Prolog.
Seorang gadis cantik duduk diatas sebuah
grand piano, dengan gaun serba hitam dan sepatu yang berwarna sepadan. Ia
menatap lurus kedepan, menyaksikan turunnya salju yang tak kunjung reda. Ia
kedinginan? Tidak! ia tak pernah merasakan itu lagi. Dia bernama, Prilly
Victoria. Gadis yang selalu ceria, selalu tertawa dan seketika akan menjadi
pendiam saat ia sendiri. Gadis yang memiliki kecantikan alami bak sebuah boneka
yang hidup. Gadis yang memiliki daya tarik tersendiri bagi siapapun. Ya,
begitulah dia. Seorang gadis yang kini cantik abadi. Dan kecantikan itu pulalah
yang membawanya masuk dalam dunia tak berujung ini.
“Pril.”
Prilly berbalik dan melihat seorang Pemuda
yang berjalan ke arahnya dengan begitu tegas dan gagah. Ia tersenyum kecil.
“Ya Kak.”
“Kita harus pulang.”
Prilly mengerutkan keningnya, kemudian ia
turun dari grand piano itu dan mendekati Kakaknya yang duduk di salah satu
kursi di ruangan itu.
“Maksud Kakak ke Indonesia?.”
“Iya.”
Sambil berdecak kesal Prilly duduk
disamping Kakaknya.
“Pulang kampung ya? Ck! Kak biasanya juga
kita pulang 100 tahun sekali. Kenapa sekarang baru 80 tahun keliling dunia kita
malah harus pulang sih? Ah!.”
“Mutiara keabadian dicuri oleh bangsa
manusia. Kita harus segera mengambilnya, atau kita akan habis!.”
“Apa?! Kak Cio gak becandakan?.”
“Enggak. Besok kita harus pulang. Siapkan
apa keperluanmu.”
“Tapi Kak.”
“Kenapa?.”
Prilly menatap Kakaknya –Cio- ragu.
“Bicara. Jangan mentang-mentang Kakak tidak
bisa membaca pikiran kamu, kamu jadi rahasia-rahasiaan ya.”
“Ali.”
Cio mendesah lelah, ia merangkul adiknya
itu dengan penuh kasih sayang.
“Kamu takut ketemu sama dia karena takut
dia gak mau sama kamu karena kamu vampir atau takut karena dia udah punya
kekasih lain?.”
“Bagaimanapun juga dulu aku manusia, dia cinta
sama aku karena aku manusia bukan vampir seperti ini. Dia akan lebih senang aku
mati daripada aku menjadi seperti dia.”
Cio menatap Prilly dengan intens, inilah
yang selalu dipermasalahkan saat akan kembali ke Negara asalnya. Selalu itu
yang ditakutkan.
“Apa kamu yakin dia seperti itu?.”
Prilly diam, ia mengalihkan pandangannya
perlahan dari tatapan Kakaknya tersebut. Aku
sendiri gak yakin Kak. Tapi, jika dia mau hidup selamanya sama aku kenapa dulu
dia gak merubah aku aja sekalian?
“Udah. Siap-siap gih.”
Prilly mengangguk samar.
Kenapa walaupun sudah ratusan tahun lamanya
rasa itu tetaplah sama? Sekuat apapun ia mencoba melupakan, bayangan itu akan
selalu hadir dalam ingatannya. Dalam pikirnyapun ia selalu bertanya. Apa kabar? Apa kamu baik-baik saja?
Bagaimana rupamu sekarang? Apakah berubah?. Dia hanya selalu tertawa sendiri, dan menjawab
pertanyaan-pertanyaannya sendiri. Tentu
saja dia akan baik-baik saja, dia juga gak akan berubah. Aku saja masih seperti
ini.
Prilly menutup matanya. Aku merindukanmu...
***
“Mila!.”
Seorang Pemuda berjalan tergesa menghampiri
seorang gadis yang ia sebut Mila yang berada di balkon rumahnya.
“Kurang ajar loe! Gini-gini gue Kakak
loe!.”
“Iya umur manusia loe lebih tua, tapi tetep
aja secara vampir gue 10 tahun lebih tua dari loe!.”
“Ck! Ya pokoknya manggil Kakak!.”
Pemuda itu menjawil hidung Mila dengan
gemas.
“Udah. Sekarang dengerin gue ngomong ya.”
Mila mendelik kesal pada adiknya itu.
“Yaudah sih mau ngomong-ngomong aja.”
“Kita harus balik ke Indonesia. Mutiara
keabadian dicuri.”
“Bagaimana bisa? Mutiara itukan dipuncak
gunung merapi.”
“Itu dia gue juga gak tau. Loe siap-siap
gih.”
Mila meraih tangan adiknya.
“Ali.”
“Ya.”
“Loe minta pulang bukan karena mau nyariin
kabar diakan? Nyari makam dia?.”
Adiknya itu, Aliando Franka. Seorang pemuda
yang memiliki ketampanan abadi yang tak akan berubah terlunturkan waktu.
Seorang pemuda yang begitu tegas namun penuh kasih sayang. Seorang pemuda yang
mampu menaklukan hati seorang gadis hingga tak pernah mampu lagi berpaling
darinya. Namun bagaimanapun inilah dia.
Ali tersenyum kecut.
“Emangnya masih ada harapan dia hidup?
Setelah ratusan tahun seperti ini?.”
Ali menepuk pundak Mila.
“Gak usah bahas lagi. Beres-beres gih.”
Mila mengangguk kemudian berlalu
meninggalkan Ali sendiri.
Sepeninggal Mila, Ali menyandarkan dirinya
pada pagar pembatas balkon. Tak pernah sekalipun ia berharap jika gadis pujaan
hatinya itu masih hidup, bukan karena ia sudah tak menyayanginya lagi. Tetapi,
umur manusia itu tidak akan ada yang sampai beratur-ratus tahun sepertinya. Ia
sangat menyayangi garis itu, cinta pertamanya yang hingga sekarang posisi itu
tidak pernah tergantikan sama sekali oleh siapapun.
Ali menutup matanya. Aku merindukanmu...
***
No comments:
Post a Comment