Ali dan Mila berlari keluar dari mobil
menuju koridor karena hujan. Untungnya sekolah itu masih sepi, jadi tak ada
seorangpun yang melihat mereka melesat begitu cepat.
“Basah.”
“Ngeluh aja loe. Udah kayak manusia aja.”
Mila mendengus kesal mendengar penuturan
Ali. Emang ya, mulut anak itu benar-benar tajam.
“Eh Li. Tuh Prilly.”
Mila menunjuk Prilly yang baru saja keluar
dari mobilnya dengan sebuah payung ditangan. Dia terlihat berdiri disamping
pintu pengemudi menunggu si pengemudi keluar.
“Seperti manusia.”
Ali terdiam. Apa benar dia manusia? Tapi kenapa hati gue selalu bilang kalau dia itu
vampir?
“Kalau dia vampir, pasti kita udah bisa
mencium merekakan? Sementara ini? enggak sama sekali.”
“Oke
sayang, nanti kita shooping. Dianterin deh sampe kamu puas.”
Mila melirik Ali ragu-ragu. Sepertinya Ali
juga mendengar ucapan Cowok disamping Prilly yang tertuju untuk Prilly itu,
terlihat dari matanya yang menyala marah.
“Kita masuk.”
“Eh... iya.”
Mila mengekori Ali yang berjalan dengan
begitu cepat didepannya.
“Li. Apa loe masih yakin dia Prilly loe?
Kelihatannya cowok tadi itu pacarnya atau mungkin lebih? Loe liatkan cincin
dijari manis mereka? itu tanda tunangannya manusia. Aw.”
Ali berhenti mendadak membuat Mila menabrak
punggung Ali.
“Bisa diem gak? kekelas sana.”
Mila mencibir.
“Yey gitu aja marah. Dasar Kakek-kakek.”
“Gak masalah, gue kan Kakek-kakek kece.”
Mila memutar bola matanya. Masih aja bisa narsis? Dasar! Ih mendingan
gue tinggal aja.
***
“Sana kekelas. Aku udah sampe ini.”
Cio tersenyum kemudian ia mengelus pipi
Prilly sesaat.
“Jangan nakal ya. dan Oiya ada yang
kelupaan.”
Prilly mengerutkan keningnya.
“Pake ini, biar gak ada yang tahu siapa
kamu.”
Cio memakaikan sebuah kalung kepada Prilly.
Kalung yang sengaja ia buat untuk melindungi adiknya itu saat jauh darinya,
kalung yang bisa membuat ia tahu dimana keberadaan adiknya itu dengan cepat.
“OMG keren... sering-sering dong beliin
yang kayak gini. Haha...”
Cio mencubit hidung Prilly gemas.
“Maunya.”
Prilly meringis.
“Sakit ih.”
Cio tertawa sejenak.
“Yaudah, masuk sana.”
“Oke.”
Begitu Prilly memasuki kelas, Cio pun
akhirnya beranjak menuju kelasnya.
***
Prilly berjalan dengan ragu kearah
bangkunya, pasalnya Ali yang memang teman sebangkunya ternyata sudah berada
dikelas itu.
Ali tersenyum kearah Prilly, begitu gadis
itu duduk Ali langsung mengulurkan tangannya.
“Aku Ali. Kita belum kenalan secara
resmikan?.”
Prilly menatap aneh kearah Ali. Ada angin apa? Namun kemudian ia
tersenyum tipis dan membalas uluran tangan Ali itu.
“Prilly.”
“Oiya, gue minta maaf ya sama loe. kemaren gue
kurang ajar sama loe.”
Prilly tersenyum.
“Gapapa kok. Emangnya ada apa?.”
“Ada apa, apa?.”
“Ya... Sepertinya kemaren loe kayak kenal
sama gue udah lama gitu.”
Ali tersenyum tipis.
“Loe mirip seseorang yang begitu gue cintai
sampai saat ini. meskipun udah lama, tapi gue masih sangat mencintai dia. Nama
kalian juga sama, Prilly.”
Prilly mengangguk-anggukan kepalanya
berlagak tidak tahu apa-apa. Gue disini
Li...
“Terus sekarang cewek loe kemana?.”
“Cewek gue?.”
“Yaiyalah cewek loe. Apa jangan-jangan yang
loe cintai itu cowok?.”
Ali tertawa.
“Ya kali pacaran sama cowok. Ya cewek lah.”
“Ya terus, kemana emang cewek loe? Ya
kali-kali aja dengan cerita loe jadi tenang.”
Ali menghela nafas.
“Dia udah gak mungkin hidup lagi.”
“Maksudnya? Dia punya penyakit? Kecelakaan?
Atau...”
Ali tersenyum.
“Ternyata loe bawel juga ya. kemaren aja
loe jutek gitu sama gue.”
“Eh... ya gue emang gini... gue emang kalo
udah deket sama orang ya gini... cerewet.”
Kok
gue jadi keliatan kepo gini ya jelas-jelas yang dimaksud dia itu gue kan?
duh... Prilly sifat manusia loe yang satu itu ternyata masih ada aja ya... guman Prilly dalam hati.
“Kok loe ngelamun sih?.”
“Enggak... gue gak ngelamun kok. Gue juga
pernah ngerasain apa yang loe rasain. Gue ditinggalin sama cowok yang sangat
gue cintai begitu aja dengan alesan yang menurut gue gak logis. Mungkin
perasaan sedih loe lebih berat dari gue, tapi loe harus yakin aja sama cewek
loe itu walaupun udah meninggal tapi masih hidupkan didalam hati loe? Tapi,
kalau kalian emang jodoh pasti kalian bakalan ketemu lagi kok.”
Ali tersenyum, ia mencubit pipi Prilly
refleks. Membuat Prilly dan Ali saling bertatapan sejenak. Prill gue kangen loe... andai dia itu loe...
Li...
gue juga kangen sama loe... ini gue Li, di depan loe...
“Eh... sorry...”
“Gapapa...”
“Oiya sekarang cowok yang ninggalin loe
dimana?.”
Prilly tersenyum.
“Ada. Dia udah kembali. Dia ada disini.”
Dihadapan
gue... sambung Prilly dalam hati.
Ali tersenyum masam.
“Cowok yang tadi ya?.”
“Heh?.”
Maksudnya
Kak Cio? Bukan! Tapi Loe!!!
“Eh gue kepo ya? maaf... loe gak perlu kok
cerita yang loe sendiri gak mau ceritain.”
Prilly tersenyum tipis.
“Gapapa...”
Pada
saatnya nanti loe akan tahu kalau cowok itu loe Li. Guman Prilly dalam hati sambil sesekali melirik kearah Ali
yang kini hanya tertunduk lesu.
Sekarang
gue yakin. Ternyata dia bukan Prilly gue...
Prilly menoleh kearah Ali. Kenapa Ali bisa mikir kayak gitu? Apa gue
emang gak keliatan vampirnya?
***
Cio dan Michelle duduk disalah satu bangku
kantin. Keduanya terlibat dalam sebuah perbincangan.
“Loe mau makan apa?.”
Cio tersenyum.
“Gak usah. Gue gak bawa uang, lagian Adek
gue pasti ngomel kalau gue makan yang kayak gini.”
“Kok bisa?.”
Cio tersenyum. Ia jadi ingat saat dimana
Prilly masih manusia dan mengomel sendiri mengomentari makanannya.
“Makanan
itu harus sesuai takaran gizi nya. Kakak gimana sih? Masa beli makanan yang
kayak gini?.”
“Kamu
tahu sendirikan Kakak gak makan?.”
“Eh
iya. Ya tapi harus tahu dong keperluan aku. katanya Kakak mau anggep aku Adek
Kakak sendiri walaupun aku manusia.”
“Cio... kok ngelamun sih?.”
“Gue jadi inget adek gue aja. Dia pokoknya
bakalan ngomel kalau gue makan yang aneh-aneh. Jadi mendingan cari aman deh.”
“Kok gitu?.”
“Dia bisa ngomel tujuh hari tujuh malem.
Haha...”
Michelle tertawa.
“Lebay loe.”
“Chel?.”
Michelle menoleh kearah orang yang
memanggilnya kemudian tersenyum.
“Eh kembaran. Duduk mau makan juga.”
Cio menatap orang yang baru saja menyapa Michelle,
kemudian menatap gadis yang dibawa orang itu. vampir... ternyata benar ada yang mengincar mutiara itu juga.
“Kevin kenalin ini Cio anak baru dikelas
gue. Cio ini Kembaran gue yang lahir 15 menit sebelum gue.”
Cio dan Kevin berjabat tangan.
“Oiya, ini Mila. Dia juga murid baru
dikelas gue. Mil kenalin adek gue.”
Mila menatap lurus ke arah Cio yang juga
menatapnya. Mila meneliti penampilannya. Apa
gue aneh ya?
Cio tersneyum tipis saat dapat membaca
pikiran Mila. Kemudian ia kembali beralih memperhatikan Michelle.
Tunggu!
Diakan cowok yang tadi pagi... kenapa dia disini? Kenapa gak sama ceweknya?
Cio menghela nafas. Kenapa sih tuh vampir ngelantur banget pikirannya?.
“Mil loe mau makan apa? Loe juga Cio makan
apa?.”
“Cio gak bisa makan ginian, nanti dia
dimarahin adeknya tujuh hari tujuh malem katanya.”
Kevin terkekeh.
“Adek yang perhatian tuh. Gak kayak loe.”
“Dih ngapain merhatiin loe? Udah gede ini.”
Kevin tersenyum kecil menanggapinya.
Memalukan sekali berantem ditempat umum seperti itu. membuat pesonanya luntur
aja.
“Mil makan apa?.”
“Gak usah Vin, gak laper gue.”
“Jangan-jangan takut diomelin adek juga ya?
haha...”
Mila ikut tertawa.
“Beruntung banget gue punya adek perhatian
gitu. Tapi ya... boro-boro dia mau ngurusin gue. Inget nungguin aja udah sukur.”
Michelle terkekeh mendengarnya begitupun
dengan Kevin dan Cio. Dasar vampir.
***
“Gak kekantin?.”
Prilly menengok ke arah Ali.
“Gak. Loe sendiri?.”
“Gue juga enggak.”
“Kenapa?.”
“Gue gak makan.”
“Oh.”
Ali mengerutkan keningnya. Sepertinya ada
yang aneh, kenapa dia...
“Loe gak aneh sama jawaban gue?.”
Prilly mengerutkan keningnya.
“Apanya yang aneh?.”
“Guekan bilang gue gak makan. Loe gak
ngerasa aneh gitu?.”
OMG!!!
Ck! Gue lupa, guekan lagi jadi manusia. Bukan vampir. Prilly menggaruk tengkuknya yang tak gatal itu.
“Ya... ya kali aja loe lagi diet gitu,
kayak gue.”
Ali menatap Prilly ragu. Raut wajahnya
benar-benar mirip dengan kekasihnya, bukan mirip lagi tapi sepertinya gadis
dihadapannya ini memang benar-benar kekasihnya. Terlihat dari wajah gugupnya,
dari salah tingkahnya, dari senyumnya dan semuanya. Gue yakin loe bisa baca pikiran gue Pril, meskipun gue masih ragu loe
itu Prilly gue atau bukan tapi asal loe tahu gue sayang sama loe, sangat sayang
sama loe apa adanya loe, bagaimanapun keadaan loe, mau loe vampir atau apapun
gue akan tetep cinta sama loe, sayang sama loe dan gue akan perjuangin cinta
gue gimanapun caranya. Inget itu!
Prilly menengok ke arah Ali, menatapnya
beberapa saat. Apa bener gitu Li? Andai
aja loe bisa baca pikiran gue. Prilly tersenyum kemudian mengelus pipi Ali.
Ali terdiam.
“Prilly...”
Aku
sayang kamu Prilly...
“Aku juga sayang kamu...”
Ali menatap Prilly terkejut. Apa benar yang
ia dengar barusan? Apakah ini hanya khayalan? Apakah ini nyata?
***
Bersambung.
No comments:
Post a Comment