Sunday, 13 July 2014

Immortal Love




Part 6: Kenangan...

Ali termangu ditempatnya, sesekali ia melirik ke arah jendela, sesekali juga ia memetikan gitarnya. Kenapa jika waktu ditunggu terasa begitu lama?
“Kenapa sih Li? Gelisah banget loe.”
Ali menghela nafas kemudian menengok ke arah Mila.
“Cowoknya lagi gak ada. Apa gue gunain kesempatan ini buat dapetin Prilly?.”
Mila mengerutkan keningnya.

“Kemana tu cowok? Pantesan gak keliatan disekolah. Terserah loe aja sih kalo gue. Toh cowok itu juga kayaknya lagi ngincer Michelle juga. Daripada dia sakit hati mendingan loe juga deketin dia. Biar suatu saat waktu tau cowoknya aneh-aneh dia gak sakit hati.”
Ali mengerutkan keningnya kemudian menggeleng-gelengkan kepalanya sambil berdecak kagum.
“Itu kata-kata terpanjang yang gue denger dari loe. Ckckck...”
“ALI!!! Gue serius!.”
“Iya gue juga serius. Tenang aja lagi gue dengerin kok apa kata-kata loe barusan.”
Mila duduk disamping Ali.
“Terus loe kenapa liatin jendela mulu? Udah tau baru jam dua pagi.”
Ali tersenyum. Matanya terlihat menerawang membayangkan seseorang.
“Gue kangen liat cantiknya Prilly yang lagi tidur.” Ali terkekeh.
“Dulu, gue sering datengin dia. Liatin dia tidur sampe dia pagi.”
Mila menghela nafas.
“Iya gue tau. Loe kan emang suka ngilang tiap malem dulu.”
“Boleh gak gue kesana sekarang?.”
Mila menatap Ali yang sedang tersenyum ke arahnya.
“Jangan deh. Gimana kalo cowoknya tiba-tiba dateng diakan vampir.”
Ali menghela nafas. benar juga.
Mila menepuk pundak Ali.
“Jangan mikirin dia terus lah Li. Kita dateng kesini itu buat mutiara.”
Ali menatap Mila tanpa minat.
“Iya gue ngerti. Tapi gue kan udah serahin semuanya sama loe.”
Ali berdiri kemudian beranjak.
“Kenapa loe?.”
“Gue kekamar dulu. Gue lupa ada tugas.”
Mila menghela nafas panjang. Ia meraih gitar yang Ali tinggalkan disampingnya. Apapun yang akan terjadi gue harap semuanya adalah hal terbaik buat semuanya. Perlahan Mila mulai memainkan gitar itu kemudian bersenandung.

***

Prilly merebahkan diri diatas grand piano kesayangannya itu. ia menatap langit-langit rumahnya dengan tatapan kosong. Sesekali ia menghela nafas berat kemudian memejamkan matanya sejenak.
~~~
Prilly menangkupkan kedua tangannya di pipi Ali, agar kekasihnya itu tak menghindari tatapannya. Ia menatap Ali dalam, meyakinkan kekasihnya itu.
“Li... aku sayang kamu, aku cinta kamu apa adanya kamu. meskipun aku tahu kamu bukan manusia aku gak akan pernah berubah. Aku gak akan takut sama kamu. toh selama ini kamu gak gigit akukan? Gak ngebahayain buat akukan? Kamu malah jaga aku. meskipun aku gak tahu bagaimana susahnya kamu nahan kemauan kamu buat gak gigit aku, tapi aku yakin pasti itu sangatlah sulit. itu udah jadi bukti seberapa sayangnya kamu sama aku. dan sekarang giliran aku buktiin rasa sayang aku ke kamu, dengan cara nerima kamu apapun keadaan kamu, bagaimanapun keadaan kamu. aku gak peduli dengan apapun yang akan terjadi nanti.”
Ali tersenyum. Ia mengelus kedua pipi Prilly yang dibanjiri air mata.
“Jangan nangis.”
Prilly memeluk Ali dengan cepat.
“Prilly... kamu gak...”
“Aku gak takut sama kamu Li. ENGGAK!.”
Ali membalas pelukan Prilly, lalu mengecup puncak kepala kekasihnya itu cukup lama.
“Terimakasih Prilly... aku sayang kamu.”
“Aku lebih sayang sama kamu.”
~~~
Ali tersenyum pada Prilly yang terperanjat kaget saat tidur. Prilly mendudukan dirinya sambil mengerjapkan matanya perlahan.
“Li... ngapain kamu kesini? Entar ada Mama gimana?.”
Ali duduk di kursi tepat disamping tempat tidur Prilly.
“Gak bakalan. Tenang aja.”
“Tapi ini tuh tengah malem. Kamu ada-ada aja deh main masuk-masuk kamar orang aja.”
“Gak boleh? Pacar sendiri inikan?.”
“Ya... ya tapi ini malem dan ini kamar. Entar kalo ada yang nyangkain kita yang enggak-enggak gimana?.”
Ali menggelengkan kepalanya.
“Enggak.”
“Susah ya punya pacar beda spesies. Huh... yaudah terserah kamu. aku mau tidur ngantuk banget.”
“Tidur aja. Aku jagain.”
Prilly merebahkan diri.
“Awas jangan macem-macem. Kalo kamu macem-macem aku bakar kamu!.”
Ali terkekeh.
“Sadis amat. Tenang aja, gak ngapa-ngapain kok. Cuma pengen liatin kamu aja.”
“Yaudah. Selamat malam...”
Ali tersenyum. Ia mengelus kepala Prilly dengan lembut.
“Selamat malam juga. Tidur yang nyenyak ya...”
Prilly tersenyum, kemudian bergerak sedikit menyamankan dirinya.

Prilly membuka matanya dengan cepat. Ia merasakan kedatangan seseorang. Siapa? Gak mungkin Kak Cio. Prilly menarik nafas. Ali? Setelah itu ia segera melesat menuju kamarnya kemudian merebahkan diri dipembaringan dengan tenang.

***

Ali tersenyum saat melihat Prilly yang tertidur begitu tenang dengan selimut yang mencapai lehernya. Ternyata kamu sama juga dengan dia. Entah kenapa semakin meyakinkanku kalau kamu itu dia.
“Cantik.”
Prilly sedikit bergerak dan bergumam. Ali tersenyum kembali. Ia mendekatkan diri ke arah Prilly kemudian mengelus puncak kepalanya.
“Bukannya aku bandingin kamu sama dia, atau jadiin kamu pelampiasan karena kamu mirip, tapi aku rasa aku bener-bener sayang sama kamu. aku cuma mau lindungin kamu dari dia. Dia itu Vampir, bahaya.”
Ali menghela nafas kemudian mengecup keningnya perlahan.
“Selamat malam. Tidur yang nyenyak Barbie.”
Ali tersenyum kemudian berlalu melesat meninggalkan kamar itu.
Prilly membuka matanya saat keberadaan Ali tidak ia rasakan lagi. Ia mendudukan dirinya lalu menengok kearah jendela. Makasih Li buat malem ini... maafin aku udah buat kamu bimbang kayak gitu, yang pasti aku masih sayang kamu, aku selalu sayang sama kamu. Prilly menarik rambutnya kebelakang. Sampai saatnya nanti, saat yang tepat nanti, kamu akan tahu aku yang sebenarnya...

***

“ALI cepetan loe gak berangkat sekolah apa?!.”
Mila menyambar kunci mobil yang tergeletak di meja kemudian melesat kekamar Ali.
“ALI!!!.”
Ali yang sedang duduk menghadap jendela dengan tenang menengok ke arah Mila. Ia mengerutkan keningnya.
“Mau kemana loe?.”
“Ya sekolahlah. Cepetan mandi. Loe sekolah gak?.”
Ali mendekati Mila kemudian memegang keningnya.
“Gak panas.”
“Ihh apaan sih? Emang sejak kapan badan vampir panas?.”
Ali terkekeh.
“Lagian loe aneh.”
Mila mengerutkan keningnya.
“Aneh kenapa?.”
“Ini hari Sabtu. Loe lupa sekolah kita sekarang Sabtu libur?.”
“Hah?! Ini Sabtu?.”
Ali tertawa melihat Mila yang panik sambil melihat ponselnya.
“Iya... lagian loe sih. Tadi malem malah bilang mau ngerjain tugas! Ya gue kira hari ini sekolah.”
Ali menepuk pundak Milakemudian berbisik.
“Lain kali pasang kalender yang gede di kamar.” Ali terkekeh. “Udah ah gue pergi. Bye Nenek.”
“Apa loe? Dasar Kakek!.”
Mila menghentakkan kakinya kesal kemudian beranjak dari kamar Ali.

***

Prilly duduk dibangku bawah pohon dibelakang rumahnya. Sesekali ia memetik gitarnya dan bersenandung. Dihiasi dengan bayangan-bayangan indah dimasalalunya. Kenangan yang tak akan pernah terkubur meski beratus tahun pun.

Ali menggendong Prilly membuat gadis itu menjerit seketika. Ali melesat cepat membuat Prilly memeluknya erat.
“Ali...”
Ali menghentikan langkahnya, ia dan Prilly bertatapan dengan senyum kebahagiaan yang terus mengembang dikedua wajah itu.  Ali terkekeh.
“Apa?.”
“Gapapa.”
“Ih apa Li?.”
“Enggak. Cuma...”
Prilly mengerutkan keningnya.
“Cuma... mau bawa kamu melesat lagi.”
Prilly menjerit dibarengi dengan tawa kebahagiaan.
“Ali udah ahh aku mau turun.”
Ali menghentikan langkahnya lagi. Lalu menurunkan Prilly perlahan.
“Kamu kok cepet banget sih. Stress aku dibawa melesat terus sama kamu.”
Ali tersenyum. Ia merapihkan rambut Prilly sejenak.
“Kamu kayak shock banget gitu.”
“Yaiyalah. Aku gak pernah kayak gitu.”
“Yaudah... maaf ya sayang...”
Prilly mengulum senyumnya. Ia menatap Ali malu-malu.
“Oke. Tapi...”
Ali mengerutkan keningnya.
“Tapi apa?.”
“Cumbit pipi.”
Prilly mencubit pipi Ali dengan gemas kemudian berlari meninggalkan kekasihnya itu.
“Nakal ya... awas kamu.”
“Kamu dilarang lari.”
“Kenapa?.”
“Eh.”
Prilly memukul dada Ali pelan.
“Jahat ih ngagetin. Kan kata aku kamu gak boleh lari.”
Ali terkekeh.
“Aku kan melesat. Bukan lari.”
“Ih sama aja kali.”
Ali mencolek dagu Prilly.
 “Cie ngambek.”
Prilly memunggungi Ali dengan wajah yang ditekuk, kesal.
 “Apaan sih? Jangan pegang-pegang.”
“Oh. Jadi gak mau dipegang? Oke. Aku tinggalin kamu disini. Bye!.”
“Yaudah sana.”
Mata Prilly terlihat mencuri-curi kearah belakang. Kok Ali gak godain lagi?
“Li... kamu masih dibelakang akukan?.”
“Ali jangan becanda kek.”
“Li...”
Prilly membalikan badannya. Ia mundur beberapa langkah.
“Ali... kamu jangan becanda deh. Li... kamu kemana?! Kamu gak bener-bener ninggalin aku kan? Ali? Ali... aku takut. Jangan becanda ginian. ALI!!!.”

Duk.

Punggung Prilly membentur sesuatu kemudian dengan cepat ia berbalik.
“Ali...”
“Prill? Kok nangis?.”
Ali menyambut Prilly dalam pelukannya. Ia merasakan gadisnya itu menangis tersedu-sedu.
“Prill... udah dong. Maaf aku gak maksud buat kamu nangis.”
“Aku takut... jangan tinggalin aku...”
Ali mengelus punggung Prilly dengan lembut.
“Enggak sayang. Enggak... sstt udah... aku gak mungkin ninggalin kamu. sstt... udah.”
Ali mengeratken pelukannya kemudian mengecup puncak kepala Prilly untuk menenangkannya.

Prilly tersenyum, membayangkan kejadian beberapa ratus tahun yang lalu itu. kemudian meraba puncak kepalanya.
“Ali...”

Senyum itu seketika sirna, ia merasakan kehadiran seseorang disekitarnya. Siapa lagi? Prilly membatin.

“Kenapa ini seperti kejadian dulu? Prilly... aku kangen kamu...”

Ali? Prilly terdiam. Rangkaian memori-memorinya saat bersama dengan Ali kini terangkai oleh pemuda itu. ia dapat merasakan, dapat membaca pikiran pemuda itu. yang ternyata sedang membayangkannya juga. Prilly menarik nafas panjang.

“Aku juga kangen kamu...”

***

Ali berdiri tak jauh dari Prilly. Kenapa ini seperti kejadian dulu? Prilly... aku kangen kamu... Ali menyandarkan dirinya kesebuah dinding.

Ali tersenyum saat melihat Prilly yang duduk gelisah karena menunggunya. Gadisnya itu terlihat menengok kekanan dan kekiri tanda bahwa ia panik. Ia tersenyum kembali kemudian berjalan dan berhenti tepat dibelakang Prilly.
“Ali kamu dimana sih? Jangan buat khawatir kek.”
Ali lagi-lagi hanya tersenyum. Namun, setelah itu ia memeluk Prilly dari belakang.
“Happy anniversary sayang... semoga hubungan kita abadi.”
“Ali...”
Prilly menengok ke arah Ali.
“Kamu buat aku jadi panik tau gak?.”
Ali hanya membalasnya dengan senyuman, lalu ia duduk disamping Prilly.
“Happy anniversary juga sayang... aku mau yang terbaik aja buat hubungan kita. Apapun itu.”
Prilly merebahkan kepalanya dibahu Ali.
“Aku mau... kita hidup bersama, selamanya... sampai kita nikah, punya anak dan selalu bahagia selamanya...”
Ali tersenyum. Ia menarik Prilly dalam pelukannya.
“Iya... aku juga mau, kita bahagia selamanya...”
Prilly mengangkat kepalanya untuk menatap Ali.
“Tapi... tapi kapan?.”
Ali mengerutkan keningnya. Ia membalas tatapan Prilly.
“Kapan apa?.”
“Kapan kamu ubah aku jadi vampir?.”

Ali mengerang. Ia menarik rambutnya kebelakang. Prill... seandainya dulu kamu aku ubah. Apa kita masih bahagia sekarang? Apa kita masih sama seperti dulu? Prilly... dimana kamu sekarang? Aku kangen kamu... aku gak bisa cuma liat orang yang mirip sama kamu. aku mau kamu... aku cinta kamu Prilly, aku sayang banget sama kamu...

“Ali?.”
Ali menengok ke arah kanannya.
“Prilly?.”
“Ngapain loe disini haa? Ngintipin gue ya?.”
“Ih siapa yang ngintipin? Gue cuma lewat aja.”
Prilly menekan pipi Ali dengan kedua telunjuknya, gemas.
“Wah masa? Orang boong itu pipinya merah. Kayak pipi loe.”
“Ah masa? Gak lah... masa pipi gue merah sih?.”
Prilly tertawa.
“Haha... jadi loe beneran boong? Loe beneran ngintipin gue? Ha ha, ha ha ketahuan ketahuan.”
Ali menatap Prilly kemudian menekan hidung Prilly pelan.
“Ih apaan sih loe. Emangnya kalo ngintipin loe kenapa?.”
“Ihh apaan sih Ali.”
Ali tertawa sambil sesekali mencubit pipi dan hidung Prilly, sementara Prilly hanya menatapnya dengan sesekali tertawa. Maafin aku Li... aku cuma bisa hibur kamu dengan cara yang kayak gini...

***

Bersambung...

Ada saran dan kritik  bisa di add ID line aku, follow juga instagram, twitter dan ask.fm aku ya biar kita bisa sharing tentang cerita-cerita aku. usernamenya @sopiahnenden, berlaku untuk semuanya :)
Terimakasih udah mau baca ya :)


1 comment:

  1. chapter ini full Ali-Prilly :D
    seneng banget...!
    banyak flashbacknya , romantis banget.. ><
    kenapa mesti ditutup-tutupin? :3


    dari segi penulisan dan kerapiannya , udah sangat bagus ..
    dari alur juga aku suka ..
    lanjutkan terus ya kak ,
    semangat! :D

    ReplyDelete