Monday, 24 February 2014

BIJI in Love. Part 10

Part 10: Cakka...?

***

Patton berbalik ke arah pintu kaca itu untuk kesekian kalinya lalu ia menghela nafas, juga untuk kesekian kalinya. Rasa tak percaya masih menghantui dirinya. Pikirannya kembali melayang pada saat itu.

“Aku akan sangat beruntung kalo hidup sama kamu, menghabiskan sisa umurku sama kamu Patton...” Agni menarik nafas dalam. “Tapi aku gak bisa secepet ini, aku harus mulihin seluruh ingatan aku dulu.”


Patton mendesah lelah. Bunyi panggilan itu menyadarkan dirinya. Bahwa ia, harus segera pergi. Pergi meninggalkan gadis yang begitu ia sayangi beserta segala kenangan manis yang tak akan pernah bisa ia lupakan. I love you so much Agni... semoga kamu nunggu aku sampe aku pulang. Semoga kamu jodohku...
Kali ini dengan mantap Patton berjalan meninggalkan semuanya. Semuanya yang akan selalu tersisa didalam ingatannya, selalu tergambar dalam lamunannya. Selamat tinggal Agni... jaga diri baik-baik ya sayang...

***

Tak ada hal yang paling mengenaskan selain ditinggalkan orang yang katanya mencintai kita disaat kita membutuhkannya, itulah yang dirasakan Agni sekarang. Janji Patton yang akan merawatnya hingga pulih total ternyata hanyalah bualan belaka, karena faktanya sekarang tugas Patton di alihkan pada Dayat. Tanpa ada alasan yang jelas sedikitpun. dia tak menjelaskan apapun pada Agni.

“Kok ngelamum terus sih?.”
Agni terperanjat, “Eh Kka... maaf.”

Cakka mendesah putus asa melihat sikap Agni yang benar-benar membuatnya bingung harus berbuat apa. Ia bersimpuh dihadapan Agni, menatap intens wajah cantik yang sangat ia inginkan itu.

“Masih mikirin Dokter Patton?.”
Agni menghela nafas. “Aku cuma gak habis pikir dengan sikapnya, aku kecewa. Kenapa dia menjanjikan sesuatu yang tak bisa ia tepati?”
“Agni...” Cakka menggenggam kedua tangan Agni, “Aku disini. Apa itu tidak cukup? Apa kamu tidak bisa membuka hati kamu buat aku?.” ia menghela nafas. “Sekali aja. Aku tidak akan mengecewakanmu seperti dia yang mengecewakanmu.”
Agni menatap Cakka dengan sendu. “Jika itu sebuah janji, sebaiknya kamu tarik kembali ucapanmu.”
“Kenapa? Kamu ragu sama aku?.”
“Tidak.” Agni mengalihkan pandangannya ke arah lain. “Hanya saja, aku tidak siap untuk kecewa lagi.”

Ya... tak ada seorangpun yang ingin kecewa, apalagi kecewa untuk kedua kalinya. Terlalu menyakitkan, meskipun yang mengecewakan bukan orang yang kita sayang atau cinta sekalipun. Agni hanya menatap kosong ke arah taman yang dapat ditembus dari kamar rawatnya. Tempat itu... Agni memejamkan matanya dengan sebelah tangan memegangi kepalanya itu. bayangan itu berputar. Saat ia duduk bersama dengan Patton saat masih mengenakan pakaian dinas Dokter, kemudian saat bersama membawa main seorang pasien balita, saat dirinya mendapatkan elusan di puncak kepalanya. Patton... Agni membatin, berharap orang yang ia panggil datang.

***

Cakka mengerang, ia memukul dinding ruangan kerja Patton. Kenapa sih selalu dia? Kenapa? Apa aku kurang? Apa sih yang kamu mau? “Argh...” sekali lagi Cakka memukul dinding itu.

Tadi, Cakka memutuskan meninggalkan Agni yang selalu terlihat melamun. Ia tak yakin bahwa Agni akan menyadari kepergiannya, karena ia tau, pikiran Agni sedang tak berada di tempat itu. entah ada dimana.

“Ada apa Kka?.”
Cakka tetap diam ditempat, “Apa gue gak lebih baik dari dia Yo?.”
Rio berjalan, lalu merangkul Cakka, “Loe sabar Kka, Agni butuh waktu lupainya aja.”
Cakka berbalik menatap Rio geram, “Kapan?! Gue udah cukup sabar!.”
“Cakka! Loe sadar gak sih Agni baru aja kecewa ditinggalin Patton? Harusnya loe lebih sabar! Gak usah buru-buru.” Rio menghela nafas, berniat beranjak. Bosan dengan sikap adiknya, lebih baik ia mendatangi Agni yang hari ini gilirannya berjaga. “Kalo loe gak sabar, loe gak akan dapet apa yang loe mau.”

Cakka termenung, apa benar ia terburu-buru? Ia hanya menginginkan Agni menjadi miliknya. Apa itu salah? Tidak bukan? Cakka menarik nafas, iya, gue harus sabar.

***

Rio mendorong kursi roda Agni sementara Shilla berjalan disampingnya membawa nampan berisi makanan untuk Agni. Mereka membawa Agni untuk keluar dari ruangan agar membuatnya tidak bosan.

Agni menengok ke arah Shilla. “Ada kabar dari Patton?.”
Shilla menghela nafas, sebenarnya ia tak tega mengatakan ini tapi Agni terus saja bertanya. “Patton pergi Ni, keluar Negeri.”
Agni mendesah kecewa lalu kembali menatap ke arah depan. Mengalihkan perhatiannya pada orang-orang yang berlalu-lalang.
Sementara Rio hanya bisa menatap Agni iba. Jujur saja, ia juga tidak tega melihat Agni dalam ke adaan seperti ini, tapi bagaimana lagi? Perjanjian tetap perjanjian!.

“Aku mau pulang.”

Shilla dan Rio saling berpandangan. Rio menghela nafas, “Iya.” Mungkin akan lebih baik daripada kamu terus melihat bayangan Patton.

“Ni, sebaiknya kamu jangan terlalu mikirin kepergian Patton. Toh, kalaupun dia jodoh kamu nanti juga dia kembali buat kamu.”
“Bukan masalah itu Yo, tapi aku kecewa. Dia janji jagain aku, rawat aku sampai sembuh.”

Rio tak berucap lagi, memangnya apa yang bisa ia lakukan lagi? Agni terlanjur kecewa dan sakit hati. Kalaupun di baik-baikin apa Agni akan membaik?

***

“Gabriel!. Kalo loe gak bisa masak minggir deh. Entar bukannya Agni suka masakan gue tapi malah keracunan. Emergency tau!.”

Sivia mendelik ke arah Gabriel yang memotong sayurannya kurang tipis dan kurang kecil. niat bantu atau mau nyusahin sih? Datang bersama saudaranya yang lain tanpa diundang dengan alasan ingin menyambut kepulangan Agni. Memangnya mereka siapa mau nyambut-nyambut segala?

“Gede-gede gitu mana cepet mateng!. Mereka dateng sebentar la...”

“SIVIA...”

“Tuh kan mereka udah dateng!. Awas loe minggir.” Sivia mendorong Gabriel yang hanya menatapnya jahil.
“Loe ngomong apa sih? Apa lagi PMS?.”
Sivia menggeram kesal, kemudian ia beranjak ke bagian depan rumahnya.

***

Cakka mengangkat Agni hingga sampai di kamarnya. Agni terlihat lebih baik daripada tinggal di rumah sakit.
Agni tersenyum ke arah Cakka.

“Makasih Kka...”
Cakka mengelus puncak kepala Agni, “Sama-sama. Kamu istirahat ya... jangan pikirin apa-apa lagi.”
Agni mengangguk. “Makasih Kka... aku gak tau gimana kalo gak ada kamu yang hibur aku.”
“Aku akan jaga kamu. aku juga udah ijin sama Oma-Opa kamu buat tinggal sementara disini. Aku khawatir banget sama kamu.”
“Gak usah Kka...”
“Terserah, pokoknya aku disini.”
Agni terkekeh, “Keras kepala.”

“Ni...”

Cakka membantu Agni untuk duduk karena beberapa orang masuk untuk melihat ke adaan Agni.

“Shil, Fy. Via kok muka loe kusut banget sih? Kenapa?.”
Sivia memutar bola matanya dan mendelik ke arah Cakka, “Gara-gara kembaran dia tuh. Menyebalkan!.”
Cakka membalas tatapan Sivia, “Salahin dia nya, kok malah gue sih?.”

“Khm... ada yang ngomongin nih kayaknya.” Gabriel menyembul dengan membawa nampan camilan.
Sivia mencibir. “Pede banget sih loe? Keluar sana! Dunia sempit banget kalo ada loe!.”
“Iya, hati loe juga sempitkan gara-gara penuh sama nama gue?.”
Sivia semakin menggeram. “YOU WISH!!!.”

Beberapa orang disana tertawa melihat pipi Sivia yang berubah menjadi merah karena godaan Gabriel, sementara hati Shilla mencelos melihat itu, pria yang ia kagumi mendekati saudaranya? Sungguh luar biasa sakit hatinya.
“Udah deh, ada yang sakit juga.”
“Iya, kalian malah asik sendiri.” Rio menimpali kemudian duduk di samping Shilla, berbagi camilan yang ada dalam satu toples.

Cakka tersenyum jahil ke arah Gabriel, kemudian Gabriel menatap ke arah Alvin.

“Belain sih belain, tapi jangan curi-curi kesempatan juga.” Sindir Alvin pada Rio yang malah asik mengobrol bersama Shilla.
Shilla mengalihkan pandangannya pada Alvin, kemudian menatap Rio kembali. “Ada Apa?.”
Rio tersenyum ke arah Shilla lali menatap Alvin acuh, “Apa?.”
Alvin mencibir tingkah Rio yang jelas sekali cara menyembunyikan salah tingkahnya.

Ify melihat itu, setelah tersenyum-senyum melihat Sivia yang malu-malu dan membuat Shilla terlihat sekali cemburu kenapa sekarang malah gilirannya? Ia menghela nafas, apa mungkin apa yang Agni omongin sebelum kecelakaan itu bener?

“Mau loe di godain juga hm?.”
Ify mendelik ke arah Alvin, “Kenapa sih loe ganggu terus hidup gue?.”
Alvin menatap Ify aneh, “Loe yang kenapa? Gue nanya bener kok loe nyolot?.”
Ify menghela nafas, “Maaf.”
“Kenapa loe? Ada masalah?.” Alvin bertanya tanpa menatap Ify, ia malah menatap ke arah teman-temannya yang ribut atu sama lain.
“Sedikit.”
Alvin hanya membulatkan bibirnya, enggan berkomentar lebih lanjut.

“Oke. Gue disini jadi pihak yang paling bingung.” Celetuk Agni.
Cakka mengelus puncak kepala Agni sayang. “Sabar, lama-lama juga kamu bakalan inget kok.” Cakka tersenyum ke arah Agni, menenangkan.

***

Ify, Sivia dan Shilla menatap Agni yang sedang berada di halaman belakang bersama Cakka. Saudara terkecilnya itu terlihat begitu bahagia, dan perlahan melupakan Patton yang terlah mengecewakannya. Beberapa hari ini juga ke adaan Agni mulai membaik. Luka di kakinya ternyata tidak begitu buruk, ditambah lagi dengan kehadiran Cakka yang selalu mendukung dan membuat Agni selalu tersenyum.

“Biasanya orang yang akan inget ingatannya itu sering sakit kepala. Tapi kenapa Agni enggak?.”
Ify tersenyum, “Pikiran kamu tuh sinetron banget sih Vi? Siapa tau aja dengan cara ini lebih baik kan?.”
Sivia mengangguk-angguk mengerti

“Aku ngerasa ada sesuatu dibalik kebaikan Cakka.”
Ify dan Sivia kompak menatap Shilla. “Ya kalian tau lah gimana sikap Agni dan Cakka sebelumnya? Aku yakin, Cakka berubah bukan karena gak ada sebabnya.”
“Tapi yaudahlah, kali aja prasangka aku salah.”

Ketiganya kembali memandangi Agni yang sudah mulai lancar lagi cara berjalannya.

***

Shilla menatap Agni ragu yang sedang merias dirinya sendiri yang akan pergi bersama Cakka. Ia menghela nafas.

“Kamu gak inget sesuatu Ag?.” Shilla berdehem, “Tentang Cakka.”
Agni menatap Shilla dengan wajah penuh tanya. “Maksud kamu?.”
“Kamu sama sekali gak inget dulu Cakka gimana sikapnya sama kamu?.”
Agni mengerutkan keningnya.
Shilla berdehem kembali. “Aku rasa ini sebabnya kenapa kamu gak inget masa lalu kamu, karena Cakka...”

“Malam Agni...”

Shilla berbalik dan mendapati Cakka yang telah mengenakan setelan jas resmi dengan kemeja garis-garis biru didalamnya. Cakka menatap tajam ke arah Shilla, loe gak akan bisa bongkar semuanya!. Shilla menghela nafas.

“Yaudah, aku juga mau jalan. Bye Ag. Selamat bersenang-senang.”
“Eh yang tadi apa?”
Shilla berbalik sekilas, “Gapapa, lupakan.”

Shilla beradu pandang dengan Cakka. Kemudian ia beranjak dengan perasaan kesal, ia sangat yakin ada sesuatu dengan pria itu. tak mungkin dia berubah begitu saja.

***

Cakka membawa Agni ke sebuah tempat yang begitu indah, makan di atas ketinggian yang memamerkan kilauan lampu Kota yang begitu terang benderang.

“Kamu suka?.”

Agni menengok ke arah Cakka kemudian tersenyum.

“Suka banget Kka... indah.”
“Seindah kepribadian kamu Ni, aku suka banget kamu yang ceria dan tetap optimis, sampai akhirnya kamu bisa jalan lagi.”

Agni tersenyum kembali.
“Tuhan akan selalu memberikan jalan terbaik.”

Cakka berdehem, ia menghadap ke arah Agni kemudian meraih tangan Agni.

“Agni... dibawah langit malam kota Jakarta, dan disaksikan ribuan kemerlap cahaya. dari lubuk hati aku yang paling dalam, aku sayang sama kamu. dan sangat ingin menjadikanmu pendamping hidupku. Maukah kamu menerimaku? Hidup bersama denganku, selamanya...”

Agni menatap Cakka ragu, ia menghela nafas.

“Beri aku waktu. Aku akan menjawabnya malam minggu nanti. Di acara BBQ kita semua.”

Cakka menghembuskan nafas kecewa, namun kemudian ia tersenyum memaklumi.

“Iya.”

***

“Agni Rio nembak.” Seru Shilla saat ia melihat Agni yang baru memasuki kamarnya.
“Gabriel juga.” Ucap Sivia
Ify menghela nafas, “Alvin juga.”

Cakka menatap saudaranya satu persatu. Kenapa mereka semuanya senasib? Ditembak oleh orang yang bukan pilihan hati mereka. atau... ini memang rencana mereka? menyatakan cinta dalam waktu yang bersamaan.

“Cakka juga nembak tadi.”
“WHAT? Wait wait!.” Shilla berseru kemudian menarik Agni untuk duduk disampingnya. “Cakka? Nembak? Yakin?.”

Agni menganggukan kepalanya lesu.

“Dan jawabannya? Jangan bilang iya! Oh no!!! Aku gak yakin dia bener-bener Agni sayang sama kamu.”
“Enggak. Aku mau pikir-pikir dulu. Aku belum siap. Kalian sendiri?.”

Sivia mendesah lelah, “Kita juga belum. Apalagi mereka bukan pilihan kita. Kita harus jalanin misi rahasia dulu sebelum menerima mereka.”

Agni mengerutkan keningnya. “Misi apa?.”

Sivia tersenyum misterius. Ini akan berhasil!.

***

Bersambung.


Part 11: Keputusan (Ending)

No comments:

Post a Comment