#1 : Tragedi
Beberapa
Tahun Lalu...
Pemuda itu berjalan dengan begitu elegan melewati
lorong kampus yang begitu dipadati oleh gadis-gadis belia. Seluruh pandangan
tertuju padanya, tak terkecuali. Begitulah hari-harinya, tak pernah lepas dari
gadis-gadis yang siap menjadi kekasihnya sewaktu-waktu.
“Gabriel...”
Pemuda itu berbalik dan mendapati seorang wanita
cantik yang membawa sebuah cake cokelat kesukaannya.
“Ya... siapa ya?.”
“Aku...”
BRUK!
Tanpa sengaja seorang gadis yang berjalan begitu
cepat menabrak gadis pembawa cake tadi tanpa sengaja, pasalnya dia sedari tadi
hanya memperhatikan tasnya, entah mencari apa. Cake itupun terjatuh.
“Aduh Maaf ya... gue lagi buru-buru nih ada kelas.
Sekali lagi maaf banget. Gue bener-bener gak sengaja tadi.”
“Makanya kalo jalan tuh liat-liat dong. Liat cake
gue jadi jatoh kan?.”
“Ya maaf, lagian bawa cake ke kampus, mana di tengah
jalan lagi. Jadi... gue rasa bukan salah gue.”
“Ya tapikan...”
“Udah ah gak ada waktu lagi. Maaf ya... kapan-kapan
lagi deh kita bahas. Bye Kakak senior cantik.”
Pemuda itu masih diam terpaku di tempat, bukan
karena kata-kata manis yang di keluarkan gadis pembawa cake tadi yang
menjanjikan akan membawa yang baru. Namun, karena ia sangat heran, kenapa gadis
penabrak tadi pergi begitu saja tanpa ada niat meliriknya sedikitpun? padahal
tak pernah ada yang mengabaikannya selama ini, tapi dia?
***
Gadis itu berjalan tergopoh-gopoh sambil sesekali
mengumpat karena tak menemukan ponselnya di dalam tas. “Dimana sih? Apa gue
lupa ya gak dibawa.”
Bruk!
Sial. Umpatnya lagi.
“Aduh Maaf ya... gue lagi buru-buru nih ada kelas.
Sekali lagi maaf banget. Gue bener-bener gak sengaja tadi.” Gadis itu menatap
gadis di depannya tanpa rasa bersalah. Ia masih berkutat dengan tasnya, padahal
sebenarnya bukan kelas yang ia tuju. Tapi kantin!.
“Makanya kalo jalan tuh liat-liat dong. Liat cake
gue jadi jatoh kan?.”
Gadis itu menatap gadis di depannya sekilas. “Ya
maaf, lagian bawa cake ke kampus, mana di tengah jalan lagi. Jadi... gue rasa
bukan salah gue.”
“Ya tapikan...”
“Udah ah gak ada waktu lagi. Maaf ya... kapan-kapan
lagi deh kita bahas. Bye Kakak senior cantik.” Gadis itu berbalik kemudian
memeragakan diri seperti ingin muntah. Memangnya siapa yang mau memuji seorang
nenek sihir dengan cantik seperti itu? iuhh sekali.
Untung deh ya dia gak bawel lagi. Lagi sama cowoknya
kali. Guman gadis itu dalam hati.
Gadis itu melambaikan pada seorang gadis yang tengah
berbincang dengan seorang pemuda tampan.
“Anggita... I’m sorry...”
“Yeah. You’re late again.” Gadis itu tersenyum pada
pemuda disamping gadis yang bernama Anggita tadi. “Thanks ya Alfa loe udah mau
jagain sahabat gue.”
“She’s my girl.” Pemuda yang dipanggil Alfa itu
tersenyum.
“Rio bukannya kamu ada kelas? Kamu gak pergi
sekarang?.” Tanya Agni-sapaan singkat sahabat gadis itu-.
Rio atau Alfa –sapaan lain dari gadis itu-
mengangguk, “Aku tinggal dulu ya Honey. Alfario-mu ini akan segera kembali.”
Agni terkekeh kemudian mengangguk. “Aku tunggu di
parkiran ya nanti siang.”
“Oke Honey. jangan nakal ya... Jangan makan, makanan
yang aneh-aneh.” Rio mengacak rambut Agni kemudian berlalu.
“Oke Honey... jangan nakal ya... Jangan makan,
makanan yang aneh-aneh.” Gadis itu meniru Rio yang baru saja menghilang dari
kantin.
Agni memukul pelan lengan gadis itu. “Sialan loe.”
“Eh jalan yuk. Gue udah lama gak panjat tebing lagi
nih. Atau jetski. Yuk... pengen ke Bali gue.”
Agni memutar bola mata, sahabatnya ini mulai
mengalihkan pembicaraan. Ini triknya agar lupa mengenai keterlambatannya tadi.
“Ceritain ke gue kenapa loe telat lagi? Kasiankan Rio...”
Gadis itu menghela nafas, “Gue kira loe udah lupa
bahas itu. oke jadi tadi gue nabrak senior gara-gara hape gue ilang gak tau
dimana. Nyebelin deh.”
“Terus?.”
“Terus apa? Gak ada.”
Agni menggeleng, “No! Pasti ada. Cerita semua...”
Gadis itu mendengus, “Loe emang selalu tahu kalo gue
bohong. Oke jadi tadi senior itu lagi sama Kakak senior yang kagak pernah
pacaran itu lho. Yang gak normal.”
“Darimana sih loe tahu dia gak normal? Eh siapa tuh
namanya? Gue lupa.”
Gadis itu mengedikkan bahunya acuh. “Mana gue tahu.
Yang jelas mana ada sih cowok yang udah kepala dua kagak pernah pacaran sama
cewek selain dia gay. Oke... loe dengerkan? GAY!.”
Agni menggeleng-gelengkan kepalanya. “Hati-hati loe
entar dia jodoh loe mau gimana?.”
“Hah? Jodoh? OGAH!!!.”
***
Sekarang.
Gabriel Smith
yang dulu seorang Pemuda tampan yang masih mengandalkan segala sesuatunya dari
orang tua, kini menjelma sebagai seorang Pria tampan dan sukses. Jika dulu
banyak gadis yang menginginkannya, sekarang segala kalangan banyak yang
menginginkannya. Tapi, entah kenapa dirinya masih tetap saja teringat pada
gadis yang tak meliriknya itu beberapa tahun yang lalu.
Gabriel membuka
kaca mobilnya begitu melihat keramaian disebuah sudut kota. “Pak, ini ada apa
ya?.”
“Itu ada
kecelakaan Mas.”
Gabriel hanya
mengangguk-anggukan kepalanya tanpa ada niat keluar, kemudia ia kembali menjalankan
kendaraannya karena terjerat janji penting dengan kolega-nya.
***
Gabriel
menyantap makan malamnya bersama dengan keluarganya, Ibu, Bapak, dan seorang
gadis remaja yang merupakan adiknya.
“Kapan ya Pa
kita punya cucu? Ibu pengen banget punya cucu, menantu cantik. Tapi kenapa ya
anak kita yang satu itu belum juga bawa calonnya buat kita? Gak mikirin orang
tuanya apa ya? kitakan udah semakin tua Pa.”
“Mungkin belum
ada Bu.”
“Iya tapi kapan
Pa? Banyak yang seumuran dia udah punya istri, punya anak malah. Sedangkan anak
kita? Hm...”
Gabriel menghela
nafas, selalu saja begini jika ia pulang. Memangnya tidak ada pembahasan yang
lain?
“Bu, Pa, sabar
ya... Gabriel juga udah mikirin pengen nikah. Tapi, sampai sekarang belum ada
yang cocok sama Gabriel, gak ada yang cinta dan sayang sama Gabriel, semuanya
cuma mau harta Gabriel aja. Gabriel mau, istri Gabriel nanti sayang sama kita
semua, terutama Ibu dan Bapak, sama Nadia juga, bagaimanapun kalian tetap
keluarga Gabriel. Gabriel akan lebih mikirin kalian.”
“Iya Bu, kasian
Kak Gabriel kalo di tekan terus harus nikah cepet. Pasti Kakak pengen yang
terbaik buat kita. Iyakan Kak?.” Nadia, adik Gabriel. Menengok ke arah Gabriel,
Gabriel
tersenyum sambil mengangguk, adiknya itu memang sangat pengertian padanya,
selalu sejalan dengan keinginannya. Itulah sebabnya mereka jarang sekali
berantem, banyak yang bilang adik-kakak itu sering berantem, tapi berbeda
sekali dengan mereka. mereka selalu sejalan, sehati dan senada dalam apapun.
“Iya deh. Ibu
selalu ngalah. Tapi tetep aja gak usah kelamaan juga.”
Gabriel menatap
Ibunya kemudian tersenyum. “Ibu do’ain aja yang terbaik buat Gab.”
***
Gabriel
menatap sahabatnya satu persatu, “Gue juga, walaupun kadang cuma
nyindir-nyindir aja. Ibu juga udah minta menantu. Tapi gue masih belum ada
keberanian buat cari pasangan sehidup semati gue. Gimanapun juga pernikahan itu
bukan hal main-mainkan?”
Gabriel mulai
menanggapi perkataan teman-temannya, mengenai orang tua mereka yang sama-sama
menginginkan menantu, segera. Ia menghela nafas lelah. Tak pernah sedikitpun
terlintas dalam benaknya untuk segera menikah. Yang ia inginkan adalah menjadi
sukses dan mendapatkan gadisnya dulu.
“Kenapa
loe ketawa sendiri.”
Gabriel
mengalihkan pandangannya pada Cakka dan Alvin yang sedang bersitegang.
“Kalian
lagi galau lucu juga tau, mukanya pada melas kayak gak bakalan dapet jodoh
aja.” Cakka memegangi perutnya karena tak bisa menghentikan tawanya. Gabriel
menghela nafas. Ini sebenernya siapa yang bawa virus galau sih? Bukannya Cakka?
Rio
menimpuk Cakka dengan keripik kentang yang sedari tadi terabaikan. “Loe duluan
kali. Kalo loe gak nularin, kita juga gak bakalan gini.”
“Udah.”
Gabriel melerai. “Sekarang kita pikirin masa depan kita ajalah. Bagaimanapun
orang tua kita harus jadi prioritas. Gitukan?”
Gabriel
mendesah, ya prioritas yang akan sangat sulit untuknya. Bagaimana tidak sulit?
Seorang Pria yang tak pernah berniat mendekati wanita sedetikpun dihadapkan
pada kenyataan harus menikah. Bagaimana memilih menantu yang berbobot? Tentu saja
tidak mudah bukan? Menantu-Istri Cucu-Anak. Akan sangat membahagiakan memang.
Tapi apakah perjalanan mendapatkannya akan mudah?
Gabriel
mengalihkan pandangannya pada seorang gadis yang baru saja keluar dari cafe
yang sama. Bukannya itu Gita? Ia
mengalihkan pandangannya pada Rio yang membelakangi pintu keluar-masuk yang ia
prediksikan tidak menyadari jika ada orang keluar dari cafe itu. Ia menggeleng
pelan. Gak mungkin. Lagian kalaupun bener
gak bagus juga. Gue gak bisa mastiin apa yang akan dilakukan Rio kalau tahu ada
dia disini.
***
Wanita cantik
itu sudah beberapa hari tak membuka matanya, ia terlihat begitu damai dan
tenang. Meskipun begitu, siapapun yang bicara didekatnya, ia selalu
mendengarnya, entah karena apa. Ia hanya sulit membuka mata, sulit menggerakkan
anggota tubuhnya yang lain.
“Shill
ayolah bangun, gue gak ada temen jalan nih. Masa panjat tebing sendiri sih, gak
seru tau.”
Ada
yang menggoyangkan tangannya, ini pasti Agni. Sahabat sejatinya, yang selalu
ada untuknya saat dalam keadaan apapun. Agni...
gue juga pengen bangun.... bangunin gue...
“Loe
tau gak Shill, Ray nembak gue. Gue akuin, dia emang ganteng, mapan, baik,
perhatian, sabar. Dia perfect banget.
Tapi gue tolak Shill, gue salah gak? Gue takut setelah ini dia bakalan
berubah.”
Ingin
sekali Shilla memeluk sahabatnya itu, pasti dia sangat risau. Ia dapat
mengetahuinya dari nada bicaranya. Agni...
maafin gue... loe yang sabar ya... jangan sedih. Do’ain gue biar cepet
sembuh...
“Maaf,
waktu besuk telah selesai.”
Pegangan pada
tangan Shilla menghilang, Agni please
jangan tinggalin gue. Loe boleh cerita sesuka loe... tapi please jangan
pergi...
Wanita cantik
itu bernama Ashilla More, seorang wanita yang begitu ceria dan dewasa. Wanita
yang tak pernah mau di pusingkan dengan urusan laki-laki. Selain itu Shilla,
begitu akrab dia di sapa, tak pernah memperhatikan sekelilingnya, ia orang yang
selalu fokus pada tujuannya, sehingga apapun tujuannya itulah yang harus ia
dapatkan.
Namun sayangnya,
semenjak beberapa hari ini ia tak sadarkan diri karena kecelakaan hebat yang
menimpanya. Setiap kejadian pasti ada hikmahnya, dan hikmah seperti apakah yang
akan ia dapatkan?.
***
Gabriel menghela
nafas panjang sesaat setelah sampai di Kampusnya dulu. Ia sudah tidak tahan,
ingin mencari data gadis itu. bagaimanapun caranya, ia harus menemukan gadis
itu. secepatnya!.
“Gabriel Smith?
Ada keperluan apa? Tumben sekali.” Yang menyapa itu adalah salah satu staf di
prodinya dulu.
“Bu, saya mau
mencari data seseorang.”
“Lulusan?.”
“Sekitar 3 tahun
dibawah saya.”
“Tunggu
sebentar.”
Gabriel menghela
nafas, semoga ada... semoga ada... Tuhan mudahkanlah...
“Ini. silahkan
cari sendiri, saya ada pekerjaan sebentar.”
Gabriel
mengangguk kemudian berjalan ke hadapan layar komputer itu. Ia lihat dari mulai
alfabet A. Gabriel tersenyum saat melihat foto gadis yang ia cari, dengan
kuncir satu yang begitu cuek. Tidak begitu rapih, tidak begitu cantik. Dia
terlihat begitu cuek. Saat ia mengklik foto itu ternyata keluar sebuah halaman
yang mengharuskan memasukan password.
“Apa-apaan
ini?.” Gabriel menggeram kesal. “Bu kenapa ini memakai password?.”
“Oh itu. itu
mungkin Mahasiswanya sendiri yang menginginkannya, disinikan jika menginginkan
keprivasian dengan membuat password di datanya sah-sah saja.”
Shit! Sial. Kenapa sih? Apa gadis itu sudah tahu
akan ada yang mencari datanya? Menyebalkan sekali!.
Ponselnya
tiba-tiba berdering.
Nama Cakka
tertera di layar ponselnya, ia mendengus dengan kesal. Si pangeran galau itu
selalu saja membuatnya pusing. Pusing karena apa? Karena efek domino yang dia
berikan!. Satu diminta menantu dan semuanya diminta. Dan semuanya berawal dari sahabatnya
itu. menyebalkan sekali.
“Ya?.”
“Cafe biasa sekarang. Loe gak baca sms gue?.”
Gabriel
menjauhkan ponselnya dan terlihat ada pesan masuk yang belum dibaca. “Belum.
Oke gue on the way sekarang.”
“Oke. Hati-hati bro, jalanan macet.”
“Sip.”
Gabriel bergegas
meninggalkan tempat itu setelah sebelumnya berpamitan. Ia benar-benar kecewa.
Padahal tinggal selangkah lagi dan dia akan tahu siapa gadis itu dan sekarang
tinggal dimana.
Begitu sampai di
cafe yang ia tuju, ia kemudian duduk sambil menyandarkan dirinya ke sandaran
kursi. “Lagi pada ngebahas apaan?.”
“Gue mau ngadain
acara. Demi dapetin cewek yang gue mau.”
Gabriel, Rio dan
Alvin mengalihkan pandangannya pada Cakka yang tersenyum puas. “Acara apa?.”
Tanya Alvin.
“Gue bakal
rayain ulang tahun gue dengan acara yang besar-besaran. Gue undang semua gadis
di kota ini. cuma demi dia.”
Gabriel terdiam,
seluruh gadis di kota ini? Gabriel
tersenyum misterius. Great! Loe emang
ngerti banget kebutuhan gue Kka... pasti dia juga dateng ke acara itu kalo
masih ada di kota ini.
“Eh Gab, menurut
loe gimana? Malah senyum-senyum lagi.”
Gabriel
mendelik, merusak khayalan indah orang
saja! “Gimana apanya?”
Cakka mendengus,
“Jadi dari tadi loe gak dengerin gue? Acara gue menurut loe gimana? Bagus gak?.”
“Oh.” Gabriel
berpikir sejenak. “Bagus, gue rasa itu solusi terbaik buat loe.” Buat gue juga, lanjut Gabriel dalam
hati.
***
Beberapa hari
kemudian acara terselenggara. Gabriel keluar dari mobil sport keluaran terbaru
yang baru saja tadi pagi datang di garasi rumahnya. Ia terlihat tampan sekali
dengan tuxedo-nya tak lupa juga sepatunya yang hitam mengkilat. Begitu memasuki
ruangan tempat terselenggaranya acara ia menyapukan pandangannya keseluruh
penjuru tempat itu. tak ada tanda-tanda gadisnya dulu.
“Gab.”
Gabriel
mengalihkan pandangannya pada Alvin yang memanggilnya dari sebuah kursi.
Kemudian ia menghampirinya dengan senyum khas dibibirnya. “Rajin amat loe.”
“Jelas. Rio
mana?.”
Gabriel menaikan
bahunya tanda tak tahu. Setelah itu Gabriel duduk kemudian menyapukan lagi
pandangannya keseluruh ruangan, lalu ia fokuskan ke pintu. Berharap beberapa
saat lagi gadisnya itu datang.
“Acara udah di
mulai, tuh dansa-nya.”
Gabriel melirik
ke arah Alvin yang sudah terlebih dahulu turun ke lantai dansa, tanpa pikir
panjang ia pun mengikuti Alvin. Daripada menunggu yang tak pasti.
“Kak.”
“Hai sayang?
Sama siapa kesini?.”
“Ibu, Bapak
juga.”
Gabriel
tersenyum ke arah adiknya yang terlihat begitu cantik itu. “Maukah kau berdansa
denganku tuan puteri?.”
Nadia terkekeh
kemudian menggapai tangan Gabriel yang terulur. “Kak gak milih yang lain? kali
aja ada yang nyantol.”
Gabriel
tersenyum masam, “Enggak ah, Kakakkan udah stuck
di kamu.”
Nadia terkekeh.
“Ya Tuhan... coba kalo Nadia bukan adeknya Kakak, pasti udah kelepek-kelepek.”
Gabriel
tersenyum lagi, pikirannya kembali teringat pada gadisnya dulu. Apakah gadisnya
juga akan kelepek-kelepek padanya? Hm...
***
“Nadia sama Ibu
aja pulangnya kalo Kakak mau ke apartemen. Dah... hati-hati Kak.”
Gabriel tersenyum
mendengar penuturannya kemudian mengangguk. “Kamu juga jangan malem-malem
tidurnya. Besok Kakak pulang.”
Setelah melihat
adiknya mengangguk, Gabriel kemudian mulai melajukan kendaraannya. Ia menghela
nafas pasrah, pesta yang tidak membuahkan
hasil. Ia memukul stir itu dengan
keras yang entah kenapa membuatnya oleng tak terkendali, suara decitan rempun
terdengar kemudian di iringi dengan suara dentuman.
***
Gabriel memegang
kepalanya yang terasa pening. “Argh...”
“Kak... Kakak
sadar? Ibu, Pa... Kak Gab sadar.” Nadia mendekati Gabriel dengan senyuman
mengembang, gaunnya belum berubah. Adiknya itu masih menggunakan gaun malam
tadi. “Nadkan udah bilang Kakak hati-hati. Kenapa bisa gini sih? Penyebab gak
jelas.”
“St...” Gabriel
menarik Nadia dalam dekapannya dengan tangannya yang bebas. Ia tahu adiknya itu
akan segera menangis, karena ia sangat tahu sifatnya. “Kakak gapapa kok.”
“Nad
khawatir...” Gabriel menghela nafas saat merasakan tubuh adiknya bergetar.
“Biar Kak Gab
periksa dulu, yuk kita pulang. Nanti temen-temennya Kak Gab juga kesini.”
“Gak mau! Nad
mau jaga Kak Gab.”
“Nad, kamu
kuliah gih. Kakak gapapa kok. Kalo kamu gini bukannya bikin Kakak tenang. Kamu
nurut ya sama Kakak.”
Nadia mengangguk
kemudian memeluk Gabriel sekali lagi lalu keluar.
“Ibu pulang juga
gapapa, Gab gak mau Ibu sakit gara-gara kecapean nungguin Gab.”
“Tapi nak...”
“Gapapa Bu.”
Ibu menghela
nafas kemudian keluar juga mengikuti suami dan anaknya.
Dokter tersenyum
ke arahnya kemudian mulai memeriksa keadaan Gabriel. “Anda tidak apa-apa. Hanya
sedikit benturan dan tidak berakibat apapun. Anda bisa pulang besok.”
Gabriel
tersenyum kemudian mengangguk. “Terimakasih Dok.”
“Sama-sama, saya
tinggal jangan lupa obatnya di minum. Semoga lekas sembuh.” Dokter itupun
berlalu.
Gabriel mendudukan
dirinya, ia menatap ke arah tangannya yang di infus. Ia tersenyum. “Cuma
gara-gara mikirin dia gue gini? Luar biasa.” Ia menghela nafas kemudian turun
dari atas bangsal.
Gabriel berjalan
melewati lorong rumah sakit dengan tangan kiri mendorong tongkat infusan. Gue gapapa, tapi kenapa pake yang gini
segala? Hhh...
Gabriel melirik
ke arah ruangan ICCU. Darisana ia melihat seorang gadis yang terbaring lemah di
atas bangsal, dengan berbagai bantuan medis untuk menunjang kelangsungan
hidupnya. Tanpa sadar ia berjalan memasuki ruangan itu, mendekati gadis
berwajah pucat itu.
Deg!
***
“Ma kita mau kemana?.”
“Kita jalan-jalan sayang...”
“Dokter! Pasien kritis!.”
“Ada pendarahan pada perut dan rahim.”
“Kita ke Disney ya Ma?.”
“Ya ampun... kamu udah gede sayang.”
“Ma... aku mau kesana.”
“Kita harus melakukan pengangkatan rahim.”
“Tapi Dok. Kita harus...”
“Tidak ada jalan lain. orangtuanya pun sudah tidak
selamat. Kita harus menyelamatkannya.”
“Iya sayang kita kesana.”
“Shilla sayang Mama...”
“Mama juga...”
Ingatan-ingatan
itu terus hilir-mudik dalam ingatannya. Tidak...
Ma... Dokter jangan... Mama... Shilla sayang Mama... Ma... Dokter... Ma...
Shilla gak mau... bantu Shilla... Ma... satu yang ia ingat sebelum kejadian
itu terjadi. Sebuah kecupan hangat dari Mamanya, yang sekarang ia rasakan lagi.
Begitu nyata dan... hangat.
Shilla membuka
matanya.
***
Bersambung.
Ditulis, 27 Februari 2014
Nenden Siti Sopiah.
No comments:
Post a Comment