Part 4: Surya Raya
Aku
sayang kamu Prilly...
“Aku juga sayang kamu...”
Ali menatap Prilly terkejut. Apa benar yang
ia dengar barusan? Apakah ini hanya khayalan? Apakah ini nyata?
“Prill... kamu...”
Prilly tersenyum dengan tangan yang masih dipipi
Ali.
“Dulu kalau gue udah natap dia gini, pegang
pipi gini dia selalu bilang aku sayang kamu Prilly, dan aku selalu menjawabnya
kayak gitu.”
Ali tersenyum miris kemudian melepaskan
tangan Prilly dari pipinya.
“Oh.”
Prilly terkekeh.
“Kenapa sih gitu banget nanggapinnya?.”
“Gapapa kok.”
Maaf
Li... gue masih belum yakin sepenuhnya sama loe. Prilly tersenyum manis pada lelaki dihadapannya itu. ia
tahu betul kalau dia pasti kecewa. Maaf...
***
Ali menatap Prilly yang merapihkan bukunya
dengan terburu-buru.
“Prill, pulang bareng gue yuk.”
“Gak bisa. Gue udah ditungguin tuh didepan
kelas.”
Ali melirik kearah pintu dan mendapati
cowok yang tadi pagi bersama Prilly memasuki ruangan kelas itu. cowok itu
terlihat menatap tajam kearahnya.
“Li, gue duluan ya. bye.”
“Eh. Oke. Bye.”
Ali menatap Prilly hingga gadis itu
menghilang dari pandangannya. Prilly...
sepertinya loe benar-benar manusia... tapi kenapa masih aja ada bagian dalam
diri gue yang gak percaya?
Ali mendengus kesal. Kenapa gue harus ketemu orang yang mirip sama dia? Kalau dia bukan
milik gue kenapa kita dipertemukan?
***
Prilly dan Cio memasuki sebuah pusat
perbelanjaan dengan bergandengan tangan.
“Kakak mau kamu masak ya besok sebelum
sekolah. Kakak kangen liat kamu masak.”
Prilly mengerutkan keningnya.
“Masak? Emang siapa yang mau makan? Lagian
udah berapa tahun aku gak masak. Udah lama banget Kak.”
Cio tersenyum misterius.
“Entar juga kamu tahu.”
Prilly mengerutkan dahinya, menatap Cio
penuh tanya.
“Buat cewek itu? Michelle?.”
Cio terkekeh.
“Cepet banget taunya.”
Prilly memutar bola matanya kesal.
“Jangan bilang Kakak bilang sama dia kalau
aku suka ngomel tujuh hari tujuh malam cuma gara-gara porsi makanan.”
Cio mencubit hidung Prilly.
“Tahu aja sih kamu.”
“Udah keberapa ratus kali Kakak bilang gitu
sama cewek-cewek inceran Kakak? Ya pasti hafal lah alibi Kakak yang satu itu.”
Cio tersenyum geli melihat Prilly.
“Yuk ke arah sana.”
Cio dan Prilly terus saja berbincang tanpa
sadar disekitarnya ada orang yang memperhatikan mereka.
“Cio... Putera Raya. Siapa gadis itu?
sepertinya dia manusia. Tidak ada kapoknya dia mendekati manusia!.”
***
Ali menatap rintikan hujan yang mengguyur
kota tempatnya tinggal saat ini. tatapan matanya begitu tajam, rahangnya juga
terlihat keras sementara kedua tangannya saling bertautan. Prilly... kamu dimana? Kenapa aku belum mendengar kabar kamu. kamu
meninggal, ataukah bagaimana. Kembalilah jika kamu masih hidup, aku
merindukanmu...
Mila menghela nafas, ia mendekati Ali
kemudian duduk berdiri disampingnya. Ia menatap Ali sejenak.
“Mikirin Prilly yang mana loe?.”
Ali tersenyum tipis. Ia berbalik menatap
Mila.
“Prilly gue. Sepertinya Prilly temen
sekelas gue bener-bener manusia. Loe tahu tadi cowok yang sama dia natap gue
sangar banget. Kayak orang cemburu.”
Mila mengerutkan keningnya.
“Masa sih? Oiya. Cowok itu juga kayaknya
lagi deket sama kembaran Kevin.”
“Maksud loe cowok itu selingkuh?.”
Mila mengedikan bahunya.
“Gak bisa dibiarin. Siapapun Prilly, mau
dia Prilly gue atau bukan gue gak terima jika itu terjadi. Kalau gini caranya,
gue akan deketin Prilly.”
“Prilly? Prilly yang mana lagi Aliando?.”
Ali dan Mila bersamaan menoleh kearah
cumber suara.
“Daddy?.” Ucap keduanya.
“Jangan bilang kamu mencintai manusia
lagi.”
“Enggak. Siapa yang mencintai manusia?.”
“Yakin?.”
“Iya Dad. Tadi kami cuma lagi membicarakan
Prilly kekasih Ali yang dulu. Kami cuma merasa aneh karena sampai sekarang kami
belum mendapatkan kabar dia meninggal atau gimananya.”
“Benar itu Ali?.”
Ali menengok ke arah Mila sejenak kemudian
menatap Ayahnya.
“Iya.”
Mila menatap Ayahnya takut, ia menegok
kearah Ali yang terlihat gugup lalu beralih ke arah Ayahnya kembali.
“Eh... Daddy kapan datang? Kita
ngobrol-ngobrol yuk didalam. Sepertinya Daddy ada sesuatu yang penting sampai
menemui kami disini.”
Mila menarik Ayahnya untuk masuk kedalam
rumah. Ia berbalik mengintruksikan pada Ali untuk mengikutinya.
Ali menghela nafas kemudian berjalan
mengikuti Mila dan Ayahnya.
***
Prilly menyapu sekeliling Mall mencari
keberadaan Kakaknya. Entah bagaimana, tiba-tiba ia terpisah dari Kakaknya itu.
“Kak Cio kemana sih?.”
“Prilly.”
Prilly berbalik saat namanya itu
dosebutkan. Lantas ia tersenyum.
“Kak Kevin.”
Orang yang memanggilnya itu, Kevin. Ia
tersenyum pada Prilly.
“Ngapain kamu sendirian disini?.”
“Tadi aku sama Kakak aku. tapi gak tau deh
sekarang dia kemana.”
“Oh. Kamu masih mau nunggu apa gimana? Ini
udah mau malem lho. Kalo mau pulang ayo aku anterin.”
“Gapapa nih Kak?.”
“Enggak. Ayo.”
Prilly tersenyum kemudian mengangguk. Ia
lalu berjalan beriringan dengan Kevin sambil sesekali masih mencari keberadaan
Kakaknya. Kak Cio kemana sih?! Hhh!.
***
Ali duduk acuh tak acuh didepan Ayahnya. Ia
sebal sekali bila harus berhadapan dengan Ayahnya ini. itulah kenapa Ali hanya
tinggal bersama Mila saja.
“Keluarga Raya juga merapat semakin
mendekat untuk mengambil mutiara itu.”
“Raya? Tapi sampai sekarang kami belum
mencium keadaan mereka Dad.”
“Mereka tidak akan pernah bisa kita cium
keberadaannya Mila. Mereka memiliki sesuatu yang bisa nyamarin diri mereka dari
bangsa vampir lain hingga mereka hidup normal seperti manusia lainnya.”
Ayah mereka, Surya. Ia menatap kedua
anaknya.
“Hanya satu kelemahan mereka.”
Mila menatap Surya seakan bertanya Apa?
“Mereka hanya akan silau pada cahaya
matahari.”
Ali tersenyum.
“Silau? Dad itu konyol kita juga sama-sama
silau sama cahaya matahari. Bagaimana caranya kita mengenali mereka jika
kelemahan mereka cuma itu?.”
“Benar Dad. Jaman sekarang ada kacamata
yang bisa nangkal cahaya matahari.”
Surya tersenyum.
“Mereka akan bersinar saat ditempat yang
gelap.”
“Apa? Kenapa begitu aneh Dad?.”
“Tapi itulah mereka Mil.”
Ali mengerutkan keningnya.
“Siapa mereka Dad?. Kita harus waspada.”
Surya menatap Ali dan Mila bergantian.
“Dia selalu dipanggil Cio.”
Mila mengerutkan keningnya kemudian menatap
Ali.
“Cio?.”
Cio
itu bukannya...
Ali menatap tajam kearah Mila. Apa maksud loe Mil?.
Mila menatap kearah Ayahnya yang sepertinya
sedang memperhatikan percakapan mereka.
“Kamu mengenalnya Mila?.”
“Eng... Enggak Dad. Mila gak tahu.”
“Baiklah. Daddy akan kembali ketempat
Daddy. Suatu saat nanti Daddy kembali lagi.”
Mila dan Ali berdiri mengikuti Surya. Lalu
beberapa saat kemudian Surya menghilang dengan cepat.
“Mil apa maksud Pikiran loe?.”
“Li... Cio itu... Cio itu nama cowok yang
sama Prilly.”
“Apa? Jadi cowok itu... vampir?.”
***
Cio tersenyum menggoda pada Prilly yang
baru saja memasuki rumahnya dengan senyuman yang tak lepas dari wajah cantik
itu.
“Cie yang dianterin.”
“Kak Cio? Kok Kakak udah pulang?.”
“Bagus Prilly. Akhirnya kamu mulai bisa
mendekati manusia.”
“Bunda?.”
Bunda mereka, Raya. Ia tersenyum pada
Prilly yang kini berada dalam pelukannya.
“Ya Prilly Bunda dateng. Kamu harus bisa
menaklukan manusia itu dan mendapatkan mutiaranya.”
“Iya Bunda.”
Raya melepaskan pelukannya, ia menatap
Prilly dan Cio bergantian.
“Oiya... Cio Prilly. Kalian tahukan kalau
ada keluarga Surya disini. Ada kekasihmu juga bukan Prilly? Bunda harap itu
bukan halangan.”
Prilly tersenyum tipis, ia melirik ke arah
Cio yang menatap Prilly penuh kekhawatiran.
“Gak akan Bunda.”
Raya mrangkul pundak Prilly.
“Bunda pegang kata-katamu Prilly. Bunda
percaya sama kamu.”
Prilly tersenyum pada Cio, bermaksud
mengatakan aku baik-baik aja Kak.
***
Prilly termenung sendiri seperti biasanya,
di atas grand piano hitamnya. Ia menatap langit yang penuh bintang itu tanpa
minat.
“Kak... Kenapa aku harus ketemu sama Ali?.”
Prilly berucap tanpa berbalik ke arah Cio
yang ia tahu baru saja memasuki Kamarnya itu.
Cio mendekati Adiknya itu dan berdiri di
dekatnya. Ia menatap Prilly kemudian mengelus puncak kepalanya dengan lembut.
“Ini takdirmu. Takdirmu memang bersama
dia.”
“Tapi Bunda?.”
Cio mengalihkan pandangannya dari Prilly.
“Masalalu Bunda dengan Surya benar-benar
pelik. Yang Kakak khawatirkan, dia udah liat Kakak dan bocorin rahasia Kakak
pada Ali dan Mila.”
“Apa?.”
“Tapi, sepertinya dia tidak akan pernah
mengenali kamu Prill, langkah kamu akan lebih mudah asalkan kamu hati-hati.”
Prilly menghela nafas.
“Aku akan berusaha semampuku.”
Cio tersenyum lalu menarik Prilly kedalam
pelukannya.
“Kakak selalu sayang kamu... dari sebelum
kamu menjadi vampir.”
Prilly membalas pelukan Cio sambil
terkekeh.
“Aku juga sayang Kakak, apa adanya Kakak.”
“Tapi Prill, Ali sama Mila gak nyangka kita
Adek-Kakak lho. Kemungkinan Surya juga begitu. Jadi lebih baik biarin aja
mereka nyangka kita yang aneh-aneh dan kalo bisa disekolah kamu gak usah
panggil Kakak.”
Prilly mengerutkan keningnya. Kenapa misi nya jadi berat kegue ya? tapi
kemudian ia tersenyum.
“Oke Cioku sayang...”
***
Ali duduk di bangku yang berada di koridor
sekolah. Tak dapat ia pungkiri jika ia menjadi benar-benar penasaran dengan
Prilly, ia juga khawatir pada gadis itu jika dia manusia. Bagaimanapun juga
yang bersama gadis itu seorang vampir dan vampir itu berbahaya.
Ali berdiri begitu melihat Prilly keluar
dari mobilnya, pagi ini ia terlihat begitu manis dengan kacamata yang
membingkai matanya. Ia sempat mengalihkan pandangannya beberapa kali saat
melihat kedua orang itu saling berangkulan dengan begitu mesranya.
“Prilly.”
“Eh iya Li?.”
“Bisa kita bicara sebentar?.”
Prilly menatap kearah Cio meminta
persetujuan. Cio terlihat sedikit mengangguk.
“Kamu jangan macem-macem.”
“Iya. Kamu kekelas gih. Makan.”
Cio mengangguk kemudian berlalu begitu
saja.
Ali mengerutkan keningnya. Makan? Bukannya dia vampir?
“Mau ngomong apa Li?.”
Ali menarik Prilly untuk duduk di bangku
tadi. Ia menatap gadis itu dalam.
“Loe yakin nyuruh dia makan?.”
Prilly mengerutkan keningnya.
“Kenapa emang? Gue emang sengaja buatin dia
makanan, dia gak pernah mau sarapan dirumah.”
“Loe yakin dia manusia?.”
Prilly lagi-lagi mengerutkan keningnya.
“Maksudnya... apa loe gak pernah liat
gelagat aneh dia? Apa loe pernah liat dia makan didepan loe?.”
Prilly menghela nafas.
“Emang kenapa sih Li? To the point aja
kenapa? Gue emang gak pernah makan bareng dia, gak pernah liat dia makan. Terus
kenapa?.”
“Gue mau loe jauhin dia.”
“Kok gitu sih? Apa hubungannya sama loe?.”
“Ya seenggaknya loe pacaran sama manusia
ke.”
“Loe pikir Cio bukan manusia?.”
“Dia...”
“Cio itu baik-baik aja, dia baik sama gue,
pengertian sama gue, perhatian.”
“Tapi dia vampir.”
Prilly terdiam. Ia menghela nafas kemudian
menatap Ali.
“Darimana loe tahu dia vampir?.”
“Gak penting gue tau darimana, yang jelas
mulai sekarang loe harus jauhin dia. Gue cuma gak mau aja loe deket sama dia,
bahaya.”
Prilly tersenyum kemudian berdiri.
“Gue udah tahu kok dia vampir. Sebenernya
gue nyuruh dia makan cuma buat ngelabuin loe. Tapi sepertinya loe udah tahu
duluan, Li segala kekhawatiran loe itu gak berarti apa-apa, gue udah lama sama
dia dan dia gak pernah ada niat celakain gue. Loe gak perlu ikut campur sama
urusan gue selama gue aman dan selamat.”
Ali terdiam. Dia tahu kalau cowok yang sama dia itu vampir tapi gak khawatir sama
sekali sama keselamatannya? Apa benar kata Daddy kalau keluarga Raya memang
pintar mengelabui diri dan hati manusia sampai menaklukan manusiapun akan
sebegitu mudahnya?
Ali mengerang kesal kemudian berlalu. Semuanya
terlalu membingungkan untuknya. Aneh. Sampai ada manusia yang mau dekat dengan
vampir tanpa rasa takut.
***
Cio seperti biasa duduk di kantin bersama
dengan Michelle, namun kali ini Kevin juga ikut.
“Nih dari adek gue. Ini buat loe juga Kev,
katanya makasih udah nganterin pulang.”
Kevin tersenyum.
“Sama-sama, lagian loe kenapa ninggalin
dia?.”
“Gue ada kepentingan mendadak, gue mau sms
dia tapi handphone gue mati, jadi ya...”
“Enak nih. Loe gak makan?.”
“Udah tadi pagi. Gimana rasanya Chell?.”
“Enak. pinter masak ya adek loe. Kapan-kapan
ajarin gue gituh.”
“Jangan... entar dia malah ngacau, malah
ngeracunin.” Sahut Kevin.
“Ih Sirik aja loe.” Cibir Michelle
“Iya entar kapan-kapan deh ya.”
“Pacar loe mana Kev? Tumben gak ngintilin.”
Cio melirik kearah Michelle, pacar? Maksudnya si vampir itu?
“Siapa yang pacaran? Enggak kok dia cuma
sahabat gue aja. Katanya tadi dia mau ketemuan sama adeknya.”
Adeknya?
Ali? Jangan-jangan dia mau ngomongin gue.
Cio berdiri.
“Eh. Gue pamit dulu. Bye.”
Kevin dan Michelle hanya menatap aneh
kepergian Cio yang tiba-tiba itu. Tanpa rasa curiga apapun.
***
“Prilly tahu kalau cowok itu vampir.”
“Loe yakin? Apa loe gak curiga kalau dia
baru tahu pas loe bilang itu?.”
Ali terdiam mendengar penuturan Mila. Kenapa gue gak kepikiran sampe sana ya?
“Ah! Loe kenapa jadi gak peka gini sih? Aneh
loe!.”
Ali berdiri.
“Gue harus tanya.”
“Jangan...”
“Kenapa lagi sih?.”
Mila menatap kearah pintu kelas Prilly dan
melihat Cio yang menarik tangan Prilly keluar dengan kasar menariknya kesuatu
tempat. Terlihat sekali paniknya Prilly ditarik seperti itu, matanya juga
berlinangan airmata.
“Prilly...”
Mila menarik tangan Ali yang hendak
beranjak
“Mau kemana loe? Diem.”
“Gue harus pastiin dia baik-baik aja.”
“Li! Ali! Aliando!!!.”
Mila menghentakkan kakinya kemudian
mengikuti Ali, bagaimanapun juga adiknya itu patut dikhawatirkan jika sudah
terlihat kekeh seperti ini. ia tak akan membiarkan terjadi apapun, ini akan
membahayakan semuanya.
***
Maaf Prill...
Prilly samar mengangguk pada Cio yang kini
menghentakkan dirinya kedinding cukup keras. Ia menunduk takut.
“Stop! Stop Cio... aku...”
“Apa yang kamu mau? Kenapa kamu percaya
gitu aja sama dia? Kamu kenal dia aja baru beberapa hari. Kenapa dengan
mudahnya kamu percaya sama dia?.”
“Akukan cuma nanya Cio... Aku cuma nanya! Kalo
bukan yaudah tinggal jawab bukan! Gak usah bentak-bentak kayak gini, gak usah
kasar juga!. Kecuali kalau memang iya kamu vampir baru kamu boleh marah, kasar
dan bentak-bentak aku kayak gini.”
“Sekarang aku tanya sama kamu. kamu percaya
sama aku atau sama dia?.”
“Kamu.”
Prilly memeluk Cio, Cio pun membalasnya. Ia
menghela nafas. Syukurlah mereka sudah
pergi.
Prilly melepaskan pelukannya kemudian
mengusap kedua pipinya.
“Udah aktingnya? Ya ampun ketimbang aku
ngaku tahu aja ribetnya ke gini.”
“Kita gak boleh secepet itu ketahuan
Prilly. Seenggaknya dengan kayak gini mereka akan bingung.”
Prilly mengangguk, ia mengalihkan
pandangannya ke arah lain dan melihat Ali sedang berjalan menjauh bersama Mila.
Maafin gue Li... gue sayang sama loe...
ini demi loe juga, gue gak mau Bunda
apa-apain loe dengan tahu gue berhubungan dengan loe. Maaf...
***
Bersambung.
ada saran dan kritik bisa di add ID line aku, follow juga
instagram, twitter dan instagram aku ya biar kita bisa sharing tentang
cerita-cerita aku. usernamenya @sopiahnenden, berlaku untuk semuanya :)
Terimakasih udah mau baca ya :)
No comments:
Post a Comment