Part 1: Mutiara Kembar
Ali berjalan disebuah pusat perbelanjaan
seorang diri begitu ia sampai di Negara asalnya itu, ia terlihat berbelanja
berbagai keperluannya dan Mila. Apalagi
ya? baju udah, make up buat Mila juga udah, makanan? Buat apaan. ia
mengedarkan pandangannya keseluruh penjuru pusat perbelanjaan itu, sesaat
kemudian tersenyum. Handphone.
Duk!
Ali berbalik menatap orang yang tanpa
sengaja ia tabrak itu.
“Sorry.”
“Gapapa.”
Ali mengerutkan keningnya melihat tingkah
pemuda itu, kenapa dia begitu aneh? Lalu, kenapa dia tidak bisa membaca pikiran
orang itu? apa dia punya keistimewahan?
Ali mengedikkan bahunya kemudian berlalu.
***
Prilly menyimpan beberapa bunga hidup
kedalam vas di beberapa penjuru rumahnya. Ia memang sangat menyukai bunga dan
ia akan sangat betah di rumah bila rumahnya harum bunga alami seperti ini.
“Kak.”
Prilly mengerutkan keningnya saat melihat
Cio hanya duduk didalam mobil. Tak biasanya Kakaknya itu seperti itu. Prilly
berjalan cepat ke arah Cio kemudian mengetuk kaca mobil itu.
Cio membuka pintu mobil itu lalu keluar.
“Ada vampir lain disini, sepertinya mereka
juga tahu perihal menghilangnya Mutiara Keabadian itu.”
“Apa?. Kakak ketemu dimana?.”
“Mall, tadi Kakak gak sengaja nabrak dia.
Sepertinya dia juga akan menyamar menjadi manusia. Kita harus bergerak cepat.”
“Apa Kakak kenal sama dia?.”
“Gak.”
“Apa mungkin itu Ali?.”
Cio mengedikkan bahunya.
“Entahlah. Kamu tahu sendirikan Kakak tidak
pernah bertemu dengan Ali mu itu.”
Prilly tersipu malu, lalu ia memukul pelan
pundak Cio sebal karena malu.
“Apaan sih. Udah ah. Kita buka belanjaannya
aja.”
Cio terkekeh lalu mengacak-acak puncak
kepala Prilly.
***
Malam harinya, Prilly dan Cio mulai
menyelidiki rumah yang dicurigai sebagai pencuri mutiara keabadian itu.
keduanya bediri dibalik salah satu pohon yang berada disekitar rumah megah itu.
“Beneran disini Kak?.”
“Insting Kakak gak pernah salah.”
Saat hendak berjalan selangkah lagi Prilly
malah mundur beberapa langkah dan menarik Cio. Cio menatap adiknya itu penuh
tanya.
“Ada apa?.”
“Gue
yakin ini rumahnya. Kita harus secepatnya mendapatkan mutiara itu.”
“Lindungi aku Kak. Ada vampir lain. kita
gak boleh kecium sama mereka.”
Cio mendengus kemudian merapatkan diri pada
Prilly agar tak ada yang menyadari keadaan meraka.
Prilly menatap Cio ragu, kemudian
mengalihkan pandangan pada sebuah balkon dimana terdapat sepasang manusia yang
sedang bercanda. Prilly menghela nafas.
“Itu mereka Kak.”
Cio mengangguk.
“Tapi tunggu. Itu apa Kak? Kenapa mutiara
itu berwarna merah?.”
Rahang Cio mengeras.
“Sial!. Itu batu ruby, ruby itu bukan ruby
biasa. Ruby itu sama mutiara keabadian selalu disebut sebagai Mutiara Kembar.
Siapapun yang memiliki keduanya mereka akan menjadi vampir terkuat.”
“Kita ambil sekarang.”
“Jangan gegabah. Lebih baik kita lakukan
dengan cara yang lebih halus. Sekarang kita pulang.”
“Tapi...”
“Yang penting kita sudah tahu siapa
mereka.”
OMG!!!
Gue kasih alesan apalagi ya supaya bisa lebih lama disini? Ck! Prilly menghentakkan kakinya sebal.
“Kenapa? Ayo!.”
“Biar
gue buat cewek itu jatuh cinta sama gue! Loe urus cowok itu. jangan sampe loe
yang malah kejebak.”
Deg!
Prilly geram. Ia mengeratkan kepalannya
kemudian berlalu dengan cepat meninggalkan tempat itu.
***
Prilly duduk di atas grand piano dengan
gaun hitamnya. Rahangnya masih terkatup karena kesal, matanyapun memancarkan
aura ketidak bersahabatan. Setelah sekian
lama akhirnya gue bisa denger suara itu. gue yakin itu loe! Gue yakin. Tapi
kenapa dia malah mau membuat cewek itu jatuh cinta sama dia? Apa dia udah
bener-bener lupa sama gue? Ali...
“Kenapa? Semenjak pulang dari tempat tadi
kamu terlihat aneh.”
Prilly berbalik sekilas sambil tersenyum
tipis.
“Wah masa? OMG!!! Kak Cioku tersayang. Aku
gapapa kok. Aku cuma lagi nyari ide aja buat dapetin mutiara itu.”
Cio memicingkan matanya curiga.
“Yakin? Bukan hal lain?.”
“OMG!!! Jadi Kakak gak percaya sama aku?
yaudah.”
Cio tersenyum, ia mendekati Prilly dan
berdiri disampingnya.
“Yaudahlah. Oya... mulai besok kita
sekolah. Bagaimanapun juga kita harus deketin mereka.”
“Apa? OMG!!! Gak ada hal seru lainnya lagi
Kak? Jangan sekolah deh. Banyak tugas, inilah itulah. Setelah sekian lama kita
gak sekolah masa sekolah lagi sih.”
Cio mencubit hidung Prilly gemas.
“Maunya apa? Udahlah turutin aja kenapa.”
“Biar
gue buat cewek itu jatuh cinta sama gue! Loe urus cowok itu. jangan sampe loe
yang malah kejebak.”
Prilly kembali mengatupkan rahangnya, ia
masih dapat mengingat dengan jelas kata-kata itu. kita buktiin. Apa itu bener-bener loe atau bukan.
“Oke. Biar aku deketin cowok itu dan Kakak
deketin ceweknya. Sepertinya mereka bersaudara.”
Cio tersenyum.
“Tumben pinter.”
Prilly mendengus kemudian memukuli Cio
dengan kesal.
“Apaan sih loe... gue emang pinter dari
dulunya keless... ih! Kak Cio nyebeliiinnn...”
***
“Mila cepetan. Lelet banget sih!.”
“Bentar napa. Lagian loe ada-ada aja sih,
ngajakin sekolah lagi. Dadakan lagi.”
“Enggak dadakan. Cuma gue aja yang telat
ngasih tau. Udah yuk.”
Ali mengendarai mobilnya dengan tenang.
Bagaimanapun juga ia harus besikap seolah ia adalah manusia pada umumnya.
“Eh Li, gue yakin deh malem ada vampir lain
yang ada ditempat itu. Gue yakin.”
Ali berdecak kemudian mencubil pipi Mila.
“Perasaan loe aja kali. Selama inikan
pekaan gue daripada loe.”
“Sialan loe!.”
“Tapi benerkan?.”
Mila berdecak. Mau tidak mau ia harus
mengakui hal itu. Ia memang terkadang ceroboh dan memang tidak peka sama sekali
terhadap lingkungannya.
Sesampainya disekolah keduanya berjalan
beriringan menuju ruangan kepala sekolah. Beberapa pasang mata mengamati
keduanyapun seolah bukan masalah bagi mereka berdua.
“Pokoknya loe harus manggil gue Kakak!.”
“Ck! Iya deh Kak Mila.”
Mila tertawa sambil menepuk-nepuk pundak
Ali yang terlihat sekali ketidak relaannya memanggil kakak.
“Anak pinterr...”
Ali menekuk wajahnya sebal melihat
kegirangan Kakaknya itu. ia menepis tangan Mila kesal.
“Cie marah ciee...”
Mila berjalan mundur dan terus
mencolek-colek dagu Ali menggodanya.
“Aw.”
Mila terdiam, hampir saja ia terjatuh namun
sebuah tangan menahan tubuhnya. Ia masih terdiam kemudian menatap mata orang
yang menahan tubuhnya tersebut.
“Lepasin Kakak gue!.”
Dengan cepat Mila berdiri.
“Sorry. Tadi gue gak sengaja.”
Mila mengangguk tegas sambil tersenyum
tipis.
“Gapapa, lagian gue juga yang salah.”
“Enggak kok. Tadi gue jalannya gak
liat-liat.”
Ali mendengus. Basa-basi!.
“Udah salah-salahannya?.”
Mila mendelik kesal ke arah Ali. Ganggu banget sih loe!!!
Ali membalas tatapan Mila. Gak usah kecentilan deh!!!
“Eh, yaudah... gue duluan ya. gue harus ke
ruang kepala sekolah.”
Orang itu mengangguk.
“Yaudah. Bye.”
“Bye.”
Mila menarik Ali yang menatap orang itu
penuh selidik.
“Ali! Udah kenapa sih.”
Ali mendengus kemudian merangkul Mila,
bermaksud melindunginya. Ia tahu, orang itu tertarik pada Kakaknya ini, tapi ia
juga tahu Kakaknya tidak akan menyadari ini.
***
Prilly memakai kacamata hitamnya sambil
menatap gedung sekolah yang begitu megah itu, ia menoleh kesampingnya saat ia
merasakan sebuah rangkulan.
“Yakin mereka sekolah disini?.”
Cio tersenyum.
“Yakinlah. Liat aja nanti.”
Keduanya berjalan masih dengan saling
berangkulan, sesekali ia melirik tajam ke arah beberapa orang yang menatap
remeh kearahnya. Dasar manusia!.
Prilly menoleh kearah Cio yang ia tahu
bahwa Kakaknya itu sedang berusaha mengendalikan emosi hatinya. Ia tersenyum
masam.
“Curang loe Kak.”
Cio tersenyum, hanya itu yang bisa ia
lakukan untuk merubah mood adiknya itu yang entah kenapa selalu saja labil. Gue sayang sama loe...
“Gue juga sayang loe Kak.”
Bruk!
Cio menoleh kearah sumber suara, ia melihat
seorang gadis yang sedang memunguti beberapa buku sementara kakinya terlihat
sedikit luka.
“Darah...”
Cio menguatkan rangkulan pada Prilly.
“Diam. Kendaliin emosi kamu.”
“Kak... darah...”
Prilly memeluk erat Kakaknya itu. inilah
yang ia takutkan, ia belum bisa sepenuhnya mengendalikan diri jika ada setetes
saja darah manusia.
“Santai... kamu diam disini, Kakak kesana.
Tenang oke?.”
Prilly mengangguk. Ia kemudian duduk
disebuah bangku tak jauh dari sana. Ia mendengar percakapan Kakaknya dengan
gadis itu jelas, sepertinya dia yang
mengambil mutiara itu. ia menarik nafas dalam-dalam, aroma lain mendekat. Vampir. Ia menoleh ke arah Cio, ia
terdiam sejenak. Ali?
***
Bersambung.
No comments:
Post a Comment