Sunday, 22 June 2014

Immortal Love



Part 2: Misi (dan) Cinta

Ali berdiri didepan kelas barunya, ia mengedarkan pandangannya. Tak ada satu orangpun yang ia kenal. Ia memang ditempatkan dikelas yang berbeda dengan Mila, sekarang Mila Kakak kelasnya. Entah bagaimana caranya Kakaknya itu mengurus itu semua, ia hanya terima jadi saja. Lagipula, siapa yang mau pusing? Lebih baik ambil mudahnya saja bukan?.
“Perkenalkan saya Aliando Franka. Kalian bisa panggil Ali.”

Tok tok tok...

“Maaf Pak saya terlambat.”

Ali menatap orang yang baru datang itu tanpa berkedip. Apakah ini mimpi? Apakah dia? Tidak mana mungkin! Ali memejamkan matanya. Ada Vampir disini. Ia dan orang yang baru saja masuk itu saling berpandangan. Prilly...

Orang itu, Prilly. Ia tersenyum masam kemudian menghadap ke arah teman-teman barunya.
“Hai semua, saya Prilly Victoria. Terserah kalian mau panggil apa. Salam kenal.”
“Kalian duduk di bangku kosong itu.”
Ali dan Prilly mengangguk kemudian duduk dibangku yang kosong yang sama. Prill...
Prilly menoleh kearah Ali sekilas. Kemudian kembali fokus kepapan tulis. Ia yakin, Ali tidak bisa membaca pikirannya. Ia akan sekuat mungkin memblok pikirannya agar tidak bisa ditembus oleh siapapun.
Prilly... jika itu benar kamu, aku minta lihat aku.
Prilly tersenyum kecil, sepertinya ia sedang diuji oleh orang yang berada disampingnya itu. Ia juga yakin kalau orang itu tahu kalau ia vampir.
Sentuhan ditangannya menyadarkan Prilly, ia menoleh kearah Ali yang menatapnya dengan intens.
“Jangan kurang ajar ya.”
“Aku tahu, itu kamu.”
Prilly tersenyum, ia membalas tatapan Ali. Kemudian menggenggam tangan Ali yang sedari tadi diatas tangannya.
“Sepertinya loe salah orang.”
Setelah mengatakan itu Prilly melepaskan tangan Ali dan kembali memperhatikan pelajaran. Sementara Ali tak hentinya menatap Prilly yang duduk disampingnya. Ia yakin, gadis disampingnya ini adalah kekasihnya beberapa ratus tahun yang lalu, yang sangat ia cintai hingga saat ini. Tapi kenapa dia tidak mengakuinya?

***

Setelah usai pelajaran Prilly segera meninggalkan kelas, ia harus membicarakan hal ini dengan Kakaknya, ia harus segera mengambil tindakan.
“Kak.”
Prilly menyapa Cio begitu ia sampai dikelas Kakaknya itu. Prilly tersenyum saat melihat Cio sedang asik berbincang dengan gadis yang ditolongnya tadi pagi.
“Hai Kak...”
Cio tersenyum melihat Prilly yang bersikap normal. Ia terlihat tidak canggung sedikitpun.
 “Bisa kita bicara sebentar Kak?.”
“Bisa. Oiya Chel, ini adik aku Prilly. Dan Prill ini Minchelle yang tadi pagi.”
“Oh. Hai salam kenal.”
Michelle mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan. Sementara Prilly malah mengacungkan tangannya tanda ‘hai’.
“Hai, salam kenal juga Kak. Eh... yaudah, aku bawa dulu Kak Cio nya.”
Michelle mengangguk tanda setuju. Kemudian keduanya berlalu meninggalkan kelas itu.

***

Ali dan Mila duduk disalah satu bangku di perpustakaan. Tadi tiba-tiba, Ali menarik Mila untuk berbicara.
“Ada apa? Tadi mau ngajak ngomong sekarang loe nya malah ngelamun. Kenapa sih loe? Aneh banget.”
Ali menghela nafas, ia menatap Mila tajam.
“Dia ada disini.”
Mila mengerutkan keningnya tak mengerti.
“Dia siapa?.”
“Prilly.”
“Maksud loe?.”
“Dia masih hidup.”
Mila tertawa renyah.
“Gak. gak mungkin, jangan ngaco deh loe.”
Ali menatap Mila kesal.
“Gue gak ngaco. Itu dia.”
Mila mengalihkan pandangannya kearah pandangan Ali. Tepat di salah satu sudut perpusatakaan ia melihat gadis itu. gadis yang sangat ia kenal juga. Tapi, bagaimana bisa?
“Kok? Tapi Li. Kalau dia vampir, kita pasti bisa mencium keadaan mereka. sedangkan ini enggakkan? Berarti dia manusia.”
“Tadi gue bisa cium keberadaan vampir saat dikelas.”
Mila menatap Ali penuh selidik.
“Apa loe yakin itu dia? Bukan orang lain? bisa ajakan ada vampir dikelas loe tapi bukan dia.”
Ali terdiam. Apakah seperti itu? saat ia berusaha meyakini itu ternyata hatinya berkata lain. ia yakin gadis itu adalah gadisnya, kekasihnya yang sangat ia cintai.

***

“Prill...”
Prilly menepis tangan Ali yang tiba-tiba saja meraihnya. Ia menatap Ali sengit.
“Kamu kenapa sih? Kenapa kamu kayak musuhin aku?.”
Prilly terdiam, ia hanya menatap mata Ali yang menatapnya penuh cinta. Mata yang sangat ia rindukan.
“Apa benar kamu Prilly-ku? Kalau bukan, kamu tidak mungkin bersikap seperti ini.”
Prilly menggeretakkan giginya.
“Lepas.”
“Prill, jawab.”
“Apa yang harus gue jawab? Gue gak kenal sama loe. Gue gak ngerti apa yang loe maksud.”
“Jangan bohong.”
Prilly tersenyum, ia mendekat ke arah Ali kemudian berbisik.
“Gak usah sok tahu deh loe.”
Setelah mengatakan itu Prilly berlalu begitu saja, sementara Ali menatap kepergian Prilly dengan penuh rasa ingin tahu. Aku yakin itu kamu... sekuat apapun kamu nutupin identitas kamu, aku dengan cepat akan tahu. Ingat itu.

***

Prilly berjalan dengan tergesa dengan sesekali membenarkan rambutnya frustasi. Ia tidak bisa seperti itu, ia tidak bisa membohongi dirinya sendiri. Aku kangen kamu, yang aku mau itu meluk kamu numpahin semuanya bukan seperti ini. andai aku tidak tahu maksud kamu disini untuk apa...

Duk!

“Aw.”
Prilly diam. Akhirnya gue nemuin dia...
“Eh Sorry.”
“Eh...”
Prilly menatap orang itu ragu-ragu.
“Loe gapapa?.”
“Ah... enggak.”
Prilly dan orang itu saling melempar senyuman.
“Gue Prilly. Gue anak baru disini.”
“Kevin. Pantesan gue baru liat.”
Prilly tersenyum, begitupun dengan Kevin. Saat ia akan beranjak ia merasakan seseorang membuntutinya. Sekilas ia menengok ke arah sampingnya. Ali?. Prilly menghela nafas kemudian kembali menatap Kevin dengan tersenyum geli.
“Kak. Bisa antar aku kekelas? Aku lupa jalan ke kelas.”
Kevin terkekeh.
“Oke. Yuk.”
Prilly tersenyum senang. Ia lantas berjalan berdampingan dengan Kevin yang begitu ramah padanya. Sementara dalam hati ia tersenyum puas. Gue juga bisa Li naklukin manusia. Liat aja nanti.

***

Ali melemparkan tasnya kesal ke atas kursi dikediamannya. Ia mengacak-acak rambutnya kesal.
“Argh... kenapa jadi gini?!”
Mila menggelengkan kepalanya kemudian duduk disamping Ali.
“Gini gimana maksud loe? Ini semua rencana loe kan? Lagipula cewek itu dengan tegas bilang dia bukan Prilly loe.”
“Tapi gue gak yakin sama omongan dia. Gue yakin dia Prilly.”
“Terus mau loe gimana? Loe mau mundur dari rencana loe sendiri?.”
Ali menatap Mila, ia menghela nafas kesal.
“Gue yakin, dia udah tahu rencana gue untuk membuat cewek yang bawa Mutiara Kembar itu takluk sama gue. Gue yakin dia tahu, makannya dia kayak gini.”
Mila menatap Ali bingung, ia masih belum mengerti dengan jalan pikiran adiknya itu.
“Gue akan mundur buat dapetin mutiara itu. gue cuma bisa ngandelin loe dan gue juga akan cari jalan lain. gue gak bisa jauh dari Prilly.”
“Gila loe! Loe mau ngorbanin Mutiara itu demi cewek yang belum tentu...”
“Mila stop! Gue tahu apa yang terbaik buat gue dan loe ikutin aja apa kata gue!!!.”
Mila mengatupkan rahangnya, kesal. Ia menatap tajam ke arah Ali marah.
“Terserah!.”
Ali menatap Mila yang berlalu dengan cepat dari hadapannya, ia mengerang kesal. Ck! Cewek itu emang ribet! Ia menghentakkan kakinya kemudian menyusul Mila.
“Argh... Mila...”

***

Prilly menyandarkan kepalanya di bahu Cio yang berdiri di depannya. Ia benar-benar bingung dengan perbuatannya sendiri.
“Kenapa?.”
“Ali.”
Cio menghela nafas. Kemudian menatap Prilly penuh sayang.
“Kenapa dia?.”
Prilly menatap Cio takut.
“Aku kangen dia.”
Cio menggenggam wajah Prilly dan menatapnya.
“Kembali padanya.”
“Tapi...”
“Apapun yang kamu lakukan, dia akan tetap tahu kalau kamu itu Prilly-nya. Kamu juga tidak bisa membohongi dirimu sendiri kalau dia itu Ali-mu.”
Prilly tersenyum. Benar.
“Aku udah setengah jalan Kak.”
“Jangan pikirkan misi itu, masih ada Kakak. Kamu masih bisa andelin Kakak. Kamu kejar aja kebahagiaan kamu.”
Prilly tersenyum, seketika ia turun dari grand piano itu dan memeluk Cio begitu erat.
“Makasih Kak. Aku sayang Kakak...”
Cio membalas pelukan Prilly.
“Kakak juga...”

***

Bersambung.

No comments:

Post a Comment