berdampingan di taman sekolah. Keduanya saling melempar senyuman dan tatapan.
“Loe mau ngomongin apa?.”
“Itu lho pelajaran Matematika. Gue kurang faham, loe mau gak ajarin gue?.”
Kevin tersenyum, ia menekan hidung Mila. Membuat gadis itu terkekeh kecil.
“Huh... kirain apaan. oke... kapan? Dan dimana?.”
Mila nampak berpikir.
“Gimana kalo nanti dirumah loe? Soalnya kalo dirumah gue ada adek gue. Dia usil banget orangnya.”
“Siap... pulang sekolah ya...”
“Gimana nanti aja. Yang penting nanti loe gak boleh ada janji sama siapapun oke?.”
Kevin terkekeh.
“Iya Cantiiiikkk... oke.”
“Ihh... apaan sih.”
“Ciee malu-malu gituu...”
“Kevin!.”
“Apa?.”
“Jangan godain gue gitu ah. Udah jangan liatin gue.”
“Emang kenapa?.”
“Gue gigit nih hidung loe kalo liatin gue terus.”
Kevin mendekatkan wajahnya pada Mila.
“Nih gigit aja.”
Mila tersenyum. Ia mengangkat tangannya kemudian mencubit hidung Kevin dengan kencang.
“Aw...”
“Rasain tuh. Ganjen sih. Dadahh Kevin.”
Kevin terkekeh menatap Mila yang berlari menjauh darinya sementara tangannya memegangi hidungnya yang terasa sedikit sakit. Ia menggelengkan kepalanya.
“Mila... Mila... lucu banget sih loe.”
Kevin terkekeh lagi, setelah itu ia beranjak menuju kelasnya.

***

Ali mendekatkan kepalanya ketelinga Prilly saat pelajaran berlangsung. Ia berbisik begitu pelan.
“Prill... liat deh. Masa ada satu ditambah satu hasilnya dua sih. Kan salah.”
Prilly menengok ke arah Ali.
“Ya... benerlah Li. Kamu ini SD dulu gak sih.”
“SD dong. Setau aku satu tambah satu itu tiga.”
Prilly mengerutkan keningnya kemudian kembali fokus pada papan tulis.
“Ngaco banget kamu Li.”
“Enggak kok. Karena kalo satunya aku ditambah satunya kamu, akan jadi tiga sama anak kita nanti kalo udah nikah.”
Prilly mengulum senyumannya, ia menengok ke arah Ali yang sudah menegakkan duduknya dan fokus pada papan tulis.
“Gombal ya kamu.”
Ali menengok ke arah Prilly.
“Enggak dong. Kan emang gitu. Yakan?.”
Ali tersenyum mengoda pada Prilly yang juga tersipu malu oleh ucapannya.
“Aliando... Prilly... sedang apa kalian? Perhatikan pelajaran Bapak!.”
Ali dan Prilly saling lirik kemudian tersenyum.
“Iya Pak ini juga diperhatiin kok.” Ucap Ali.
Setelah Guru itu kembali menerangkan pelajaran, Ali dan Prilly saling melirik lagi dan tersenyum kembali.

***

Ali dan Prilly masih didalam kelas saat bel tanda istirahat berbunyi. Ali berbalik badan menatap Prilly.
“Eh Prill...”
“Hm...”
“Prilly...”
“Apa?.”
“Prilly...”
Prilly menatap Ali dengan kesal.
“Apa sih Li? Aku lagi ngerjain ini nih biar tugas gak numpuk!.”
“Kamu tahukan aku paling gak suka dicuekin?.”
“Iya aku tahu. Kalo kita lagi ngobrol aku harus liat kamu!.”
Ali tertegun. Ia mengerutkan keningnya. Kapan gue bilang itu sama dia?
“Darimana kamu tahu aku gak suka dicuekin dan kamu harus liat aku kalo kita lagi ngobrol?.”
“Eh...”
Prilly menengok ke arah Ali kembali. Ia menatap Ali sekilas kemudian beralih ke arah lain.
“Prilly... jawab aku.”
“Itu...”
“Jawab aku sayang.”
“Aku nebak. Karena Cio juga kayak gitu.”
Ali dan Prilly saling bertatapan. Kenapa harus dia? Ali membatin kecewa. Ia menghela nafas kemudian mengalihkan pandangan.
“Maaf... aku terlalu terobsesi sama kamu.”
Prilly menatap Ali begitu intens. Maaf Li... maaf aku buat kamu kecewa... aku belum bisa jujur sebelum aku dapetin mutiara itu. maaf...
“Gapapa... aku juga minta maaf udah bahas-bahas dia.”
Ali menghela nafas, menetralkan perasaannya kemudian ia berbalik kembali menatap Prilly.
“Prilly...”
Prilly menatap Ali sambil tersenyum, ia mengelus pipi Ali.
“Iya...”
“Jangan bahas dia lagi ya... please...”
Ali meraih tangan Prilly kemudian mengganggamnya dengan tangan kiri, sementara tangan kanannya mengelus pipi kemudian beralih ke arah rambut Prilly.
“Please... aku sayang kamu...”
Prilly memejamkan matanya, menikmati sentuhan yang selama ini sangat ia rindukan. Kenapa saat takdir mempertemukan kita, kita berada pada posisi sesulit ini Li? Aku ingin bahagia bersamamu... bukan kayak gini. Prilly membuka matanya, menatap Ali yang masih menatapnya.
“Aku juga sayang kamu...”
Tiba-tiba Ali melepaskan tangannya dari sisi kanan pipi Prilly. Ia menatap Prilly tanpa ekspresi.
“Maaf... Terimakasih... aku... aku pergi dulu.”
Prilly menatap Ali yang berlalu begitu saja dari hadapannya. Ada yang janggal disini. Kenapa dia? Kenapa Ali kayak gitu? Apa salah gue?
Sadar Li! Dia bilang itu bisa aja karena dia inget cowok itu! dia bilang sayang sama loe bukan sama loe. Tapi cowok itu! loe jangan terlalu berharap sama Prilly. Dia cuma mau bahagiain gue dengan caranya. Loe jangan terlalu berharap Ali. Prilly belum tentu beneran sayang sama loe!. Loe inget komitmen awal Prilly! Loe harus inget Ali. Prilly cuma mau bahagiain gue! Bukan berarti dia beneran sayang sama gue sebagaimana seperti yang gue harepin.
Prilly memejamkan matanya. Kenapa Ali merasa seperti itu? apa gue salah mau membahagiakan dia? Li... gue tulus sayang sama loe! Gue sayang banget sama loe! Tapi kenapa loe nganggap it bukan buat loe! Gue udah jujur Li! Gue jujur!. Prilly menelungkupkan wajahnya di meja. Kenapa semuanya jadi kayak gini sih?.

***

Sepanjang pelajaran Ali tak terlihat. Ia tidak mengikuti pelajaran dua terakhir itu. Prilly sesekali menengok ke arah sampingnya. Kamu kemana sih Li? Kenapa ngilang gini? Prilly merapihkan alat tulisnya, setelah itu berlalu dari dalam kelasnya.
“Prilly...”
Prilly mengangkat wajahnya kemudian tersenyum tipis.
“Kak Kevin, Kak Michelle.”
“Loe kenapa?.” Tanya Kevin
Prilly tersenyum. “Gapapa Kak.”
“Ciee... khm... udah liat-liatannya? Pulang yuk. Oiya loe ikut kita aja yuk. Cio gak masuk kan? Pasti gak ada temen pulang. Bareng yuk.”
Prilly tersenyum. Ia menatap kebin dan Michelle bergantian.
“Gapapa nih?.”
Kevin tersenyum.
“Gapapa. Mau mampir kerumah kita juga gapapa kok. Yuk... mau gak?.”
Rumah? Prilly menatap Kevin dan Michelle. Ini kesempatan gue dapetin mutiara itu.
“Hey kok ngelamun sih?.”
“Eh Kak Kev. Enggak kok.”
“Jadi gimana mau kerumah kita dulu apa enggak?.”
Prilly tersenyum.
“Boleh deh.”
“Asik. Sekalian masak-masak dulu yuk. Gue pengen deh diajarin loe masak. Masakan loe kan enak banget tuh.”
Prilly terkekeh.
“Siap Kakak.”
Kevin mencubit pipi Prilly gemas, kemudian merangkul pundaknya dan pundak Michelle membawa mereka berdua beranjak.

***

Bersambung.
Apakah yang akan terjadi selanjutnya?
Nantikan kelanjutan kisahnya. :)

Ada saran dan kritik  bisa di add ID line aku, follow juga instagram, twitter dan ask.fm aku ya biar kita bisa sharing tentang cerita-cerita aku. usernamenya @sopiahnenden, berlaku untuk semuanya :)
Terimakasih udah mau baca ya :) dan jangan lupa tunggu kisah selanjutnya :)
See you ceman-ceman :D

No comments:

Post a Comment