Part 10: Cakka...?
***
Patton
berbalik ke arah pintu kaca itu untuk kesekian kalinya lalu ia menghela nafas,
juga untuk kesekian kalinya. Rasa tak percaya masih menghantui dirinya.
Pikirannya kembali melayang pada saat itu.
“Aku akan sangat beruntung kalo hidup sama kamu,
menghabiskan sisa umurku sama kamu Patton...” Agni menarik nafas dalam. “Tapi
aku gak bisa secepet ini, aku harus mulihin seluruh ingatan aku dulu.”
Patton mendesah lelah. Bunyi panggilan itu
menyadarkan dirinya. Bahwa ia, harus segera pergi. Pergi meninggalkan gadis
yang begitu ia sayangi beserta segala kenangan manis yang tak akan pernah bisa
ia lupakan. I love you so much Agni...
semoga kamu nunggu aku sampe aku pulang. Semoga kamu jodohku...
Kali ini dengan mantap Patton berjalan meninggalkan
semuanya. Semuanya yang akan selalu tersisa didalam ingatannya, selalu
tergambar dalam lamunannya. Selamat
tinggal Agni... jaga diri baik-baik ya sayang...
***
Tak ada hal yang paling mengenaskan selain
ditinggalkan orang yang katanya mencintai kita disaat kita membutuhkannya,
itulah yang dirasakan Agni sekarang. Janji Patton yang akan merawatnya hingga
pulih total ternyata hanyalah bualan belaka, karena faktanya sekarang tugas
Patton di alihkan pada Dayat. Tanpa ada alasan yang jelas sedikitpun. dia tak
menjelaskan apapun pada Agni.
“Kok
ngelamum terus sih?.”
Agni
terperanjat, “Eh Kka... maaf.”
Cakka mendesah putus asa melihat sikap Agni yang
benar-benar membuatnya bingung harus berbuat apa. Ia bersimpuh dihadapan Agni,
menatap intens wajah cantik yang sangat ia inginkan itu.
“Masih
mikirin Dokter Patton?.”
Agni
menghela nafas. “Aku cuma gak habis pikir dengan sikapnya, aku kecewa. Kenapa
dia menjanjikan sesuatu yang tak bisa ia tepati?”
“Agni...”
Cakka menggenggam kedua tangan Agni, “Aku disini. Apa itu tidak cukup? Apa kamu
tidak bisa membuka hati kamu buat aku?.” ia menghela nafas. “Sekali aja. Aku
tidak akan mengecewakanmu seperti dia yang mengecewakanmu.”
Agni
menatap Cakka dengan sendu. “Jika itu sebuah janji, sebaiknya kamu tarik
kembali ucapanmu.”
“Kenapa?
Kamu ragu sama aku?.”
“Tidak.”
Agni mengalihkan pandangannya ke arah lain. “Hanya saja, aku tidak siap untuk
kecewa lagi.”
Ya... tak ada seorangpun yang ingin kecewa, apalagi
kecewa untuk kedua kalinya. Terlalu menyakitkan, meskipun yang mengecewakan
bukan orang yang kita sayang atau cinta sekalipun. Agni hanya menatap kosong ke
arah taman yang dapat ditembus dari kamar rawatnya. Tempat itu... Agni
memejamkan matanya dengan sebelah tangan memegangi kepalanya itu. bayangan itu
berputar. Saat ia duduk bersama dengan Patton saat masih mengenakan pakaian
dinas Dokter, kemudian saat bersama membawa main seorang pasien balita, saat
dirinya mendapatkan elusan di puncak kepalanya. Patton... Agni membatin, berharap orang yang ia panggil datang.
***
Cakka
mengerang, ia memukul dinding ruangan kerja Patton. Kenapa sih selalu dia? Kenapa? Apa aku kurang? Apa sih yang kamu mau? “Argh...”
sekali lagi Cakka memukul dinding itu.
Tadi,
Cakka memutuskan meninggalkan Agni yang selalu terlihat melamun. Ia tak yakin
bahwa Agni akan menyadari kepergiannya, karena ia tau, pikiran Agni sedang tak
berada di tempat itu. entah ada dimana.
“Ada apa Kka?.”
Cakka tetap diam
ditempat, “Apa gue gak lebih baik dari dia Yo?.”
Rio berjalan, lalu
merangkul Cakka, “Loe sabar Kka, Agni butuh waktu lupainya aja.”
Cakka berbalik menatap
Rio geram, “Kapan?! Gue udah cukup sabar!.”
“Cakka! Loe sadar gak
sih Agni baru aja kecewa ditinggalin Patton? Harusnya loe lebih sabar! Gak usah
buru-buru.” Rio menghela nafas, berniat beranjak. Bosan dengan sikap adiknya,
lebih baik ia mendatangi Agni yang hari ini gilirannya berjaga. “Kalo loe gak
sabar, loe gak akan dapet apa yang loe mau.”
Cakka
termenung, apa benar ia terburu-buru? Ia hanya menginginkan Agni menjadi
miliknya. Apa itu salah? Tidak bukan? Cakka menarik nafas, iya, gue harus sabar.
***
Rio
mendorong kursi roda Agni sementara Shilla berjalan disampingnya membawa nampan
berisi makanan untuk Agni. Mereka membawa Agni untuk keluar dari ruangan agar
membuatnya tidak bosan.
Agni menengok ke arah
Shilla. “Ada kabar dari Patton?.”
Shilla menghela nafas,
sebenarnya ia tak tega mengatakan ini tapi Agni terus saja bertanya. “Patton
pergi Ni, keluar Negeri.”
Agni
mendesah kecewa lalu kembali menatap ke arah depan. Mengalihkan perhatiannya
pada orang-orang yang berlalu-lalang.
Sementara
Rio hanya bisa menatap Agni iba. Jujur saja, ia juga tidak tega melihat Agni
dalam ke adaan seperti ini, tapi bagaimana lagi? Perjanjian tetap perjanjian!.
“Aku mau pulang.”
Shilla
dan Rio saling berpandangan. Rio menghela nafas, “Iya.” Mungkin akan lebih baik daripada kamu terus melihat bayangan Patton.
“Ni, sebaiknya kamu
jangan terlalu mikirin kepergian Patton. Toh, kalaupun dia jodoh kamu nanti
juga dia kembali buat kamu.”
“Bukan masalah itu Yo,
tapi aku kecewa. Dia janji jagain aku, rawat aku sampai sembuh.”
Rio
tak berucap lagi, memangnya apa yang bisa ia lakukan lagi? Agni terlanjur
kecewa dan sakit hati. Kalaupun di baik-baikin apa Agni akan membaik?
***
“Gabriel!. Kalo loe gak
bisa masak minggir deh. Entar bukannya Agni suka masakan gue tapi malah
keracunan. Emergency tau!.”
Sivia
mendelik ke arah Gabriel yang memotong sayurannya kurang tipis dan kurang
kecil. niat bantu atau mau nyusahin sih? Datang bersama saudaranya yang lain
tanpa diundang dengan alasan ingin menyambut kepulangan Agni. Memangnya mereka
siapa mau nyambut-nyambut segala?
“Gede-gede gitu mana
cepet mateng!. Mereka dateng sebentar la...”
“SIVIA...”
“Tuh kan mereka udah
dateng!. Awas loe minggir.” Sivia mendorong Gabriel yang hanya menatapnya jahil.
“Loe ngomong apa sih?
Apa lagi PMS?.”
Sivia menggeram kesal,
kemudian ia beranjak ke bagian depan rumahnya.
***
Cakka
mengangkat Agni hingga sampai di kamarnya. Agni terlihat lebih baik daripada
tinggal di rumah sakit.
Agni
tersenyum ke arah Cakka.
“Makasih Kka...”
Cakka mengelus puncak
kepala Agni, “Sama-sama. Kamu istirahat ya... jangan pikirin apa-apa lagi.”
Agni mengangguk.
“Makasih Kka... aku gak tau gimana kalo gak ada kamu yang hibur aku.”
“Aku akan jaga kamu.
aku juga udah ijin sama Oma-Opa kamu buat tinggal sementara disini. Aku
khawatir banget sama kamu.”
“Gak usah Kka...”
“Terserah, pokoknya aku
disini.”
Agni terkekeh, “Keras
kepala.”
“Ni...”
Cakka
membantu Agni untuk duduk karena beberapa orang masuk untuk melihat ke adaan
Agni.
“Shil, Fy. Via kok muka
loe kusut banget sih? Kenapa?.”
Sivia memutar bola
matanya dan mendelik ke arah Cakka, “Gara-gara kembaran dia tuh. Menyebalkan!.”
Cakka membalas tatapan
Sivia, “Salahin dia nya, kok malah gue sih?.”
“Khm... ada yang
ngomongin nih kayaknya.” Gabriel menyembul dengan membawa nampan camilan.
Sivia mencibir. “Pede
banget sih loe? Keluar sana! Dunia sempit banget kalo ada loe!.”
“Iya, hati loe juga
sempitkan gara-gara penuh sama nama gue?.”
Sivia semakin
menggeram. “YOU WISH!!!.”
Beberapa
orang disana tertawa melihat pipi Sivia yang berubah menjadi merah karena
godaan Gabriel, sementara hati Shilla mencelos melihat itu, pria yang ia kagumi
mendekati saudaranya? Sungguh luar biasa sakit hatinya.
“Udah deh, ada yang
sakit juga.”
“Iya, kalian malah asik
sendiri.” Rio menimpali kemudian duduk di samping Shilla, berbagi camilan yang
ada dalam satu toples.
Cakka
tersenyum jahil ke arah Gabriel, kemudian Gabriel menatap ke arah Alvin.
“Belain sih belain,
tapi jangan curi-curi kesempatan juga.” Sindir Alvin pada Rio yang malah asik
mengobrol bersama Shilla.
Shilla mengalihkan
pandangannya pada Alvin, kemudian menatap Rio kembali. “Ada Apa?.”
Rio tersenyum ke arah
Shilla lali menatap Alvin acuh, “Apa?.”
Alvin mencibir tingkah
Rio yang jelas sekali cara menyembunyikan salah tingkahnya.
Ify
melihat itu, setelah tersenyum-senyum melihat Sivia yang malu-malu dan membuat
Shilla terlihat sekali cemburu kenapa sekarang malah gilirannya? Ia menghela
nafas, apa mungkin apa yang Agni omongin
sebelum kecelakaan itu bener?
“Mau loe di godain juga
hm?.”
Ify mendelik ke arah
Alvin, “Kenapa sih loe ganggu terus hidup gue?.”
Alvin menatap Ify aneh,
“Loe yang kenapa? Gue nanya bener kok loe nyolot?.”
Ify menghela nafas,
“Maaf.”
“Kenapa loe? Ada
masalah?.” Alvin bertanya tanpa menatap Ify, ia malah menatap ke arah
teman-temannya yang ribut atu sama lain.
“Sedikit.”
Alvin hanya membulatkan
bibirnya, enggan berkomentar lebih lanjut.
“Oke. Gue disini jadi
pihak yang paling bingung.” Celetuk Agni.
Cakka
mengelus puncak kepala Agni sayang. “Sabar, lama-lama juga kamu bakalan inget
kok.” Cakka tersenyum ke arah Agni, menenangkan.
***
Ify,
Sivia dan Shilla menatap Agni yang sedang berada di halaman belakang bersama
Cakka. Saudara terkecilnya itu terlihat begitu bahagia, dan perlahan melupakan
Patton yang terlah mengecewakannya. Beberapa hari ini juga ke adaan Agni mulai
membaik. Luka di kakinya ternyata tidak begitu buruk, ditambah lagi dengan
kehadiran Cakka yang selalu mendukung dan membuat Agni selalu tersenyum.
“Biasanya orang yang
akan inget ingatannya itu sering sakit kepala. Tapi kenapa Agni enggak?.”
Ify tersenyum, “Pikiran
kamu tuh sinetron banget sih Vi? Siapa tau aja dengan cara ini lebih baik
kan?.”
Sivia mengangguk-angguk
mengerti
“Aku ngerasa ada
sesuatu dibalik kebaikan Cakka.”
Ify dan Sivia kompak
menatap Shilla. “Ya kalian tau lah gimana sikap Agni dan Cakka sebelumnya? Aku
yakin, Cakka berubah bukan karena gak ada sebabnya.”
“Tapi yaudahlah, kali
aja prasangka aku salah.”
Ketiganya
kembali memandangi Agni yang sudah mulai lancar lagi cara berjalannya.
***
Shilla
menatap Agni ragu yang sedang merias dirinya sendiri yang akan pergi bersama
Cakka. Ia menghela nafas.
“Kamu gak inget sesuatu
Ag?.” Shilla berdehem, “Tentang Cakka.”
Agni menatap Shilla
dengan wajah penuh tanya. “Maksud kamu?.”
“Kamu sama sekali gak
inget dulu Cakka gimana sikapnya sama kamu?.”
Agni mengerutkan
keningnya.
Shilla berdehem
kembali. “Aku rasa ini sebabnya kenapa kamu gak inget masa lalu kamu, karena
Cakka...”
“Malam Agni...”
Shilla
berbalik dan mendapati Cakka yang telah mengenakan setelan jas resmi dengan
kemeja garis-garis biru didalamnya. Cakka menatap tajam ke arah Shilla, loe gak akan bisa bongkar semuanya!.
Shilla menghela nafas.
“Yaudah, aku juga mau
jalan. Bye Ag. Selamat bersenang-senang.”
“Eh yang tadi apa?”
Shilla berbalik
sekilas, “Gapapa, lupakan.”
Shilla
beradu pandang dengan Cakka. Kemudian ia beranjak dengan perasaan kesal, ia
sangat yakin ada sesuatu dengan pria itu. tak mungkin dia berubah begitu saja.
***
Cakka
membawa Agni ke sebuah tempat yang begitu indah, makan di atas ketinggian yang
memamerkan kilauan lampu Kota yang begitu terang benderang.
“Kamu suka?.”
Agni
menengok ke arah Cakka kemudian tersenyum.
“Suka banget Kka...
indah.”
“Seindah kepribadian
kamu Ni, aku suka banget kamu yang ceria dan tetap optimis, sampai akhirnya
kamu bisa jalan lagi.”
Agni
tersenyum kembali.
“Tuhan akan selalu
memberikan jalan terbaik.”
Cakka
berdehem, ia menghadap ke arah Agni kemudian meraih tangan Agni.
“Agni... dibawah langit
malam kota Jakarta, dan disaksikan ribuan kemerlap cahaya. dari lubuk hati aku
yang paling dalam, aku sayang sama kamu. dan sangat ingin menjadikanmu
pendamping hidupku. Maukah kamu menerimaku? Hidup bersama denganku,
selamanya...”
Agni
menatap Cakka ragu, ia menghela nafas.
“Beri aku waktu. Aku
akan menjawabnya malam minggu nanti. Di acara BBQ kita semua.”
Cakka
menghembuskan nafas kecewa, namun kemudian ia tersenyum memaklumi.
“Iya.”
***
“Agni Rio nembak.” Seru
Shilla saat ia melihat Agni yang baru memasuki kamarnya.
“Gabriel juga.” Ucap
Sivia
Ify menghela nafas,
“Alvin juga.”
Cakka
menatap saudaranya satu persatu. Kenapa mereka semuanya senasib? Ditembak oleh
orang yang bukan pilihan hati mereka. atau... ini memang rencana mereka?
menyatakan cinta dalam waktu yang bersamaan.
“Cakka juga nembak
tadi.”
“WHAT? Wait wait!.”
Shilla berseru kemudian menarik Agni untuk duduk disampingnya. “Cakka? Nembak?
Yakin?.”
Agni
menganggukan kepalanya lesu.
“Dan jawabannya? Jangan
bilang iya! Oh no!!! Aku gak yakin dia bener-bener Agni sayang sama kamu.”
“Enggak. Aku mau
pikir-pikir dulu. Aku belum siap. Kalian sendiri?.”
Sivia
mendesah lelah, “Kita juga belum. Apalagi mereka bukan pilihan kita. Kita harus
jalanin misi rahasia dulu sebelum menerima mereka.”
Agni
mengerutkan keningnya. “Misi apa?.”
Sivia
tersenyum misterius. Ini akan berhasil!.
***
Bersambung.
Part 11: Keputusan (Ending)
No comments:
Post a Comment