Sunday, 22 June 2014

Immortal Love




Part 1: Mutiara Kembar

Ali berjalan disebuah pusat perbelanjaan seorang diri begitu ia sampai di Negara asalnya itu, ia terlihat berbelanja berbagai keperluannya dan Mila. Apalagi ya? baju udah, make up buat Mila juga udah, makanan? Buat apaan. ia mengedarkan pandangannya keseluruh penjuru pusat perbelanjaan itu, sesaat kemudian tersenyum. Handphone.
Duk!

Ali berbalik menatap orang yang tanpa sengaja ia tabrak itu.
“Sorry.”
“Gapapa.”
Ali mengerutkan keningnya melihat tingkah pemuda itu, kenapa dia begitu aneh? Lalu, kenapa dia tidak bisa membaca pikiran orang itu? apa dia punya keistimewahan? Ali mengedikkan bahunya kemudian berlalu.

***

Prilly menyimpan beberapa bunga hidup kedalam vas di beberapa penjuru rumahnya. Ia memang sangat menyukai bunga dan ia akan sangat betah di rumah bila rumahnya harum bunga alami seperti ini.
“Kak.”
Prilly mengerutkan keningnya saat melihat Cio hanya duduk didalam mobil. Tak biasanya Kakaknya itu seperti itu. Prilly berjalan cepat ke arah Cio kemudian mengetuk kaca mobil itu.
Cio membuka pintu mobil itu lalu keluar.
“Ada vampir lain disini, sepertinya mereka juga tahu perihal menghilangnya Mutiara Keabadian itu.”
“Apa?. Kakak ketemu dimana?.”
“Mall, tadi Kakak gak sengaja nabrak dia. Sepertinya dia juga akan menyamar menjadi manusia. Kita harus bergerak cepat.”
“Apa Kakak kenal sama dia?.”
“Gak.”
“Apa mungkin itu Ali?.”
Cio mengedikkan bahunya.
“Entahlah. Kamu tahu sendirikan Kakak tidak pernah bertemu dengan Ali mu itu.”
Prilly tersipu malu, lalu ia memukul pelan pundak Cio sebal karena malu.
“Apaan sih. Udah ah. Kita buka belanjaannya aja.”
Cio terkekeh lalu mengacak-acak puncak kepala Prilly.

***

Malam harinya, Prilly dan Cio mulai menyelidiki rumah yang dicurigai sebagai pencuri mutiara keabadian itu. keduanya bediri dibalik salah satu pohon yang berada disekitar rumah megah itu.
“Beneran disini Kak?.”
“Insting Kakak gak pernah salah.”
Saat hendak berjalan selangkah lagi Prilly malah mundur beberapa langkah dan menarik Cio. Cio menatap adiknya itu penuh tanya.
“Ada apa?.”

“Gue yakin ini rumahnya. Kita harus secepatnya mendapatkan mutiara itu.”

“Lindungi aku Kak. Ada vampir lain. kita gak boleh kecium sama mereka.”
Cio mendengus kemudian merapatkan diri pada Prilly agar tak ada yang menyadari keadaan meraka.
Prilly menatap Cio ragu, kemudian mengalihkan pandangan pada sebuah balkon dimana terdapat sepasang manusia yang sedang bercanda. Prilly menghela nafas.
“Itu mereka Kak.”
Cio mengangguk.
“Tapi tunggu. Itu apa Kak? Kenapa mutiara itu berwarna merah?.”
Rahang Cio mengeras.
“Sial!. Itu batu ruby, ruby itu bukan ruby biasa. Ruby itu sama mutiara keabadian selalu disebut sebagai Mutiara Kembar. Siapapun yang memiliki keduanya mereka akan menjadi vampir terkuat.”
“Kita ambil sekarang.”
“Jangan gegabah. Lebih baik kita lakukan dengan cara yang lebih halus. Sekarang kita pulang.”
“Tapi...”
“Yang penting kita sudah tahu siapa mereka.”
OMG!!! Gue kasih alesan apalagi ya supaya bisa lebih lama disini? Ck! Prilly menghentakkan kakinya sebal.
“Kenapa? Ayo!.”

“Biar gue buat cewek itu jatuh cinta sama gue! Loe urus cowok itu. jangan sampe loe yang malah kejebak.”

Deg!

Prilly geram. Ia mengeratkan kepalannya kemudian berlalu dengan cepat meninggalkan tempat itu.

***

Prilly duduk di atas grand piano dengan gaun hitamnya. Rahangnya masih terkatup karena kesal, matanyapun memancarkan aura ketidak bersahabatan. Setelah sekian lama akhirnya gue bisa denger suara itu. gue yakin itu loe! Gue yakin. Tapi kenapa dia malah mau membuat cewek itu jatuh cinta sama dia? Apa dia udah bener-bener lupa sama gue? Ali...
“Kenapa? Semenjak pulang dari tempat tadi kamu terlihat aneh.”
Prilly berbalik sekilas sambil tersenyum tipis.
“Wah masa? OMG!!! Kak Cioku tersayang. Aku gapapa kok. Aku cuma lagi nyari ide aja buat dapetin mutiara itu.”
Cio memicingkan matanya curiga.
“Yakin? Bukan hal lain?.”
“OMG!!! Jadi Kakak gak percaya sama aku? yaudah.”
Cio tersenyum, ia mendekati Prilly dan berdiri disampingnya.
“Yaudahlah. Oya... mulai besok kita sekolah. Bagaimanapun juga kita harus deketin mereka.”
“Apa? OMG!!! Gak ada hal seru lainnya lagi Kak? Jangan sekolah deh. Banyak tugas, inilah itulah. Setelah sekian lama kita gak sekolah masa sekolah lagi sih.”
Cio mencubit hidung Prilly gemas.
“Maunya apa? Udahlah turutin aja kenapa.”

“Biar gue buat cewek itu jatuh cinta sama gue! Loe urus cowok itu. jangan sampe loe yang malah kejebak.”

Prilly kembali mengatupkan rahangnya, ia masih dapat mengingat dengan jelas kata-kata itu. kita buktiin. Apa itu bener-bener loe atau bukan.
“Oke. Biar aku deketin cowok itu dan Kakak deketin ceweknya. Sepertinya mereka bersaudara.”
Cio tersenyum.
“Tumben pinter.”
Prilly mendengus kemudian memukuli Cio dengan kesal.
“Apaan sih loe... gue emang pinter dari dulunya keless... ih! Kak Cio nyebeliiinnn...”

***

“Mila cepetan. Lelet banget sih!.”
“Bentar napa. Lagian loe ada-ada aja sih, ngajakin sekolah lagi. Dadakan lagi.”
“Enggak dadakan. Cuma gue aja yang telat ngasih tau. Udah yuk.”
Ali mengendarai mobilnya dengan tenang. Bagaimanapun juga ia harus besikap seolah ia adalah manusia pada umumnya.
“Eh Li, gue yakin deh malem ada vampir lain yang ada ditempat itu. Gue yakin.”
Ali berdecak kemudian mencubil pipi Mila.
“Perasaan loe aja kali. Selama inikan pekaan gue daripada loe.”
“Sialan loe!.”
“Tapi benerkan?.”
Mila berdecak. Mau tidak mau ia harus mengakui hal itu. Ia memang terkadang ceroboh dan memang tidak peka sama sekali terhadap lingkungannya.
Sesampainya disekolah keduanya berjalan beriringan menuju ruangan kepala sekolah. Beberapa pasang mata mengamati keduanyapun seolah bukan masalah bagi mereka berdua.
“Pokoknya loe harus manggil gue Kakak!.”
“Ck! Iya deh Kak Mila.”
Mila tertawa sambil menepuk-nepuk pundak Ali yang terlihat sekali ketidak relaannya memanggil kakak.
“Anak pinterr...”
Ali menekuk wajahnya sebal melihat kegirangan Kakaknya itu. ia menepis tangan Mila kesal.
“Cie marah ciee...”
Mila berjalan mundur dan terus mencolek-colek dagu Ali menggodanya.
“Aw.”
Mila terdiam, hampir saja ia terjatuh namun sebuah tangan menahan tubuhnya. Ia masih terdiam kemudian menatap mata orang yang menahan tubuhnya tersebut.
“Lepasin Kakak gue!.”
Dengan cepat Mila berdiri.
“Sorry. Tadi gue gak sengaja.”
Mila mengangguk tegas sambil tersenyum tipis.
“Gapapa, lagian gue juga yang salah.”
“Enggak kok. Tadi gue jalannya gak liat-liat.”
Ali mendengus. Basa-basi!.
“Udah salah-salahannya?.”
Mila mendelik kesal ke arah Ali. Ganggu banget sih loe!!!
Ali membalas tatapan Mila. Gak usah kecentilan deh!!!
“Eh, yaudah... gue duluan ya. gue harus ke ruang kepala sekolah.”
Orang itu mengangguk.
“Yaudah. Bye.”
“Bye.”
Mila menarik Ali yang menatap orang itu penuh selidik.
“Ali! Udah kenapa sih.”
Ali mendengus kemudian merangkul Mila, bermaksud melindunginya. Ia tahu, orang itu tertarik pada Kakaknya ini, tapi ia juga tahu Kakaknya tidak akan menyadari ini.

***

Prilly memakai kacamata hitamnya sambil menatap gedung sekolah yang begitu megah itu, ia menoleh kesampingnya saat ia merasakan sebuah rangkulan.
“Yakin mereka sekolah disini?.”
Cio tersenyum.
“Yakinlah. Liat aja nanti.”
Keduanya berjalan masih dengan saling berangkulan, sesekali ia melirik tajam ke arah beberapa orang yang menatap remeh kearahnya. Dasar manusia!.
Prilly menoleh kearah Cio yang ia tahu bahwa Kakaknya itu sedang berusaha mengendalikan emosi hatinya. Ia tersenyum masam.
“Curang loe Kak.”
Cio tersenyum, hanya itu yang bisa ia lakukan untuk merubah mood adiknya itu yang entah kenapa selalu saja labil. Gue sayang sama loe...
“Gue juga sayang loe Kak.”

Bruk!

Cio menoleh kearah sumber suara, ia melihat seorang gadis yang sedang memunguti beberapa buku sementara kakinya terlihat sedikit luka.
“Darah...”
Cio menguatkan rangkulan pada Prilly.
“Diam. Kendaliin emosi kamu.”
“Kak... darah...”
Prilly memeluk erat Kakaknya itu. inilah yang ia takutkan, ia belum bisa sepenuhnya mengendalikan diri jika ada setetes saja darah manusia.
“Santai... kamu diam disini, Kakak kesana. Tenang oke?.”
Prilly mengangguk. Ia kemudian duduk disebuah bangku tak jauh dari sana. Ia mendengar percakapan Kakaknya dengan gadis itu jelas, sepertinya dia yang mengambil mutiara itu. ia menarik nafas dalam-dalam, aroma lain mendekat. Vampir. Ia menoleh ke arah Cio, ia terdiam sejenak. Ali?

***

Bersambung.


No comments:

Post a Comment