Part 11: Keputusan
(Ending)
***
Pernahkah kalian
terpikirkan untuk mencintai seseorang yang saudaramu juga mencintainya?
Atau, mencintai seseorang yang kamu tidak cintai? Kalau sudah seperti ini, lebih baik maju ataukah mundur teratur?
“Ni...”
Agni
berbalik dan mendapati Cakka yang berdiri di belakangnya, ia tersenyum pada
Cakka yang juga tersenyum ke arahnya.
“Lagi
buat apa? Yang lain udah kumpul tuh. Gak gabung?.”
“Nanti,
aku lagi buat dulu teh.”
“Aku
tungguin deh.”
Agni
mengangguk samar, setelah penembakan itu entah kenapa ia merasa canggung dengan
Cakka. Ia merasa, serba salah. Entah karena apa. Tak bisa ia pungkiri, jika
dalam dirinya ada yang menolak keberadaan Cakka. Hatinya tak terima Cakka,
karena ia merasa ada sesuatu dibalik ini. Agni menengok ke arah Cakka.
“Kalian
mau apa? Suka kopi?.”
“Capuccino.”
“Aku
buatin. Tunggu.”
Cakka
tersenyum melihat Agni, entah sejak kapan rasa benci yang sempat tertanam dalam
hatinya itu menguap begitu saja. Apalagi saat melihat keterpurukan Agni yang
ditinggalkan Patton akibat ulahnya. Ia merasa bersalah. Sangat bersalah.
“Aku gak pernah nyangka Kka...
Patton setega itu sama aku. aku kira dia bisa pegang kata-katanya. Aku kira dia
bener-bener cinta sama aku, sayang sama aku. tapi kenapa jadi kayak gini? Aku
gak ngerti Kka...”
“Hey!
Kok ngelamun. Udah nih. Kedepan yuk.”
Cakka
tak bergeming.
“Ni.”
Cakka meraih sikut Agni lembut.
Agni
berbalik menghadap ke arah Cakka.
Cakka
mengambil nampan di tangan Agni kemudian ia simpan di atas kichenset.
“Kenapa?.”
“Aku
butuh jawaban kamu sekarang.”
Agni
menghela nafas. Ia menatap Cakka bingung kemudian mengangguk samar.
“Maksud
kamu?.”
“Iya
Kka...”
“Kamu
nerima aku?.”
Agni
tersenyum.
“Kita
coba.”
Cakka
menarik Agni ke dalam pelukannya. Akhirnya...
“Terimakasih.”
Bisik Cakka.
Agni
mengangguk kemudian membalas pelukan Cakka.
***
Ify
menatap air dalam kolam yang begitu jernih itu dengan pandangan kosong. Kakinya
terus ia goyang-goyangkan di dalam air. Ia masih bingung dengan apa yang ia
terima sekarang. Alvin. Menyukainya? Apa itu gurauan? Mengingat kelakuannya
selama ini yang selalu menilainya dengan begitu ketus.
“Masih
gak percaya aku nembak hm?.”
Ify
berbalik sambil mendelik sebal. Lihatkan? Betapa menyebalkannya dia. Sok tahu!
Ya... meskipun memang benar. Tapi apakah itu tidak terlalu percaya diri?
“Siapa
yang mikirin itu? sok tahu!.”
Alvin
duduk disamping Ify bersila, ia menengok sekilas ke arah gadis disampingnya
itu.
“Lalu?
Aku mau menagih janjimu.”
Ify
menghela nafas.
“Aku
gak bisa.”
“Oh.”
Ify
melirik ke arah Alvin yang terlihat memasang wajah datarnya. Sebenarnya apa
yang dia pikirkan? Ini yang selalu membuatnya bingung terhadap sikap pria
disampingnya itu.
“Maaf...”
“Apa
kamu gak terima aku gara-gara sikap aku? gara-gara sifat aku? apa aku harus
jadi seorang pria romantis?.”
“Bukan
gitu Vin. Tapi... bukan kamu. maaf... masih banyak yang suka kamu. bukan aku.”
Alvin
menghela nafas kemudian tersenyum. Ia menaikan tangan kanannya meraih kepala
Ify, mengacaknya pelan.
Ify
tertegun, ia diam mengamati senyuman yang ia rasa pertama kalinya ia lihat.
Begitu menawan, dan... Ify memalingkan wajahnya. Gak boleh!
***
Shilla
menarik nafas dalam, apakah ia siap? Ia duduk disamping Rio yang sedang
berkutat dengan laptopnya. Saat menyadari keberadaan Shilla, Rio menghentikan
aktifitasnya kemudian menghadap ke arah Shilla.
“Suka
juga game kayak gitu?.”
Rio
mengedikan bahunya sambil tertawa garing.
“Begitulah.
Sekedar pengisi waktu luang.”
Shilla
membulatkan bibirnya sambil mengangguk faham.
“Yo...
mengenai yang kemaren.”
“Ya...
kenapa?.”
“Aku
gak bisa. Maaf...”
Rio
mendesah kecewa. Namun, kemudian ia tersenyum dan membelai pipi Shilla lembut.
“Kenapa?.”
“Aku
gak bisa Yo. Aku... aku emang suka sama segala tentang kamu. Tapi...”
“Tapi?.”
“Aku
menyukai orang lain.”
“Lalu?
Kamu bisa belajar dari sekarangkan mencintai aku kalo kamu mau nerima aku.”
“Aku
gak bisa.”
“Kenapa?.”
“Ify
suka banget sama kamu Yo. Aku gak mau nyakitin dia.”
Rio
memegang kedua bahu Shilla gemas. Ia menatap dalam ke arah Shilla.
“Shill!
Ini tentang kita. Aku gak peduli siapapun yang suka sama aku. kita tahu kita
sama-sama suka kenapa mikirin orang lain?.”
“Karena
aku gak mau ada yang tersakiti Yo!. Please ngertiin aku.”
Rio
memalingkan wajah dari Shilla kesal. Ia mengerang keras kemudian menghempaskan
tubuhnya ke sandaran kursi.
“Maaf...”
Rio
menghela nafas menenangkan dirinya, kemudian ia menarik Shilla dalam pelukannya
mengecup keningnya lama.
“Gapapa.
I love you.” Rio mengeratkan pelukannya.
“I
love you too.”
“Shilla...”
Shilla
berbalik ke arah sumbersuara. Begitupun dengan Rio.
“Fy...
ini... Ify! Tunggu!.”
***
Sivia
tersenyum masam sambil sesekali menyantap cookies yang ia buat. ia melirik
Gabriel sejenak.
“Gak
biasanya kita ngobrol di luar. Biasanya di dapur.”
Gabriel
terkekeh.
“Gak
mungkin selamanya kita di dapurkan?.”
“Iya
sih.”
“Oiya.”
Gabriel menghela nafas, “Apa udah ada jawabannya?.”
Sivia
mengerutkan keningnya.
“Apa?
Emang kita lagi quiz?.”
“Kamu
lupa?.”
Sivia
berpikir sejenak. “Oh. Itu.” ia menghela nafas panjang.
“Aku
gak bisa.”
“Kenapa?.”
“Ya
enggak aja. Aku masih mau sendiri. Aku gak mau pacaran dulu, atau punya status
sama orang. Aku masih betah sendiri.”
Gabriel
tersenyum, kemudian mengangguk memberi pengertian.
“Tapi
kita masih bisa berhubungankan? Temenan?.”
“Tentu.”
Gabriel
mencubit pipi Sivia gemas.
“Pipi
kamu lucu banget. Ada lubangnya lagi –baca: lesung pipit-.”
“Ih
kamu... awas jauh-jauh. Jangan pernah minta kue lagi ya... berani-beraninya
megang pipi aku.”
Gabriel
mencolek dagu Sivia menggoda.
“Cie
ngambek. Cie...”
“Ihh
udah ah!.”
“Ify!
Tunggu! Kamu salah faham.”
Sivia
mengalihkan pandangannya ke arah pintu utama.
“Apa
sih Shilla?”
“Yang
kamu liat itu kesalah fahaman.” “Yang kamu denger juga.”
“Aku
gak buta dan aku gak tuli. Udahlah, aku turut bahagia. Penghianat!.”
“Aku
gak jadian sama Rio! aku gak terima dia! PUAS?! Aku juga mikirin perasaan kamu.
aku juga mikirin kamu Fy!. Kenapa kamu jadi kayak gini sih? Kayak anak kecil
tahu gak?.”
“Shill,
Fy. Stop!. Kalian kenapa sih?.” Agni datang menengahi, Sivia pun menghampiri
mereka.
“Dia...”
Ify menunjuk Shilla.
“Gue
gak ada hubungan apa-apa sama Rio!.”
“Tapi
semuanya JELAS!.”
“STOP!
Ify! Shilla!.” Teriak Sivia.
Shilla
dan Ify mengalihkan pandangannya ke arah Sivia.
“Bener
ya apa kata Agni dulu. Cuma gara-gara cowok kita ada masalah! Kita bisa
musuhan!. Sekarang ini salah siapa? Kita juga kan? Yang gak mau dengerin Agni.
Kayak anak kecil banget kalian. Freak tau gak?!. Patton aja bisa ninggalin
Agni. gimana mereka?. mereka baru kita kenal!.”
Agni
memegangi kepalanya.
“Aku gak maksud egois Vi, tapi
harusnya kalian sadar kalian belum lama kenal sama mereka. siapa sih yang bisa
nyelam di hati manusia? Gak ada. Gak akan pernah ada yang tau di dalam hati
manusia itu seperti apa. Dan asal kalian tau... aku kenal dengan Patton gak
bisa di bandingin dengan kenalnya kalian sama mereka. aku mengenal Patton
hampir dua belas tahun, setengah dari hidupku selama ini. Tapi kalian? Dua
minggu aja belum.”
“Belum tentu juga mereka suka sama
kalian. Bisa saja yang Rio suka malah Shilla, yang Gabriel suka malah Sivia dan
yang Alvin suka malah Ify. Kalo kejadiannya seperti itu. apa yang mau kalian
lakuin? Musuhan? Apa bisa kalian nyatu dalam kondisi gitu? Pikirlah segalanya.”
Kedua
tangan Agni memegangi kepalanya. Apa
maksud ini semua? Agni mengerang kemudian semuanya gelap yang mampu ia
dengar hanya teriakan-teriakan dari saudara-saudaranya yang mencemaskan
keadaannya.
***
Sivia
duduk disamping Agni yang belum sadarkan diri sambil sesekali memegang kening
Agni. Shilla berjalan kesana-kemari tak tenang, lagi-lagi. Apa ini kesalahannya
juga?. Sementara Ify duduk di sofa dengan Rio disampingnya dan yang lainnya
juga.
“Kamu
gak bisa judge Shilla penghianat Fy. Dia bahkan gak terima aku gara-gara
ngehargain kamu. jadi please jangan bilang gitu lagi. Aku gak terima. Kalo kamu
mau ada orang yang disalahkan, itu aku. bukan Shilla.”
“Keluar.”
Rio
menghela nafas kemudian melirik saudara-saudaranya yang lain mengajak mereka
untuk beranjak. Gabriel dan Alvin mengikuti Rio. namun Cakka masih diam disana.
“Keluar.”
Perintah Ify lagi pada Cakka.
“Gue
mau jaga Agni.”
“Gue
bilang keluar. Kita masih bisa urus Agni.”
“Gue
cowoknya.”
“Keluar
atau gue tendang sekalian dari rumah ini.” ucap Shilla sambil menahan erangan
kekesalannya.
“Fine.”
Shilla
menjatuhkan tubuhnya ke atas meja rias. Kenapa semuanya menjadi seperti ini?.
“Rio...”
Sivia,
Shilla dan Ify mengalihkan pandangannya pada Agni yang bergumam. Kenapa dia
mengigaukan nama Rio? kenapa bukan Cakka atau Patton?.
“Rio?.”
Agni
terlihat gelisah, terlihat dari dia menggeleng-gelengkan kepalanya serta
badannya yang bergerak-gerak tak tentu.
Shilla
dengan cepat bangkit.
“Biar
gue bawa Rio-nya.”
***
Gabriel,
Alvin, Rio dan Cakka terlihat risau. Keempatnya duduk di atas sofa yang
membentuk setengah lingkaran.
“Sepertinya
Agni mulai bisa merangkai masa lalunya.” Guman Rio
“Apa
itu berbahaya buat gue?.” Tanya Cakka.
“Loe
belum cerita sama Agni? mengenai dia pergi gara-gara taruhan konyol itu?.”
Tanya Gabriel.
Cakka
menghela nafas, ia menggeleng pelan.
“Rumit
Kka. Gue gak yakin setelah ini dia masih mau sama loe atau enggak. Mengingat
hubungan mereka yang tadinya udah serius.” Ucap Alvin.
“Tapi
gue lakuin itu juga biar dia ngerasain gimana perasaan kesel gue. Udah bilang
setahun lagi kemungkinan gue nikah dia malah mau lamar duluan. Mana ceweknya
Agni lagi, ya sambil menyelam minum air aja. Sekalian buat pelajaran sama dia
sekalian cari jodoh juga. Kali aja dia jodoh gue. Lagian, kalo mereka udah
bener-bener komitmen gak mungkinlah Agni gak nerima dia. Atau ya kalo gak
Patton jangan terima lah taruhan konyol itu. toh pada akhirnya jelaskan? dia
ditolak dan harus pergi.”
“Kka...”
***
Shilla
mengepalkan tangannya menahan emosi saat mendengar percakapan para pria itu.
giginya bergemerutukan menahan kesal. Memangnya mereka kira Agni barang bisa
digilir-gilir gitu?
“Kka...”
Shilla
berbalik dan mendapati Agni yang berdiri mematung dengan mata yang sudah
berkaca-kaca.
“Agni...”
Agni
menatap tajam ke arah Cakka. “Kita berakhir.” Kemudian ia mengalihkan pandangan
pada yang lainnya “Kemasi barang-barang kalian dan kalian dengan segera akan
menerima pengembalian uang kontrakan atas rumah ini. segeralah angkat kaki dari
rumah ini.”
Setelah
mengatakan itu Agni beranjak tanpa menghiraukan siapapun yang menyerukan
namanya. Jadi selama ini Patton tidak salah? Jadi selama ini Patton hanya
korban? Kenapa sih Patton ditakdirkan memiliki Kakak yang begitu kejam seperti
mereka?
***
“Will you marry me?.”
“Aku...”
“Ya... kamu...”
“Aku mau.”
“Aku gak mau kehilangan kamu...
aku...”
“Aku cinta sama kamu Agni...”
Agni
menggeleng-gelengkan kepala dengan mata yang masih terpejam. Ingatan demi
ingatannya kembali secara bertahap.
“Patton...
Patton... Maaf...”
“Aku
mencintaimu...”
“Ya...
Aku juga.”
“Denger. Kamu, gak pernah nyusahin
aku. Bagi aku, kamu emang terpenting dalam hidup aku. Aku gak akan merasa kamu
nyusahin. Justru aku akan sangat nyesel kalau lewatin masa-masa merawat kamu.
Apapun yang kamu lakuin, aku gak pernah merasa kamu nyusahin aku Ni, kamu itu
separuh jiwa aku. Percaya atau enggak, itu memang kenyataan.”
“Patton...”
“Aku akan sangat beruntung kalo
hidup sama kamu, menghabiskan sisa umurku sama kamu Patton... tapi maaf... aku
butuh waktu.”
“Patton...
Maaf...”
“Agni!
Bangun!.”
Seseorang
mengguncang tubuh Agni dengan kencang.
“Maaf...”
guman Agni lagi.
“BANGUN!.”
***
Shilla
menghentakkan tubuh Agni dengan putus asa. Sedari tadi Agni terus bergumam
meminta maaf dan tak hentinya menitikan air mata. Ia tak mengerti, ia begitu
khawatir akan kondisi saudaranya itu.
“Bangun...”
ucap Shilla lirih.
“Patton?.”
Agni membuka matanya. “Shilla mana Patton? Mana dia?.”
“Agni...”
Shilla memeluk Agni. “Patton gak ada. Patton belum kembali.”
Tubuh
Agni kembali bergetar. Bodoh! ini karena kebodohannya!. Kenapa ia malah
meragukan Patton? Dan apa ini yang dirasakan Patton saat ia menolaknya? Apa sesakit
ini?
“Agni...”
Kiki
yang baru saja mendudukan dirinya disamping Agni memeluknya erat.
“Opa...”
“St...
kita cari dia ya. kalau dia jodoh kamu, kamu pasti bakalan ketemu lagi sama
dia.”
Agni
mengangguk samar.
“Sekarang
kamu turun. Ada yang mau bicara sama kamu.”
***
Gabriel
mendongakkan kepalanya begitu merasakan seseorang telah berdiri di dekatnya.
“Agni.”
“Apa?.”
“Aku
minta maaf atas semua kesalahan aku dan saudara aku yang lain, terutama Cakka. Aku
sebagai Kakak mewakili mereka, bagaimanapun mereka punya salah yang harus kamu
maafkan.”
Agni
tersenyum masam. Terus kenapa mereka gak
datang kalo ngerasa salah? Gak mungkin mewakilkan kayak gini!. Agni membatin.
“Dimaafkan.
Silahkan keluar.”
Gabriel
menghela nafas.
“Baiklah...”
Agni
memegangi kepalanya, sepertinya ini pernah terjadi. Gabriel mewakili mereka
meminta maaf karena kesalahan melanggar aturan. Ya! itu jawabannya... Agni mengerang
pelan kemudian semuanya... gelap.
***
END
***
Epilog.
“Agni...”
“Ibu...”
“Kamu
menjauhkan diri dari jodohmu hm?.”
“Bu...
bagaimanapun mereka yang buat Patton pergi. Mereka Bu.”
“Apa
kamu tidak berpikir bahwa dia menentang untuk melakukan hal itu padamu sayang? Buka
matamu, bangunlah dan kejar dia sebelum benar-benar pergi.”
“Tapi
Bu...”
“Percayalah...
dia terbaik untukmu.”
***
Agni
berjalan cepat memasuki rumahnya. Sepi. Apakah mereka sudah pergi? Tentu saja!. Secepat itukah? Itu maumu!. Tapi... aku membutuhkannya. Agni
membuka salah satu kamar sambil mengatur nafasnya yang tak beraturan.
“Rio...”
Kosong!.
Ya! dia telah pergi!.
***
***
terimakasih ya udah nungguin cerita ini. walaupun ngaret banget. :D
peluk cium dari penulis {{}} :*
No comments:
Post a Comment