Sinopsis.
Bagaimana jadinya, jika dua orang
anak manusia dinikahkan ditempat yang bebeda? Dua insan manusia yang enggan
untuk menjalin hubungan pacaran dan lebih memilih dijodohkan oleh orangtuanya,
hingga mereka terjebak dalam sebuah pernikahan diusia muda dengan jarak yang
jauh.
Pada awalnya bagi Prilly semuanya
baik-baik saja. Tapi, bagaimana jika yang dijodohkannya itu adalah lelaki yang
tidak diharapkan olehnya? Lelaki yang ia tak suka dan yang ia benci? Apakah
pernikahan itu akan baik-baik saja?.
Sementara Ali yang selalu percaya
jodoh ada ditangan Tuhan, jika yang ditakdirkan Tuhan itu dia maka akan dia,
dan sekarang semuanya terjadi. Cinta pertamanya, kini menjadi istrinya.
Meskipun gadis itu masih tidak suka
terhadapnya. Tapi, apapun akan ia lakukan agar gadis itu mencintainya. Apakah
akan berhasil menaklukan hati sang gadis pujaan?
Jodoh, rezeki, bahagia dan celaka
semuanya hanya Tuhan yang tahu, yang jelas percayalah Tuhan tidak akan pernah
salah. Setiap apapun yang dikehendakinya selalu terbaik dan akan selalu ada
hikmah disetiap kejadian.
Prolog.
Awalnya menjalani masa remaja tanpa
seorang pendamping itu terasa biasa. Awalnya semuanya baik-baik saja. Namun,
dibalik itu semua ada sebuah kekhawatiran yang mendalam dari orang sekitar.
Bukan karena takut tidak memiliki pasangan, bukan takut menjomblo seumur hidup.
Tapi, karena ketakutan mereka yang disebabkan oleh kesibukan. Takut, jika sibuk
terlalu menyita waktu hingga untuk mencari pendampingpun enggan.
“Prilly... hang out yuk. Kebetulan
pacar gue dari Indonesia dateng nih.”
Prilly tersenyum tanpa menengok
karena disibukan oleh ketikannya.
“Gak usah. Gue banyak tugas nih
dari Dosen. Loe taukan gue pengen lulus tahun ini?.”
“Oke sayang... gue pamit ya...
oiya, nanti ada FTVnya Aliando Syarief. Loe nonton ya please entar ceritain ke
gue.”
Prilly memutar bola matanya. Lalu
ia mendengus kesal.
“Ya ampun Streaming aja keless
ribet deh loe.”
“Gak bisa. Entar cowok gue marah
lagi.”
“Ogah ah. Loe kan tau gue gak suka
dia. Dih...”
“Ck! Jangan gitu kek. Entaran loe
malah jatuh cinta sama dia lho.”
“Gak akan! Udah ah sana pergi kalo
mau hang out.”
Prilly menghela nafas panjang. Ia
menyandarkan punggungnya kesandaran kursi. Prilly Latuconsina, hanya seorang
gadis biasa yang sekarang kuliah disalah satu Universitas ternama di Negara
tetangga, Singapura. Seorang gadis yang hanya memikirkan karier dan karier,
yang ia pikirkan hanya bisa lulus kuliah di usia 20 tahun yang sebentar lagi
keinginannya akan tercapai. Cukup hanya itu, tak ada yang lain.
***
Menikmati hasil kerja keras sendiri
pada mulanya baik-baik saja. Memberikan segala yang terbaik bagi orangtua
adalah hal terbaik baginya. Namun, lambat laun diri menyadari kehampaan hati
dan kekosongan jiwa yang perlu di isi, bukan dengan hanya membahagiakan diri
sendiri dan orangtua, tetapi dengan hidupnya seseorang disampingnya,
mendampinginya, memerhatikannya setiap saat dan setiap waktu.
“Ali apakah kamu yakin belum pernah
pacaran selama 20 tahun ini? belum pernah jatuh cinta?.”
Ali terkekeh kecil kemudian kembali
menatap para fans nya.
“Enggak. Ya kalo jatuh cinta sih
pernah... namanya juga manusia pasti pernah dong ngerasain yang namanya jatuh
cinta. Iya gak?.”
“Terus siapa dia?.”
Ali terlihat berpikir.
“Ada. Dia sangat special. Tapi sampai
saat ini saya gak bisa publikasikan. Ya takutnya ada apa-apa, dianya gak suka
apa gimana. Saya gak begitu akrab dengan dia. Jadi ya...”
“Cinta bertepuk sebelah tangan?.”
“Ih mana mungkin.” Sahut fans yang
lain.
Ali terkekeh, kemudian berdehem.
“Mungkin. Bisa jadi bertepuk
sebelah tangan juga.”
“Wah masa?.”
“Iya. Dia sama sekali gak pernah
lirik sama saya lho. Dia malah cuek banget.”
“Kok bisa sih?.”
“Ya bisa. Gak semua orang bisa
menyukai kita. Pasti ada yang suka, ada yang enggak ada yang tengah-tengah, itu
berlaku buat siapapun. Tidak terkecuali.”
Ali tersenyum manis pada para
penggemarnya itu. Aliando Syarief atau akrab disapa dengan nama Ali. Ia adalah
seorang aktor tampan yang begitu digilai banyak perempuan, dari yang masih
kecil, remaja, dewasa bahkan ibu rumah tanggapun banyak yang mengidolakannya. Meskipun
banyak digilai, namun sayangnya ia samasekali belum pernah yang namanya
pacaran. Sekalinya jatuh cinta, ia harus menerima jika gadis yang ia cintai
tidak termasuk dalam deretan gadis yang menyukainya. Sayang sekali... namun
itulah hidupnya.
***
Prilly memasuki apartemennya,
kemudian ia menyimban tas dan barang-barang lainnya dimeja. Ia beranjak ke
panrty mengambil air minum untuknya sendiri.
“Prilly...”
Prilly berbalik dengan masih
meneguk airnya.
“Eh Ma... kapan datang?.”
Reina, Mama Prilly. Ia tersenyum
sambil mendekati puterinya.
“Mama ada hal yang penting buat
diomongin. Kamu masih capek atau bisa ngobrol sekarang?.”
Prilly mengerutkan keningnya.
“Ngobrolin apa Ma? Penting banget
kayaknya. Yuk duduk disana.”
Prilly dan Reina duduk berhadapan. Prilly
menatap Reina dengan rasa penarasan. Namun anehnya Reina terlihat bingung.
“Ma... hey... kenapa sih?.”
Reina menghela nafas panjang.
“Prilly... apa permintaan kamu
untuk Mama dan Papa jodohkan masih berlaku?.”
Prilly mengerutkan keningnya lalu
mengangguk.
“Berlaku dong Ma... kenapa emang?.”
“Sepertinya Mama sama Papa sudah
menemukan seseorang yang tepat buat kamu kalau kamu sudah siap menikah.”
“Oh... Illy sih gimana Mama sama Papa
aja. Illy tau, kalian pasti akan memberikan yang terbaik buat Illy.”
Reina memeluk Prilly penuh haru. Mungkin,
tak akan ada yang memiliki anak sebaik dan sepatuh puterinya ini. anak yang
begitu penurut dan percaya pada orangtuanya.
“Iya sayang. Terimakasih.”
Prilly membalas pelukan hangat
Mamanya itu. ia mengecup pipi Reina kemudian memeluknya erat.
“Sama-sama Ma... inikah demi masa
depan Illy juga.”
Bagi Prilly, berbakti pada orangtua
adalah salah satu hal terpenting dalam hidupnya, selama ia masih belum
diserahkan pada orang lain, ia masih harus selalu berbakti pada orangtuanya. Karena
bagi Prilly hanya berbakti dan tidak mengecewakanlah yang bisa ia lakukan
sebagai tanda terimakasihnya pada kedua orangtuanya.
***
Ali membantingkan tubuhnya keatas
pembaringan, ia menarik nafas panjang sambil menatap langit-langit kamarnya. Seharian
bekerja membuat tubuhnya terasa begitu lelah dimalam hari, apalagi jika
mengingat ia harus kebeberapa kota beberapa minggu kedepan. Beruntunglah, saat
ini ia hanya membintangi beberapa FTV saja itupun sudah ia selesaikan, bukan sinetron
yang menyita banyak waktu.
Ali merasa tangannya menyentuh
sesuatu. Ia mengambil benda itu sambil mengerutkan keningnya. Album foto? Punya siapa ini?. dengan
rasa penuh penasaran Ali membuka lembar demilembar album itu. album foto itu
tersusun dengan rapih dari foto USG, foto bayi hingga remaja. Prilly? Ali tersenyum kecil.
Clek.
Riani, Mama Ali. Ia memasuki kamar
puteranya dengan sebuah nampan ditangan sambil tersenyum kecil melihat
puteranya senyum-senyum aneh.
“Ma... ini album foto punya siapa? Kok
ada di kamar Ali?.”
“Itu foto calon istri kamu.”
Ali mengerutkan keningnya.
“Apa? Istri Ma?.”
Riani menatap Ali takut. Takut jika
puteranya ini tidak menyetujui langkahnya.
“Iya Li...”
Ali tersenyum. Kemudian memeluk
Mamanya sejenak. Akhirnya... meskipun
dengan seperti ini kita bisa bersatu Prilly...
“Makasih Ma...”
“Jadi kamu setuju Li?.”
“Emangnya ada yang gak setuju tapi
senyum kayak gini?.”
Riani tersenyum bahagia, lalu
memeluk putera sematawayangnya itu. ia tak menyangka pilihannya kali ini bisa
membuat puteranya ini tersenyum bahagia setelah beberapa kali mengajukan dan
akhirnya sampai juga pada keputusan akhir.
“Terimakasih sayang...”
“Sama-sama Ma...”
Ali tersenyum pada Riani, sambil
menghapus airmata kebahagiaan dari pipi Mamanya itu. terimakasih juga Mama udah mau nyatuin aku sama orang yang benar-benar
aku cintai sejak dulu. Terimakasih Ma...
***
Segini dulu.
Yuk kalo ada komentar biar cepet
ditanggapin komentar di twitter aja, atau kalo mau nanya tentang cerita-cerita
aku tinggal ask aja di ask.fm ya :)
Tapi komen disini juga gapapa kok.
:)
Yuk yang mau temenan follow Twitter
dan ask.fm aku : @SopiahNenden
Terimakasih sebelumnya. :)
No comments:
Post a Comment