Part 2: Misi (dan) Cinta
Ali berdiri didepan kelas barunya, ia
mengedarkan pandangannya. Tak ada satu orangpun yang ia kenal. Ia memang
ditempatkan dikelas yang berbeda dengan Mila, sekarang Mila Kakak kelasnya.
Entah bagaimana caranya Kakaknya itu mengurus itu semua, ia hanya terima jadi
saja. Lagipula, siapa yang mau pusing? Lebih baik ambil mudahnya saja bukan?.
“Perkenalkan saya Aliando Franka. Kalian
bisa panggil Ali.”
Tok tok tok...
“Maaf Pak saya terlambat.”
Ali menatap orang yang baru datang itu
tanpa berkedip. Apakah ini mimpi? Apakah dia? Tidak mana mungkin! Ali memejamkan matanya. Ada Vampir disini. Ia dan orang yang baru saja masuk itu saling
berpandangan. Prilly...
Orang itu, Prilly. Ia tersenyum masam
kemudian menghadap ke arah teman-teman barunya.
“Hai semua, saya Prilly Victoria. Terserah
kalian mau panggil apa. Salam kenal.”
“Kalian duduk di bangku kosong itu.”
Ali dan Prilly mengangguk kemudian duduk
dibangku yang kosong yang sama. Prill...
Prilly menoleh kearah Ali sekilas. Kemudian
kembali fokus kepapan tulis. Ia yakin, Ali tidak bisa membaca pikirannya. Ia
akan sekuat mungkin memblok pikirannya agar tidak bisa ditembus oleh siapapun.
Prilly...
jika itu benar kamu, aku minta lihat aku.
Prilly tersenyum kecil, sepertinya ia
sedang diuji oleh orang yang berada disampingnya itu. Ia juga yakin kalau orang
itu tahu kalau ia vampir.
Sentuhan ditangannya menyadarkan Prilly, ia
menoleh kearah Ali yang menatapnya dengan intens.
“Jangan kurang ajar ya.”
“Aku tahu, itu kamu.”
Prilly tersenyum, ia membalas tatapan Ali.
Kemudian menggenggam tangan Ali yang sedari tadi diatas tangannya.
“Sepertinya loe salah orang.”
Setelah mengatakan itu Prilly melepaskan
tangan Ali dan kembali memperhatikan pelajaran. Sementara Ali tak hentinya
menatap Prilly yang duduk disampingnya. Ia yakin, gadis disampingnya ini adalah
kekasihnya beberapa ratus tahun yang lalu, yang sangat ia cintai hingga saat
ini. Tapi kenapa dia tidak mengakuinya?
***
Setelah usai pelajaran Prilly segera meninggalkan
kelas, ia harus membicarakan hal ini dengan Kakaknya, ia harus segera mengambil
tindakan.
“Kak.”
Prilly menyapa Cio begitu ia sampai dikelas
Kakaknya itu. Prilly tersenyum saat melihat Cio sedang asik berbincang dengan
gadis yang ditolongnya tadi pagi.
“Hai Kak...”
Cio tersenyum melihat Prilly yang bersikap
normal. Ia terlihat tidak canggung sedikitpun.
“Bisa
kita bicara sebentar Kak?.”
“Bisa. Oiya Chel, ini adik aku Prilly. Dan
Prill ini Minchelle yang tadi pagi.”
“Oh. Hai salam kenal.”
Michelle mengulurkan tangannya untuk
berjabat tangan. Sementara Prilly malah mengacungkan tangannya tanda ‘hai’.
“Hai, salam kenal juga Kak. Eh... yaudah,
aku bawa dulu Kak Cio nya.”
Michelle mengangguk tanda setuju. Kemudian
keduanya berlalu meninggalkan kelas itu.
***
Ali dan Mila duduk disalah satu bangku di
perpustakaan. Tadi tiba-tiba, Ali menarik Mila untuk berbicara.
“Ada apa? Tadi mau ngajak ngomong sekarang
loe nya malah ngelamun. Kenapa sih loe? Aneh banget.”
Ali menghela nafas, ia menatap Mila tajam.
“Dia ada disini.”
Mila mengerutkan keningnya tak mengerti.
“Dia siapa?.”
“Prilly.”
“Maksud loe?.”
“Dia masih hidup.”
Mila tertawa renyah.
“Gak. gak mungkin, jangan ngaco deh loe.”
Ali menatap Mila kesal.
“Gue gak ngaco. Itu dia.”
Mila mengalihkan pandangannya kearah
pandangan Ali. Tepat di salah satu sudut perpusatakaan ia melihat gadis itu.
gadis yang sangat ia kenal juga. Tapi, bagaimana bisa?
“Kok? Tapi Li. Kalau dia vampir, kita pasti
bisa mencium keadaan mereka. sedangkan ini enggakkan? Berarti dia manusia.”
“Tadi gue bisa cium keberadaan vampir saat
dikelas.”
Mila menatap Ali penuh selidik.
“Apa loe yakin itu dia? Bukan orang lain?
bisa ajakan ada vampir dikelas loe tapi bukan dia.”
Ali terdiam. Apakah seperti itu? saat ia
berusaha meyakini itu ternyata hatinya berkata lain. ia yakin gadis itu adalah
gadisnya, kekasihnya yang sangat ia cintai.
***
“Prill...”
Prilly menepis tangan Ali yang tiba-tiba
saja meraihnya. Ia menatap Ali sengit.
“Kamu kenapa sih? Kenapa kamu kayak musuhin
aku?.”
Prilly terdiam, ia hanya menatap mata Ali
yang menatapnya penuh cinta. Mata yang sangat ia rindukan.
“Apa benar kamu Prilly-ku? Kalau bukan,
kamu tidak mungkin bersikap seperti ini.”
Prilly menggeretakkan giginya.
“Lepas.”
“Prill, jawab.”
“Apa yang harus gue jawab? Gue gak kenal sama
loe. Gue gak ngerti apa yang loe maksud.”
“Jangan bohong.”
Prilly tersenyum, ia mendekat ke arah Ali
kemudian berbisik.
“Gak usah sok tahu deh loe.”
Setelah mengatakan itu Prilly berlalu
begitu saja, sementara Ali menatap kepergian Prilly dengan penuh rasa ingin
tahu. Aku yakin itu kamu... sekuat apapun
kamu nutupin identitas kamu, aku dengan cepat akan tahu. Ingat itu.
***
Prilly berjalan dengan tergesa dengan
sesekali membenarkan rambutnya frustasi. Ia tidak bisa seperti itu, ia tidak
bisa membohongi dirinya sendiri. Aku
kangen kamu, yang aku mau itu meluk kamu numpahin semuanya bukan seperti ini.
andai aku tidak tahu maksud kamu disini untuk apa...
Duk!
“Aw.”
Prilly diam. Akhirnya gue nemuin dia...
“Eh Sorry.”
“Eh...”
Prilly menatap orang itu ragu-ragu.
“Loe gapapa?.”
“Ah... enggak.”
Prilly dan orang itu saling melempar
senyuman.
“Gue Prilly. Gue anak baru disini.”
“Kevin. Pantesan gue baru liat.”
Prilly tersenyum, begitupun dengan Kevin.
Saat ia akan beranjak ia merasakan seseorang membuntutinya. Sekilas ia menengok
ke arah sampingnya. Ali?. Prilly
menghela nafas kemudian kembali menatap Kevin dengan tersenyum geli.
“Kak. Bisa antar aku kekelas? Aku lupa
jalan ke kelas.”
Kevin terkekeh.
“Oke. Yuk.”
Prilly tersenyum senang. Ia lantas berjalan
berdampingan dengan Kevin yang begitu ramah padanya. Sementara dalam hati ia
tersenyum puas. Gue juga bisa Li naklukin
manusia. Liat aja nanti.
***
Ali melemparkan tasnya kesal ke atas kursi
dikediamannya. Ia mengacak-acak rambutnya kesal.
“Argh... kenapa jadi gini?!”
Mila menggelengkan kepalanya kemudian duduk
disamping Ali.
“Gini gimana maksud loe? Ini semua rencana
loe kan? Lagipula cewek itu dengan tegas bilang dia bukan Prilly loe.”
“Tapi gue gak yakin sama omongan dia. Gue yakin
dia Prilly.”
“Terus mau loe gimana? Loe mau mundur dari
rencana loe sendiri?.”
Ali menatap Mila, ia menghela nafas kesal.
“Gue yakin, dia udah tahu rencana gue untuk
membuat cewek yang bawa Mutiara Kembar itu takluk sama gue. Gue yakin dia tahu,
makannya dia kayak gini.”
Mila menatap Ali bingung, ia masih belum
mengerti dengan jalan pikiran adiknya itu.
“Gue akan mundur buat dapetin mutiara itu.
gue cuma bisa ngandelin loe dan gue juga akan cari jalan lain. gue gak bisa
jauh dari Prilly.”
“Gila loe! Loe mau ngorbanin Mutiara itu
demi cewek yang belum tentu...”
“Mila stop! Gue tahu apa yang terbaik buat
gue dan loe ikutin aja apa kata gue!!!.”
Mila mengatupkan rahangnya, kesal. Ia
menatap tajam ke arah Ali marah.
“Terserah!.”
Ali menatap Mila yang berlalu dengan cepat
dari hadapannya, ia mengerang kesal. Ck!
Cewek itu emang ribet! Ia menghentakkan kakinya kemudian menyusul Mila.
“Argh... Mila...”
***
Prilly menyandarkan kepalanya di bahu Cio
yang berdiri di depannya. Ia benar-benar bingung dengan perbuatannya sendiri.
“Kenapa?.”
“Ali.”
Cio menghela nafas. Kemudian menatap Prilly
penuh sayang.
“Kenapa dia?.”
Prilly menatap Cio takut.
“Aku kangen dia.”
Cio menggenggam wajah Prilly dan
menatapnya.
“Kembali padanya.”
“Tapi...”
“Apapun yang kamu lakukan, dia akan tetap
tahu kalau kamu itu Prilly-nya. Kamu juga tidak bisa membohongi dirimu sendiri
kalau dia itu Ali-mu.”
Prilly tersenyum. Benar.
“Aku udah setengah jalan Kak.”
“Jangan pikirkan misi itu, masih ada Kakak.
Kamu masih bisa andelin Kakak. Kamu kejar aja kebahagiaan kamu.”
Prilly tersenyum, seketika ia turun dari
grand piano itu dan memeluk Cio begitu erat.
“Makasih Kak. Aku sayang Kakak...”
Cio membalas pelukan Prilly.
“Kakak juga...”
***
Bersambung.
No comments:
Post a Comment