#9
Agni tersenyum bahagia begitu menuruni
tangga di kediamannya. Dibawah, di ruang tamunya. Sang kekasih telah menunggu
cukup lama untuk melamarnya, dihadapan orang tuanya. Ia tersenyum pada seluruh
keluarga yang hadir, kemudian ia duduk di samping Cakka.
“Ayah, Bunda, Mom, Dad.” Cakka memandang
satu persatu orang tuanya dan Agni, ia melirik Agni sekilas lalu menggenggam
tangan kekasihnya itu. “Cakka memang sudah memikirkan hal ini matang-matang,
begitupun Agni. Kami harap, kalian semua bisa merestui kami.”
“Kami senang akhirnya kalian memutuskan
untuk menikah.” Mahardika buka suara, “Tolong jaga Agni, jangan sampai dia
sakit lagi. Apalagi jika mengingat kami yang beberapa bulan kedepan tidak ada
disini. Kami menitipkan Agni pada kalian juga Mahesa.”
“Pasti kami jaga. Apapun yang terjadi
pada Agni jika Cakka yang membuatnya sakit hati kami akan menjauhkannya dari
Cakka.” Nirina melirik puteranya yang mengerutkan dahi. “Kamu gak ada niat
nyakitin Agni kan Kka? Jangan buat Ayah sama Bunda malu.”
Cakka tersenyum menanggapi ucapan
Nirina. Ya... dari awal ia memang tidak mau kehilangan Agni, masa iya sih ia
akan menyakiti Agni? Tidak mungkin. “Gak akan Bunda.” Ia menatap Agni dalam dan
mengeratkan genggaman tangannya . “Di depan orang tua kita, untuk kesekian
kalinya... menikahlah denganku.”
Agni terkekeh, kemudian ia mengangguk.
“Iya.”
Beberapa karyawan Cakka menyapa Agni
yang memasuki kantor itu.
“Selamat siang Bu.” Seorang resepsionis
yang sedang kedatangan tamu menyapanya Agni pun tersenyum kecil dan mengangguk
ke arahnya. Lalu Agni memandang tamu itu sekilas kemudian berlalu begitu saja.
“Siapa dia?.”
“Oh ya maaf, nama anda tadi siapa? Biar
saya buatkan janji anda dengan Pak Cakka.”
“Anya. Siapa wanita tadi?.” Wanita
bernama Anya itu geram saat melihat Agni yang menatapnya dengan dingin.
“Calon istrinya Pak Cakka. Baik Bu Anya,
hari ini Pak Cakka tidak bisa di ganggu dan beberapa hari kedepan, karena saya
baru mendapatkan pesan dari Asistennya Pak Cakka telah ada jadwal.”
Anya tersenyum masam, gue udah gak perlu Cakka! Awas aja ya tuh
cewek songong, beraninya loe mandang gue kayak gitu. Gue pastiin loe nangis
meraung-raung denger kabar dari gue. Tunggu aja pembalasan dari gue!.
***
Agni memasuki ruangan kerja Cakka.
Setelah berlibur Cakka memang langsung masuk untuk bekerja lagi, merampungkan
beberapa projek sebelum menikah. Agni terkekeh kecil melihat Cakka yang begitu
fokus pada bacaannya. Ia berjalan tanpa suara kemudian berdiri disamping Cakka.
Cakka yang menyadari kehadiran Agni
sekuat tenaga tidak melirik calon istrinya itu. tanpa menoleh ia meraih
pinggang Agni dengan tangan kirinya. “Masih beberapa berkas lagi.” Cakka
menutup map yang sedang ia baca setelah menandatanganinya. “Mau sekarang atau bagaimana?.”
“Gak usah, lanjutin aja. Lagian masih
siang ini kan?.” Agni beringsut menjauh dari Cakka, lalu ia duduk di sofa.
“Selesein aja dulu, kerjaan aku juga udah rampung. Aku tinggal ngambil cuti
lagi buat cuti nikah.”
Cakka menghela nafas, “Kerjaan aku masih
banyak, mungkin aku cuti beberapa hari sebelum nikah. Maaf ya...” ia menatap
Agni dengan rasa bersalah.
Agni meraih ponselnya entah kenapa ia
tiba-tiba kangen dengan twitternya, “Gak masalah.” Setelah itu ia larut dengan beberapa
twit lama. Beberapa kali ia menahan nafas saat melihat nama Harry. Apalagi
melihat sebuah kata yang ditunjukan untuknya.
I’ll
Love you for a thousand more, Anggita Mahardika.
Cakka mengerang kesal, ia tidak bisa
konsentrasi lagi jika ia berada satu ruangan dengan kekasihnya. Ia meraih
gagang telepon. “Syad periksa dokumen yang ada di ruangan saya. Saya harus
pergi.” Setelah mengatakan itu ia bangkit dari kursi dan berjalan ke hadapan
Agni.
Agni segera me-logout akunnya kemudian mendongak menatap Cakka, “Udah?.” Cakka mengangguk.
“Yuk jalan, kita harus buat baju
pernikahan.”
Keduanya pun beranjak dari kantor menuju
ke tempat seorang desighner terkenal, disana mereka merancang pakaian yang
mereka inginkan, sesekali Cakka menyumbangkan ide nya dalam perancangan gaun
Agni, begitupun dengan Agni.
“Jangan terlalu banyak yang aneh-aneh
deh di atasnya, biar seimbang sama bagian bawahnya, lagian gak adil juga kalo
aku mewah Cakka biasa-biasa.”
Cakka mengangguk setuju. “Jangan sampai
belahan dadanya ke ekspos juga. Lebih baik tertutup.”
Setelah selesai dengan urusan pakaian
mereka ke toko perhiasan, lagi-lagi mereka memesan sebuah cincin yang mereka
rancang sendiri dan beberapa perhiasan lainnya untuk Agni.
Saat perjalanan pulang sesekali Agni
melirik Cakka yang terlihat begitu lelah. Ia mengelus puncak kepala Cakka.
“Jangan terlalu dipaksain Kka. Kamu
kayaknya capek banget.”
Cakka meraih tangan Agni kemudian
mengecupnya. “Enggak. Aku gak capek. Malem ini kamu tidur di rumah aku ya, atau
kita ke apartemen. Feeling aku lagi gak bagus.”
Agni tersenyum, “Gak usah terlalu
mikirin feeling Kka, aku bisa jaga diri aku kok. Tenang aja.” Ia menggenggam
erat tangan Cakka yang sedari tadi menggenggamnya.
Cakka mengecup tangan itu, “Aku takut
kehilangan kamu, aku gak mau itu terjadi.”
***
“Kamu yakin mau dirumah sendiri?”
Agni menghela nafas, ia menatap Cakka
lelah. “Aku sama Shilla Kka, kamu pulang gih.”
Cakka mengelus pipi Agni pelan.
“Yaudah.” Ia mengecup kening Agni, setelah itu ia kembali memasuki mobilnya
kemudian berlalu.
Agni menatap Cakka yang menghilang
dibalik gerbang, ia menghela nafas kemudian berbalik. Saat ia hendak membuka
pintu sebuah mobil memasuki lagi pekarangan rumahnya. Agni berbalik, ia
memicingkan matanya, siapa mereka?
“Hai... Anggita?”
Agni tersenyum ramah, kemudian
mengukurkan tangan pada orang itu. “Yes, I’m. Sepertinya kita pernah bertemu.”
“Ya, tepatnya tadi pagi. Saya Anya.
Dan...” wanita bernama Anya itu berbalik, lalu keluar seorang wanita lagi. “Dia
adik saya, Acha.”
Agni menaikkan satu alisnya, ia tersenyum
tipis. “Sepertinya kita pernah bertemu juga. Ya?.”
Anya tersenyum sinis, “Ya. dia mantan
kekasihnya Cakka.” Agni membulatkan mulutnya tanpa minat membuat Anya semakin
tersenyum. “Yang sekarang mengandung anaknya Cakka!.”
Agni dan Anya bertatapan, tak ada wajah
terkejut dari wajah Agni. Ia hanya mengerutkan keningnya. “Lalu? Apa
hubungannya dengan saya?.”
Anya menggeram kesal, kenapa tidak
sesuai keinginannya? “Batalkan pernikahan kalian.”
Agni beralih menatap Acha yang terus
saja menunduk dengan tangan yang mengelus perutnya yang mulai membuncit. Ia
tersenyum. “Tidak masalah. Kau tau kan Anggita Mahardika mantan kekasih Harry
Style dan sampai sekarang Harry Style yang belum bisa move on hanya gara-gara
gadis Indonesia. Tak terlalu sulit bagiku meninggalkan Cakka dan kembali pada
Harry. Silahkan ambil.” Agni berjalan mendekat ke arah Anya, ia mengeluarkan
sesuatu dari dompetnya. “Itupun, jika dia mau.” Ia mengalihkan pandangan pada
Acha lalu menyerahkan kertas kecil berupa kartu nama pada wanita yang terlihat
aneh itu. “Hubungi aku jika butuh sesuatu.” Agni menjauh tapi kemudian berbalik
lagi. “Oh ya, mari masuk.”
“Tidak perlu. Ayo Cha, kita pulang.”
Perempuan itu berlalu dengan perasaan tak puas, bagaimana bisa saat rencana
pernikahan tersusun dan ada yang mengaku hamil anak calon suaminya dia masih
bisa sesantai itu? atau dia memang tidak pernah mencintai Cakka?
***
Agni membanting pintu kamarnya dengan
keras. Sekuat tenaga ia menahan air matanya yang sedari tadi ia tahan dengan
menggemerutukkan giginya. Ingin sekali ia menangis saat itu juga. Tapi egonya
berkata lain. wanita itu akan puas jika melihatnya terpuruk. Lebih baik seperti
ini, akan lebih tenang.
“Agni... loe kenapa? Cerita sama gue.”
Agni berbalik ke arah Shilla kemudian memeluknya. Shilla menghela nafas,
“Tenang Ni, gue ada disini. Ada apa?.”
Agni menggeleng sambil mengeratkan
pelukannya, tak boleh ada yang mengetahui selain dirinya. Tidak!. cukup ia saja
yang tahu. “Gue gapapa Shil, gue cuma mau bilang... lebih baik gue balikan sama
Harry. Gue bakalan ke London. Gue udah yakin. Dia yang terbaik buat gue.”
“What? Wait wait. Apa gue gak salah
denger?.” Shilla mengurai pelukannya dengan paksa. “Kayaknya ada sesuatu. Loe
kenapa? Ada apa sama hubungan loe sama Cakka? Jujur sama gue! Kata Mom and Dad
waktu gue ke Paris, Cakka lamar loe dan... dan loe terima dia. Kenapa...?
Agni.”
“Shil. Ini berat buat gue.” Agni menyeka
air matanya dengan kasar. “Gue gak cinta sama Cakka. Ini semua... gue cuma
jadiin dia pelarian. Gue gak bisa sama dia.”
“LOE GAK MUNGKIN MAU CIUMAN SAMA DIA
KALO LOE GAK BENERAN CINTA. GUE TAU LOE AG. GUE TAHU!!!.”
Agni melepaskan cengkeraman Shilla
dengan kasar. “LEBIH BAIK LOE KELUAR DARI KAMAR GUE SEKARANG!.”
“Agni...”
“SEKARANG!!!.”
“FINE!!!.”
Agni meluruh begitu pintu kamar itu
dibanting lagi. Maafin gue Shil, maaf...
gue gak bisa cerita. Maaf juga buat kamu Kka... maaf. Ada yang membutuhkanmu
daripada aku. maaf Kka... maaf.
Ponsel Agni bergetar, ia meraihnya. Dua
buah pesan masuk secara bersamaan. Yang pertama dari Shilla.
Gue gak nyangka sahabat gue pun gak
percaya sama gue. Gak ngebagi rasa duka. Lebih baik gue pergi daripada gue sama
sekali gak perguna ada disini.
Setelah membaca pesan itu Agni mendengar
deruan mobil keluar dari garasi. Kenapa
jadi gini? Gue gak maksud gitu Shil.
Sebuah panggilan masuk.
Agni menarik nafas panjang, menetralkan
suaranya. “Siapa?.”
“Aku
Acha Kak. Kakak belum baca pesan aku?”
Agni tersenyum kecil. “Oh, belum. Ada
apa?.”
“Aku
minta maaf.”
“Ngapain minta maaf? Aku juga udah gak
mikirin. Lagian masih ada Harry, dia keren juga kan?.” Dengan susah payah Agni
tertawa, meski kentara sekali nada kesakitan dalam tawanya.
“Kak.
Acha gak mau ngerusak hubungan kalian. Acha...”
“Udahlah, gak usah dipikirin. Eh iya
udah berapa bulan?.”
“4
bulan Kka.”
Itu berarti, tepat pertama kali ia
berkenalan dengan Cakka. Dan... yang di kantor itu... Agni menekan dadanya yang
terasa begitu sakit “Yaudah. Jangan banyak pikiran ya, kasian Baby nya. Bye.”
“Kak...”
Agni tak mengindahkannya, ia memutuskan
sambungan teleponnya sepihak. Dengan bercucuran air mata dan kalut ia
menelusuri seluruh kontak yang berada dalam ponselnya kemudian memanggil
seseorang.
“Hallo Harry? Wait me.”
***
Dipagi buta Agni telah bersiap, ia
berjalan memasuki kediaman Mahesa. Agni menghela nafas panjang, apakah ia siap
meninggalkan Cakka?
“Non Agni?.”
Agni tersenyum pada pengurus rumah
tangga rumah orangtua Cakka. “Bi, tolong panggilkan Bunda, jangan bangunkan
Cakka.”
“Baik Non.”
Tak lama kemudian Nirina menghampiri
Agni dengan masih memakai piyama. Nirina meraih Agni dalam pelukannya.
“Hei sayang, ada apa masih pagi gini?.”
Agni tersenyum, ia menyerahkan sebuah
kotak pada Nirina. “Agni kembaliin semua yang dikasih sama Cakka. Agni gak bisa
nerusin pernikahan ini. Agni harus pergi.”
“Apa? Enggak sayang, gak boleh. Apa yang
Cakka lakukan sama kamu? bilang sama Bunda. Bunda akan hukum dia.” Nirina
mencengkeram lengan Agni. “Bunda gak mau jauh sama kamu sayang, Bunda sayang
sama kamu.”
Agni lagi-lagi tersenyum, meski terlihat
begitu getir. Ia menurunkan tangan Nirina dari pundaknya dengan lembut. “Bunda,
ada yang lebih butuh Cakka.”
“Enggak sayang, Cakka cuma butuh kamu.”
“Bunda, tapi dia hamil anak Cakka. Agni
gak bisa!.” Agni menyeka air matanya yang sedari tadi ia tahan, namun akhirnya
ia tidak kuat, ia harus membaginya dengan orang lain.
“Apa? Ha-hamil?.” Nirina mencengkeram
kepalanya, “Gak mungkin.”
“Bunda.” Agni meraih Nirina dan
membawanya duduk. “Bunda janji sayangin dia ya... demi Agni. Dia baik, namanya
Acha. Bunda janji ya...”
“Tapi...”
“Bunda, Bunda liat kan Agni bisa tanpa
Cakka? Sekarang Agni akan pergi. Tapi dia gak bisa Bun, anaknya butuh sosok
Ayah. Bunda ngertikan? Bunda janji ya sama Agni.” Agni menatap Nirina
meyakinkan wanita itu.
Nirina menarik Agni dalam pelukannya.
“Kamu akan selalu jadi anak Bunda kan? Bunda sayang kamu.”
Agni memejamkan matanya, mengeratkan
pelukan pada Nirina. Dadanya sesak, ternyata ia tidak cukup kuat menghadapi
ini. “Iya Bunda.”
Dengan cepat Agni melepaskan pelukannya
pada Nirina, ia harus segera pergi. “Nitip ini sama Cakka ya Bunda.” Agni
memberikan sebuah surat. “Jangan cari Agni, Agni janji setelah Agni sampai
ditujuan Agni, Agni akan hubungin Bunda. Selamat tinggal.”
Sekali lagi Nirina menarik Agni dalam
pelukannya, pelukan perpisahan yang entah bisa bertemu lagi atau tidak. “Jaga
diri kamu baik-baik.”
“Pasti Bunda.” Agni mengusap air matanya
lagi. Loe bisa Ag! Loe bisa!
***
Agni berjalan menaiki pesawat. Ia
berhenti sejenak dan berbalik. Selamat
tinggal semuanya, selamat tinggal kebahagiaan yang tertunda.
“Sorry Miss.”
“Oh yeah.” Agni berjalan lagi menaiki
tangga itu. selamat datang Anggita
Mahardika yang baru. Kehidupan lebih baik ada didepan matamu.
***
“Bunda, Cakka denger ada Agni. Kok gak
ngebangunin sih?.” Cakka berdiri di dekat Nirina yang membelakanginya.
PLAK!
Begitu berbalik Nirina langsung menampar
pipi Cakka dengan keras. Orang tua mana yang tidak kecewa pada anaknya yang
ternyata menghamili seorang gadis.
“Bunda... kenapa Bunda nampar Cakka? Apa
salah Cakka?.”
“Apa yang kamu katakan Cakka? Apa salah
kamu? seharusnya Bunda yang tanya apa yang kamu lakukan pada Agni?.”
Cakka mengerutkan keningnya, “Apa? Cakka
gak ngelakuin apapun. Cakka sama Agni baik-baik aja, bahkan kemarin Cakka sama
Agni udah mulai rancang pernikahan kita.”
Nirina menatap puteranya murka.
“Pernikahan kalian BATAL!. Setelah adik kamu meninggal gara-gara kecerobohanmu
sekarang kamu buat Agni menjauh dari Bunda. Puas kamu nyakitin Bunda? Puas?!”
Nirina menarik nafas, “Ini dari Agni. Agni pergi.” Setelah mengatakan itu
Nirina beranjak meninggalkan Cakka yang terpaku mendengar ucapannya.
“Agni...”
***
Dear Arkka Mahesa.
Setelah kamu terima surat ini,
mungkin aku udah gak ada di dekat kamu lagi. Terimakasih buat semua kebahagiaan
yang kamu berikan.
Aku gak tau lagi Kka harus bilang
apa, yang jelas selamat ya sebentar lagi kamu jadi seorang Ayah. Aku bahagia...
Kka... aku sayang sama kamu, aku
cinta sama kamu. Oiya, jangan lupa dateng ke KUA daerah kamu ya nanti siang.
Salam sayang.
A.M
Cakka mengerang, “Kamu kenapa sih Ag?
Kamu yang akan jadi Ibu-nya. Tapi kenapa kamu kayak gini?.” Cakka melemparkan
kertas itu sambil mengumpat kesal.
***
Sesuai apa yang diinginkan Agni, Cakka
siang itu mendatangi KUA. Ia berjalan mendekat dan ia dapat melihat Ibu-nya
bersama dengan dua orang wanita. Ia memicingkan matanya.
“Acha?.”
Acha berbalik saat mendengar namanya
disebutkan. Ia mundur bersembunyi dibalik Anya. Sebenarnya ia juga bingung
kenapa ia berada disini.
“Ngapain loe disini hah?.”
“Cakka! Sekali lagi kamu bentak dia Bunda
pastiin kamu jadi gelandangan!.”
Cakka menatap Nirina memelas “Bunda...”
“Baik banget ya Tante calon menantu
gagal tante itu, udah rela ninggalin Cakka tanpa nangis sedikitpun, dia biayain
semuanya lagi. Malah, dia ninggalin uang yang fantastis buat Adik saya.”
Cakka melirik Anya sebal, sementara
Nirina menanggapinya hanya dengan tersenyum. “Itu karena kalian tidak tahu
diri.” Desis Cakka.
“Kka, anterin Acha periksa kandungannya.”
“What? Kenapa Cakka? Suruh aja Bapaknya
yang nganterin.” Cakka menatap Nirina malas.
“Karena Bapaknya loe.”
Cakka menatap Anya, “Heh denger ya...
gue gak pernah nyentuh adik loe sama sekali dan kalaupun dia...”
“Cakka stop!. Anterin sekarang!.”
Perintah Nirina.
Cakka mendengus, “Cakka kan mau anterin
Bunda pulang. Yuk.”
“Bunda mau ngurusin pernikahan kalian
dulu, lagipula Bunda bawa mobil sendiri.” Nirina tak mengindahkan Cakka yang
menatapnya memelas, entah kenapa ia sekarang enggan menatap pangerannya itu, ia
marah, kecewa.
Cakka mengehela nafas, kenapa semuanya
jadi seperti ini? ia memasuki mobil kesayangannya lalu membanting pintu mobil
itu dengan kasar. “Ngapain loe masih disitu? Masuk.”
Acha mengangguk, dengan patuh ia
memasuki kendaraan itu. dalam perjalanan ia terus menundukan kepalanya takut,
ia tak pernah melihat Cakka begitu marah. Dan ini kesalahannya.
“Kka aku...”
“Shut up!.”
Acha kembali menunduk. Ini bukan yang ia
inginkan. Ia mencengkeram safebelt yang ia kenakan. Dadanya perih dan sesak. Ia
tak bisa di bentak oleh siapapun. “Ngapain loe nangis? Bukannya ini yang loe
mau? Milikin gue?.” Cakka tersenyum masam, kemudian mendesis “Meskipun dengan
cara yang licik.”
“Kka aku gak maksud...”
“Shut up!.”
“Tapi Kka... ini semua Kakak aku. Bukan
aku yang...”
“Diam.”
“Bukan kamu Kka. Bukan.”
“Gue tahu. Dan loe berhasil buat Ibu gue
percaya sampe gak percaya sama anaknya sendiri.”
“Gue harus gimana?.”
Cakka tertawa kelu, “Lanjutin hidup
loe.” Ia berbalik ke arah Acha setelah menghentikan kendaraannya. “Yang akan
seperti dineraka. Gue pastiin... loe salah milih gue.”
Cakka membuka pintu untuk Acha, ia
tersenyum begitu lembut meski dengan tatapan tajam, “Mari calon isteriku
tersayang...”
Acha keluar tanpa membantah, ingin
sekali ia menangis saat itu juga. Bukan kepalsuan yang ia inginkan, bukan Cakka
yang ia inginkan. “Aku bakalan jelasin
semuanya sama Orangtua kamu Kka...”
“Terlambat.” Mereka gak akan pernah
percaya.
***
“Harry.” Agni melambaikan tangannya pada
seorang pria yang menggunakan jaket, penutup kepala dan kacamata untuk
menyamarkan diri.
“St...”
Agni terkekeh, ia memeluk pria itu
sesaat. “Maaf, aku lupa.”
Harry tersenyum, ia mengacak-acak rambut
Agni dengan lembut kemudian mengecup Agni sesaat. “Harry ini tempat umum.”
“Dan ini London sayang, bukan
Indonesia.”
Agni terkekeh sambil menepuk dada Harry
dengan gemas, tak ada larangan bukan jika ia melupakan masalahnya?. Dan biarkanlah
ia bahagia meski sesaat.
***
BUK!
“Loe bilang bisa jauh labih baik dari
gue! Loe bilang gak bakalan nyakitin Agni! Dan sekarang apa?.”
Gabriel meraih Rio, menjauhkannya dari Cakka
yang terkapar di lantai apartemen Rio. pada awalnya mereka berempat dalam
kondisi baik, tapi setelah Cakka berkata jujur semuanya berubah.
“Seenggaknya ini cuma salah faham!.” Cakka
mengusap ujung bibirnya kemudian duduk kembali di sofa yang dibantu oleh Alvin.
“Yo tenang.” Gabriel mencengkeram tangan
Rio yang memberontak. “Kalo loe gak tenang gua gak akan lepas loe.” Seru Gabriel.
Rio mulai tenang, kemudian ia duduk
kembali dengan tangan yang ia tangkupkan pada wajahnya. “Sekarang dimana Agni?.”
Cakka mendesah putus asa, “Gue gak tahu,
ponselnya mati. Bunda juga gak tau Agni dimana.”
Rio menyandarkan tubuhnya yang ia rasa
melemas. Dulu, Agni juga pernah menghilang dan mereka bertemu kembali setelah 8
tahun berpisah. Dan sekarang? Dengan kasus yang lebih berat. Apakah Agni akan
ditemukan dengan cepat?.
Alvin menatap sahabatnya satu persatu. “Gab.
Kenapa loe resah gitu?.” Cakka dan Rio mengalihkan pandangan pada Gabriel yang
sedang melamun. “Loe tahu Agni dimana?.”
Cakka meringsut mendekati Gabriel. “Apa
bener loe tahu Agni dimana?.”
Gabriel menghela nafas. “Gue gak tau
dengan jelas. Tapi yang gue tau Agni pergi ke London.”
“Maaf...”
Keempat pria itu mengalihkan pandangan
pada Sivia yang berdiri di ambang pintu kamar Rio dengan sebuah gadget ditangannya. “Gue gak maksud ikut
campur, tapi... Agni kepergok paparazi dijemput Harry dibandara.” Ia mengacungkan
gadget itu pada Cakka. “Ini...”
Seketika pandangannya terasa begitu
berputar, apa Agni setega itu? ia merasakan pundaknya di tepuk oleh seseorang.
“Gue udah peringatin loe Kka. Agni gak
pernah main-main sama ucapannya.”
Pandanganpun berubah menjadi, gelap.
***
“Kamu di apartemen aku aja lagi, aku gak
keberatan.”
Agni tersenyum, “Gak bisa Har, aku gak
mau paparazi terus ngikutin aku. lagipula aku udah booking tempat.”
Harry memeluk Agni penuh kasih sayang,
juga rindu. “Baiklah, aku gak bisa nganterin kamu ke dalem. Dah...”
“Gapapa, Bye. Besok aku hubungin kamu
lagi. Hari ini aku mau istirahat total.”
Harry tersenyum, ia mengecup Agni lagi
sesaat. “Aku tunggu sayang.”
Agni
tersenyum, “Yeah... Bye.”
Setelah berpamitan Agni berjalan
memasuki kawasan apartemen yang cukup mewah. Ia mengetuk pintu sebuah kamar. Lalu
keluar seorang pria.
“Agni...”
“Hai Ray.”
Ray memeluk Agni dengan erat. Ia begitu
merindukan sahabat yang ia cintai ini. “Aku kangen banget sama kamu Ni, yuk
masuk.”
Agni mengangguk kemudian menyimpan tas
yang tidak begitu besar di sofa. “Tempat ini gak berubah ya?.”
Ray tersenyum, kemudian menarik Agni untuk
duduk. “Gak akan. Karena setiap sudut ruangan ini ada bayangan kamu.”
Agni terkekeh kemudian mengeluarkan
ponselnya. “Kamu jangan bicara dulu. Aku mau nelpon seseorang.”
***
“Nyonya ada telepon buat Nyonya.”
Nirna menerima gagang telepon itu. “Dari
siapa Bi?.”
“Hallo?.”
“Bunda...”
“Agni, kenapa gak nelpon nomor ponsel
Bunda? Biar Bunda bisa hubungin balik kamu.”
“Agni
udah nyampe Bun, Agni disini cukup seneng.”
“Sayang, orangtua kamu tahu tentang
ini?.”
Terdengar helaan nafas dari Agni, “Belum Bun, nanti juga Agni kasih tau. Udah dulu
ya Bun, Agni mau istirahat.”
Nirina menghela nafas, “Iya, jaga dirimu
baik-baik.”
“Iya.
Miss you Bunda...”
“Bunda Pasport Cakka kemana?!”
Nirina menatap tajam ke arah puteranya
itu. “Jangan harap kamu bisa pergi Cakka!.”
“Bunda... Bunda gak liat Cakka gak bisa
tanpa Agni? Cakka gak bisa urus diri Cakka sendiri tanpa dia. Cakka butuh Agni.”
“Berhentilah bermimpi bertemu lagi
dengan Agni!. Karena Bunda gak akan biarin Agni sakit lagi karena kamu!.”
Setelah mengatakan itu Nirina berlalu dari hadapan Cakka yang terlihat begitu
putus asa.
“Tante... Maaf.”
Nirina berbalik dan mendapati Acha
berdir tak jauh darinya dan Cakka. Ia tersenyum kemudian menghampirinya. “Hai
sayang, ada apa? Kok gak bilang mau dateng?.”
Acha tersenyum, “Maaf Tante.” Ia mengalihkan
pandangannya pada Cakka yang terlihat tidak peduli karena terlihat beberapa
saat setelah itu Cakka pergi, bukan menghampirinya.
“Kenapa sayang? Cakka jahat ya sama
kamu? duduk.”
“Enggak Tante.” Acha menghela nafas, “Acha
cuma mau bilang kalo ini bukan anak Cakka. Kakak Acha marah waktu tahu Acha
hamil dan juga putus dari Cakka. Yang jelas ini bukan anak Cakka.”
Nirina menatap Acha, ia mengelus puncak
kepalanya. “Lalu siapa?.”
Acha menggeleng, “Maaf Tante, Acha gak
bisa cerita.”
“Karena benar anak itu anak Cakka? Kamu di
ancam sama Cakka? Apa yang Cakka lakuin sama kamu? bilang sama Tante.”
“Enggak Tante.”
Nirina menghela nafas, “Udah kamu gak
usah mikirin ancaman Cakka. Lebih baik kamu pikirin Baby nya. Jangan stres
ya... Tante gak mau cucu tante kenapa-kenapa.”
Acha tersenyum kelu, kenapa semuanya jadi gini?
***
Ray menatap Agni yang selalu melamun
saat mereka berbincang, seperti ada beban yang tak ia mengerti. ia meraih
tangan Agni.
Agni sedikit terperanjat, ia mengalihkan
pandangannya pada Ray. “Kenapa?.”
“Kamu yang kenapa Ag? Cerita sama aku.”
Entah karena alasan apa, tiba-tiba air
mata Agni meluruh. Ray panik, ia menarik Agni kedalam pelukannya. “Cakka nyakitin
kamu?.”
“Namanya Acha, dia hamil anak Cakka.”
Ray melepaskan pelukannya pada Agni. “Apa?
Hamil?.”
Agni mengangguk, saat ia ingin memeluk Ray
lagi Ray malah menghindar dan terlihat mencari sesuatu. Ia mengeluarkan sebuah
dokumen.
“Ngapain kamu keluarin pasport?.”
“Kamu tunggu disini, aku akan pulang.”
“Gak usah Ray. Mereka lusa menikah.”
Ray berbalik ia menatap Agni tajam. “Menikah?
Dan kamu masih bisa santai? Kamu gila!.”
Agni bangun kemudian mendorong dada Ray kesal,
“Terus mau kamu aku gimana hah? Meraung-raung pada Cakka memaksa dia buat paksa
wanita itu gugurin kandungannya HAH? Aku gak setega itu Ray! Aku juga perempuan
Ray!.”
“Gila.” Ray berlalu begitu saja. Tak mengindahkan
Agni yang memanggil-manggil namanya.
“RAY! Jangan sakitin Cakka!.”
Agni terduduk, kenapa jadi begini? Harusnya dia menyimpan semuanya! Bukan seperti
ini!.
Ponsel Agni berdering.
“Ya...”
“Berjanjilah
tidak pergi kemanapun selama aku pulang.”
“Jangan sakitin Cakka.”
Ray mengerang kesal, kenapa Agni masih
bisa membela lelaki yang menyakitinya? Apakah ia tidak sakit hati dengan
kelakuan Cakka?
***
Bersambung.
Ditulis,
Ciamis 06 Februari 2014
No comments:
Post a Comment