Thursday, 31 July 2014

Long Distance Marriage



Sinopsis.

Bagaimana jadinya, jika dua orang anak manusia dinikahkan ditempat yang bebeda? Dua insan manusia yang enggan untuk menjalin hubungan pacaran dan lebih memilih dijodohkan oleh orangtuanya, hingga mereka terjebak dalam sebuah pernikahan diusia muda dengan jarak yang jauh.

Pada awalnya bagi Prilly semuanya baik-baik saja. Tapi, bagaimana jika yang dijodohkannya itu adalah lelaki yang tidak diharapkan olehnya? Lelaki yang ia tak suka dan yang ia benci? Apakah pernikahan itu akan baik-baik saja?.
Sementara Ali yang selalu percaya jodoh ada ditangan Tuhan, jika yang ditakdirkan Tuhan itu dia maka akan dia, dan sekarang semuanya terjadi. Cinta pertamanya, kini menjadi istrinya. Meskipun  gadis itu masih tidak suka terhadapnya. Tapi, apapun akan ia lakukan agar gadis itu mencintainya. Apakah akan berhasil menaklukan hati sang gadis pujaan?

Jodoh, rezeki, bahagia dan celaka semuanya hanya Tuhan yang tahu, yang jelas percayalah Tuhan tidak akan pernah salah. Setiap apapun yang dikehendakinya selalu terbaik dan akan selalu ada hikmah disetiap kejadian.


Prolog.

Awalnya menjalani masa remaja tanpa seorang pendamping itu terasa biasa. Awalnya semuanya baik-baik saja. Namun, dibalik itu semua ada sebuah kekhawatiran yang mendalam dari orang sekitar. Bukan karena takut tidak memiliki pasangan, bukan takut menjomblo seumur hidup. Tapi, karena ketakutan mereka yang disebabkan oleh kesibukan. Takut, jika sibuk terlalu menyita waktu hingga untuk mencari pendampingpun enggan.
“Prilly... hang out yuk. Kebetulan pacar gue dari Indonesia dateng nih.”
Prilly tersenyum tanpa menengok karena disibukan oleh ketikannya.
“Gak usah. Gue banyak tugas nih dari Dosen. Loe taukan gue pengen lulus tahun ini?.”
“Oke sayang... gue pamit ya... oiya, nanti ada FTVnya Aliando Syarief. Loe nonton ya please entar ceritain ke gue.”
Prilly memutar bola matanya. Lalu ia mendengus kesal.
“Ya ampun Streaming aja keless ribet deh loe.”
“Gak bisa. Entar cowok gue marah lagi.”
“Ogah ah. Loe kan tau gue gak suka dia. Dih...”
“Ck! Jangan gitu kek. Entaran loe malah jatuh cinta sama dia lho.”
“Gak akan! Udah ah sana pergi kalo mau hang out.”
Prilly menghela nafas panjang. Ia menyandarkan punggungnya kesandaran kursi. Prilly Latuconsina, hanya seorang gadis biasa yang sekarang kuliah disalah satu Universitas ternama di Negara tetangga, Singapura. Seorang gadis yang hanya memikirkan karier dan karier, yang ia pikirkan hanya bisa lulus kuliah di usia 20 tahun yang sebentar lagi keinginannya akan tercapai. Cukup hanya itu, tak ada yang lain.

***

Menikmati hasil kerja keras sendiri pada mulanya baik-baik saja. Memberikan segala yang terbaik bagi orangtua adalah hal terbaik baginya. Namun, lambat laun diri menyadari kehampaan hati dan kekosongan jiwa yang perlu di isi, bukan dengan hanya membahagiakan diri sendiri dan orangtua, tetapi dengan hidupnya seseorang disampingnya, mendampinginya, memerhatikannya setiap saat dan setiap waktu.
“Ali apakah kamu yakin belum pernah pacaran selama 20 tahun ini? belum pernah jatuh cinta?.”
Ali terkekeh kecil kemudian kembali menatap para fans nya.
“Enggak. Ya kalo jatuh cinta sih pernah... namanya juga manusia pasti pernah dong ngerasain yang namanya jatuh cinta. Iya gak?.”
“Terus siapa dia?.”
Ali terlihat berpikir.
“Ada. Dia sangat special. Tapi sampai saat ini saya gak bisa publikasikan. Ya takutnya ada apa-apa, dianya gak suka apa gimana. Saya gak begitu akrab dengan dia. Jadi ya...”
“Cinta bertepuk sebelah tangan?.”
“Ih mana mungkin.” Sahut fans yang lain.
Ali terkekeh, kemudian berdehem.
“Mungkin. Bisa jadi bertepuk sebelah tangan juga.”
“Wah masa?.”
“Iya. Dia sama sekali gak pernah lirik sama saya lho. Dia malah cuek banget.”
“Kok bisa sih?.”
“Ya bisa. Gak semua orang bisa menyukai kita. Pasti ada yang suka, ada yang enggak ada yang tengah-tengah, itu berlaku buat siapapun. Tidak terkecuali.”
Ali tersenyum manis pada para penggemarnya itu. Aliando Syarief atau akrab disapa dengan nama Ali. Ia adalah seorang aktor tampan yang begitu digilai banyak perempuan, dari yang masih kecil, remaja, dewasa bahkan ibu rumah tanggapun banyak yang mengidolakannya. Meskipun banyak digilai, namun sayangnya ia samasekali belum pernah yang namanya pacaran. Sekalinya jatuh cinta, ia harus menerima jika gadis yang ia cintai tidak termasuk dalam deretan gadis yang menyukainya. Sayang sekali... namun itulah hidupnya.

***

Prilly memasuki apartemennya, kemudian ia menyimban tas dan barang-barang lainnya dimeja. Ia beranjak ke panrty mengambil air minum untuknya sendiri.
“Prilly...”
Prilly berbalik dengan masih meneguk airnya.
“Eh Ma... kapan datang?.”
Reina, Mama Prilly. Ia tersenyum sambil mendekati puterinya.
“Mama ada hal yang penting buat diomongin. Kamu masih capek atau bisa ngobrol sekarang?.”
Prilly mengerutkan keningnya.
“Ngobrolin apa Ma? Penting banget kayaknya. Yuk duduk disana.”
Prilly dan Reina duduk berhadapan. Prilly menatap Reina dengan rasa penarasan. Namun anehnya Reina terlihat bingung.
“Ma... hey... kenapa sih?.”
Reina menghela nafas panjang.
“Prilly... apa permintaan kamu untuk Mama dan Papa jodohkan masih berlaku?.”
Prilly mengerutkan keningnya lalu mengangguk.
“Berlaku dong Ma... kenapa emang?.”
“Sepertinya Mama sama Papa sudah menemukan seseorang yang tepat buat kamu kalau kamu sudah siap menikah.”
“Oh... Illy sih gimana Mama sama Papa aja. Illy tau, kalian pasti akan memberikan yang terbaik buat Illy.”
Reina memeluk Prilly penuh haru. Mungkin, tak akan ada yang memiliki anak sebaik dan sepatuh puterinya ini. anak yang begitu penurut dan percaya pada orangtuanya.
“Iya sayang. Terimakasih.”
Prilly membalas pelukan hangat Mamanya itu. ia mengecup pipi Reina kemudian memeluknya erat.
“Sama-sama Ma... inikah demi masa depan Illy juga.”
Bagi Prilly, berbakti pada orangtua adalah salah satu hal terpenting dalam hidupnya, selama ia masih belum diserahkan pada orang lain, ia masih harus selalu berbakti pada orangtuanya. Karena bagi Prilly hanya berbakti dan tidak mengecewakanlah yang bisa ia lakukan sebagai tanda terimakasihnya pada kedua orangtuanya.

***

Ali membantingkan tubuhnya keatas pembaringan, ia menarik nafas panjang sambil menatap langit-langit kamarnya. Seharian bekerja membuat tubuhnya terasa begitu lelah dimalam hari, apalagi jika mengingat ia harus kebeberapa kota beberapa minggu kedepan. Beruntunglah, saat ini ia hanya membintangi beberapa FTV saja itupun sudah ia selesaikan, bukan sinetron yang menyita banyak waktu.
Ali merasa tangannya menyentuh sesuatu. Ia mengambil benda itu sambil mengerutkan keningnya. Album foto? Punya siapa ini?. dengan rasa penuh penasaran Ali membuka lembar demilembar album itu. album foto itu tersusun dengan rapih dari foto USG, foto bayi hingga remaja. Prilly? Ali tersenyum kecil.

Clek.

Riani, Mama Ali. Ia memasuki kamar puteranya dengan sebuah nampan ditangan sambil tersenyum kecil melihat puteranya senyum-senyum aneh.
“Ma... ini album foto punya siapa? Kok ada di kamar Ali?.”
“Itu foto calon istri kamu.”
Ali mengerutkan keningnya.
“Apa? Istri Ma?.”
Riani menatap Ali takut. Takut jika puteranya ini tidak menyetujui langkahnya.
“Iya Li...”
Ali tersenyum. Kemudian memeluk Mamanya sejenak. Akhirnya... meskipun dengan seperti ini kita bisa bersatu Prilly...
“Makasih Ma...”
“Jadi kamu setuju Li?.”
“Emangnya ada yang gak setuju tapi senyum kayak gini?.”
Riani tersenyum bahagia, lalu memeluk putera sematawayangnya itu. ia tak menyangka pilihannya kali ini bisa membuat puteranya ini tersenyum bahagia setelah beberapa kali mengajukan dan akhirnya sampai juga pada keputusan akhir.
“Terimakasih sayang...”
“Sama-sama Ma...”
Ali tersenyum pada Riani, sambil menghapus airmata kebahagiaan dari pipi Mamanya itu. terimakasih juga Mama udah mau nyatuin aku sama orang yang benar-benar aku cintai sejak dulu. Terimakasih Ma...

***


Segini dulu.
Yuk kalo ada komentar biar cepet ditanggapin komentar di twitter aja, atau kalo mau nanya tentang cerita-cerita aku tinggal ask aja di ask.fm ya :)
Tapi komen disini juga gapapa kok. :)
Yuk yang mau temenan follow Twitter dan ask.fm aku : @SopiahNenden

Terimakasih sebelumnya. :)

No comments:

Post a Comment