Part 6: Kenangan...
Ali termangu ditempatnya, sesekali ia
melirik ke arah jendela, sesekali juga ia memetikan gitarnya. Kenapa jika waktu
ditunggu terasa begitu lama?
“Kenapa sih Li? Gelisah banget loe.”
Ali menghela nafas kemudian menengok ke
arah Mila.
“Cowoknya lagi gak ada. Apa gue gunain
kesempatan ini buat dapetin Prilly?.”
Mila mengerutkan keningnya.
“Kemana tu cowok? Pantesan gak keliatan
disekolah. Terserah loe aja sih kalo gue. Toh cowok itu juga kayaknya lagi
ngincer Michelle juga. Daripada dia sakit hati mendingan loe juga deketin dia.
Biar suatu saat waktu tau cowoknya aneh-aneh dia gak sakit hati.”
Ali mengerutkan keningnya kemudian
menggeleng-gelengkan kepalanya sambil berdecak kagum.
“Itu kata-kata terpanjang yang gue denger
dari loe. Ckckck...”
“ALI!!! Gue serius!.”
“Iya gue juga serius. Tenang aja lagi gue
dengerin kok apa kata-kata loe barusan.”
Mila duduk disamping Ali.
“Terus loe kenapa liatin jendela mulu? Udah
tau baru jam dua pagi.”
Ali tersenyum. Matanya terlihat menerawang
membayangkan seseorang.
“Gue kangen liat cantiknya Prilly yang lagi
tidur.” Ali terkekeh.
“Dulu, gue sering datengin dia. Liatin dia
tidur sampe dia pagi.”
Mila menghela nafas.
“Iya gue tau. Loe kan emang suka ngilang
tiap malem dulu.”
“Boleh gak gue kesana sekarang?.”
Mila menatap Ali yang sedang tersenyum ke
arahnya.
“Jangan deh. Gimana kalo cowoknya tiba-tiba
dateng diakan vampir.”
Ali menghela nafas. benar juga.
Mila menepuk pundak Ali.
“Jangan mikirin dia terus lah Li. Kita
dateng kesini itu buat mutiara.”
Ali menatap Mila tanpa minat.
“Iya gue ngerti. Tapi gue kan udah serahin
semuanya sama loe.”
Ali berdiri kemudian beranjak.
“Kenapa loe?.”
“Gue kekamar dulu. Gue lupa ada tugas.”
Mila menghela nafas panjang. Ia meraih
gitar yang Ali tinggalkan disampingnya. Apapun
yang akan terjadi gue harap semuanya adalah hal terbaik buat semuanya. Perlahan
Mila mulai memainkan gitar itu kemudian bersenandung.
***
Prilly merebahkan diri diatas grand piano
kesayangannya itu. ia menatap langit-langit rumahnya dengan tatapan kosong.
Sesekali ia menghela nafas berat kemudian memejamkan matanya sejenak.
~~~
Prilly
menangkupkan kedua tangannya di pipi Ali, agar kekasihnya itu tak menghindari
tatapannya. Ia menatap Ali dalam, meyakinkan kekasihnya itu.
“Li...
aku sayang kamu, aku cinta kamu apa adanya kamu. meskipun aku tahu kamu bukan
manusia aku gak akan pernah berubah. Aku gak akan takut sama kamu. toh selama
ini kamu gak gigit akukan? Gak ngebahayain buat akukan? Kamu malah jaga aku.
meskipun aku gak tahu bagaimana susahnya kamu nahan kemauan kamu buat gak gigit
aku, tapi aku yakin pasti itu sangatlah sulit. itu udah jadi bukti seberapa
sayangnya kamu sama aku. dan sekarang giliran aku buktiin rasa sayang aku ke
kamu, dengan cara nerima kamu apapun keadaan kamu, bagaimanapun keadaan kamu.
aku gak peduli dengan apapun yang akan terjadi nanti.”
Ali
tersenyum. Ia mengelus kedua pipi Prilly yang dibanjiri air mata.
“Jangan
nangis.”
Prilly
memeluk Ali dengan cepat.
“Prilly...
kamu gak...”
“Aku
gak takut sama kamu Li. ENGGAK!.”
Ali
membalas pelukan Prilly, lalu mengecup puncak kepala kekasihnya itu cukup lama.
“Terimakasih
Prilly... aku sayang kamu.”
“Aku
lebih sayang sama kamu.”
~~~
Ali
tersenyum pada Prilly yang terperanjat kaget saat tidur. Prilly mendudukan
dirinya sambil mengerjapkan matanya perlahan.
“Li...
ngapain kamu kesini? Entar ada Mama gimana?.”
Ali
duduk di kursi tepat disamping tempat tidur Prilly.
“Gak
bakalan. Tenang aja.”
“Tapi
ini tuh tengah malem. Kamu ada-ada aja deh main masuk-masuk kamar orang aja.”
“Gak
boleh? Pacar sendiri inikan?.”
“Ya...
ya tapi ini malem dan ini kamar. Entar kalo ada yang nyangkain kita yang
enggak-enggak gimana?.”
Ali
menggelengkan kepalanya.
“Enggak.”
“Susah
ya punya pacar beda spesies. Huh... yaudah terserah kamu. aku mau tidur ngantuk
banget.”
“Tidur
aja. Aku jagain.”
Prilly
merebahkan diri.
“Awas
jangan macem-macem. Kalo kamu macem-macem aku bakar kamu!.”
Ali
terkekeh.
“Sadis
amat. Tenang aja, gak ngapa-ngapain kok. Cuma pengen liatin kamu aja.”
“Yaudah.
Selamat malam...”
Ali
tersenyum. Ia mengelus kepala Prilly dengan lembut.
“Selamat
malam juga. Tidur yang nyenyak ya...”
Prilly
tersenyum, kemudian bergerak sedikit menyamankan dirinya.
Prilly membuka matanya dengan cepat. Ia
merasakan kedatangan seseorang. Siapa?
Gak mungkin Kak Cio. Prilly menarik nafas. Ali? Setelah itu ia segera melesat menuju kamarnya kemudian
merebahkan diri dipembaringan dengan tenang.
***
Ali tersenyum saat melihat Prilly yang
tertidur begitu tenang dengan selimut yang mencapai lehernya. Ternyata kamu sama juga dengan dia. Entah
kenapa semakin meyakinkanku kalau kamu itu dia.
“Cantik.”
Prilly sedikit bergerak dan bergumam. Ali
tersenyum kembali. Ia mendekatkan diri ke arah Prilly kemudian mengelus puncak
kepalanya.
“Bukannya aku bandingin kamu sama dia, atau
jadiin kamu pelampiasan karena kamu mirip, tapi aku rasa aku bener-bener sayang
sama kamu. aku cuma mau lindungin kamu dari dia. Dia itu Vampir, bahaya.”
Ali menghela nafas kemudian mengecup
keningnya perlahan.
“Selamat malam. Tidur yang nyenyak Barbie.”
Ali tersenyum kemudian berlalu melesat
meninggalkan kamar itu.
Prilly membuka matanya saat keberadaan Ali tidak
ia rasakan lagi. Ia mendudukan dirinya lalu menengok kearah jendela. Makasih Li buat malem ini... maafin aku udah
buat kamu bimbang kayak gitu, yang pasti aku masih sayang kamu, aku selalu
sayang sama kamu. Prilly menarik rambutnya kebelakang. Sampai saatnya nanti, saat yang tepat nanti, kamu akan tahu aku yang
sebenarnya...
***
“ALI cepetan loe gak berangkat sekolah
apa?!.”
Mila menyambar kunci mobil yang tergeletak
di meja kemudian melesat kekamar Ali.
“ALI!!!.”
Ali yang sedang duduk menghadap jendela
dengan tenang menengok ke arah Mila. Ia mengerutkan keningnya.
“Mau kemana loe?.”
“Ya sekolahlah. Cepetan mandi. Loe sekolah
gak?.”
Ali mendekati Mila kemudian memegang
keningnya.
“Gak panas.”
“Ihh apaan sih? Emang sejak kapan badan
vampir panas?.”
Ali terkekeh.
“Lagian loe aneh.”
Mila mengerutkan keningnya.
“Aneh kenapa?.”
“Ini hari Sabtu. Loe lupa sekolah kita
sekarang Sabtu libur?.”
“Hah?! Ini Sabtu?.”
Ali tertawa melihat Mila yang panik sambil
melihat ponselnya.
“Iya... lagian loe sih. Tadi malem malah
bilang mau ngerjain tugas! Ya gue kira hari ini sekolah.”
Ali menepuk pundak Milakemudian berbisik.
“Lain kali pasang kalender yang gede di
kamar.” Ali terkekeh. “Udah ah gue pergi. Bye Nenek.”
“Apa loe? Dasar Kakek!.”
Mila menghentakkan kakinya kesal kemudian
beranjak dari kamar Ali.
***
Prilly duduk dibangku bawah pohon
dibelakang rumahnya. Sesekali ia memetik gitarnya dan bersenandung. Dihiasi
dengan bayangan-bayangan indah dimasalalunya. Kenangan yang tak akan pernah
terkubur meski beratus tahun pun.
Ali
menggendong Prilly membuat gadis itu menjerit seketika. Ali melesat cepat
membuat Prilly memeluknya erat.
“Ali...”
Ali
menghentikan langkahnya, ia dan Prilly bertatapan dengan senyum kebahagiaan
yang terus mengembang dikedua wajah itu.
Ali terkekeh.
“Apa?.”
“Gapapa.”
“Ih
apa Li?.”
“Enggak.
Cuma...”
Prilly
mengerutkan keningnya.
“Cuma...
mau bawa kamu melesat lagi.”
Prilly
menjerit dibarengi dengan tawa kebahagiaan.
“Ali
udah ahh aku mau turun.”
Ali menghentikan
langkahnya lagi. Lalu menurunkan Prilly perlahan.
“Kamu
kok cepet banget sih. Stress aku dibawa melesat terus sama kamu.”
Ali
tersenyum. Ia merapihkan rambut Prilly sejenak.
“Kamu
kayak shock banget gitu.”
“Yaiyalah.
Aku gak pernah kayak gitu.”
“Yaudah...
maaf ya sayang...”
Prilly
mengulum senyumnya. Ia menatap Ali malu-malu.
“Oke.
Tapi...”
Ali
mengerutkan keningnya.
“Tapi
apa?.”
“Cumbit
pipi.”
Prilly
mencubit pipi Ali dengan gemas kemudian berlari meninggalkan kekasihnya itu.
“Nakal
ya... awas kamu.”
“Kamu
dilarang lari.”
“Kenapa?.”
“Eh.”
Prilly
memukul dada Ali pelan.
“Jahat
ih ngagetin. Kan kata aku kamu gak boleh lari.”
Ali
terkekeh.
“Aku
kan melesat. Bukan lari.”
“Ih
sama aja kali.”
Ali
mencolek dagu Prilly.
“Cie ngambek.”
Prilly
memunggungi Ali dengan wajah yang ditekuk, kesal.
“Apaan sih? Jangan pegang-pegang.”
“Oh.
Jadi gak mau dipegang? Oke. Aku tinggalin kamu disini. Bye!.”
“Yaudah
sana.”
Mata
Prilly terlihat mencuri-curi kearah belakang. Kok Ali gak godain lagi?
“Li...
kamu masih dibelakang akukan?.”
“Ali
jangan becanda kek.”
“Li...”
Prilly
membalikan badannya. Ia mundur beberapa langkah.
“Ali...
kamu jangan becanda deh. Li... kamu kemana?! Kamu gak bener-bener ninggalin aku
kan? Ali? Ali... aku takut. Jangan becanda ginian. ALI!!!.”
Duk.
Punggung
Prilly membentur sesuatu kemudian dengan cepat ia berbalik.
“Ali...”
“Prill?
Kok nangis?.”
Ali
menyambut Prilly dalam pelukannya. Ia merasakan gadisnya itu menangis
tersedu-sedu.
“Prill...
udah dong. Maaf aku gak maksud buat kamu nangis.”
“Aku
takut... jangan tinggalin aku...”
Ali
mengelus punggung Prilly dengan lembut.
“Enggak
sayang. Enggak... sstt udah... aku gak mungkin ninggalin kamu. sstt... udah.”
Ali
mengeratken pelukannya kemudian mengecup puncak kepala Prilly untuk menenangkannya.
Prilly tersenyum, membayangkan kejadian
beberapa ratus tahun yang lalu itu. kemudian meraba puncak kepalanya.
“Ali...”
Senyum itu seketika sirna, ia merasakan
kehadiran seseorang disekitarnya. Siapa
lagi? Prilly membatin.
“Kenapa
ini seperti kejadian dulu? Prilly... aku kangen kamu...”
Ali? Prilly terdiam. Rangkaian memori-memorinya saat bersama
dengan Ali kini terangkai oleh pemuda itu. ia dapat merasakan, dapat membaca
pikiran pemuda itu. yang ternyata sedang membayangkannya juga. Prilly menarik
nafas panjang.
“Aku juga kangen kamu...”
***
Ali berdiri tak jauh dari Prilly. Kenapa ini seperti kejadian dulu? Prilly...
aku kangen kamu... Ali menyandarkan dirinya kesebuah dinding.
Ali
tersenyum saat melihat Prilly yang duduk gelisah karena menunggunya. Gadisnya
itu terlihat menengok kekanan dan kekiri tanda bahwa ia panik. Ia tersenyum
kembali kemudian berjalan dan berhenti tepat dibelakang Prilly.
“Ali
kamu dimana sih? Jangan buat khawatir kek.”
Ali
lagi-lagi hanya tersenyum. Namun, setelah itu ia memeluk Prilly dari belakang.
“Happy
anniversary sayang... semoga hubungan kita abadi.”
“Ali...”
Prilly
menengok ke arah Ali.
“Kamu
buat aku jadi panik tau gak?.”
Ali
hanya membalasnya dengan senyuman, lalu ia duduk disamping Prilly.
“Happy
anniversary juga sayang... aku mau yang terbaik aja buat hubungan kita. Apapun
itu.”
Prilly
merebahkan kepalanya dibahu Ali.
“Aku
mau... kita hidup bersama, selamanya... sampai kita nikah, punya anak dan
selalu bahagia selamanya...”
Ali
tersenyum. Ia menarik Prilly dalam pelukannya.
“Iya...
aku juga mau, kita bahagia selamanya...”
Prilly
mengangkat kepalanya untuk menatap Ali.
“Tapi...
tapi kapan?.”
Ali
mengerutkan keningnya. Ia membalas tatapan Prilly.
“Kapan
apa?.”
“Kapan
kamu ubah aku jadi vampir?.”
Ali mengerang. Ia menarik rambutnya
kebelakang. Prill... seandainya dulu kamu
aku ubah. Apa kita masih bahagia sekarang? Apa kita masih sama seperti dulu?
Prilly... dimana kamu sekarang? Aku kangen kamu... aku gak bisa cuma liat orang
yang mirip sama kamu. aku mau kamu... aku cinta kamu Prilly, aku sayang banget
sama kamu...
“Ali?.”
Ali menengok ke arah kanannya.
“Prilly?.”
“Ngapain loe disini haa? Ngintipin gue
ya?.”
“Ih siapa yang ngintipin? Gue cuma lewat
aja.”
Prilly menekan pipi Ali dengan kedua telunjuknya,
gemas.
“Wah masa? Orang boong itu pipinya merah.
Kayak pipi loe.”
“Ah masa? Gak lah... masa pipi gue merah
sih?.”
Prilly tertawa.
“Haha... jadi loe beneran boong? Loe
beneran ngintipin gue? Ha ha, ha ha ketahuan ketahuan.”
Ali menatap Prilly kemudian menekan hidung
Prilly pelan.
“Ih apaan sih loe. Emangnya kalo ngintipin
loe kenapa?.”
“Ihh apaan sih Ali.”
Ali tertawa sambil sesekali mencubit pipi
dan hidung Prilly, sementara Prilly hanya menatapnya dengan sesekali tertawa. Maafin aku Li... aku cuma bisa hibur kamu
dengan cara yang kayak gini...
***
Bersambung...
Ada saran dan kritik bisa di add ID line aku, follow juga
instagram, twitter dan ask.fm aku ya biar kita bisa sharing tentang
cerita-cerita aku. usernamenya @sopiahnenden, berlaku untuk semuanya :)
Terimakasih udah mau baca ya :)
chapter ini full Ali-Prilly :D
ReplyDeleteseneng banget...!
banyak flashbacknya , romantis banget.. ><
kenapa mesti ditutup-tutupin? :3
dari segi penulisan dan kerapiannya , udah sangat bagus ..
dari alur juga aku suka ..
lanjutkan terus ya kak ,
semangat! :D