Monday, 10 March 2014

BIJI in Love. 11


Part 11: Keputusan (Ending)

***

Pernahkah  kalian  terpikirkan untuk mencintai seseorang yang saudaramu juga mencintainya? Atau, mencintai seseorang yang kamu tidak cintai? Kalau sudah  seperti ini, lebih baik maju ataukah  mundur teratur?

“Ni...”

Agni berbalik dan mendapati Cakka yang berdiri di belakangnya, ia tersenyum pada Cakka yang juga tersenyum ke arahnya.

“Lagi buat apa? Yang lain udah kumpul tuh. Gak gabung?.”
“Nanti, aku lagi buat dulu teh.”
“Aku tungguin deh.”

Agni mengangguk samar, setelah penembakan itu entah kenapa ia merasa canggung dengan Cakka. Ia merasa, serba salah. Entah karena apa. Tak bisa ia pungkiri, jika dalam dirinya ada yang menolak keberadaan Cakka. Hatinya tak terima Cakka, karena ia merasa ada sesuatu dibalik ini. Agni menengok ke arah Cakka.


“Kalian mau apa? Suka kopi?.”
“Capuccino.”
“Aku buatin. Tunggu.”

Cakka tersenyum melihat Agni, entah sejak kapan rasa benci yang sempat tertanam dalam hatinya itu menguap begitu saja. Apalagi saat melihat keterpurukan Agni yang ditinggalkan Patton akibat ulahnya. Ia merasa bersalah. Sangat bersalah.

“Aku gak pernah nyangka Kka... Patton setega itu sama aku. aku kira dia bisa pegang kata-katanya. Aku kira dia bener-bener cinta sama aku, sayang sama aku. tapi kenapa jadi kayak gini? Aku gak ngerti Kka...”

“Hey! Kok ngelamun. Udah nih. Kedepan yuk.”

Cakka tak bergeming.

“Ni.” Cakka meraih sikut Agni lembut.

Agni berbalik menghadap ke arah Cakka.
Cakka mengambil nampan di tangan Agni kemudian ia simpan di atas kichenset.
“Kenapa?.”
“Aku butuh jawaban kamu sekarang.”

Agni menghela nafas. Ia menatap Cakka bingung kemudian mengangguk samar.

“Maksud kamu?.”
“Iya Kka...”
“Kamu nerima aku?.”

Agni tersenyum.
“Kita coba.”

Cakka menarik Agni ke dalam pelukannya. Akhirnya...

“Terimakasih.” Bisik Cakka.

Agni mengangguk kemudian membalas pelukan Cakka.

***

Ify menatap air dalam kolam yang begitu jernih itu dengan pandangan kosong. Kakinya terus ia goyang-goyangkan di dalam air. Ia masih bingung dengan apa yang ia terima sekarang. Alvin. Menyukainya? Apa itu gurauan? Mengingat kelakuannya selama ini yang selalu menilainya dengan begitu ketus.

“Masih gak percaya aku nembak hm?.”

Ify berbalik sambil mendelik sebal. Lihatkan? Betapa menyebalkannya dia. Sok tahu! Ya... meskipun memang benar. Tapi apakah itu tidak terlalu percaya diri?

“Siapa yang mikirin itu? sok tahu!.”

Alvin duduk disamping Ify bersila, ia menengok sekilas ke arah gadis disampingnya itu.

“Lalu? Aku mau menagih janjimu.”

Ify menghela nafas.

“Aku gak bisa.”
“Oh.”

Ify melirik ke arah Alvin yang terlihat memasang wajah datarnya. Sebenarnya apa yang dia pikirkan? Ini yang selalu membuatnya bingung terhadap sikap pria disampingnya itu.

“Maaf...”
“Apa kamu gak terima aku gara-gara sikap aku? gara-gara sifat aku? apa aku harus jadi seorang pria romantis?.”
“Bukan gitu Vin. Tapi... bukan kamu. maaf... masih banyak yang suka kamu. bukan aku.”

Alvin menghela nafas kemudian tersenyum. Ia menaikan tangan kanannya meraih kepala Ify, mengacaknya pelan.
Ify tertegun, ia diam mengamati senyuman yang ia rasa pertama kalinya ia lihat. Begitu menawan, dan... Ify memalingkan wajahnya. Gak boleh!

***

Shilla menarik nafas dalam, apakah ia siap? Ia duduk disamping Rio yang sedang berkutat dengan laptopnya. Saat menyadari keberadaan Shilla, Rio menghentikan aktifitasnya kemudian menghadap ke arah Shilla.

“Suka juga game kayak gitu?.”

Rio mengedikan bahunya sambil tertawa garing.

“Begitulah. Sekedar pengisi waktu luang.”

Shilla membulatkan bibirnya sambil mengangguk faham.

“Yo... mengenai yang kemaren.”
“Ya... kenapa?.”
“Aku gak bisa. Maaf...”

Rio mendesah kecewa. Namun, kemudian ia tersenyum dan membelai pipi Shilla lembut.

“Kenapa?.”
“Aku gak bisa Yo. Aku... aku emang suka sama segala tentang kamu. Tapi...”
“Tapi?.”
“Aku menyukai orang lain.”
“Lalu? Kamu bisa belajar dari sekarangkan mencintai aku kalo kamu mau nerima aku.”
“Aku gak bisa.”
“Kenapa?.”
“Ify suka banget sama kamu Yo. Aku gak mau nyakitin dia.”

Rio memegang kedua bahu Shilla gemas. Ia menatap dalam ke arah Shilla.

“Shill! Ini tentang kita. Aku gak peduli siapapun yang suka sama aku. kita tahu kita sama-sama suka kenapa mikirin orang lain?.”
“Karena aku gak mau ada yang tersakiti Yo!. Please ngertiin aku.”

Rio memalingkan wajah dari Shilla kesal. Ia mengerang keras kemudian menghempaskan tubuhnya ke sandaran kursi.

“Maaf...”

Rio menghela nafas menenangkan dirinya, kemudian ia menarik Shilla dalam pelukannya mengecup keningnya lama.

“Gapapa. I love you.” Rio mengeratkan pelukannya.
“I love you too.”

“Shilla...”

Shilla berbalik ke arah sumbersuara. Begitupun dengan Rio.

“Fy... ini... Ify! Tunggu!.”

***

Sivia tersenyum masam sambil sesekali menyantap cookies yang ia buat. ia melirik Gabriel sejenak.

“Gak biasanya kita ngobrol di luar. Biasanya di dapur.”

Gabriel terkekeh.

“Gak mungkin selamanya kita di dapurkan?.”
“Iya sih.”
“Oiya.” Gabriel menghela nafas, “Apa udah ada jawabannya?.”

Sivia mengerutkan keningnya.

“Apa? Emang kita lagi quiz?.”
“Kamu lupa?.”

Sivia berpikir sejenak. “Oh. Itu.” ia menghela nafas panjang.

“Aku gak bisa.”
“Kenapa?.”
“Ya enggak aja. Aku masih mau sendiri. Aku gak mau pacaran dulu, atau punya status sama orang. Aku masih betah sendiri.”

Gabriel tersenyum, kemudian mengangguk memberi pengertian.

“Tapi kita masih bisa berhubungankan? Temenan?.”
“Tentu.”

Gabriel mencubit pipi Sivia gemas.

“Pipi kamu lucu banget. Ada lubangnya lagi –baca: lesung pipit-.”
“Ih kamu... awas jauh-jauh. Jangan pernah minta kue lagi ya... berani-beraninya megang pipi aku.”

Gabriel mencolek dagu Sivia menggoda.

“Cie ngambek. Cie...”
“Ihh udah ah!.”

“Ify! Tunggu! Kamu salah faham.”

Sivia mengalihkan pandangannya ke arah pintu utama.

“Apa sih Shilla?”
“Yang kamu liat itu kesalah fahaman.” “Yang kamu denger juga.”
“Aku gak buta dan aku gak tuli. Udahlah, aku turut bahagia. Penghianat!.”
“Aku gak jadian sama Rio! aku gak terima dia! PUAS?! Aku juga mikirin perasaan kamu. aku juga mikirin kamu Fy!. Kenapa kamu jadi kayak gini sih? Kayak anak kecil tahu gak?.”

“Shill, Fy. Stop!. Kalian kenapa sih?.” Agni datang menengahi, Sivia pun menghampiri mereka.
“Dia...” Ify menunjuk Shilla.
“Gue gak ada hubungan apa-apa sama Rio!.”
“Tapi semuanya JELAS!.”
“STOP! Ify! Shilla!.” Teriak Sivia.

Shilla dan Ify mengalihkan pandangannya ke arah Sivia.

“Bener ya apa kata Agni dulu. Cuma gara-gara cowok kita ada masalah! Kita bisa musuhan!. Sekarang ini salah siapa? Kita juga kan? Yang gak mau dengerin Agni. Kayak anak kecil banget kalian. Freak tau gak?!. Patton aja bisa ninggalin Agni. gimana mereka?. mereka baru kita kenal!.”

Agni memegangi kepalanya.
“Aku gak maksud egois Vi, tapi harusnya kalian sadar kalian belum lama kenal sama mereka. siapa sih yang bisa nyelam di hati manusia? Gak ada. Gak akan pernah ada yang tau di dalam hati manusia itu seperti apa. Dan asal kalian tau... aku kenal dengan Patton gak bisa di bandingin dengan kenalnya kalian sama mereka. aku mengenal Patton hampir dua belas tahun, setengah dari hidupku selama ini. Tapi kalian? Dua minggu aja belum.”
“Belum tentu juga mereka suka sama kalian. Bisa saja yang Rio suka malah Shilla, yang Gabriel suka malah Sivia dan yang Alvin suka malah Ify. Kalo kejadiannya seperti itu. apa yang mau kalian lakuin? Musuhan? Apa bisa kalian nyatu dalam kondisi gitu? Pikirlah segalanya.”

Kedua tangan Agni memegangi kepalanya. Apa maksud ini semua? Agni mengerang kemudian semuanya gelap yang mampu ia dengar hanya teriakan-teriakan dari saudara-saudaranya yang mencemaskan keadaannya.

***

Sivia duduk disamping Agni yang belum sadarkan diri sambil sesekali memegang kening Agni. Shilla berjalan kesana-kemari tak tenang, lagi-lagi. Apa ini kesalahannya juga?. Sementara Ify duduk di sofa dengan Rio disampingnya dan yang lainnya juga.

“Kamu gak bisa judge Shilla penghianat Fy. Dia bahkan gak terima aku gara-gara ngehargain kamu. jadi please jangan bilang gitu lagi. Aku gak terima. Kalo kamu mau ada orang yang disalahkan, itu aku. bukan Shilla.”
“Keluar.”

Rio menghela nafas kemudian melirik saudara-saudaranya yang lain mengajak mereka untuk beranjak. Gabriel dan Alvin mengikuti Rio. namun Cakka masih diam disana.

“Keluar.” Perintah Ify lagi pada Cakka.
“Gue mau jaga Agni.”
“Gue bilang keluar. Kita masih bisa urus Agni.”
“Gue cowoknya.”

“Keluar atau gue tendang sekalian dari rumah ini.” ucap Shilla sambil menahan erangan kekesalannya.
“Fine.”

Shilla menjatuhkan tubuhnya ke atas meja rias. Kenapa semuanya menjadi seperti ini?.

“Rio...”

Sivia, Shilla dan Ify mengalihkan pandangannya pada Agni yang bergumam. Kenapa dia mengigaukan nama Rio? kenapa bukan Cakka atau Patton?.

“Rio?.”

Agni terlihat gelisah, terlihat dari dia menggeleng-gelengkan kepalanya serta badannya yang bergerak-gerak tak tentu.

Shilla dengan cepat bangkit.

“Biar gue bawa Rio-nya.”

***

Gabriel, Alvin, Rio dan Cakka terlihat risau. Keempatnya duduk di atas sofa yang membentuk setengah lingkaran.

“Sepertinya Agni mulai bisa merangkai masa lalunya.” Guman Rio
“Apa itu berbahaya buat gue?.” Tanya Cakka.
“Loe belum cerita sama Agni? mengenai dia pergi gara-gara taruhan konyol itu?.” Tanya Gabriel.

Cakka menghela nafas, ia menggeleng pelan.

“Rumit Kka. Gue gak yakin setelah ini dia masih mau sama loe atau enggak. Mengingat hubungan mereka yang tadinya udah serius.” Ucap Alvin.
“Tapi gue lakuin itu juga biar dia ngerasain gimana perasaan kesel gue. Udah bilang setahun lagi kemungkinan gue nikah dia malah mau lamar duluan. Mana ceweknya Agni lagi, ya sambil menyelam minum air aja. Sekalian buat pelajaran sama dia sekalian cari jodoh juga. Kali aja dia jodoh gue. Lagian, kalo mereka udah bener-bener komitmen gak mungkinlah Agni gak nerima dia. Atau ya kalo gak Patton jangan terima lah taruhan konyol itu. toh pada akhirnya jelaskan? dia ditolak dan harus pergi.”

“Kka...”

***

Shilla mengepalkan tangannya menahan emosi saat mendengar percakapan para pria itu. giginya bergemerutukan menahan kesal. Memangnya mereka kira Agni barang bisa digilir-gilir gitu?

“Kka...”

Shilla berbalik dan mendapati Agni yang berdiri mematung dengan mata yang sudah berkaca-kaca.

“Agni...”

Agni menatap tajam ke arah Cakka. “Kita berakhir.” Kemudian ia mengalihkan pandangan pada yang lainnya “Kemasi barang-barang kalian dan kalian dengan segera akan menerima pengembalian uang kontrakan atas rumah ini. segeralah angkat kaki dari rumah ini.”

Setelah mengatakan itu Agni beranjak tanpa menghiraukan siapapun yang menyerukan namanya. Jadi selama ini Patton tidak salah? Jadi selama ini Patton hanya korban? Kenapa sih Patton ditakdirkan memiliki Kakak yang begitu kejam seperti mereka?

***

“Will you marry me?.”
“Aku...”
“Ya... kamu...”
“Aku mau.”
“Aku gak mau kehilangan kamu... aku...”
“Aku cinta sama kamu Agni...”

Agni menggeleng-gelengkan kepala dengan mata yang masih terpejam. Ingatan demi ingatannya kembali secara bertahap.

“Patton... Patton... Maaf...”

“Aku mencintaimu...”

“Ya... Aku juga.”

“Denger. Kamu, gak pernah nyusahin aku. Bagi aku, kamu emang terpenting dalam hidup aku. Aku gak akan merasa kamu nyusahin. Justru aku akan sangat nyesel kalau lewatin masa-masa merawat kamu. Apapun yang kamu lakuin, aku gak pernah merasa kamu nyusahin aku Ni, kamu itu separuh jiwa aku. Percaya atau enggak, itu memang kenyataan.”

“Patton...”

“Aku akan sangat beruntung kalo hidup sama kamu, menghabiskan sisa umurku sama kamu Patton... tapi maaf... aku butuh waktu.”
“Patton... Maaf...”

“Agni! Bangun!.”

Seseorang mengguncang tubuh Agni dengan kencang.

“Maaf...” guman Agni lagi.
“BANGUN!.”

***

Shilla menghentakkan tubuh Agni dengan putus asa. Sedari tadi Agni terus bergumam meminta maaf dan tak hentinya menitikan air mata. Ia tak mengerti, ia begitu khawatir akan kondisi saudaranya itu.

“Bangun...” ucap Shilla lirih.
“Patton?.” Agni membuka matanya. “Shilla mana Patton? Mana dia?.”
“Agni...” Shilla memeluk Agni. “Patton gak ada. Patton belum kembali.”

Tubuh Agni kembali bergetar. Bodoh! ini karena kebodohannya!. Kenapa ia malah meragukan Patton? Dan apa ini yang dirasakan Patton saat ia menolaknya? Apa sesakit ini?

“Agni...”

Kiki yang baru saja mendudukan dirinya disamping Agni memeluknya erat.

“Opa...”
“St... kita cari dia ya. kalau dia jodoh kamu, kamu pasti bakalan ketemu lagi sama dia.”

Agni mengangguk samar.

“Sekarang kamu turun. Ada yang mau bicara sama kamu.”

***

Gabriel mendongakkan kepalanya begitu merasakan seseorang telah berdiri di dekatnya.

“Agni.”
“Apa?.”
“Aku minta maaf atas semua kesalahan aku dan saudara aku yang lain, terutama Cakka. Aku sebagai Kakak mewakili mereka, bagaimanapun mereka punya salah yang harus kamu maafkan.”

Agni tersenyum masam. Terus kenapa mereka gak datang kalo ngerasa salah? Gak mungkin mewakilkan kayak gini!. Agni membatin.

“Dimaafkan. Silahkan keluar.”

Gabriel menghela nafas.

“Baiklah...”

Agni memegangi kepalanya, sepertinya ini pernah terjadi. Gabriel mewakili mereka meminta maaf karena kesalahan melanggar aturan. Ya! itu jawabannya... Agni mengerang pelan kemudian semuanya... gelap.

***

END

***

Epilog.

“Agni...”
“Ibu...”
“Kamu menjauhkan diri dari jodohmu hm?.”
“Bu... bagaimanapun mereka yang buat Patton pergi. Mereka Bu.”
“Apa kamu tidak berpikir bahwa dia menentang untuk melakukan hal itu padamu sayang? Buka matamu, bangunlah dan kejar dia sebelum benar-benar pergi.”
“Tapi Bu...”
“Percayalah... dia terbaik untukmu.”

***

Agni berjalan cepat memasuki rumahnya. Sepi. Apakah mereka sudah pergi? Tentu saja!. Secepat itukah? Itu maumu!. Tapi... aku membutuhkannya. Agni membuka salah satu kamar sambil mengatur nafasnya yang tak beraturan.

“Rio...”

Kosong!. Ya! dia telah pergi!.

***



***

terimakasih ya udah nungguin cerita ini. walaupun ngaret banget. :D
peluk cium dari penulis {{}} :*

No comments:

Post a Comment