Thursday, 27 February 2014

Prince’s Tale Series 2: Sleeping (Sick) Beauty

#1 : Tragedi

Beberapa Tahun Lalu...

Pemuda itu berjalan dengan begitu elegan melewati lorong kampus yang begitu dipadati oleh gadis-gadis belia. Seluruh pandangan tertuju padanya, tak terkecuali. Begitulah hari-harinya, tak pernah lepas dari gadis-gadis yang siap menjadi kekasihnya sewaktu-waktu.

“Gabriel...”

Pemuda itu berbalik dan mendapati seorang wanita cantik yang membawa sebuah cake cokelat kesukaannya.

“Ya... siapa ya?.”
“Aku...”

BRUK!

Tanpa sengaja seorang gadis yang berjalan begitu cepat menabrak gadis pembawa cake tadi tanpa sengaja, pasalnya dia sedari tadi hanya memperhatikan tasnya, entah mencari apa. Cake itupun terjatuh.

“Aduh Maaf ya... gue lagi buru-buru nih ada kelas. Sekali lagi maaf banget. Gue bener-bener gak sengaja tadi.”
“Makanya kalo jalan tuh liat-liat dong. Liat cake gue jadi jatoh kan?.”
“Ya maaf, lagian bawa cake ke kampus, mana di tengah jalan lagi. Jadi... gue rasa bukan salah gue.”
“Ya tapikan...”
“Udah ah gak ada waktu lagi. Maaf ya... kapan-kapan lagi deh kita bahas. Bye Kakak senior cantik.”

Pemuda itu masih diam terpaku di tempat, bukan karena kata-kata manis yang di keluarkan gadis pembawa cake tadi yang menjanjikan akan membawa yang baru. Namun, karena ia sangat heran, kenapa gadis penabrak tadi pergi begitu saja tanpa ada niat meliriknya sedikitpun? padahal tak pernah ada yang mengabaikannya selama ini, tapi dia?


***

Gadis itu berjalan tergopoh-gopoh sambil sesekali mengumpat karena tak menemukan ponselnya di dalam tas. “Dimana sih? Apa gue lupa ya gak dibawa.”

Bruk!

Sial. Umpatnya lagi.
“Aduh Maaf ya... gue lagi buru-buru nih ada kelas. Sekali lagi maaf banget. Gue bener-bener gak sengaja tadi.” Gadis itu menatap gadis di depannya tanpa rasa bersalah. Ia masih berkutat dengan tasnya, padahal sebenarnya bukan kelas yang ia tuju. Tapi kantin!.
“Makanya kalo jalan tuh liat-liat dong. Liat cake gue jadi jatoh kan?.”
Gadis itu menatap gadis di depannya sekilas. “Ya maaf, lagian bawa cake ke kampus, mana di tengah jalan lagi. Jadi... gue rasa bukan salah gue.”
“Ya tapikan...”
“Udah ah gak ada waktu lagi. Maaf ya... kapan-kapan lagi deh kita bahas. Bye Kakak senior cantik.” Gadis itu berbalik kemudian memeragakan diri seperti ingin muntah. Memangnya siapa yang mau memuji seorang nenek sihir dengan cantik seperti itu? iuhh sekali.
Untung deh ya dia gak bawel lagi. Lagi sama cowoknya kali. Guman gadis itu dalam hati.
Gadis itu melambaikan pada seorang gadis yang tengah berbincang dengan seorang pemuda tampan.
“Anggita... I’m sorry...”
“Yeah. You’re late again.” Gadis itu tersenyum pada pemuda disamping gadis yang bernama Anggita tadi. “Thanks ya Alfa loe udah mau jagain sahabat gue.”
“She’s my girl.” Pemuda yang dipanggil Alfa itu tersenyum.
“Rio bukannya kamu ada kelas? Kamu gak pergi sekarang?.” Tanya Agni-sapaan singkat sahabat gadis itu-.
Rio atau Alfa –sapaan lain dari gadis itu- mengangguk, “Aku tinggal dulu ya Honey. Alfario-mu ini akan segera kembali.”
Agni terkekeh kemudian mengangguk. “Aku tunggu di parkiran ya nanti siang.”
“Oke Honey. jangan nakal ya... Jangan makan, makanan yang aneh-aneh.” Rio mengacak rambut Agni kemudian berlalu.

“Oke Honey... jangan nakal ya... Jangan makan, makanan yang aneh-aneh.” Gadis itu meniru Rio yang baru saja menghilang dari kantin.
Agni memukul pelan lengan gadis itu. “Sialan loe.”
“Eh jalan yuk. Gue udah lama gak panjat tebing lagi nih. Atau jetski. Yuk... pengen ke Bali gue.”
Agni memutar bola mata, sahabatnya ini mulai mengalihkan pembicaraan. Ini triknya agar lupa mengenai keterlambatannya tadi. “Ceritain ke gue kenapa loe telat lagi? Kasiankan Rio...”
Gadis itu menghela nafas, “Gue kira loe udah lupa bahas itu. oke jadi tadi gue nabrak senior gara-gara hape gue ilang gak tau dimana. Nyebelin deh.”
“Terus?.”
“Terus apa? Gak ada.”
Agni menggeleng, “No! Pasti ada. Cerita semua...”
Gadis itu mendengus, “Loe emang selalu tahu kalo gue bohong. Oke jadi tadi senior itu lagi sama Kakak senior yang kagak pernah pacaran itu lho. Yang gak normal.”
“Darimana sih loe tahu dia gak normal? Eh siapa tuh namanya? Gue lupa.”
Gadis itu mengedikkan bahunya acuh. “Mana gue tahu. Yang jelas mana ada sih cowok yang udah kepala dua kagak pernah pacaran sama cewek selain dia gay. Oke... loe dengerkan? GAY!.”
Agni menggeleng-gelengkan kepalanya. “Hati-hati loe entar dia jodoh loe mau gimana?.”
“Hah? Jodoh? OGAH!!!.”

***

Sekarang.

Gabriel Smith yang dulu seorang Pemuda tampan yang masih mengandalkan segala sesuatunya dari orang tua, kini menjelma sebagai seorang Pria tampan dan sukses. Jika dulu banyak gadis yang menginginkannya, sekarang segala kalangan banyak yang menginginkannya. Tapi, entah kenapa dirinya masih tetap saja teringat pada gadis yang tak meliriknya itu beberapa tahun yang lalu.
Gabriel membuka kaca mobilnya begitu melihat keramaian disebuah sudut kota. “Pak, ini ada apa ya?.”
“Itu ada kecelakaan Mas.”

Gabriel hanya mengangguk-anggukan kepalanya tanpa ada niat keluar, kemudia ia kembali menjalankan kendaraannya karena terjerat janji penting dengan kolega-nya.

***

Gabriel menyantap makan malamnya bersama dengan keluarganya, Ibu, Bapak, dan seorang gadis remaja yang merupakan adiknya.
“Kapan ya Pa kita punya cucu? Ibu pengen banget punya cucu, menantu cantik. Tapi kenapa ya anak kita yang satu itu belum juga bawa calonnya buat kita? Gak mikirin orang tuanya apa ya? kitakan udah semakin tua Pa.”
“Mungkin belum ada Bu.”
“Iya tapi kapan Pa? Banyak yang seumuran dia udah punya istri, punya anak malah. Sedangkan anak kita? Hm...”

Gabriel menghela nafas, selalu saja begini jika ia pulang. Memangnya tidak ada pembahasan yang lain?
“Bu, Pa, sabar ya... Gabriel juga udah mikirin pengen nikah. Tapi, sampai sekarang belum ada yang cocok sama Gabriel, gak ada yang cinta dan sayang sama Gabriel, semuanya cuma mau harta Gabriel aja. Gabriel mau, istri Gabriel nanti sayang sama kita semua, terutama Ibu dan Bapak, sama Nadia juga, bagaimanapun kalian tetap keluarga Gabriel. Gabriel akan lebih mikirin kalian.”
“Iya Bu, kasian Kak Gabriel kalo di tekan terus harus nikah cepet. Pasti Kakak pengen yang terbaik buat kita. Iyakan Kak?.” Nadia, adik Gabriel. Menengok ke arah Gabriel,
Gabriel tersenyum sambil mengangguk, adiknya itu memang sangat pengertian padanya, selalu sejalan dengan keinginannya. Itulah sebabnya mereka jarang sekali berantem, banyak yang bilang adik-kakak itu sering berantem, tapi berbeda sekali dengan mereka. mereka selalu sejalan, sehati dan senada dalam apapun.

“Iya deh. Ibu selalu ngalah. Tapi tetep aja gak usah kelamaan juga.”

Gabriel menatap Ibunya kemudian tersenyum. “Ibu do’ain aja yang terbaik buat Gab.”

***

Gabriel menatap sahabatnya satu persatu, “Gue juga, walaupun kadang cuma nyindir-nyindir aja. Ibu juga udah minta menantu. Tapi gue masih belum ada keberanian buat cari pasangan sehidup semati gue. Gimanapun juga pernikahan itu bukan hal main-mainkan?”

Gabriel mulai menanggapi perkataan teman-temannya, mengenai orang tua mereka yang sama-sama menginginkan menantu, segera. Ia menghela nafas lelah. Tak pernah sedikitpun terlintas dalam benaknya untuk segera menikah. Yang ia inginkan adalah menjadi sukses dan mendapatkan gadisnya dulu.

“Kenapa loe ketawa sendiri.”
Gabriel mengalihkan pandangannya pada Cakka dan Alvin yang sedang bersitegang.
“Kalian lagi galau lucu juga tau, mukanya pada melas kayak gak bakalan dapet jodoh aja.” Cakka memegangi perutnya karena tak bisa menghentikan tawanya. Gabriel menghela nafas. Ini sebenernya siapa yang bawa virus galau sih? Bukannya Cakka?
Rio menimpuk Cakka dengan keripik kentang yang sedari tadi terabaikan. “Loe duluan kali. Kalo loe gak nularin, kita juga gak bakalan gini.”
“Udah.” Gabriel melerai. “Sekarang kita pikirin masa depan kita ajalah. Bagaimanapun orang tua kita harus jadi prioritas. Gitukan?”

Gabriel mendesah, ya prioritas yang akan sangat sulit untuknya. Bagaimana tidak sulit? Seorang Pria yang tak pernah berniat mendekati wanita sedetikpun dihadapkan pada kenyataan harus menikah. Bagaimana memilih menantu yang berbobot? Tentu saja tidak mudah bukan? Menantu-Istri Cucu-Anak. Akan sangat membahagiakan memang. Tapi apakah perjalanan mendapatkannya akan mudah?

Gabriel mengalihkan pandangannya pada seorang gadis yang baru saja keluar dari cafe yang sama. Bukannya itu Gita? Ia mengalihkan pandangannya pada Rio yang membelakangi pintu keluar-masuk yang ia prediksikan tidak menyadari jika ada orang keluar dari cafe itu. Ia menggeleng pelan. Gak mungkin. Lagian kalaupun bener gak bagus juga. Gue gak bisa mastiin apa yang akan dilakukan Rio kalau tahu ada dia disini.

***

Wanita cantik itu sudah beberapa hari tak membuka matanya, ia terlihat begitu damai dan tenang. Meskipun begitu, siapapun yang bicara didekatnya, ia selalu mendengarnya, entah karena apa. Ia hanya sulit membuka mata, sulit menggerakkan anggota tubuhnya yang lain.

“Shill ayolah bangun, gue gak ada temen jalan nih. Masa panjat tebing sendiri sih, gak seru tau.”

Ada yang menggoyangkan tangannya, ini pasti Agni. Sahabat sejatinya, yang selalu ada untuknya saat dalam keadaan apapun. Agni... gue juga pengen bangun.... bangunin gue...

“Loe tau gak Shill, Ray nembak gue. Gue akuin, dia emang ganteng, mapan, baik, perhatian, sabar. Dia perfect banget. Tapi gue tolak Shill, gue salah gak? Gue takut setelah ini dia bakalan berubah.”

Ingin sekali Shilla memeluk sahabatnya itu, pasti dia sangat risau. Ia dapat mengetahuinya dari nada bicaranya. Agni... maafin gue... loe yang sabar ya... jangan sedih. Do’ain gue biar cepet sembuh...

“Maaf, waktu besuk telah selesai.”

Pegangan pada tangan Shilla menghilang, Agni please jangan tinggalin gue. Loe boleh cerita sesuka loe... tapi please jangan pergi...

Wanita cantik itu bernama Ashilla More, seorang wanita yang begitu ceria dan dewasa. Wanita yang tak pernah mau di pusingkan dengan urusan laki-laki. Selain itu Shilla, begitu akrab dia di sapa, tak pernah memperhatikan sekelilingnya, ia orang yang selalu fokus pada tujuannya, sehingga apapun tujuannya itulah yang harus ia dapatkan.
Namun sayangnya, semenjak beberapa hari ini ia tak sadarkan diri karena kecelakaan hebat yang menimpanya. Setiap kejadian pasti ada hikmahnya, dan hikmah seperti apakah yang akan ia dapatkan?.

***

Gabriel menghela nafas panjang sesaat setelah sampai di Kampusnya dulu. Ia sudah tidak tahan, ingin mencari data gadis itu. bagaimanapun caranya, ia harus menemukan gadis itu. secepatnya!.
“Gabriel Smith? Ada keperluan apa? Tumben sekali.” Yang menyapa itu adalah salah satu staf di prodinya dulu.
“Bu, saya mau mencari data seseorang.”
“Lulusan?.”
“Sekitar 3 tahun dibawah saya.”
“Tunggu sebentar.”

Gabriel menghela nafas, semoga ada... semoga ada... Tuhan mudahkanlah...
“Ini. silahkan cari sendiri, saya ada pekerjaan sebentar.”
Gabriel mengangguk kemudian berjalan ke hadapan layar komputer itu. Ia lihat dari mulai alfabet A. Gabriel tersenyum saat melihat foto gadis yang ia cari, dengan kuncir satu yang begitu cuek. Tidak begitu rapih, tidak begitu cantik. Dia terlihat begitu cuek. Saat ia mengklik foto itu ternyata keluar sebuah halaman yang mengharuskan memasukan password.
“Apa-apaan ini?.” Gabriel menggeram kesal. “Bu kenapa ini memakai password?.”
“Oh itu. itu mungkin Mahasiswanya sendiri yang menginginkannya, disinikan jika menginginkan keprivasian dengan membuat password di datanya sah-sah saja.”
Shit! Sial. Kenapa sih? Apa gadis itu sudah tahu akan ada yang mencari datanya? Menyebalkan sekali!.

Ponselnya tiba-tiba berdering.

Nama Cakka tertera di layar ponselnya, ia mendengus dengan kesal. Si pangeran galau itu selalu saja membuatnya pusing. Pusing karena apa? Karena efek domino yang dia berikan!. Satu diminta menantu dan semuanya diminta. Dan semuanya berawal dari sahabatnya itu. menyebalkan sekali.

“Ya?.”
“Cafe biasa sekarang. Loe gak baca sms gue?.”
Gabriel menjauhkan ponselnya dan terlihat ada pesan masuk yang belum dibaca. “Belum. Oke gue on the way sekarang.”
“Oke. Hati-hati bro, jalanan macet.”
“Sip.”

Gabriel bergegas meninggalkan tempat itu setelah sebelumnya berpamitan. Ia benar-benar kecewa. Padahal tinggal selangkah lagi dan dia akan tahu siapa gadis itu dan sekarang tinggal dimana.

Begitu sampai di cafe yang ia tuju, ia kemudian duduk sambil menyandarkan dirinya ke sandaran kursi. “Lagi pada ngebahas apaan?.”
“Gue mau ngadain acara. Demi dapetin cewek yang gue mau.”
Gabriel, Rio dan Alvin mengalihkan pandangannya pada Cakka yang tersenyum puas. “Acara apa?.” Tanya Alvin.
“Gue bakal rayain ulang tahun gue dengan acara yang besar-besaran. Gue undang semua gadis di kota ini. cuma demi dia.”

Gabriel terdiam, seluruh gadis di kota ini? Gabriel tersenyum misterius. Great! Loe emang ngerti banget kebutuhan gue Kka... pasti dia juga dateng ke acara itu kalo masih ada di kota ini.

“Eh Gab, menurut loe gimana? Malah senyum-senyum lagi.”
Gabriel mendelik, merusak khayalan indah orang saja!  “Gimana apanya?”
Cakka mendengus, “Jadi dari tadi loe gak dengerin gue? Acara gue menurut loe gimana? Bagus gak?.”
“Oh.” Gabriel berpikir sejenak. “Bagus, gue rasa itu solusi terbaik buat loe.” Buat gue juga, lanjut Gabriel dalam hati.

***

Beberapa hari kemudian acara terselenggara. Gabriel keluar dari mobil sport keluaran terbaru yang baru saja tadi pagi datang di garasi rumahnya. Ia terlihat tampan sekali dengan tuxedo-nya tak lupa juga sepatunya yang hitam mengkilat. Begitu memasuki ruangan tempat terselenggaranya acara ia menyapukan pandangannya keseluruh penjuru tempat itu. tak ada tanda-tanda gadisnya dulu.

“Gab.”

Gabriel mengalihkan pandangannya pada Alvin yang memanggilnya dari sebuah kursi. Kemudian ia menghampirinya dengan senyum khas dibibirnya. “Rajin amat loe.”
“Jelas. Rio mana?.”
Gabriel menaikan bahunya tanda tak tahu. Setelah itu Gabriel duduk kemudian menyapukan lagi pandangannya keseluruh ruangan, lalu ia fokuskan ke pintu. Berharap beberapa saat lagi gadisnya itu datang.

“Acara udah di mulai, tuh dansa-nya.”

Gabriel melirik ke arah Alvin yang sudah terlebih dahulu turun ke lantai dansa, tanpa pikir panjang ia pun mengikuti Alvin. Daripada menunggu yang tak pasti.
“Kak.”
“Hai sayang? Sama siapa kesini?.”
“Ibu, Bapak juga.”
Gabriel tersenyum ke arah adiknya yang terlihat begitu cantik itu. “Maukah kau berdansa denganku tuan puteri?.”
Nadia terkekeh kemudian menggapai tangan Gabriel yang terulur. “Kak gak milih yang lain? kali aja ada yang nyantol.”
Gabriel tersenyum masam, “Enggak ah, Kakakkan udah stuck di kamu.”
Nadia terkekeh. “Ya Tuhan... coba kalo Nadia bukan adeknya Kakak, pasti udah kelepek-kelepek.”
Gabriel tersenyum lagi, pikirannya kembali teringat pada gadisnya dulu. Apakah gadisnya juga akan kelepek-kelepek padanya? Hm...

***

“Nadia sama Ibu aja pulangnya kalo Kakak mau ke apartemen. Dah... hati-hati Kak.”
Gabriel tersenyum mendengar penuturannya kemudian mengangguk. “Kamu juga jangan malem-malem tidurnya. Besok Kakak pulang.”
Setelah melihat adiknya mengangguk, Gabriel kemudian mulai melajukan kendaraannya. Ia menghela nafas pasrah, pesta yang tidak membuahkan hasil.  Ia memukul stir itu dengan keras yang entah kenapa membuatnya oleng tak terkendali, suara decitan rempun terdengar kemudian di iringi dengan suara dentuman.

***

Gabriel memegang kepalanya yang terasa pening. “Argh...”
“Kak... Kakak sadar? Ibu, Pa... Kak Gab sadar.” Nadia mendekati Gabriel dengan senyuman mengembang, gaunnya belum berubah. Adiknya itu masih menggunakan gaun malam tadi. “Nadkan udah bilang Kakak hati-hati. Kenapa bisa gini sih? Penyebab gak jelas.”
“St...” Gabriel menarik Nadia dalam dekapannya dengan tangannya yang bebas. Ia tahu adiknya itu akan segera menangis, karena ia sangat tahu sifatnya. “Kakak gapapa kok.”
“Nad khawatir...” Gabriel menghela nafas saat merasakan tubuh adiknya bergetar.

“Biar Kak Gab periksa dulu, yuk kita pulang. Nanti temen-temennya Kak Gab juga kesini.”
“Gak mau! Nad mau jaga Kak Gab.”
“Nad, kamu kuliah gih. Kakak gapapa kok. Kalo kamu gini bukannya bikin Kakak tenang. Kamu nurut ya sama Kakak.”
Nadia mengangguk kemudian memeluk Gabriel sekali lagi lalu keluar.
“Ibu pulang juga gapapa, Gab gak mau Ibu sakit gara-gara kecapean nungguin Gab.”
“Tapi nak...”
“Gapapa Bu.”
Ibu menghela nafas kemudian keluar juga mengikuti suami dan anaknya.

Dokter tersenyum ke arahnya kemudian mulai memeriksa keadaan Gabriel. “Anda tidak apa-apa. Hanya sedikit benturan dan tidak berakibat apapun. Anda bisa pulang besok.”
Gabriel tersenyum kemudian mengangguk. “Terimakasih Dok.”
“Sama-sama, saya tinggal jangan lupa obatnya di minum. Semoga lekas sembuh.” Dokter itupun berlalu.

Gabriel mendudukan dirinya, ia menatap ke arah tangannya yang di infus. Ia tersenyum. “Cuma gara-gara mikirin dia gue gini? Luar biasa.” Ia menghela nafas kemudian turun dari atas bangsal.

Gabriel berjalan melewati lorong rumah sakit dengan tangan kiri mendorong tongkat infusan. Gue gapapa, tapi kenapa pake yang gini segala? Hhh...

Gabriel melirik ke arah ruangan ICCU. Darisana ia melihat seorang gadis yang terbaring lemah di atas bangsal, dengan berbagai bantuan medis untuk menunjang kelangsungan hidupnya. Tanpa sadar ia berjalan memasuki ruangan itu, mendekati gadis berwajah pucat itu.

Deg!

***

“Ma kita mau kemana?.”
“Kita jalan-jalan sayang...”

“Dokter! Pasien kritis!.”
“Ada pendarahan pada perut dan rahim.”

“Kita ke Disney ya Ma?.”
“Ya ampun... kamu udah gede sayang.”
“Ma... aku mau kesana.”

“Kita harus melakukan pengangkatan rahim.”
“Tapi Dok. Kita harus...”
“Tidak ada jalan lain. orangtuanya pun sudah tidak selamat. Kita harus menyelamatkannya.”

“Iya sayang kita kesana.”
“Shilla sayang Mama...”
“Mama juga...”

Ingatan-ingatan itu terus hilir-mudik dalam ingatannya. Tidak... Ma... Dokter jangan... Mama... Shilla sayang Mama... Ma... Dokter... Ma... Shilla gak mau... bantu Shilla... Ma... satu yang ia ingat sebelum kejadian itu terjadi. Sebuah kecupan hangat dari Mamanya, yang sekarang ia rasakan lagi. Begitu nyata dan... hangat.
Shilla membuka matanya.

***

Bersambung.
Ditulis, 27 Februari 2014
Nenden Siti Sopiah.


No comments:

Post a Comment