Sunday, 22 June 2014

Immortal Love (Prolog)




Prolog.
Seorang gadis cantik duduk diatas sebuah grand piano, dengan gaun serba hitam dan sepatu yang berwarna sepadan. Ia menatap lurus kedepan, menyaksikan turunnya salju yang tak kunjung reda. Ia kedinginan? Tidak! ia tak pernah merasakan itu lagi. Dia bernama, Prilly Victoria. Gadis yang selalu ceria, selalu tertawa dan seketika akan menjadi pendiam saat ia sendiri. Gadis yang memiliki kecantikan alami bak sebuah boneka yang hidup. Gadis yang memiliki daya tarik tersendiri bagi siapapun. Ya, begitulah dia. Seorang gadis yang kini cantik abadi. Dan kecantikan itu pulalah yang membawanya masuk dalam dunia tak berujung ini.
“Pril.”

Prilly berbalik dan melihat seorang Pemuda yang berjalan ke arahnya dengan begitu tegas dan gagah. Ia tersenyum kecil.
“Ya Kak.”
“Kita harus pulang.”
Prilly mengerutkan keningnya, kemudian ia turun dari grand piano itu dan mendekati Kakaknya yang duduk di salah satu kursi di ruangan itu.
“Maksud Kakak ke Indonesia?.”
“Iya.”
Sambil berdecak kesal Prilly duduk disamping Kakaknya.
“Pulang kampung ya? Ck! Kak biasanya juga kita pulang 100 tahun sekali. Kenapa sekarang baru 80 tahun keliling dunia kita malah harus pulang sih? Ah!.”
“Mutiara keabadian dicuri oleh bangsa manusia. Kita harus segera mengambilnya, atau kita akan habis!.”
“Apa?! Kak Cio gak becandakan?.”
“Enggak. Besok kita harus pulang. Siapkan apa keperluanmu.”
“Tapi Kak.”
“Kenapa?.”
Prilly menatap Kakaknya –Cio- ragu.
“Bicara. Jangan mentang-mentang Kakak tidak bisa membaca pikiran kamu, kamu jadi rahasia-rahasiaan ya.”
“Ali.”
Cio mendesah lelah, ia merangkul adiknya itu dengan penuh kasih sayang.
“Kamu takut ketemu sama dia karena takut dia gak mau sama kamu karena kamu vampir atau takut karena dia udah punya kekasih lain?.”
“Bagaimanapun juga dulu aku manusia, dia cinta sama aku karena aku manusia bukan vampir seperti ini. Dia akan lebih senang aku mati daripada aku menjadi seperti dia.”
Cio menatap Prilly dengan intens, inilah yang selalu dipermasalahkan saat akan kembali ke Negara asalnya. Selalu itu yang ditakutkan.
“Apa kamu yakin dia seperti itu?.”
Prilly diam, ia mengalihkan pandangannya perlahan dari tatapan Kakaknya tersebut. Aku sendiri gak yakin Kak. Tapi, jika dia mau hidup selamanya sama aku kenapa dulu dia gak merubah aku aja sekalian?
“Udah. Siap-siap gih.”
Prilly mengangguk samar.
Kenapa walaupun sudah ratusan tahun lamanya rasa itu tetaplah sama? Sekuat apapun ia mencoba melupakan, bayangan itu akan selalu hadir dalam ingatannya. Dalam pikirnyapun ia selalu bertanya. Apa kabar? Apa kamu baik-baik saja? Bagaimana rupamu sekarang? Apakah berubah?.  Dia hanya selalu tertawa sendiri, dan menjawab pertanyaan-pertanyaannya sendiri. Tentu saja dia akan baik-baik saja, dia juga gak akan berubah. Aku saja masih seperti ini.
Prilly menutup matanya. Aku merindukanmu...

***

“Mila!.”
Seorang Pemuda berjalan tergesa menghampiri seorang gadis yang ia sebut Mila yang berada di balkon rumahnya.
“Kurang ajar loe! Gini-gini gue Kakak loe!.”
“Iya umur manusia loe lebih tua, tapi tetep aja secara vampir gue 10 tahun lebih tua dari loe!.”
“Ck! Ya pokoknya manggil Kakak!.”
Pemuda itu menjawil hidung Mila dengan gemas.
“Udah. Sekarang dengerin gue ngomong ya.”
Mila mendelik kesal pada adiknya itu.
“Yaudah sih mau ngomong-ngomong aja.”
“Kita harus balik ke Indonesia. Mutiara keabadian dicuri.”
“Bagaimana bisa? Mutiara itukan dipuncak gunung merapi.”
“Itu dia gue juga gak tau. Loe siap-siap gih.”
Mila meraih tangan adiknya.
“Ali.”
“Ya.”
“Loe minta pulang bukan karena mau nyariin kabar diakan? Nyari makam dia?.”
Adiknya itu, Aliando Franka. Seorang pemuda yang memiliki ketampanan abadi yang tak akan berubah terlunturkan waktu. Seorang pemuda yang begitu tegas namun penuh kasih sayang. Seorang pemuda yang mampu menaklukan hati seorang gadis hingga tak pernah mampu lagi berpaling darinya. Namun bagaimanapun inilah dia.
Ali tersenyum kecut.
“Emangnya masih ada harapan dia hidup? Setelah ratusan tahun seperti ini?.”
Ali menepuk pundak Mila.
“Gak usah bahas lagi. Beres-beres gih.”
Mila mengangguk kemudian berlalu meninggalkan Ali sendiri.
Sepeninggal Mila, Ali menyandarkan dirinya pada pagar pembatas balkon. Tak pernah sekalipun ia berharap jika gadis pujaan hatinya itu masih hidup, bukan karena ia sudah tak menyayanginya lagi. Tetapi, umur manusia itu tidak akan ada yang sampai beratur-ratus tahun sepertinya. Ia sangat menyayangi garis itu, cinta pertamanya yang hingga sekarang posisi itu tidak pernah tergantikan sama sekali oleh siapapun.
Ali menutup matanya. Aku merindukanmu...

***


No comments:

Post a Comment